Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA KRISMA 2 April 2026

Bacaan Liturgi : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita sekarang berada di ambang Trihari Suci. Sekali lagi, Tuhan akan menuntun kita menuju puncak perutusan-Nya, sehingga penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya dapat menjadi pokok perutusan kita. Apa yang akan kita alami kembali, sesungguhnya, memiliki kuasa untuk mengubah rupa apa yang cenderung dikeraskan oleh kesombongan manusia: jati diri dan keberadaan kita di dunia. Kebebasan Yesus mengubah hati, menyembuhkan luka, menyegarkan dan mencerahkan wajah kita, mendamaikan dan mengumpulkan kita bersama, serta mengampuni dan meninggikan kita.

 

Pada tahun pertama saya memimpin Misa Krisma sebagai Uskup Roma, saya ingin merefleksikan bersamamu perutusan yang merupakan panggilan kita sebagai umat Allah. Panggilan kita adalah perutusan kristiani, sama seperti perutusan Yesus, bukan yang lain. Kita masing-masing ambil bagian di dalamnya sesuai dengan panggilan kita dalam ketaatan yang sangat pribadi kepada suara Roh, namun tidak pernah tanpa orang lain, tidak pernah mengabaikan atau melanggar persekutuan! Para uskup dan imam, saat kita memperbarui janji kita, kita berada dalam pelayanan umat misioner. Bersama dengan semua orang yang telah dibaptis, kita adalah tubuh Kristus, yang diurapi oleh Roh-Nya yang membebaskan dan menghibur, Roh nubuat dan persatuan.

 

Apa yang dialami Yesus pada saat-saat puncak perutusan-Nya diisyaratkan oleh perikop dari kitab Nabi Yesaya, yang dikutip-Nya saat Ia berada di rumah ibadat di Nazaret sebagai nas yang digenapi “hari ini” (bdk. Luk 4:21). Sesungguhnya, pada saat Paskah, menjadi jelas bahwa Allah menguduskan untuk mengutus. “Ia telah mengutus Aku” (Luk 4:18), kata Yesus, menggambarkan gerakan yang mengikatkan tubuh-Nya kepada orang-orang miskin, orang-orang tawanan, orang-orang yang meraba-raba dalam kegelapan dan yang tertindas. Kita, sebagai anggota tubuh-Nya, berbicara tentang Gereja yang “apostolik,” diutus, didorong melampaui dirinya sendiri, dan dikuduskan bagi Allah dalam pelayanan kepada ciptaan-Nya. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21).

 

Kita tahu bahwa diutus berarti, pertama dan terutama, ketidakterikatan, yaitu, risiko meninggalkan apa yang sudah dikenal dan pasti, berani terjun ke dalam sesuatu yang baru. Menariknya, “dalam kuasa Roh Kudus” (Luk 4:14), yang turun ke atasnya setelah Ia dibaptis di Sungai Yordan, Yesus kembali ke Galilea dan datang “ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan” (Luk 4:16). Tempat itulah yang sekarang harus Ia tinggalkan. Ia pindah “menurut kebiasaan-Nya” (ayat 16), bahkan mengantarkan era baru. Ia sekarang harus meninggalkan desa itu selamanya, agar apa yang telah berakar di sana, Sabat demi Sabat, melalui ketaatan mendengarkan sabda Allah, dapat berbuah. Demikian pula, Ia akan mengajak orang lain untuk berangkat, mengambil risiko, agar tidak ada tempat yang menjadi penjara, tidak ada jati diri yang menjadi tempat persembunyian.

 

Saudara-saudari terkasih, kita mengikuti Yesus yang “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya” (Flp. 2:6-7). Setiap perutusan dimulai dengan pengosongan diri semacam itu di mana segala sesuatu dilahirkan kembali. Martabat kita sebagai putra dan putri Allah tidak dapat diambil dari kita, juga tidak dapat hilang, bahkan kasih sayang, tempat, dan pengalaman di awal kehidupan kita pun tidak dapat dihapus. Kita adalah ahli waris dari sangat banyak kebaikan dan, pada saat yang sama, dari keterbatasan sejarah yang harus diterangi dan diselamatkan oleh Injil, pengampunan dan penyembuhan. Dengan demikian, tidak ada perutusan tanpa rekonsiliasi dengan masa lalu kita, dengan karunia dan keterbatasan pendidikan yang telah kita terima; tetapi, pada saat yang sama, tidak ada kedamaian tanpa memulai, tidak ada kesadaran tanpa ketidakterikatan, tidak ada sukacita tanpa risiko. Kita adalah tubuh Kristus jika kita bergerak maju, berdamai dengan masa lalu tanpa dipenjara olehnya: segala sesuatu dipulihkan dan dilipatgandakan jika pertama-tama dilepaskan, tanpa rasa takut. Inilah rahasia dasariah perutusan. Bukan sesuatu yang hanya dialami sekali, tetapi di setiap awal yang baru, di setiap keberangkatan yang baru.

 

Perjalanan Yesus mengungkapkan kepada kita bahwa kesediaan untuk kehilangan diri sendiri, mengosongkan diri, bukanlah tujuan akhir, melainkan syarat untuk perjumpaan dan keintiman. Kasih sungguh sejati ketika ia tidak dijaga; ia tidak membutuhkan banyak keributan, tidak pamer, dan dengan lembut menghargai kelemahan dan kerentanan. Kita berjuang untuk mengabdikan diri pada perutusan yang mengekspos kita dengan cara ini, namun tidak ada "kabar baik bagi orang miskin" (bdk. Luk 4:18) jika kita pergi kepada mereka dengan membawa tanda-tanda kekuasaan, dan tidak ada pembebasan sejati jika kita tidak membebaskan diri dari keterikatan. Di sini kita menyentuh rahasia kedua dari perutusan kristiani. Hukum perjumpaan muncul setelah ketidakterikatan. Kita tahu bahwa sepanjang sejarah, perutusan sering kali diselewengkan oleh keinginan untuk mendominasi, yang sama sekali asing bagi jalan Yesus Kristus. Santo Yohanes Paulus II mempunyai kejelasan dan keberanian untuk mengakui bahwa “karena ikatan yang mempersatukan kita satu sama lain dalam Tubuh Mistik, kita semua, meskipun tidak bertanggung jawab secara pribadi dan tanpa melanggar penghakiman Allah yang mengetahui setiap hati, memikul beban kesalahan dan kekurangan orang-orang yang telah mendahului kita.”[1]

 

Oleh karena itu, mengingat bahwa baik dalam ranah pastoral maupun dalam ranah sosial dan politik, kebaikan tidak akan datang dari penyalahgunaan kekuasaan, kini menjadi prioritas. Para misionaris besar memberikan kesaksian tentang pendekatan yang teduh dan tidak mencolok, yang metodenya adalah ambil bagian kehidupan, pelayanan tanpa pamrih, penolakan terhadap strategi, dialog, dan rasa hormat yang berpamrih. Itulah jalan inkarnasi, yang selalu mengambil bentuk inkulturasi. Keselamatan, pada kenyataannya, hanya dapat diterima oleh setiap orang melalui bahasa ibunya masing-masing. “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri?” (Kis. 2:8). Kejutan Pentakosta terulang kembali ketika kita tidak menganggap diri kita mampu mengendalikan waktu Allah, tetapi menaruh kepercayaan kita pada Roh Kudus, yang “hadir, bahkan hari ini, seperti pada zaman Yesus dan para Rasul: hadir dan bekerja, datang sebelum kita, bekerja lebih keras dan lebih baik daripada kita; bukan tugas kita untuk menabur atau membangkitkan Dia, tetapi pertama dan terutama untuk mengenali Dia, menyambut Dia, berjalan bersama Dia, membuka jalan bagi Dia, dan mengikuti Dia. Ia hadir dan tidak pernah kehilangan semangat mengenai zaman kita; sebaliknya, Ia tersenyum, menari, menembus, meliputi, menyelimuti, dan menjangkau bahkan ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan.”[2]

 

Untuk membangun keselarasan dengan yang transenden ini, kita harus pergi ke tempat kita diutus dengan kesederhanaan, menghormati misteri yang dibawa oleh setiap orang dan setiap komunitas di dalam diri mereka. Sebagai umat Kristiani, kita adalah tamu. Hal ini juga berlaku jika kita adalah uskup, imam, atau biarawan dan biarawati. Untuk menjadi tuan rumah, sebenarnya, kita sendiri harus belajar menjadi tamu. Bahkan tempat-tempat di mana sekularisasi tampak paling berkembang bukanlah tanah yang harus ditaklukkan atau direbut kembali: “Budaya-budaya baru senantiasa lahir dalam wilayah kediaman manusia yang sangat besar ini di mana umat Kristiani biasanya tak lagi menjadi penafsir atau pembangkit makna. Sebaliknya, mereka menerima dari budaya-budaya ini bahasa-bahasa, simbol-simbol, pesan-pesan dan paradigma-paradigma baru yang mengajukan pendekatan-pendekatan baru akan kehidupan, pendekatan-pendekatan yang seringkali berlawanan dengan Injil Yesus … Evangelisasi ini harus menjangkau tempat-tempat di mana narasi-narasi dan paradigma-paradigma baru sedang dibentuk, dengan membawa sabda Yesus kepada relung terdalam jiwa-jiwa di kota-kota kita.”[3] Hal ini hanya terjadi jika kita berjalan bersama sebagai Gereja, jika perutusan bukanlah petualangan heroik yang diperuntukkan bagi sedikit orang, tetapi kesaksian hidup dari satu Tubuh dengan banyak anggota.

 

Ada juga dimensi ketiga, mungkin yang paling radikal, dari perutusan kristiani. Kemungkinan dramatis kesalahpahaman dan penolakan, yang sudah terlihat dalam reaksi keras penduduk Nazaret terhadap perkataan Yesus. “Mendengar hal itu semua orang di rumah ibadat itu sangat marah. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk. 4:28-29). Meskipun bacaan liturgi telah menghilangkan bagian ini, apa yang akan kita rayakan malam ini mengajak kita untuk tidak melarikan diri, tetapi “melewati” pencobaan itu, seperti yang dilakukan Yesus. Yesus “lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:30). Salib adalah bagian dari perutusan: pengutusan menjadi lebih pahit dan menakutkan, tetapi juga lebih membebaskan dan mengubah rupa. Pendudukan imperialis atas dunia dengan demikian terganggu dari dalam; kekerasan yang sampai sekarang menjadi hukum terungkap. Mesias yang miskin, dipenjara, dan ditolak itu turun ke dalam kegelapan kematian, namun dengan demikian Ia membawa ciptaan baru menuju terang.

 

Betapa banyak panggilan “kebangkitan” yang harus kita alami ketika, bebas dari sikap defensif, kita membenamkan diri dalam pelayanan seperti benih di dalam bumi! Dalam kehidupan, kita mungkin menghadapi situasi di mana semuanya tampak telah berakhir. Kemudian kita bertanya pada diri sendiri apakah perutusan kita sia-sia. Meskipun benar bahwa, tidak seperti Yesus, kita juga mengalami kegagalan yang berasal dari kekurangan kita sendiri atau orang lain, seringkali dari jalinan tanggung jawab yang rumit antara terang dan gelap, kita dapat menjadikan pengharapan banyak saksi sebagai pengharapan kita. Saya ingat seseorang yang sangat saya sayangi. Sebulan sebelum kematiannya, dalam buku catatan Latihan Rohani-nya, Uskup Óscar Romero yang kudus menulis, ‘Nuncio di Kosta Rika telah memperingatkan saya tentang bahaya yang akan segera terjadi pekan ini… Keadaan yang tak terduga ini akan dihadapi dengan rahmat Allah. Yesus Kristus menolong para martir dan, jika perlu, aku akan merasakan Dia sangat dekat ketika aku mempercayakan napas terakhirku kepada-Nya.’ Namun, lebih dari saat-saat terakhir kehidupan, yang terpenting adalah memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya dan hidup untuk-Nya… Cukuplah bagiku, berbahagia dan percaya diri, mengetahui dengan pasti bahwa di dalam Dia ada kehidupan dan kematianku; bahwa, meskipun aku berdosa, aku telah menaruh kepercayaanku kepada-Nya dan tidak akan berkecil hati, karena orang lain akan melanjutkan, dengan kebijaksanaan dan kekudusan yang lebih besar, karya untuk Gereja dan tanah air.”

 

Saudara-saudari terkasih, para kudus menciptakan sejarah. Inilah pesan Kitab Wahyu: “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya” (Why. 1:4). Salam ini merangkum perjalanan Yesus di dunia yang terkoyak oleh kekuatan-kekuatan yang menghancurkannya. Di dalamnya muncul umat baru, bukan korban, tetapi saksi. Di saat-saat gelap sejarah ini, Allah berkenan mengutus kita untuk menyebarkan keharuman Kristus di tempat di mana bau kematian berkuasa. Marilah kita memperbarui “ya” kita terhadap perutusan ini yang menyerukan persatuan dan membawa kedamaian. Ya, kita di sini! Marilah kita mengatasi rasa ketidakberdayaan dan ketakutan! Kami mewartakan wafat-Mu, ya Tuhan, dan kami mewartakan kebangkitan-Mu, seraya menantikan kedatangan-Mu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2026)



[1] Yohanes Paulus II, Bulla Indiksi Yubileum Agung 2000 Incarnationis Mysterium (29 November 1998), 11.

[2] CM. Martini, Tiga Kisah Roh, Milan 1997, 11.

[3] Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 73-74.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.