Bacaan
Liturgi : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.
Saudara-saudari
terkasih,
Kita
sekarang berada di ambang Trihari Suci. Sekali lagi, Tuhan akan menuntun kita
menuju puncak perutusan-Nya, sehingga penderitaan, kematian, dan
kebangkitan-Nya dapat menjadi pokok perutusan kita. Apa yang akan kita alami
kembali, sesungguhnya, memiliki kuasa untuk mengubah rupa apa yang cenderung
dikeraskan oleh kesombongan manusia: jati diri dan keberadaan kita di dunia.
Kebebasan Yesus mengubah hati, menyembuhkan luka, menyegarkan dan mencerahkan
wajah kita, mendamaikan dan mengumpulkan kita bersama, serta mengampuni dan
meninggikan kita.
Pada
tahun pertama saya memimpin Misa Krisma sebagai Uskup Roma, saya ingin
merefleksikan bersamamu perutusan yang merupakan panggilan kita sebagai umat
Allah. Panggilan kita adalah perutusan kristiani, sama seperti perutusan Yesus,
bukan yang lain. Kita masing-masing ambil bagian di dalamnya sesuai dengan
panggilan kita dalam ketaatan yang sangat pribadi kepada suara Roh, namun tidak
pernah tanpa orang lain, tidak pernah mengabaikan atau melanggar persekutuan!
Para uskup dan imam, saat kita memperbarui janji kita, kita berada dalam
pelayanan umat misioner. Bersama dengan semua orang yang telah dibaptis, kita
adalah tubuh Kristus, yang diurapi oleh Roh-Nya yang membebaskan dan menghibur,
Roh nubuat dan persatuan.
Apa yang
dialami Yesus pada saat-saat puncak perutusan-Nya diisyaratkan oleh perikop
dari kitab Nabi Yesaya, yang dikutip-Nya saat Ia berada di rumah ibadat di
Nazaret sebagai nas yang digenapi “hari ini” (bdk. Luk 4:21). Sesungguhnya,
pada saat Paskah, menjadi jelas bahwa Allah menguduskan untuk mengutus. “Ia
telah mengutus Aku” (Luk 4:18), kata Yesus, menggambarkan gerakan yang
mengikatkan tubuh-Nya kepada orang-orang miskin, orang-orang tawanan,
orang-orang yang meraba-raba dalam kegelapan dan yang tertindas. Kita, sebagai
anggota tubuh-Nya, berbicara tentang Gereja yang “apostolik,” diutus, didorong
melampaui dirinya sendiri, dan dikuduskan bagi Allah dalam pelayanan kepada
ciptaan-Nya. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh
20:21).
Kita tahu
bahwa diutus berarti, pertama dan terutama, ketidakterikatan, yaitu, risiko
meninggalkan apa yang sudah dikenal dan pasti, berani terjun ke dalam sesuatu
yang baru. Menariknya, “dalam kuasa Roh Kudus” (Luk 4:14), yang turun ke
atasnya setelah Ia dibaptis di Sungai Yordan, Yesus kembali ke Galilea dan
datang “ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan” (Luk 4:16). Tempat itulah yang
sekarang harus Ia tinggalkan. Ia pindah “menurut kebiasaan-Nya” (ayat 16),
bahkan mengantarkan era baru. Ia sekarang harus meninggalkan desa itu
selamanya, agar apa yang telah berakar di sana, Sabat demi Sabat, melalui
ketaatan mendengarkan sabda Allah, dapat berbuah. Demikian pula, Ia akan
mengajak orang lain untuk berangkat, mengambil risiko, agar tidak ada tempat
yang menjadi penjara, tidak ada jati diri yang menjadi tempat persembunyian.
Saudara-saudari
terkasih, kita mengikuti Yesus yang “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya” (Flp.
2:6-7). Setiap perutusan dimulai dengan pengosongan diri semacam itu di mana
segala sesuatu dilahirkan kembali. Martabat kita sebagai putra dan putri Allah
tidak dapat diambil dari kita, juga tidak dapat hilang, bahkan kasih sayang,
tempat, dan pengalaman di awal kehidupan kita pun tidak dapat dihapus. Kita
adalah ahli waris dari sangat banyak kebaikan dan, pada saat yang sama, dari
keterbatasan sejarah yang harus diterangi dan diselamatkan oleh Injil,
pengampunan dan penyembuhan. Dengan demikian, tidak ada perutusan tanpa
rekonsiliasi dengan masa lalu kita, dengan karunia dan keterbatasan pendidikan
yang telah kita terima; tetapi, pada saat yang sama, tidak ada kedamaian tanpa
memulai, tidak ada kesadaran tanpa ketidakterikatan, tidak ada sukacita tanpa
risiko. Kita adalah tubuh Kristus jika kita bergerak maju, berdamai dengan masa
lalu tanpa dipenjara olehnya: segala sesuatu dipulihkan dan dilipatgandakan
jika pertama-tama dilepaskan, tanpa rasa takut. Inilah rahasia dasariah
perutusan. Bukan sesuatu yang hanya dialami sekali, tetapi di setiap awal yang
baru, di setiap keberangkatan yang baru.
Perjalanan
Yesus mengungkapkan kepada kita bahwa kesediaan untuk kehilangan diri sendiri,
mengosongkan diri, bukanlah tujuan akhir, melainkan syarat untuk perjumpaan dan
keintiman. Kasih sungguh sejati ketika ia tidak dijaga; ia tidak membutuhkan
banyak keributan, tidak pamer, dan dengan lembut menghargai kelemahan dan
kerentanan. Kita berjuang untuk mengabdikan diri pada perutusan yang mengekspos
kita dengan cara ini, namun tidak ada "kabar baik bagi orang miskin"
(bdk. Luk 4:18) jika kita pergi kepada mereka dengan membawa tanda-tanda
kekuasaan, dan tidak ada pembebasan sejati jika kita tidak membebaskan diri
dari keterikatan. Di sini kita menyentuh rahasia kedua dari perutusan
kristiani. Hukum perjumpaan muncul setelah ketidakterikatan. Kita tahu bahwa sepanjang
sejarah, perutusan sering kali diselewengkan oleh keinginan untuk mendominasi,
yang sama sekali asing bagi jalan Yesus Kristus. Santo Yohanes Paulus II
mempunyai kejelasan dan keberanian untuk mengakui bahwa “karena ikatan yang
mempersatukan kita satu sama lain dalam Tubuh Mistik, kita semua, meskipun
tidak bertanggung jawab secara pribadi dan tanpa melanggar penghakiman Allah
yang mengetahui setiap hati, memikul beban kesalahan dan kekurangan orang-orang
yang telah mendahului kita.”[1]
Oleh
karena itu, mengingat bahwa baik dalam ranah pastoral maupun dalam ranah sosial
dan politik, kebaikan tidak akan datang dari penyalahgunaan kekuasaan, kini
menjadi prioritas. Para misionaris besar memberikan kesaksian tentang
pendekatan yang teduh dan tidak mencolok, yang metodenya adalah ambil bagian
kehidupan, pelayanan tanpa pamrih, penolakan terhadap strategi, dialog, dan
rasa hormat yang berpamrih. Itulah jalan inkarnasi, yang selalu mengambil
bentuk inkulturasi. Keselamatan, pada kenyataannya, hanya dapat diterima oleh
setiap orang melalui bahasa ibunya masing-masing. “Bagaimana mungkin kita
masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri?” (Kis.
2:8). Kejutan Pentakosta terulang kembali ketika kita tidak menganggap diri
kita mampu mengendalikan waktu Allah, tetapi menaruh kepercayaan kita pada Roh
Kudus, yang “hadir, bahkan hari ini, seperti pada zaman Yesus dan para Rasul:
hadir dan bekerja, datang sebelum kita, bekerja lebih keras dan lebih baik
daripada kita; bukan tugas kita untuk menabur atau membangkitkan Dia, tetapi
pertama dan terutama untuk mengenali Dia, menyambut Dia, berjalan bersama Dia,
membuka jalan bagi Dia, dan mengikuti Dia. Ia hadir dan tidak pernah kehilangan
semangat mengenai zaman kita; sebaliknya, Ia tersenyum, menari, menembus,
meliputi, menyelimuti, dan menjangkau bahkan ke tempat yang tidak pernah kita
bayangkan.”[2]
Untuk
membangun keselarasan dengan yang transenden ini, kita harus pergi ke tempat
kita diutus dengan kesederhanaan, menghormati misteri yang dibawa oleh setiap
orang dan setiap komunitas di dalam diri mereka. Sebagai umat Kristiani, kita
adalah tamu. Hal ini juga berlaku jika kita adalah uskup, imam, atau biarawan
dan biarawati. Untuk menjadi tuan rumah, sebenarnya, kita sendiri harus belajar
menjadi tamu. Bahkan tempat-tempat di mana sekularisasi tampak paling
berkembang bukanlah tanah yang harus ditaklukkan atau direbut kembali:
“Budaya-budaya baru senantiasa lahir dalam wilayah kediaman manusia yang sangat
besar ini di mana umat Kristiani biasanya tak lagi menjadi penafsir atau
pembangkit makna. Sebaliknya, mereka menerima dari budaya-budaya ini bahasa-bahasa,
simbol-simbol, pesan-pesan dan paradigma-paradigma baru yang mengajukan
pendekatan-pendekatan baru akan kehidupan, pendekatan-pendekatan yang
seringkali berlawanan dengan Injil Yesus … Evangelisasi ini harus menjangkau
tempat-tempat di mana narasi-narasi dan paradigma-paradigma baru sedang
dibentuk, dengan membawa sabda Yesus kepada relung terdalam jiwa-jiwa di
kota-kota kita.”[3]
Hal ini hanya terjadi jika kita berjalan bersama sebagai Gereja, jika perutusan
bukanlah petualangan heroik yang diperuntukkan bagi sedikit orang, tetapi
kesaksian hidup dari satu Tubuh dengan banyak anggota.
Ada juga
dimensi ketiga, mungkin yang paling radikal, dari perutusan kristiani.
Kemungkinan dramatis kesalahpahaman dan penolakan, yang sudah terlihat dalam
reaksi keras penduduk Nazaret terhadap perkataan Yesus. “Mendengar hal itu
semua orang di rumah ibadat itu sangat marah. Mereka bangkit, lalu menghalau
Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak,
untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk. 4:28-29). Meskipun bacaan liturgi
telah menghilangkan bagian ini, apa yang akan kita rayakan malam ini mengajak
kita untuk tidak melarikan diri, tetapi “melewati” pencobaan itu, seperti yang
dilakukan Yesus. Yesus “lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:30).
Salib adalah bagian dari perutusan: pengutusan menjadi lebih pahit dan
menakutkan, tetapi juga lebih membebaskan dan mengubah rupa. Pendudukan
imperialis atas dunia dengan demikian terganggu dari dalam; kekerasan yang
sampai sekarang menjadi hukum terungkap. Mesias yang miskin, dipenjara, dan
ditolak itu turun ke dalam kegelapan kematian, namun dengan demikian Ia membawa
ciptaan baru menuju terang.
Betapa
banyak panggilan “kebangkitan” yang harus kita alami ketika, bebas dari sikap
defensif, kita membenamkan diri dalam pelayanan seperti benih di dalam bumi!
Dalam kehidupan, kita mungkin menghadapi situasi di mana semuanya tampak telah
berakhir. Kemudian kita bertanya pada diri sendiri apakah perutusan kita
sia-sia. Meskipun benar bahwa, tidak seperti Yesus, kita juga mengalami
kegagalan yang berasal dari kekurangan kita sendiri atau orang lain, seringkali
dari jalinan tanggung jawab yang rumit antara terang dan gelap, kita dapat
menjadikan pengharapan banyak saksi sebagai pengharapan kita. Saya ingat
seseorang yang sangat saya sayangi. Sebulan sebelum kematiannya, dalam buku
catatan Latihan Rohani-nya, Uskup Óscar Romero yang kudus menulis,
‘Nuncio di Kosta Rika telah memperingatkan saya tentang bahaya yang akan segera
terjadi pekan ini… Keadaan yang tak terduga ini akan dihadapi dengan rahmat
Allah. Yesus Kristus menolong para martir dan, jika perlu, aku akan merasakan
Dia sangat dekat ketika aku mempercayakan napas terakhirku kepada-Nya.’ Namun,
lebih dari saat-saat terakhir kehidupan, yang terpenting adalah memberikan
seluruh hidup kita kepada-Nya dan hidup untuk-Nya… Cukuplah bagiku, berbahagia dan
percaya diri, mengetahui dengan pasti bahwa di dalam Dia ada kehidupan dan
kematianku; bahwa, meskipun aku berdosa, aku telah menaruh kepercayaanku
kepada-Nya dan tidak akan berkecil hati, karena orang lain akan melanjutkan,
dengan kebijaksanaan dan kekudusan yang lebih besar, karya untuk Gereja dan
tanah air.”
Saudara-saudari
terkasih, para kudus menciptakan sejarah. Inilah pesan Kitab Wahyu: “Anugerah
dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan sudah ada dan yang
akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya” (Why. 1:4).
Salam ini merangkum perjalanan Yesus di dunia yang terkoyak oleh
kekuatan-kekuatan yang menghancurkannya. Di dalamnya muncul umat baru, bukan
korban, tetapi saksi. Di saat-saat gelap sejarah ini, Allah berkenan mengutus
kita untuk menyebarkan keharuman Kristus di tempat di mana bau kematian
berkuasa. Marilah kita memperbarui “ya” kita terhadap perutusan ini yang
menyerukan persatuan dan membawa kedamaian. Ya, kita di sini! Marilah kita
mengatasi rasa ketidakberdayaan dan ketakutan! Kami mewartakan wafat-Mu, ya Tuhan,
dan kami mewartakan kebangkitan-Mu, seraya menantikan kedatangan-Mu.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2026)

Print this page