Bacaan
Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat.
2:1-12.
Saudara-saudari
terkasih,
Bacaan
Injil (bdk. Mat 2:1-12) menggambarkan kepada kita sukacita besar yang dialami
orang-orang Majus ketika mereka melihat bintang itu sekali lagi (bdk. ayat 10),
dan pada saat yang sama bagaimana Herodes dan seluruh Yerusalem terkejut karena
pencarian orang-orang Majus tersebut (bdk. ayat 3). Sesungguhnya, setiap kali
Kitab Suci berbicara tentang Allah yang menyatakan diri-Nya, Kitab Suci tidak
menyembunyikan reaksi yang kontras, seperti sukacita dan keterkejutan,
penolakan dan ketaatan, ketakutan dan kerinduan. Hari ini kita merayakan Hari
Raya Penampakan Tuhan, menyadari bahwa di hadirat-Nya tidak ada yang tetap
sama. Ini menandai awal pengharapan, karena Allah menyatakan diri-Nya dan tidak
ada yang tetap tidak berubah. Kehadiran-Nya mengakhiri jenis kepuasan
melankolis yang menyebabkan orang-orang tanpa henti berkata, “Tak ada sesuatu
yang baru di bawah matahari” (Pkh 1:9). Sesuatu yang menentukan masa kini dan
masa depan baru dimulai, sebagaimana diberitakan Nabi Yesaya: “Bangkitlah,
menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu”
(60:1).
Yerusalem,
kota yang telah menyaksikan banyak permulaan baru, dilanda masalah, sungguh
mengejutkan. Di dalam kota itu, mereka yang mempelajari Kitab Suci dan mengira
mereka memiliki semua jawaban tampaknya telah kehilangan kemampuan untuk
mengajukan pertanyaan dan memupuk rasa rindu. Sesungguhnya, kota itu takut
kepada mereka yang, tergerak oleh pengharapan, datang dari jauh; kota itu
tampak terancam oleh apa yang seharusnya membawa sukacita besar. Reaksi ini juga
menantang kita sebagai Gereja.
Pintu
Suci Basilika ini, yang hari ini merupakan pintu terakhir yang ditutup, telah
menyaksikan aliran tak terhitung banyaknya pria dan wanita, para peziarah
pengharapan, yang melakukan perjalanan menuju Yerusalem baru, kota yang
pintunya selalu terbuka (bdk. Why 21:25). Siapakah pria dan wanita ini, dan apa
yang memotivasi mereka? Di akhir tahun Yubileum ini, pencarian spiritual
orang-orang sezaman kita, yang jauh lebih kaya daripada yang mungkin dapat kita
pahami, mengundang kita untuk melakukan refleksi yang sungguh-sungguh. Jutaan
dari mereka telah melewati ambang pintu Gereja. Apa yang mereka temukan? Apa
yang ada di hati mereka, pertanyaan mereka, perasaan mereka? Ya, orang-orang
Majus masih ada hingga hari ini. Mereka adalah orang-orang yang merasakan
kebutuhan untuk pergi mencari, menerima risiko yang terkait dengan perjalanan
mereka, terutama di dunia yang penuh masalah seperti kita saat ini yang mungkin
tidak menyenangkan dan berbahaya dalam banyak hal.
Orang-orang
zaman dahulu menyebutnya homo viator, dan memang seluruh hidup kita adalah
sebuah perjalanan. Bacaan Injil menantang Gereja untuk tidak takut akan
fenomena ini, tetapi menghargainya, dan mengarahkannya kepada Allah yang
menopang kita. Dia adalah Allah yang dapat mengguncang kita karena Dia tidak
tetap berada di tangan kita seperti berhala-berhala perak dan emas; sebaliknya,
Dia hidup dan memberi kehidupan, seperti Bayi yang dipeluk Maria dan disembah
oleh orang-orang Majus. Tempat-tempat suci seperti katedral, basilika, dan gua
Maria, yang telah menjadi tujuan ziarah Yubileum, harus menyebarkan aroma
kehidupan, kesadaran yang tak terlupakan bahwa dunia lain telah dimulai.
Marilah
kita bertanya pada diri sendiri: adakah kehidupan dalam Gereja kita? Adakah
ruang bagi lahirnya sesuatu yang baru? Apakah kita mengasihi dan mewartakan
Allah yang menuntun kita dalam sebuah perjalanan?
Dalam
Bacaan Injil, Herodes takut akan takhtanya dan terkejut akan hal-hal yang
menurutnya di luar kendalinya. Ia mencoba memanfaatkan keinginan orang-orang
Majus dengan memanipulasi pencarian mereka. Ia siap berbohong, ia bersedia
melakukan apa saja. Ketakutan memang membutakan kita. Sebaliknya, sukacita
Injil membebaskan kita. Sukacita Injil membuat kita bijaksana, ya, tetapi juga
berani, penuh perhatian, dan kreatif; sukacita Injil mengajak kita menempuh
jalan yang berbeda dari jalan yang telah kita lalui.
Orang-orang
Majus membawa pertanyaan sederhana dan penting ke Yerusalem: “Di manakah Dia
yang baru dilahirkan itu?” (Mat 2:2). Betapa pentingnya bagi mereka yang
melewati pintu Gereja untuk menyadari bahwa Mesias baru dilahirkan, sebuah
komunitas berkumpul di mana pengharapan muncul, dan sebuah kisah kehidupan
sedang terungkap! Yubileum mengingatkan kita bahwa kita dapat memulai kembali,
bahkan, kita masih di awal dan Tuhan ingin kehadiran-Nya tumbuh di antara kita
sebagai Allah yang menyertai kita. Ya, Allah menantang tatanan yang ada, karena
Dia memiliki rencana yang menginspirasi para nabi-Nya bahkan hingga hari ini.
Allah bertekad untuk menyelamatkan kita dari bentuk-bentuk perbudakan lama dan
baru. Dia melibatkan orang muda dan orang tua, orang miskin dan orang kaya,
laki-laki dan perempuan, orang kudus dan orang berdosa dalam karya belas
kasih-Nya, dan dalam keajaiban keadilan-Nya. Meskipun Tuhan melakukannya dengan
tenang, Dia telah membuat Kerajaan-Nya tumbuh di mana-mana di dunia.
Betapa
banyak pencerahan yang telah diberikan kepada kita dan betapa banyak lagi yang
dapat diberikan kepada kita! Namun, pencerahan itu harus menjauhkan kita dari
niat Herodes, dari ketakutan yang selalu siap berubah menjadi agresi. “Sejak
tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserbu dan orang
yang menyerbunya mencoba merebutnya” (Mat 11:12). Ungkapan misterius Yesus ini,
yang dilaporkan dalam Injil Matius, mau tidak mau membuat kita berpikir tentang
banyak konflik yang digunakan manusia untuk melawan dan bahkan merusak hal-hal
baru yang telah disiapkan Allah untuk semua orang. Mencintai dan mengupayakan
perdamaian berarti melindungi apa yang kudus dan, akibatnya, apa yang baru
lahir seperti bayi kecil yang rentan dan rapuh. Di sekitar kita, ekonomi yang
menyimpang mencoba mengambil keuntungan dari segala sesuatu. Kita melihat
bagaimana pasar dapat mengubah kerinduan manusia untuk mencari, bepergian, dan
memulai kembali menjadi sekadar bisnis. Marilah kita bertanya pada diri kita
sendiri: apakah Yubileum telah mengajarkan kita untuk menjauhi jenis efisiensi
ini yang mereduksi segala sesuatu menjadi produk dan manusia menjadi konsumen?
Setelah tahun ini, akankah kita lebih mampu mengenali seorang peziarah dalam
diri pengunjung, seorang pencari dalam diri orang asing, seorang sesama dalam
diri orang asing, dan sesama pengembara dalam diri orang-orang yang berbeda?
Cara
Yesus bertemu dan membiarkan diri-Nya didekati oleh semua orang mengajarkan
kita untuk menghargai rahasia hati, yang hanya Dia yang dapat membacanya.
Bersama-Nya, kita belajar untuk menyambut tanda-tanda zaman (bdk. Konsili
Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini,
Gaudium et Spes, 4). Tidak seorang pun dapat menjual hal ini kepada kita. Anak
yang disembah oleh orang-orang Majus adalah sang Kebaikan yang tak ternilai dan
tak terukur. Penampakan Tuhan dari sebuah karunia. Penampakan Tuhan tidak
terjadi di tempat yang bergengsi, tetapi di tempat yang sederhana. “Dan engkau
Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara
para pemimpin Yehuda” (Mat 2:6). Berapa banyak kota, berapa banyak komunitas
yang perlu mendengar dikatakan, “Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil.”
Ya, Tuhan masih mengejutkan kita! Ia menyatakan diri-Nya dan membiarkan
diri-Nya ditemukan. Jalan-Nya bukanlah jalan kita, dan orang-orang yang kejam
tidak berhasil mengendalikannya, demikian pula kekuatan dunia tidak dapat
menghalanginya. Inilah sukacita besar orang-orang Majus, yang meninggalkan
istana dan bait suci untuk berangkat ke Betlehem; hanya pada saat itulah mereka
melihat bintang itu sekali lagi!
Oleh
karena itu, saudara-saudari terkasih, menjadi peziarah pengharapan sungguh luar
biasa. Kita bersama-sama terus menjadi peziarah sungguh luar biasa! Kesetiaan
Allah terus membuat kita takjub. Jika kita tidak mereduksi gereja-gereja kita
menjadi monumen, jika komunitas kita menjadi rumah, jika kita bersatu dan
menolak sanjungan dan godaan dari mereka yang berkuasa, maka kita akan menjadi
generasi fajar baru. Maria, Bintang Pagi, akan selalu berjalan di depan kita!
Dalam Putranya kita akan merenungkan dan melayani umat manusia yang luar biasa,
yang diubah rupa bukan oleh khayalan Yang Mahakuasa, tetapi oleh Allah yang
menjadi manusia karena kasih.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2026)


Print this page
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.