Bacaan
Ekaristi : Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1:1-18.
Saudara-saudari
terkasih,
“Bergembiralah,
bersorak-sorailah!” (Yes 52:9), utusan perdamaian berseru kepada orang-orang
yang berdiri di tengah reruntuhan kota yang sangat membutuhkan pembangunan
kembali. Meskipun berdebu dan terluka, betapa indahnya langkah mereka, tulis
Nabi Yesaya (bdk. Yes. 52:7), karena di sepanjang jalan yang terjal dan
melelahkan, langkah mereka telah membawa kabar gembira yang melahirkan kembali
segalanya. Hari baru telah tiba! Kita pun merupakan bagian dari permulaan baru
ini, meskipun hanya sedikit yang mempercayainya: damai itu nyata, dan sudah ada
di antara kita.
“Damai
sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku
memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi” (Yoh 14:27). Yesus berbicara
demikian kepada para murid, yang kakinya baru saja Ia basuh. Mereka akan
menjadi pembawa pesan damai sejahtera, diutus untuk melakukan perjalanan tanpa
lelah ke seluruh dunia untuk menyatakan kepada semua orang “hak supaya menjadi
anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Oleh karena itu, hari ini kita tidak hanya
terkejut dengan damai sejahtera yang sudah ada di sini; kita juga merayakan
cara pemberian anugerah ini kepada kita. Dalam “bagaimana” ini, sesungguhnya,
bersinar perbedaan ilahi yang menyebabkan kita melantunkan nyanyian sukacita.
Karena alasan inilah, di seluruh dunia, Natal adalah perayaan musik dan
nyanyian yang tiada bandingnya.
Prolog
Injil keempat itu sendiri adalah sebuah madah, dengan Sabda Allah sebagai
pelaku utamanya. “Sabda” adalah sabda yang bertindak. Inilah ciri khas Sabda
Allah: tidak pernah tanpa dampak. Memang, banyak kata-kata kita juga memiliki
dampak, terkadang tanpa disengaja. Ya, kata-kata “bertindak.” Namun, inilah
kejutan yang disajikan liturgi Natal kepada kita: Sabda Allah tampak tetapi
tidak dapat berbicara. Ia datang kepada kita sebagai bayi yang baru lahir yang
hanya dapat menangis dan mengoceh. “Sabda itu telah menjadi daging” (Yoh 1:14).
Meskipun Ia akan tumbuh dan suatu hari nanti mempelajari bahasa umat-Nya, untuk
saat ini Ia hanya berbicara melalui kehadiran-Nya yang sederhana dan rapuh.
“Daging” adalah ketelanjangan radikal yang, di Betlehem seperti di Kalvari,
tetap ada bahkan tanpa kata-kata – sama seperti begitu banyak saudara dan
saudari, yang dilucuti martabatnya dan dibungkam, tidak memiliki kata-kata hari
ini. Daging manusia meminta perhatian; ia memohon sambutan dan pengakuan; ia mencari
tangan yang mampu menunjukkan kelembutan dan pikiran yang mau mendengarkan; ia
merindukan kata-kata kebaikan.
“Ia
datang kepada milik-Nya sendiri, tetapi orang-orang milik-Nya, tetapi
orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun, semua orang yang
menerima-Nya diberi-Nya hak supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang
percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:11-12). Inilah cara paradoks di mana damai
sejahtera sudah ada di antara kita: anugerah Allah mengundang kita masuk;
anugerah itu berusaha untuk diterima dan, pada gilirannya, menginspirasi
penyerahan diri kita. Allah mengejutkan kita karena Ia membiarkan diri-Nya
terbuka terhadap penolakan. Ia juga memikat kita karena Ia menarik kita menjauh
dari ketidakpedulian. Menjadi anak-anak Allah adalah kekuatan sejati – kekuatan
yang tetap terpendam selama kita menjaga jarak dari tangisan anak-anak dan
kerapuhan orang tua, keheningan tak berdaya para korban dan kemurungan pasrah
orang-orang yang melakukan kejahatan yang tidak mereka inginkan.
Untuk
mengingatkan kita akan sukacita Injil, Paus Fransiskus yang kita kasihi
menulis: “Kadang-kadang kita tergoda untuk menjadi orang Kristiani yang terus
menerus menatap luka Yesus di sekujur tubuh-Nya dari jarak tertentu. Padahal
Yesus ingin supaya kita menyentuh penderitaan manusia dan menyentuh daging
sesama yang menderita. Yesus mengharapkan kita supaya menghentikan upaya
sekadar mencari tempat nyaman baik untuk pribadi maupun untuk bersama, yang
memungkinkan kita tetap berada pada jarak tertentu dari simpul kacau balaunya
kemalangan manusia. Padahal, kita diharapkan masuk ke dalam kenyataan kehidupan
konkret sesama dan mengenal kekuatan dari kelemahlembutan” (Evangelii Gaudium,
270).
Saudara-saudari
terkasih, sejak Sabda menjadi daging, kemanusiaan kini berbicara, berseru
dengan keinginan Allah sendiri untuk berjumpa kita. Sabda telah mendirikan
kemah-Nya yang rapuh di antara kita. Lalu, bagaimana mungkin kita tidak
memikirkan kemah-kemah di Gaza, yang selama berminggu-minggu terpapar hujan,
angin, dan dingin; dan kemah-kemah pengungsi dan orang-orang yang terlantar
lainnya di setiap benua; atau tempat-tempat penampungan sementara ribuan orang
tunawisma di kota-kota kita sendiri? Rapuh adalah daging penduduk yang tak
berdaya, yang telah dicobai oleh begitu banyak perang, yang sedang berlangsung
atau telah berakhir, meninggalkan puing dan luka menganga. Rapuh adalah pikiran
dan kehidupan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata, yang di garis depan
merasakan kesia-siaan dari apa yang diminta dari mereka dan kebohongan yang
memenuhi pidato-pidato sombong dari orang-orang yang mengirim mereka menuju
kematian.
Ketika
kerapuhan sesama menembus hati kita, ketika penderitaan mereka menghancurkan
kepastian kita yang kaku, maka damai sejahtera telah dimulai. Damai sejahtera
Allah lahir dari tangisan bayi yang baru lahir yang disambut, dari tangisan
yang didengar. Ia lahir di tengah reruntuhan yang menyerukan bentuk-bentuk
solidaritas baru. Ia lahir dari mimpi dan visi yang, seperti nubuat,
membalikkan jalannya sejarah. Ya, semua ini ada, karena Yesus adalah Logos,
Makna, dari mana segala sesuatu telah terbentuk. “Segala sesuatu dijadikan
melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala
sesuatu yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Misteri ini berbicara kepada kita dari
panggung kelahiran Yesus yang telah kita dirikan; ia membuka mata kita kepada
sebuah dunia di mana Sabda masih bergema, “beruang kali dan dengan berbagai
cara” (bdk. Ibr 1:1), dan masih memanggil kita untuk bertobat.
Tentu
saja, Injil tidak menyembunyikan perlawanan kegelapan terhadap terang. Injil
menggambarkan jalan Sabda Allah sebagai jalan yang terjal, penuh rintangan.
Hingga hari ini, para pembawa pesan damai sejahtera yang sejati mengikuti Sabda
di sepanjang jalan ini, yang pada akhirnya menjangkau hati — hati yang gelisah
yang sering kali menginginkan hal yang justru bertentangan. Dengan cara ini,
Natal memberikan dorongan baru kepada Gereja misioner, mendorongnya ke jalan
yang telah digariskan oleh Sabda Allah baginya. Kita tidak melayani Sabda yang
mendominasi — terlalu banyak Sabda seperti itu yang sudah bergema di mana-mana
— melainkan kehadiran yang menginspirasi kebaikan, mengetahui kemanjurannya,
dan tidak mengklaim monopoli atasnya.
Inilah
jalan misi: jalan menuju sesama. Dalam Allah, setiap kata adalah kata yang
ditujukan; undangan untuk percakapan, kata yang tidak pernah tertutup pada
dirinya sendiri. Inilah pembaharuan yang dipromosikan oleh Konsili Vatikan II,
yang hanya akan berbuah jika kita berjalan bersama dengan segenap umat manusia,
tanpa pernah memisahkan diri darinya. Kebalikannya adalah keduniawian:
menempatkan diri sendiri di pusat. Gerakan Inkarnasi adalah dinamika
percakapan. Akan ada damai sejahtera ketika monolog kita terputus dan,
diperkaya oleh pendengaran, kita berlutut di hadapan kemanusiaan sesama kita.
Dalam hal ini, Perawan Maria adalah Bunda Gereja, Bintang Evangelisasi, Ratu
Perdamaian. Di dalam dirinya, kita memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang
lahir dari unjuk kekuatan, dan segala sesuatu dilahirkan kembali dari kekuatan
diam dari kehidupan yang diterima.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)


Print this page
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.