Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 5 September 2018 : HATI-HATI TERHADAP AMBISI DIRI DAN KESOMBONGAN

Bacaan Ekaristi : Flp. 2:1-4; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 14:12-14.

Paus Fransiskus memperingatkan bahwa "persaingan dan puji-pujian yang sia-sia" memiliki kekuatan untuk menghancurkan berbagai landasan jemaat dengan menebar perpecahan dan pertikaian. Hal tersebut disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 5 November 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.


Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Injil hari itu (Luk. 14:12-14) yang menegaskan kembali pentingnya memberi dengan cuma-cuma. Paus Fransiskus memaparkan bahwa ajaran Yesus jelas : "jangan melakukan hal-hal demi kepentingan sendiri", jangan memilih pertemananmu atas dasar kenyamanan. Beliau mengatakan bahwa pemikiran berdasarkan "keuntungan" kita adalah "bentuk keegoisan, keterpisahan dan kepentingan kita" sementara pesan Yesus "justru sebaliknya".

Dan merujuk pada Bacaan Pertama (Flp 2:1-4)  yang di dalamnya Santo Paulus mendesak jemaat untuk “tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia" tetapi dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

Paus Fransiskus juga menyebutkan berbagai pengaruh buruk pergunjingan, yang beliau katakan, berasal dari persaingan dan digunakan untuk menghancurkan orang lain.

“Persaingan itu buruk : kalian bisa melakukannya secara terbuka, secara langsung, atau dengan sarung tangan putih. Tetapi persaingan selalu bertujuan untuk menghancurkan orang lain dan "menaikkan diri kita" dengan merendahkan orang lain. "Persaingan", beliau mengatakan, berasal dari kepentingan sendiri.

Seorang yang menganggap dirinya lebih utama daripada orang lain, Paus Fransiskus melanjutkan, adalah sama berbahayanya. Sikap ini menghancurkan jemaat dan keluarga : "Pikirkanlah persaingan antara saudara kandung demi warisan sang ayah misalnya", itu adalah sesuatu yang kita lihat setiap hari.

Umat Kristiani, kata Paus Fransiskus, harus mengikuti teladan Putra Allah, menumbuhkan "kecuma-cumaan" : berbuat baik tanpa mengharapkan atau menginginkan imbalan, menabur persatuan dan meninggalkan "persaingan atau puji-pujian yang sia-sia".

"Membangun perdamaian dengan isyarat-isyarat kecil membuka jalan kerukunan di seluruh dunia", beliau mengatakan.

Ketika kita membaca tentang peperangan, beliau mengakhiri, tentang kelaparan anak-anak di Yaman yang disebabkan oleh pertikaian di sana, kita memikirkan bahwa "hal itu jauh, anak-anak miskin ... mengapa mereka tidak punya makanan?".

“Peperangan yang sama yang dilancarkan di rumah dan dalam lembaga-lembaga kita", beliau memperingatkan, “berasal dari persaingan : di sanalah perang dimulai! Dan di sanalah tempat perdamaian harus dibuat : dalam keluarga, dalam paroki, dalam lembaga, di tempat kerja, selalu mencari suara bulat dan kerukunan serta bukan kepentingan kita”.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.