Bacaan
Ekaristi : Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9.12.13-14.15-16.19-20; Flp. 4:6-9; Mat.
21:33-43.
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
sangat senang dapat merayakan Ekaristi untukmu dan bersamamu, pada pesta santo
pelindungmu, Santo Mikael Malaikat Agung. Lima belas dari kamu baru-baru ini
mengucapkan sumpah. Ini adalah waktu untuk berdoa. Secara khusus, marilah kita
sekarang berhenti sejenak untuk merenungkan sabda Allah yang telah kita dengar:
sabda itu membantu kita memahami apa artinya melayani, menjaga, dan melindungi.
Nabi
Yesaya (5:1-7) berbicara kepada kita tentang kebun anggur yang dikasihi dan
dipelihara dengan saksama. Kebun anggur tersebut melambangkan kasih Allah
kepada umat-Nya. Allah telah melakukan segala sesuatu untuk kebun anggur-Nya
dan mengharapkan buah yang baik darinya. Dan Allah memanggil semua
anak-anak-Nya untuk bekerja di kebun anggur-Nya, sehingga kita menjadi kebun
anggur sekaligus pekerja. Bagimu, para polisi Vatikan, pelayanan ini adalah
cara untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Tempat, pintu masuk,
bangunan, tetapi yang terpenting, orang-orang, dipercayakan kepadamu. Satu
sifat yang menonjol dalam pertemuan kita adalah kepedulian ini: sungguh indah
melihat bagaimana kamu memandang orang lain bukan sebagai masalah yang harus
dipecahkan, tetapi sebagai manusia yang harus dihormati dan diperhatikan.
Dalam
Bacaan Injil (Mat 21:33-43), perumpamaan Yesus menunjukkan kepada kita contoh
negatif: para penggarap kebun anggur yang, seiring waktu, lupa bahwa kebun
anggur itu bukan milik mereka, melainkan dipercayakan kepada mereka untuk
dipelihara. Ini adalah pengingat yang berharga bagi mereka yang hidup dalam
pelayanan: apa yang kita terima adalah tanggung jawab yang harus dijaga dengan
kerendahan hati dan pengabdian, dijalani dengan kebijaksanaan dan rasa tanggung
jawab. Kamu tahu betul bahwa kewenangan, dalam terang Injil, diungkapkan
pertama dan terutama dalam kemampuan untuk melindungi, mendengarkan, dan
mendampingi, dengan keseimbangan, ketegasan, dan rasa hormat.
Kemudian
Yesus memberitahu kita bahwa pemilik kebun anggur mengutus anaknya. Anak ini,
yang melambangkan Kristus, merupakan pusat perumpamaan. Dan Dia - Yesus Kristus
- yang harus menjadi pusat kehidupan dan pelayananmu. Bahkan sebelum menjadi
polisi, kamu adalah orang-orang yang dipanggil untuk mengikuti Dia. Dari Dia
kita belajar kekuatan yang dapat menjadi kelembutan, kewaspadaan yang lahir
dari kepercayaan, kewenangan yang berjalan seiring dengan kerendahan hati, dan
keberanian untuk bertindak dengan hati yang penuh belas kasihan.
Dalam
Bacaan Kedua (Flp. 4:6-9), Santo Paulus berkata kepada kita: "Janganlah
khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu
kepada Allah" (Filipi 4:6). Ini juga merupakan ungkapan yang sangat tepat
untuk pelayananmu. Akan ada hari-hari yang tenang dan hari-hari yang sulit;
saat-saat ketika perlu mengambil keputusan cepat; situasi yang akan menimbulkan
kelelahan dan kekhawatiran. Polisi tidak memikul semuanya sendirian: ia berdoa,
tahu bagaimana mempercayai, tahu bagaimana menemukan kedamaian dalam Tuhan yang
memungkinkannya untuk bertindak dengan jelas dan hati yang tenang.
Rasul
Paulus menambahkan, "Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,
semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang
disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu" (bdk. Filipi
4:8). Inilah ciri lain dari "jati diri"-mu: hati dan pikiran yang
terlatih dalam kebaikan. Sebelum tindakan lahiriah apa pun, ada pandangan
batiniah. Mereka yang melindungi orang lain harus terlebih dahulu melindungi
kebenaran, keadilan, kebaikan, dan rasa hormat di dalam diri mereka sendiri.
Melindungi orang lain membutuhkan hati yang dilindungi oleh Tuhan.
Pekerjaanmu
tentu menuntut kewaspadaan, tetapi sabda Allah hari ini mengajakmu kepada
sesuatu yang lebih mendalam: menjaga dirimu dengan saksama. Jagalah hatimu,
agar tidak menjadi keras tetapi selalu taat kepada Allah dan memperhatikan
sesama; jagalah hati nuranimu, agar terus membimbingmu dengan kebenaran;
jagalah persaudaraan di antaramu, agar setiap orang merasa diterima, didukung,
dan tidak pernah sendirian. Karena suatu kelompok benar-benar menjadi
"komunitas" ketika anggotanya saling peduli dan belajar berjalan
bersama, saling mendukung dengan kesederhanaan dan kasih.
Saya juga
menutup tahun ini dengan ungkapan kasih sayang dan rasa syukur kepada
keluargamu. Kepada orang tua, istri, anak-anak, dan pacarmu: terima kasih! Kamu
tahu pengorbanan, ketidakhadiran, jadwal, kekhawatiran, dan bahkan beban
pelayanan yang tidak selalu terlihat.
Kepada
mereka yang telah melayani selama bertahun-tahun dan kepada lima belas orang
yang mengucapkan sumpah hari ini, saya katakan: jangan pernah lupa siapa dan
apa yang kamu pilih untuk layani. Jadilah orang yang dapat dipercaya,
bijaksana, dan setia. Biarkan Yesus menginspirasi pelayananmu. Semoga lencanamu
yang terindah adalah hati yang tahu bagaimana melindungi.
Kita
mempercayakan semua ini kepada Bunda Maria. Semoga Maria, perempuan yang penuh
perhatian dan dapat dipercaya, menyertai keluargamu dan kamu masing-masing. Dan
kita memohon kepada Santo Mikael Malaikat Agung untuk berada di sisimu dalam
kewaspadaan dan perjuangan melawan segala kejahatan. Semoga ia melindungimu
dalam pelayananmu dan membantumu tetap setia, sehingga Tuhan Yesus selalu
menjadi pusat kehidupan, pelayanan, dan hatimu.
______
(Bogor, 4 Oktober 2026)
Print this page