Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 17 Mei 2016 : KEINGINAN UNTUK MENDAKI

Bacaan Ekaristi : Yak 4:1-10; Mzm 55:7-8,9-10a,10b-11a,10b-11a,23; Mrk 9:30-37

Ada godaan yang "memecah belah dan menghancurkan Gereja" : "kehausan duniawi akan kekuasaan", iri hati dan keinginan "untuk mendaki lebih tinggi". Paus Fransiskus mengulas godaan ini dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi, 17 Mei 2016, di Casa Santa Marta. Godaan ini, beliau menjelaskan, merupakan sebuah tanggapan terhadap pemikiran duniawi, sementara Yesus, di sisi lain, berbicara tentang pelayanan dan kehinaan.

Beralih ke Bacaan Injil hari itu (Mrk 9:30-37), seluruh permenungan Paus Fransiskus berkembang dari kesejajaran antara "dua cara berbicara" ini. Memang, Alkitab menyajikan Yesus yang sedang "mengajar murid-murid-Nya" dan mengatakan kepada mereka "kebenaran tentang hidup yang sesuai" - tentang hidup-Nya sendiri, Paus Fransiskus menjelaskan, tetapi "juga tentang kehidupan orang-orang Kristen, kebenaran 'sejati'". Ia mengungkapkan bahwa "Putra Manusia akan diserahkan ke tangan orang-orang, dan mereka akan membunuh-Nya; dan ketika Ia terbunuh, setelah tiga hari Ia akan bangkit".

Berlawanan dengan kebenaran ini - "Aku telah datang untuk tugas ini, untuk memenuhi perutusan ini : memberikan hidup-Ku untuk keselamatan semua orang" - para murid tidak mengerti. Memang, "mereka tidak ingin mengerti" dan karena mereka "takut untuk bertanya", mereka memutuskan untuk membiarkannya pergi, seolah-olah mengatakan : "hal-hal yang akan mengurus diri mereka sendiri". Paus Fransiskus menjelaskan bahwa "ketakutan menutup hati mereka, ia menutup hati mereka terhadap kebenaran yang sedang diajarkan Yesus kepada mereka".

Kisah Injil berlanjut dan kita membaca bahwa mereka "berjalan sepanjang jalan, tetapi tidak dalam keheningan". Para murid "terus berbincang-bincang". Ketika mereka tiba di Kapernaum, Yesus bertanya : "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?". Tidak ada jawaban. Memang, mereka "merasa malu untuk menceritakan kepada Yesus apa yang sedang mereka perbincangkan. Sepanjang jalan, pada kenyataannya, mereka sedang mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka".

Kemudian, di sinilah kesejajarannya : "Yesus berbicara tentang bahasa kehinaan, bahasa kematian, bahasa penebusan, dan mereka berbicara bahasa para pendaki : siapa yang akan mendaki tempat tertinggi dalam hal kekuasaan?". Inilah, Paus Fransiskus mengatakan, godaan yang mereka miliki - "mereka dicobai oleh cara pikir duniawi" - tetapi mereka bukan orang satu-satunya. Ibu Yakobus dan Yohanes juga, Paus Fransiskus mengingatkan, pergi ke Yesus - perikop tersebut dapat ditemukan dalam Injil Matius (20:20-21) - "untuk meminta agar salah satu anaknya berada di sebelah kanan dan anak lainnya berada di sebelah kiri, ketika Ia tiba dalam Kerajaan Allah". Seolah-olah ia meminta hari ini "agar salah satu anaknya menjadi perdana menteri dan anak lainnya menjadi menteri ekonomi", sehingga ikut serta "seluruh kekuasaan". Karena alasan yang sesungguhnya ini, "itu adalah pemikiran duniawi : siapakah yang terbesar?". Oleh karena itu Yesus memberitahu mereka : "Barangsiapa ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dan menjadi hamba".

Kata-kata Yesus kepada para murid adalah sebuah pelajaran bagi semua orang : "Di jalan yang Yesus tunjukkan kepada kita untuk berjalan ke depan", Paus Fransiskus mengatakan, "pelayanan adalah aturannya. Barangsiapa yang terbesar adalah dia yang paling melayani, yang paling melayani orang lain, bukan dia yang membanggakan diri, yang mencari kekuasaan, kesombongan, kebanggaan akan uang". Pelajaran tersebut penting, Paus Fransiskus mencatat, karena "ia adalah sebuah cerita yang terjadi setiap hari dalam Gereja, dalam setiap komunitas" di mana sering ditanyakan : "Siapakah yang terbesar di antara kita? Siapa yang berkuasa?". Dengan demikian, "ambisi" muncul, bersamaan dengan "keinginan untuk mendaki, untuk memiliki kekuasaan".

Argumen ini juga dibahas dalam Bacaan Pertama (Yak 4:1-10), yang di dalamnya Rasul Yakobus menulis : Saudara-saudaraku, "dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?". Ia melanjutkan : "Bukankah datangnya dari hawa nafsumu", atau lebih tepatnya "hawa nafsu akan kekuasaan, memerintah, menguasai?". Yakobus menuduh mereka : "Kamu penuh keinginan", menyindir secara tak langsung iri hati dan kedengkian mereka. Ia kemudian menambahkan : "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa".

Pada titik ini Paus Fransiskus mengajak penilaian yang cermat dari bagian berikutnya, "agar memikirkan bagaimana kita salah berdoa". Rasul Yakobus menjelaskan kepada para lawan bicaranya : "kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu". Ia melanjutkan : "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?". Inilah persisnya "inti perikop ini" dan inti pesan yang ditujukan kepada Gereja hari ini.

Perpaduan adalah dalam kesejajaran yang disebutkan sebelumnya : "Yesus berbicara bahasa pelayanan, bahasa kehinaan; selain itu, Ia mengatakan : "Aku tidak datang ... untuk dilayani, melainkan untuk melayani". Di sisi lain, "bahasa dunia adalah : 'siapa yang lebih berkuasa untuk memerintah?'. Bahasa duniawi ini adalah permusuhan dengan Allah". Ketika ada kesombongan, Paus Fransiskus melanjutkan, dan "keinginan duniawi untuk memiliki kekuasaan, bukan untuk melayani, tetapi untuk dilayani", segala cara digunakan. Maka, misalnya, ada "pergunjingan", dan "penodaan orang lain". Ini adalah sesuatu yang "kita semua tahu", beliau menambahkan : "iri hati dan kedengkian mengambil jalan ini dan menghancurkan".

Semua ini, Paus Fransiskus mencatat, "terjadi hari ini di setiap lembaga Gereja : paroki-paroki, perguruan tinggi-perguruan tinggi, lembaga-lembaga lain, bahkan di lingkup keuskupan-keuskupan ... semua orang". Inilah "dua cara berbicara" : di satu sisi adalah "roh duniawi, yang merupakan roh kekayaan, kesombongan dan kebanggaan". Di sisi lain, Yesus berkata : "Putra Manusia akan diserahkan ke tangan orang-orang, dan mereka akan membunuh-Nya". Ia "datang untuk melayani dan Ia mengajarkan kita cara tersebut dalam kehidupan Kristen : pelayanan, kerendahan hati". Akhirnya, Paus Fransiskus menjelaskan, "ketika orang-orang kudus besar mengatakan mereka merasakan mereka adalah para pendosa serupa itu, itu karena mereka memahami roh duniawi ini yang berada di dalam diri mereka, dan mereka memiliki banyak godaan duniawi". Memang, "tidak satupun dari kita dapat mengatakan : 'Bukan, bukan aku, bukan aku ... aku seorang yang kudus, yang bersih'. Kita semua dicobai oleh hal-hal ini, kita dicobai untuk menghancurkan orang lain agar mendaki lebih tinggi". "Godaan duniawi"-lah yang "memecah belah dan menghancurkan Gereja", dan ini tentunya bukanlah "Roh Yesus".

Mengakhiri homilinya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa, mengamati adegan Injil yang baru saja dibaca, "akan ada baiknya kita berpikir tentang berkali-kali kita telah melihat hal ini dalam Gereja dan berkali-kali kita telah melakukan hal ini, dan meminta Tuhan untuk mencerahkan kita, agar memahami bahwa cinta bagi dunia, yaitu, bagi roh duniawi ini, adalah permusuhan dengan Allah".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.