Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (PENUTUPAN TAHUN YUBILEUM BIASA 2025) 6 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil (bdk. Mat 2:1-12) menggambarkan kepada kita sukacita besar yang dialami orang-orang Majus ketika mereka melihat bintang itu sekali lagi (bdk. ayat 10), dan pada saat yang sama bagaimana Herodes dan seluruh Yerusalem terkejut karena pencarian orang-orang Majus tersebut (bdk. ayat 3). Sesungguhnya, setiap kali Kitab Suci berbicara tentang Allah yang menyatakan diri-Nya, Kitab Suci tidak menyembunyikan reaksi yang kontras, seperti sukacita dan keterkejutan, penolakan dan ketaatan, ketakutan dan kerinduan. Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, menyadari bahwa di hadirat-Nya tidak ada yang tetap sama. Ini menandai awal pengharapan, karena Allah menyatakan diri-Nya dan tidak ada yang tetap tidak berubah. Kehadiran-Nya mengakhiri jenis kepuasan melankolis yang menyebabkan orang-orang tanpa henti berkata, “Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh 1:9). Sesuatu yang menentukan masa kini dan masa depan baru dimulai, sebagaimana diberitakan Nabi Yesaya: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (60:1).

 

Yerusalem, kota yang telah menyaksikan banyak permulaan baru, dilanda masalah, sungguh mengejutkan. Di dalam kota itu, mereka yang mempelajari Kitab Suci dan mengira mereka memiliki semua jawaban tampaknya telah kehilangan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan dan memupuk rasa rindu. Sesungguhnya, kota itu takut kepada mereka yang, tergerak oleh pengharapan, datang dari jauh; kota itu tampak terancam oleh apa yang seharusnya membawa sukacita besar. Reaksi ini juga menantang kita sebagai Gereja.

 

Pintu Suci Basilika ini, yang hari ini merupakan pintu terakhir yang ditutup, telah menyaksikan aliran tak terhitung banyaknya pria dan wanita, para peziarah pengharapan, yang melakukan perjalanan menuju Yerusalem baru, kota yang pintunya selalu terbuka (bdk. Why 21:25). Siapakah pria dan wanita ini, dan apa yang memotivasi mereka? Di akhir tahun Yubileum ini, pencarian spiritual orang-orang sezaman kita, yang jauh lebih kaya daripada yang mungkin dapat kita pahami, mengundang kita untuk melakukan refleksi yang sungguh-sungguh. Jutaan dari mereka telah melewati ambang pintu Gereja. Apa yang mereka temukan? Apa yang ada di hati mereka, pertanyaan mereka, perasaan mereka? Ya, orang-orang Majus masih ada hingga hari ini. Mereka adalah orang-orang yang merasakan kebutuhan untuk pergi mencari, menerima risiko yang terkait dengan perjalanan mereka, terutama di dunia yang penuh masalah seperti kita saat ini yang mungkin tidak menyenangkan dan berbahaya dalam banyak hal.

 

Orang-orang zaman dahulu menyebutnya homo viator, dan memang seluruh hidup kita adalah sebuah perjalanan. Bacaan Injil menantang Gereja untuk tidak takut akan fenomena ini, tetapi menghargainya, dan mengarahkannya kepada Allah yang menopang kita. Dia adalah Allah yang dapat mengguncang kita karena Dia tidak tetap berada di tangan kita seperti berhala-berhala perak dan emas; sebaliknya, Dia hidup dan memberi kehidupan, seperti Bayi yang dipeluk Maria dan disembah oleh orang-orang Majus. Tempat-tempat suci seperti katedral, basilika, dan gua Maria, yang telah menjadi tujuan ziarah Yubileum, harus menyebarkan aroma kehidupan, kesadaran yang tak terlupakan bahwa dunia lain telah dimulai.

 

Marilah kita bertanya pada diri sendiri: adakah kehidupan dalam Gereja kita? Adakah ruang bagi lahirnya sesuatu yang baru? Apakah kita mengasihi dan mewartakan Allah yang menuntun kita dalam sebuah perjalanan?

 

Dalam Bacaan Injil, Herodes takut akan takhtanya dan terkejut akan hal-hal yang menurutnya di luar kendalinya. Ia mencoba memanfaatkan keinginan orang-orang Majus dengan memanipulasi pencarian mereka. Ia siap berbohong, ia bersedia melakukan apa saja. Ketakutan memang membutakan kita. Sebaliknya, sukacita Injil membebaskan kita. Sukacita Injil membuat kita bijaksana, ya, tetapi juga berani, penuh perhatian, dan kreatif; sukacita Injil mengajak kita menempuh jalan yang berbeda dari jalan yang telah kita lalui.

 

Orang-orang Majus membawa pertanyaan sederhana dan penting ke Yerusalem: “Di manakah Dia yang baru dilahirkan itu?” (Mat 2:2). Betapa pentingnya bagi mereka yang melewati pintu Gereja untuk menyadari bahwa Mesias baru dilahirkan, sebuah komunitas berkumpul di mana pengharapan muncul, dan sebuah kisah kehidupan sedang terungkap! Yubileum mengingatkan kita bahwa kita dapat memulai kembali, bahkan, kita masih di awal dan Tuhan ingin kehadiran-Nya tumbuh di antara kita sebagai Allah yang menyertai kita. Ya, Allah menantang tatanan yang ada, karena Dia memiliki rencana yang menginspirasi para nabi-Nya bahkan hingga hari ini. Allah bertekad untuk menyelamatkan kita dari bentuk-bentuk perbudakan lama dan baru. Dia melibatkan orang muda dan orang tua, orang miskin dan orang kaya, laki-laki dan perempuan, orang kudus dan orang berdosa dalam karya belas kasih-Nya, dan dalam keajaiban keadilan-Nya. Meskipun Tuhan melakukannya dengan tenang, Dia telah membuat Kerajaan-Nya tumbuh di mana-mana di dunia.

 

Betapa banyak pencerahan yang telah diberikan kepada kita dan betapa banyak lagi yang dapat diberikan kepada kita! Namun, pencerahan itu harus menjauhkan kita dari niat Herodes, dari ketakutan yang selalu siap berubah menjadi agresi. “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya” (Mat 11:12). Ungkapan misterius Yesus ini, yang dilaporkan dalam Injil Matius, mau tidak mau membuat kita berpikir tentang banyak konflik yang digunakan manusia untuk melawan dan bahkan merusak hal-hal baru yang telah disiapkan Allah untuk semua orang. Mencintai dan mengupayakan perdamaian berarti melindungi apa yang kudus dan, akibatnya, apa yang baru lahir seperti bayi kecil yang rentan dan rapuh. Di sekitar kita, ekonomi yang menyimpang mencoba mengambil keuntungan dari segala sesuatu. Kita melihat bagaimana pasar dapat mengubah kerinduan manusia untuk mencari, bepergian, dan memulai kembali menjadi sekadar bisnis. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah Yubileum telah mengajarkan kita untuk menjauhi jenis efisiensi ini yang mereduksi segala sesuatu menjadi produk dan manusia menjadi konsumen? Setelah tahun ini, akankah kita lebih mampu mengenali seorang peziarah dalam diri pengunjung, seorang pencari dalam diri orang asing, seorang sesama dalam diri orang asing, dan sesama pengembara dalam diri orang-orang yang berbeda?

 

Cara Yesus bertemu dan membiarkan diri-Nya didekati oleh semua orang mengajarkan kita untuk menghargai rahasia hati, yang hanya Dia yang dapat membacanya. Bersama-Nya, kita belajar untuk menyambut tanda-tanda zaman (bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, Gaudium et Spes, 4). Tidak seorang pun dapat menjual hal ini kepada kita. Anak yang disembah oleh orang-orang Majus adalah sang Kebaikan yang tak ternilai dan tak terukur. Penampakan Tuhan dari sebuah karunia. Penampakan Tuhan tidak terjadi di tempat yang bergengsi, tetapi di tempat yang sederhana. “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara para pemimpin Yehuda” (Mat 2:6). Berapa banyak kota, berapa banyak komunitas yang perlu mendengar dikatakan, “Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil.” Ya, Tuhan masih mengejutkan kita! Ia menyatakan diri-Nya dan membiarkan diri-Nya ditemukan. Jalan-Nya bukanlah jalan kita, dan orang-orang yang kejam tidak berhasil mengendalikannya, demikian pula kekuatan dunia tidak dapat menghalanginya. Inilah sukacita besar orang-orang Majus, yang meninggalkan istana dan bait suci untuk berangkat ke Betlehem; hanya pada saat itulah mereka melihat bintang itu sekali lagi!

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, menjadi peziarah pengharapan sungguh luar biasa. Kita bersama-sama terus menjadi peziarah sungguh luar biasa! Kesetiaan Allah terus membuat kita takjub. Jika kita tidak mereduksi gereja-gereja kita menjadi monumen, jika komunitas kita menjadi rumah, jika kita bersatu dan menolak sanjungan dan godaan dari mereka yang berkuasa, maka kita akan menjadi generasi fajar baru. Maria, Bintang Pagi, akan selalu berjalan di depan kita! Dalam Putranya kita akan merenungkan dan melayani umat manusia yang luar biasa, yang diubah rupa bukan oleh khayalan Yang Mahakuasa, tetapi oleh Allah yang menjadi manusia karena kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.