Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-30) 3 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Mal 3:1-4; Mzm 24:7.8.9.10; Luk 2:22-40.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini, pada Pesta Yesus Dipersembahkan Di Bait Allah, Bacaan Injil menceritakan bagaimana Simeon dan Hana mengenali dan memberitakan Yesus sebagai Mesias di Bait Allah (bdk. Luk 2:22-40). Apa yang terungkap di hadapan kita adalah pertemuan antara dua gerakan kasih: kasih Allah, yang datang untuk menyelamatkan umat-Nya, dan kasih umat manusia, yang menantikan kedatangan-Nya dengan iman yang teguh.

 

Dari pihak Allah, fakta bahwa Yesus dipersembahkan sebagai anak dari keluarga miskin di tengah kemegahan Yerusalem menunjukkan kepada kita bagaimana Ia menawarkan diri-Nya kepada kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita, sepenuhnya ambil bagian dalam kemiskinan kita. Tidak ada paksaan dalam tindakan-Nya; hanya ada kekuatan yang melucuti senjata dari kemurahan hati-Nya yang tanpa senjata. Di sisi lain, pengharapan umat manusia — khususnya umat Israel — menemukan ungkapan penuh dalam diri dua orang lanjut usia: Simeon dan Hana. Momen ini mewakili puncak dari sejarah panjang keselamatan yang membentang dari Taman Firdaus hingga pelataran Bait Allah — sebuah sejarah yang ditandai oleh terang dan gelap, kegagalan dan pembaharuan, namun selalu didorong oleh satu keinginan vital: untuk memulihkan persekutuan penuh antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Dan demikianlah, hanya beberapa langkah dari "Tempat Mahakudus," Sang Air Mancur Cahaya menawarkan diri-Nya sebagai lentera bagi dunia, dan Yang Tak Terbatas memberikan diri-Nya kepada yang terbatas dengan cara yang sangat rendah hati sehingga hampir tak disadari.

 

Hari ini kita merayakan Hari Hidup Bakti Sedunia ke-30 dengan mengingat adegan ini, mengakuinya sebagai gambaran perutusan para pelaku hidup bakti di dalam Gereja dan dunia. Paus Fransiskus mendesaknya, “‘Bangkitkanlah dunia,’ karena tanda khas kehidupan kaum hidup bakti adalah nubuat” (Surat Apostolik kepada Para Pelaku Hidup Bakti, 21 November 2014, II, 2). Saudara-saudari terkasih, Gereja memintamu untuk menjadi nabi — utusan yang mewartakan kehadiran Tuhan dan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Dengan meminjam ungkapan Nabi Maleakhi, yang kita dengar dalam Bacaan Pertama, kamu diundang untuk menjadi, melalui “pengosongan” diri sepenuhnya bagi Tuhan, perbaraan api pemurni dan bejana sabun penatu (bdk. Mal 3:1-3). Melalui persembahan ini, Kristus — satu-satunya utusan abadi perjanjian, yang tetap hadir di antara umat manusia hari ini — dapat melunakkan dan menyucikan hati dengan kasih, rahmat, dan belas kasihan-Nya. Kamu dipanggil untuk perutusan ini terutama melalui pengurbanan hidupmu, yang berakar pada doa dan kesediaan untuk menghabiskan diri demi karya kegiatan (bdk. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 44).

 

Para pendiri tarekatmu, yang taat pada tindakan Roh Kudus, menawarkan kepadamu teladan yang luar biasa tentang bagaimana memenuhi amanat ini dengan setia dan efektif. Hidup dalam ketegangan yang terus menerus antara bumi dan surga, mereka membiarkan diri mereka dibimbing dengan iman dan keberanian. Berangkat dari meja Ekaristi, sebagian dari mereka dibawa ke keheningan biara, sebagian lainnya ke tuntutan kerasulan; sebagian ke ruang kelas sekolah, sebagian lainnya ke kemiskinan jalanan atau jerih payah perutusan. Iman ini juga yang mendorong mereka untuk kembali, berulang kali, dengan rendah hati dan bijaksana, ke kaki Salib dan Tabernakel, di mana mereka mempersembahkan segalanya dan menemukan dalam Allah baik sumber maupun tujuan dari semua tindakan mereka. Melalui kuasa rahmat, mereka juga memulai usaha-usaha yang berbahaya. Mereka menjadi kehadiran yang penuh doa di lingkungan yang bermusuhan atau acuh tak acuh; tangan yang murah hati dan bahu yang ramah di tengah kemerosotan dan pengabaian; dan saksi perdamaian dan rekonsiliasi dalam situasi yang ditandai dengan kekerasan dan kebencian. Mereka siap menanggung konsekuensi melawan arus, menjadi, di dalam Kristus, sebuah "tanda yang menimbulkan perbantahan" (Luk 2:34), bahkan kadang-kadang sampai pada titik kemartiran.

 

Paus Benediktus XVI menulis bahwa “penafsiran Kitab Suci akan tetap tidak lengkap jika tidak mencakup mendengarkan mereka yang benar-benar menghidupi sabda Allah” (Seruan Apostolik Pascasinodal Verbum Domini, 48). Hari ini, kita menghormati saudara-saudari kita yang telah mendahului kita sebagai pelaku utama “tradisi kenabian ini, di mana sabda Allah menempatkan kehidupan kenabian itu sendiri untuk melayaninya” (idem, 49). Kita melakukannya terutama dengan meneruskan warisan mereka.



Bahkan hari ini, melalui pengakuanmu akan nasihat-nasihat Injil dan banyak karya kegiatan yang kamu lakukan, kamu dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kehadiran penyelamatan Allah dalam sejarah bagi semua bangsa (bdk. Luk 2:30-31), bahkan dalam masyarakat di mana pemahaman yang salah dan mereduksi tentang pribadi manusia semakin memperlebar jurang antara iman dan kehidupan. Kamu dipanggil untuk bersaksi bahwa kaum muda, kaum tua, orang miskin, orang sakit, dan orang yang dipenjara menduduki tempat suci terutama di altar Allah dan di dalam hati-Nya. Pada saat yang sama, mereka masing-masing adalah tempat kudus kehadiran Allah yang tak dapat diganggu gugat, yang di hadapan-Nya kita harus berlutut, untuk berjumpa, menyembah, dan memuliakan-Nya.

 

Bukti hal ini dapat dilihat dalam banyaknya “pos terdepan Injil” yang telah didirikan oleh komunitasmu di berbagai konteks yang menantang, bahkan di tengah konflik. Komunitas-komunitas ini tidak meninggalkan umat mereka, juga tidak melarikan diri; mereka tetap tinggal, seringkali tanpa perlindungan sama sekali, sebagai pengingat hidup — lebih mengesankan daripada kata-kata — tentang kesucian hidup yang tak tergoyahkan dalam kondisi yang paling rentan. Bahkan di tempat di mana senjata bergemuruh dan kesombongan, kepentingan diri sendiri, dan kekerasan tampaknya berkuasa, kehadiran mereka menyatakan sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari yang kecil ini. Sebab, Malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10).

 

Dalam terang ini, saya ingin merefleksikan doa Simeon yang sudah lanjut usia, yang kita ucapkan setiap hari: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu” (Luk 2:29-30). Kehidupan kaum hidup bakti, dalam ketenangan dan keterpisahannya dari segala sesuatu yang fana, mengungkapkan ikatan yang tak terpisahkan antara kepedulian yang tulus terhadap kenyataan duniawi dan pengharapan yang dipenuhi kasih akan apa yang kekal — hal-hal baik yang telah dipilih dalam hidup ini sebagai tujuan akhir dan definitif, dan dengan demikian mampu memberi makna bagi segala sesuatu yang lainnya. Simeon mengenali keselamatan dalam diri Yesus dan berdiri bebas di hadapan hidup dan mati. Sebagai seorang yang “benar dan saleh” (Luk 2:25), bersama dengan Hana, yang “tidak pernah meninggalkan Bait Allah” (ayat 37), ia tetap memusatkan pandangannya pada janji dunia yang akan datang.

 

Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Gereja baru mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga ... bila bersama dengan umat manusia dunia semesta pun ... akan diperbaharui secara sempurna dalam Kristus” (Lumen Gentium, 48). Visi kenabian ini juga menyangkutmu: orang-orang yang teguh berakar pada kenyataan masa kini, namun “selalu memperhatikan hal-hal yang di atas” (Misa Romawi, Doa Kolekta untuk Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga). Kristus wafat dan bangkit untuk “membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:15). Melalui komitmenmu untuk mengikuti-Nya lebih dekat — turut serta dalam pengosongan diri-Nya dan dalam hidup-Nya di dalam Roh (bdk. Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Perfectae Caritatis, 5) — kamu dapat menunjukkan kepada dunia jalan untuk mengatasi konflik, menabur persaudaraan melalui kebebasan orang-orang yang mengasihi dan mengampuni tanpa batas.

 

Saudara-saudari terkasih yang telah mengikrarkan kaul, hari ini Gereja mengucap syukur kepada Tuhan dan kepadamu atas kehadiranmu. Gereja mendorongmu untuk menjadi ragi perdamaian dan tanda pengharapan di mana pun penyelenggaraan ilahi menuntunmu. Saat kita memperbarui persembahan hidup kita kepada Allah di atas altar, kita mempercayakan karyamu kepada perantaraan Santa Maria, bersama dengan semua pendiri tarekatmu yang kudus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Februari 2026)