Bacaan Ekaristi : Mal 3:1-4; Mzm 24:7.8.9.10; Luk 2:22-40.
Saudara-saudari
terkasih, hari ini, pada Pesta Yesus Dipersembahkan Di Bait Allah, Bacaan Injil
menceritakan bagaimana Simeon dan Hana mengenali dan memberitakan Yesus sebagai
Mesias di Bait Allah (bdk. Luk 2:22-40). Apa yang terungkap di hadapan kita
adalah pertemuan antara dua gerakan kasih: kasih Allah, yang datang untuk
menyelamatkan umat-Nya, dan kasih umat manusia, yang menantikan kedatangan-Nya
dengan iman yang teguh.
Dari
pihak Allah, fakta bahwa Yesus dipersembahkan sebagai anak dari keluarga miskin
di tengah kemegahan Yerusalem menunjukkan kepada kita bagaimana Ia menawarkan
diri-Nya kepada kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita, sepenuhnya
ambil bagian dalam kemiskinan kita. Tidak ada paksaan dalam tindakan-Nya; hanya
ada kekuatan yang melucuti senjata dari kemurahan hati-Nya yang tanpa senjata.
Di sisi lain, pengharapan umat manusia — khususnya umat Israel — menemukan
ungkapan penuh dalam diri dua orang lanjut usia: Simeon dan Hana. Momen ini mewakili
puncak dari sejarah panjang keselamatan yang membentang dari Taman Firdaus
hingga pelataran Bait Allah — sebuah sejarah yang ditandai oleh terang dan
gelap, kegagalan dan pembaharuan, namun selalu didorong oleh satu keinginan
vital: untuk memulihkan persekutuan penuh antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.
Dan demikianlah, hanya beberapa langkah dari "Tempat Mahakudus," Sang
Air Mancur Cahaya menawarkan diri-Nya sebagai lentera bagi dunia, dan Yang Tak
Terbatas memberikan diri-Nya kepada yang terbatas dengan cara yang sangat
rendah hati sehingga hampir tak disadari.
Hari
ini kita merayakan Hari Hidup Bakti Sedunia ke-30 dengan mengingat adegan ini,
mengakuinya sebagai gambaran perutusan para pelaku hidup bakti di dalam Gereja
dan dunia. Paus Fransiskus mendesaknya, “‘Bangkitkanlah dunia,’ karena tanda
khas kehidupan kaum hidup bakti adalah nubuat” (Surat Apostolik kepada Para
Pelaku Hidup Bakti, 21 November 2014, II, 2). Saudara-saudari terkasih, Gereja
memintamu untuk menjadi nabi — utusan yang mewartakan kehadiran Tuhan dan
mempersiapkan jalan bagi-Nya. Dengan meminjam ungkapan Nabi Maleakhi, yang kita
dengar dalam Bacaan Pertama, kamu diundang untuk menjadi, melalui “pengosongan”
diri sepenuhnya bagi Tuhan, perbaraan api pemurni dan bejana sabun penatu (bdk.
Mal 3:1-3). Melalui persembahan ini, Kristus — satu-satunya utusan abadi
perjanjian, yang tetap hadir di antara umat manusia hari ini — dapat melunakkan
dan menyucikan hati dengan kasih, rahmat, dan belas kasihan-Nya. Kamu dipanggil
untuk perutusan ini terutama melalui pengurbanan hidupmu, yang berakar pada doa
dan kesediaan untuk menghabiskan diri demi karya kegiatan (bdk. Konstitusi
Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 44).
Para
pendiri tarekatmu, yang taat pada tindakan Roh Kudus, menawarkan kepadamu
teladan yang luar biasa tentang bagaimana memenuhi amanat ini dengan setia dan
efektif. Hidup dalam ketegangan yang terus menerus antara bumi dan surga,
mereka membiarkan diri mereka dibimbing dengan iman dan keberanian. Berangkat
dari meja Ekaristi, sebagian dari mereka dibawa ke keheningan biara, sebagian
lainnya ke tuntutan kerasulan; sebagian ke ruang kelas sekolah, sebagian
lainnya ke kemiskinan jalanan atau jerih payah perutusan. Iman ini juga yang
mendorong mereka untuk kembali, berulang kali, dengan rendah hati dan
bijaksana, ke kaki Salib dan Tabernakel, di mana mereka mempersembahkan
segalanya dan menemukan dalam Allah baik sumber maupun tujuan dari semua
tindakan mereka. Melalui kuasa rahmat, mereka juga memulai usaha-usaha yang
berbahaya. Mereka menjadi kehadiran yang penuh doa di lingkungan yang
bermusuhan atau acuh tak acuh; tangan yang murah hati dan bahu yang ramah di
tengah kemerosotan dan pengabaian; dan saksi perdamaian dan rekonsiliasi dalam
situasi yang ditandai dengan kekerasan dan kebencian. Mereka siap menanggung
konsekuensi melawan arus, menjadi, di dalam Kristus, sebuah "tanda yang
menimbulkan perbantahan" (Luk 2:34), bahkan kadang-kadang sampai pada
titik kemartiran.
Paus Benediktus XVI menulis bahwa “penafsiran Kitab Suci akan tetap tidak lengkap jika tidak mencakup mendengarkan mereka yang benar-benar menghidupi sabda Allah” (Seruan Apostolik Pascasinodal Verbum Domini, 48). Hari ini, kita menghormati saudara-saudari kita yang telah mendahului kita sebagai pelaku utama “tradisi kenabian ini, di mana sabda Allah menempatkan kehidupan kenabian itu sendiri untuk melayaninya” (idem, 49). Kita melakukannya terutama dengan meneruskan warisan mereka.
Bahkan
hari ini, melalui pengakuanmu akan nasihat-nasihat Injil dan banyak karya kegiatan
yang kamu lakukan, kamu dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kehadiran
penyelamatan Allah dalam sejarah bagi semua bangsa (bdk. Luk 2:30-31), bahkan
dalam masyarakat di mana pemahaman yang salah dan mereduksi tentang pribadi
manusia semakin memperlebar jurang antara iman dan kehidupan. Kamu dipanggil
untuk bersaksi bahwa kaum muda, kaum tua, orang miskin, orang sakit, dan orang
yang dipenjara menduduki tempat suci terutama di altar Allah dan di dalam
hati-Nya. Pada saat yang sama, mereka masing-masing adalah tempat kudus
kehadiran Allah yang tak dapat diganggu gugat, yang di hadapan-Nya kita harus
berlutut, untuk berjumpa, menyembah, dan memuliakan-Nya.
Bukti
hal ini dapat dilihat dalam banyaknya “pos terdepan Injil” yang telah didirikan
oleh komunitasmu di berbagai konteks yang menantang, bahkan di tengah konflik.
Komunitas-komunitas ini tidak meninggalkan umat mereka, juga tidak melarikan
diri; mereka tetap tinggal, seringkali tanpa perlindungan sama sekali, sebagai
pengingat hidup — lebih mengesankan daripada kata-kata — tentang kesucian hidup
yang tak tergoyahkan dalam kondisi yang paling rentan. Bahkan di tempat di mana
senjata bergemuruh dan kesombongan, kepentingan diri sendiri, dan kekerasan
tampaknya berkuasa, kehadiran mereka menyatakan sabda Yesus: “Ingatlah, jangan
menganggap rendah salah seorang dari yang kecil ini. Sebab, Malaikat mereka di
surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10).
Dalam
terang ini, saya ingin merefleksikan doa Simeon yang sudah lanjut usia, yang
kita ucapkan setiap hari: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam
damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang
datang dari-Mu” (Luk 2:29-30). Kehidupan kaum hidup bakti, dalam ketenangan dan
keterpisahannya dari segala sesuatu yang fana, mengungkapkan ikatan yang tak
terpisahkan antara kepedulian yang tulus terhadap kenyataan duniawi dan
pengharapan yang dipenuhi kasih akan apa yang kekal — hal-hal baik yang telah
dipilih dalam hidup ini sebagai tujuan akhir dan definitif, dan dengan demikian
mampu memberi makna bagi segala sesuatu yang lainnya. Simeon mengenali
keselamatan dalam diri Yesus dan berdiri bebas di hadapan hidup dan mati.
Sebagai seorang yang “benar dan saleh” (Luk 2:25), bersama dengan Hana, yang
“tidak pernah meninggalkan Bait Allah” (ayat 37), ia tetap memusatkan
pandangannya pada janji dunia yang akan datang.
Konsili
Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Gereja baru mencapai kepenuhannya dalam
kemuliaan di surga ... bila bersama dengan umat manusia dunia semesta pun ...
akan diperbaharui secara sempurna dalam Kristus” (Lumen Gentium, 48). Visi
kenabian ini juga menyangkutmu: orang-orang yang teguh berakar pada kenyataan
masa kini, namun “selalu memperhatikan hal-hal yang di atas” (Misa Romawi, Doa
Kolekta untuk Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga). Kristus wafat
dan bangkit untuk “membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam
perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:15). Melalui komitmenmu untuk
mengikuti-Nya lebih dekat — turut serta dalam pengosongan diri-Nya dan dalam
hidup-Nya di dalam Roh (bdk. Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup
Religius Perfectae Caritatis, 5) — kamu dapat menunjukkan kepada dunia jalan
untuk mengatasi konflik, menabur persaudaraan melalui kebebasan orang-orang
yang mengasihi dan mengampuni tanpa batas.
Saudara-saudari
terkasih yang telah mengikrarkan kaul, hari ini Gereja mengucap syukur kepada
Tuhan dan kepadamu atas kehadiranmu. Gereja mendorongmu untuk menjadi ragi
perdamaian dan tanda pengharapan di mana pun penyelenggaraan ilahi menuntunmu.
Saat kita memperbarui persembahan hidup kita kepada Allah di atas altar, kita
mempercayakan karyamu kepada perantaraan Santa Maria, bersama dengan semua
pendiri tarekatmu yang kudus.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 3 Februari 2026)

Print this page