Liturgical Calendar

HOMILI PASTOR ROBERTO PASOLINI, OFMCAP, PENGKHOTBAH RUMAH TANGGA KEPAUSAN, DALAM IBADAT JUMAT AGUNG DI BASILIKA SANTO PETRUS 3 April 2026

Saudara-saudari, pada hari suci ini liturgi mengajak kita untuk merefleksikan penderitaan Tuhan.

 

Kita hampir tidak pernah mendengarnya dalam kidung. Di hadapan misteri kematian dan kemuliaan ini, berkumpul dalam keheningan untuk berdoa wajar. Namun, salib Kristus berisiko tetap tak terpahami jika kita menganggapnya sebagai peristiwa terasing, kejadian yang tak dapat dijelaskan. Pada kenyataannya, salib Kristus adalah puncak dari sebuah perjalanan, kepenuhan hidup di mana Yesus belajar untuk mendengarkan dan menerima suara Bapa, membiarkan diri-Nya dibimbing hari demi hari menuju kasih yang terbesar. Untuk memahami perjalanan ini, selama Pekan Suci liturgi telah mengajak kita untuk mendengarkan apa yang disebut Kidung Hamba Tuhan. Kidung Hamba Tuhan adalah teks puitis di mana Nabi Yesaya menguraikan sosok hamba misterius yang melaluinya Allah dapat menyelamatkan dunia dari kejahatan dan dosa.

 

Tradisi kristiani telah mengenali dalam kidung ini sebuah gambaran awal yang mencolok dan dramatis tentang langkah yang diambil Yesus, yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai manusia yang penuh sengsara yang mengosongkan diri-Nya, bahkan hingga mati, menanggung dosa banyak orang. Dalam kidung pertama, hamba itu digambarkan sebagai seseorang yang dipanggil untuk sebuah perutusan penting dan indah: mencelikkan mata orang buta dan membebaskan para tawanan dari penjara, mereka yang berada dalam kegelapan penjara. Tugas seumur hidup yang ditujukan kepada mereka yang tertindas oleh penderitaan, ketidakadilan, dan dosa. Namun, hamba itu harus melaksanakannya dengan kelembutan yang luar biasa, mengikuti cara yang tepat: ia tidak akan berteriak, ia tidak akan menyaringkan suaranya, tidak akan memperdengarkan suaranya di jalan, buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, tidak ada godaan untuk menghancurkan agar dapat memulai semuanya dari awal lagi. Hamba itu harus mencari kehidupan di tengah kegelapan kejahatan. Kita tahu bahwa tidak mudah untuk mengemban perutusan ini.

 

Kita semua tergoda untuk memaksakan keadaan, menggunakan sedikit agresi, sedikit kekerasan, berpikir bahwa inilah cara yang tanpanya masalah tidak akan pernah terselesaikan. Hamba Tuhan tidak mau menyerah pada naluri ini; ia harus mempertahankan kelembutan hati sebagai satu-satunya kekuatan untuk menghadapi kegelapan kejahatan.

 

Pada kidung kedua, segalanya percuma. Setelah berusaha memenuhi perutusannya, hamba itu menyadari bahwa semua usahanya untuk berbuat baik telah sia-sia dan berkata, "Aku telah bersusah payah dengan percuma." Kebaikan yang ditaburnya tampaknya tidak tumbuh; semuanya tampak diam di tempat dan terhambat. Sebuah krisis yang cepat atau lambat akan menimpa setiap orang yang telah memilih untuk mengikuti Tuhan. Perasaan berputar-putar tanpa hasil, tidak mencapai apa pun, tetap setia pada sesuatu yang tidak menghasilkan buah, sebenarnya hanyalah sebuah kesan. Karena dengan mengatakan "percuma," Nabi Yesaya tidak memaksudkan hamba itu telah bertindak percuma, tetapi lebih tepatnya bahwa ia tidak dapat memverifikasi hasil pekerjaannya. Dengan membawa terang ke dalam kegelapan, hamba Tuhan telah memasuki ruang di mana segala sesuatu tidak lagi dipahami menurut kriteria kita, tetapi mengikuti rancangan lain, rancangan paradoks, yaitu keselamatan yang datang dari Allah.

 

Dalam kidung ketiga, muncul kejutan baru: sang hamba menyadari bahwa orang-orang yang ingin ia bantu justru bereaksi dengan permusuhan, kemarahan, bahkan kekerasan. Mereka yang hidup dalam kegelapan tidak selalu menerima terang; terkadang mereka menolaknya dan mencoba menghalanginya, karena terang tidak hanya menyoroti apa yang indah, tetapi juga apa yang ingin kita sembunyikan: luka, kebohongan, dan ambiguitas kita, dan ini membuat kita takut. Tetapi sang hamba tidak mundur; ia terus melanjutkan jalan yang ditunjukkan Tuhan tanpa melarikan diri. Ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya; ia tidak menyembunyikan mukanya ketika ia dihina dan diludahi.

 

Dalam kidung keempat, yang telah kita dengar dalam liturgi hari ini, terjadi sesuatu yang membingungkan: kekerasan yang diderita oleh hamba itu begitu hebat sehingga merusak mukanya, membuatnya tidak dapat dikenali. Ia tidak memiliki penampilan atau kecantikan, namun justru dalam perjalanan inilah hamba itu belajar untuk tidak membalas. Ketika kejahatan menimpa kita, naluri kita adalah bereaksi, menolaknya, membalas dendam. Namun, hamba itu tidak menyerah pada nalar ini; ia menerima semuanya tanpa membalas dengan kekerasan. Kejahatan mendatanginya, dan di situlah ia berhenti. Itulah sebabnya ia menanggung dosa banyak orang dan mendoakan orang-orang yang bersalah kepadanya.

 

Saudara-saudari, Yesus tidak hanya mendengarkan Kidung Hamba Tuhan ini; Ia menafsirkan dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh, dengan kepercayaan penuh pada kehendak Bapa, sampai pada titik mengubah penyaliban-Nya menjadi tindakan keselamatan. Menghadapi kejahatan, dunia ini hanya mengenal dua jalan: menyerah atau membalasnya. Kita melihatnya setiap hari dalam perang, perpecahan, dan luka yang menandai semua hubungan kita. Kejahatan terus beredar karena kamu menemukan seseorang yang bersedia membayarnya dan melipatgandakannya.

 

Yesus memutus rantai ini, bukan dengan memaksakan diri dengan kekuatan yang lebih besar, tetapi dengan menerima apa yang terjadi pada-Nya dan mengenali di dalamnya ganjaran dramatis dari penderitaan-Nya, mengenali melodi kidung kasih dan pelayanan yang telah dipercayakan Bapa kepada hidup-Nya. Ia tidak memenuhi melodi ini secara mekanis, tetapi dengan menerjemahkan kata-kata kenabian ke dalam perbuatan, pengampunan, dan keheningan yang dipenuhi belas kasihan. Demikianlah, dengan menempuh jalan salib, saya telah belajar ketaatan yang paling sulit: yaitu mengasihi sesama, bahkan ketika sesama kita tampak sebagai musuh.

 

Kita hidup di dunia di mana suara Allah tidak lagi menuntun jalan bersama umat manusia seperti dulu, bukan karena suara Allah telah lenyap, tetapi karena seringkali hanya satu suara di antara banyak suara lainnya, tenggelam oleh kata-kata lain yang menjanjikan jaminan, kemajuan, dan kesejahteraan. Inilah prinsip panduan yang membentuk banyak keputusan dan menentukan arah kehidupan kita bersama. Namun, dunia tetap menjadi tempat di mana orang menderita dan mati, seringkali tanpa kesalahan atau alasan. Perang terus berlanjut, ketidakadilan berlipat ganda, dan orang yang paling rentan menanggung akibatnya. Seolah-olah ada kata yang hilang, sebuah kata yang mampu menyatukan perjalanan umat manusia, sebuah kidung yang dapat menuntun langkah kita menuju dunia yang semakin adil dan bersaudara. Namun, justru dalam konteks inilah, jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat sesuatu yang mengejutkan: banyak orang yang diam memilih untuk mendengarkan suara yang berbeda.

 

Sebagian orang jelas mengenalinya sebagai kehendak Allah; yang lain mendengarnya sebagai panggilan yang dalam dan sangat diperlukan dari hati nurani mereka sendiri. Suara yang tidak berteriak, yang tidak memaksakan diri, yang tidak menjanjikan jalan pintas. Kidung yang bijaksana dan terus-menerus yang mengajak kita untuk mencintai, tetap tinggal, dan tidak lagi membalas kerugian yang diterima.

 

Sebagian orang memilih untuk mendengarkan kidung ini. Mereka adalah orang-orang biasa yang berjalan, terkadang tanpa menyadarinya, di jalan yang sama dengan hamba Tuhan. Mereka tidak melakukan tindakan luar biasa; mereka hanya bangun setiap hari dan mencoba menjadikan hidup mereka melayani tidak hanya diri mereka sendiri tetapi juga sesama. Mereka memikul beban yang tidak mereka pilih, merangkul luka tanpa mengeraskan hati, tidak pernah berhenti mencari kebaikan bahkan ketika tampaknya percuma, mereka tidak membuat keributan, mereka tidak menguasai panggung, tetapi mereka tetap membuka kemungkinan dunia yang berbeda. Berkat mereka, kejahatan tidak memiliki kata terakhir, dan sejarah tidak berakhir dengan kekerasan. Banyak orang bersaksi bahwa kidung hamba yang dikasihi Allah itu terus bergema di dalam hati manusia, hanya menunggu seseorang yang bersedia menerjemahkannya ke dalam partitur konkret kehidupan mereka sendiri, bahkan jika itu berarti harus memikul salib.

 

Sebentar lagi kita akan menyembah salib Tuhan dengan gerakan, keheningan, dan doa. Ini akan menjadi kesempatan istimewa untuk mengakui misteri Tuhan dan mendamaikan diri kita dengan kelemahan dan kekuatan kasih-Nya bagi kita dan semua orang. Jika kita tidak ingin mengambil risiko mereduksi liturgi ini menjadi sekadar formalitas, kita dapat mengatakan, setidaknya dalam hati kita, bahwa kita meletakkan senjata yang masih kita pegang. Mungkin senjata itu tidak tampak berbahaya seperti yang dipegang oleh orang-orang berkuasa di dunia ini; Namun, senjata itu pun merupakan sarana kematian karena cukup untuk melemahkan, melukai, dan mengosongkan hubungan kita sehari-hari dari makna dan kasih sayang.

 

Kemarin, seperti hari ini, dunia perlu diselamatkan dari kekerasan, kejahatan, ketidakadilan yang membunuh, dan perpecahan yang mempermalukan. Tetapi keselamatan ini tidak datang dari atas, dan tidak dapat dijamin melalui keputusan politik, ekonomi, atau militer. Dunia terus diselamatkan oleh mereka yang bersedia merangkul kidung hamba Tuhan sebagai dasar hidup mereka. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia sungguh menanggapi kehendak Bapa, merangkulnya seperti partitur musik yang harus dimainkan hingga akhir, dengan tangisan dan air mata yang keras. Karena alasan inilah, pada saat yang menentukan, Ia ditangkap dan dapat menyatakan, "Akulah Dia," untuk dengan bebas memasuki penderitaan kasih-Nya.

 

Saudara-saudari, kita pun diberi naskah salib hari ini. Kita dapat menerimanya dengan bebas jika kita mengakui bahwa tidak ada keadaan sulit yang tidak dapat kita hadapi, tidak ada yang dapat disalahkan, tidak ada musuh yang dapat mencegah kita untuk mengasihi dan melayani. Sebaliknya, kitalah yang memilih untuk tidak membalas dan tetap sabar dalam kesengsaraan, percaya pada kebaikan bahkan ketika kegelapan tampaknya menelan segalanya.

 

Kita dapat menjadi hamba yang dibutuhkan Tuhan untuk membawa keselamatan ke dunia. Di zaman seperti sekarang ini, yang begitu ternoda oleh kebencian dan kekerasan, di mana bahkan nama Tuhan pun digunakan untuk membenarkan perang dan keputusan yang mematikan, kita sebagai umat kristiani dipanggil untuk mendekati salib Tuhan tanpa rasa takut, melainkan dengan penuh kepercayaan, mengetahui bahwa salib adalah takhta tempat kita dapat duduk dan belajar memerintah bersama-Nya, menempatkan hidup kita untuk melayani sesama. Jika kita mampu tetap teguh dalam pengakuan iman ini, hari-hari kita pun dapat menyuarakan kidung sukacita dan penderitaan, pada partitur salib yang misterius di mana nada-nada kasih terbesar dikenali.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.