Bacaan
Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Kel. 14:15-15:1; Yes. 54:5-14; Yes.
55:1-11; Bar. 3:9-15,32-4:4; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm 6:3-11; Mat. 28:1-10.
“Penyucian
malam ini […] menghalau dengki dan memupuk kerukunan serta menundukkan
kekuasaan” (Pujian Paskah).
Saudara-saudari
terkasih, demikianlah diakon pada awal perayaan ini memuji terang Kristus yang
bangkit, yang dilambangkan oleh Lilin Paskah. Dari satu lilin ini, kita semua
telah menyalakan lilin kita masing-masing, dan, masing-masing membawa nyala api
kecil yang diambil dari api yang sama, kita telah menerangi basilika besar ini.
Tanda terang Paskah ini menyatukan kita di dalam Gereja sebagai pelita bagi
dunia. Terhadap Pujian Paskah oleh diakon, kita menjawab “Amin,” menegaskan
komitmen kita untuk menerima perutusan ini, dan segera kita akan mengulangi
“ya” kita dengan pembaharuan janji baptis.
Saudara-saudari
terkasih, Vigili yang dipenuhi cahaya ini, tertua dalam tradisi kristiani,
disebut "ibu dari semua vigili." Di dalamnya, kita menghidupkan
kembali kenangan kemenangan Tuhan sang pemilik kehidupan atas maut dan neraka.
Kita melakukannya setelah menempuh perjalanan, dalam beberapa hari terakhir,
seakan dalam satu perayaan besar, melalui misteri sengsara Allah yang menjadi
"manusia yang penuh kesengsaraan" (Yes. 53:3), "dihina dan
dihindari orang" (Yes. 53:3), disiksa dan disalibkan bagi kita.
Adakah
kasih yang lebih besar, tindakan rahmat yang lebih sempurna? Selain sebagai
Pencipta alam semesta, sebagaimana pada awal sejarah Ia memberi kita keberadaan
dari ketiadaan, Yesus yang bangkit telah memberi kita kehidupan setelah di kayu
salib Ia menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang tak terbatas
Bacaan
Pertama mengingatkan kita akan hal ini dengan berkisah tentang asal usul. Pada
mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (bdk. Kej. 1:1), menciptakan kosmos
dari kekacauan, keteraturan dari ketidakteraturan, dan mempercayakan kepada
kita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, tugas untuk menjadi menjaga
amanah-Nya. Dan bahkan ketika, karena dosa, umat manusia gagal memenuhi rencana
ini, Tuhan tidak meninggalkan kita, tetapi menyatakan wajah-Nya yang penuh
belas kasih dengan cara yang bahkan lebih mengejutkan: melalui pengampunan.
Lalu,
"malam suci" ini juga berakar pada tempat di mana kegagalan pertama
umat manusia terjadi, dan berlanjut sepanjang abad sebagai jalan rekonsiliasi
dan rahmat.
Sepanjang
jalan ini, liturgi telah menawarkan kepada kita beberapa tahapan melalui bacaan
Kitab Suci yang telah kita dengar. Liturgi telah mengingatkan kita bagaimana
Allah menghentikan tangan Abraham, yang siap mengurbankan Ishak, anak
laki-lakinya, untuk menunjukkan kepada kita bahwa Ia tidak menginginkan
kematian kita, melainkan agar kita menguduskan diri kita untuk menjadi, di
tangan-Nya, anggota yang hidup dari garis keturunan orang-orang yang
diselamatkan (bdk. Kej. 22:11-12, 15-18). Demikian pula, liturgi telah mengajak
kita untuk merefleksikan bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel dari
perbudakan di Mesir, menjadikan laut, tempat kematian dan rintangan yang tak
teratasi, sebagai gerbang menuju awal kehidupan baru dan bebas. Dan pesan yang
sama telah bergema dalam perkataan para nabi, di mana kita telah mendengar
pujian kepada Tuhan sebagai mempelai yang memanggil dan mengumpulkan (bdk. Yes.
55:5-7), mata air yang memuaskan, air yang membuat berbuah (bdk. Yes. 55:1,
10), terang yang menunjukkan jalan damai sejahtera (bdk. Bar. 3:14), Roh yang
mengubah dan memperbarui hati (Yeh. 36:26).
Dalam
semua momen sejarah keselamatan ini, kita telah melihat bagaimana Allah,
berhadapan dengan kekerasan dosa yang memecah belah dan membunuh, menanggapi
dengan kuasa kasih yang mempersatukan dan memulihkan kehidupan. Kita telah
mengingatnya bersama-sama, menjalin narasi dengan mazmur dan doa, untuk
mengingatkan kita bahwa, melalui Paskah Kristus, “kita telah dikuburkan bersama
Dia dalam kematian […] kita dimungkinkan hidup dalam hidup yang baru […] telah
mati terhadap dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:4-11),
dikuduskan dalam Baptisan untuk mengasihi Bapa, dipersatukan dalam persekutuan
para kudus, berkat rahmat dijadikan batu yang hidup untuk membangun
Kerajaan-Nya (bdk. 1 Ptr. 2:4-5).
Dalam
terang semua ini, kita membaca kisah kebangkitan, yang telah kita dengar dalam
Bacaan Injil menurut Matius. Pada pagi Paskah, para perempuan, mengatasi
kesedihan dan ketakutan mereka, berangkat. Mereka ingin pergi ke kubur Yesus.
Mereka berharap menemukan kubur itu tertutup rapat, dengan batu besar di pintu
masuk dan serdadu yang berjaga. Inilah dosa: penghalang yang sangat berat yang
memenjarakan kita dan memisahkan kita dari Allah, mencoba membunuh sabda
pengharapan-Nya di dalam diri kita. Namun, Maria Magdalena dan Maria yang lain
tidak gentar. Mereka pergi ke kubur dan, berkat iman dan kasih, mereka menjadi
saksi-saksi pertama kebangkitan. Dalam gempa bumi dan malaikat Tuhan yang
datang ke batu penutup kubur, mereka melihat kuasa kasih Allah, lebih kuat dari
kuasa kejahatan apa pun, mampu "menghalau kebencian" dan
"menundukkan kekuasaan." Manusia dapat membunuh tubuh, tetapi hidup
Allah yang penuh kasih adalah hidup kekal; hidup itu melampaui kematian, dan
tidak ada kubur yang dapat memenjarakannya. Demikianlah, Yesus yang disalibkan
memerintah dari salib, malaikat datang ke batu penutup kubur, dan Yesus yang
hidup menampakkan diri di hadapan mereka sambil berkata, "Salam
bagimu!" (Mat. 28:9).
Saudara-saudari
terkasih, ini juga pesan kita kepada dunia saat ini: perjumpaan yang ingin kita
persaksikan, dengan kata-kata iman dan perbuatan kasih, menyanyikan dengan
hidup kita "Aleluia" yang kita wartakan dengan bibir kita (bdk. Santo
Agustinus, Khotbah 256, 1). Seperti para perempuan yang berlari untuk
memberitahukannya kepada saudara-saudarinya, malam ini kita pun ingin berangkat
dari basilika ini untuk menyampaikan kepada semua orang kabar baik bahwa Yesus
telah bangkit dan bahwa, berkat kuasa-Nya, dibangkitkan bersama dengan Dia,
kita pun dapat memberi kehidupan kepada dunia baru yang damai dan bersatu,
seperti "banyak orang dan satu orang; banyak orang kristiani dan satu
Kristus" (Santo Agustinus, Ulasan Mazmur 127, 3).
Untuk
perutusan inilah saudara-saudari yang hadir di sini, yang datang dari berbagai
belahan dunia dan akan segera menerima Baptisan, dikhususkan. Setelah
perjalanan panjang katekumenat, hari ini mereka dilahirkan kembali dalam
Kristus untuk menjadi ciptaan baru (bdk. 2Kor 5:17), saksi-saksi Injil. Bagi
mereka, dan bagi kita semua, kita mengulangi apa yang dikatakan Santo Agustinus
kepada umat kristiani pada zamannya: “Wartakanlah Kristus; taburlah […].
Sebarkanlah Injil; apa yang telah kamu resapi dalam hatimu” (Khotbah 116, 7).
Saudara-saudari,
bahkan hari ini pun tidak kekurangan kubur yang perlu dibuka, dan seringkali
batu-batu yang menyegelnya begitu berat dan dijaga dengan begitu ketat sehingga
tampak tak tergoyahkan. Beberapa hal sangat membebani hati manusia, seperti
ketidakpercayaan, ketakutan, keegoisan, dan kebencian; yang lain, sebagai
konsekuensi dari semua itu, memutuskan ikatan di antara kita, seperti perang,
ketidakadilan, dan keterasingan antarbangsa dan negara. Jangan biarkan hal-hal
itu melumpuhkan kita! Banyak orang selama berabad-abad, dengan pertolongan
Allah, telah menyingkirkan hal-hal tersebut, mungkin dengan usaha yang besar,
kadang-kadang dengan mengurbankan nyawa mereka, tetapi buah kebaikannya masih
kita manfaatkan hingga hari ini. Mereka bukanlah tokoh-tokoh yang tidak
terjangkau, tetapi orang-orang seperti kita yang, dikuatkan oleh rahmat Yesus
yang bangkit, dalam kasih dan kebenaran, memiliki keberanian untuk berbicara,
sebagaimana dikatakan rasul Petrus, sebagai "orang yang menyampaikan sabda
Allah" (1Ptr. 4:11) dan melakukannya "dengan kekuatan yang
dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu" (1Ptr.
4:11).
Marilah
kita terinspirasi oleh teladan-Nya dan, pada Malam Suci ini, marilah kita
menjadikan komitmen-Nya sebagai komitmen kita, sehingga di mana pun dan kapan
pun, di dunia, anugerah Paskah berupa kerukunan dan perdamaian dapat tumbuh dan
berkembang.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)


Print this page
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.