Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA 15 Agustus 2014 : HARAPAN INJIL ADALAH PENANGKAL SEMANGAT KEPUTUSASAAN YANG TUMBUH DALAM MASYARAKAT YANG MAKMUR



Bacaan Ekaristi : Why 11:19a;12:1,3-6a,10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

Berikut adalah homili yang disampaikan Paus Fransiskus pada Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga di Stadion Piala Dunia di Daejeon dalam kunjungan pastoralnya ke Korea Selatan.

********

Saudara dan saudari terkasih dalam Kristus,
Dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, kita merayakan Pengangkatan Bunda Maria, tubuh dan jiwanya, ke dalam kemuliaan surga. Pengangkatan Maria menunjukkan kepada kita nasib kita sendiri sebagai anak-anak angkat Allah dan anggota-anggota tubuh Kristus. Seperti Maria Bunda kita, kita dipanggil untuk berbagi secara penuh dalam kemenangan Tuhan atas dosa dan kematian, dan memerintah bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya yang abadi.

"Tanda besar" yang disajikan dalam bacaan pertama hari ini - seorang perempuan berselubungkan matahari dan dimahkotai oleh bintang-bintang (bdk. Why 12:1) - mengajak kita untuk merenungkan Maria yang bertakhta dalam kemuliaan di samping Putra ilahinya. Hal ini juga mengajak kita untuk mengakui masa depan yang bahkan sekarang telah disingkapkan oleh Tuhan yang Bangkit di hadapan kita. Orang-orang Korea secara tradisional merayakan pesta ini dalam terang pengalaman sejarah mereka, melihat pengantaraan penuh kasih Bunda Maria bekerja dalam sejarah bangsa Korea dan kehidupan rakyatnya.

Dalam bacaan kedua hari ini, kita mendengar Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa Kristus adalah Adam baru, yang ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa telah menjungkirbalikkan pemerintahan dosa dan perbudakan dan meresmikan pemerintahan kehidupan dan kebebasan (bdk. 1Kor 15:24-25). Kebebasan sejati ditemukan dalam pelukan kita yang penuh kasih terhadap kehendak Bapa. Dari Maria, penuh rahmat, kita belajar bahwa kebebasan Kristiani melebihi pembebasan dari dosa. Merupakan kebebasan bagi sebuah cara baru dan rohaniah dalam melihat kenyataan duniawi. Merupakan kebebasan mengasihi Allah serta saudara dan saudari kita dengan hati yang murni, dan menjalani sebuah kehidupan dari harapan yang  penuh sukacita bagi kedatangan Kerajaan Kristus.     

Hari ini, dalam menghormati Maria, Ratu Surga, kita juga berpaling padanya sebagai Bunda Gereja di Korea. Kita memohon kepadanya untuk membantu kita setia kepada kerajaan rajawi yang kita terima pada hari Pembaptisan kita, untuk membimbing upaya-upaya kita mengubah dunia sesuai dengan rencana Allah, dan untuk memampukan Gereja di negeri ini semakin penuh menjadi sebuah ragi Kerajaan-Nya di tengah-tengah masyarakat Korea. Semoga orang-orang Kristiani bangsa ini menjadi sebuah kekuatan berlimpah untuk pembaharuan rohani di setiap lapisan masyarakat. Semoga mereka memerangi daya pikat materialisme yang menghambat nilai-nilai rohani dan budaya yang otentik dan semangat kompetisi yang tak terkendali yang menghasilkan keegoisan dan perselisihan. Semoga mereka juga menolak model-model ekonomi yang tidak manusiawi yang menciptakan bentuk-bentuk baru kemiskinan dan meminggirkan para pekerja, dan budaya kematian yang merendahkan citra Allah, Allah kehidupan, dan melanggar martabat setiap pria, wanita dan anak-anak.

Sebagai orang-orang Katolik Korea, para pewaris sebuah tradisi mulia, Anda dipanggil untuk menghargai harta peninggalan ini dan meneruskannya kepada generasi-generasi mendatang. Hal ini akan menuntut setiap orang sebuah pertobatan yang diperbaharui terhadap sabda Allah dan sebuah perhatian penuh gairah untuk orang miskin, orang yang membutuhkan dan orang yang rentan di tengah-tengah kita.       

Dalam merayakan pesta ini, kita bergabung dengan Gereja di seluruh dunia dalam mencari Maria sebagai Bunda Pengharapan kita. Madah pujiannya mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah melupakan janji kerahiman-Nya (bdk. Luk 1:54-55). Maria adalah orang yang terberkati karena “ia percaya bahwa akan ada sebuah penggenapan apa yang dikatakan oleh Tuhan kepadanya” (Luk 1:45). Dalam dirinya, seluruh janji Allah telah terbukti dapat dipercaya. Bertakhta dalam kemuliaan, ia menunjukkan kepada kita bahwa pengharapan kita adalah nyata; bahkan sekarang tercapai sebagai "sebuah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa" (Ibr 6:19) menuju tempat Yesus duduk dalam kemuliaan.
  
Harapan ini, saudara dan saudariku yang terkasih, harapan yang diulurkan oleh Injil, adalah penangkal semangat keputusasaan yang tampak tumbuh seperti kanker dalam masyarakat yang secara lahiriah makmur, namun sering mengalami kesedihan dan kekosongan batin. Seberapa banyak orang muda kita yang putus asa mengambil jalan pintas! Semoga mereka, kaum muda yang mengelilingi kita pada hari-hari ini dengan sukacita dan rasa percaya diri mereka, jangan pernah dirampok dari harapan mereka!

Mari kita berpaling kepada Bunda Maria dan dengan sangat memohon rahmat untuk bersukacita dalam kebebasan anak-anak Allah, untuk menggunakan kebebasan itu secara bijaksana dalam pelayanan saudara dan saudari kita, dan untuk hidup dan bekerja sebagai tanda-tanda harapan yang akan menemukan pemenuhannya dalam Kerajaan abadi itu di mana memerintah adalah melayani. Amin.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.