Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG UMUM KE-21 KARITAS INTERNASIONAL DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN 23 Mei 2019 : INJIL ADALAH PROGRAM KEHIDUPAN KITA

Bacaan Ekaristi : Kis. 15:7-21; Mzm. 96:1-2a,2b-3,10; Yoh. 15:9-11.

Dalam Bacaan Pertama hari ini yang diambil dari Kisah Para Rasul (15:7-21), sabda Allah menceritakan pertemuan besar pertama dalam sejarah Gereja. Situasi yang tidak terduga sedang diperlihatkan : orang-orang kafir sedang datang kepada iman. Dan muncul sebuah pertanyaan : haruskah mereka juga menyesuaikan diri, seperti yang lainnya, dengan seluruh aturan Hukum yang lama? Suatu keputusan yang sulit diambil, dan Tuhan tidak lagi hadir.  Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa Yesus tidak meninggalkan saran untuk setidaknya menyelesaikan "diskusi besar" pertama ini (Kis. 15:7)? Sedikit petunjuk bagi para Rasul sudah mencukupi, yang selama bertahun-tahun bersama-Nya setiap hari. Mengapa Yesus tidak selalu memberikan aturan yang jelas dan cepat dalam menentukan?


Di sinilah godaan efisiensi yang berlebihan, godaan memikirkan Gereja baik-baik saja jika dalam Gereja segalanya terkendali, jika Gereja hidup tanpa goncangan, dengan agenda yang selalu teratur. Namun, Tuhan tidak berlanjut dengan cara ini. Faktanya, Ia tidak mengirimkan jawaban dari Surga; Ia mengutus Roh Kudus. Dan Roh Kudus tidak datang membawa tatanan hari; Ia datang dengan api. Yesus tidak ingin Gereja menjadi model kecil yang sempurna, berkenan dengan organisasinya dan mampu mempertahankan nama baiknya. Yesus tidak hidup seperti itu tetapi, di jalan, tanpa takut akan sentakan kehidupan. Injil adalah program kehidupan kita. Injil mengajarkan kita bahwa berbagai pertanyaan tidak ditujukan dengan resep yang jadi dan iman bukanlah sebuah jadwal, tetapi sebuah ‘Jalan” (Kis 9:2), untuk diikuti bersama, selalu bersama, dengan semangat kepercayaan. Dari kisah dalam Kisah Para Rasul kita mempelajari tiga unsur penting untuk Gereja di jalan : kerendahan hati untuk mendengarkan, karisma keseluruhan, keberanian untuk melepaskan diri.

Kita mulai dari yang terakhir, dari keberanian untuk melepaskan diri. Keberhasilan diskusi besar itu bukan untuk memaksakan sesuatu yang baru, tetapi meninggalkan sesuatu yang lama. Namun, umat Kristen perdana tersebut tidak meninggalkan hal apa pun : ada hubungannya dengan tradisi dan ajaran keagamaan yang penting, yang dihargai oleh umat pilihan.  Yang dipertaruhkan adalah jatidiri keagamaan mereka. Namun, mereka memilih agar pewartaan Tuhan didahulukan dan lebih bernilai di atas segalanya. Demi kebaikan perutusan, mewartakan kepada masing-masing orang secara terus terang dan dapat dipercaya, bahwa Allah mencintai keyakinan dan tradisi manusia tersebut, yang lebih merupakan penghalang daripada pertolongan, dapat dan harus juga ditinggalkan. Kita bersama-sama juga butuh untuk menemukan kembali keindahan, keindahan pelepasan diri, pertama-tama dari diri kita sendiri. Santo Petrus mengatakan bahwa Tuhan “menyucikan hati oleh iman” (bdk. Kis 15:9). Tuhan menyucikan, menyederhanakan, sering membuat kita tumbuh dengan membawa, tidak menambahkan, seperti yang akan kita lakukan. Iman sejati menyucikan dari keterikatan. Untuk mengikuti Tuhan, perlu berjalan cepat dan, berjalan cepat, perlu untuk meringankan diri, bahkan jika itu membutuhkan biaya. Sebagai Gereja, kita tidak dipanggil menuju kompromi bisnis, tetapi menuju lompatan injili. Dan, dalam menyucikan diri, dalam mereformasi diri, kita harus menghindari menghias etalase, yaitu berpura-pura mengubah sesuatu tetapi pada kenyataannya, tidak ada yang berubah. Hal ini terjadi, misalnya, ketika, berusaha selaras dengan waktu kita menyentuh permukaan benda, tetapi hanya merias agar tampak muda. Tuhan tidak menginginkan penyesuaian yang bersifat kosmetik; Ia menginginkan pertobatan hati, melalui pelepasan diri. Reformasi pada dasarnya adalah keluar dari diri sendiri.

Marilah kita lihat bagaimana nasib umat Kristen perdana. Mereka tiba pada keberanian untuk melepaskan diri dimulai dari kerendahan hati untuk mendengarkan. Mereka melatih diri dalam ketidakpedulian terhadap diri sendiri : kita melihat bahwa masing-masing orang membiarkan yang lain berbicara dan siap untuk mengubah keyakinannya sendiri. Hanya orang yang membiarkan suara orang lain benar-benar memasuki dirinya yang dapat mendengarkan. Dan ketika minat pada orang lain tumbuh, ketidakpedulian terhadap diri meningkat; kita menjadi rendah hati mengikuti jalan mendengarkan, yang menahan diri dari keinginan untuk menegaskan diri sendiri, bersikeras mengemukakan gagasan sendiri, untuk mencari kesepakatan bersama dengan cara apapun. Kerendahan hati lahir ketika, alih-alih berbicara, kita mendengarkan, ketika kita berhenti berada di tengah. Kemudian kerendahan hati tumbuh melalui kehinaan. Inilah jalan pelayanan yang rendah hati, yang diikuti oleh Yesus. Dengan jalan amal inilah Roh Kudus turun dan mengarahkan. Bagi orang yang ingin mengikuti jalan amal, jalan kerendahan hati, dan jalan mendengarkan berarti telinganya <terbuka> untuk orang-orang kecil. Marilah kita melihat kembali pada umat Kristen perdana : mereka semua diam untuk mendengarkan Paulus dan Barnabas. Mereka adalah orang-orang yang terakhir tiba, tetapi mereka membiarkan Paulus dan Barnabas merujuk pada semua yang telah dicapai Allah melalui mereka berdua (bdk. ayat 12). Mendengarkan suara semua orang, terutama orang-orang kecil dan orang-orang yang terlantar, selalu penting. Dunia yang memiliki lebih banyak sarana berbicara lebih banyak, tetapi di antara kita tidak mungkin begitu, karena Allah suka mengungkapkan diri-Nya melalui orang-orang kecil dan orang-orang yang terlantar. Dan Ia meminta kita masing-masing untuk tidak melihat siapa pun dari atas ke bawah.

Dan, akhirnya, mendengarkan kehidupan : Paulus dan Barnabas menceritakan pengalaman, bukan gagasan. Beginilah jalan kearifan Gereja : bukan di depan komputer, tetapi di depan kenyataan pribadi. Pribadi-pribadi di depan sebuah program, dengan penampilan sederhana yang mampu melihat kehadiran orang lain di depan orang lain, yang tidak berdiam dalam kebesaran dari apa yang kita lakukan, tetapi dalam kesederhanaan orang-orang miskin yang kita jumpai. Jika kita tidak melihatnya secara langsung, kita akhirnya akan selalu melihat diri kita, dan menjadikan mereka alat untuk menegaskan diri kita.

Dari kerendahan hati untuk mendengarkan menuju keberanian untuk melepaskan diri, semuanya melalui karisma keseluruhan. Bahkan, dalam diskusi Gereja perdana, kesatuan selalu mengatasi perbedaan. Bagi masing-masing orang, pilihan dan strategi tidak mendapat tempat pertama, melainkan menjadi dan merasakan diri sebagai Gereja Yesus, berkumpul di sekitar Petrus, dalam amal yang tidak menciptakan keseragaman tetapi persekutuan. Tak seorang pun yang tahu segalanya, tak seorang pun yang memiliki seluruh karisma, tetapi masing-masing orang berpegang pada karisma keseluruhan. Hal ini penting, karena kebaikan tidak dapat benar-benar dilakukan tanpa saling mengasihi. Apa rahasia umat Kristen itu? Mereka memiliki beragam kepekaan dan pedoman; bahkan ada kepribadian yang kuat, tetapi ada kekuatan saling mengasihi dalam Tuhan. Kita melihatnya dalam Yakobus yang, pada saat melukiskan kesimpulan, menyampaikan beberapa katanya sendiri dan mengutip banyak sekali sabda Allah (bdk. ayat 16-18). Ia membiarkan sabda itu berbicara. Sementara suara iblis dan suara dunia menyebabkan perpecahan, suara Sang Gembala yang baik membentuk satu kawanan semata. Dengan demikian, komunitas berlandaskan sabda Allah dan tinggal dalam kasih-Nya.

"Tinggallah di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:9) : itulah yang diminta Yesus dalam Injil. Bagaimana hal ini dilakukan? Berada dekat dengan-Nya, Roti yang dipecah-pecahkan, sangatlah penting. Berada dekat dengan-Nya membantu kita untuk berada di depan Tabernakel dan di depan banyak tabernakel yang hidup yakni orang-orang miskin. Ekaristi dan orang miskin, Tabernakel yang tetap dan tabernakel-tabernakel yang bergerak : di sanalah kita tinggal dalam kasih dan menyerap mentalitas Roti yang dipecah-pecahkan. Di sanalah kita memahami "bagaimana" yang dibicarakan Yesus : "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:9). Dan bagaimana Bapa mengasihi Yesus? Memberikan segalanya kepada-Nya, tidak menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri. Kita mengucapkannya dalam Syahadat : “Allah dari Allah, terang dari terang”, Ia telah memberikan segalanya kepada-Nya. Sebaliknya, ketika kita menahan diri dari memberi, ketika kepentingan kita untuk mempertahankan berada di tempat pertama, kita tidak meneladan jalan Allah, kita bukan Gereja yang bebas dan sedang memerdekakan. Yesus meminta agar kita tinggal di dalam Dia, bukan dalam gagasan kita; keluar dari kepura-puraan mengendalikan dan mengelola, Ia meminta untuk mempercayai orang lain dan memberikan diri kita kepada orang lain. Marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membebaskan kita dari efisiensi yang berlebihan, dari keduniawian, dari godaan halus memuja diri kita dan keberanian kita; marilah kita memohonkan rahmat untuk mengambil jalan yang ditunjukkan oleh sabda Allah : kerendahan hati, persekutuan, pelepasan diri.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.