Saudara-saudari,
pada hari suci ini liturgi mengajak kita untuk merefleksikan penderitaan Tuhan.
Kita
hampir tidak pernah mendengarnya dalam kidung. Di hadapan misteri kematian dan
kemuliaan ini, berkumpul dalam keheningan untuk berdoa wajar. Namun, salib
Kristus berisiko tetap tak terpahami jika kita menganggapnya sebagai peristiwa
terasing, kejadian yang tak dapat dijelaskan. Pada kenyataannya, salib Kristus
adalah puncak dari sebuah perjalanan, kepenuhan hidup di mana Yesus belajar
untuk mendengarkan dan menerima suara Bapa, membiarkan diri-Nya dibimbing hari
demi hari menuju kasih yang terbesar. Untuk memahami perjalanan ini, selama
Pekan Suci liturgi telah mengajak kita untuk mendengarkan apa yang disebut
Kidung Hamba Tuhan. Kidung Hamba Tuhan adalah teks puitis di mana Nabi Yesaya
menguraikan sosok hamba misterius yang melaluinya Allah dapat menyelamatkan
dunia dari kejahatan dan dosa.
Tradisi
kristiani telah mengenali dalam kidung ini sebuah gambaran awal yang mencolok
dan dramatis tentang langkah yang diambil Yesus, yang mengidentifikasi diri-Nya
sebagai manusia yang penuh sengsara yang mengosongkan diri-Nya, bahkan hingga
mati, menanggung dosa banyak orang. Dalam kidung pertama, hamba itu digambarkan
sebagai seseorang yang dipanggil untuk sebuah perutusan penting dan indah:
mencelikkan mata orang buta dan membebaskan para tawanan dari penjara, mereka
yang berada dalam kegelapan penjara. Tugas seumur hidup yang ditujukan kepada
mereka yang tertindas oleh penderitaan, ketidakadilan, dan dosa. Namun, hamba
itu harus melaksanakannya dengan kelembutan yang luar biasa, mengikuti cara
yang tepat: ia tidak akan berteriak, ia tidak akan menyaringkan suaranya, tidak
akan memperdengarkan suaranya di jalan, buluh yang patah terkulai tidak akan
diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tidak ada
kekerasan, tidak ada pemaksaan, tidak ada godaan untuk menghancurkan agar dapat
memulai semuanya dari awal lagi. Hamba itu harus mencari kehidupan di tengah
kegelapan kejahatan. Kita tahu bahwa tidak mudah untuk mengemban perutusan ini.
Kita
semua tergoda untuk memaksakan keadaan, menggunakan sedikit agresi, sedikit
kekerasan, berpikir bahwa inilah cara yang tanpanya masalah tidak akan pernah
terselesaikan. Hamba Tuhan tidak mau menyerah pada naluri ini; ia harus
mempertahankan kelembutan hati sebagai satu-satunya kekuatan untuk menghadapi
kegelapan kejahatan.
Pada
kidung kedua, segalanya percuma. Setelah berusaha memenuhi perutusannya, hamba
itu menyadari bahwa semua usahanya untuk berbuat baik telah sia-sia dan
berkata, "Aku telah bersusah payah dengan percuma." Kebaikan yang
ditaburnya tampaknya tidak tumbuh; semuanya tampak diam di tempat dan
terhambat. Sebuah krisis yang cepat atau lambat akan menimpa setiap orang yang
telah memilih untuk mengikuti Tuhan. Perasaan berputar-putar tanpa hasil, tidak
mencapai apa pun, tetap setia pada sesuatu yang tidak menghasilkan buah,
sebenarnya hanyalah sebuah kesan. Karena dengan mengatakan "percuma,"
Nabi Yesaya tidak memaksudkan hamba itu telah bertindak percuma, tetapi lebih
tepatnya bahwa ia tidak dapat memverifikasi hasil pekerjaannya. Dengan membawa
terang ke dalam kegelapan, hamba Tuhan telah memasuki ruang di mana segala
sesuatu tidak lagi dipahami menurut kriteria kita, tetapi mengikuti rancangan
lain, rancangan paradoks, yaitu keselamatan yang datang dari Allah.
Dalam
kidung ketiga, muncul kejutan baru: sang hamba menyadari bahwa orang-orang yang
ingin ia bantu justru bereaksi dengan permusuhan, kemarahan, bahkan kekerasan.
Mereka yang hidup dalam kegelapan tidak selalu menerima terang; terkadang
mereka menolaknya dan mencoba menghalanginya, karena terang tidak hanya
menyoroti apa yang indah, tetapi juga apa yang ingin kita sembunyikan: luka,
kebohongan, dan ambiguitas kita, dan ini membuat kita takut. Tetapi sang hamba
tidak mundur; ia terus melanjutkan jalan yang ditunjukkan Tuhan tanpa melarikan
diri. Ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, pipinya kepada
orang-orang yang mencabut janggutnya; ia tidak menyembunyikan mukanya ketika ia
dihina dan diludahi.
Dalam
kidung keempat, yang telah kita dengar dalam liturgi hari ini, terjadi sesuatu
yang membingungkan: kekerasan yang diderita oleh hamba itu begitu hebat
sehingga merusak mukanya, membuatnya tidak dapat dikenali. Ia tidak memiliki
penampilan atau kecantikan, namun justru dalam perjalanan inilah hamba itu
belajar untuk tidak membalas. Ketika kejahatan menimpa kita, naluri kita adalah
bereaksi, menolaknya, membalas dendam. Namun, hamba itu tidak menyerah pada
nalar ini; ia menerima semuanya tanpa membalas dengan kekerasan. Kejahatan
mendatanginya, dan di situlah ia berhenti. Itulah sebabnya ia menanggung dosa
banyak orang dan mendoakan orang-orang yang bersalah kepadanya.
Saudara-saudari,
Yesus tidak hanya mendengarkan Kidung Hamba Tuhan ini; Ia menafsirkan dan
menghayatinya dengan sungguh-sungguh, dengan kepercayaan penuh pada kehendak
Bapa, sampai pada titik mengubah penyaliban-Nya menjadi tindakan keselamatan.
Menghadapi kejahatan, dunia ini hanya mengenal dua jalan: menyerah atau
membalasnya. Kita melihatnya setiap hari dalam perang, perpecahan, dan luka
yang menandai semua hubungan kita. Kejahatan terus beredar karena kamu
menemukan seseorang yang bersedia membayarnya dan melipatgandakannya.
Yesus
memutus rantai ini, bukan dengan memaksakan diri dengan kekuatan yang lebih
besar, tetapi dengan menerima apa yang terjadi pada-Nya dan mengenali di
dalamnya ganjaran dramatis dari penderitaan-Nya, mengenali melodi kidung kasih
dan pelayanan yang telah dipercayakan Bapa kepada hidup-Nya. Ia tidak memenuhi
melodi ini secara mekanis, tetapi dengan menerjemahkan kata-kata kenabian ke
dalam perbuatan, pengampunan, dan keheningan yang dipenuhi belas kasihan.
Demikianlah, dengan menempuh jalan salib, saya telah belajar ketaatan yang
paling sulit: yaitu mengasihi sesama, bahkan ketika sesama kita tampak sebagai
musuh.
Kita
hidup di dunia di mana suara Allah tidak lagi menuntun jalan bersama umat
manusia seperti dulu, bukan karena suara Allah telah lenyap, tetapi karena
seringkali hanya satu suara di antara banyak suara lainnya, tenggelam oleh
kata-kata lain yang menjanjikan jaminan, kemajuan, dan kesejahteraan. Inilah
prinsip panduan yang membentuk banyak keputusan dan menentukan arah kehidupan
kita bersama. Namun, dunia tetap menjadi tempat di mana orang menderita dan
mati, seringkali tanpa kesalahan atau alasan. Perang terus berlanjut,
ketidakadilan berlipat ganda, dan orang yang paling rentan menanggung
akibatnya. Seolah-olah ada kata yang hilang, sebuah kata yang mampu menyatukan
perjalanan umat manusia, sebuah kidung yang dapat menuntun langkah kita menuju
dunia yang semakin adil dan bersaudara. Namun, justru dalam konteks inilah,
jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat sesuatu yang mengejutkan:
banyak orang yang diam memilih untuk mendengarkan suara yang berbeda.
Sebagian
orang jelas mengenalinya sebagai kehendak Allah; yang lain mendengarnya sebagai
panggilan yang dalam dan sangat diperlukan dari hati nurani mereka sendiri.
Suara yang tidak berteriak, yang tidak memaksakan diri, yang tidak menjanjikan
jalan pintas. Kidung yang bijaksana dan terus-menerus yang mengajak kita untuk
mencintai, tetap tinggal, dan tidak lagi membalas kerugian yang diterima.
Sebagian
orang memilih untuk mendengarkan kidung ini. Mereka adalah orang-orang biasa
yang berjalan, terkadang tanpa menyadarinya, di jalan yang sama dengan hamba
Tuhan. Mereka tidak melakukan tindakan luar biasa; mereka hanya bangun setiap
hari dan mencoba menjadikan hidup mereka melayani tidak hanya diri mereka
sendiri tetapi juga sesama. Mereka memikul beban yang tidak mereka pilih,
merangkul luka tanpa mengeraskan hati, tidak pernah berhenti mencari kebaikan
bahkan ketika tampaknya percuma, mereka tidak membuat keributan, mereka tidak
menguasai panggung, tetapi mereka tetap membuka kemungkinan dunia yang berbeda.
Berkat mereka, kejahatan tidak memiliki kata terakhir, dan sejarah tidak
berakhir dengan kekerasan. Banyak orang bersaksi bahwa kidung hamba yang
dikasihi Allah itu terus bergema di dalam hati manusia, hanya menunggu
seseorang yang bersedia menerjemahkannya ke dalam partitur konkret kehidupan
mereka sendiri, bahkan jika itu berarti harus memikul salib.
Sebentar
lagi kita akan menyembah salib Tuhan dengan gerakan, keheningan, dan doa. Ini
akan menjadi kesempatan istimewa untuk mengakui misteri Tuhan dan mendamaikan
diri kita dengan kelemahan dan kekuatan kasih-Nya bagi kita dan semua orang.
Jika kita tidak ingin mengambil risiko mereduksi liturgi ini menjadi sekadar
formalitas, kita dapat mengatakan, setidaknya dalam hati kita, bahwa kita
meletakkan senjata yang masih kita pegang. Mungkin senjata itu tidak tampak
berbahaya seperti yang dipegang oleh orang-orang berkuasa di dunia ini; Namun,
senjata itu pun merupakan sarana kematian karena cukup untuk melemahkan,
melukai, dan mengosongkan hubungan kita sehari-hari dari makna dan kasih
sayang.
Kemarin,
seperti hari ini, dunia perlu diselamatkan dari kekerasan, kejahatan,
ketidakadilan yang membunuh, dan perpecahan yang mempermalukan. Tetapi
keselamatan ini tidak datang dari atas, dan tidak dapat dijamin melalui
keputusan politik, ekonomi, atau militer. Dunia terus diselamatkan oleh mereka
yang bersedia merangkul kidung hamba Tuhan sebagai dasar hidup mereka. Inilah
yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia sungguh menanggapi kehendak Bapa, merangkulnya
seperti partitur musik yang harus dimainkan hingga akhir, dengan tangisan dan
air mata yang keras. Karena alasan inilah, pada saat yang menentukan, Ia
ditangkap dan dapat menyatakan, "Akulah Dia," untuk dengan bebas
memasuki penderitaan kasih-Nya.
Saudara-saudari,
kita pun diberi naskah salib hari ini. Kita dapat menerimanya dengan bebas jika
kita mengakui bahwa tidak ada keadaan sulit yang tidak dapat kita hadapi, tidak
ada yang dapat disalahkan, tidak ada musuh yang dapat mencegah kita untuk mengasihi
dan melayani. Sebaliknya, kitalah yang memilih untuk tidak membalas dan tetap
sabar dalam kesengsaraan, percaya pada kebaikan bahkan ketika kegelapan
tampaknya menelan segalanya.
Kita
dapat menjadi hamba yang dibutuhkan Tuhan untuk membawa keselamatan ke dunia.
Di zaman seperti sekarang ini, yang begitu ternoda oleh kebencian dan
kekerasan, di mana bahkan nama Tuhan pun digunakan untuk membenarkan perang dan
keputusan yang mematikan, kita sebagai umat kristiani dipanggil untuk mendekati
salib Tuhan tanpa rasa takut, melainkan dengan penuh kepercayaan, mengetahui
bahwa salib adalah takhta tempat kita dapat duduk dan belajar memerintah
bersama-Nya, menempatkan hidup kita untuk melayani sesama. Jika kita mampu
tetap teguh dalam pengakuan iman ini, hari-hari kita pun dapat menyuarakan
kidung sukacita dan penderitaan, pada partitur salib yang misterius di mana
nada-nada kasih terbesar dikenali.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 4 April 2026)


Print this page
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.