Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXX (PENUTUPAN SIDANG UMUM BIASA SINODE PARA USKUP) 29 Oktober 2023 : KITA MENGASIHI ALLAH MELALUI PENYEMBAHAN DAN PELAYANAN

Bacaan Ekaristi : Kel. 22:21-27; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40.


Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dengan berdalih, untuk mencobai Dia. Tetapi, pertanyaan yang ia ajukan adalah pertanyaan yang penting dan bertahan lama, yang terkadang muncul dalam hati kita dan dalam kehidupan Gereja : “Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36). Kita juga, yang tenggelam dalam arus Tradisi yang hidup, dapat bertanya : “Apa hal yang paling penting? Apa kekuatan pendorongnya?” Prinsip apakah yang lebih penting untuk dijadikan panduan segala sesuatu? Jawaban Yesus jelas: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).

 

Saudara para kardinal, para uskup dan para imam, para rohaniwan dan rohaniwati, saudara dan saudari terkasih, di akhir tahap perjalanan kita ini, penting untuk melihat “prinsip dan landasan” yang sungguh menjadi awal mula segala sesuatu : dengan mengasihi. Mengasihi Allah dengan segenap kehidupan kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Bukan strategi kita, perhitungan manusiawi kita, jalan dunia, tetapi kasih kepada Allah dan sesama: itulah inti dari segala sesuatu. Dan bagaimana kita menyalurkan momentum kasih ini? Saya akan mengusulkan dua kata kerja, dua gerakan hati, yang ingin saya renungkan: menyembah dan melayani. Kita mengasihi Allah melalui penyembahan dan pelayanan.

 

Kata kerja pertama, menyembah. Mengasihi berarti menyembah. Penyembahan adalah tanggapan pertama yang dapat kita berikan terhadap kasih Allah yang cuma-cuma dan menakjubkan. Keheranan penyembahan, keajaiban penyembahan, merupakan sesuatu yang hakiki dalam kehidupan Gereja, terutama pada zaman kita dewasa ini di mana kita telah meninggalkan praktek penyembahan. Menyembah Allah berarti mengakui dalam iman bahwa hanya Dialah Tuhan dan kehidupan kita masing-masing, perjalanan Gereja dan hasil akhir sejarah semuanya bergantung pada kelembutan kasih-Nya. Ia memberi makna pada kehidupan kita.

 

Dalam menyembah Allah, kita menemukan kembali bahwa kita bebas. Itulah sebabnya Kitab Suci sering kali mengaitkan mengasihi Allah dengan perjuangan melawan segala bentuk penyembahan berhala. Mereka yang menyembah Allah menolak berhala-hala karena justru Allah memerdekakan, berhala-hala memperbudak. Berhala-hala menipu kita dan tidak pernah mewujudkan apa yang dijanjikannya, karena berhala-hala adalah “buatan tangan manusia” (Mzm 115:4). Kitab Suci tegas berkaitan dengan penyembahan berhala, karena berhala-hala dibuat dan dimanipulasi oleh manusia, sedangkan Allah, Allah yang hidup, hadir dan transenden; Ia “tidak seperti yang kubayangkan, yang tidak bergantung pada apa yang kuharapkan dari-Nya dan yang dengan demikian dapat menggagalkan harapanku, justru karena Ia tetap hidup. Bukti bahwa kita tidak selalu memiliki gagasan yang benar tentang Allah yakni kadang-kadang kita kecewa: Kita berpikir: 'Aku mengharapkan satu hal, aku membayangkan Allah akan berperilaku seperti ini, tetapi aku salah'. Tetapi dengan cara ini, kita kembali ke jalan penyembahan berhala, menginginkan Tuhan bertindak sesuai dengan gambaran yang kita miliki tentang Dia” (C.M. Martini, I grandi della Bibbia. Esercizi spirituali con l’Antico Testamento, Fiorentina, 2022, 826-827). Kita selalu berisiko berpikir bahwa kita bisa “mengendalikan Allah”, bahwa kita bisa membatasi kasih-Nya pada agenda kita. Sebaliknya, cara Ia bertindak selalu tidak dapat diduga, melampaui pemikiran kita, dan akibatnya cara bertindak Allah menuntut keheranan dan penyembahan. Keheranan sangat penting!

Kita harus terus-menerus berjuang melawan segala jenis penyembahan berhala; bukan hanya hal-hal duniawi, yang seringkali berasal dari keangkuhan, seperti nafsu akan kesuksesan, egoisme, keserakahan akan uang – jangan lupa iblis masuk “melalui kantong”, godaan karirisme; tetapi juga bentuk-bentuk penyembahan berhala yang disamarkan sebagai spiritualitas – spiritualitasku : gagasan-gagasan keagamaanku, keterampilan pastoralku ... Marilah kita waspada, jangan sampai kita menemukan bahwa kita menempatkan diri kita sebagai pusatnya dan bukan Dia. Dan marilah kita kembali menyembah. Semoga penyembahan menjadi pusat perhatian kita sebagai para gembala : marilah kita meluangkan waktu setiap hari untuk menjalin keintiman dengan Yesus Sang Gembala yang baik, dan menyembah Dia yang ada di dalam tabernakel. Semoga Gereja menyembah : di setiap keuskupan, di setiap paroki, di setiap komunitas, marilah kita menyembah Tuhan! Hanya dengan cara inilah kita akan berpaling kepada Yesus dan bukan kepada diri kita. Karena hanya melalui penyembahan yang teduh Sabda Allah akan hidup dalam perkataan kita; hanya di hadirat-Nya kita akan dimurnikan, diubah rupa, dan diperbarui oleh api Roh-Nya. Saudara-saudari, marilah kita menyembah Tuhan Yesus!

 

Kata kerja kedua adalah melayani. Mengasihi berarti melayani. Dalam perintah agung, Kristus mengikat Allah dan sesama sehingga mereka tidak akan pernah terputus. Tidak akan ada pengalaman keagamaan sejati yang tuli terhadap jeritan dunia. Tidak ada kasih kepada Allah tanpa kepedulian dan keprihatinan terhadap sesama kita; jika tidak, kita berisiko menjadi orang Farisi. Kita mungkin punya banyak gagasan bagus tentang bagaimana mereformasi Gereja, tetapi marilah kita ingat: menyembah Allah dan mengasihi saudara-saudari kita dengan kasih-Nya, itulah reformasi besar dan abadi. Menjadi Gereja yang menyembah dan Gereja yang melayani, membasuh kaki umat manusia yang terluka, mendampingi mereka yang rapuh, lemah dan terpinggirkan, pergi keluar dengan penuh kasih menjumpai orang-orang miskin. Kita mendengar pada Bacaan Pertama bagaimana Allah memerintahkan hal ini.

 

Saudara-saudari, saya memikirkan para korban kekejaman perang; penderitaan para migran, penderitaan tersembunyi dari mereka yang hidup sendirian dan dalam kemiskinan; mereka yang tertimpa beban hidup; mereka yang tidak punya air mata lagi untuk ditumpahkan, mereka yang tidak punya suara. Dan saya juga memikirkan betapa seringnya, di balik kata-kata manis dan janji-janji menarik, orang dieksploitasi atau tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi. Mengeksploitasi kelompok yang rentan adalah dosa besar, dosa besar yang merusak persaudaraan dan menghancurkan masyarakat. Sebagai murid Yesus, kita ingin membawa ke dunia jenis ragi yang berbeda, yaitu ragi Injil. Mendahulukan Allah dan, bersama-sama Dia, orang-orang yang sangat Ia kasihi: kaum miskin dan kaum lemah.

 

Saudara-saudari sekalian, inilah Gereja yang mana kita dipanggil untuk “memimpikan” : sebuah Gereja yang menjadi pelayan bagi semua orang, pelayan bagi saudara-saudari kita yang terkecil. Gereja yang tidak pernah menuntut pengakuan atas “perilaku baik”, tetapi menerima, melayani, mengasihi, dan mengampuni. Sebuah Gereja dengan pintu terbuka yang merupakan surga belas kasihan. “Orang yang penuh belas kasihan”, kata Yohanes Krisostomus, “adalah seperti pelabuhan bagi mereka yang membutuhkan; dan pelabuhan menerima semua orang yang melarikan diri dari kapal karam, dan membebaskan mereka dari bahaya, baik mereka yang jahat maupun yang baik; siapapun mereka yang berada dalam bahaya akan diterima di tempat perlindungan. Demikian pula, jika kamu melihat seseorang terdampar di darat karena kemiskinan, janganlah kamu menghakiminya atau menuntut penjelasan, tetapi singkirkanlah kesusahannya” (In pauperem Lazarum, II, 5).

 

Saudara-saudara, Sidang Umum Sinode kini telah selesai. Dalam “percakapan Roh” ini, kita telah mengalami kehadiran Tuhan yang penuh kasih dan menemukan indahnya persaudaraan. Kita telah saling mendengarkan dan yang terpenting, dalam keberagaman latar belakang dan keprihatinan, kita telah mendengarkan Roh Kudus. Saat ini kita tidak melihat hasil proses ini sepenuhnya, tetapi dengan pandangan jauh ke depan kita memandang cakrawala yang terbuka di hadapan kita. Tuhan akan membimbing kita dan membantu kita menjadi Gereja yang semakin sinodal dan misioner, Gereja yang menyembah Allah dan melayani orang-orang di zaman kita, yang berjalan maju untuk membawa sukacita Injil yang menghibur kepada semua orang.

 

Saudara-saudari, saya berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan selama Sinode dan atas semua yang terus kamu lakukan. Terima kasih atas perjalanan yang telah kita lalui bersama, atas pendengaran dan dialogmu. Sebagai ungkapan terima kasih, saya juga ingin memanjatkan doa untuk kita semua: semoga kita bertumbuh dalam penyembahan kita kepada Allah dan dalam pelayanan kita kepada sesama. Menyembah dan melayani. Semoga Tuhan menyertai kita. Marilah kita berjalan maju dengan sukacita!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Oktober 2023)


HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG UMUM BIASA SINODE PARA USKUP 4 Oktober 2023 : TATAPAN YESUS

Bacaan Ekaristi : Gal 6:14-18; Mat 11:25-30.

 

Bacaan Injil yang baru saja kita dengar didahului oleh kisah tentang saat sulit dalam perutusan Yesus, yang mungkin kita sebut sebagai “kehancuran pastoral”. Yohanes Pembaptis meragukan apakah Yesus benar-benar Mesias; begitu banyak kota yang Ia lewati, meskipun berbagai mukjizat yang Ia lakukan, tidak bertobat; orang-orang menuduh-Nya sebagai seorang pelahap dan peminum, padahal tadinya mereka mengeluh tentang Yohanes Pembaptis karena ia terlalu keras (bdk. Mat 11:2-24). Tetapi kita melihat bahwa Yesus tidak membiarkan diri-Nya diliputi kesedihan, melainkan menengadah ke langit dan bersyukur kepada Bapa karena Ia telah menyatakan misteri Kerajaan Allah kepada orang kecil : “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Maka, di saat-saat kesedihan, Yesus memiliki tatapan yang mampu melihat lebih jauh: Ia memuji kebijaksanaan Bapa dan mampu melihat kebaikan yang tumbuh tak terlihat, benih Sabda yang disambut oleh orang-orang kecil, terang Kerajaan Allah yang menunjukkan jalan bahkan di malam hari.

 

Saudara para kardinal yang terkasih, saudara para uskup, para saudara dan saudari, kita sedang menghadiri pembukaan Sidang Umum Sinode. Di sini kita tidak memerlukan visi yang murni alami, yang berupa strategi manusiawi, perhitungan politis, atau pertarungan ideologis. Jika Sinode memperkenankan hal ini terjadi, “pihak lain” akan membukakan pintu untuknya. Ini tidak kita perlukan. Ki9ta di sini bukan untuk melaksanakan rapat dewan perwakilan rakyat atau rencana reformasi. Sinode, saudara dan saudari terkasih, bukan sebuah dewan perwakilan rakyat. Roh Kudus adalah tokoh utamanya. Kita di sini bukan untuk membentuk dewan perwakilan rakyat tetapi berjalan bersama dengan tatapan Yesus, yang bersyukur kepada Bapa dan menyambut orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat. Maka marilah kita mulai dari tatapan Yesus, yaitu tatapan penuh berkat dan menyambut.

 

1.       Marilah kita lihat aspek pertama : tatapan yang penuh syukur. Sekalipun mengalami penolakan dan melihat di sekeliling begitu banyak kekerasan hati, Kristus tidak membiarkan diri-Nya terpenjara oleh kekecewaan, Ia tidak menjadi getir, Ia tidak berhenti memuji; hati-Nya, yang berlandaskan keutamaan Bapa, tetap tenang bahkan di tengah badai.

 

Tatapan Tuhan yang penuh syukur ini juga mengajak kita menjadi Gereja yang, dengan hati gembira, merenungkan perbuatan Allah dan melakukan pembedaan roh terhadap masa kini. Dan Gereja yang, di tengah gelombang zaman yang kadang-kadang bergejolak, tidak berkecil hati, tidak mencari celah ideologis, tidak membentengi diri di balik anggapan yang sudah ada sebelumnya, tidak menyerah pada penyelesaian yang mudah, tidak membiarkan dunia mendikte agendanya. Inilah kebijaksanaan rohani Gereja, yang dirangkum dengan teduh oleh Santo Yohanes XXIII : “Pertama-tama, Gereja tidak boleh menyimpang dari warisan suci kebenaran yang diterima dari para Bapa. Tetapi pada saat yang sama Gereja harus selalu melihat ke masa kini, pada kondisi-kondisi baru dan bentuk-bentuk kehidupan baru yang diperkenalkan ke dalam dunia modern yang telah membuka jalan-jalan baru bagi kerasulan Katolik” (Pidato pada Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II, 11 Oktober 1962).

 

Tatapan Yesus yang penuh syukur mengajak kita menjadi Gereja yang tidak menghadapi tantangan dan persoalan masa kini dengan semangat memecah-belah dan suka bertengkar, tetapi sebaliknya, mengarahkan pandangan kepada Allah yang mempersatukan dan, dengan rasa heran dan rendah hati, bersyukur dan menyembah-Nya. , mengakui-Nya sebagai satu-satunya Tuhannya. Kita adalah milik-Nya dan – ingatlah – kita ada hanya untuk melahirkan-Nya ke dunia. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus kepada kita, kita “sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal. 6:14). Ini cukup bagi kita; Ia cukup bagi kita. Kita tidak menginginkan kemegahan duniawi; kita tidak ingin menjadikan diri kita menarik di mata dunia, tetapi ingin menjangkaunya dengan penghiburan Injil, memberikan kesaksian tentang kasih Allah yang tak terbatas, dengan cara yang lebih baik dan kepada semua orang. Memang benar, sebagaimana dikatakan Benediktus XVI, tepatnya ketika berbicara di hadapan sidang sinode, “pertanyaan bagi kita adalah ini : Allah telah bersabda, Ia sungguh telah memecah keheningan yang besar, Ia telah menunjukkan diri-Nya, tetapi bagaimana kita dapat menyampaikan kenyataan ini kepada bangsa-bangsa dewasa ini, sehingga menjadi keselamatan?” (Permenungan, Kongregasi Umum I Sidang Umum Biasa XIII Sinode Para Uskup, 8 Oktober 2012). Ini adalah pertanyaan dasariah. Dan inilah tugas utama Sinode : memfokuskan kembali tatapan kita kepada Allah, menjadi Gereja yang memandang umat manusia dengan penuh belas kasihan. Sebuah Gereja yang bersatu dan bersaudara – atau setidaknya berupaya untuk bersatu dan bersaudara –, yang mendengarkan dan berdialog; sebuah Gereja yang memberkati dan memberi semangat, yang membantu mereka yang mencari Tuhan, yang dengan penuh kasih membangkitkan semangat mereka yang acuh tak acuh, yang membuka jalan untuk menarik orang ke dalam keindahan iman. Sebuah Gereja yang berpusat pada Allah dan oleh karena itu, tidak terpecah belah secara internal dan tidak pernah bersikap kasar secara eksternal. Sebuah Gereja yang mengambil risiko dalam mengikut Yesus. Inilah yang diinginkan Yesus dari Gereja, mempelai perempuan.

 

2.     Setelah merenungkan tatapan yang penuh syukur, kini marilah kita melihat tatapan Kristus yang menyambut. Ketika orang-orang yang menganggap dirinya bijak tidak menyadari karya Allah, Yesus bersukacita di dalam Bapa karena Ia menyatakan diri-Nya kepada orang-orang kecil, orang-orang sederhana, dan orang-orang yang miskin di hadapan Allah. Suatu ketika ada suatu masalah di sebuah paroki dan hal itu dibicarakan oleh umat. Inilah yang mereka katakan pada saya. Seorang perempuan yang sangat renta, seorang perempuan yang berasal dari masyarakat yang praktis buta huruf, turun tangan, seolah-olah ia adalah seorang teolog, dan dengan kelembutan dan kebijaksanaan rohani yang besar memberikan wawasannya. Saya mengingat dengan gembira saat tersebut sebagai penyataan diri Tuhan. Terlintas dalam benak saya untuk bertanya kepadanya : “Katakanlah kepada saya, Nyonya, di manakah kamu belajar teologi, bersama Royo Marín, seorang teolog hebatkah?” Orang bijak di antara kita mempunyai keyakinan seperti ini. Sepanjang hidup-Nya, Yesus memberikan tatapan yang menyambut kepada mereka yang paling lemah, yang menderita, dan yang terbuang. Khususnya kepada mereka, Ia menyampaikan kata-kata yang kita dengar : “"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28).

 

Tatapan Yesus yang menyambut ini juga mengajak kita untuk menjadi sebuah Gereja yang menyambut, bukan sebuah Gereja yang pintunya tertutup. Di masa yang begitu rumit seperti sekarang ini, muncul tantangan-tantangan budaya dan pastoral baru yang memerlukan sikap batin yang hangat dan ramah sehingga kita saling dapat bertemu tanpa rasa takut. Dalam dialog sinode, dalam “perjalanan Roh Kudus” yang indah yang kita jalani bersama sebagai Umat Allah, kita dapat bertumbuh dalam kesatuan dan persahabatan dengan Tuhan untuk melihat tantangan-tantangan dewasa ini dengan tatapan-Nya; menjadi, dengan menggunakan ungkapan halus Santo Paulus VI, sebuah Gereja yang “menjadikan dirinya bahan perbincangan” (Ensiklik Ecclesiam Suam, 65). Gereja “dengan kuk yang lemah lembut” (bdk. Mat 11:30), yang tidak membebani dan mengulangi kepada setiap orang: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, yang tersesat atau merasa jauh, yang telah menutup pintu harapan : Gereja ada di sini untukmu!” Pintu Gereja terbuka untuk semua orang, semua orang, semua orang!

 

3.     Saudara dan saudari, Umat Allah yang kudus, dalam menghadapi kesulitan dan tantangan yang ada di depan, tatapan Yesus yang penuh syukur dan menyambut mencegah kita jatuh ke dalam godaan-godaan berbahaya: menjadi sebuah Gereja yang kaku – sebuah tempat tugas tertentu –, yang mempersenjatai diri melawan dunia dan melihat ke belakang; menjadi sebuah Gereja yang suam-suam kuku, yang menyerah pada mode dunia; menjadi Gereja yang letih lesu, menyerahkan diri pada dirinya sendiri. Dalam Kitab Wahyu, Tuhan bersabda, “Aku berdiri di depan pintu dan mengetuknya supaya dibukakan”; tetapi seringkali, saudara dan saudari, Ia berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintu tetapi dari dalam Gereja sehingga kita dapat memperkenankan-Nya keluar bersama Gereja untuk mewartakan Injil-Nya.

 

Marilah kita berjalan bersama : rendah hati, bersemangat dan gembira. Marilah kita mengikuti jejak Santo Fransiskus dari Asisi, santo kemiskinan dan perdamaian, “orang dungu Allah” yang mengenakan stigmata Yesus di dalam tubuhnya dan, untuk mengenakannya, ia menanggalkan segalanya. Betapa sulitnya bagi kita semua untuk melakukan pengosongan diri lahir dan batin ini. Hal serupa juga berlaku bagi lembaga-lembaga. Santo Bonaventura menceritakan bahwa ketika ia sedang berdoa, Yesus yang tersalib berkata kepadanya, “Pergilah dan perbaikilah gereja-Nu” (Legenda maior, II, 1). Sinode berfungsi untuk mengingatkan kita akan hal ini : Bunda kita, Gereja, selalu membutuhkan pemurnian, “diperbaiki”, karena kita adalah umat yang terdiri dari para pendosa yang telah diampuni – kedua unsurnya: para pendosa yang telah diampuni –, yang selalu butuh kembali ke sumbernya yaitu Yesus dan menempatkan diri kita kembali pada jalan Roh untuk menjangkau semua orang dengan Injil-Nya. Fransiskus dari Asisi, di masa pergulatan dan perpecahan besar, antara kekuatan duniawi dan agama, antara lembaga Gereja dan aliran sesat, antara umat Kristiani dan umat beriman lainnya, tidak mengkritik atau menyerang siapa pun. Ia hanya menggunakan senjata Injil: kerendahan hati dan persatuan, doa dan amal kasih. Marilah kita melakukan hal yang sama: kerendahan hati, persatuan, doa dan amal kasih!

 

Dan jika umat Allah yang kudus bersama para gembalanya dari seluruh dunia mempunyai pengharapan, harapan dan bahkan ketakutan terhadap sinode yang sedang kita mulai, marilah kita terus mengingat bahwa sinode bukan sebuah ajang pertemuan politik, melainkan sebuah pertemuan dalam Roh; bukan dewan perwakilan rakyat yang terkutub-kutub, tetapi tempat kasih karunia dan persekutuan. Roh Kudus sering kali menghancurkan harapan kita untuk menciptakan sesuatu yang baru yang melampaui prediksi dan negativitas kita. Mungkin saya dapat mengatakan bahwa momen-momen Sinode yang lebih bermanfaat adalah momen-momen yang terhubung dengan doa, suasana doa, yang melaluinya Tuhan bekerja di dalam diri kita. Marilah kita membuka diri kita kepada-Nya dan berseru kepada-Nya, sang tokoh utama, Roh Kudus. Marilah kita memperkenankan-Nya menjadi tokoh utama Sinode! Dan marilah kita berjalan bersama-Nya, dengan penuh kepercayaan dan sukacita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Oktober 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION VÉLODROME, MARSEILLE (PRANCIS) 23 September 2023 : LONJAKAN IMAN

Bacaan Ekaristi : 2 Sam 6:1-15; Luk 1:39-45.

 

Kitab Suci memberitahu kita bahwa, setelah mendirikan kerajaannya, Raja Daud memutuskan untuk mengangkut Tabut Perjanjian ke Yerusalem. Setelah memanggil orang-orang, ia bangkit dan berangkat membawa Tabut Perjanjian; dalam perjalanan, ia dan orang-orang menari-nari di depannya, bersukacita di hadapan Tuhan (bdk. 2 Sam 6:1-15). Dengan latar belakang adegan inilah penginjil Lukas menceritakan kunjungan Maria kepada sanaknya Elisabet. Maria juga bangkit dan berangkat ke wilayah Yerusalem, dan ketika ia memasuki rumah Elisabet, anak yang dikandungnya, menyadari kedatangan Mesias, melonjak kegirangan dan mulai menari-nari seperti yang dilakukan Daud di depan Tabut Perjanjian (bdk. Luk 1:39-45).

 

Kemudian Maria ditampilkan sebagai Tabut Perjanjian yang sesungguhnya, yang memperkenalkan Tuhan yang menjelma ke dalam dunia. Ia adalah Perawan muda yang pergi menemui perempuan tua yang mandul dan, dengan membawa Yesus, menjadi tanda kunjungan Tuhan yang mengatasi segala kemandulan. Ia adalah Bunda yang pergi ke pegunungan Yehuda, untuk memberitahu kita bahwa Tuhan sedang mencari kita dengan kasih-Nya, sehingga kita dapat kegirangan dengan penuh sukacita. Allahlah yang sedang berangkat!

 

Dalam diri kedua perempuan ini, Maria dan Elisabet, kunjungan Tuhan kepada umat manusia terungkap. Yang satu muda dan yang satu lagi tua, yang satu masih perawan dan yang satu lagi mandul, namun keduanya mengandung dengan cara yang “mustahil”. Inilah karya Allah dalam kehidupan kita; Ia membuat mungkin bahkan apa yang tampak mustahil, Ia menghasilkan kehidupan bahkan di tengah kemandulan.

 

Saudara-saudari, marilah kita bertanya pada diri kita dengan jujur, dari hati: Percayakah kita bahwa Allah sedang bekerja dalam kehidupan kita? Apakah kita percaya bahwa Allah, dengan cara yang tersembunyi dan seringkali tidak dapat diduga, bertindak dalam sejarah, mempertunjukkan keheranan, dan sedang bekerja bahkan dalam masyarakat kita yang ditandai oleh sekularisme duniawi dan ketidakpedulian terhadap agama tertentu?

 

Ada cara untuk membedakan apakah kita mempunyai kepercayaan kepada Tuhan atau tidak. Apa caranya? Bacaan Injil mengatakan bahwa “ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (ayat 41). Ini tandanya: melonjak kegirangan. Siapa pun yang percaya, siapa pun yang berdoa, siapa pun yang menyambut Tuhan akan melonjak dalam Roh, dan merasakan ada sesuatu yang sedang bergerak di dalam batinnya, dan “menari-nari” dengan penuh sukacita. Saya ingin membahas hal ini : lonjakan iman.

 

Pengalaman iman, yang pertama dan terutama, menimbulkan suatu lonjakan tertentu dalam menghadapi kehidupan. Melonjak berarti “menyentuh batin”, merasakan getaran batin, merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam hati kita. Hal ini kebalikan dari hati yang datar dan dingin, terbiasa hidup tenang, terbungkus dalam ketidakpedulian dan menjadi kedap air. Hati yang demikian menjadi mengeras dan tidak peka terhadap segala hal dan siapa pun, bahkan terhadap tragisnya pencampakkan kehidupan manusia, yang saat ini terlihat dalam penolakan terhadap banyak imigran, terhadap banyak sekali anak-anak yang masih dalam kandungan, dan orang-orang lanjut usia yang terlantar. Hati yang dingin dan datar menyeret kehidupan secara mekanis, tanpa nafsu, tanpa dorongan, tanpa hasrat. Dalam masyarakat Eropa, kita bisa menjadi sakit karena semua ini dan menderita sinisme, kekecewaan, kepasrahan, ketidakpastian, dan kesedihan yang menyeluruh – semua ini tergabung : kesedihan, kesedihan yang tersembunyi di dalam hati manusia tersebut. Seseorang menyebut watak ini sebagai “hasrat yang menyedihkan” dan ditemukan pada orang-orang yang tidak “melonjak dalam menghadapi kehidupan”.

Sebaliknya, mereka yang dilahirkan dalam iman akan mengenali kehadiran Tuhan, seperti bayi dalam rahim Elisabet. Mereka mengenali karya-Nya seiring fajar menyingsing dan menerima pandangan baru untuk melihat kenyataan. Bahkan di tengah kerja keras, permasalahan dan penderitaan, setiap hari mereka menyadari kunjungan Allah di antara kita serta merasa ditemani dan didukung oleh-Nya. Berhadapan dengan misteri kehidupan dan tantangan masyarakat, mereka yang beriman memiliki semangat dalam langkah mereka, hasrat, mimpi untuk dikembangkan, minat yang mendorong mereka untuk berkomitmen secara pribadi. Sekarang kita masing-masing dapat bertanya pada diri kita : apakah aku merasakan hal-hal ini? Apakah aku mempunyai hal-hal ini? Mereka yang seperti ini tahu bahwa dalam segala hal Tuhan hadir, memanggil dan mengajak mereka untuk bersaksi tentang Injil dengan lemah lembut, guna membangun dunia baru, dengan menggunakan karunia dan karisma yang telah mereka terima.

 

Selain memampukan kita untuk melonjak dalam menghadapi kehidupan, pengalaman iman juga mendorong kita untuk melonjak ke arah sesama kita. Memang benar, dalam misteri kunjungan Maria kepada Elisabet, kita melihat bahwa kunjungan Allah tidak terjadi melalui peristiwa-peristiwa surgawi yang luar biasa, melainkan dalam sebuah perjumpaan yang sederhana. Allah datang ke ambang pintu sebuah rumah keluarga, dalam pelukan lembut antara dua perempuan, dalam jalinan dua kehamilan yang penuh keheranan dan harapan. Di sana kita melihat kepedulian Maria, keheranan Elisabet, dan sukacita berbagi.

 

Marilah kita selalu mengingat hal ini dalam Gereja : Allah itu relasional dan sering mengunjungi kita melalui perjumpaan antarmanusia, ketika kita tahu bagaimana bersikap terbuka terhadap orang lain, ketika ada “gejolak” dalam diri kita yang memihak kepada orang-orang yang berpapasan dengan kita setiap hari, dan ketika hati kita tidak tetap tenang dan tidak peka terhadap luka-luka orang yang rapuh. Kota-kota besar kita dan banyak negara Eropa seperti Perancis, di mana berbagai budaya dan agama hidup berdampingan, merupakan kekuatan yang kuat melawan individualisme, keegoisan dan penolakan yang berlebihan yang menimbulkan kesepian dan penderitaan. Marilah kita belajar dari Yesus bagaimana menggerakkan diri kita untuk membantu orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Marilah kita belajar dari Dia yang tergerak hati-Nya oleh belas kasihan di hadapan orang banyak yang letih dan lelah (bdk. Mrk 6:34) dan “melonjak o0leh belas kasihan” di hadapan orang-orang yang terluka yang kita temui. Sebagaimana didesak oleh salah seorang santo besarmu, Vinsensius a Paulo, “maka kita hendaknya melembutkan hati kita dan menyadarkan hati kita akan penderitaan dan kesengsaraan sesama kita. Kita harus memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita roh belas kasihan yang merupakan Roh Allah sendiri,” sampai pada titik mengakui bahwa orang miskin adalah “tuan dan guru kita” (Korespondensi, wawancara, dokumen, Paris 1920-25, 341; 392-393).

Saudara-saudari, saya memikirkan banyak “kegaduhan” di Prancis, dengan sejarahnya yang kaya akan kekudusan dan budaya; para seniman dan pemikir yang telah menginspirasi banyak generasi. Saat ini juga, kehidupan kita dan kehidupan Gereja, Prancis dan Eropa membutuhkan hal ini: rahmat sebuah lonjakan maju, sebuah lonjakan baru dalam iman, kasih dan harapan. Kita perlu mengobarkan kembali semangat dan antusiasme kita, untuk membangkitkan kembali keinginan kita untuk berkomitmen pada persaudaraan. Kita perlu sekali lagi mengambil risiko untuk mengasihi keluarga kita dan berani mengasihi yang paling lemah, dan menemukan kembali dalam Injil rahmat yang mengubah rupa yang membuat kehidupan menjadi indah.

 

Marilah kita memandang Maria, yang menyusahkan diri dengan memulai suatu perjalanan dan yang mengajari kita bahwa inilah jalan Allah: Ia menyusahkan kita, membuat kita bergerak dan membuat kita “melonjak”, serupa dengan pengalaman Elisabet. Kita ingin menjadi umat Kristiani yang berjumpa Allah dalam doa, dan saudara-saudari kita dalam kasih; umat Kristiani yang melonjak, berdenyut, dan menerima api Roh Kudus dan kemudian membiarkan diri mereka terkobar oleh pertanyaan-pertanyaan di zaman kita, oleh tantangan-tantangan di Mediterania, oleh jeritan kaum miskin – dan oleh “utopia-utopia suci” persaudaraan dan perdamaian yang menunggu untuk diwujudkan.

 

Saudara-saudari, bersamamu, saya berdoa kepada Bunda Maria, Notre Dame de la Garde, agar ia menjaga hidupmu, agar ia menjaga Prancis dan menjaga seluruh Eropa, serta agar ia membuat kita melonjak ke dalam Roh. Saya ingin memanjatkan doa ini dengan menggunakan kata-kata Paul Claudel: “Aku melihat gereja, buka…. Aku tidak mempunyai apa pun untuk ditawarkan dan tidak ada yang perlu ditanyakan. Aku datang, Bunda, hanya untuk memandangmu. Memandangmu, menangis bahagia, mengetahui bahwa aku adalah putramu, dan bahwa kamu ada di sana…. Bersamamu, Maria, di tempat di mana kamu berada…. Karena kamu ada di sana, selalu… Karena kamu Maria semata … Karena kamu ada semata… Bunda Yesus Kristus, syukur kepadamu (“Perawan di Waktu Malam”, Puisi Perang 1914-1916, Paris, 1992).

 

[Kata Perpisahan di Akhir Misa Kudus]

 

Yang Mulia, saya berterima kasih atas kata-katamu dan saudara-saudari, saya berterima kasih kepada kamu semua, atas kehadiran dan doamu : terima kasih!

Setelah kunjungan ini berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat yang saya terima, serta atas seluruh upaya dan persiapan yang dilakukan selama kunjungan ini. Saya berterima kasih kepada Presiden Republik Prancis dan, melalui dia, saya menyampaikan salam ramah kepada semua pria dan wanita di Prancis. Saya menyapa Perdana Menteri yang datang menyambut saya di bandara dan saya juga menyapa pihak berwenang yang hadir, khususnya Walikota Marseille.

 

Saya merangkul seluruh Gereja Marseille, dengan paroki dan komunitas keagamaannya, berbagai lembaga pendidikan dan organisasi amalnya. Keuskupan Agung ini adalah keuskupan pertama di dunia yang dikonsekrasikan kepada Hati Kudus Yesus, pada saat wabah penyakit merebak pada tahun 1720. Oleh karena itu, di dalam hatimulah ada tanda kasih Allah yang lembut, juga di tengah “epidemi ketidakpedulian” yang terjadi saat ini. Terima kasih atas pelayananmu yang lembut dan penuh komitmen, yang menjadi saksi kedekatan dan kasih sayang Tuhan!

 

Beberapa dari kami datang ke sini dari berbagai penjuru Prancis : merci à vous! Saya ingin menyapa saudara-saudari dari Nice, yang didampingi oleh uskup dan walikota mereka. Saya mengingat serangan mengerikan yang terjadi pada tanggal 14 Juli 2016, dan kamu adalah orang-orang yang selamat. Marilah kita dengan penuh doa mengenang semua orang yang kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut, serta semua aksi teroris yang dilakukan di Prancis dan di seluruh belahan dunia. Terorisme itu pengecut. Janganlah kita bosan berdoa untuk perdamaian di wilayah yang dilanda perang, dan khususnya bagi rakyat Ukraina yang dilanda perang.

 

Dengan sepenuh hati saya menyapa orang sakit, anak-anak, dan orang tua, yang merupakan kenangan peradaban. Saya terutama memikirkan mereka yang berada dalam kesulitan dan semua pekerja di kota ini: Jacques Loew, imam pekerja pertama di Prancis, bekerja di pelabuhan Marseille. Semoga martabat pekerja dihormati, ditinggikan dan dilindungi!

 

Saudara-saudari terkasih, saya akan mengingat perjumpaan hari-hari ini dalam hati saya. Semoga Notre Dame de la Garde menjaga kota ini, yang merupakan mosaik harapan, seluruh keluargamu, dan kamu masing-masing. Saya memberkatimu. Mohon jangan lupa untuk mendoakan saya. Pekerjaan ini tidak mudah! Terima kasih.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 September 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STEPPE ARENA, ULAANBAATAR, MONGOLIA 3 September 2023 : IMAN KRISTIANI ADALAH JAWABAN ATAS KEHAUSAN AKAN KASIH

Bacaan Ekaristi : Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27.

 

Dengan kata-kata Mazmur Tanggapan, kita berdoa : “ Ya Allah, ... jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair” (Mzm 63:2). Permohonan yang luar biasa ini menyertai perjalanan kita menjalani kehidupan, di tengah seluruh padang gurun yang harus kita lalui. Justru di padang gurun itulah kita mendengar kabar baik bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan kita; masa-masa kekeringan tersebut tidak dapat memandulkan kehidupan kita selamanya; jeritan kehausan kita bukan tidak terdengar. Allah Bapa telah mengutus Putra-Nya untuk memberi kita air hidup Roh Kudus untuk memuaskan jiwa kita (bdk. Yoh 4:10). Yesus, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, menunjukkan kepada kita cara untuk memuaskan kehausan kita. Kehausan kita dipuaskan dengan jalan kasih, yang Ia ikuti bahkan hingga di kayu salib, dan yang melaluinya Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya, dengan mengurbankan nyawa kita agar memperoleh kepuasan tersebut (bdk. Mat 16:24-25).

 

Marilah kita renungkan bersama dua hal ini : kehausan yang ada di dalam diri kita, dan kasih yang memuaskan kehausan tersebut.

 

Pertama, kita dipanggil untuk mengakui kehausan dalam diri kita. Pemazmur berseru kepada Allah dalam kekeringannya, karena hidupnya laksana padang gurun. Kata-katanya bergema terutama di negeri seperti Mongolia : negeri yang luas, kaya akan sejarah dan budaya, namun juga ditandai dengan kegersangan padang rumput yang luas dan padang gurun. Banyak di antara kamu yang memahami kepuasan dan kehausan dalam perjalanan, yang membangkitkan aspek dasariah spiritualitas biblis yang diwakili oleh Abraham dan, dalam arti yang lebih luas, oleh umat Israel dan tentu saja setiap murid Tuhan. Karena kita semua adalah “pengembara Allah”, pengembara yang mencari kebahagiaan, pengembara yang haus akan kasih. Maka padang gurun yang dibicarakan Pemazmur adalah kehidupan kita. Kita adalah tanah kering yang haus akan air segar, air yang dapat memuaskan dahaga terdalam kita. Hati kita rindu untuk menemukan rahasia kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang bahkan di tengah kegersangan keberadaan, dapat menemani dan menopang kita. Jauh di dalam diri kita, kita mempunyai kehausan akan kebahagiaan yang tak terpuaskan; kita mencari makna dan arah dalam kehidupan kita, alasan atas semua yang kita lakukan setiap hari. Meebihi segalanya, kita haus akan kasih, karena hanya kasih yang benar-benar dapat memuaskan kita, memberi kita kepuasan; hanya kasih yang bisa membuat kita bahagia, mengilhami kepastian batin, dan memungkinkan kita menikmati indahnya kehidupan. Saudara dan saudari terkasih, iman Kristiani adalah jawaban terhadap kehausan ini; sungguh, tanpa mengabaikannya atau berusaha menggantinya dengan obat penenang atau pengganti. Karena di dalam kehausan inilah terdapat misteri besar kemanusiaan kita: kehausan ini membuka hati kita kepada Allah yang hidup, Allah kasih, yang datang menjumpai kita dan menjadikan kita anak-anak-Nya, saudara saudari satu sama lain.

 

Hal ini membawa kita pada hal kedua: kasih yang memuaskan kehausan kita. Yang pertama adalah kehausan kita yang dalam dan menyangkut keberadaan, dan kini kita merenungkan kasih yang memuaskan kehausan kita. Inilah pokok iman Kristiani : Allah, yang adalah Kasih, telah mendekat kepadamu, kepadaku, kepada semua orang, dalam Putra-Nya Yesus, dan ingin ambil bagian dalam hidupmu, pekerjaanmu, impianmu dan kehausanmu akan kebahagiaan. Memang benar bahwa, kadang-kadang, kita merasa seperti “tanah yang kering dan kehausan, tiada berair”, tetapi juga benar bahwa Allah peduli terhadap kita dan menawarkan kepada kita air yang jernih dan menyegarkan, air hidup Roh Kudus, yang memancar di dalam diri kita untuk memperbaharui dan membebaskan kita dari risiko kekeringan. Yesus memberi kita air tersebut. Sebagaimana dikatakan Santo Agustinus kepada kita, “…jika kita mengenali diri kita sebagai orang yang haus, kita juga dapat mengenali diri kita sebagai orang yang memuaskan kehausan” (Tentang Mazmur, 63:1). Memang kalau dalam kehidupan ini kita sering mengalami padang gurun yang sarat kesepian, keletihan, dan kehampaan, hendaknya kita juga ingat, bersama Agustinus, bahwa, “jangan sampai kita pingsan di padang gurun ini, maka Allah akan menyegarkan kita dengan embun sabda-Nya… Benar, Ia membuat kita merasa haus, namun kemudian datang untuk memuaskan kehausan tersebut… Allah telah berbelas kasihan kepada kita; Ia telah membukakan kita jalan raya di padang gurun : Tuhan kita Yesus Kristus”. Dan itulah jalan melewati padang gurun kehidupan kita. “Ia telah menawarkan kepada kita sumber penghiburan di padang gurun: para pengkhotbah firman-Nya. Ia telah menawarkan kita air di padang gurun tersebut, dengan memenuhi para pengkhotbah itu dengan Roh Kudus, sehingga menciptakan, di dalamnya, sumber air yang memancar hingga kehidupan kekal” (idem., 1, 6). Kata-kata ini, para sahabat terkasih, berbicara kepadamu tentang sejarahmu. Di tengah padang gurun kehidupan dan kesulitan yang terkait dengan komunitas kecil, Tuhan telah memastikan bahwa kamu tidak kekurangan air sabda-Nya, terutama terima kasih kepada para pengkhotbah dan misionaris yang, diurapi oleh Roh Kudus, menaburkan benih keindahannya di antaramu. Sabda tersebut senantiasa membawa kita kembali pada hal yang penting, pada pokok iman kita: memperkenankan diri kita dikasihi Allah dan pada gilirannya menjadikan kehidupan kita sebagai persembahan kasih. Karena hanya kasih yang benar-benar memuaskan kehausan kita. Janganlah kita lupa: hanya kasih yang sungguh dapat memuaskan kehausan kita.

 

Hal itulah yang dikatakan Yesus kepada rasul Petrus dalam Bacaan Injil hari ini. Petrus tidak bisa menerima kenyataan bahwa Yesus harus menderita, didakwa para pemuka umat, menjalani sengsara-Nya dan kemudian wafat di kayu salib. Petrus bereaksi, ia memprotes, ia mencoba meyakinkan Yesus bahwa Yesus keliru, karena, dalam pikiran Petrus – dan kita juga sering mempunyai gagasan yang sama – Mesias tidak mungkin berakhir dengan kegagalan, wafat di kayu salib laksana penjahat yang ditinggalkan Allah. Tuhan kemudian menegur Petrus karena ia memikirkan “apa yang dipikirkan dunia”, dan bukan apa yang dipikirkan Allah (bdk. Mat 16:21-23). Jika kita berpikir bahwa kesuksesan, kekuasaan, atau materi sudah cukup untuk memuaskan kehausan dalam hidup kita, maka kita memikirkan apa yang dipikirkan dunia. Keduniawian semacam itu tidak membuahkan hasil; memang, hal ini membuat kita semakin haus. Yesus justru menunjukkan caranya kepada kita: "Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Sebab siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; siapa yang  kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 16:24-25).

 

Saudara dan saudari terkasih, hal ini tentu saja merupakan cara terbaik: memeluk salib Kristus. Pokok kekristenan adalah sebuah pesan yang menakjubkan dan luar biasa. Jika kamu kehilangan nyawamu, jika kamu memberikannya sebagai persembahan yang murah hati dalam pelayanan, jika kamu mempertaruhkannya dengan memilih untuk mengasihi, jika kamu menjadikannya sebagai karunia cuma-cuma untuk orang lain, maka karunia tersebut akan kembali kepadamu dalam kelimpahan, dan kamu akan diliputi oleh sukacita tiada akhir, kedamaian hati, dan kekuatan serta dukungan batin; dan kita membutuhkan kedamaian batin.

 

Inilah kebenaran yang diinginkan Yesus untuk kita temukan, kebenaran yang ingin Ia ungkapkan kepada kamu semua dan negeri Mongolia ini. Kamu tidak perlu menjadi terkenal, kaya atau berkuasa untuk menjadi bahagia. Tidak! Hanya kasih yang memuaskan kehausan hati kita, hanya kasih yang menyembuhkan luka-luka kita, hanya kasih yang memberikan sukacita sejati. Inilah cara yang diajarkan Yesus kepada kita; inilah jalan yang Ia buka di hadapan kita.

 

Semoga kita juga, saudara dan saudari terkasih, mengindahkan apa yang dikatakan Tuhan kepada Petrus atas jawabannya : “Enyahlah Iblis” (Mat 16:23). Dengan kata lain, jadilah murid-Ku, ikutilah jejak langkah-Ku dan berhentilah memikirkan apa yang dipikirkan dunia. Jika kita melakukan hal ini, dengan rahmat Kristus dan Roh Kudus, kita akan mampu menempuh jalan kasih. Bahkan ketika kasih menuntut kita untuk menyangkal diri kita, melawan bentuk-bentuk keegoisan pribadi dan duniawi, dan mengambil risiko menjalani kehidupan persaudaraan sejati. Memang benar bahwa semua hal ini membutuhkan usaha dan pengorbanan, dan terkadang memikul salib, bahkan sungguh sangat benar bahwa, ketika kita kehilangan nyawa kita demi Injil, Tuhan akan mengembalikannya kepada kita secara berlimpah, dalam bentuk kepenuhan kasih dan sukacita untuk selama-lamanya.

[Sapaan Paus Fransiskus di akhir Misa Kudus]

 

Saya ingin menggunakan kesempatan ini, di hadapan dua saudara uskup ini – Uskup Emeritus Hong Kong (Kardinal John Tong Hon) dan Uskup Hong Kong saat ini (Stephen Chow) – untuk menyampaikan salam yang tulus kepada rakyat Tiongkok yang mulia. Saya menyampaikan harapan baik saya kepada mereka semua : selalu bergerak maju, selalu bergerak maju! Dan kepada umat Katolik Tiongkok: saya memintamu untuk menjadi umat Kristiani yang baik dan warga negara yang baik. Kepada kamu semua, terima kasih.

Terima kasih, Yang Mulia, atas kata-katamu yang ramah, dan terima kasih atas pemberianmu! Kamu menyebutkan bahwa pada hari-hari ini kamu dapat merasakan betapa saya sangat menyayangi umat Tuhan di Mongolia. Itu benar: Saya memulai peziarahan ini dengan penuh harap, dengan keinginan untuk bertemu dengan kamu semua dan mengenalmu. Sekarang saya bersyukur kepada Allah karenamu, karena melalui dirimu, Ia berkenan menggunakan apa yang kecil untuk mencapai hal-hal besar. Terima kasih, karena kamu adalah umat Kristiani yang baik dan warga negara yang jujur. Majulah, dengan lembut dan tanpa rasa takut, sadari kedekatan dan dorongan seluruh Gereja, dan yang terpenting adalah tatapan Tuhan yang lembut, yang tidak melupakan siapa pun dan memandang dengan kasih kepada setiap anak-anak-Nya.

 

Saya menyapa saudara-saudara saya para uskup, para imam, para pelaku hidup bakti, dan semua sahabat yang datang ke sini dari berbagai negara, khususnya dari berbagai wilayah di benua Asia yang luas, di mana saya merasa dihormati. Saya memeluk kamu semua dengan penuh kasih sayang. Secara khusus saya berterima kasih kepada semua orang yang membantu Gereja lokal dengan dukungan spiritual dan material.

Saat ini, delegasi penting Pemerintah Mongolia telah hadir di setiap acara. Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden dan Pemerintah Mongolia atas sambutan dan keramahtamahan mereka, serta atas segala persiapan yang telah dilakukan. Saya merasakan secara langsung keramahan tradisionalmu; terima kasih!

 

Saya juga menyampaikan salam hangat kepada saudara-saudari kita yang beragama kristiani lainnya dan penganut agama lain. Semoga kita terus bertumbuh semakin dekat dalam persaudaraan, sebagai benih perdamaian di dunia yang secara tragis hancur karena banyaknya peperangan dan pertikaian.

 

Terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada semua orang yang telah bekerja keras dan dalam jangka waktu yang lama, sehingga perjalanan saya dapat terlaksana dan berhasil, dan kepada semua orang yang telah mempersiapkannya dengan doa-doa mereka.

 

Yang Mulia, kamu mengingatkan kami bahwa dalam bahasa Mongolia kata “Terima kasih” berasal dari kata kerja “bergembira ria”. Ucapan terima kasih saya sangat cocok dengan wawasan bahasa lokal yang luar biasa ini, karena penuh dengan sukacita. Ucapan “terima kasih” yang sebesar-besarnya kepada rakyat Mongolia, atas karunia persahabatan yang saya terima pada hari-hari ini, atas kemampuanmu yang tulus dalam menghargai aspek kehidupan yang paling sederhana sekalipun, dengan bijak menjaga hubungan dan tradisi, serta membina kehidupan sehari-hari dengan kepedulian dan perhatian.

 

Misa itu sendiri merupakan cara mengucap syukur : “Ekaristi”. Merayakan Misa di negeri ini mengingatkan saya pada doa yang dipanjatkan oleh Pastor Pierre Teilhard de Chardin, SJ, kepada Allah tepat seratus tahun yang lalu, di padang gurun Ordos, tidak jauh dari sini. Ia berdoa : “Ya Allah, aku bersujud di hadirat-Mu di dalam alam semesta yang kini menjadi kobaran api yang hidup: di hadapan raut muka semua orang yang akan kujumpai hari ini, semua yang terjadi padaku, semua yang kucapai, hanya Engkaulah yang aku inginkan, Engkau aku tunggu”. Pastor Teilhard de Chardin terlibat dalam penelitian geologi. Ia sangat ingin merayakan Misa Kudus, namun kekurangan roti dan anggur. Maka ia menyusun “Misa di Dunia”, mengungkapkan persembahannya dengan kata-kata berikut: “Terimalah, ya Tuhan, hosti yang merangkul segalanya ini, yang segenap ciptaan-Mu, tergerak oleh daya tarik-Mu, persembahkan kepada-Mu pada awal hari yang baru ini”. Doa serupa telah terbentuk dalam dirinya ketika ia bertugas sebagai pembawa tandu di garis depan selama Perang Dunia I. Imam ini, yang sering disalahpahami, memiliki naluri bahwa “Ekaristi selalu dirayakan di altar dunia” dan merupakan “pusat kehidupan alam semesta, pusat yang berkelimpahan kasih dan kehidupan yang tiada habisnya” (Laudato Sì', 236), bahkan di masa seperti sekarang ini, yang ditandai dengan pertikaian dan peperangan. Maka, marilah kita berdoa pada hari ini, seturut kata-kata Pastor Teilhard de Chardin: “Sabda yang bercahaya, Kekuatan yang menyala-nyala, Engkau yang membentuk berbagai macam hal untuk memberikan kehidupan ke dalamnya, aku berdoa kepada-Mu, serahkan kepada kami tangan-Mu itu - yang penuh kuasa, perhatian, ada di mana-mana”.

 

Saudara-saudari Mongolia yang terkasih, terima kasih atas kesaksianmu. Bayarlalaa! [Terima kasih!]. Semoga Allah memberkatimu. Kamu ada di hatiku, dan di hatiku kamu akan tetap ada. Tolong ingatlah aku, dalam doamu dan dalam pikiranmu. Terima kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 September 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA (HARI ORANG MUDA SEDUNIA) DI PARQUE TEJO, LISBON (PORTUGAL) 6 Agustus 2023 : BERCAHAYA, MENDENGARKAN DAN JANGAN TAKUT

Bacaan Ekaristi : Dan. 7:9-10,13-14; Mzm. 97:1-2,5-6,9; 2Ptr. 1:16-19; Mat. 17:1-9.


Setelah hari-hari yang menyenangkan ini, tentu saja kita ingin mengulangi kata-kata Rasul Petrus di atas gunung perubahan rupa : “Tuhan, sungguh baik kita berada di tempat ini!” (Mat 17:4). Memang, alangkah baiknya ambil bagian dalam pengalaman ini bersama Yesus, bersama yang lainnya, dan berdoa bersama dengan hati yang penuh sukacita. Sekarang, kita juga dapat mengajukan pertanyaan penting: Apa yang akan kita bawa kembali saat kita melanjutkan kehidupan sehari-hari kita?


Saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan tiga kata kerja, yang diambil dari Bacaan Injil yang telah kita dengar : bercahaya, mendengar, dan tidak takut. Apa yang akan kita bawa kembali? Saya akan menjawab dengan tiga kata ini : bercahaya, mendengarkan dan jangan takut.


Kata yang pertama : bercahaya. Yesus berubah rupa. Bacaan Injil memberitahu kita : "wajah-Nya bercahaya seperti matahari" (Mat 17:2). Sesaat sebelum ini, Ia telah meramalkan sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, menghancurkan gambaran para murid tentang Mesias yang berkuasa dan duniawi, serta mengecewakan harapan mereka. Sekarang, untuk membantu mereka merangkul rencana kasih Allah bagi kita masing-masing, Yesus membawa tiga murid, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, serta memimpin mereka ke atas gunung, di mana Ia berubah rupa. Melalui pancaran cahaya yang cemerlang ini, Yesus mempersiapkan para murid untuk malam kelam sengsara-Nya.

Para sahabat muda yang terkasih, hari ini kita juga membutuhkan pancaran cahaya ini, sehingga dapat memenuhi diri kita dengan harapan saat kita menghadapi banyak kegagalan setiap hari dan kegelapan yang melanda hidup, serta menanggapinya dengan terang kebangkitan Yesus. Karena Ia adalah terang yang tidak pernah terbenam, terang yang bercahaya bahkan di tengah malam. Seperti dikatakan imam Ezra, Allah telah membuat mata kita bercahaya (bdk. Ezr 9:8). Allah kita membuat bercahaya : Ia membuat bercahaya visi kita, hati kita, pikiran kita, keinginan kita untuk melakukan sesuatu dengan hidup kita. Terang Allah selalu bercahaya.


Tetapi, saya ingin mengatakan kepadamu bahwa kita tidak memancarkan cahaya dengan menempatkan diri kita pada lampu sorot, karena jenis cahaya itu menyilaukan. Tidak, kita tidak dapat menerangi orang lain dengan memproyeksikan citra diri kita yang sempurna, tertata rapi, beradab, atau tampak berkuasa dan sukses, kuat tetapi tanpa cahaya. Tidak, kita memancarkan cahaya – kita bercahaya – dengan menyambut Yesus ke dalam hati kita dan belajar untuk mengasihi seperti Dia. Mengasihi seperti Yesus : itulah yang membuat kita bercahaya, membuat kita melakukan karya kasih. Para sahabat, saya mengatakan yang sebenarnya: setiap kali kamu melakukan karya kasih, kamu bercahaya. Tetapi ketika kamu berhenti mengasihi orang lain dan menjadi egois, kamu memadamkan cahayamu.


Kata kerja kedua adalah mendengarkan. Di gunung, awan cerah menaungi para murid. Dan apa yang dikatakannya kepada kita, awan tempat asal Bapa berbicara? “Inilah Putra-Ku yang terkasih… dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5). Dengarkanlah Dia. Mendengarkan Yesus, itulah rahasia hidup. Dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus kepadamu. "Tetapi aku tidak tahu apa yang dikatakan-Nya kepadaku". Nah, ambillah Injil dan bacalah di sana apa yang dikatakan Yesus, apa yang dikatakan-Nya ke dalam hatimu. Karena Ia memiliki kata-kata kehidupan kekal untuk kita, Ia mengungkapkan Allah adalah Bapa kita, Allah adalah kasih. Ia menunjukkan kepada kita jalan kasih. Dengarkanlah Yesus; sebaliknya, bahkan jika kita berangkat dengan niat baik di sepanjang jalan yang tampaknya kasih, pada akhirnya jalan itu akan terlihat sebagai keegoisan yang disamarkan sebagai kasih. Berhati-hatilah terhadap keegoisan yang disamarkan sebagai kasih! Dengarkanlah Yesus, karena Ia akan menunjukkan jalan mana yang merupakan jalan kasih. Dengarkanlah Dia.


Kata pertama: bercahaya, jadi berseri-seri; maka, dengarkanlah agar tidak mengambil jalan yang salah; akhirnya kata ketiga: jangan takut. Jangan takut. Kita sering menemukan kata-kata ini di dalam Kitab Suci, di dalam Injil: “Jangan takut”. Ini adalah kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus kepada para murid pada saat peristiwa perubahan rupa : "Jangan takut!" (Mat 17:7).


Sebagai orang muda, kamu telah mengalami hari-hari penuh sukacita ini – saya akan mengatakan tentang kemuliaan, dan memang pertemuan kita telah menjadi semacam kemuliaan. Kamu memiliki impian yang hebat, tetapi sering kali takut impian itu mungkin tidak menjadi kenyataan; terkadang kamu berpikir bahwa kamu tidak siap menghadapi tantangan, yang merupakan semacam pesimisme yang terkadang dapat mengalahkan diri kita. Sebagai orang muda, saat ini kamu mungkin tergoda untuk berkecil hati, berpikir kamu gagal, atau menyamarkan rasa sakitmu dengan senyuman. Sebagai orang muda, kamu ingin mengubah dunia – dan sangat baik jika kamu ingin mengubah dunia – kamu ingin bekerja untuk keadilan dan perdamaian. Kamu mencurahkan seluruh energi dan kreativitas hidupmu untuk hal ini, tetapi tampaknya masih belum cukup. Tetapi, Gereja dan dunia membutuhkanmu, orang muda, sama seperti bumi membutuhkan hujan. Kepada kamu semua, orang muda yang terkasih, yang adalah masa kini dan masa depan, ya untuk kamu semua, Yesus sekarang berkata, “Jangan takut”, “Jangan takut!”.


Sekarang, dalam keheningan sejenak, kamu masing-masing mengulangi kata-kata ini, di dalam hatimu : “Jangan takut!”


Orang muda yang terkasih, saya ingin menatap matamu masing-masing dan berkata : Jangan takut. Saya akan memberitahumu hal lain, juga hal yang sangat indah: bukan lagi saya, tetapi Yesus sendiri yang sekarang melihatmu. Ia mengetahui setiap hatimu, setiap hidupmu; Ia tahu sukacitamu, kesedihanmu, kesuksesan dan kegagalanmu. Ia tahu hatimu. Hari ini, Ia berkata kepadamu, di sini di Lisbon, pada Hari Orang Muda Sedunia ini: “Jangan takut, kuatkan hati, jangan takut!”.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Agustus 2023)