Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN 2 November 2026

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

Saudara-saudari terkasih, kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi di tempat doa dan kenangan, tempat yang penuh kasih sayang dan harapan ini. Kita mempersembahkannya demi keselamatan jiwa-jiwa umat beriman yang telah berpulang, khususnya bagi mereka yang beristirahat di sini dan bagi mereka yang senantiasa kita bawa dalam hati kita masing-masing.

 

Mengenang umat beriman yang telah berpulang, tepat sehari setelah Hari Raya Semua Orang Kudus, mengarahkan doa kita. Kita berpaling kepada Bapa surgawi agar kehidupan dalam kekudusan dan kebahagiaan — yang telah dinikmati oleh begitu banyak putra dan putri-Nya — dapat melingkupi jiwa-jiwa mereka yang kini beristirahat dalam damai.

 

Iman kita diterangi oleh Sabda yang telah diwartakan, yang semakin meneguhkan kepercayaan kita akan tangan Allah. Sebagaimana diingatkan oleh Kitab Kebijaksanaan, tangan Allah yang penuh kuasa mampu menjaga jiwa orang-orang benar: “Siksaan tidak akan pernah menimpa mereka” (Keb 3:1). Inilah janji keselamatan yang, khususnya pada hari ini, menjadi inti dari permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan Sang Pemilik Kehidupan bagi semua orang beriman yang telah berpulang.

 

Semoga tangan-Nya yang penuh kasih kebapaan dan teguh senantiasa menjaga mereka untuk selama-lamanya, agar mereka dapat menikmati sepenuhnya kepemilikan yang hidup dan timbal balik yang dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya dalam Kitab Wahyu: “Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka sebagai Allah mereka” (Why 21:3). Doa kita menjadi perantaraan agar persekutuan hidup yang kekal ini — yang dijanjikan oleh Sang Gembala yang baik kepada domba-domba-Nya — dapat terwujud; domba-domba yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan-Nya (bdk. Yoh 10:28).

 

Saudara-saudari terkasih, kita telah mendengarkan Bacaan Injil tentang Sabda Bahagia (Mat 5:1-12). Sabda Bahagia ibarat potret diri Yesus, yang Ia berikan kepada para murid-Nya saat Ia mewartakan “Berbahagialah kamu!” (ayat 11). Sabda Bahagia merupakan jalan menuju kehidupan yang utuh dan terpenuhi, baik saat ini maupun untuk kekekalan. Ketika kita mendengarnya dibacakan dalam liturgi — kita tahu — Tuhan yang bangkit yang sedang berbicara kepada kita. Pewartaan keselamatan yang terkandung dalam Sabda Bahagia ini bergema dengan kekuatan rohani yang istimewa di sebuah pemakaman, yang ibarat ambang batas antara dunia ini dan dunia yang akan datang, antara kehidupan di bumi dan apa yang menanti kita di sana. Yesus yang bangkit berkata kepada kita bahwa berbahagialah mereka yang hidup menurut jalan ini karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.

 

Di antara delapan Sabda Bahagia dalam Injil Matius, ada satu yang menyentuh kita secara khusus hari ini: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4). Pada saat ini, kita ingin mendoakan mereka yang baru saja kehilangan orang yang dicintai; khususnya bagi mereka yang orang-orang terkasihnya telah direnggut oleh kekerasan perang yang tidak masuk akal. Semoga air mata begitu banyak ibu, anak-anak, dan lansia mengetuk hati nurani mereka yang memiliki kuasa untuk membungkam senjata!

 

Pada peringatan delapan abad wafatnya Santo Fransiskus dari Asisi, secara spontan muncul ingatan akan “sabda bahagia” yang ia tambahkan ke dalam Gita Sang Surya saat ia menyadari bahwa ajalnya telah dekat: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Maut Jasmani darinya tiada insan hidup terlepas. Malanglah yang mati dalam dosa. Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu, maut kedua takan mencelakakannya."

 

Saudara-saudari terkasih, iman kepada Kristus menyatakan kepada kita bahwa ikatan kita dengan umat beriman yang telah meninggal tidaklah terputus, melainkan diubah. Melalui doa permohonan bagi arwah, kita mendampingi orang-orang yang kita kasihi menuju persekutuan penuh dengan Tuhan — persekutuan yang sesungguhnya telah kita rasakan di sini, dalam sakramen Ekaristi. Dengan didorong oleh iman yang penuh pengharapan ini, marilah kita melanjutkan perjalanan hidup kita di dunia ini, seraya menantikan hari ketika Ia akan menghapus segala air mata, saat “maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:4).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2026)