Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION VÉLODROME, MARSEILLE (PRANCIS) 23 September 2023 : LONJAKAN IMAN

Bacaan Ekaristi : 2 Sam 6:1-15; Luk 1:39-45.

 

Kitab Suci memberitahu kita bahwa, setelah mendirikan kerajaannya, Raja Daud memutuskan untuk mengangkut Tabut Perjanjian ke Yerusalem. Setelah memanggil orang-orang, ia bangkit dan berangkat membawa Tabut Perjanjian; dalam perjalanan, ia dan orang-orang menari-nari di depannya, bersukacita di hadapan Tuhan (bdk. 2 Sam 6:1-15). Dengan latar belakang adegan inilah penginjil Lukas menceritakan kunjungan Maria kepada sanaknya Elisabet. Maria juga bangkit dan berangkat ke wilayah Yerusalem, dan ketika ia memasuki rumah Elisabet, anak yang dikandungnya, menyadari kedatangan Mesias, melonjak kegirangan dan mulai menari-nari seperti yang dilakukan Daud di depan Tabut Perjanjian (bdk. Luk 1:39-45).

 

Kemudian Maria ditampilkan sebagai Tabut Perjanjian yang sesungguhnya, yang memperkenalkan Tuhan yang menjelma ke dalam dunia. Ia adalah Perawan muda yang pergi menemui perempuan tua yang mandul dan, dengan membawa Yesus, menjadi tanda kunjungan Tuhan yang mengatasi segala kemandulan. Ia adalah Bunda yang pergi ke pegunungan Yehuda, untuk memberitahu kita bahwa Tuhan sedang mencari kita dengan kasih-Nya, sehingga kita dapat kegirangan dengan penuh sukacita. Allahlah yang sedang berangkat!

 

Dalam diri kedua perempuan ini, Maria dan Elisabet, kunjungan Tuhan kepada umat manusia terungkap. Yang satu muda dan yang satu lagi tua, yang satu masih perawan dan yang satu lagi mandul, namun keduanya mengandung dengan cara yang “mustahil”. Inilah karya Allah dalam kehidupan kita; Ia membuat mungkin bahkan apa yang tampak mustahil, Ia menghasilkan kehidupan bahkan di tengah kemandulan.

 

Saudara-saudari, marilah kita bertanya pada diri kita dengan jujur, dari hati: Percayakah kita bahwa Allah sedang bekerja dalam kehidupan kita? Apakah kita percaya bahwa Allah, dengan cara yang tersembunyi dan seringkali tidak dapat diduga, bertindak dalam sejarah, mempertunjukkan keheranan, dan sedang bekerja bahkan dalam masyarakat kita yang ditandai oleh sekularisme duniawi dan ketidakpedulian terhadap agama tertentu?

 

Ada cara untuk membedakan apakah kita mempunyai kepercayaan kepada Tuhan atau tidak. Apa caranya? Bacaan Injil mengatakan bahwa “ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (ayat 41). Ini tandanya: melonjak kegirangan. Siapa pun yang percaya, siapa pun yang berdoa, siapa pun yang menyambut Tuhan akan melonjak dalam Roh, dan merasakan ada sesuatu yang sedang bergerak di dalam batinnya, dan “menari-nari” dengan penuh sukacita. Saya ingin membahas hal ini : lonjakan iman.

 

Pengalaman iman, yang pertama dan terutama, menimbulkan suatu lonjakan tertentu dalam menghadapi kehidupan. Melonjak berarti “menyentuh batin”, merasakan getaran batin, merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam hati kita. Hal ini kebalikan dari hati yang datar dan dingin, terbiasa hidup tenang, terbungkus dalam ketidakpedulian dan menjadi kedap air. Hati yang demikian menjadi mengeras dan tidak peka terhadap segala hal dan siapa pun, bahkan terhadap tragisnya pencampakkan kehidupan manusia, yang saat ini terlihat dalam penolakan terhadap banyak imigran, terhadap banyak sekali anak-anak yang masih dalam kandungan, dan orang-orang lanjut usia yang terlantar. Hati yang dingin dan datar menyeret kehidupan secara mekanis, tanpa nafsu, tanpa dorongan, tanpa hasrat. Dalam masyarakat Eropa, kita bisa menjadi sakit karena semua ini dan menderita sinisme, kekecewaan, kepasrahan, ketidakpastian, dan kesedihan yang menyeluruh – semua ini tergabung : kesedihan, kesedihan yang tersembunyi di dalam hati manusia tersebut. Seseorang menyebut watak ini sebagai “hasrat yang menyedihkan” dan ditemukan pada orang-orang yang tidak “melonjak dalam menghadapi kehidupan”.

Sebaliknya, mereka yang dilahirkan dalam iman akan mengenali kehadiran Tuhan, seperti bayi dalam rahim Elisabet. Mereka mengenali karya-Nya seiring fajar menyingsing dan menerima pandangan baru untuk melihat kenyataan. Bahkan di tengah kerja keras, permasalahan dan penderitaan, setiap hari mereka menyadari kunjungan Allah di antara kita serta merasa ditemani dan didukung oleh-Nya. Berhadapan dengan misteri kehidupan dan tantangan masyarakat, mereka yang beriman memiliki semangat dalam langkah mereka, hasrat, mimpi untuk dikembangkan, minat yang mendorong mereka untuk berkomitmen secara pribadi. Sekarang kita masing-masing dapat bertanya pada diri kita : apakah aku merasakan hal-hal ini? Apakah aku mempunyai hal-hal ini? Mereka yang seperti ini tahu bahwa dalam segala hal Tuhan hadir, memanggil dan mengajak mereka untuk bersaksi tentang Injil dengan lemah lembut, guna membangun dunia baru, dengan menggunakan karunia dan karisma yang telah mereka terima.

 

Selain memampukan kita untuk melonjak dalam menghadapi kehidupan, pengalaman iman juga mendorong kita untuk melonjak ke arah sesama kita. Memang benar, dalam misteri kunjungan Maria kepada Elisabet, kita melihat bahwa kunjungan Allah tidak terjadi melalui peristiwa-peristiwa surgawi yang luar biasa, melainkan dalam sebuah perjumpaan yang sederhana. Allah datang ke ambang pintu sebuah rumah keluarga, dalam pelukan lembut antara dua perempuan, dalam jalinan dua kehamilan yang penuh keheranan dan harapan. Di sana kita melihat kepedulian Maria, keheranan Elisabet, dan sukacita berbagi.

 

Marilah kita selalu mengingat hal ini dalam Gereja : Allah itu relasional dan sering mengunjungi kita melalui perjumpaan antarmanusia, ketika kita tahu bagaimana bersikap terbuka terhadap orang lain, ketika ada “gejolak” dalam diri kita yang memihak kepada orang-orang yang berpapasan dengan kita setiap hari, dan ketika hati kita tidak tetap tenang dan tidak peka terhadap luka-luka orang yang rapuh. Kota-kota besar kita dan banyak negara Eropa seperti Perancis, di mana berbagai budaya dan agama hidup berdampingan, merupakan kekuatan yang kuat melawan individualisme, keegoisan dan penolakan yang berlebihan yang menimbulkan kesepian dan penderitaan. Marilah kita belajar dari Yesus bagaimana menggerakkan diri kita untuk membantu orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Marilah kita belajar dari Dia yang tergerak hati-Nya oleh belas kasihan di hadapan orang banyak yang letih dan lelah (bdk. Mrk 6:34) dan “melonjak o0leh belas kasihan” di hadapan orang-orang yang terluka yang kita temui. Sebagaimana didesak oleh salah seorang santo besarmu, Vinsensius a Paulo, “maka kita hendaknya melembutkan hati kita dan menyadarkan hati kita akan penderitaan dan kesengsaraan sesama kita. Kita harus memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita roh belas kasihan yang merupakan Roh Allah sendiri,” sampai pada titik mengakui bahwa orang miskin adalah “tuan dan guru kita” (Korespondensi, wawancara, dokumen, Paris 1920-25, 341; 392-393).

Saudara-saudari, saya memikirkan banyak “kegaduhan” di Prancis, dengan sejarahnya yang kaya akan kekudusan dan budaya; para seniman dan pemikir yang telah menginspirasi banyak generasi. Saat ini juga, kehidupan kita dan kehidupan Gereja, Prancis dan Eropa membutuhkan hal ini: rahmat sebuah lonjakan maju, sebuah lonjakan baru dalam iman, kasih dan harapan. Kita perlu mengobarkan kembali semangat dan antusiasme kita, untuk membangkitkan kembali keinginan kita untuk berkomitmen pada persaudaraan. Kita perlu sekali lagi mengambil risiko untuk mengasihi keluarga kita dan berani mengasihi yang paling lemah, dan menemukan kembali dalam Injil rahmat yang mengubah rupa yang membuat kehidupan menjadi indah.

 

Marilah kita memandang Maria, yang menyusahkan diri dengan memulai suatu perjalanan dan yang mengajari kita bahwa inilah jalan Allah: Ia menyusahkan kita, membuat kita bergerak dan membuat kita “melonjak”, serupa dengan pengalaman Elisabet. Kita ingin menjadi umat Kristiani yang berjumpa Allah dalam doa, dan saudara-saudari kita dalam kasih; umat Kristiani yang melonjak, berdenyut, dan menerima api Roh Kudus dan kemudian membiarkan diri mereka terkobar oleh pertanyaan-pertanyaan di zaman kita, oleh tantangan-tantangan di Mediterania, oleh jeritan kaum miskin – dan oleh “utopia-utopia suci” persaudaraan dan perdamaian yang menunggu untuk diwujudkan.

 

Saudara-saudari, bersamamu, saya berdoa kepada Bunda Maria, Notre Dame de la Garde, agar ia menjaga hidupmu, agar ia menjaga Prancis dan menjaga seluruh Eropa, serta agar ia membuat kita melonjak ke dalam Roh. Saya ingin memanjatkan doa ini dengan menggunakan kata-kata Paul Claudel: “Aku melihat gereja, buka…. Aku tidak mempunyai apa pun untuk ditawarkan dan tidak ada yang perlu ditanyakan. Aku datang, Bunda, hanya untuk memandangmu. Memandangmu, menangis bahagia, mengetahui bahwa aku adalah putramu, dan bahwa kamu ada di sana…. Bersamamu, Maria, di tempat di mana kamu berada…. Karena kamu ada di sana, selalu… Karena kamu Maria semata … Karena kamu ada semata… Bunda Yesus Kristus, syukur kepadamu (“Perawan di Waktu Malam”, Puisi Perang 1914-1916, Paris, 1992).

 

[Kata Perpisahan di Akhir Misa Kudus]

 

Yang Mulia, saya berterima kasih atas kata-katamu dan saudara-saudari, saya berterima kasih kepada kamu semua, atas kehadiran dan doamu : terima kasih!

Setelah kunjungan ini berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat yang saya terima, serta atas seluruh upaya dan persiapan yang dilakukan selama kunjungan ini. Saya berterima kasih kepada Presiden Republik Prancis dan, melalui dia, saya menyampaikan salam ramah kepada semua pria dan wanita di Prancis. Saya menyapa Perdana Menteri yang datang menyambut saya di bandara dan saya juga menyapa pihak berwenang yang hadir, khususnya Walikota Marseille.

 

Saya merangkul seluruh Gereja Marseille, dengan paroki dan komunitas keagamaannya, berbagai lembaga pendidikan dan organisasi amalnya. Keuskupan Agung ini adalah keuskupan pertama di dunia yang dikonsekrasikan kepada Hati Kudus Yesus, pada saat wabah penyakit merebak pada tahun 1720. Oleh karena itu, di dalam hatimulah ada tanda kasih Allah yang lembut, juga di tengah “epidemi ketidakpedulian” yang terjadi saat ini. Terima kasih atas pelayananmu yang lembut dan penuh komitmen, yang menjadi saksi kedekatan dan kasih sayang Tuhan!

 

Beberapa dari kami datang ke sini dari berbagai penjuru Prancis : merci à vous! Saya ingin menyapa saudara-saudari dari Nice, yang didampingi oleh uskup dan walikota mereka. Saya mengingat serangan mengerikan yang terjadi pada tanggal 14 Juli 2016, dan kamu adalah orang-orang yang selamat. Marilah kita dengan penuh doa mengenang semua orang yang kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut, serta semua aksi teroris yang dilakukan di Prancis dan di seluruh belahan dunia. Terorisme itu pengecut. Janganlah kita bosan berdoa untuk perdamaian di wilayah yang dilanda perang, dan khususnya bagi rakyat Ukraina yang dilanda perang.

 

Dengan sepenuh hati saya menyapa orang sakit, anak-anak, dan orang tua, yang merupakan kenangan peradaban. Saya terutama memikirkan mereka yang berada dalam kesulitan dan semua pekerja di kota ini: Jacques Loew, imam pekerja pertama di Prancis, bekerja di pelabuhan Marseille. Semoga martabat pekerja dihormati, ditinggikan dan dilindungi!

 

Saudara-saudari terkasih, saya akan mengingat perjumpaan hari-hari ini dalam hati saya. Semoga Notre Dame de la Garde menjaga kota ini, yang merupakan mosaik harapan, seluruh keluargamu, dan kamu masing-masing. Saya memberkatimu. Mohon jangan lupa untuk mendoakan saya. Pekerjaan ini tidak mudah! Terima kasih.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 September 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STEPPE ARENA, ULAANBAATAR, MONGOLIA 3 September 2023 : IMAN KRISTIANI ADALAH JAWABAN ATAS KEHAUSAN AKAN KASIH

Bacaan Ekaristi : Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27.

 

Dengan kata-kata Mazmur Tanggapan, kita berdoa : “ Ya Allah, ... jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair” (Mzm 63:2). Permohonan yang luar biasa ini menyertai perjalanan kita menjalani kehidupan, di tengah seluruh padang gurun yang harus kita lalui. Justru di padang gurun itulah kita mendengar kabar baik bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan kita; masa-masa kekeringan tersebut tidak dapat memandulkan kehidupan kita selamanya; jeritan kehausan kita bukan tidak terdengar. Allah Bapa telah mengutus Putra-Nya untuk memberi kita air hidup Roh Kudus untuk memuaskan jiwa kita (bdk. Yoh 4:10). Yesus, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, menunjukkan kepada kita cara untuk memuaskan kehausan kita. Kehausan kita dipuaskan dengan jalan kasih, yang Ia ikuti bahkan hingga di kayu salib, dan yang melaluinya Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya, dengan mengurbankan nyawa kita agar memperoleh kepuasan tersebut (bdk. Mat 16:24-25).

 

Marilah kita renungkan bersama dua hal ini : kehausan yang ada di dalam diri kita, dan kasih yang memuaskan kehausan tersebut.

 

Pertama, kita dipanggil untuk mengakui kehausan dalam diri kita. Pemazmur berseru kepada Allah dalam kekeringannya, karena hidupnya laksana padang gurun. Kata-katanya bergema terutama di negeri seperti Mongolia : negeri yang luas, kaya akan sejarah dan budaya, namun juga ditandai dengan kegersangan padang rumput yang luas dan padang gurun. Banyak di antara kamu yang memahami kepuasan dan kehausan dalam perjalanan, yang membangkitkan aspek dasariah spiritualitas biblis yang diwakili oleh Abraham dan, dalam arti yang lebih luas, oleh umat Israel dan tentu saja setiap murid Tuhan. Karena kita semua adalah “pengembara Allah”, pengembara yang mencari kebahagiaan, pengembara yang haus akan kasih. Maka padang gurun yang dibicarakan Pemazmur adalah kehidupan kita. Kita adalah tanah kering yang haus akan air segar, air yang dapat memuaskan dahaga terdalam kita. Hati kita rindu untuk menemukan rahasia kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang bahkan di tengah kegersangan keberadaan, dapat menemani dan menopang kita. Jauh di dalam diri kita, kita mempunyai kehausan akan kebahagiaan yang tak terpuaskan; kita mencari makna dan arah dalam kehidupan kita, alasan atas semua yang kita lakukan setiap hari. Meebihi segalanya, kita haus akan kasih, karena hanya kasih yang benar-benar dapat memuaskan kita, memberi kita kepuasan; hanya kasih yang bisa membuat kita bahagia, mengilhami kepastian batin, dan memungkinkan kita menikmati indahnya kehidupan. Saudara dan saudari terkasih, iman Kristiani adalah jawaban terhadap kehausan ini; sungguh, tanpa mengabaikannya atau berusaha menggantinya dengan obat penenang atau pengganti. Karena di dalam kehausan inilah terdapat misteri besar kemanusiaan kita: kehausan ini membuka hati kita kepada Allah yang hidup, Allah kasih, yang datang menjumpai kita dan menjadikan kita anak-anak-Nya, saudara saudari satu sama lain.

 

Hal ini membawa kita pada hal kedua: kasih yang memuaskan kehausan kita. Yang pertama adalah kehausan kita yang dalam dan menyangkut keberadaan, dan kini kita merenungkan kasih yang memuaskan kehausan kita. Inilah pokok iman Kristiani : Allah, yang adalah Kasih, telah mendekat kepadamu, kepadaku, kepada semua orang, dalam Putra-Nya Yesus, dan ingin ambil bagian dalam hidupmu, pekerjaanmu, impianmu dan kehausanmu akan kebahagiaan. Memang benar bahwa, kadang-kadang, kita merasa seperti “tanah yang kering dan kehausan, tiada berair”, tetapi juga benar bahwa Allah peduli terhadap kita dan menawarkan kepada kita air yang jernih dan menyegarkan, air hidup Roh Kudus, yang memancar di dalam diri kita untuk memperbaharui dan membebaskan kita dari risiko kekeringan. Yesus memberi kita air tersebut. Sebagaimana dikatakan Santo Agustinus kepada kita, “…jika kita mengenali diri kita sebagai orang yang haus, kita juga dapat mengenali diri kita sebagai orang yang memuaskan kehausan” (Tentang Mazmur, 63:1). Memang kalau dalam kehidupan ini kita sering mengalami padang gurun yang sarat kesepian, keletihan, dan kehampaan, hendaknya kita juga ingat, bersama Agustinus, bahwa, “jangan sampai kita pingsan di padang gurun ini, maka Allah akan menyegarkan kita dengan embun sabda-Nya… Benar, Ia membuat kita merasa haus, namun kemudian datang untuk memuaskan kehausan tersebut… Allah telah berbelas kasihan kepada kita; Ia telah membukakan kita jalan raya di padang gurun : Tuhan kita Yesus Kristus”. Dan itulah jalan melewati padang gurun kehidupan kita. “Ia telah menawarkan kepada kita sumber penghiburan di padang gurun: para pengkhotbah firman-Nya. Ia telah menawarkan kita air di padang gurun tersebut, dengan memenuhi para pengkhotbah itu dengan Roh Kudus, sehingga menciptakan, di dalamnya, sumber air yang memancar hingga kehidupan kekal” (idem., 1, 6). Kata-kata ini, para sahabat terkasih, berbicara kepadamu tentang sejarahmu. Di tengah padang gurun kehidupan dan kesulitan yang terkait dengan komunitas kecil, Tuhan telah memastikan bahwa kamu tidak kekurangan air sabda-Nya, terutama terima kasih kepada para pengkhotbah dan misionaris yang, diurapi oleh Roh Kudus, menaburkan benih keindahannya di antaramu. Sabda tersebut senantiasa membawa kita kembali pada hal yang penting, pada pokok iman kita: memperkenankan diri kita dikasihi Allah dan pada gilirannya menjadikan kehidupan kita sebagai persembahan kasih. Karena hanya kasih yang benar-benar memuaskan kehausan kita. Janganlah kita lupa: hanya kasih yang sungguh dapat memuaskan kehausan kita.

 

Hal itulah yang dikatakan Yesus kepada rasul Petrus dalam Bacaan Injil hari ini. Petrus tidak bisa menerima kenyataan bahwa Yesus harus menderita, didakwa para pemuka umat, menjalani sengsara-Nya dan kemudian wafat di kayu salib. Petrus bereaksi, ia memprotes, ia mencoba meyakinkan Yesus bahwa Yesus keliru, karena, dalam pikiran Petrus – dan kita juga sering mempunyai gagasan yang sama – Mesias tidak mungkin berakhir dengan kegagalan, wafat di kayu salib laksana penjahat yang ditinggalkan Allah. Tuhan kemudian menegur Petrus karena ia memikirkan “apa yang dipikirkan dunia”, dan bukan apa yang dipikirkan Allah (bdk. Mat 16:21-23). Jika kita berpikir bahwa kesuksesan, kekuasaan, atau materi sudah cukup untuk memuaskan kehausan dalam hidup kita, maka kita memikirkan apa yang dipikirkan dunia. Keduniawian semacam itu tidak membuahkan hasil; memang, hal ini membuat kita semakin haus. Yesus justru menunjukkan caranya kepada kita: "Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Sebab siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; siapa yang  kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 16:24-25).

 

Saudara dan saudari terkasih, hal ini tentu saja merupakan cara terbaik: memeluk salib Kristus. Pokok kekristenan adalah sebuah pesan yang menakjubkan dan luar biasa. Jika kamu kehilangan nyawamu, jika kamu memberikannya sebagai persembahan yang murah hati dalam pelayanan, jika kamu mempertaruhkannya dengan memilih untuk mengasihi, jika kamu menjadikannya sebagai karunia cuma-cuma untuk orang lain, maka karunia tersebut akan kembali kepadamu dalam kelimpahan, dan kamu akan diliputi oleh sukacita tiada akhir, kedamaian hati, dan kekuatan serta dukungan batin; dan kita membutuhkan kedamaian batin.

 

Inilah kebenaran yang diinginkan Yesus untuk kita temukan, kebenaran yang ingin Ia ungkapkan kepada kamu semua dan negeri Mongolia ini. Kamu tidak perlu menjadi terkenal, kaya atau berkuasa untuk menjadi bahagia. Tidak! Hanya kasih yang memuaskan kehausan hati kita, hanya kasih yang menyembuhkan luka-luka kita, hanya kasih yang memberikan sukacita sejati. Inilah cara yang diajarkan Yesus kepada kita; inilah jalan yang Ia buka di hadapan kita.

 

Semoga kita juga, saudara dan saudari terkasih, mengindahkan apa yang dikatakan Tuhan kepada Petrus atas jawabannya : “Enyahlah Iblis” (Mat 16:23). Dengan kata lain, jadilah murid-Ku, ikutilah jejak langkah-Ku dan berhentilah memikirkan apa yang dipikirkan dunia. Jika kita melakukan hal ini, dengan rahmat Kristus dan Roh Kudus, kita akan mampu menempuh jalan kasih. Bahkan ketika kasih menuntut kita untuk menyangkal diri kita, melawan bentuk-bentuk keegoisan pribadi dan duniawi, dan mengambil risiko menjalani kehidupan persaudaraan sejati. Memang benar bahwa semua hal ini membutuhkan usaha dan pengorbanan, dan terkadang memikul salib, bahkan sungguh sangat benar bahwa, ketika kita kehilangan nyawa kita demi Injil, Tuhan akan mengembalikannya kepada kita secara berlimpah, dalam bentuk kepenuhan kasih dan sukacita untuk selama-lamanya.

[Sapaan Paus Fransiskus di akhir Misa Kudus]

 

Saya ingin menggunakan kesempatan ini, di hadapan dua saudara uskup ini – Uskup Emeritus Hong Kong (Kardinal John Tong Hon) dan Uskup Hong Kong saat ini (Stephen Chow) – untuk menyampaikan salam yang tulus kepada rakyat Tiongkok yang mulia. Saya menyampaikan harapan baik saya kepada mereka semua : selalu bergerak maju, selalu bergerak maju! Dan kepada umat Katolik Tiongkok: saya memintamu untuk menjadi umat Kristiani yang baik dan warga negara yang baik. Kepada kamu semua, terima kasih.

Terima kasih, Yang Mulia, atas kata-katamu yang ramah, dan terima kasih atas pemberianmu! Kamu menyebutkan bahwa pada hari-hari ini kamu dapat merasakan betapa saya sangat menyayangi umat Tuhan di Mongolia. Itu benar: Saya memulai peziarahan ini dengan penuh harap, dengan keinginan untuk bertemu dengan kamu semua dan mengenalmu. Sekarang saya bersyukur kepada Allah karenamu, karena melalui dirimu, Ia berkenan menggunakan apa yang kecil untuk mencapai hal-hal besar. Terima kasih, karena kamu adalah umat Kristiani yang baik dan warga negara yang jujur. Majulah, dengan lembut dan tanpa rasa takut, sadari kedekatan dan dorongan seluruh Gereja, dan yang terpenting adalah tatapan Tuhan yang lembut, yang tidak melupakan siapa pun dan memandang dengan kasih kepada setiap anak-anak-Nya.

 

Saya menyapa saudara-saudara saya para uskup, para imam, para pelaku hidup bakti, dan semua sahabat yang datang ke sini dari berbagai negara, khususnya dari berbagai wilayah di benua Asia yang luas, di mana saya merasa dihormati. Saya memeluk kamu semua dengan penuh kasih sayang. Secara khusus saya berterima kasih kepada semua orang yang membantu Gereja lokal dengan dukungan spiritual dan material.

Saat ini, delegasi penting Pemerintah Mongolia telah hadir di setiap acara. Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden dan Pemerintah Mongolia atas sambutan dan keramahtamahan mereka, serta atas segala persiapan yang telah dilakukan. Saya merasakan secara langsung keramahan tradisionalmu; terima kasih!

 

Saya juga menyampaikan salam hangat kepada saudara-saudari kita yang beragama kristiani lainnya dan penganut agama lain. Semoga kita terus bertumbuh semakin dekat dalam persaudaraan, sebagai benih perdamaian di dunia yang secara tragis hancur karena banyaknya peperangan dan pertikaian.

 

Terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada semua orang yang telah bekerja keras dan dalam jangka waktu yang lama, sehingga perjalanan saya dapat terlaksana dan berhasil, dan kepada semua orang yang telah mempersiapkannya dengan doa-doa mereka.

 

Yang Mulia, kamu mengingatkan kami bahwa dalam bahasa Mongolia kata “Terima kasih” berasal dari kata kerja “bergembira ria”. Ucapan terima kasih saya sangat cocok dengan wawasan bahasa lokal yang luar biasa ini, karena penuh dengan sukacita. Ucapan “terima kasih” yang sebesar-besarnya kepada rakyat Mongolia, atas karunia persahabatan yang saya terima pada hari-hari ini, atas kemampuanmu yang tulus dalam menghargai aspek kehidupan yang paling sederhana sekalipun, dengan bijak menjaga hubungan dan tradisi, serta membina kehidupan sehari-hari dengan kepedulian dan perhatian.

 

Misa itu sendiri merupakan cara mengucap syukur : “Ekaristi”. Merayakan Misa di negeri ini mengingatkan saya pada doa yang dipanjatkan oleh Pastor Pierre Teilhard de Chardin, SJ, kepada Allah tepat seratus tahun yang lalu, di padang gurun Ordos, tidak jauh dari sini. Ia berdoa : “Ya Allah, aku bersujud di hadirat-Mu di dalam alam semesta yang kini menjadi kobaran api yang hidup: di hadapan raut muka semua orang yang akan kujumpai hari ini, semua yang terjadi padaku, semua yang kucapai, hanya Engkaulah yang aku inginkan, Engkau aku tunggu”. Pastor Teilhard de Chardin terlibat dalam penelitian geologi. Ia sangat ingin merayakan Misa Kudus, namun kekurangan roti dan anggur. Maka ia menyusun “Misa di Dunia”, mengungkapkan persembahannya dengan kata-kata berikut: “Terimalah, ya Tuhan, hosti yang merangkul segalanya ini, yang segenap ciptaan-Mu, tergerak oleh daya tarik-Mu, persembahkan kepada-Mu pada awal hari yang baru ini”. Doa serupa telah terbentuk dalam dirinya ketika ia bertugas sebagai pembawa tandu di garis depan selama Perang Dunia I. Imam ini, yang sering disalahpahami, memiliki naluri bahwa “Ekaristi selalu dirayakan di altar dunia” dan merupakan “pusat kehidupan alam semesta, pusat yang berkelimpahan kasih dan kehidupan yang tiada habisnya” (Laudato Sì', 236), bahkan di masa seperti sekarang ini, yang ditandai dengan pertikaian dan peperangan. Maka, marilah kita berdoa pada hari ini, seturut kata-kata Pastor Teilhard de Chardin: “Sabda yang bercahaya, Kekuatan yang menyala-nyala, Engkau yang membentuk berbagai macam hal untuk memberikan kehidupan ke dalamnya, aku berdoa kepada-Mu, serahkan kepada kami tangan-Mu itu - yang penuh kuasa, perhatian, ada di mana-mana”.

 

Saudara-saudari Mongolia yang terkasih, terima kasih atas kesaksianmu. Bayarlalaa! [Terima kasih!]. Semoga Allah memberkatimu. Kamu ada di hatiku, dan di hatiku kamu akan tetap ada. Tolong ingatlah aku, dalam doamu dan dalam pikiranmu. Terima kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 September 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA (HARI ORANG MUDA SEDUNIA) DI PARQUE TEJO, LISBON (PORTUGAL) 6 Agustus 2023 : BERCAHAYA, MENDENGARKAN DAN JANGAN TAKUT

Bacaan Ekaristi : Dan. 7:9-10,13-14; Mzm. 97:1-2,5-6,9; 2Ptr. 1:16-19; Mat. 17:1-9.


Setelah hari-hari yang menyenangkan ini, tentu saja kita ingin mengulangi kata-kata Rasul Petrus di atas gunung perubahan rupa : “Tuhan, sungguh baik kita berada di tempat ini!” (Mat 17:4). Memang, alangkah baiknya ambil bagian dalam pengalaman ini bersama Yesus, bersama yang lainnya, dan berdoa bersama dengan hati yang penuh sukacita. Sekarang, kita juga dapat mengajukan pertanyaan penting: Apa yang akan kita bawa kembali saat kita melanjutkan kehidupan sehari-hari kita?


Saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan tiga kata kerja, yang diambil dari Bacaan Injil yang telah kita dengar : bercahaya, mendengar, dan tidak takut. Apa yang akan kita bawa kembali? Saya akan menjawab dengan tiga kata ini : bercahaya, mendengarkan dan jangan takut.


Kata yang pertama : bercahaya. Yesus berubah rupa. Bacaan Injil memberitahu kita : "wajah-Nya bercahaya seperti matahari" (Mat 17:2). Sesaat sebelum ini, Ia telah meramalkan sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, menghancurkan gambaran para murid tentang Mesias yang berkuasa dan duniawi, serta mengecewakan harapan mereka. Sekarang, untuk membantu mereka merangkul rencana kasih Allah bagi kita masing-masing, Yesus membawa tiga murid, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, serta memimpin mereka ke atas gunung, di mana Ia berubah rupa. Melalui pancaran cahaya yang cemerlang ini, Yesus mempersiapkan para murid untuk malam kelam sengsara-Nya.

Para sahabat muda yang terkasih, hari ini kita juga membutuhkan pancaran cahaya ini, sehingga dapat memenuhi diri kita dengan harapan saat kita menghadapi banyak kegagalan setiap hari dan kegelapan yang melanda hidup, serta menanggapinya dengan terang kebangkitan Yesus. Karena Ia adalah terang yang tidak pernah terbenam, terang yang bercahaya bahkan di tengah malam. Seperti dikatakan imam Ezra, Allah telah membuat mata kita bercahaya (bdk. Ezr 9:8). Allah kita membuat bercahaya : Ia membuat bercahaya visi kita, hati kita, pikiran kita, keinginan kita untuk melakukan sesuatu dengan hidup kita. Terang Allah selalu bercahaya.


Tetapi, saya ingin mengatakan kepadamu bahwa kita tidak memancarkan cahaya dengan menempatkan diri kita pada lampu sorot, karena jenis cahaya itu menyilaukan. Tidak, kita tidak dapat menerangi orang lain dengan memproyeksikan citra diri kita yang sempurna, tertata rapi, beradab, atau tampak berkuasa dan sukses, kuat tetapi tanpa cahaya. Tidak, kita memancarkan cahaya – kita bercahaya – dengan menyambut Yesus ke dalam hati kita dan belajar untuk mengasihi seperti Dia. Mengasihi seperti Yesus : itulah yang membuat kita bercahaya, membuat kita melakukan karya kasih. Para sahabat, saya mengatakan yang sebenarnya: setiap kali kamu melakukan karya kasih, kamu bercahaya. Tetapi ketika kamu berhenti mengasihi orang lain dan menjadi egois, kamu memadamkan cahayamu.


Kata kerja kedua adalah mendengarkan. Di gunung, awan cerah menaungi para murid. Dan apa yang dikatakannya kepada kita, awan tempat asal Bapa berbicara? “Inilah Putra-Ku yang terkasih… dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5). Dengarkanlah Dia. Mendengarkan Yesus, itulah rahasia hidup. Dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus kepadamu. "Tetapi aku tidak tahu apa yang dikatakan-Nya kepadaku". Nah, ambillah Injil dan bacalah di sana apa yang dikatakan Yesus, apa yang dikatakan-Nya ke dalam hatimu. Karena Ia memiliki kata-kata kehidupan kekal untuk kita, Ia mengungkapkan Allah adalah Bapa kita, Allah adalah kasih. Ia menunjukkan kepada kita jalan kasih. Dengarkanlah Yesus; sebaliknya, bahkan jika kita berangkat dengan niat baik di sepanjang jalan yang tampaknya kasih, pada akhirnya jalan itu akan terlihat sebagai keegoisan yang disamarkan sebagai kasih. Berhati-hatilah terhadap keegoisan yang disamarkan sebagai kasih! Dengarkanlah Yesus, karena Ia akan menunjukkan jalan mana yang merupakan jalan kasih. Dengarkanlah Dia.


Kata pertama: bercahaya, jadi berseri-seri; maka, dengarkanlah agar tidak mengambil jalan yang salah; akhirnya kata ketiga: jangan takut. Jangan takut. Kita sering menemukan kata-kata ini di dalam Kitab Suci, di dalam Injil: “Jangan takut”. Ini adalah kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus kepada para murid pada saat peristiwa perubahan rupa : "Jangan takut!" (Mat 17:7).


Sebagai orang muda, kamu telah mengalami hari-hari penuh sukacita ini – saya akan mengatakan tentang kemuliaan, dan memang pertemuan kita telah menjadi semacam kemuliaan. Kamu memiliki impian yang hebat, tetapi sering kali takut impian itu mungkin tidak menjadi kenyataan; terkadang kamu berpikir bahwa kamu tidak siap menghadapi tantangan, yang merupakan semacam pesimisme yang terkadang dapat mengalahkan diri kita. Sebagai orang muda, saat ini kamu mungkin tergoda untuk berkecil hati, berpikir kamu gagal, atau menyamarkan rasa sakitmu dengan senyuman. Sebagai orang muda, kamu ingin mengubah dunia – dan sangat baik jika kamu ingin mengubah dunia – kamu ingin bekerja untuk keadilan dan perdamaian. Kamu mencurahkan seluruh energi dan kreativitas hidupmu untuk hal ini, tetapi tampaknya masih belum cukup. Tetapi, Gereja dan dunia membutuhkanmu, orang muda, sama seperti bumi membutuhkan hujan. Kepada kamu semua, orang muda yang terkasih, yang adalah masa kini dan masa depan, ya untuk kamu semua, Yesus sekarang berkata, “Jangan takut”, “Jangan takut!”.


Sekarang, dalam keheningan sejenak, kamu masing-masing mengulangi kata-kata ini, di dalam hatimu : “Jangan takut!”


Orang muda yang terkasih, saya ingin menatap matamu masing-masing dan berkata : Jangan takut. Saya akan memberitahumu hal lain, juga hal yang sangat indah: bukan lagi saya, tetapi Yesus sendiri yang sekarang melihatmu. Ia mengetahui setiap hatimu, setiap hidupmu; Ia tahu sukacitamu, kesedihanmu, kesuksesan dan kegagalanmu. Ia tahu hatimu. Hari ini, Ia berkata kepadamu, di sini di Lisbon, pada Hari Orang Muda Sedunia ini: “Jangan takut, kuatkan hati, jangan takut!”.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Agustus 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XVI (HARI KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA III) 23 JulI 2023 : TUMBUH BERSAMA

Bacaan Ekaristi : Keb. 12:13,16-19; Rm. 8:26-27; Mat. 13:24-43.

 

Yesus menggunakan perumpamaan untuk mengajarkan kita Kerajaan Allah. Ia menceritakan kisah-kisah sederhana yang menyentuh hati para pendengar-Nya. Bahasa semacam itu, penuh gambaran, mirip dengan bahasa yang sering digunakan kakek-nenek kepada cucu mereka, mungkin sambil memangkunya. Dengan cara ini mereka mewariskan suatu kebijaksanaan yang penting bagi kehidupan. Memikirkan kakek-nenek dan para lansia kita, yang akarnya dibutuhkan kaum muda untuk bertumbuh menjadi dewasa, saya ingin membaca ulang tiga kisah perumpamaan yang terkandung dalam Bacaan Injil hari ini, dimulai dengan satu aspek yang sama : tumbuh bersama.

Dalam perumpamaan pertama, gandum dan lalang tumbuh bersama, di ladang yang sama (bdk. Mat 13:24-30). Gambaran ini membantu kita untuk melihat hal-hal secara realistis: dalam sejarah manusia, seperti dalam hidup kita masing-masing, ada campuran cahaya dan bayangan, cinta dan keegoisan. Kebaikan dan kejahatan bahkan saling terkait sampai-sampai tampak tak terpisahkan. Pendekatan realistis ini membantu kita melihat sejarah tanpa ideologi, tanpa optimisme yang mandul atau pesimisme yang beracun. Umat Kristiani, yang termotivasi oleh pengharapan akan Allah, bukanlah orang yang pesimis; mereka juga tidak secara naif hidup dalam dongeng, berpura-pura tidak melihat kejahatan dan mengatakan bahwa “semuanya baik-baik saja”. Tidak, umat Kristiani realistis: mereka tahu bahwa ada gandum dan lalang di dunia. Melihat kehidupan mereka sendiri, mereka menyadari bahwa kejahatan tidak hanya datang dari "luar", tidak selalu kesalahan orang lain, tidak perlu "menciptakan" musuh yang harus dilawan untuk menghindari melihat ke dalam diri mereka sendiri. Mereka menyadari bahwa kejahatan datang dari dalam, dalam pergulatan batin yang kita semua alami.

 

Tetapi, perumpamaan tersebut menimbulkan pertanyaan : Ketika kita melihat “gandum” dan “lalang” hidup berdampingan di dunia, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita bereaksi? Dalam narasinya, para hamba ingin segera mencabut lalang (bdk. ayat 28). Sikap ini muncul dari niat baik, tetapi bersifat menuruti kata hati dan bahkan agresif. Mereka menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa mereka dapat mencabut kejahatan dengan usaha mereka sendiri untuk membuat hal-hal menjadi murni. Memang, kita sering melihat godaan untuk mewujudkan “masyarakat yang murni” atau “Gereja yang murni”, sedangkan dalam bekerja untuk mencapai kemurnian ini, kita berisiko menjadi tidak sabar, keras kepala, bahkan melakukan kekerasan terhadap mereka yang telah jatuh ke dalam kesesatan. Dengan cara ini, bersama dengan lalang kita mencabut gandum yang baik dan menghalangi orang untuk bergerak maju, bertumbuh dan berubah. Sebaliknya, marilah kita mendengarkan apa yang dikatakan Yesus : “Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai” (Mat 13:30). Alangkah indahnya daya pandang Allah ini, cara-Nya mengajar kita tentang belas kasihan. Ini mengundang kita untuk bersabar dengan orang lain, dan – dalam keluarga kita, dalam Gereja dan dalam masyarakat – menerima kelemahan, keterlambatan dan keterbatasan, bukan untuk membiarkan diri kita menjadi terbiasa dengannya atau mengabaikannya, tetapi belajar bertindak dengan hormat, merawat gandum yang baik dengan lembut dan sabar. Kita juga harus ingat bahwa pemurnian hati dan kemenangan yang pasti atas kejahatan pada dasarnya adalah karya Allah. Dan kita, mengatasi godaan untuk memisahkan gandum dari lalang, dipanggil untuk memahami cara dan waktu terbaik untuk bertindak.

 

Di sini saya memikirkan kakek-nenek dan para lansia kita, yang telah melakukan perjalanan jauh sepanjang perjalanan hidup. Jika mereka melihat ke belakang, mereka melihat begitu banyak hal indah yang berhasil mereka lakukan. Tetapi mereka juga melihat kekalahan, kesalahan, hal-hal yang – seperti yang mereka katakan – “jika aku kembali, aku tidak akan melakukannya lagi”. Tetapi hari ini Tuhan menawarkan kita kata-kata lembut yang mengundang kita untuk menerima misteri kehidupan dengan ketenangan dan kesabaran, menyerahkan penghakiman kepada-Nya, dan tidak menjalani kehidupan yang penuh penyesalan dan rasa bersalah. Seolah-olah Yesus ingin berkata kepada kita : “Lihatlah gandum yang baik yang tumbuh di sepanjang jalan hidupmu dan biarkan ia terus tumbuh, percayakan segalanya kepada-Ku, karena Aku selalu mengampuni : pada akhirnya, kebaikan akan lebih kuat daripada kejahatan”. Usia tua memang merupakan masa yang terberkati, karena masa untuk diperdamaikan, masa untuk melihat dengan lembut cahaya yang bersinar meskipun ada bayang-bayang, yakin dengan harapan bahwa gandum yang baik yang ditabur oleh Allah akan menang atas lalang yang ingin diwabahkan iblis ke dalam hati kita.

Marilah kita beralih ke perumpamaan kedua. Yesus memberitahu kita bahwa kerajaan surga adalah karya Allah yang bertindak diam-diam dalam perjalanan sejarah, sampai-sampai tampak kecil dan tidak terlihat, seperti biji sesawi yang kecil. Tetapi, apabila sudah tumbuh, “sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya" (Mat 13:32). Saudara-saudari, hidup kita juga seperti ini, karena kita datang ke dunia begitu kecil; kita menjadi dewasa, lalu menjadi tua. Pada mulanya kita seperti biji yang kecil; kemudian kita dipelihara oleh harapan, dan rencana serta impian kita terwujud, yang terindah apabila kita menjadi seperti pohon yang tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi memberi keteduhan bagi semua yang menginginkannya dan menawarkan ruang bagi mereka yang ingin membangun sarang di sana. Jadi pada akhirnya yang tumbuh bersama dalam perumpamaan ini adalah pohon yang dewasa dan burung-burung kecil.

Di sini saya memikirkan kakek-nenek kita: alangkah indahnya pohon-pohon yang tumbuh subur ini, yang di “cabang-cabang” mereka anak-anak dan cucu-cucu membangun “sarang” mereka sendiri, mempelajari kehangatan rumah dan mengalami kelembutan pelukan. Ini adalah tentang tumbuh bersama: pohon yang menghijau dan anak-anak kecil yang membutuhkan sarang, para kakek-nenek dengan anak dan cucu mereka, kaum tua dengan kaum muda. Saudara-saudari, alangkah kita sangat membutuhkan ikatan baru antara kaum muda dan kaum tua, agar getah orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang panjang di belakang mereka dapat menyuburkan tunas-tunas harapan orang-orang yang sedang tumbuh. Dalam pertukaran yang bermanfaat ini kita dapat mempelajari keindahan hidup, membangun masyarakat persaudaraan, dan dalam Gereja dimungkinkan untuk saling berjumpa dan berdialog di antara tradisi dan kebaruan Roh.

 

Akhirnya perumpamaan ketiga, di mana ragi dan tepung tumbuh bersama (bdk. Mat 13:33). Pencampuran ini membuat seluruh adonan mengembang. Yesus menggunakan kata kerja “mencampur”. Hal ini mengingatkan kita pada “seni” atau “mistik" "hidup bersama, berbaur dan bertemu, saling merangkul dan mendukung satu sama lain ... Keluar dari diri kita sendiri dan bergabung dengan orang lain” (Evangelii Gaudium, 87). Ini adalah cara untuk mengatasi individualisme dan keegoisan, serta membangun dunia yang lebih manusiawi dan bersaudara. Sabda Allah hari ini sungguh mengajak kita untuk waspada agar tidak meminggirkan lansia dalam keluarga atau kehidupan kita. Marilah kita berhati-hati, agar kepadatan kota kita tidak menjadi “pusat kesepian”; agar para politisi, yang dipanggil untuk memenuhi kebutuhan yang paling rapuh, tidak pernah melupakan lansia atau membiarkan pasar membuang mereka sebagai “limbah yang tidak menguntungkan”. Semoga kita tidak mengejar utopia efisiensi dan kinerja dengan kecepatan penuh, jangan sampai kita menjadi tidak mampu melambat untuk menemani mereka yang berjuang untuk mengikutinya. Tolong, marilah kita berbaur dan tumbuh bersama.

 

Saudara-saudari, sabda Allah memanggil kita untuk tidak memisahkan diri, menutup diri atau berpikir kita bisa melakukannya sendiri, tetapibertumbuh bersama. Marilah kita saling mendengarkan, berbicara bersama dan saling mendukung. Janganlah kita melupakan para kakek-nenek atau para lansia kita, karena begitu sering kita diangkat, kembali ke jalur yang benar, hati kita merasa dikasihi dan disembuhkan, semuanya berkat belaian mereka. Mereka telah berkorban untuk kita, dan kita tidak dapat membiarkan mereka menurunkan daftar prioritas kita. Marilah kita tumbuh bersama, marilah kita maju bersama. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Juli 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS, RASUL 29 Juni 2023 : IKUTLAH YESUS DAN BERITAKANLAH SABDA-NYA


Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

Petrus dan Paulus : dua rasul yang mengasihi Tuhan, dua pilar iman Gereja. Seraya kita merenungkan kehidupan mereka, Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya : “Menurut kamu siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Ini adalah pertanyaan hakiki dan terpenting : Siapakah Yesus bagiku? Siapakah Yesus dalam hidupku? Marilah kita lihat bagaimana kedua rasul itu menjawab pertanyaan tersebut.


Jawaban Petrus dapat dirangkum dalam satu kata : mengikuti. Petrus tahu apa artinya mengikuti Tuhan. Pada hari itu di Kaisarea Filipi, Petrus menjawab pertanyaan Yesus dengan pernyataan iman yang bagus : “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Jawaban yang sempurna, akurat, tepat dan, bahkan bisa kita katakan, jawaban "katekese" yang sempurna. Namun jawaban itu sendiri adalah buah dari sebuah perjalanan. Karena hanya setelah pengalaman yang mendebarkan mengikuti Tuhan, berjalan bersama-Nya dan di belakang-Nya untuk beberapa saat, barulah Petrus sampai kepada kedewasaan rohani yang membawanya, berkat rahmat, berkat rahmat semata, untuk melakukan pengakuan iman yang begitu gamblang.


Penginjil Matius juga memberitahu kita bahwa semuanya dimulai ketika pada suatu hari ketika Yesus berjalan menyusur Danau Galilea, Ia memanggil Petrus dan Andreas, saudaranya, "dan mereka pun segera meninggalkan jalan mereka dan mengikuti Dia" (Mat 4:20) . Petrus meninggalkan segalanya untuk mengikuti Tuhan. Bacaan Injil menekankan bahwa ia melakukannya "segera". Petrus tidak memberitahu Yesus bahwa ia akan memikirkannya; ia tidak memperhitungkan pro dan kontra; ia tidak mengajukan alibi untuk menunda keputusan. Sebaliknya, ia meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus, tanpa menuntut jaminan apa pun sebelumnya. Ia harus mempelajari segala sesuatu hari demi hari, sebagai seorang murid, seorang pengikut Yesus, berjalan mengikuti jejak langkah-Nya. Bukan suatu kebetulan, kata-kata terakhir Yesus kepada Petrus yang tercatat dalam keempat Injil adalah : "Ikutlah Aku" (Yoh 21:22). Mengikuti.


Petrus memberitahu kita bahwa menjawab pertanyaan – “Siapakah Yesus bagiku” – tidaklah cukup dengan rumusan doktrinal yang tidak bercela atau serangkaian gagasan yang terbentuk sebelumnya. Tidak. Hanya dengan mengikuti Tuhan kita mengenal-Nya setiap hari, hanya dengan menjadi murid-Nya dan mendengarkan kata-kata-Nya kita menjadi sahabat-Nya dan mengalami kasih-Nya yang sedang mengubah rupa. Kata “segera” tersebut juga bermakna bagi kita. Banyak hal lain yang bisa ditunda dalam hidup, tetapi mengikuti Yesus tidak bisa ditunda; jika menyangkut Dia, kita tidak boleh ragu atau mencari alasan. Kita perlu berhati-hati juga, karena beberapa alasan disamarkan sebagai alasan rohani, seperti misalnya ketika kita berkata, “Aku tidak layak”, “Aku tidak memilikinya dalam diriku”, “Apa yang dapat kulakukan?” Ini adalah salah satu tipu muslihat iblis: tipu muslihat iblis merampas kepercayaan kita akan rahmat Allah dengan membuat kita berpikir bahwa segala sesuatu tergantung pada kemampuan kita sendiri.


Melepaskan diri kita dari seluruh bentuk jaminan duniawi, “segera”, dan kembali mengikuti Yesus setiap hari: demikianlah tuntutan yang diajukan Petrus kepada kita hari ini. Ia mengundang kita untuk menjadi “Gereja yang mengikuti”. Gereja yang berusaha untuk menjadi murid Tuhan, pelayan Injil yang hina. Hanya dengan cara ini Gereja mampu berdialog dengan semua orang dan menjadi tempat pendampingan, kedekatan dan harapan bagi manusia di zaman kita. Hanya dengan cara ini mereka yang jauh dari kita, mereka yang sering memandang kita dengan ketidakberanian atau ketidakpedulian, akan menyadari, mengutip kata-kata Paus Benediktus, “Gereja adalah tempat perjumpaan kita dengan Sang Putra Allah yang hidup dan dengan demikian tempat perjumpaan kita satu sama lain” (Homili Misa Hari Minggu Adven II, 10 Desember 2006).


Kita sekarang sampai kepada Rasul bangsa-bangsa lain. Jika kata untuk menjelaskan jawaban Petrus adalah mengikuti, kata untuk Paulus adalah mewartakan, memberitakan Injil. Bagi Paulus juga, segala sesuatu dimulai dengan rahmat, dengan prakarsa Tuhan sebelumnya. Di jalan menuju Damsyik, saat ia memimpin penganiayaan sengit terhadap umat kristiani, menghalangi keyakinan agamanya, Yesus yang bangkit bertemu dengannya dan membutakannya dengan cahaya-Nya. Atau lebih tepatnya, berkat terang itu, Paulus menyadari betapa butanya dia: terperangkap dalam kesombongan akan ketaatannya yang kaku, di dalam Yesus ia menemukan penggenapan misteri keselamatan. Dibandingkan dengan pengetahuan luhur tentang Kristus, ia menganggap semua jaminan manusiawi dan keagamaannya sebagai "kerugian" (bdk. Flp 3:7-8). Paulus kemudian mengabdikan hidupnya untuk melintasi darat dan laut, kota dan desa, tidak menghiraukan penderitaan dan penganiayaan, demi memberitakan Yesus Kristus. Jika kita melihat kehidupan Paulus, tampaknya semakin ia memberitakan Injil, semakin ia bertumbuh dalam pengetahuan tentang Yesus. Dengan mewartakan Sabda kepada orang lain, ia bisa mengintip lebih dalam ke kedalaman misteri Allah. Paulus kemudian dapat menulis: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1 Kor 9:16). Ia kemudian dapat mengaku : “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp 1:21).


Paulus memberitahu kita bahwa jawaban kita atas pertanyaan – “Siapakah Yesus bagiku?” – bukanlah kesalehan yang diprivatisasi yang membuat kita damai dan tidak peduli membawa Injil kepada orang lain. Rasul Paulus mengajar kita bahwa kita bertumbuh dalam iman dan pengetahuan tentang misteri Kristus ketika kita memberitakan dan bersaksi tentang Dia di hadapan orang lain. Ini selalu terjadi: setiap kali kita menginjili, kita sendiri diinjili. Pengalaman sehari-hari : setiap kali kita menginjili, kita sendiri diinjili. Perkataan yang kita bawa kepada orang lain kembali kepada kita, karena seberapa banyak kita memberi kepada orang lain, kita sendiri menerima lebih banyak lagi (bdk. Luk 6:38). Inilah sesuatu yang juga diperlukan Gereja di zaman kita : menempatkan pewartaan sebagai pusat, menjadi Gereja yang tidak pernah bosan mengulangi : “Bagiku hidup adalah Kristus” dan “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!". Gereja yang perlu memberitakan, sama seperti kita membutuhkan oksigen untuk bernafas. Sebuah Gereja yang tidak dapat hidup tanpa berbagi dengan orang lain pelukan kasih Allah dan sukacita Injil.


Saudara-saudari, kita merayakan Petrus dan Paulus. Jawaban mereka atas pertanyaan penting dalam hidup – “Siapakah Yesus bagiku?” – adalah dengan mengikuti Dia sebagai murid-murid-Nya dan dengan mewartakan Injil. Ada baiknya bagi kita untuk bertumbuh sebagai Gereja dengan cara yang sama, dengan mengikuti Tuhan, secara terus-menerus dan dengan rendah hati mencari Dia. Ada baiknya bagi kita untuk menjadi Gereja yang juga terbuka, menemukan sukacita bukan dalam hal-hal duniawi, tetapi dalam memberitakan Injil di hadapan dunia dan membuka hati orang-orang di hadirat Allah. Membawa Tuhan Yesus ke mana-mana, dengan kerendahan hati dan sukacita: di kota Roma kita, di dalam keluarga kita, di dalam hubungan kita dan lingkungan kita, dalam masyarakat sipil, dalam Gereja, dan kehidupan politik, di seluruh dunia, terutama di tempat-tempat di mana kemiskinan, kebusukan dan marjinalisasi sangat mengakar.


Hari ini, sejumlah Uskup Agung saudara kita menerima Pallium, tanda persekutuan dengan Gereja Roma. Kepada mereka saya akan mengatakan : Jadilah rasul seperti Petrus dan Paulus. Jadilah murid dalam mengikuti dan rasul dalam memberitakan. Bawalah keindahan Injil ke mana-mana, bersama dengan seluruh Umat Allah. Akhirnya, saya ingin menyampaikan salam penuh kasih kepada Delegasi Patriarkat Ekumenis, yang dikirim ke sini oleh Saudara saya yang terkasih, Yang Mulia Bartholomew. Terima kasih atas kehadiran Anda! Terima kasih. Semoga kita maju bersama; maju bersama dalam mengikuti dan dalam memberitakan sabda, seraya kita bertumbuh dalam persaudaraan. Semoga Petrus dan Paulus menyertai kita dan menjadi perantara bagi kita semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2023)