Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 24 April 2017 : KETERWUJUDAN IMAN

Bacaan Ekaristi : Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8.

Jangan pernah lupa bahwa iman kita itu berwujud, dan menolak berkompromi dan idealisasi. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Senin pagi 24 April 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus merenungkan kebebasan yang diberikan Roh Kudus kepada kita, yang menyebabkan pewartaan Injil yang tanpa kompromi atau kaku.

Paus Fransiskus memusatkan homilinya pada kisah Injil tentang pertemuan Yesus dengan Nikodemus (Yoh. 3:1-8). Bapa Suci mengatakan Yesus, dengan kasih dan kesabaran-Nya, menjelaskan kepada Nikodemus bahwa ia harus "dilahirkan dari atas ... dilahirkan dari Roh Kudus".

Untuk memahami hal ini dengan lebih baik, kata Paus Fransiskus, kita dapat mempertimbangkan Bacaan Pertama (Kis. 4:23-31), Petrus dan Yohanes telah menyembuhkan seorang lumpuh, dan para ahli Taurat tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana "menyembunyikan" apa yang terjadi, "karena peristiwa itu bersifat publik". Ketika mereka ditanyai, Petrus dan Yohanes "menjawab dengan kesederhanaan"; dan ketika mereka diperintahkan untuk tidak membicarakan apa yang terjadi, Petrus menjawab, "Tidak! Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar".

"Lihatlah", kemudian Paus Fransiskus berkata, "keberwujudan tersebut merupakan sebuah fakta, keberwujudan iman" berbeda dengan kedudukan para ahli Taurat yang "ingin melakukan perundingan, untuk mencapai sebuah kompromi" : Petrus dan Yohanes "memiliki keberanian, mereka memiliki keterusterangan, keterusterangan Roh Kudus", "yang berarti mengatakan kebenaran secara terang-terangan, dengan keberanian, tanpa kompromi". Inilah "intinya", "keberwujudan iman" :

"Terkadang kita lupa bahwa iman kita itu berwujud : Sabda telah menjadi daging; ia tidak menjadi sebuah gagasan. Dan ketika kita mendaraskan Syahadat, semua yang kita katakan berwujud : 'Aku percaya akan Allah Bapa yang telah menciptakan langit dan bumi; aku percaya akan Yesus Kristus yang dilahirkan, yang wafat ...'. Inilah semua hal yang berwujud. Syahadat kita tidak mengatakan, 'Aku harus melakukan ini, aku harus melakukan itu, aku harus melakukan sesuatu yang lain, atau beberapa hal itu ada untuk tujuan-tujuan ini'. Tidak! Mereka adalah hal-hal yang berwujud. [Inilah] keberwujudan iman yang mengarah kepada keterusterangan, memberi kesaksian bahkan sampai pada titik kemartiran, yang bertentangan dengan kompromi-kompromi atau idealisasi iman".

Bagi para ahli Taurat ini, beliau melanjutkan, Sabda "tidak menjadi daging; ia menjadi hukum; dan kamu harus melakukan hal ini sampai titik ini, dan tidak lebih jauh lagi"; "kamu harus melakukan hal ini, dan tidak ada hal lainnya" :

"Jadi mereka terpenjara dalam mentalitas rasionalistik ini, yang tidak berakhir dengan mereka. Karena dalam sejarah Gereja - walaupun seringkali Gereja sendiri telah mengutuk rasionalisme, iluminisme - kemudian sering terjadi bahwa teori tersebut jatuh ke dalam sebuah teologi 'ya, kamu boleh, tidak kamu tidak boleh; sampai titik ini, sejauh ini'. Dan melupakan kekuatan, kebebasan Roh Kudus, kelahiran kembali Roh Kudus inilah yang memberi kamu kebebasan, keterusterangan pewartaan, pemberitaan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan".

"Marilah kita memohon kepada Tuhan", kata Paus Fransiskus, untuk "pengalaman akan Roh Kudus yang datang dan pergi dan seterusnya melahirkan kita; pengalaman akan Roh Kudus yang memberi kita pengurapan iman, pengurapan keberwujudan iman" :

"Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh : ia mendengar suara itu, ia mengikuti suara itu, ia mengikuti suara Roh tanpa mengetahui ke mana ia akan berakhir. Karena Ia telah membuat sebuah pilihan bagi keberwujudan iman dan kelahiran kembali Roh. Semoga Tuhan menganugerahkan kepada kita semua Roh Paskah ini, berjalan maju di sepanjang jalan Roh tanpa kompromi, tanpa kekakuan, dengan kebebasan memberitakan Yesus Kristus sebagai Dia yang telah datang : dalam daging".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.