Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 April 2016 : SETIAP HARI ORANG-ORANG KUDUS DAN PARA MARTIR MEMBAWA GEREJA KE DEPAN

Bacaan Ekaristi : Kis 5:27-33; Mzm 34:2,9,17-18,19-20; Yoh 3:31-36


Gereja membutuhkan kesaksian para martir, kesaksian "konsisten" orang-orang Kristen yang "menghayati kehidupan mereka dengan sungguh-sungguh". Dalam homilinya selama misa harian Kamis pagi, 7 April 2016, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan getah bening penting Gereja, "darah yang hidup" yang membawanya keluar dari hari ke hari : kesaksian.


Permenungan tersebut diilhami oleh liturgi hari itu, khususnya dari Bacaan Pertama, yang diambil dari Kisah Para Rasul (5:27-33), yang menyajikan "sebuah perikop dari narasi yang panjang ini" yang dimulai ketika Yohanes dan Petrus menyembuhkan "orang lumpuh yang berada di Gerbang Indah Bait Allah". Semua orang, Paus Fransiskus mengingatkan, "melihat penyembuhan ini", dan tak seorang pun yang bisa menyangkal bahwa itu luar biasa, karena "semua orang mengenal orang berusia 40 tahun ini". Namun para pemimpin, para imam, marah dan melarang para Rasul "untuk mengajar, berkhotbah dalam nama Yesus". Lagi pula, mereka tidak pernah menggunakan nama Yesus, tetapi mengatakan : "orang ini". Mereka menyatakan : "kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami". Mereka ditantang oleh kenyataan bahwa "sedang menghadapi semua orang. Semua orang mengenal orang lumpuh itu selama bertahun-tahun dan sekarang, mereka melihat dia sedang menari-nari karena penuh sukacita, memuji Allah, karena ia telah sembuh".

Petrus berdiri di depan mereka, "kuat dalam kesaksiannya". Paus Fransiskus kemudian teringat, sebaliknya, sikap berbeda yang diambil Petrus ketika ia menyangkal Kristus: "Marilah kita berpikir tentang Petrus yang pengecut", Paus Fransiskus mengatakan, pada "malam Kamis Putih, ketika, dipenuhi dengan ketakutan, ia menyangkal Tuhan tiga kali". Sebaliknya, dalam keadaan ini Sang Rasul menegaskan : "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat ... dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia". Kita harus mengatakan : "Betapa beraninya". Paus Fransiskus kemudian berpendapat : "Petrus ini tidak ada apa-apanya dengan Petrus Kamis, tidak ada apa-apanya!". Petrus ini adalah "Petrus penuh kekuatan, yang memberi kesaksian".

Tetapi kesaksian yang berani itu memiliki konsekuensi : "Mendengar hal-hal ini mereka - para pemimpin, para imam agung - menjadi marah dan ingin membunuh-Nya". Terutama, Paus Fransiskus menjelaskan, "kesaksian Kristen" mengikuti "jalan yang sama seperti Yesus : memberikan nyawanya. Dalam satu atau lain cara, hidup dimainkan dalam kesaksian yang benar".

Pada titik ini Paus Fransiskus menggali konsep kesaksian, dimulai dengan sebuah pertanyaan : "Mengapa Petrus telah menjadi begitu kuat dalam kesaksiannya?". Setelah menyembuhkan orang lumpuh, Sang Rasul berkata : "Kami tidak bisa tidak berbicara tentang apa yang telah kita lihat dan dengar". Dengan kata lain, Paus Fransiskus menjelaskan, "konsistensi antara kehidupan dan apa yang telah kita lihat dan dengar, justru di mana kesaksian dimulai". Tetapi, beliau menambahkan, kesaksian Kristen memiliki ciri lain : "ia bukan hanya tentang siapa yang memberikannya : kesaksian Kristen selalu dilakukan berpasangan". Santo Petrus menjelaskan hal ini : "kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus". Dengan demikian, "tanpa Roh Kudus tidak ada kesaksian Kristen. Karena kesaksian Kristen, kehidupan Kristen, adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita dengan Roh Kudus "dan" tanpa Roh kita tidak bisa bersaksi". Konsistensi adalah karakteristik mendasar : "saksi adalah orang yang konsisten dengan apa yang ia katakan, apa yang ia lakukan dan apa yang ia telah terima, yaitu Roh Kudus".

Salah satu pemahaman seperti juga berasal dari Injil (Yoh 3:31-36). Dalam hal ini Paus Fransiskus mengingatkan perikop yang di dalamnya Yesus berbicara kepada seorang murid yang datang kepadanya larut malam. Yesus menyatakan bahwa orang yang diutus oleh Allah" berbicara kata-kata Allah. Ia tidak mencatu karunia Roh ini". Demikian juga, "Dia yang datang dari surga ... menyaksikan apa yang telah ia lihat dan dengar". Inilah, terutama kesaksian Yesus : "ia bersaksi untuk apa yang telah Ia lihat dan dengar dengan Roh yang kepadanya Ia memberikan kepada murid-murid-Nya". Ini, Paus Fransiskus menjelaskan, "adalah keberanian Kristen, ini adalah kesaksian".

Kesaksian ini, Paus Fransiskus mengatakan, adalah apa yang kita temukan dalam "martir-martir kita hari ini, begitu banyak yang dipaksa dari tanah mereka, diungsikan, dibantai, dianiaya". Mereka "memiliki keberanian untuk mengakui Yesus sampai ke saat kematian". Tetapi itu juga kesaksian "orang-orang Kristen yang menjalani hidup mereka dengan sungguh-sungguh dan berkata : 'Saya tidak bisa melakukan ini, saya tidak bisa merugikan orang lain; Saya tidak bisa menipu; Saya tidak bisa menghayati kehidupan setengah jalan; saya harus memberikan kesaksian saya'". Itu semua bermuara pada sebuah konsep tunggal : kesaksian sedang mengatakan apa yang dalam iman "dilihat dan didengar, yaitu Yesus yang Bangkit", dengan karunia Roh Kudus.

Malahan sering kali, Paus Fransiskus menambahkan, "di masa-masa sulit sepanjang sejarah" telah dikatakan : "Hari ini negara membutuhkan pahlawan". Demikian pula kita dapat bertanya: "Apa yang dibutuhkan Gereja hari ini?". Jawabannya adalah: "para saksi, para martir", "orang-orang kudus sehari-hari" ini, orang-orang yang menghayati kehidupan biasa dengan konsistensi", tetapi juga mereka yang memiliki keberanian untuk menjadi "saksi-saksi hingga kesudahan, sampai mati". Mereka semua "darah hidup Gereja". Mereka adalah, Paus Fransiskus melanjutkan, "orang-orang yang membawa Gereja ke depan, para saksi; mereka yang bersaksi bahwa Yesus telah bangkit, bahwa Yesus hidup, dan mereka bersaksi dengan konsistensi dalam kehidupan dan dengan karunia Roh Kudus".

Sebagai penutup Paus Fransiskus berdoa "agar Tuhan memberi kita, kita semua, keberanian ini dan terutama kesetiaan kepada Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.