Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 29 April 2020 : KITA DIPANGGIL KEPADA KENYATAAN


Bacaan Ekaristi : 1Yoh. 1:5-2:2; Mat. 11:25-30.


Dalam Surat Pertama Rasul Santo Yohanes, ada banyak kontras antara terang dan kegelapan, antara dusta dan kebenaran, antara dosa dan kesucian (bdk. 1 Yoh 1:5-7). Namun, Rasul Yohanes selalu memanggil kepada kenyataan, kepada kebenaran, dan ia mengatakan kepada kita bahwa kita tidak bisa berada dalam persekutuan dengan Yesus dan sekaligus berjalan dalam kegelapan karena Ia adalah Terang. Satu hal maupun hal lainnya : abu-abu bahkan lebih buruk karena abu-abu membuat kamu percaya bahwa kamu berjalan dalam terang karena kamu tidak berada dalam kegelapan dan hal ini menenangkanmu. Abu-abu sangat berbahaya - satu hal maupun hal lainnya.


Rasul Yohanes melanjutkan, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1 Yoh 1:8) karena kita semua memiliki dosa; kita semua adalah orang berdosa. Dan di sini ada sesuatu yang dapat menipu kita : mengatakan : "Kita semua adalah orang berdosa" seperti orang yang mengatakan "selamat pagi", "hari yang baik", hal yang biasa, juga hal yang bersifal sosial, kita tidak memiliki kesadaran yang benar tentang dosa. Tidak, saya orang berdosa oleh karena ini, ini dan ini - kenyataan, kenyataan kebenaran. Kebenaran selalu nyata. Dusta itu sangat halus, ia seperti udara; kamu tidak bisa menangkapnya. Kebenaran itu nyata. Dan kamu tidak bisa mengakui dosa-dosamu secara niskala: "Ya, saya ... ya, saya pernah kehilangan kesabaran, lain waktu ... dan hal-hal yang niskala. Saya adalah orang berdosa". Kenyataan : “Saya telah melakukan ini; saya telah memikirkan ini; saya telah mengatakan ini". Kenyataan adalah hal yang membuat saya merasakan dengan sungguh-sungguh bahwa saya adalah orang berdosa dan bukan ‘orang berdosa di udara”.

Yesus berkata dalam Bacaan Injil (Mat. 11:25-30) : “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (ayat 25) - kenyataan orang-orang kecil. Sangat menyenangkan mendengarkan orang-orang kecil ketika mereka datang ke pengakuan dosa : mereka tidak mengatakan hal-hal yang aneh, "di udara". Mereka mengatakan hal-hal nyata, dan terkadang terlalu nyata karena mereka memiliki kesederhanaan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang kecil. Saya selalu ingat seorang anak lelaki yang datang untuk memberitahu saya bahwa ia sedih karena ia bertengkar dengan bibinya ... tetapi kemudian ia melanjutkan ... Saya berkata, "Tetapi apa yang kamu lakukan?" - “Ah, aku berada di rumah; aku ingin bermain sepak bola - anak laki-laki, ah? - Ibuku tidak ada di sana, tetapi bibiku berkata : 'Tidak, kamu tidak boleh keluar, kamu harus melakukan tugasmu terlebih dahulu'. Sepatah kata berlalu, sepatah kata tiba dan pada akhirnya, aku menyuruhnya ke negara itu". Ia adalah seorang anak laki-laki dengan banyak pengetahuan geografis ... Ia bahkan memberitahu saya nama negara tempat ia menyuruh bibinya! Mereka seperti ini : sederhana, nyata.

Kita juga harus sederhana, nyata : kenyataan membawamu kepada kerendahan hati karena kerendahan hati adalah nyata. “Kita semua adalah orang berdosa <frasa ini> adalah sesuatu yang niskala. Tidak : saya orang berdosa karena ini, ini dan ini", dan ini membuat saya malu untuk memandang Yesus : "Ampunilah aku", itulah sikap sejati seorang pendosa. “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1 Yoh 1:8). Sikap niskala ini adalah cara untuk mengatakan bahwa kita tidak berdosa. “Ya, kita adalah orang berdosa, ya, saya pernah kehilangan kesabaran ...". Tetapi "semuanya ada di udara". Saya tidak menyadari kenyataan dosa-dosa saya. "Tetapi kamu tahu, kita semua, kita semua melakukan hal-hal ini, saya meminta maaf, saya meminta maaf ... itu menyakitkan saya, saya tidak ingin melakukannya lagi, saya tidak ingin mengatakannya lagi, saya tidak ingin memikirkannya lagi". Memberi nama pada dosa-dosa kita di dalam diri kita adalah penting. Kita harus nyata, karena jika kita "menjaga diri kita tetap di udara", kita akan berakhir dalam kegelapan. Marilah kita menjadi seperti orang-orang kecil, yang mengatakan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan : mereka tidak belajar untuk mengatakan hal-hal yang agak terbungkus sehingga hal-hal tersebut dipahami tetapi tidak dikatakan. Inilah seni orang dewasa, yang sering kali tidak bermanfaat bagi kita.

Kemarin saya menerima sebuah surat dari seorang anak laki-laki dari Caravaggio. Namanya Andrea. Dan ia memberitahu saya beberapa hal dalam suratnya : surat anak muda, surat anak-anak, sangat indah, oleh karena kenyataannya. Dan ia mengatakan kepada saya bahwa ia mendengar Misa di televisi dan bahwa ia harus “menegur saya” karena sesuatu : karena saya mengatakan “damai besertamu”, “dan Anda tidak dapat mengatakan ini karena dengan pandemi kita tidak dapat saling bersentuhan. Ia tidak melihat bahwa saya [di sini di gereja] menundukkan kepala dan tidak saling menyentuh. Tetapi ia memiliki kebebasan untuk mengatakan sesuatu sebagaimana adanya.

Kita juga harus memiliki kebebasan untuk mengatakan berbagai hal kepada Tuhan sebagaimana adanya : "Tuhan, aku orang berdosa, tolonglah aku". Seperti Petrus setelah penangkapan ajaib yang pertama : "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa" (Luk 5:8). Kita harus memiliki kebijaksanaan akan kenyataan ini, karena iblis menginginkan kita hidup dalam kehangatan, suam-suam kuku, dalam abu-abu: tidak baik maupun tidak jahat; tidak putih maupun tidak hitam tetapi abu-abu - kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Tuhan tidak suka suam-suam kuku. <Kita harus nyata>, bukan menjadi para pendusta. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita” (1Yoh 1:9). Ia mengampuni kita ketika kita nyata. Kehidupan rohani sangat sederhana, sangat sederhana, tetapi kita membuatnya rumit dengan nuansa ini, dan pada akhirnya, kita tidak pernah sampai di sana ...

Marilah kita memohon kepada Tuhan rahmat kesederhanaan dan agar Ia memberi kita rahmat ini, yang Ia berikan kepada yang orang-orang yang sederhana, kepada anak-anak, kepada anak muda yang mengatakan apa yang mereka rasakan, yang tidak menyembunyikan apa yang mereka rasakan. Bahkan jika itu sesuatu yang salah, mereka mengatakannya. Katakanlah juga hal-hal kepada-Nya <tetapi> dengan keterusterangan, dan tidak menjalani kehidupan yang bukan satu hal ataupun hal lainnya. Marilah kita memohon rahmat kebebasan untuk mengatakan hal-hal ini dan juga rahmat untuk mengenal dengan baik siapa kita di hadapan Allah.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.