Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 23 April 2020 : RAHASIA KEBERANIAN PETRUS


Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.


Bacaan Pertama melanjutkan kisah yang dimulai dengan penyembuhan seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya di Gerbang Indah Bait Allah. Petrus dan Yohanes dibawa ke hadapan Mahkamah Agama, lalu mereka dikirim ke penjara, lalu seorang Malaikat membebaskan mereka. Dan pagi ini, faktanya pagi itu, mereka seharusnya dibawa keluar penjara untuk diadili, tetapi mereka telah dibebaskan oleh Malaikat dan sedang berkhotbah di Bait Allah (bdk. Kis 5:17-25). "Mereka [kepala pengawal serta orang-orangnya] membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama" (ayat 27); mereka mendapatkan Petrus dan Yohanes di Bait Allah dan membawa keduanya ke hadapan Mahkamah Agama. Dan Imam Besar menegur mereka di sana : "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu" (ayat 28) -, yaitu, dalam nama Yesus dan "namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami” (ayat 28), karena para rasul, khususnya Petrus, menegur mereka; Petrus dan Yohanes sedang menegur para pemimpin, para imam, karena telah membunuh Yesus.


Dan kemudian Petrus, bersama dengan para Rasul, menjawab dengan cerita itu : “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia dan kamu bersalah akan hal ini” (bdk. Kis 5:29-31). Dan ia menuduh, tetapi dengan keberanian; dengan tanpa gentar sehingga orang bertanya-tanya : "Tetapi apakah ini Petrus yang menyangkal Yesus? Petrus yang sangat takut itu, Petrus yang juga seorang pengecut itu? Bagaimana ia sungguh bisa sampai di sini?" Dan ia akhirnya juga mengatakan : “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (bdk. ayat 32). Apakah cara Petrus untuk sampai ke titik ini, ke keberanian ini, ke tanpa gentar ini, ke penyingkapan diri? Karena ia bisa saja berkompromi dan berkata kepada para imam : "Tetapi tetaplah tenang, kami akan pergi, kami akan berbicara dengan nada yang agak lebih rendah, kami tidak akan pernah mempersalahkanmu di depan umum, tetapi kamu meninggalkan kami dalam damai ...“ dan sampai pada kompromi.

Gereja harus melakukan ini berulang kali dalam sejarah untuk menyelamatkan Umat Allah. Dan, berulang kali, ia melakukannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri - tetapi bukan Gereja yang kudus - tetapi para pemimpin. Kompromi bisa baik atau jahat. Namun, dapatkah mereka melepaskan diri dari kompromi? Tidak, Petrus berkata : “Tidak ada kompromi; kamu bersalah” (bdk. ayat 30), dan ia mengatakannya dengan sedemikian berani.

Dan bagaimana Petrus sampai ke titik ini? Karena ia adalah orang yang antusias, yang sangat mengasihi, juga orang yang takut-takut, orang yang terbuka kepada Allah sampai-sampai Allah menyatakan kepadanya bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah, tetapi tidak lama setelahnya - segera - ia membiarkan dirinya jatuh ke dalam pencobaan dengan berkata kepada Yesus : “Tidak, Tuhan, jangan lewat jalan ini, marilah kita pergi ke jalan yang lain” : penebusan tanpa Salib. Dan Yesus berkata kepadanya : "Iblis" (bdk. Mrk 8:31-33). Seorang Petrus yang beralih dari pencobaan menuju rahmat; seorang Petrus yang sanggup berlutut di hadapan Yesus dan berkata : "Pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa" (bdk. Luk 5:8), dan kemudian seorang Petrus yang mencoba untuk lewat, tanpa terlihat dan menyangkal Yesus agar tidak dijebloskan ke dalam penjara (bdk. Luk 22:54-62). Ia adalah seorang Petrus yang terombang-ambing, karena ia sangat murah hati tetapi juga sangat lemah. Apa rahasianya, apa kekuatan yang dimiliki Petrus untuk tiba di sini? Ada sebuah ayat yang akan membantu kita untuk memahami hal ini. Sebelum sengsara-Nya, Yesus berkata kepada para Rasul : "Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum" (ayat 31). Dan kepada Petrus, Dia berkata, "Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (ayat 32). Inilah rahasia Petrus : doa Yesus. Yesus mendoakan Petrus, agar imannya tidak gugur dan mampu - kata Yesus - untuk meneguhkan saudara-saudaranya dalam iman. Yesus mendoakan Petrus.

Dan apa yang telah dilakukan Yesus terhadap Petrus, Ia telah melakukannya terhadap kita semua. Yesus mendoakan kita; Ia berdoa di hadirat Bapa. Kita terbiasa berdoa kepada Yesus untuk memberikan kita rahmat ini atau rahmat lainnya; agar Ia membantu kita, tetapi kita tidak terbiasa merenungkan Yesus yang membuat Bapa melihat luka-luka, Yesus, Sang Pengantara, Yesus yang mendoakan kita. Dan Petrus bisa pergi sejauh ini, dari pengecut menjadi pemberani, dengan karunia Roh Kudus, berkat doa Yesus.

Marilah kita sedikit memikirkan hal ini. Marilah kita berpaling kepada Yesus, bersyukur kepada Dia yang mendoakan kita. Yesus mendoakan kita masing-masing. Yesus adalah Sang Pengantara. Yesus yang menanggung dalam diri-Nya luka-luka untuk membuat Bapa melihatnya. Itulah harga keselamatan kita. Kita harus memiliki lebih banyak kepercayaan, lebih banyak ketimbang dalam doa kita, dalam doa Yesus. "Tuhan, doakanlah aku" - "Tetapi Aku adalah Allah, Aku bisa memberimu ..." - "Ya, tetapi doakanlah aku, karena Engkau adalah Sang Pengantara". Dan inilah rahasia Petrus : "Petrus, Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Luk 22:32).

Semoga Tuhan mengajarkan kita untuk memohon rahmat mendoakan diri kita masing-masing.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.