Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA BAGI PARA KARDINAL DAN USKUP YANG TELAH WAFAT SELAMA SETAHUN TERAKHIR 5 November 2026

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

“Siapa yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12:26). Kata-kata Yesus ini menyentuh hati kita secara langsung, memanggil kita untuk mengikuti Dia di sepanjang jalan yang telah Ia tempuh sendiri: jalan menuju kemuliaan melalui salib. Dalam perjalanan ini — di mana kita tidak luput dari berbagai pencobaan dan penderitaan — kita dibimbing dan dikuatkan oleh suatu janji: janji akan persekutuan yang tidak dapat dikuasai oleh maut. Sesungguhnya, siapa pun yang mengikuti Kristus menjadi pelayan-Nya dan akan senantiasa berada di tempat Ia berada, justru karena mereka telah menempuh jalan-Nya. Oleh karena itu, Santo Paulus menegaskan: “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim 2:11). Saudara-saudari terkasih, kepastian iman dan pengharapan inilah yang mendasari perayaan kita demi kedamaian jiwa para kardinal dan uskup yang telah meninggalkan kita sepanjang tahun yang lalu. Kita ingin berdoa kepada Tuhan bagi mereka, agar Ia berkenan memberikan upah kepada para pelayan-Nya yang setia.

 

Kenangan dalam doa ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai rohani dari ingatan. Saat berpamitan dengan putra-putranya, Agustinus dan Navigius, menjelang ajalnya, Santa Monika berkata, “Hanya satu hal yang kuminta darimu: ingatlah aku di mezbah Tuhan, di mana pun kamu berada” (Santo Agustinus, Pengakuan-pengakuan, IX, 11, 27). Di sini, misteri kematian dikaitkan dengan doa bagi orang yang telah meninggal — sebuah praktik yang telah dijalankan Gereja sejak awal mula sebagai salah satu kewajiban dasariahnya.

 

Dalam terang sabda Allah, kita dapat merefleksikan secara singkat dua kebenaran yang menerangi doa kita bagi orang yang telah meninggal: harapan akan kebangkitan dan persekutuan para kudus.

 

Kisah tentang Yudas Makabe yang kita dengar dalam Bacaan Pertama (2 Mak 12:43-46) membantu kita merefleksikan perihal kebangkitan. Setelah beberapa rekannya, yang telah berdosa karena menyembah berhala, gugur dalam pertempuran, Yudas menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah dan mengatur agar persembahan penghapus dosa dipersembahkan bagi mereka, supaya mereka dapat dibebaskan dari dosa mereka. Tindakan ini didasarkan pada keyakinan bahwa persekutuan yang kita alami satu sama lain di dunia ini — meskipun penuh dengan keterbatasan dan kegagalan — tidak berakhir ketika diserahkan ke dalam tangan Allah. Dengan demikian, kesaksian dari zaman Makabe ini mengantisipasi apa yang kemudian digenapi dalam liturgi Kristiani. Sebab, peringatan kita akan saudara-saudari yang telah mendahului kita di hadapan mezbah Tuhan berlandaskan pada janji bahwa hidup kita, di dalam Kristus, tidak akan sirna, karena hidup itu telah ditebus.

 

Tindakan Yudas, pertama-tama dan terutama, merupakan suatu tindakan iman, karena ia mempersembahkan kurbannya “dengan harapan teguh bahwa mereka yang telah meninggal akan bangkit kembali” (ayat 44). Dalam terang Yesus — yang merupakan sumber kebangkitan itu sendiri — kita pun berdoa bagi mereka yang telah mendahului kita, berkat harapan besar yang dianugerahkan kepada kita dalam misteri Paskah. Sebab, sebagaimana ditegaskan oleh Kitab Suci, jika tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah doa bagi orang mati (bdk. ayat 44). Rasul Paulus pun menyampaikan pernyataan yang tegas ini: “Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:13-14).

 

Saudara-saudari terkasih, mendoakan mereka yang telah meninggal berarti merayakan kehidupan — terutama kehidupan Kristus Tuhan yang telah bangkit, dan kemudian, berkat rahmat-Nya, kehidupan kita sendiri yang turut bangkit di dalam Dia. Kurban Ekaristi merupakan kenangan akan Paskah-Nya, peristiwa di mana Ia menyelamatkan kita dengan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan pengenangan akan orang yang telah meninggal sekadar menjadi nostalgia belaka. Dalam iman, marilah kita merenungkan misteri kematian tanpa rasa takut, karena Tuhan itu hidup, menantikan kita, dan telah menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa-Nya (bdk. Yoh 14:2-3).

 

Gereja merayakan tindakan penyerahan diri dan pengharapan ini di dalam persekutuan para kudus. Ketika kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal, kita melakukannya bukan hanya untuk mereka, melainkan juga bersama mereka — terlibat dalam suatu hubungan timbal balik yang dihidupkan oleh Roh Kudus di dalam hati kita. Gereja merupakan misteri persekutuan antara Kristus, sang Kepala, dengan kita, anggota-anggota tubuh-Nya: dari Dialah kita menerima kehidupan. Persekutuan ini mempersatukan jiwa-jiwa bahagia yang telah memandang wajah Allah dengan semua orang yang, baik di surga maupun di bumi, sedang dalam perjalanan menuju tujuan yang gilang-gemilang itu.

 

Saudara-saudari terkasih, di dalam Kristus, kematian tidak memutuskan ikatan di antara kita. Sebaliknya, kematian mengubah ikatan tersebut ke dalam dimensi baru — dimensi yang hanya dapat dipahami melalui misteri kasih-Nya, kasih yang diberikan hingga tuntas di atas kayu salib dan dicurahkan setelah kemenangan Paskah-Nya. Dengan menyambut kasih Tuhan yang telah bangkit dalam Ekaristi kudus, marilah kita menjaga dan memelihara persekutuan ini sepanjang perjalanan hidup kita. Dengan demikian, kelak saat tiba giliran kita, kita pun dapat menerima doa dari saudara-saudari kita yang masih dalam peziarahan, serta bersukacita bersama seluruh orang kudus dalam kebahagiaan di tanah air surgawi.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.