Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 April 2020 : KITA ADALAH HAMBA YANG DIPILIH UNTUK MELAYANI SEJAK DARI KANDUNGAN


Bacaan Ekaristi : Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38.


Nubuat Yesaya, yang kita dengar, adalah nubuat tentang Mesias, tentang Sang Penebus, tetapi juga nubuat tentang Umat Israel, tentang Umat Allah: kita dapat mengatakan bahwa nubuat itu bisa menjadi nubuat tentang kita masing-masing. Intinya, nubuat itu menggarisbawahi bahwa Tuhan telah memilih hamba-Nya sejak dari kandungan : nubuat tersebut mengatakannya dua kali (bdk. Yes 49:1). Hamba-Nya dipilih sejak awal, sejak kelahirannya atau sebelum kelahirannya. Umat Allah dipilih sebelum kelahiran mereka, juga kita masing-masing. Tak satu pun dari kita turun ke dunia secara tidak sengaja, secara kebetulan. Kita masing-masing memiliki takdir, memiliki takdir tanpa paksaan, takdir pemilihan Allah. Aku dilahirkan dengan takdir menjadi anak Allah, menjadi hamba Allah, dengan tugas melayani, mendirikan, membangun - dan hal ini sejak dari kandungan.

Yesus, Hamba Yahwe, melayani sampai mati : kematian tampaknya sebuah kekalahan, tetapi kematian adalah cara melayani. Dan hal ini menggarisbawahi cara melayani yang harus kita ambil dalam hidup kita. Melayani adalah memberikan diri, memberikan diri bagi orang lain. Melayani dan tidak mengharapkan seberapa besar manfaat bagi kita masing-masing yang bukanlah melayani. Melayani adalah kemuliaan, dan kemuliaan Kristus adalah melayani sampai merendahkan diri-Nya, sampai mati, mati di kayu Salib (bdk. Flp 2:8). Yesus adalah Hamba Israel. Umat Allah adalah hamba, dan ketika Umat Allah menjauhi sikap melayani, ia adalah umat yang ingkar : ia menjauhi panggilan yang diberikan Allah kepadanya. Dan ketika kita masing-masing menjauhi panggilan untuk melayani, kita menjauhi kasih Allah, dan membangun hidup kita di atas cinta-cinta yang lain, yang seringkali bersifat penyembahan berhala.

Tuhan telah memilih kita sejak dari kandungan. Ada kejatuhan dalam hidup : kita masing-masing adalah orang berdosa serta dapat jatuh dan jatuh. Hanya Bunda Maria dan Yesus <yang tidak>. Kita semua telah jatuh, kita adalah orang-orang berdosa. Namun, yang penting adalah sikap <-ku> di hadapan Allah yang memilihku dan mengurapiku sebagai hamba. Sikap orang berdosalah yang mampu memohon pengampunan, seperti Petrus, yang bersumpah “tidak, aku tidak akan pernah menyangkal Engkau, Tuhan, tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah! - lalu, ketika ayam jantan berkokok, ia menangis. Ia menyesal (bdk. Mat 26:75). Inilah cara hamba : ketika ia tergelincir, ketika ia jatuh, ia memohon pengampunan. Sebaliknya, ketika hamba tidak mampu memahami bahwa ia telah jatuh, ketika hasrat menguasai dirinya sedemikian rupa sehingga membawanya kepada penyembahan berhala, ia membuka hatinya terhadap Iblis, ia masuk di malam hari : itulah yang terjadi pada Yudas (bdk. Mat 27:3-10).

Hari ini kita memikirkan Yesus, Hamba yang setia dalam pelayanan. Panggilan-Nya adalah melayani sampai mati dan mati di kayu Salib (bdk. Flp 2:5-11). Kita memikirkan diri kita masing-masing, bagian Umat Allah : kita adalah para hamba, panggilan kita adalah melayani, bukan mendapatkan untung dari kedudukan kita di dalam Gereja : melayani - - senantiasa dalam pelayanan.

Marilah kita memohon rahmat untuk bertekun dalam pelayanan. Terkadang dengan terpeleset, jatuh, tetapi setidaknya rahmat untuk menangis seperti Petrus.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.