Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 Maret 2018 : JIKA KAMU LETIH DENGAN PERJALANAN HIDUPMU, PANDANGLAH SALIB

Bacaan Ekaristi : Bil 21:4-9; Mzm 102:2-3.16-18.19-21; Yoh 8:21-30

"Ketika hati kita tertekan, kita harus memandang Salib. Bila kamu letih dengan perjalanan hidup, pandanglah salib". Itulah ajakan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 20 Maret 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

Paus Fransiskus mendasarkan homilinya pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Bil 21:4-9) yang menceritakan bagaimana orang Israel merasa jengkel di padang gurun karena perjalanan panjang dan bosan menyantap makanan yang itu-itu saja. Mereka mengeluh tentang makanan dengan mengatakan mereka akan mati di padang gurun oleh karena Allah dan Musa. Orang Israel lapar dan Tuhan menanggapinya dengan manna dan kemudian dengan burung puyuh. Terhadap kehausan orang Israel, Tuhan menanggapinya dengan air. Kemudian, ketika mereka semakin dekat dengan tanah terjanji, beberapa orang menjadi ragu karena para pengintai yang diutus Musa melaporkan sebuah tanah yang penuh dengan buah dan hewan, tetapi juga dihuni oleh penduduk yang kuat dan bersenjata. Mereka tiba-tiba merasa takut terbunuh. Paus Fransiskus mengamati, "Dengan hanya memandang kekuatan mereka sendiri, mereka melupakan kekuatan Tuhan yang telah membebaskan mereka dari 400 tahun perbudakan".


Orang Israel "tidak memikul perjalanan", seperti yang terjadi ketika mereka mulai "mengikuti Tuhan, mereka mulai dekat dengan Tuhan" tetapi dalam beberapa hal, kesulitan tampaknya akan terjadi. Inilah jangka waktu keberadaan di mana orang berpikir dan berkata, "Saya sudah cukup! Saya keluar [dari perjalan]. Saya akan pulang". Dan mungkin kita bahkan mulai mengenang masa lalu, “tentang daging, bawang, dan hal-hal indah lainnya”.

Inilah "khayalan yang ditawarkan iblis : ia membuatmu melihat indahnya sesuatu yang telah kamu tinggalkan, yang terhadapnya kamu telah bertobat, inilah saat kehancuran yang kamu rasakan selama perjalanan, ketika kamu belum sampai kepada janji Tuhan". Perjalanan tersebut “sedikit seperti perjalanan Masa Prapaskah, ya, kita dapat menganggapnya seperti ini; atau memikirkan kehidupan sebagai Masa Prapaskah: pencobaan-pencobaan dan penghiburan-penghiburan Tuhan akan selalu ada di sana, ada manna, ada air, ada burung-burung yang memberi kita makan ... tetapi makanan itu lebih baik. Tetapi jangan lupa bahwa kamu sedang makan di meja perbudakan!". Paus Fransiskus mengundang kita untuk memahami bagaimana ketimpangan "kenangan yang sakit" seperti itu. Kenangan tersebut adalah kenangan yang menyimpang karena orang-orang Israel mengingat masa ketika mereka menjadi budak di Mesir.

Paus Fransiskus kemudian memperingatkan terhadap sesuatu yang bahkan lebih buruk: "berbicara buruk tentang Allah", yang seperti "sedang meracuni jiwa kita". Ketika kita percaya bahwa Tuhan tidak membantu, atau bahwa ada terlalu banyak pencobaan, kita memiliki “hati yang tertekan, hati yang keracunan. Dan, seperti dilaporkan oleh Bacaan Pertama, ular-ular yang menggigit orang-orang Israel adalah “lambang keracunan itu”, kurangnya keteguhan dalam mengikuti jalan Allah.

Ular yang menggigit orang-orang Israel dan meracuni mereka adalah lambang lahiriah hati yang keracunan. Musa, atas permintaan Tuhan, membuat ular tembaga dan menempatkannya di sebuah tiang. Ular ini menyembuhkan siapa saja yang melihatnya; ular itulah yang menyembuhkan semua orang yang diserang oleh ular-ular karena telah berbicara buruk tentang Allah. Adegan dan gambaran ini bersifat kenabian : “itulah sosok Kristus di salib”, kata Paus Fransiskus.

Dan di sinilah "kunci keselamatan kita, kunci untuk memiliki kesabaran dalam perjalanan hidup, kunci untuk mengatasi kesedihan kita : memandang Salib. Pandanglah Kristus yang tersalib. “Dan apa yang harus saya lakukan, Bapa? Pandanglah salib. Pandanglah luka-luka-Nya. Masuklah ke dalam luka-luka itu, karena oleh luka-luka itu kita sudah disembuhkan”. Apakah kamu merasa keracunan, sedih, apakah kamu merasa bahwa hidupmu tidak berjalan dengan baik, hidupmu penuh dengan kesulitan dan penyakit? Pandanglah ke sana".

Di saat-saat yang gelap dan sulit, Paus Fransiskus mengimbau untuk memandang "salib yang jelek, salib yang sesungguhnya : para seniman telah membuat beberapa salib yang indah dan artistik", dan hal ini tidak selalu dianggap "keduniawian" karena tujuan mereka adalah untuk meninggikan "kemuliaan salib, kemuliaan Kebangkitan. Tetapi ketika kamu merasa seperti itu, pandanglah salib yang jelek : Sebelum kemuliaan”.

Paus Fransiskus mengenang ketika, sebagai seorang anak, pada hari Jumat Agung beliau pergi bersama neneknya ke perarakan lilin. Ketika patung Kristus yang wafat, yang terbuat dari batu pualam, dan seukuran manusia diarak, nenek Paus Fransiskus berlutut: "Pandanglah Kristus dengan baik - katanya - karena besok Ia akan bangkit lagi!". Sebagaimana sebelum reformasi liturgi oleh Paus Pius XII, kebangkitan dirayakan pada Sabtu pagi, bukan pada hari Minggu : dan nenek Paus Fransiskus, pada hari Sabtu pagi, ketika ia mendengar lonceng kebangkitan, matanya berurai air mata karena melihat kemuliaan Kristus.

Paus Fransiskus meminta : "Ajarilah anak-anakmu untuk memandang salib dan kemuliaan Kristus. Tetapi kita, pada masa-masa buruk, pada masa-masa sulit, ketika kita sedikit keracunan dengan mengatakan di dalam hati kita beberapa kekecewaan kita terhadap Allah, pandanglah luka-luka itu. Kristus meninggikan seperti ular tembaga : karena Ia menjadi ular tembaga, Ia membinasakan diri-Nya untuk menang atas "ular yang jahat". Semoga sabda Allah mengajarkan kita hari ini perjalanan ini : memandang Kristus yang tersalib. Terutama ketika, "seperti umat Allah, kita letih dengan perjalanan hidup".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.