Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA MALAM PASKAH 4 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Kel. 14:15-15:1; Yes. 54:5-14; Yes. 55:1-11; Bar. 3:9-15,32-4:4; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm 6:3-11; Mat. 28:1-10.

 

Penyucian malam ini […] menghalau dengki dan memupuk kerukunan serta menundukkan kekuasaan” (Pujian Paskah).

 

Saudara-saudari terkasih, demikianlah diakon pada awal perayaan ini memuji terang Kristus yang bangkit, yang dilambangkan oleh Lilin Paskah. Dari satu lilin ini, kita semua telah menyalakan lilin kita masing-masing, dan, masing-masing membawa nyala api kecil yang diambil dari api yang sama, kita telah menerangi basilika besar ini. Tanda terang Paskah ini menyatukan kita di dalam Gereja sebagai pelita bagi dunia. Terhadap Pujian Paskah oleh diakon, kita menjawab “Amin,” menegaskan komitmen kita untuk menerima perutusan ini, dan segera kita akan mengulangi “ya” kita dengan pembaharuan janji baptis.

 

Saudara-saudari terkasih, Vigili yang dipenuhi cahaya ini, tertua dalam tradisi kristiani, disebut "ibu dari semua vigili." Di dalamnya, kita menghidupkan kembali kenangan kemenangan Tuhan sang pemilik kehidupan atas maut dan neraka. Kita melakukannya setelah menempuh perjalanan, dalam beberapa hari terakhir, seakan dalam satu perayaan besar, melalui misteri sengsara Allah yang menjadi "manusia yang penuh kesengsaraan" (Yes. 53:3), "dihina dan dihindari orang" (Yes. 53:3), disiksa dan disalibkan bagi kita.

 

Adakah kasih yang lebih besar, tindakan rahmat yang lebih sempurna? Selain sebagai Pencipta alam semesta, sebagaimana pada awal sejarah Ia memberi kita keberadaan dari ketiadaan, Yesus yang bangkit telah memberi kita kehidupan setelah di kayu salib Ia menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang tak terbatas

 

Bacaan Pertama mengingatkan kita akan hal ini dengan berkisah tentang asal usul. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (bdk. Kej. 1:1), menciptakan kosmos dari kekacauan, keteraturan dari ketidakteraturan, dan mempercayakan kepada kita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, tugas untuk menjadi menjaga amanah-Nya. Dan bahkan ketika, karena dosa, umat manusia gagal memenuhi rencana ini, Tuhan tidak meninggalkan kita, tetapi menyatakan wajah-Nya yang penuh belas kasih dengan cara yang bahkan lebih mengejutkan: melalui pengampunan.

 

Lalu, "malam suci" ini juga berakar pada tempat di mana kegagalan pertama umat manusia terjadi, dan berlanjut sepanjang abad sebagai jalan rekonsiliasi dan rahmat.

 

Sepanjang jalan ini, liturgi telah menawarkan kepada kita beberapa tahapan melalui bacaan Kitab Suci yang telah kita dengar. Liturgi telah mengingatkan kita bagaimana Allah menghentikan tangan Abraham, yang siap mengurbankan Ishak, anak laki-lakinya, untuk menunjukkan kepada kita bahwa Ia tidak menginginkan kematian kita, melainkan agar kita menguduskan diri kita untuk menjadi, di tangan-Nya, anggota yang hidup dari garis keturunan orang-orang yang diselamatkan (bdk. Kej. 22:11-12, 15-18). Demikian pula, liturgi telah mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, menjadikan laut, tempat kematian dan rintangan yang tak teratasi, sebagai gerbang menuju awal kehidupan baru dan bebas. Dan pesan yang sama telah bergema dalam perkataan para nabi, di mana kita telah mendengar pujian kepada Tuhan sebagai mempelai yang memanggil dan mengumpulkan (bdk. Yes. 55:5-7), mata air yang memuaskan, air yang membuat berbuah (bdk. Yes. 55:1, 10), terang yang menunjukkan jalan damai sejahtera (bdk. Bar. 3:14), Roh yang mengubah dan memperbarui hati (Yeh. 36:26).

 

Dalam semua momen sejarah keselamatan ini, kita telah melihat bagaimana Allah, berhadapan dengan kekerasan dosa yang memecah belah dan membunuh, menanggapi dengan kuasa kasih yang mempersatukan dan memulihkan kehidupan. Kita telah mengingatnya bersama-sama, menjalin narasi dengan mazmur dan doa, untuk mengingatkan kita bahwa, melalui Paskah Kristus, “kita telah dikuburkan bersama Dia dalam kematian […] kita dimungkinkan hidup dalam hidup yang baru […] telah mati terhadap dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:4-11), dikuduskan dalam Baptisan untuk mengasihi Bapa, dipersatukan dalam persekutuan para kudus, berkat rahmat dijadikan batu yang hidup untuk membangun Kerajaan-Nya (bdk. 1 Ptr. 2:4-5).

 

Dalam terang semua ini, kita membaca kisah kebangkitan, yang telah kita dengar dalam Bacaan Injil menurut Matius. Pada pagi Paskah, para perempuan, mengatasi kesedihan dan ketakutan mereka, berangkat. Mereka ingin pergi ke kubur Yesus. Mereka berharap menemukan kubur itu tertutup rapat, dengan batu besar di pintu masuk dan serdadu yang berjaga. Inilah dosa: penghalang yang sangat berat yang memenjarakan kita dan memisahkan kita dari Allah, mencoba membunuh sabda pengharapan-Nya di dalam diri kita. Namun, Maria Magdalena dan Maria yang lain tidak gentar. Mereka pergi ke kubur dan, berkat iman dan kasih, mereka menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan. Dalam gempa bumi dan malaikat Tuhan yang datang ke batu penutup kubur, mereka melihat kuasa kasih Allah, lebih kuat dari kuasa kejahatan apa pun, mampu "menghalau kebencian" dan "menundukkan kekuasaan." Manusia dapat membunuh tubuh, tetapi hidup Allah yang penuh kasih adalah hidup kekal; hidup itu melampaui kematian, dan tidak ada kubur yang dapat memenjarakannya. Demikianlah, Yesus yang disalibkan memerintah dari salib, malaikat datang ke batu penutup kubur, dan Yesus yang hidup menampakkan diri di hadapan mereka sambil berkata, "Salam bagimu!" (Mat. 28:9).

 

Saudara-saudari terkasih, ini juga pesan kita kepada dunia saat ini: perjumpaan yang ingin kita persaksikan, dengan kata-kata iman dan perbuatan kasih, menyanyikan dengan hidup kita "Aleluia" yang kita wartakan dengan bibir kita (bdk. Santo Agustinus, Khotbah 256, 1). Seperti para perempuan yang berlari untuk memberitahukannya kepada saudara-saudarinya, malam ini kita pun ingin berangkat dari basilika ini untuk menyampaikan kepada semua orang kabar baik bahwa Yesus telah bangkit dan bahwa, berkat kuasa-Nya, dibangkitkan bersama dengan Dia, kita pun dapat memberi kehidupan kepada dunia baru yang damai dan bersatu, seperti "banyak orang dan satu orang; banyak orang kristiani dan satu Kristus" (Santo Agustinus, Ulasan Mazmur 127, 3).

 

Untuk perutusan inilah saudara-saudari yang hadir di sini, yang datang dari berbagai belahan dunia dan akan segera menerima Baptisan, dikhususkan. Setelah perjalanan panjang katekumenat, hari ini mereka dilahirkan kembali dalam Kristus untuk menjadi ciptaan baru (bdk. 2Kor 5:17), saksi-saksi Injil. Bagi mereka, dan bagi kita semua, kita mengulangi apa yang dikatakan Santo Agustinus kepada umat kristiani pada zamannya: “Wartakanlah Kristus; taburlah […]. Sebarkanlah Injil; apa yang telah kamu resapi dalam hatimu” (Khotbah 116, 7).

 

Saudara-saudari, bahkan hari ini pun tidak kekurangan kubur yang perlu dibuka, dan seringkali batu-batu yang menyegelnya begitu berat dan dijaga dengan begitu ketat sehingga tampak tak tergoyahkan. Beberapa hal sangat membebani hati manusia, seperti ketidakpercayaan, ketakutan, keegoisan, dan kebencian; yang lain, sebagai konsekuensi dari semua itu, memutuskan ikatan di antara kita, seperti perang, ketidakadilan, dan keterasingan antarbangsa dan negara. Jangan biarkan hal-hal itu melumpuhkan kita! Banyak orang selama berabad-abad, dengan pertolongan Allah, telah menyingkirkan hal-hal tersebut, mungkin dengan usaha yang besar, kadang-kadang dengan mengurbankan nyawa mereka, tetapi buah kebaikannya masih kita manfaatkan hingga hari ini. Mereka bukanlah tokoh-tokoh yang tidak terjangkau, tetapi orang-orang seperti kita yang, dikuatkan oleh rahmat Yesus yang bangkit, dalam kasih dan kebenaran, memiliki keberanian untuk berbicara, sebagaimana dikatakan rasul Petrus, sebagai "orang yang menyampaikan sabda Allah" (1Ptr. 4:11) dan melakukannya "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu" (1Ptr. 4:11).

 

Marilah kita terinspirasi oleh teladan-Nya dan, pada Malam Suci ini, marilah kita menjadikan komitmen-Nya sebagai komitmen kita, sehingga di mana pun dan kapan pun, di dunia, anugerah Paskah berupa kerukunan dan perdamaian dapat tumbuh dan berkembang.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.