Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH 1 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, di awal tahun sipil yang baru, Liturgi menawarkan kepada kita teks berkat yang indah: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil 6:24-26).

 

Dalam Kitab Bilangan, berkat ini mengikuti petunjuk mengenai pengudusan kaum nazir, menyoroti dimensi sakral dan berbuah dari persembahan dalam hubungan antara Allah dan umat Israel. Manusia mempersembahkan kepada Sang Pencipta segala yang telah mereka terima, dan Ia, pada gilirannya, menanggapi dengan mengarahkan pandangan-Nya yang penuh kebajikan kepada mereka, seperti yang Ia lakukan pada awal penciptaan (bdk. Kej 1:31).

 

Selain itu, umat Israel, yang menjadi alamat berkat ini, adalah umat yang telah dibebaskan – laki-laki dan perempuan dilahirkan kembali setelah masa perbudakan yang panjang, berkat campur tangan Allah dan tanggapan murah hati dari hamba-Nya, Musa. Di Mesir, mereka menikmati beberapa kenyamanan: makanan tersedia, begitu pula tempat tinggal dan kestabilan. Akan tetapi hal ini datang dengan harga kebebasan mereka; diperbudak, mereka ditindas oleh penguasa yang lalim yang menuntut lebih banyak namun memberi lebih sedikit (bdk. Kel 5:6-7). Sekarang, di padang gurun, banyak dari kenyamanan sebelumnya telah hilang. Tetapi sebagai gantinya ada kebebasan, yang berbentuk jalan terbuka menuju masa depan, ditemukan dalam pemberian hukum kebijaksanaan dan janji tanah tempat mereka dapat hidup dan berkembang tanpa belenggu atau rantai. Singkatnya, sebuah kelahiran kembali.

 

Dengan demikian, di awal tahun baru, Liturgi mengingatkan kita bahwa bagi kita masing-masing, setiap hari dapat menjadi awal kehidupan baru, berkat kasih Allah yang murah hati, belas kasih-Nya, dan tanggapan dari kebebasan kita. Alangkah indahnya memandang tahun yang akan datang dengan cara ini: sebagai perjalanan terbuka yang harus dijelajahi. Sesungguhnya, melalui rahmat, kita dapat memulai perjalanan ini dengan penuh keyakinan – bebas dan pembawa kebebasan, diampuni dan pembawa pengampunan, mempercayai kedekatan dan kebaikan Tuhan yang senantiasa menyertai kita.

 

Kita mengingat kebenaran ini saat kita merayakan misteri keibuan ilahi Maria. Melalui "ya"-nya, ia membantu memberikan wajah manusiawi kepada sumber segala belas kasih dan kebaikan: wajah Yesus. Melalui mata-Nya – pertama sebagai seorang anak kecil, kemudian sebagai seorang muda dan sebagai seorang dewasa – kasih Bapa menjangkau kita dan mengubah rupa kita.

 

Oleh karena itu, saat kita melangkah menuju hari-hari baru dan unik yang menanti kita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengalami setiap saat, di sekitar kita dan atas diri kita, kehangatan pelukan kebapaan-Nya dan cahaya tatapan-Nya yang penuh kebaikan. Dengan cara ini, kita dapat lebih memahami dan senantiasa mengingat siapa diri kita dan ke arah mana apa yang menjadi takdir luar biasa kita tertuju (bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 41). Pada saat yang sama, marilah kita juga memuliakan Allah melalui doa, kekudusan hidup, dan dengan menjadi cermin kebaikan-Nya bagi satu sama lain.

 

Santo Agustinus mengajarkan bahwa, dalam diri Maria, “Pencipta manusia menjadi manusia: sehingga, meskipun Ia mengatur bintang-bintang, Ia dapat menyusu pada seorang perempuan; meskipun Ia adalah Roti (bdk. Yoh 6:35), Ia dapat lapar (bdk. Mat 4:2)… untuk membebaskan kita, meskipun kita tidak layak” (Khotbah 191, 1.1). Dengan cara ini, Agustinus mengingatkan kita salah satu ciri dasariah wajah Allah: kecuma-cumaan kasih-Nya yang sempurna. Sebagaimana saya tekankan dalam Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia ini, Allah menampilkan diri-Nya kepada kita “tanpa senjata dan melucuti senjata,” telanjang dan tak berdaya seperti bayi yang baru lahir di dalam buaian. Ia melakukan ini untuk mengajarkan kita bahwa dunia tidak diselamatkan dengan menajamkan pedang, atau dengan menghakimi, menindas, atau menyingkirkan saudara-saudari kita. Sebaliknya, dunia diselamatkan dengan tanpa lelah berusaha untuk memahami, mengampuni, membebaskan, dan menyambut setiap orang, tanpa perhitungan dan tanpa rasa takut.

 

Inilah wajah Allah yang diperkenankan Maria untuk terbentuk dan tumbuh di dalam rahimnya, yang sepenuhnya mengubah rupa hidupnya. Inilah wajah yang ia nyatakan melalui cahaya matanya yang penuh sukacita namun lembut saat mengandung-Nya; wajah yang keindahannya ia renungkan setiap hari di rumahnya saat Yesus tumbuh sebagai seorang anak kecil, seorang remaja, dan seorang muda; dan wajah yang ia ikuti dengan hati seorang murid yang rendah hati, saat Ia menempuh perjalanan misi-Nya, hingga salib dan kebangkitan. Untuk melakukan hal itu, ia juga menanggalkan setiap pertahanan, melepaskan harapan, tuntutan, dan kenyamanan – sebagaimana sering dilakukan para ibu – mengabdikan hidupnya tanpa syarat bagi Putra yang telah ia terima melalui rahmat, sehingga ia dapat, pada gilirannya, mengembalikan-Nya kepada dunia.

 

Dalam keibuan ilahi Maria, kita melihat pertemuan dua kenyataan yang sangat luar biasa dan "tanpa senjata": kenyataan Allah, yang melepaskan setiap keistimewaan keilahian-Nya untuk dilahirkan dalam daging (bdk. Filipi 2:6-11), dan kenyataan manusiawi yang, dengan penuh kepercayaan dan sepenuhnya, menerima kehendak Allah. Dalam tindakan kasih yang sempurna, ia mempersembahkan kepada-Nya kekuatan terbesar yang dimilikinya: kebebasannya.

 

Melakukan refleksi atas misteri ini, Santo Yohanes Paulus II mengajak kita untuk merenungkan apa yang ditemukan para gembala di Betlehem: "kelembutan Anak yang melucuti senjata, kemiskinan yang mengejutkan di mana Ia ditemukan, dan kesederhanaan yang rendah hati dari Maria dan Yusuf." Kenyataan-kenyataan ini mengubah rupa kehidupan mereka, menjadikan mereka "pembawa pesan keselamatan" (Homili dalam Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, Hari Perdamaian Sedunia ke-34, 1 Januari 2001).

 

Ia mengucapkan kata-kata ini pada penutupan Yubileum Agung Tahun 2000, dengan kata-kata yang bergema dengan refleksi kita hari ini: “Alangkah banyak karunia,” tegasnya, “alangkah banyak kesempatan luar biasa yang ditawarkan Yubileum Agung kepada orang-orang percaya! Dalam pengalaman pengampunan yang diterima dan diberikan, dalam peringatan para martir, dalam mendengarkan jeritan kaum miskin di dunia… kita pun telah melihat sekilas kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam sejarah. Kita, seolah-olah, secara fisik merasakan kasih-Nya yang memperbarui wajah bumi” (idem). Kemudian ia menyimpulkan, “Sebagaimana Ia meminta para gembala yang bergegas untuk menyembah-Nya, Kristus meminta orang-orang percaya, yang telah Ia berikan sukacita bertemu dengan-Nya, kesiapan untuk berani sekali lagi berangkat memberitakan Injil-Nya, lama dan selalu baru. Ia mengutus mereka untuk menghidupkan sejarah dan budaya manusiawi kita dengan pesan keselamatan-Nya” (idem).

 

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Raya ini, di awal tahun baru, dan saat kita mendekati akhir Yubileum Pengharapan, marilah kita mendekati ornamen Kelahiran Yesus dengan iman. Marilah kita mendekatinya sebagai tempat damai yang "tanpa senjata dan melucuti senjata" – tempat berkat di mana kita mengingat keajaiban yang telah dikerjakan Tuhan dalam sejarah keselamatan dan hidup kita. Kemudian, seperti para saksi yang rendah hati di gua, marilah kita berangkat sekali lagi, "memuji dan memuliakan Allah" (Luk 2:20) atas segala yang telah kita lihat dan dengar. Semoga ini menjadi komitmen dan tekad kita untuk bulan-bulan mendatang, dan, sesungguhnya, untuk seluruh kehidupan kristiani kita.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.