Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 16 Juni 2015 : KEKAYAAN DAN KEMISKINAN

Bacaan Ekaristi : 2 Kor 8:1-9; Mat 5:43-48

Fokus homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Selasa pagi 16 Juni 2015 di Casa Santa Marta, Vatikan, adalah "teologi kemiskinan". Permenungan Paus Fransiskus dimulai dari Bacaan Pertama liturgi hari itu (2 Kor 8:1-9), yang di dalamnya Santo Paulus "sedang mengelola, di dalam Gereja Korintus, sebuah kolekte untuk Gereja Yerusalem, yang sedang mengalami masa-masa sulit kemiskinan". Untuk mencegah kolekte dari penyalahgunaan, Rasul Paulus menawarkan "beberapa pertimbangan", semacam "teologi kemiskinan". Klarifikasi ini diperlukan karena, Paus Fransiskus menjelaskan, "kemiskinan" adalah sebuah kata "yang selalu memalukan". Memang, betapa sering telah kita dengar: "Imam ini berbicara terlalu banyak tentang kemiskinan, uskup ini berbicara tentang kemiskinan, orang Kristen ini, biarawati ini berbicara tentang kemiskinan .... Mereka agak komunis, bukan?". Tetapi sebaliknya, Paus Fransiskus menekankan, "kemiskinan adalah jantung sesungguhnya dari Injil", sehingga "jika kita menghapus kemiskinan dari Injil, tidak akan mengerti pesan Yesus".


Maka, Santo Paulus menjelaskan katekese "tentang amal serta tentang kemiskinan dan kekayaan", mengawalinya dengan sebuah contoh yang diambil dari pengalaman Gereja Masedonia. Di sana, "dalam ujian penderitaan yang berat - karena mereka sangat menderita melalui penganiayaan-penganiayaan - kelimpahan sukacita mereka dan kemiskinan mereka yang ekstrim telah meluap di dalam sebuah kekayaan kemurahan hati pada pihak mereka". Dengan kata lain, "dalam memberi, dalam mengalami penderitaan, mereka diperkaya, mereka menjadi bersukacita". Dan, Paus Fransiskus menambahkan, itu ditemukan dalam salah satu Sabda Bahagia: " Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya...".

Setelah memberikan contoh ini, Paulus beralih kembali ke Gereja Korintus: "karena kamu kaya, pikirkanlah mereka, pikirkanlah Gereja Yerusalem". Tetapi, Paus Fransiskus bertanya, tentang kekayaan mana yang sedang dibicarakan Paulus? Jawabannya segera mengikuti dalam teks : "Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, -- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini". Dengan kata lain, Paus Fransiskus menjelaskan, perbuatlah agar "kekayaanmu yang besar - semangat, amal, Sabda Allah, pengetahuan akan Allah - mencapai saku". Karena, beliau menambahkan, "ketika iman tidak mencapai saku, itu bukan iman sejati"; dan ini adalah "sebuah aturan emas" untuk diingat.

Dengan demikian, dari perikop Paulus tersebut muncul sebuah "kesejajaran antara kekayaan dan kemiskinan. Gereja Yerusalem miskin, berada dalam kesulitan ekonomi, tetapi kaya karena ia memiliki harta pesan Injil". Dan "Gereja Yerusalem yang miskin" inilah, yang memperkaya Gereja Korintus "dengan pesan Injil : mereka memberinya harta Injil". Mereka yang secara ekonomi kaya adalah miskin pada kenyataannya, "tanpa pesan Injil". Ada, kata Paus Fransiskus, "saling tukar" dan dengan demikian, "dari kemiskinan datang kekayaan".

Pada titik inilah, Paus Fransiskus menjelaskan, maka "Paulus, dengan pemikiran-pemikirannya, mencapai batuan dasar dari apa yang kita sebut 'teologi kemiskinan' dan mengapa kemiskinan adalah jantung dari Injil". Surat Rasul Paulus tersebut berbunyi: "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya". Dengan demikian, "Sabda Allah sungguh menjadi manusia, Sabda Allah dalam sikap melindungi ini, dalam merendahkan diri-Nya ini, dalam memiskinkan diri-Nya ini, untuk kita, untuk membuat kita kaya dalam karunia-karunia keselamatan, perkataan, kasih karunia". Ini "adalah inti dari teologi kemiskinan yang sesungguhnya", yang, terutama, terlihat kembali dalam Sabda Bahagia yang pertama: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah". Paus Fransiskus menekankan: "menjadi miskin adalah membiarkan diri kalian diperkaya oleh kemiskinan Kristus dan tidak menginginkan sebuah kekayaan dari kekayaan-kekayaan lain yang bukan milik Kristus, melakukan apa yang Kristus lakukan". Bukan hanya menjadi miskin, tetapi sedang menjalani "bahkan sebuah langkah lebih lanjut", karena, beliau berkata, "orang miskin memperkaya aku".

Beralih ke alam nyata kehidupan sehari-hari, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa "ketika kita memberikan bantuan kepada orang miskin, kita tidak melakukan tindakan kedermawanan dengan cara Kristen". Ini adalah sebuah tindakan yang "baik", sebuah tindakan "manusiawi", tetapi "ini bukan kemiskinan Kristiani yang diinginkan Paulus, yang diberitakan Paulus". Karena kemiskinan Kristiani berarti "bahwa aku memberikan milikku dan bukan dari kelebihan", bahkan dari kebutuhan dasarku, "kepada orang miskin, karena aku tahu bahwa mereka memperkaya aku". Dan mengapa orang miskin memperkaya aku? "Karena Yesus berkata bahwa Ia sendiri berada dalam orang miskin".

Paulus menyinggung konsep yang sama ketika ia menulis: "Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya". Hal ini terjadi "setiap kali aku menanggalkan diriku terhadap sesuatu, tetapi bukan hanya dari kelebihan, untuk diberikan kepada seorang miskin, kepada sebuah jemaat miskin, kepada begitu banyak orang miskin yang tidak memiliki apapun", karena "orang miskin memperkaya aku" sedemikian rupa karena "Yesuslah yang bertindak di dalam dirinya".

Hal ini karena, Paus Fransiskus mengakhiri, kemiskinan "bukanlah sebuah ideologi". Kemiskinan "berada di jantung Injil". Dalam "teologi kemiskinan" kita menemukan "misteri Kristus yang menurunkan diri-Nya, merendahkan diri-Nya, memiskinkan diri-Nya, untuk memperkaya kita". Dengan demikian dapat dipahami "mengapa Sabda Bahagia yang pertama adalah: 'Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah'". Dan "menjadi miskin di hadapan Allah", lanjut Paus Fransiskus, berarti "berjalan di jalan Tuhan ini", yang "begitu merendahkan diri-Nya" sebagaimana menjadi "roti bagi kita" dalam kurban Ekaristi. Yesus "terus menerus menurunkan diri-Nya dalam sejarah Gereja, dalam peringatan akan penghinaan-Nya, dalam peringatan akan kemiskinan-Nya, dan peringatan akan 'roti' ini, Ia memperkaya kita".

Paus Fransiskus kemudian berdoa: "Agar Tuhan memungkinkan kita untuk memahami jalan kemiskinan Kristiani dan sikap yang harus kita miliki ketika kita membantu orang miskin".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.