Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KRISMA DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 18 April 2019 : RAHMAT UNTUK PARA IMAM - RAHMAT MENGIKUTI, RAHMAT KEHERANAN DAN RAHMAT PEMAHAMAN

Bacaan Ekaristi : Yes 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm 89:21-22,25,27; Why 1:5-8; Luk 4:16-21

Injil Lukas, yang baru saja kita dengar, membuat kita menghidupkan kembali keheranan saat itu ketika dengan sungguh-sungguh Tuhan membacakan nubuat nabi Yesaya di tengah-tengah bangsa-Nya. Rumah ibadat di Nazaret dipenuhi oleh kaum kerabat, para tetangga, kenalan, teman-teman-Nya ... dan tidak hanya itu. Seluruh mata mereka tertuju pada-Nya. Gereja selalu memiliki mata yang tertuju pada Yesus Kristus, Orang yang terurapi, yang diutus Roh Kudus untuk mengurapi umat Allah.


Keempat Injil sering kali memberi kita gambaran tentang Tuhan yang berada di tengah-tengah orang banyak, dikelilingi dan didesak oleh orang-orang yang mendekati-Nya dengan membawa orang-orang sakit, yang memohon kepada-Nya untuk mengusir roh-roh jahat, yang mendengar ajaran-Nya dan menemani-Nya di perjalanan. "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh 10:27).

Tuhan tidak pernah kehilangan kontak langsung dengan orang-orang. Di tengah-tengah orang banyak, Ia selalu memelihara rahmat kedekatan dengan orang-orang secara keseluruhan, dan dengan setiap individu. Kita melihat hal ini sepanjang kehidupan-Nya di muka umum, dan demikian pula sejak awal : pancaran cahaya Sang Anak dengan lembut menarik para gembala, para raja, dan para pelihat tua seperti Simeon dan Hana. Demikian juga di kayu salib : Hati-Nya menarik semua orang kepada-Nya (Yoh 12:32) : Veronika-veronika, orang-orang Kirene, para penjahat, para serdadu ...

Istilah "orang banyak" tidak bermaksud meremehkan. Mungkin bagi telinga sebagian orang, istilah itu dapat menimbulkan sebuah kerumunan tanpa wajah, tanpa nama ... Tetapi dalam Injil kita melihat bahwa ketika orang banyak berinteraksi dengan Tuhan - yang berdiri di tengah-tengah mereka laksana seorang gembala di tengah-tengah kawanan dombanya - sesuatu terjadi. Jauh di lubuk hati, orang-orang merasakan keinginan untuk mengikuti Yesus, keheranan meluap, pemahaman tumbuh dengan cepat.

Bersama kalian, saya ingin berkaca pada tiga rahmat yang menjadi ciri khas hubungan antara Yesus dan orang banyak.

Rahmat mengikuti
Santo Lukas mengatakan bahwa orang banyak “mencari Yesus” (4:42) dan “berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (14:25). Mereka “mendesak-Nya” dan “mengelilingi-Nya” (8:42-45); mereka “berkumpul untuk mendengarkan-Nya” (5:15).

"Orang banyak yang mengikuti" adalah sesuatu yang sama sekali tidak terduga, tanpa syarat dan penuh kasih sayang. Hal tersebut berbeda dengan kepicikan para murid, yang sikapnya terhadap orang-orang cenderung kejam ketika mereka menyarankan kepada Tuhan agar Ia menyuruh mereka pergi, agar mereka bisa mendapatkan makanan.

Di sinilah, saya percaya, awal dari klerikalisme : dalam keinginan untuk mendapatkan jaminan makanan dan kenyamanan pribadi tanpa memperhatikan umat. Tuhan mematahkan godaan itu : “Kamu harus memberi mereka makan!” adalah jawaban Yesus. "Memperhatikan umat!".

Rahmat keheranan
Rahmat kedua yang diterima orang banyak ketika mengikuti Yesus adalah rahmat keheranan yang dipenuhi sukacita. Orang-orang heran pada Yesus (Luk 11:14), dengan mukjizat-mukjizat-Nya, tetapi terutama dengan pribadi-Nya. Orang-orang senang bertemu dengan-Nya di sepanjang perjalanan, menerima berkat-Nya dan mengatakan-Nya berbahagia, seperti perempuan di tengah-tengah orang banyak yang mengatakan ibu-Nya berbahagia. Tuhan sendiri heran dengan iman orang-orang; Ia bergembira dan Ia tidak kehilangan kesempatan untuk memperbincangkannya.

Rahmat pemahaman
Rahmat ketiga yang diterima orang-orang adalah rahmat pemahaman. “Orang banyak mengetahuinya [ke mana Yesus pergi], lalu mengikuti Dia” (Luk 9:11). Mereka "takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa" (Mat 7:28-29; bdk. Luk 5:26). Kristus, Sabda Allah datang dalam daging, membangkitkan karisma pemahaman ini dalam diri orang-orang, yang tentu saja bukan pemahaman orang-orang yang pakar dalam memperdebatkan berbagai pertanyaan. Ketika orang-orang Farisi dan para ahli Taurat berdebat dengan-Nya, apa yang dipahami orang-orang adalah kuasa Yesus, kekuatan ajaran-Nya menyentuh hati mereka, dan faktanya roh-roh jahat taat kepada-Nya (membuat mereka terdiam untuk sementara waktu dengan pertanyaan-pertanyaan mereka; orang-orang menyukai hal itu).

Marilah kita melihat lebih dekat cara Injil memandang orang banyak. Lukas menunjukkan empat kelompok besar yang merupakan penerima utama pengurapan Tuhan : orang-orang miskin, orang-orang buta, orang-orang yang tertindas, dan para tawanan. Ia membicarakan mereka secara umum, tetapi kemudian kita senang melihat bahwa, dalam perjalanan hidup Tuhan, orang-orang yang diurapi ini secara bertahap menerima nama dan wajah yang sesungguhnya. Ketika minyak dioleskan ke salah satu bagian tubuh, pengaruhnya yang bermanfaat dirasakan di seluruh tubuh. Demikian juga, Tuhan, yang membacakan nubuat nabi Yesaya, menyebutkan berbagai “orang banyak” yang menjadi sasaran perutusan Roh Kudus kepada-Nya, seturut dengan apa yang kita sebut “keistimewaan yang bersifat menyertakan” : rahmat dan karisma yang diberikan kepada satu orang atau kelompok tertentu kemudian memberi sumbangan besar, seperti setiap tindakan Roh Kudus, bagi kebaikan semua orang.

Kaum miskin (dalam bahasa Yunani, ptochoi) adalah orang-orang yang membungkuk, seperti para pengemis yang sujud dan meminta sedekah. Tetapi kaum miskin (ptochè) juga adalah janda yang mengurapi dengan jari-jarinya dua peser mata uang yang menjadi nafkah hidupnya pada hari itu. Pengurapan oleh janda untuk memberi sedekah tidak diperhatikan oleh mata semua orang kecuali Yesus, yang dengan tulus memandang kerendahan hatinya. Melalui dia, Tuhan dapat sepenuhnya menyelesaikan perutusan-Nya untuk mewartakan Injil kepada kaum miskin.

Secara bertolak belakang, para murid mendengar kabar baik bahwa ada orang-orang seperti janda itu. Ia - perempuan yang murah hati tersebut - tidak dapat membayangkan bahwa ia akan "berhasil mencapai Injil", bahwa tindak tanduknya yang sederhana akan dicatat dalam Injil. Seperti semua orang yang adalah ”orang-orang kudus di pintu sebelah” itu, di dalam batinnya ia menghayati fakta yang penuh sukacita bahwa tindakannya “berbobot” dalam Kerajaan Allah, dan bernilai lebih dari seluruh kekayaan dunia.

Orang buta diwakili oleh salah satu tokoh yang paling digemari dalam Injil : Bartimeus (bdk. Mat 10:46-52), pengemis buta yang mendapatkan kembali penglihatannya dan, sejak saat itu, hanya memiliki mata untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Pengurapan tatapan! Tatapan kita, yang kecerahannya - yang hanya dapat diberikan oleh kasih yang tidak beralasan, yang setiap hari dicuri dari kita oleh gambaran-gambaran yang menyelewengkan dan dangkal yang dengannya dunia mengalahkan kita - dapat dipulihkan oleh mata Yesus. Merujuk pada orang-orang yang tertindas (dalam bahasa Yunani, tethrausmenoi), Lukas menggunakan sebuah kata yang berisi gagasan "trauma". Memunculkan perumpamaan - mungkin favorit Lukas - Orang Samaria yang Baik Hati, yang mengurapi dengan minyak dan membalut luka-luka (traumata : Luk 10:34) orang yang telah dipukuli oleh perampok dan dibiarkan terkapar di tepi jalan cukup memadai. Pengurapan daging Kristus yang terluka! Dalam pengurapan itu kita menemukan penyembuh untuk semua trauma yang membiarkan individu-individu, keluarga-keluarga dan seluruh bangsa terabaikan, terkucil dan tidak dikehendaki, di sela-sela sejarah.

Para tawanan adalah para narapidana perang (dalam bahasa Yunani, aichmalotoi), mereka yang telah berada di ujung tombak (aichmé). Yesus akan menggunakan kata yang sama dalam berbicara tentang pendudukan Yerusalem, kota-Nya yang tercinta, dan pengasingan penduduknya (Luk 21:24). Kota-kota kita dewasa ini terpenjara bukan pada ujung tombak semata, tetapi terjajah oleh sarana ideologis yang tidak kentara.

Hanya pengurapan budaya, yang dibangun dengan karya dan seni para leluhur kita, yang dapat membebaskan kota-kota kita dari bentuk perbudakan baru ini.

Bagi kita, saudara-saudara imam yang terkasih, kita tidak boleh lupa bahwa teladan injili kita adalah “orang-orang” tersebut, “orang banyak” dengan wajah aslinya, yang dibangkitkan dan dihidupkan kembali oleh pengurapan Tuhan.

Mereka adalah orang-orang yang melengkapi dan mewujudkan pengurapan Roh Kudus dalam diri kita; mereka adalah orang-orang yang diurapi oleh kita yang telah diurapi. Kita telah diambil dari tengah-tengah mereka, dan kita tanpa rasa takut dapat mengenal dengan orang-orang biasa ini. Mereka adalah gambaran jiwa kita dan gambaran Gereja. Mereka masing-masing menjelmakan kesatuan umat kita.

Kita para imam adalah kaum miskin dan kita ingin memiliki hati janda miskin setiap kali kita memberi sedekah, menjamah tangan pengemis dan menatap matanya. Kita para imam adalah Bartimeus, dan setiap pagi kita bangun dan berdoa : "Tuhan, supaya aku dapat melihat". Kita para imam, dalam beberapa hal keberdosaan kita, orang yang dipukuli oleh para penyamun. Dan pertama-tama kita ingin berada di tangan belas kasih orang Samaria yang baik hati, agar kemudian dapat menunjukkan belas kasih kepada orang lain dengan tangan kita sendiri.

Saya mengakui kepada kalian bahwa setiap kali saya memberikan sakramen krisma dan menahbiskan, saya suka mengolesi dahi dan tangan orang-orang yang saya urapi. Dalam pengurapan yang murah hati itu, kita dapat merasakan bahwa pengurapan kita sedang diperbarui. Saya akan mengatakan hal ini : Kita bukan penyalur minyak yang dibotolkan. Kita mengurapi dengan menyalurkan diri kita, menyalurkan panggilan kita dan hati kita. Ketika kita mengurapi orang lain, kita sendiri diurapi lagi oleh iman dan kasih sayang umat kita. Kita mengurapi dengan mengotori tangan kita karena menjamah luka-luka, dosa-dosa dan berbagai kekhawatiran umat. Kita mengurapi dengan mengharumkan tangan kita ketika menjamah iman mereka, harapan mereka, kesetiaan mereka dan kemurahan hati pemberian diri mereka yang tanpa syarat.

Orang yang belajar mengurapi dan memberkati dengan demikian disembuhkan dari kekejian, pelecehan dan kekejaman.

Dengan menempatkan kita bersama Yesus di tengah-tengah umat kita, semoga Bapa memperbaharui Roh kekudusan di lubuk hati kita; semoga Ia mengabulkan agar kita menjadi satu dalam memohon belas kasih-Nya bagi umat yang dipercayakan kepada kita dan bagi seluruh dunia. Dengan cara ini, banyak bangsa, yang berkumpul dalam Kristus, dapat menjadi umat Allah yang satu, yang akan mencapai kepenuhannya dalam Kerajaan Allah (bdk. Doa Tahbisan Imam).

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.