Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA (HARI ORANG MUDA SEDUNIA) DI PARQUE TEJO, LISBON (PORTUGAL) 6 Agustus 2023 : BERCAHAYA, MENDENGARKAN DAN JANGAN TAKUT

Bacaan Ekaristi : Dan. 7:9-10,13-14; Mzm. 97:1-2,5-6,9; 2Ptr. 1:16-19; Mat. 17:1-9.


Setelah hari-hari yang menyenangkan ini, tentu saja kita ingin mengulangi kata-kata Rasul Petrus di atas gunung perubahan rupa : “Tuhan, sungguh baik kita berada di tempat ini!” (Mat 17:4). Memang, alangkah baiknya ambil bagian dalam pengalaman ini bersama Yesus, bersama yang lainnya, dan berdoa bersama dengan hati yang penuh sukacita. Sekarang, kita juga dapat mengajukan pertanyaan penting: Apa yang akan kita bawa kembali saat kita melanjutkan kehidupan sehari-hari kita?


Saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan tiga kata kerja, yang diambil dari Bacaan Injil yang telah kita dengar : bercahaya, mendengar, dan tidak takut. Apa yang akan kita bawa kembali? Saya akan menjawab dengan tiga kata ini : bercahaya, mendengarkan dan jangan takut.


Kata yang pertama : bercahaya. Yesus berubah rupa. Bacaan Injil memberitahu kita : "wajah-Nya bercahaya seperti matahari" (Mat 17:2). Sesaat sebelum ini, Ia telah meramalkan sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, menghancurkan gambaran para murid tentang Mesias yang berkuasa dan duniawi, serta mengecewakan harapan mereka. Sekarang, untuk membantu mereka merangkul rencana kasih Allah bagi kita masing-masing, Yesus membawa tiga murid, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, serta memimpin mereka ke atas gunung, di mana Ia berubah rupa. Melalui pancaran cahaya yang cemerlang ini, Yesus mempersiapkan para murid untuk malam kelam sengsara-Nya.

Para sahabat muda yang terkasih, hari ini kita juga membutuhkan pancaran cahaya ini, sehingga dapat memenuhi diri kita dengan harapan saat kita menghadapi banyak kegagalan setiap hari dan kegelapan yang melanda hidup, serta menanggapinya dengan terang kebangkitan Yesus. Karena Ia adalah terang yang tidak pernah terbenam, terang yang bercahaya bahkan di tengah malam. Seperti dikatakan imam Ezra, Allah telah membuat mata kita bercahaya (bdk. Ezr 9:8). Allah kita membuat bercahaya : Ia membuat bercahaya visi kita, hati kita, pikiran kita, keinginan kita untuk melakukan sesuatu dengan hidup kita. Terang Allah selalu bercahaya.


Tetapi, saya ingin mengatakan kepadamu bahwa kita tidak memancarkan cahaya dengan menempatkan diri kita pada lampu sorot, karena jenis cahaya itu menyilaukan. Tidak, kita tidak dapat menerangi orang lain dengan memproyeksikan citra diri kita yang sempurna, tertata rapi, beradab, atau tampak berkuasa dan sukses, kuat tetapi tanpa cahaya. Tidak, kita memancarkan cahaya – kita bercahaya – dengan menyambut Yesus ke dalam hati kita dan belajar untuk mengasihi seperti Dia. Mengasihi seperti Yesus : itulah yang membuat kita bercahaya, membuat kita melakukan karya kasih. Para sahabat, saya mengatakan yang sebenarnya: setiap kali kamu melakukan karya kasih, kamu bercahaya. Tetapi ketika kamu berhenti mengasihi orang lain dan menjadi egois, kamu memadamkan cahayamu.


Kata kerja kedua adalah mendengarkan. Di gunung, awan cerah menaungi para murid. Dan apa yang dikatakannya kepada kita, awan tempat asal Bapa berbicara? “Inilah Putra-Ku yang terkasih… dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5). Dengarkanlah Dia. Mendengarkan Yesus, itulah rahasia hidup. Dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus kepadamu. "Tetapi aku tidak tahu apa yang dikatakan-Nya kepadaku". Nah, ambillah Injil dan bacalah di sana apa yang dikatakan Yesus, apa yang dikatakan-Nya ke dalam hatimu. Karena Ia memiliki kata-kata kehidupan kekal untuk kita, Ia mengungkapkan Allah adalah Bapa kita, Allah adalah kasih. Ia menunjukkan kepada kita jalan kasih. Dengarkanlah Yesus; sebaliknya, bahkan jika kita berangkat dengan niat baik di sepanjang jalan yang tampaknya kasih, pada akhirnya jalan itu akan terlihat sebagai keegoisan yang disamarkan sebagai kasih. Berhati-hatilah terhadap keegoisan yang disamarkan sebagai kasih! Dengarkanlah Yesus, karena Ia akan menunjukkan jalan mana yang merupakan jalan kasih. Dengarkanlah Dia.


Kata pertama: bercahaya, jadi berseri-seri; maka, dengarkanlah agar tidak mengambil jalan yang salah; akhirnya kata ketiga: jangan takut. Jangan takut. Kita sering menemukan kata-kata ini di dalam Kitab Suci, di dalam Injil: “Jangan takut”. Ini adalah kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus kepada para murid pada saat peristiwa perubahan rupa : "Jangan takut!" (Mat 17:7).


Sebagai orang muda, kamu telah mengalami hari-hari penuh sukacita ini – saya akan mengatakan tentang kemuliaan, dan memang pertemuan kita telah menjadi semacam kemuliaan. Kamu memiliki impian yang hebat, tetapi sering kali takut impian itu mungkin tidak menjadi kenyataan; terkadang kamu berpikir bahwa kamu tidak siap menghadapi tantangan, yang merupakan semacam pesimisme yang terkadang dapat mengalahkan diri kita. Sebagai orang muda, saat ini kamu mungkin tergoda untuk berkecil hati, berpikir kamu gagal, atau menyamarkan rasa sakitmu dengan senyuman. Sebagai orang muda, kamu ingin mengubah dunia – dan sangat baik jika kamu ingin mengubah dunia – kamu ingin bekerja untuk keadilan dan perdamaian. Kamu mencurahkan seluruh energi dan kreativitas hidupmu untuk hal ini, tetapi tampaknya masih belum cukup. Tetapi, Gereja dan dunia membutuhkanmu, orang muda, sama seperti bumi membutuhkan hujan. Kepada kamu semua, orang muda yang terkasih, yang adalah masa kini dan masa depan, ya untuk kamu semua, Yesus sekarang berkata, “Jangan takut”, “Jangan takut!”.


Sekarang, dalam keheningan sejenak, kamu masing-masing mengulangi kata-kata ini, di dalam hatimu : “Jangan takut!”


Orang muda yang terkasih, saya ingin menatap matamu masing-masing dan berkata : Jangan takut. Saya akan memberitahumu hal lain, juga hal yang sangat indah: bukan lagi saya, tetapi Yesus sendiri yang sekarang melihatmu. Ia mengetahui setiap hatimu, setiap hidupmu; Ia tahu sukacitamu, kesedihanmu, kesuksesan dan kegagalanmu. Ia tahu hatimu. Hari ini, Ia berkata kepadamu, di sini di Lisbon, pada Hari Orang Muda Sedunia ini: “Jangan takut, kuatkan hati, jangan takut!”.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Agustus 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XVI (HARI KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA III) 23 JulI 2023 : TUMBUH BERSAMA

Bacaan Ekaristi : Keb. 12:13,16-19; Rm. 8:26-27; Mat. 13:24-43.

 

Yesus menggunakan perumpamaan untuk mengajarkan kita Kerajaan Allah. Ia menceritakan kisah-kisah sederhana yang menyentuh hati para pendengar-Nya. Bahasa semacam itu, penuh gambaran, mirip dengan bahasa yang sering digunakan kakek-nenek kepada cucu mereka, mungkin sambil memangkunya. Dengan cara ini mereka mewariskan suatu kebijaksanaan yang penting bagi kehidupan. Memikirkan kakek-nenek dan para lansia kita, yang akarnya dibutuhkan kaum muda untuk bertumbuh menjadi dewasa, saya ingin membaca ulang tiga kisah perumpamaan yang terkandung dalam Bacaan Injil hari ini, dimulai dengan satu aspek yang sama : tumbuh bersama.

Dalam perumpamaan pertama, gandum dan lalang tumbuh bersama, di ladang yang sama (bdk. Mat 13:24-30). Gambaran ini membantu kita untuk melihat hal-hal secara realistis: dalam sejarah manusia, seperti dalam hidup kita masing-masing, ada campuran cahaya dan bayangan, cinta dan keegoisan. Kebaikan dan kejahatan bahkan saling terkait sampai-sampai tampak tak terpisahkan. Pendekatan realistis ini membantu kita melihat sejarah tanpa ideologi, tanpa optimisme yang mandul atau pesimisme yang beracun. Umat Kristiani, yang termotivasi oleh pengharapan akan Allah, bukanlah orang yang pesimis; mereka juga tidak secara naif hidup dalam dongeng, berpura-pura tidak melihat kejahatan dan mengatakan bahwa “semuanya baik-baik saja”. Tidak, umat Kristiani realistis: mereka tahu bahwa ada gandum dan lalang di dunia. Melihat kehidupan mereka sendiri, mereka menyadari bahwa kejahatan tidak hanya datang dari "luar", tidak selalu kesalahan orang lain, tidak perlu "menciptakan" musuh yang harus dilawan untuk menghindari melihat ke dalam diri mereka sendiri. Mereka menyadari bahwa kejahatan datang dari dalam, dalam pergulatan batin yang kita semua alami.

 

Tetapi, perumpamaan tersebut menimbulkan pertanyaan : Ketika kita melihat “gandum” dan “lalang” hidup berdampingan di dunia, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita bereaksi? Dalam narasinya, para hamba ingin segera mencabut lalang (bdk. ayat 28). Sikap ini muncul dari niat baik, tetapi bersifat menuruti kata hati dan bahkan agresif. Mereka menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa mereka dapat mencabut kejahatan dengan usaha mereka sendiri untuk membuat hal-hal menjadi murni. Memang, kita sering melihat godaan untuk mewujudkan “masyarakat yang murni” atau “Gereja yang murni”, sedangkan dalam bekerja untuk mencapai kemurnian ini, kita berisiko menjadi tidak sabar, keras kepala, bahkan melakukan kekerasan terhadap mereka yang telah jatuh ke dalam kesesatan. Dengan cara ini, bersama dengan lalang kita mencabut gandum yang baik dan menghalangi orang untuk bergerak maju, bertumbuh dan berubah. Sebaliknya, marilah kita mendengarkan apa yang dikatakan Yesus : “Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai” (Mat 13:30). Alangkah indahnya daya pandang Allah ini, cara-Nya mengajar kita tentang belas kasihan. Ini mengundang kita untuk bersabar dengan orang lain, dan – dalam keluarga kita, dalam Gereja dan dalam masyarakat – menerima kelemahan, keterlambatan dan keterbatasan, bukan untuk membiarkan diri kita menjadi terbiasa dengannya atau mengabaikannya, tetapi belajar bertindak dengan hormat, merawat gandum yang baik dengan lembut dan sabar. Kita juga harus ingat bahwa pemurnian hati dan kemenangan yang pasti atas kejahatan pada dasarnya adalah karya Allah. Dan kita, mengatasi godaan untuk memisahkan gandum dari lalang, dipanggil untuk memahami cara dan waktu terbaik untuk bertindak.

 

Di sini saya memikirkan kakek-nenek dan para lansia kita, yang telah melakukan perjalanan jauh sepanjang perjalanan hidup. Jika mereka melihat ke belakang, mereka melihat begitu banyak hal indah yang berhasil mereka lakukan. Tetapi mereka juga melihat kekalahan, kesalahan, hal-hal yang – seperti yang mereka katakan – “jika aku kembali, aku tidak akan melakukannya lagi”. Tetapi hari ini Tuhan menawarkan kita kata-kata lembut yang mengundang kita untuk menerima misteri kehidupan dengan ketenangan dan kesabaran, menyerahkan penghakiman kepada-Nya, dan tidak menjalani kehidupan yang penuh penyesalan dan rasa bersalah. Seolah-olah Yesus ingin berkata kepada kita : “Lihatlah gandum yang baik yang tumbuh di sepanjang jalan hidupmu dan biarkan ia terus tumbuh, percayakan segalanya kepada-Ku, karena Aku selalu mengampuni : pada akhirnya, kebaikan akan lebih kuat daripada kejahatan”. Usia tua memang merupakan masa yang terberkati, karena masa untuk diperdamaikan, masa untuk melihat dengan lembut cahaya yang bersinar meskipun ada bayang-bayang, yakin dengan harapan bahwa gandum yang baik yang ditabur oleh Allah akan menang atas lalang yang ingin diwabahkan iblis ke dalam hati kita.

Marilah kita beralih ke perumpamaan kedua. Yesus memberitahu kita bahwa kerajaan surga adalah karya Allah yang bertindak diam-diam dalam perjalanan sejarah, sampai-sampai tampak kecil dan tidak terlihat, seperti biji sesawi yang kecil. Tetapi, apabila sudah tumbuh, “sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya" (Mat 13:32). Saudara-saudari, hidup kita juga seperti ini, karena kita datang ke dunia begitu kecil; kita menjadi dewasa, lalu menjadi tua. Pada mulanya kita seperti biji yang kecil; kemudian kita dipelihara oleh harapan, dan rencana serta impian kita terwujud, yang terindah apabila kita menjadi seperti pohon yang tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi memberi keteduhan bagi semua yang menginginkannya dan menawarkan ruang bagi mereka yang ingin membangun sarang di sana. Jadi pada akhirnya yang tumbuh bersama dalam perumpamaan ini adalah pohon yang dewasa dan burung-burung kecil.

Di sini saya memikirkan kakek-nenek kita: alangkah indahnya pohon-pohon yang tumbuh subur ini, yang di “cabang-cabang” mereka anak-anak dan cucu-cucu membangun “sarang” mereka sendiri, mempelajari kehangatan rumah dan mengalami kelembutan pelukan. Ini adalah tentang tumbuh bersama: pohon yang menghijau dan anak-anak kecil yang membutuhkan sarang, para kakek-nenek dengan anak dan cucu mereka, kaum tua dengan kaum muda. Saudara-saudari, alangkah kita sangat membutuhkan ikatan baru antara kaum muda dan kaum tua, agar getah orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang panjang di belakang mereka dapat menyuburkan tunas-tunas harapan orang-orang yang sedang tumbuh. Dalam pertukaran yang bermanfaat ini kita dapat mempelajari keindahan hidup, membangun masyarakat persaudaraan, dan dalam Gereja dimungkinkan untuk saling berjumpa dan berdialog di antara tradisi dan kebaruan Roh.

 

Akhirnya perumpamaan ketiga, di mana ragi dan tepung tumbuh bersama (bdk. Mat 13:33). Pencampuran ini membuat seluruh adonan mengembang. Yesus menggunakan kata kerja “mencampur”. Hal ini mengingatkan kita pada “seni” atau “mistik" "hidup bersama, berbaur dan bertemu, saling merangkul dan mendukung satu sama lain ... Keluar dari diri kita sendiri dan bergabung dengan orang lain” (Evangelii Gaudium, 87). Ini adalah cara untuk mengatasi individualisme dan keegoisan, serta membangun dunia yang lebih manusiawi dan bersaudara. Sabda Allah hari ini sungguh mengajak kita untuk waspada agar tidak meminggirkan lansia dalam keluarga atau kehidupan kita. Marilah kita berhati-hati, agar kepadatan kota kita tidak menjadi “pusat kesepian”; agar para politisi, yang dipanggil untuk memenuhi kebutuhan yang paling rapuh, tidak pernah melupakan lansia atau membiarkan pasar membuang mereka sebagai “limbah yang tidak menguntungkan”. Semoga kita tidak mengejar utopia efisiensi dan kinerja dengan kecepatan penuh, jangan sampai kita menjadi tidak mampu melambat untuk menemani mereka yang berjuang untuk mengikutinya. Tolong, marilah kita berbaur dan tumbuh bersama.

 

Saudara-saudari, sabda Allah memanggil kita untuk tidak memisahkan diri, menutup diri atau berpikir kita bisa melakukannya sendiri, tetapibertumbuh bersama. Marilah kita saling mendengarkan, berbicara bersama dan saling mendukung. Janganlah kita melupakan para kakek-nenek atau para lansia kita, karena begitu sering kita diangkat, kembali ke jalur yang benar, hati kita merasa dikasihi dan disembuhkan, semuanya berkat belaian mereka. Mereka telah berkorban untuk kita, dan kita tidak dapat membiarkan mereka menurunkan daftar prioritas kita. Marilah kita tumbuh bersama, marilah kita maju bersama. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Juli 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS, RASUL 29 Juni 2023 : IKUTLAH YESUS DAN BERITAKANLAH SABDA-NYA


Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

Petrus dan Paulus : dua rasul yang mengasihi Tuhan, dua pilar iman Gereja. Seraya kita merenungkan kehidupan mereka, Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya : “Menurut kamu siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Ini adalah pertanyaan hakiki dan terpenting : Siapakah Yesus bagiku? Siapakah Yesus dalam hidupku? Marilah kita lihat bagaimana kedua rasul itu menjawab pertanyaan tersebut.


Jawaban Petrus dapat dirangkum dalam satu kata : mengikuti. Petrus tahu apa artinya mengikuti Tuhan. Pada hari itu di Kaisarea Filipi, Petrus menjawab pertanyaan Yesus dengan pernyataan iman yang bagus : “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Jawaban yang sempurna, akurat, tepat dan, bahkan bisa kita katakan, jawaban "katekese" yang sempurna. Namun jawaban itu sendiri adalah buah dari sebuah perjalanan. Karena hanya setelah pengalaman yang mendebarkan mengikuti Tuhan, berjalan bersama-Nya dan di belakang-Nya untuk beberapa saat, barulah Petrus sampai kepada kedewasaan rohani yang membawanya, berkat rahmat, berkat rahmat semata, untuk melakukan pengakuan iman yang begitu gamblang.


Penginjil Matius juga memberitahu kita bahwa semuanya dimulai ketika pada suatu hari ketika Yesus berjalan menyusur Danau Galilea, Ia memanggil Petrus dan Andreas, saudaranya, "dan mereka pun segera meninggalkan jalan mereka dan mengikuti Dia" (Mat 4:20) . Petrus meninggalkan segalanya untuk mengikuti Tuhan. Bacaan Injil menekankan bahwa ia melakukannya "segera". Petrus tidak memberitahu Yesus bahwa ia akan memikirkannya; ia tidak memperhitungkan pro dan kontra; ia tidak mengajukan alibi untuk menunda keputusan. Sebaliknya, ia meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus, tanpa menuntut jaminan apa pun sebelumnya. Ia harus mempelajari segala sesuatu hari demi hari, sebagai seorang murid, seorang pengikut Yesus, berjalan mengikuti jejak langkah-Nya. Bukan suatu kebetulan, kata-kata terakhir Yesus kepada Petrus yang tercatat dalam keempat Injil adalah : "Ikutlah Aku" (Yoh 21:22). Mengikuti.


Petrus memberitahu kita bahwa menjawab pertanyaan – “Siapakah Yesus bagiku” – tidaklah cukup dengan rumusan doktrinal yang tidak bercela atau serangkaian gagasan yang terbentuk sebelumnya. Tidak. Hanya dengan mengikuti Tuhan kita mengenal-Nya setiap hari, hanya dengan menjadi murid-Nya dan mendengarkan kata-kata-Nya kita menjadi sahabat-Nya dan mengalami kasih-Nya yang sedang mengubah rupa. Kata “segera” tersebut juga bermakna bagi kita. Banyak hal lain yang bisa ditunda dalam hidup, tetapi mengikuti Yesus tidak bisa ditunda; jika menyangkut Dia, kita tidak boleh ragu atau mencari alasan. Kita perlu berhati-hati juga, karena beberapa alasan disamarkan sebagai alasan rohani, seperti misalnya ketika kita berkata, “Aku tidak layak”, “Aku tidak memilikinya dalam diriku”, “Apa yang dapat kulakukan?” Ini adalah salah satu tipu muslihat iblis: tipu muslihat iblis merampas kepercayaan kita akan rahmat Allah dengan membuat kita berpikir bahwa segala sesuatu tergantung pada kemampuan kita sendiri.


Melepaskan diri kita dari seluruh bentuk jaminan duniawi, “segera”, dan kembali mengikuti Yesus setiap hari: demikianlah tuntutan yang diajukan Petrus kepada kita hari ini. Ia mengundang kita untuk menjadi “Gereja yang mengikuti”. Gereja yang berusaha untuk menjadi murid Tuhan, pelayan Injil yang hina. Hanya dengan cara ini Gereja mampu berdialog dengan semua orang dan menjadi tempat pendampingan, kedekatan dan harapan bagi manusia di zaman kita. Hanya dengan cara ini mereka yang jauh dari kita, mereka yang sering memandang kita dengan ketidakberanian atau ketidakpedulian, akan menyadari, mengutip kata-kata Paus Benediktus, “Gereja adalah tempat perjumpaan kita dengan Sang Putra Allah yang hidup dan dengan demikian tempat perjumpaan kita satu sama lain” (Homili Misa Hari Minggu Adven II, 10 Desember 2006).


Kita sekarang sampai kepada Rasul bangsa-bangsa lain. Jika kata untuk menjelaskan jawaban Petrus adalah mengikuti, kata untuk Paulus adalah mewartakan, memberitakan Injil. Bagi Paulus juga, segala sesuatu dimulai dengan rahmat, dengan prakarsa Tuhan sebelumnya. Di jalan menuju Damsyik, saat ia memimpin penganiayaan sengit terhadap umat kristiani, menghalangi keyakinan agamanya, Yesus yang bangkit bertemu dengannya dan membutakannya dengan cahaya-Nya. Atau lebih tepatnya, berkat terang itu, Paulus menyadari betapa butanya dia: terperangkap dalam kesombongan akan ketaatannya yang kaku, di dalam Yesus ia menemukan penggenapan misteri keselamatan. Dibandingkan dengan pengetahuan luhur tentang Kristus, ia menganggap semua jaminan manusiawi dan keagamaannya sebagai "kerugian" (bdk. Flp 3:7-8). Paulus kemudian mengabdikan hidupnya untuk melintasi darat dan laut, kota dan desa, tidak menghiraukan penderitaan dan penganiayaan, demi memberitakan Yesus Kristus. Jika kita melihat kehidupan Paulus, tampaknya semakin ia memberitakan Injil, semakin ia bertumbuh dalam pengetahuan tentang Yesus. Dengan mewartakan Sabda kepada orang lain, ia bisa mengintip lebih dalam ke kedalaman misteri Allah. Paulus kemudian dapat menulis: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1 Kor 9:16). Ia kemudian dapat mengaku : “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp 1:21).


Paulus memberitahu kita bahwa jawaban kita atas pertanyaan – “Siapakah Yesus bagiku?” – bukanlah kesalehan yang diprivatisasi yang membuat kita damai dan tidak peduli membawa Injil kepada orang lain. Rasul Paulus mengajar kita bahwa kita bertumbuh dalam iman dan pengetahuan tentang misteri Kristus ketika kita memberitakan dan bersaksi tentang Dia di hadapan orang lain. Ini selalu terjadi: setiap kali kita menginjili, kita sendiri diinjili. Pengalaman sehari-hari : setiap kali kita menginjili, kita sendiri diinjili. Perkataan yang kita bawa kepada orang lain kembali kepada kita, karena seberapa banyak kita memberi kepada orang lain, kita sendiri menerima lebih banyak lagi (bdk. Luk 6:38). Inilah sesuatu yang juga diperlukan Gereja di zaman kita : menempatkan pewartaan sebagai pusat, menjadi Gereja yang tidak pernah bosan mengulangi : “Bagiku hidup adalah Kristus” dan “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!". Gereja yang perlu memberitakan, sama seperti kita membutuhkan oksigen untuk bernafas. Sebuah Gereja yang tidak dapat hidup tanpa berbagi dengan orang lain pelukan kasih Allah dan sukacita Injil.


Saudara-saudari, kita merayakan Petrus dan Paulus. Jawaban mereka atas pertanyaan penting dalam hidup – “Siapakah Yesus bagiku?” – adalah dengan mengikuti Dia sebagai murid-murid-Nya dan dengan mewartakan Injil. Ada baiknya bagi kita untuk bertumbuh sebagai Gereja dengan cara yang sama, dengan mengikuti Tuhan, secara terus-menerus dan dengan rendah hati mencari Dia. Ada baiknya bagi kita untuk menjadi Gereja yang juga terbuka, menemukan sukacita bukan dalam hal-hal duniawi, tetapi dalam memberitakan Injil di hadapan dunia dan membuka hati orang-orang di hadirat Allah. Membawa Tuhan Yesus ke mana-mana, dengan kerendahan hati dan sukacita: di kota Roma kita, di dalam keluarga kita, di dalam hubungan kita dan lingkungan kita, dalam masyarakat sipil, dalam Gereja, dan kehidupan politik, di seluruh dunia, terutama di tempat-tempat di mana kemiskinan, kebusukan dan marjinalisasi sangat mengakar.


Hari ini, sejumlah Uskup Agung saudara kita menerima Pallium, tanda persekutuan dengan Gereja Roma. Kepada mereka saya akan mengatakan : Jadilah rasul seperti Petrus dan Paulus. Jadilah murid dalam mengikuti dan rasul dalam memberitakan. Bawalah keindahan Injil ke mana-mana, bersama dengan seluruh Umat Allah. Akhirnya, saya ingin menyampaikan salam penuh kasih kepada Delegasi Patriarkat Ekumenis, yang dikirim ke sini oleh Saudara saya yang terkasih, Yang Mulia Bartholomew. Terima kasih atas kehadiran Anda! Terima kasih. Semoga kita maju bersama; maju bersama dalam mengikuti dan dalam memberitakan sabda, seraya kita bertumbuh dalam persaudaraan. Semoga Petrus dan Paulus menyertai kita dan menjadi perantara bagi kita semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 28 Mei 2023 : ROH KUDUS BERTINDAK DALAM TIGA CARA

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; 1Kor. 12: 3b-7.12-13; Yoh. 20:19-23

 

Hari ini sabda Allah menunjukkan kepada kita tindakan Roh Kudus. Kita melihat-Nya bertindak dalam tiga cara : di dalam dunia yang Ia ciptakan, di dalam Gereja, dan di dalam hati kita.

 

1.       Pertama, di dalam dunia yang Ia ciptakan, dalam penciptaan. Sejak awal, Roh Kudus bekerja. Kita berdoa dengan Mazmur (104:30) : "Apabila Engkau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta". Ia sebenarnya adalah Roh Pencipta (bdk. Santo Agustinus, dalam Mzm. XXXII, 2.2), Roh Pencipta : selama berabad-abad Gereja telah memanggil-Nya seperti itu. Tetapi kita dapat bertanya pada diri kita : Apa yang dilakukan Roh dalam penciptaan dunia? Jika segala sesuatu berasal dari Bapa, dan jika segala sesuatu diciptakan melalui Putra, apa kekhasan peranan Roh? Seorang Bapa Gereja besar, Santo Basilius, menulis : “jika kamu berusaha mengenyahkan Roh dari penciptaan, segala sesuatu menjadi membingungkan serta hidup mereka tampak kacau dan tidak beraturan” (De Sancto Spiritu, XVI, 38). Itulah peranan Roh : pada awal dan setiap saat, Ia mengubah kenyataan penciptaan dari ketidakteraturan menjadi keteraturan, dari pertebaran menjadi keterpaduan, dari kebingungan menjadi keselarasan. Kita akan selalu melihat cara bertindak seperti ini dalam kehidupan Gereja. Singkatnya, Ia memberikan keselarasan kepada dunia; dengan cara ini, Ia “mengarahkan peredaran zaman dan memperbaharui muka bumi” (Gaudium et Spes, 26; Mzm 104:30). Ia memang memperbarui bumi, tetapi dengarkanlah baik-baik : Ia melakukan ini bukan dengan mengubah kenyataan, melainkan dengan menyelaraskannya. Itulah "gaya"-Nya, karena dalam diri-Nya Ia adalah keselarasan : ipse harmonia est (bdk. Santo Basilius, dalam Mzm. XXIX, 1).

 

Di dunia kita dewasa ini, ada begitu banyak perselisihan, perpecahan yang begitu besar. Kita semua “terhubung”, namun menemukan diri kita terputus satu sama lain, dibius oleh ketidakpedulian dan diliputi oleh kesendirian. Begitu banyak perang, begitu banyak pertikaian : tampaknya luar biasa kejahatan yang mampu kita lakukan! Namun pada kenyataannya, yang mengobarkan permusuhan kita adalah roh perpecahan, iblis, yang namanya berarti “pemecah belah”. Ya, mendahului dan melampaui kejahatan kita, perpecahan kita, ada roh jahat yang adalah “penyesat seluruh dunia” (Why 12:9). Ia bersukacita dalam pertikaian, ketidakadilan, fitnah; itulah sukacitanya. Untuk melawan kejahatan perselisihan, upaya kita semata untuk menciptakan keselarasan tidaklah memadai. Oleh karena itu, Tuhan, pada puncak Paskah-Nya dari kematian menuju kehidupan, pada puncak keselamatan, mencurahkan Roh-Nya yang baik ke atas dunia ciptaan : Roh Kudus, yang menentang roh perpecahan karena ia adalah keselarasan, Roh persatuan, pembawa kedamaian. Marilah setiap hari kita memohonkan Roh atas seluruh dunia kita, hidup kita dan perpecahan apa pun!

 

2.     Seiring dengan karya-Nya dalam penciptaan, kita melihat Roh Kudus bekerja di dalam Gereja, dimulai dengan hari Pentakosta. Kita memperhatikan, bagaimanapun, bahwa Roh tidak meresmikan Gereja dengan menyediakan komunitas dengan aturan dan peraturan, tetapi dengan turun ke atas masing-masing rasul: mereka masing-masing menerima rahmat khusus dan aneka karisma. Kelimpahan aneka karunia dapat menimbulkan kebingungan, tetapi, seperti dalam penciptaan, Roh Kudus berkenan menciptakan keselarasan dari keanekaragaman. Keselarasan Roh bukanlah tatanan yang mewajibkan dan seragam; dalam Gereja memang ada tatanan, tetapi “tertata sesuai dengan keanekaragaman karunia Roh” (Santo Basilius, De Spiritu Sancto, XVI, 39). Pada Pentakosta, Roh Kudus turun dalam lidah-lidah api : Ia menganugerahkan kepada setiap orang kemampuan untuk berbicara dalam bahasa lain (bdk. Kis 2:4) dan memahami dalam bahasa mereka sendiri apa yang diucapkan orang lain (bdk. Kis 2:6.11). Singkatnya, Roh tidak menciptakan satu bahasa, bahasa yang sama untuk semua orang. Ia tidak mengenyahkan perbedaan atau budaya, tetapi menyelaraskan segala sesuatu tanpa memerosotkannya menjadi keseragaman yang hambar. Dan ini harus membuat kita berhenti dan merenung pada saat ini, ketika godaan “melangkah mundur” berusaha untuk menyeragamkan segala sesuatu menjadi ajaran semata yang tampak tanpa hakekat. Marilah kita renungkan hal ini: Roh tidak dimulai dengan program yang digariskan dengan jelas, seperti yang kita kehendaki, yang begitu sering menjebak kita dalam rencana dan rancangan kita. Tidak, Ia memulai dengan menganugerahkan karunia yang cuma-cuma dan melimpah. Memang, pada hari Pentakosta tersebut, sebagaimana ditekankan Kitab Suci, “semua orang dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis. 2:4). Semuanya dipenuhi : begitulah kehidupan Gereja dimulai, bukan dari rencana yang tepat dan terperinci, tetapi dari pengalaman bersama akan kasih Allah. Begitulah Roh menciptakan keselarasan; Ia mengundang kita untuk mengagumi kasih dan karunia-Nya yang ada pada orang lain. Sebagaimana dikatakan Santo Paulus kepada kita : “Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. … Sebab, dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Kor 12:4.13). Melihat setiap saudara dan saudari kita dalam iman sebagai bagian dari tubuh yang sama di mana aku menjadi anggotanya: ini adalah pendekatan Roh yang selaras, ini adalah jalan yang Ia tunjukkan kepada kita!

 

Dan Sinode yang sedang berlangsung sekarang adalah – dan seharusnya – sebuah perjalanan yang sesuai dengan Roh, bukan sebuah dewan perwakilan rakyat untuk menuntut hak dan kebutuhan sesuai dengan agenda dunia, juga bukan sebuah kesempatan untuk mengikuti ke mana pun angin bertiup, tetapi kesempatan untuk taat pada nafas Roh. Karena di lautan sejarah, Gereja berlayar hanya bersama-Nya, karena Ia adalah “jiwa Gereja” (Santo Paulus VI, Amanat kepada Konsili Suci, 21 Juni 1976), jantung sinodalitas, kekuatan pendorong penginjilan. Tanpa Dia, Gereja tidak bernyawa, iman hanya ajaran, moralitas hanya kewajiban, karya pastoral hanya kerja keras. Kadang-kadang kita mendengar orang-orang yang disebut para pemikir atau teolog, yang menyarankan teori-teori yang tampaknya matematis yang membuat kita kedinginan karena tidak memiliki Roh di dalamnya. Sebaliknya, dengan Roh, iman adalah kehidupan, kasih Tuhan meyakinkan kita, dan harapan terlahir kembali. Marilah kita tempatkan kembali Roh Kudus di pusat Gereja; jika tidak, hati kita tidak akan dikuasai oleh kasih untuk Yesus, tetapi oleh kasih untuk diri kita sendiri. Marilah kita menempatkan Roh pada awal dan pokok karya Sinode. Karena “Dialah yang paling dibutuhkan Gereja dewasa ini! Marilah kita mengatakan kepada-Nya setiap hari : Datanglah!” (bdk. ID., Audiensi Umum, 29 November 1972). Dan marilah kita melakukan perjalanan bersama karena, seperti pada Pentakosta, Roh Kudus berkenan turun ketika “semua berkumpul” (bdk. Kis 2:1). Ya, untuk mewujudkan diri-Nya kepada dunia, Ia memilih waktu dan tempat di mana semua orang berkumpul. Umat Allah, agar dipenuhi Roh, karenanya harus melakukan perjalanan bersama, “melakukan Sinode”. Begitulah keselarasan dalam Gereja diperbaharui: dengan melakukan perjalanan bersama dengan Roh sebagai pusatnya. Saudara-saudari, marilah kita membangun keselarasan di dalam Gereja!

 

3.     Terakhir, Roh Kudus menciptakan keselarasan di dalam hati kita. Kita melihat hal ini dalam Bacaan Injil, di mana Yesus, pada Paskah petang, mengembusi para murid dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22). Ia menganugerahkan Roh untuk tujuan yang tepat : untuk mengampuni dosa, mendamaikan pikiran dan menyelaraskan hati yang terluka oleh kejahatan, dihancurkan oleh luka, disesatkan oleh perasaan bersalah. Hanya Roh yang memulihkan keselarasan di dalam hati, karena Dialah yang menciptakan “keintiman dengan Allah” (Santo Basilius, De Spiritu Sancto, XIX, 49). Jika kita menginginkan keselarasan marilah kita mencari Dia, ketimbang pengganti duniawi. Marilah kita memohonkan Roh Kudus setiap hari. Marilah kita awali hari kita dengan berdoa kepada-Nya. Marilah kita taat kepada-Nya!

 

Dan hari ini, pada hari raya-Nya, marilah kita bertanya pada diri kita : Apakah aku taat kepada keselarasan Roh? Atau apakah aku mengejar rancanganku, gagasanku, tanpa membiarkan diriku dibentuk dan diubah oleh-Nya? Apakah cara hidup imanku taat kepada Roh atau keras kepala? Apakah aku dengan keras kepala terikat pada teks atau apa yang disebut ajaran yang hanya ungkapan dingin kehidupan? Apakah aku cepat menghakimi? Apakah aku menuding dan membanting pintu di depan orang lain, menganggap diriku korban dari semua orang dan segala sesuatu? Atau apakah aku menyambut kekuatan Roh yang selaras dan kreatif, “rahmat keutuhan” yang diilhami-Nya, pengampunan-Nya yang memberi kita kedamaian? Dan pada gilirannya, apakah aku mengampuni? Pengampunan memberi ruang bagi Roh untuk datang. Apakah aku membina rekonsiliasi dan membangun persekutuan, atau apakah aku selalu menilai, mencampuri masalah dan menyebabkan luka, dendam dan perpecahan? Apakah aku mengampuni, mengembangkan rekonsiliasi dan membangun persekutuan? Jika dunia terpecah belah, jika Gereja terkutub, jika hati hancur, janganlah kita membuang waktu untuk mengkritik orang lain dan menjadi marah satu sama lain; sebaliknya, marilah kita memohonkan Roh. Ia mampu menyelesaikan semua ini.

 

Roh Kudus, Roh Yesus dan Roh Bapa, sumber keselarasan yang tiada habisnya, kepada Engkau kami mempercayakan dunia; kepada Engkau kami mempersembahkan Gereja dan hati kami. Datanglah, Roh Pencipta, keselarasan umat manusia, perbaruilah muka bumi. Datanglah, Karunia dari karunia-karunia, keselarasan Gereja, satukanlah kami di dalam Engkau. Datanglah, Roh pengampunan dan keselarasan hati, ubah rupalah kami semampu Engkau, melalui perantaraan Maria.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Mei 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH IV DI LAPANGAN KOSSUTH LAJOS, BUDAPEST (HUNGARIA) 30 April 2023 : RUPA SANG GEMBALA YANG BAIK DAN DUA HAL ISTIMEWA YANG IA PERBUAT TERHADAP DOMBA-DOMBA-NYA

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:14a,36-41; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10.

 

Kata-kata terakhir Yesus dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar merangkum makna perutusan-Nya : “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Itulah yang diperbuat oleh seorang gembala yang baik : ia memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Yesus, seperti seorang gembala yang pergi mencari kawanan dombanya, datang untuk menemukan kita saat kita tersesat. Seperti seorang gembala, Ia datang untuk merenggut kita dari kematian. Seperti seorang gembala yang mengenal masing-masing dombanya dan mengasihi mereka dengan kelembutan yang tak terbatas, Ia membawa kita kembali ke kandang domba Bapa dan menjadikan kita anak-anak-Nya.

 

Maka, marilah kita renungkan rupa Sang Gembala yang baik dan dua hal istimewa yang, menurut Bacaan Injil, Ia perbuat terhadap domba-domba-Nya. Ia memanggil mereka masing-masing menurut namanya, dan kemudian Ia menuntunnya keluar.

 

Pertama, “Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (ayat 3). Sejarah keselamatan tidak dimulai dari kita, dengan jasa, kemampuan dan tatanan kita. Sejarah keselamatan dimulai dengan panggilan Allah, dengan keinginan-Nya untuk datang kepada kita, dengan kepedulian-Nya terhadap kita masing-masing, dengan limpahan kerahiman-Nya. Tuhan ingin menyelamatkan kita dari dosa dan kematian, memberi kita hidup yang berkelimpahan dan sukacita tanpa akhir. Yesus datang sebagai Gembala yang baik umat manusia, memanggil kita dan membawa kita pulang. Dengan rasa syukur, kita semua bisa mengingat kembali kasih yang Ia tunjukkan saat kita mengembara jauh dari-Nya. Ketika kita, seperti domba-domba, telah “tersesat” dan kita masing-masing “mengambil jalannya sendiri” (Yes 53:6). Yesus menanggung kesalahan dan dosa kita, menuntun kita kembali ke hati Bapa. Inilah yang kita dengar dari Rasul Petrus dalam Bacaan Kedua hari ini : “Dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu" (1Ptr 2:25). Hari ini juga, Yesus memanggil kita, dalam setiap situasi, di setiap saat ketika kita merasa bingung dan takut, kewalahan dan terbebani oleh kesedihan dan mengasihani diri sendiri. Ia datang kepada kita sebagai Gembala yang baik, Ia memanggil kita menurut nama dan memberitahu kita alangkah berharganya kita di mata-Nya. Ia menyembuhkan luka-luka kita, menanggung kelemahan kita dan mengumpulkan kita ke dalam kesatuan kawanan domba-Nya, sebagai anak-anak Bapa dan saudara-saudari satu sama lain.

 

Maka, saudara-saudari, pagi ini, di tempat ini, kita merasakan sukacita menjadi umat Allah yang kudus. Kita semua lahir dari panggilannya. Ia memanggil kita bersama-sama, sehingga kita menjadi umat-Nya, kawanan domba-Nya, Gereja-Nya. Meskipun kita beragam dan berasal dari komunitas yang berbeda, Tuhan telah mempersatukan kita, sehingga kasih-Nya yang besar dapat mendekap kita dalam satu pelukan. Ada baiknya kita bersama-sama : para uskup dan para imam, kaum religius dan kaum awam. Dan sungguh indah membagikan sukacita kita ini dengan para delegasi ekumenis, para pemimpin komunitas Yahudi, perwakilan lembaga sipil dan perwakilan diplomatik. Inilah arti kekatolikan : kita semua, yang dipanggil menurut nama oleh Sang Gembala yang baik, dipanggil untuk menerima dan menyebarkan kasih-Nya, menjadikan kandang domba-Nya menyertakan dan tidak pernah mengecualikan siapapun. Oleh karena itu, kita semua dipanggil untuk membina hubungan persaudaraan dan kerjasama, menghindari perpecahan, tidak menarik diri ke dalam komunitas kita, tidak semata peduli menjaga wilayah pribadi kita, melainkan membuka hati kita untuk saling mengasihi.

 

Setelah memanggil domba-domba-Nya, Sang Gembala “menuntunnya keluar” (Yoh 10:3). Pertama, Ia membawa mereka ke kandang, memanggil mereka masing-masing menurut namanya; sekarang Ia mengutus mereka keluar. Kita juga pertama-tama dikumpulkan ke dalam keluarga Allah untuk menjadi umat-Nya; kemudian kita juga diutus ke dunia agar, dengan berani dan tanpa rasa takut, kita dapat menjadi pewarta Kabar Baik, saksi cinta yang telah memberi kita kelahiran baru. Kita dapat menghargai proses “masuk” dan “keluar” ini dari gambaran lain yang dipergunakan Yesus. Ia berkata, “Akulah pintu. Siapa yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput” (ayat 9). Marilah kita dengarkan lagi kata-kata itu: “ia akan masuk dan keluar”. Di satu sisi, Yesus adalah pintu yang terbuka lebar yang memampukan kita untuk masuk ke dalam persekutuan Bapa dan mengalami kerahiman-Nya. Namun, sebagaimana diketahui kita semua, pintu terbuka tidak hanya untuk masuk, tetapi juga untuk keluar. Setelah membawa kita kembali ke pelukan Allah dan ke dalam Gereja, Yesus adalah pintu yang membawa kita kembali ke dunia. Ia mendesak kita untuk pergi menemui saudara dan saudari kita. Jangan pernah lupa bahwa kita semua, tanpa kecuali, dipanggil untuk ini; kita dipanggil untuk keluar dari zona nyaman kita dan menemukan keberanian untuk menjangkau seluruh pinggiran yang memerlukan terang Injil (bdk. Evangelii Gaudium, 20).

 

Saudara-saudari, “keluar” berarti kita, seperti Yesus, harus membuka pintu. Alangkah menyedihkan dan menyakitkan melihat pintu yang tertutup. Pintu tertutup keegoisan kita terhadap sesama kita; pintu tertutup individualisme kita di tengah masyarakat yang semakin terasing; pintu tertutup ketidakpedulian kita terhadap orang yang kurang mampu dan orang yang menderita; pintu yang kita tutup terhadap orang asing atau orang yang tidak seperti kita, terhadap pendatang atau kaum miskin. Pintu tertutup juga di dalam komunitas gerejawi kita : pintu tertutup bagi sesamakita, tertutup bagi dunia, tertutup bagi orang yang “tidak karuan”, tertutup bagi orang yang merindukan pengampunan Allah. Tolong, saudara-saudari, marilah kita membuka pintu! Marilah kita berusaha – dalam perkataan, perbuatan, dan kegiatan sehari-hari – seperti Yesus, menjadi sebuah pintu yang terbuka : sebuah pintu yang tidak pernah tertutup di hadapan siapa pun, sebuah pintu yang memampukan setiap orang untuk masuk dan mengalami keindahan kasih dan pengampunan Tuhan.

 

Saya ulangi hal ini terutama untuk diri saya sendiri dan saudara saya para uskup dan para imam : bagi kita para gembala. Yesus memberitahu kita bahwa gembala yang baik bukanlah perampok atau pencuri (bdk. Yoh 10:8). Dengan kata lain, ia tidak memanfaatkan perannya; ia tidak memerintah atas kawanan domba yang dipercayakan kepadanya; ia tidak menempati ruang milik kaum awam saudara dan saudarinya; ia tidak menjalankan kewenangan yang tidak lentur. Saudara-saudara, marilah kita saling mendorong untuk semakin membuka pintu : “fasilitator” rahmat Allah, sang empunya kedekatan; marilah kita siap mempersembahkan hidup kita, sama seperti Kristus, Tuhan kita dan segalanya kita, mengajar kita dengan tangan terentang dari takhta salib dan setiap hari menunjukkan kita sebagai Roti hidup yang dipecah-pecahkan bagi kita di altar. Saya mengatakan hal ini juga kepada kaum awam saudara dan saudari kita, kepada para katekis dan para pekerja pastoral, kepada orang-orang yang memiliki tanggung jawab politik dan sosial, dan kepada orang-orang yang menjalani kehidupan sehari-hari mereka, yang terkadang tidak mudah. Jadilah pintu terbuka! Perkenankanlah Tuhan sang empunya kehidupan memasuki hati kita, dengan kata-kata penghiburan dan penyembuhan-Nya, sehingga kita kemudian dapat keluar sebagai pintu terbuka di dalam masyarakat. Bersikaplah terbuka dan menyertakan, dengan demikian, dan dengan cara ini, tolonglah Hungaria bertumbuh dalam persaudaraan, yang merupakan jalan perdamaian.

 

Saudara-saudari terkasih, Yesus Sang Gembala yang baik memanggil kita menurut nama dan memperhatikan kita dengan kasih yang lembut tak terhingga. Ia adalah pintu, dan semua yang masuk melalui Dia memiliki kehidupan yang kekal. Ia adalah masa depan kita, masa depan “kehidupan yang berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Janganlah pernah kita berputus asa. Janganlah kita pernah direnggut dari sukacita dan kedamaian yang telah Ia berikan kepada kita. Janganlah kita pernah menarik diri ke dalam masalah kita atau berpaling dari sesama kita dengan sikap acuh tak acuh. Semoga Sang Gembala yang baik selalu menyertai kita : bersama-Nya, kehidupan kita, keluarga kita, komunitas Kristiani kita dan seluruh Hungaria akan berkembang dengan kehidupan yang baru dan berlimpah-limpah!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 30 April 2023)