Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG KHUSUS SINODE PARA USKUP WILAYAH PAN-AMAZON DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 6 Oktober 2019


Bacaan Ekaristi : Hab. 1:2-3;2:2-4; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 2Tim. 1:6-8,13-14; Luk. 17:5-10.

Rasul Paulus, misionaris terbesar dalam sejarah Gereja, membantu kita menjadikan "sinode" ini, "perjalanan bersama" ini. Kata-katanya kepada Timotius tampaknya ditujukan kepada kita, sebagai para gembala dalam pelayanan Umat Allah.


Paulus pertama-tama mengatakan kepada Timotius : "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu" (2 Tim 1:6). Kita adalah para uskup karena kita telah menerima karunia Allah. Kita tidak menandatangani sebuah perjanjian; kita tidak diberi kontrak kerja. Sebaliknya, tangan ditumpangkan di atas kepala kita sehingga kita, pada gilirannya, dapat menumpangkan tangan untuk menjadi pengantara di hadapan Bapa, membantu mengulurkan tangan kepada saudara dan saudari kita. Kita menerima karunia sehingga kita bisa menjadi karunia. Karunia tidak dijualbelikan, tidak diperdagangkan; karunia diterima dan diberikan. Jika kita menahan karunia tersebut, jika kita menjadikan diri kita pusat dan bukan karunia yang telah kita terima, kita menjadi birokrat, bukan gembala. Kita mengubah karunia menjadi sebuah pekerjaan dan kecuma-cumaannya lenyap. Kita akhirnya melayani diri sendiri dan menggunakan Gereja.

Berkat karunia yang kita terima, hidup kita terarah untuk melayani. Ketika Injil berbicara tentang "hamba yang tidak berguna" (Luk 17:10), ia mengingatkan kita akan hal ini. Ungkapan itu juga bisa berarti "pelayan yang tidak menghasilkan keuntungan". Dengan kata lain, kita tidak melayani demi keuntungan atau pendapatan pribadi, tetapi karena kita menerimanya secara cuma-cuma dan ingin memberikan imbalan secara cuma-cuma (bdk.. Mat 10:8). Sukacita kita dalam melayani akan sepenuhnya sejak kita pertama kali dilayani oleh Allah, yang menjadi hamba kita semua. Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita merasa terpanggil untuk melayani; marilah kita meletakkan karunia Allah sebagai pusatnya.

Agar setia terhadap panggilan kita, perutusan kita, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa karunia kita harus dinyalakan kembali. Gambaran yang digunakannya adalah menyalakan api (anazopyrein). Karunia yang kita terima adalah api, cinta yang membara bagi Allah dan bagi saudara-saudari kita. Api tidak menyala dengan sendirinya; ia harus dipelihara atau ia padam; ia berubah menjadi abu. Jika semuanya berlanjut seperti semula, jika kita menghabiskan hari-hari kita dengan berpuas diri dengan "inilah caranya segala sesuatu senantiasa dilakukan", maka karunia itu lenyap, tertutup oleh abu ketakutan dan kepedulian untuk mempertahankan status quo. Namun “Gereja sama sekali tidak dapat membatasi karya pastoralnya untuk 'pemeliharaan yang lumrah' orang-orang yang sudah mengenal Injil Kristus. Rentang jangkauan misioner adalah tanda yang jelas kedewasaan komunitas gerejawi ”(Benediktus XVI, Seruan Apostolik Verbum Domini, 95). Yesus datang bukan untuk membawa angin malam yang lembut, tetapi untuk menyalakan api di bumi.

Api yang menyalakan kembali karunia adalah Roh Kudus, Sang Pemberi karunia. Jadi, Santo Paulus melanjutkan dengan mengatakan, “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita” (2 Tim 1:14). Dan juga : "Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan kebijaksanaan" (ayat 7). Bukan roh ketakutan, tetapi roh kebijaksanaan. Paulus menempatkan kebijaksanaan sebagai lawan ketakutan. Apakah kebijaksanaan akan Roh ini? Seperti yang diajarkan oleh Katekismus, kebijaksanaan “tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut", melainkan "berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atas situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan" (No. 1806).

Kebijaksanaan bukanlah keragu-raguan; kebijaksanaan bukan sikap yang defensif. Kebijaksanaan adalah kebajikan gembala yang, untuk melayani dengan bijaksana, mampu bertindak arif, untuk menerima kebaruan Roh. Menyalakan kembali karunia kita dalam api Roh adalah kebalikan dari membiarkan segala sesuatunya berjalan tanpa melakukan apa pun. Kesetiaan pada kebaruan Roh adalah rahmat yang harus kita mohonkan dalam doa. Semoga Roh, yang menjadikan segala sesuatu baru, memberi kita kebijaksanaan-Nya dengan berani bertindak; semoga Ia mengilhami Sinode kita untuk memperbarui jalan Gereja di wilayah Amazon, sehingga api perutusan dapat terus menyala.

Seperti yang kita lihat dari kisah semak yang terbakar, api Allah tetap menyala namun tidak habis dimakan api (bdk. Kel 3:2). Api cinta itulah yang menerangi, menghangatkan dan memberi kehidupan, bukan api yang menyala dan melahap. Ketika bangsa-bangsa dan budaya-budaya dilahap tanpa cinta dan tanpa rasa hormat, api itu bukan api Allah, melainkan api dunia. Namun berapa kali karunia Allah dibebankan, tidak ditawarkan; sudah berapa kali terjadi penjajahan ketimbang penginjilan! Semoga Allah melindungi kita dari keserakahan bentuk-bentuk baru kolonialisme. Api yang ditimbulkan oleh berbagai kepentingan yang menghancurkan, seperti api yang baru-baru ini menghancurkan Amazon, bukanlah api Injil. Api Allah adalah kehangatan yang memikat dan mengumpulkan ke dalam kesatuan. Api Allah dipelihara dengan berbagi, bukan dengan keuntungan. Api yang menghancurkan, di sisi lain, berkobar ketika orang-orang hanya ingin mempromosikan ide-ide mereka sendiri, membentuk kelompok sendiri, menghapus perbedaan dalam upaya untuk menyeragamkan semua orang dan segala hal.

Menghidupkan kembali karunia; menyambut kebijaksanaan Roh dengan berani bertindak; setia terhadap kebaruan-Nya. Santo Paulus sekarang beralih ke nasihat terakhir : “Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah” (2 Tim 1:8). Paulus meminta Timotius untuk memberikan kesaksian tentang Injil, menderita demi Injil, dengan kata lain, hidup demi Injil. Pewartaan Injil adalah kriteria utama kehidupan Gereja. Beberapa saat kemudian, Paulus menulis, “Darahku sudah mulai dicurahkan” (4:6). Mewartakan Injil berarti hidup sebagai persembahan, memberikan kesaksian hingga kesudahan, menjadi segala-galanya bagi semua orang (bdk. 1 Kor 9:22), mengasihi bahkan hingga wafat sebagai martir. Rasul Paulus memperjelas bahwa Injil tidak dilayani oleh kekuatan duniawi, tetapi hanya oleh kekuatan Allah saja: dengan bertekun dalam kasih yang rendah hati, dengan percaya bahwa satu-satunya cara nyata untuk memiliki hidup adalah kehilangan hidup tersebut melalui kasih.

Saudara-saudari yang terkasih, bersama-sama marilah kita memandang Yesus yang tersalib, hati-Nya yang tertikam demi keselamatan kita. Marilah kita mulai dari sana, sumber karunia yang telah melahirkan kita. Dari hati itu, Roh yang memperbaharui telah dicurahkan (bdk. Yoh 19:30). Kemudian, perkenankanlah diri kita masing-masing merasa terpanggil untuk memberi kehidupan. Begitu banyak saudara dan saudari kita di wilayah Amazon memikul salib berat dan menantikan penghiburan Injil yang membebaskan, belaian kasih Gereja. Demi mereka, dan bersama mereka, marilah kita bepergian bersama-sama.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.