Bacaan
Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28;
Yoh. 6:37-40.
Saudara-saudari terkasih, kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi di tempat doa dan kenangan, tempat yang penuh kasih sayang dan harapan ini. Kita mempersembahkannya demi keselamatan jiwa-jiwa umat beriman yang telah berpulang, khususnya bagi mereka yang beristirahat di sini dan bagi mereka yang senantiasa kita bawa dalam hati kita masing-masing.
Mengenang
umat beriman yang telah berpulang, tepat sehari setelah Hari Raya Semua Orang
Kudus, mengarahkan doa kita. Kita berpaling kepada Bapa surgawi agar kehidupan
dalam kekudusan dan kebahagiaan — yang telah dinikmati oleh begitu banyak putra
dan putri-Nya — dapat melingkupi jiwa-jiwa mereka yang kini beristirahat dalam
damai.
Iman kita
diterangi oleh Sabda yang telah diwartakan, yang semakin meneguhkan kepercayaan
kita akan tangan Allah. Sebagaimana diingatkan oleh Kitab Kebijaksanaan, tangan
Allah yang penuh kuasa mampu menjaga jiwa orang-orang benar: “Siksaan tidak
akan pernah menimpa mereka” (Keb 3:1). Inilah janji keselamatan yang, khususnya
pada hari ini, menjadi inti dari permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan
Sang Pemilik Kehidupan bagi semua orang beriman yang telah berpulang.
Semoga
tangan-Nya yang penuh kasih kebapaan dan teguh senantiasa menjaga mereka untuk
selama-lamanya, agar mereka dapat menikmati sepenuhnya kepemilikan yang hidup
dan timbal balik yang dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya dalam Kitab Wahyu:
“Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka sebagai
Allah mereka” (Why 21:3). Doa kita menjadi perantaraan agar persekutuan hidup
yang kekal ini — yang dijanjikan oleh Sang Gembala yang baik kepada
domba-domba-Nya — dapat terwujud; domba-domba yang tidak akan binasa sampai
selama-lamanya dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan-Nya (bdk.
Yoh 10:28).
Saudara-saudari
terkasih, kita telah mendengarkan Bacaan Injil tentang Sabda Bahagia (Mat
5:1-12). Sabda Bahagia ibarat potret diri Yesus, yang Ia berikan kepada para
murid-Nya saat Ia mewartakan “Berbahagialah kamu!” (ayat 11). Sabda Bahagia
merupakan jalan menuju kehidupan yang utuh dan terpenuhi, baik saat ini maupun
untuk kekekalan. Ketika kita mendengarnya dibacakan dalam liturgi — kita tahu —
Tuhan yang bangkit yang sedang berbicara kepada kita. Pewartaan keselamatan
yang terkandung dalam Sabda Bahagia ini bergema dengan kekuatan rohani yang
istimewa di sebuah pemakaman, yang ibarat ambang batas antara dunia ini dan
dunia yang akan datang, antara kehidupan di bumi dan apa yang menanti kita di
sana. Yesus yang bangkit berkata kepada kita bahwa berbahagialah mereka yang
hidup menurut jalan ini karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.
Di antara
delapan Sabda Bahagia dalam Injil Matius, ada satu yang menyentuh kita secara
khusus hari ini: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan
dihibur” (Mat 5:4). Pada saat ini, kita ingin mendoakan mereka yang baru saja
kehilangan orang yang dicintai; khususnya bagi mereka yang orang-orang
terkasihnya telah direnggut oleh kekerasan perang yang tidak masuk akal. Semoga
air mata begitu banyak ibu, anak-anak, dan lansia mengetuk hati nurani mereka
yang memiliki kuasa untuk membungkam senjata!
Pada
peringatan delapan abad wafatnya Santo Fransiskus dari Asisi, secara spontan
muncul ingatan akan “sabda bahagia” yang ia tambahkan ke dalam Gita Sang Surya
saat ia menyadari bahwa ajalnya telah dekat: “Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena saudari kami, Maut Jasmani darinya tiada insan hidup terlepas. Malanglah
yang mati dalam dosa. Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu, maut
kedua takan mencelakakannya."
Saudara-saudari
terkasih, iman kepada Kristus menyatakan kepada kita bahwa ikatan kita dengan
umat beriman yang telah meninggal tidaklah terputus, melainkan diubah. Melalui
doa permohonan bagi arwah, kita mendampingi orang-orang yang kita kasihi menuju
persekutuan penuh dengan Tuhan — persekutuan yang sesungguhnya telah kita
rasakan di sini, dalam sakramen Ekaristi. Dengan didorong oleh iman yang penuh
pengharapan ini, marilah kita melanjutkan perjalanan hidup kita di dunia ini,
seraya menantikan hari ketika Ia akan menghapus segala air mata, saat “maut
tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau
dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:4).
______
(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2026)
Print this page