Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENUTUPAN SINODE PARA USKUP TENTANG KELUARGA 25 Oktober 2015

Bacaan Ekaristi : Yer 31:7-9; Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52

Tiga Bacaan untuk hari Minggu ini menunjukkan rasa iba Allah, kebapaan-Nya, yang secara definitif terungkap dalam Yesus.

Di tengah suatu bencana nasional, bangsa dideportasi oleh musuh-musuh mereka, nabi Yeremia memberitakan bahwa "Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya, sisa-sisa Israel" (31:7). Mengapa Ia menyelamatkan mereka? Karena Ia adalah Bapa mereka (bdk. ayat 9); dan sebagai seorang Bapa, Ia mengurus anak-anak-Nya dan mendampingi mereka dalam perjalanan, menopang "orang buta dan lumpuh, para perempuan yang mengandung dan orang-orang dalam pekerjaan" (31:8). Kebapaan-Nya membuka bagi mereka sebuah jalan ke depan, sebuah cara penghiburan setelah begitu banyak air mata dan kesedihan yang besar. Jika bangsa tetap setia, jika mereka bertekun dalam pencarian mereka kepada Allah bahkan di negeri asing, Allah akan mengubah penahanan mereka menjadi kebebasan, kesendirian mereka ke dalam persekutuan: apa yang orang tabur hari ini dalam air mata, mereka akan menuai besok dalam sukacita (bdk. Mzm 126:6).


Kita juga telah mengungkapkan, dengan Mazmur, sukacita yang merupakan buah keselamatan Tuhan : "mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai" (ayat 2). Seorang beriman adalah seseorang yang telah mengalami tindakan penyelamatan Allah dalam hidupnya. Kita para gembala telah mengalami apa artinya menabur dengan kesulitan, berkali-kali dalam air mata, dan  bersukacita atas rahmat panen yang berada berada di luar kekuatan dan kemampuan kita.

Perikop dari Surat Ibrani menunjukkan kepada kita rasa iba Yesus. Ia juga "dilanda dengan kelemahan" (5:2), sehingga Ia bisa merasakan rasa iba bagi mereka dalam ketidaktahuan dan kekeliruan. Yesus adalah Imam Agung besar, suci dan tak berdosa, tetapi juga imam besar yang telah mengambil kelemahan kita dan dicobai seperti kita dalam segala hal, kecuali dosa (bdk. 4:15). Karena alasan ini Ia adalah pengantara perjanjian baru dan definitif yang membawakan kita keselamatan.

Injil hari ini secara langsung terkait dengan Bacaan Pertama: ketika bangsa Israel dibebaskan berkat kebapaan Allah, demikian juga Bartimeus dibebaskan berkat rasa iba Yesus. Yesus baru saja meninggalkan Yeriko. Meskipun Ia semata-mata telah memulai perjalanan-Nya yang paling penting, yang akan membawa-Nya ke Yerusalem, Ia masih berhenti untuk menanggapi teriakan Bartimeus. Yesus tergerak oleh permintaannya dan menjadi terlibat dalam situasinya. Ia tidak puas menawarkan sedekah, melainkan ingin secara pribadi berjumpa dia. Ia tidak memberinya petunjuk atau tanggapan, tetapi bertanya kepadanya : "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" (Mrk 10:51). Ini mungkin tampak sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal: apa yang bisa orang buta harapkan jika bukan karena penglihatannya? Namun, dengan pertanyaan bertatap muka ini, langsung tetapi penuh hormat, Yesus menunjukkan bahwa Ia ingin mendengar kebutuhan kita. Ia ingin berbicara dengan kita masing-masing tentang kehidupan kita, situasi-situasi nyata kita, sehingga tidak ada yang disimpan daripada-Nya. Setelah penyembuhan Bartimeus, Tuhan mengatakan kepadanya : "Imanmu telah menyelamatkan engkau" (ayat 52). Betapa indahnya melihat bagaimana Kristus mengagumi iman Bartimeus, bagaimana ia memiliki keyakinan dalam dirinya. Ia percaya pada kita, lebih dari kita percaya pada diri kita sendiri.

Ada sebuah rincian menarik. Yesus meminta murid-murid-Nya untuk pergi dan memanggil Bartimaeus. Mereka memberi amanat kepada orang buta tersebut dengan dua ungkapan, yang hanya digunakan Yesus dalam sisa Injil. Pertama mereka mengatakan kepadanya: "Kuatkanlah hatimu!", yang secara harfiah berarti "memiliki iman, keberanian yang kuat!". Memang, hanya sebuah perjumpaan dengan Yesus memberikan seseorang kekuatan untuk menghadapi situasi-situasi yang paling sulit. Ungkapan kedua adalah "Berdirilah!", seperti dikatakan Yesus kepada begitu banyak orang sakit, yang ia jamah dan sembuhkan. Murid-murid-Nya tidak melakukan apa-apa selain mengulangi kata-kata Yesus yang membesarkan hati dan membebaskan, menuntunnya secara langsung kepada Yesus, tanpa menguruinya. Murid-murid Yesus dipanggil untuk hal ini, bahkan hari ini, terutama hari ini: membawa orang-orang ke dalam kontak dengan rahmat belas kasih yang menyelamatkan. Ketika jeritan umat manusia, seperti jeritan Bartimeus, menjadi lebih kuat lagi, tidak ada tanggapan lain selain membuat kata-kata Yesus milik kita dan, terutama, meniru hati-Nya. Saat-saat penderitaan dan perseteruan bagi Allah merupakan kesempatan belas kasih. Hari ini adalah sebuah saat belas kasih!

Namun demikian, ada beberapa godaan bagi mereka yang mengikuti Yesus. Injil menunjukkan setidaknya ada dua godaan. Tak satu pun dari para murid berhenti, seperti yang Yesus lakukan. Mereka terus berjalan, berjalan terus seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa. Jika Bartimeus buta, mereka tuli: masalahnya bukan masalah mereka. Ini bisa menjadi sebuah bahaya bagi kita: dalam menghadapi masalah-masalah terus menerus, lebih baik berpindah, bukannya membiarkan diri kita diganggu. Dengan cara ini, seperti para murid, kita bersama Yesus tetapi kita tidak berpikir seperti Dia. Kita berada dalam kelompok-Nya, tetapi hati kita tidak terbuka. Kita kehilangan keheranan, rasa syukur dan antusiasme, dan beresiko biasanya tak tergerak oleh kasih karunia. Kita dapat berbicara tentang Dia dan bekerja bagi-Nya, tetapi kita hidup jauh dari hati-Nya, yang sedang menjamah mereka yang terluka. Ini adalah godaan : sebuah "spiritualitas khayalan": kita dapat berjalan melalui padang gurun kemanusiaan tanpa melihat apa yang benar-benar ada; sebaliknya, kita melihat apa yang ingin kita lihat. Kita mampu mengembangkan pandangan-pandangan dunia, tetapi kita tidak menerima apa yang ditempatkan Tuhan di depan mata kita. Iman yang tidak tahu bagaimana mengakari dirinya sendiri dalam kehidupan orang-orang yang tetap kering dan, dibandingkan oasis, menciptakan gurun-gurun lainnya.

Ada sebuah godaan kedua, yang jatuh ke dalam "iman yang terjadwalkan". Kita mampu berjalan bersama Umat Allah, tetapi kita sudah memiliki jadwal kita untuk perjalanan, di mana semuanya tercantum : kita tahu ke mana harus pergi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan; setiap orang harus menghormati irama kita dan setiap masalah adalah sebuah gangguan. Kita menjalankan resiko menjadi "banyak" Injil yang kehilangan kesabaran dan menegur Bartimeus. Sebelumnya dalam waktu singkat, mereka memarahi anak-anak (bdk. 10:13), dan sekarang si pengemis buta : siapapun yang mengganggu kita atau bukan berperawakan kita dikecualikan. Yesus, di sisi lain, ingin mencakup, terutama semua orang yang tinggal di pinggiran yang sedang berteriak kepada-Nya. Mereka, seperti Bartimeus, memiliki iman, karena kesadaran akan kebutuhan keselamatan adalah cara terbaik berjumpa Yesus.

Pada akhirnya, Bartimeus mengikuti Yesus di jalan-Nya (bdk. ayat 52). Ia tidak hanya mendapatkan kembali penglihatannya, namun ia bergabung dengan komunitas orang-orang yang berjalan bersama Yesus. Para Bapa Sinode yang terkasih, kita telah berjalan bersama-sama. Terima kasih atas jalan yang kita turut sertakan dengan mata yang tertuju kepada Yesus serta saudara dan saudari kita, dalam pencarian jalan yang ditunjukkan Injil bagi masa-masa kita sehingga kita dapat memberitakan misteri kasih keluarga. Marilah kita mengikuti jalan yang diinginkan Tuhan. Marilah kita minta kepada-Nya untuk berpaling kepada kita dengan penyembuhan dan tatapan-Nya yang menyelamatkan, yang tahu bagaimana memancarkan terang, karena ia mengingatkan kemegahan yang meneranginya. Jangan pernah membiarkan diri kita ternoda oleh pesimisme atau dosa, marilah kita mencari dan memandang kemuliaan Allah, yang bersinar pada pria dan wanita yang sepenuhnya hidup.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.