Bacaan
Ekaristi : Kis 4:32-37; Yoh 3:7-15
Dalam homilinya pada Misa
harian
pagi Selasa 29 April 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Pertama hari
itu dari Kisah Para Rasul (4:32-37). Dalam permenungannya, Paus
menekankan bagaimana Gereja, setelah merenungkan
rangkaian pelajaran pekan lalu tentang makna "dilahirkan dari
atas", hari itu ditetapkan
di depan mata kita ikon "jemaat
Kristiani baru" : suatu "umat yang lahir baru" yang terdiri dari umat yang "saat itu belum disebut Kristen".
Paus memandang "tiga sapuan kuas" yang dengannya liturgi menempatkan ikon ini di
hadapan kita. "Kumpulan dari
mereka yang percaya adalah
sehati dan
sejiwa : ini adalah ciri pertama", beliau berkata. Ciri kedua didasari
oleh fakta bahwa mereka adalah suatu kumpulan yang dengan
kekuatan besar memberikan kesaksian bagi Tuhan Yesus. Ciri ketiga yakni "tak seorang pun di antara mereka
berkekurangan".
Ini, Paus menjelaskan, adalah tiga "ciri umat yang terlahir baru ini : keselarasan di antara mereka sendiri, kedamaian; kesaksian yang kuat bagi kebangkitan Yesus Kristus, serta kaum miskin". Namun "tidak selalu seperti ini", beliau menambahkan. Bahkan, dengan berlalunya waktu "pertikaian, pertempuran doktrinal, dan perebutan kekuasaan muncul di antara mereka. Masalah muncul bahkan dalam hubungan mereka dengan kaum miskin; para janda mengeluh bahwa mereka tidak dperhatikan dengan baik". Singkatnya, tidak berkekurangan kesulitan-kesulitan.
Namun ikon ini juga mengungkapkan bagaimana seharusnya "cara hidup jemaat Kristiani". Pertama, perlu menciptakan iklim yang di dalamnya "kedamaian dan keselarasan" memerintah : "'Mereka sehati dan sejiwa'. Kedamaian, sebuah jemaat dalam kedamaian. Ini berarti bahwa tidak ada ruang dalam jemaat bagi pergunjingan, iri hati, fitnah, pencemaran nama baik"; hanya ada ruang bagi kedamaian. Bagi "pengampunan dan kasih meliputi segalanya".
Untuk dapat menggambarkan jemaat Kristiani dengan cara ini, Paus mengatakan, kita harus mempertimbangkan sikap mereka : "Apakah mereka lemah
lembut dan rendah hati? Dalam jemaat, apakah ada pertengkaran di balik kekuasaan di antara mereka, apakah ada pertempuran di balik iri hati? Apakah ada pergunjingan? Jika demikian, maka mereka tidak berada di jalan Yesus Kristus". Memang, Paus mengatakan, kedamaian dalam
jemaat adalah "sifat yang demikian
penting". "Sangat penting karena iblis berusaha memecah belah kita, selalu. Ia adalah bapa perpecahan; melalui iri hati ia memecah belah. Yesus memungkinkan kita untuk melihat jalan ini, jalan kedamaian di antara kita, jalan kasih di antara
kita".
Menyampaikan ciri kedua ikon ini, Paus mengajak mereka yang hadir
untuk bertanya pada diri mereka
sendiri apakah jemaat
Kristiani "memberikan kesaksian bagi kebangkitan Yesus Kristus : apakah paroki ini, jemaat ini, keuskupan ini benar-benar percaya bahwa Yesus Kristus telah bangkit?". Dalam kasus ketika tanggapan tidak eksplisit dan tegas, "hati mungkin berada jauh" dari kepastian ini. Namun kita perlu "memberi kesaksian bahwa Yesus Kristus tetap hidup di antara kita" : hanya dengan demikian kita
dapat membuktikan apakah
jemaat seperti itu.
Ketiga,
Paus berbicara tentang kaum miskin dan tempat yang mereka miliki di antara kita. Pada titik ini kita harus memeriksa hati nurani kita, beliau berkata. Pemeriksaan
ini dapat dibagi menjadi dua bagian : "apa sikap
Anda, atau sikap jemaat
ini, terhadap
kaum miskin?"; dan "apakah jemaat ini miskin? Miskin dalam hati atau miskin dalam roh? Atau apakah jemaat
tersebut menempatkan
kepercayaannya dalam kekayaan, dalam kekuasaan?".
Paus mengakhiri dengan mengulangi tiga ciri kunci jemaat Kristiani : "Keselarasan, kesaksian, kemiskinan dan kepedulian bagi kaum miskin". Ini adalah apa yang Yesus tekankan dengan Nikodemus, kata Paus. Karena segalanya adalah karya
Roh Kudus, "hanya Dialah yang dapat melakukan ini". Karena "yang menciptakan Gereja adalah Roh Kudus. Roh menciptakan kesatuan; Roh memacu Anda untuk bersaksi; Roh menjadikan Anda miskin, karena Ia adalah kekayaan sejati; dan Ia melakukan ini sehingga Anda dapat mengurus kaum
miskin. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada
kita : 'Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar suaranya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Begitu pula dengan semua orang yang lahir dari Roh'. Kita tidak tahu bagaimana : Roh datang dan pergi, tetapi Ia melakukan semua hal
ini".
Sebagai penutup, Paus mengeluarkan ajakan ini : "Mari kita berpikir
tentang jemaat-jemaat kita, tentang paroki-paroki
kita, tentang gerakan-gerakan kita, tentang seminari-seminari kita, tentang keuskupan-keuskupan kita. Akan ada baiknya kita sedikit membandingkan diri kita dengan (ikon) ini : apakah jemaatku berada dalam kedamaian dan keselarasan atau terpecah
belah? Apakah jemaatku memberikan kesaksian bagi Yesus Kristus atau mengetahui bahwa Kristus telah bangkit, apakah mengetahuinya secara intelektual sementara itu tidak melakukan apa-apa, tidak mewartakannya? Apakah jemaatku pedulian pada kaum miskin? Merupakan sebuah jemaat miskin?". Semoga Roh Kudus, beliau berkata, "membantu kita untuk
mengambil jalan ini, jalan semua orang
yang dilahirkan kembali dalam Baptisan".
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.