Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA UNTUK MENDOAKAN ARWAH PARA KARDINAL DAN PARA USKUP YANG MENINGGAL DALAM KURUN WAKTU SETAHUN TERAKHIR 3 November 2017

Bacaan Ekaristi : Dan 12:1-3; 1Tim 2:8-13; Yoh 6:51-58

Perayaan hari ini sekali lagi menetapkan di hadapan kita kenyataan kematian. Perayaan ini memperbaharui dukacita kita atas kehilangan orang-orang yang terkasih dan baik terhadap kita. Namun, yang lebih penting, liturgi tersebut meningkatkan pengharapan kita untuk mereka dan untuk diri kita sendiri.

Bacaan Pertama (Dan 12:1-3) mengungkapkan sebuah pengharapan yang kuat akan kebangkitan orang-orang benar : "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal" (Dan 12:2). Mereka yang tidur di dalam debu tanah jelas adalah orang-orang mati. Namun kebangkitan dari kematian tidak dengan sendirinya kembali pada kehidupan : beberapa orang akan bangkit untuk hidup yang kekal, yang lainnya bangkit untuk kehinaan yang kekal. Kematian secara pasti menjadikan "persimpangan jalan" yang bahkan sekarang, di dunia ini, berdiri di hadapan kita : jalan kehidupan, bersama Allah, atau jalan kematian, jauh daripada-Nya. "Banyak orang" yang akan bangkit untuk hidup yang kekal harus dipahami sebagai "banyak orang" yang kepadanya darah Kristus ditumpahkan. Mereka adalah sejumlah besar orang yang, berkat kebaikan dan kerahiman Allah, dapat mengalami kehidupan yang habis waktu, kemenangan penuh atas kematian yang dibawa oleh kebangkitan.

Dalam Bacaan Injil (Yoh 6:51-58), Yesus memperkuat pengharapan kita dengan mengatakan : "Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya" (Yoh 6:51). Kata-kata ini membangkitkan pengorbanan Kristus di kayu salib. Ia menerima kematian untuk menyelamatkan orang-orang yang telah diberikan Bapa kepada-Nya, yang telah meninggal dalam perbudakan dosa. Yesus menjadi saudara kita dan ambil bagian dalam keadaan manusiawi kita bahkan sampai wafat. Dengan kasih-Nya, Ia menghancurkan kuk kematian dan membukakan kita pintu kehidupan. Dengan mengikutsertakan tubuh dan darah-Nya, kita dipersatukan kepada kasih setia-Nya, yang mencakup kepastian kemenangan kebaikan-Nya atas kejahatan, penderitaan dan kematian. Dengan keutamaan ikatan ilahi cinta kasih Kristus ini, kita tahu bahwa persekutuan kita dengan orang-orang yang telah meninggal bukanlah sekedar hasrat atau khayalan, tetapi suatu kenyataan.

Iman yang kita akukan dalam kebangkitan menjadikan kita pria dan wanita pengharapan, bukan keputusasaan, pria dan wanita kehidupan, bukan kematian, karena kita terhibur oleh janji kehidupan kekal, yang berlandaskan persatuan kita dengan Kristus yang telah bangkit.

Pengharapan ini, yang dihidupkan kembali di dalam diri kita oleh sabda Allah, membantu kita untuk percaya dalam menghadapi kematian. Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa kematian bukanlah kata terakhir; sebaliknya, kasih Bapa yang murah hati mengubah diri kita dan membuat kita hidup dalam persekutuan kekal dengan-Nya. Tanda dasariah orang kristiani adalah rasa pengharapan cemas akan perjumpaan terakhir kita dengan Allah. Kita menegaskannya sekarang dalam Mazmur Tanggapan : "Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mzm 42:2). Kata-kata puitis ini secara tajam menyampaikan kerinduan dan pengharapan kita akan kasih, keindahan, kebahagiaan, dan kebijaksanaan Allah.

Kata-kata mazmur yang sama ini berkesan pada jiwa-jiwa saudara kita para kardinal dan para uskup yang kita peringati hari ini. Mereka meninggalkan kita setelah melayani Gereja dan umat yang dipercayakan kepada mereka dalam kemungkinan kekekalan. Ketika kita sekarang bersyukur atas pelayanan mereka yang murah hati bagi Injil dan Gereja, sepertinya kita mendengar mereka mengulanginya bersama Rasul Paulus : "Pengharapan tidak mengecewakan" (Rm 5:5). Sungguh, pengharapan tidak mengecewakan! Allah adalah setia dan pengharapan kita kepada-Nya tidaklah sia-sia. Marilah kita memohonkan bagi mereka pengantaraan keibuan Maria tersuci, agar mereka dapat ambil bagian dalam perjamuan kekal yang olehnya, dengan iman dan kasih, mereka memiliki sebuah rasa pendahuluan dalam perjalanan peziarahan duniawi mereka.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.