Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA SYUKUR KANONISASI SANTO JOSE DE ANCHIETA 24 April 2014


Bacaan Ekaristi : Kis 3:11-26; Luk 24:35-48

Kamis sore 24 April 2014 dirayakan Misa di Gereja Santo Ignatius Loyola, Roma, untuk bersyukur atas kanonisasi Bapa Yesuit, Santo Jose de Anchieta, SJ (1534-1597), pewarta evangelisasi dari Brazil, seorang ahli bahasa, dramawan dan pendiri kota Sao Paulo dan kota Rio de Janeiro. Dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1980, Paus Fransiskus memperluas kultus liturgi bagi Gereja universal pada tanggal 3 April 2014, sebuah proses yang setara dengan kanonisasi.


Dalam homilinya, Paus Fransiskus mengulas kisah Injil tentang para murid dari Emaus yang mempertalikan pengalaman mereka kepada Petrus, yang juga telah melihat Kristus yang Bangkit; kemudian tak lama setelah Kristus sendiri muncul dalam ruangan. "Para murid tidak mempercayai sukacita mereka; mereka tidak percaya oleh karena sukacita mereka", beliau berkata. "Ini adalah momen keajaiban, momen perjumpaan dengan Yesus Kristus, yang di dalamnya tampaknya ada terlalu banyak sukacita menjadi kenyataan; memang, menganggap sukacita dan keajaiban momen itu tampaknya berisiko bagi kita dan kita tergoda berlindung dalam skeptisisme, dalam 'tidak melebih-lebihkan'. Lebih mudah percaya pada roh daripada dalam Kristus yang hidup! Lebih mudah pergi ke ahli nujum yang meramalkan masa depan, yang membaca kartu, dibandingkan percaya dalam harapan Kristus yang jaya, Kristus yang menaklukkan kematian! Sebuah gagasan atau khayalan lebih mudah dipercayai daripada kepatuhan akan Tuhan yang bangkit kembali dari kematian ini, dan kepada apa yang Ia undangkan bagi kita! Proses merelatifkan iman ini akhirnya menjauhkan kita dari perjumpaan tersebut, menjauhkan kita dari belaian Allah. Seolah-olah kita 'menyuling' kenyataan perjumpaan dengan Yesus Kristus dalam masihnya ketakutan, dalam masihnya keamanan yang berlebihan, ingin mengatur perjumpaan kita sendiri. Para murid takut akan sukacita ... dan begitu juga kita".

Beliau selanjutnya berbicara tentang bacaan dari Kisah Para Rasul yang menceritakan penyembuhan orang lumpuh, sujud di gerbang Bait Allah, mengemis. Petrus dan Yohanes tidak dapat memberi dia sesuatu yang dicarinya : bukan emas ataupun perak, tetapi mereka menyembuhkannya dengan menawarkan kepadanya apa yang mereka miliki : nama Yesus. Sukacita orang lumpuh menular dan, di tengah-tengah keriuhan Petrus mengumumkan pesan. "Sukacita perjumpaan dengan Yesus Kristus, yang sangat menakutkan bagi kita untuk diterima, menular dan meneriakkan pesan: dan ini adalah bagaimana Gereja tumbuh! Orang lumpuh percaya, karena 'Gereja tidak tumbuh dengan penyebaran agama, tetapi dengan daya tarik'; daya tarik yang bersifat membuktikan testimonial sukacita ini yang mewartakan Yesus Kristus. Ini adalah kesaksian yang lahir dari sukacita, diterima dan kemudian berubah menjadi pewartaan. Ini adalah sukacita dasar ... tanpa sukacita ini, Gereja tidak dapat didirikan! Komunitas Kristiani tidak dapat dibangun! Ini adalah sukacita kerasulan yang menyinari dan mengembang".

Juga Santo Jose de Anchieta tahu bagaimana mengkomunikasi apa yang telah ia alami dengan Tuhan, apa yang telah ia lihat dan dengar dari-Nya ... dan, bersama dengan Nobrega, ia adalah Yesuit pertama yang diutus Ignatius ke Amerika. Ia adalah seorang anak laki-laki berusia sembilan belas tahun. Ia memiliki begitu banyak sukacita sehingga ia mampu mendirikan sebuah bangsa : ia menempatkan dasar-dasar budaya bangsa, di dalam Yesus Kristus. Ia tidak belajar teologi, dan ia tidak belajar filsafat; ia seorang anak laki-laki! Tetapi ia telah merasakan tatapan Yesus Kristus, dan ia membiarkan dirinya dipenuhi dengan sukacita, dan memilih terang. Dan inilah kekudusannya. Ia tidak takut akan sukacita".

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan menyebutkan bahwa Santo Jose de Anchieta memiliki himne indah bagi Perawan Maria, yang kepadanya beliau membandingkan pesan perdamaian, yang memberitakan sukacita Kabar Baik. "Semoga ia, yang dalam fajar Minggu itu, tidak dapat tidur dengan harapan, tidak takut akan sukacita, menemani kita dalam peziarahan kita, mengundang kita semua bangkit, mengesampingkan kelumpuhan-kelumpuhan kita, masuk secara bersama-sama ke dalam perdamaian dan sukacita yang Yesus, Tuhan yang bangkit, janjikan kepada kita".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.