Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PALMA 9 April 2017

Bacaan Ekaristi : Mat. 21:1-11. Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat. 26:14-27:66

Perayaan hari ini dapat dikatakan manis berujung pahit. Sukacita dan dukacita pada saat yang sama. Kita merayakan masuknya Tuhan ke Yerusalem dengan teriakan para murid-Nya yang bersorak-sorai menyambut-Nya sebagai raja. Namun kita juga secara meriah mewartakan kisah Injil sengsara-Nya. Sebaliknya dalam kontras yang memilukan ini, hati kita mengalami dengan beberapa takaran yang kecil apa yang harus dirasakan Yesus sendiri dalam hati-Nya sendiri hari itu, ketika Ia bersukacita dengan sahabat-sahabat-Nya dan menangisi Yerusalem.

Selama tiga puluh dua tahun hingga sekarang, aspek penuh sukacita hari Minggu ini telah diperkaya oleh antusiasme orang-orang muda, berkat perayaan Hari Orang Muda Sedunia. Tahun ini, Hari Orang Muda Sedunia sedang dirayakan di tingkat keuskupan, tetapi di sini di Lapangan Santo Petrus ia akan ditandai oleh momen yang sangat menyentuh dan menggugah ketika salib Hari Orang Muda Sedunia diteruskan dari orang-orang muda Kraków kepada orang-orang muda Panama.

Injil yang kita dengar sebelum perarakan (bdk Mat 21:1-11) menggambarkan Yesus saat Ia turun dari Bukit Zaitun menunggang seekor keledai muda yang belum pernah ditunggangi. Injil menceritakan antusiasme para murid yang bersorak-sorai menyambut Sang Guru dengan teriakan sukacita, dan kita bisa membayangkan dalam pikiran kita kegembiraan anak-anak dan orang-orang muda kota yang bergabung dalam kegembiraan. Yesus sendiri melihat dalam penyambutan yang penuh sukacita ini sebuah kekuatan yang tak terhindarkan yang dikehendaki Allah. Kepada orang-orang Farisi yang tersinggung Ia menjawab : “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak" (Luk 19:40).

Namun Yesus yang, dalam menggenapi Kitab Suci, memasuki kota suci dengan cara ini bukanlah pemasok khayalan yang menyesatkan, bukanlah nabi zaman baru, bukanlah penipu. Sebaliknya, Ia jelas adalah seorang Mesias yang datang dengan pakaian seorang hamba, hamba Allah dan hamba manusia, serta berjalan menuju sengsara-Nya. Ia adalah “penderita” yang luar biasa, yang memikul seluruh kepedihan umat manusia.

Jadi ketika dengan penuh sukacita kita bersorak-sorai menyambut Raja kita, marilah kita juga memikirkan penderitaan yang akan harus Ia tanggung dalam pekan ini. Marilah kita memikirkan fitnahan dan penghinaan, perangkap dan pengkhianatan, keputusasaan terhadap sebuah penghakiman yang tidak adil, pukulan, cambukan dan mahkota duri ... Dan terakhir, jalan salib yang mengarah kepada penyaliban.

Ia telah berbicara dengan jelas tentang hal ini kepada murid-murid-Nya : “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Yesus tidak pernah menjanjikan kehormatan dan keberhasilan. Kitab-kitab Injil menjelaskan hal ini. Ia selalu mengingatkan sahabat-sahabat-Nya bahwa ini menjadi jalan-Nya, dan bahwa kemenangan akhir akan tercapai melalui sengsara dan salib. Semua ini berlaku bagi kita juga. Marilah kita memohonkan rahmat untuk mengikuti Yesus dengan setia, tidak dalam kata-kata tetapi dalam perbuatan. Marilah kita juga memohonkan kesabaran untuk memikul salib kita sendiri, bukan menolaknya atau mengesampingkannya, melainkan, dengan memandang-Nya, mengangkatnya dan memanggulnya setiap hari.

Yesus ini, yang menerima "hosana" orang banyak, tahu betul bahwa "hosana" akan segera diikuti oleh teriakan : “Salibkan Dia!”. Ia tidak meminta kita untuk merenungkan diri-Nya hanya dalam gambar dan foto, atau dalam video yang beredar di internet. Tidak. Ia hadir dalam diri banyak saudara dan saudari kita yang hari ini menanggung penderitaan bagaikan penderitaan-Nya : mereka menderita karena kerja paksa, karena tragedi keluarga, karena wabah ... Mereka menderita karena peperangan dan terorisme, karena kepentingan yang bersenjata dan siap untuk menyerang. Para perempuan dan laki-laki yang tertipu, terlanggar martabatnya, terbuang ... Yesus ada di dalamnya, di dalam mereka masing-masing, dan, dengan roman muka yang hancur dan suara yang rusak, Ia meminta ditatap, diakui, dikasihi.

Hal ini bukanlah beberapa Yesus yang lain, tetapi Yesus yang sama yang masuk Yerusalem di tengah lambaian daun palma. Yesus yang samalah yang dipaku di kayu salib dan wafat di antara dua penjahat. Kita tidak memiliki Tuhan yang lain selain Dia: Yesus, Raja keadilan, kerahiman dan perdamaian yang rendah hati.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.