Bacaan
Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.
Saudara-saudari
terkasih,
Selama
ribuan tahun, di seluruh bumi, berbagai bangsa telah menatap ke langit, memberi
nama bintang-bintang yang senyap, dan melihat berbagai gambar di dalamnya.
Dalam kerinduan imajinatif, mereka mencoba membaca masa depan di langit,
mencari kebenaran di tempat tinggi yang tidak ditemukan di bawah perumahan
mereka. Namun, seolah-olah meraba-raba dalam kegelapan, mereka tetap tersesat,
bingung oleh ramalan mereka sendiri. Namun pada malam ini, “bangsa yang
berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang
tinggal di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes 9:2).
Lihatlah
bintang yang memukau dunia, percikan api baru menyala dan berkobar dengan
kehidupan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di
kota Daud” (Luk 2:11). Ke dalam ruang dan waktu – di tengah-tengah kita –
datanglah Juruselamat yang tanpa Dia kita tidak akan ada. Ia yang memberikan
nyawa-Nya bagi kita tinggal di antara kita, menerangi malam dengan terang
keselamatan-Nya. Tidak ada kegelapan yang tidak diterangi oleh bintang ini,
karena dengan cahayanya segenap umat manusia melihat fajar kehidupan baru dan
kekal.
Itulah
kelahiran Yesus, Imanuel. Dalam Putra yang menjadi manusia, Allah memberikan
segenap diri-Nya bagi kita, guna “membebaskan kita dari segala kejahatan dan
menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri” (Tit 2:14). Yesus yang
membebaskan kita dari kegelapan lahir di malam hari. Tanda fajar menyingsing
tidak lagi dicari di tempat yang jauh di alam semesta, tetapi dengan
membungkuk, di kandang terdekat.
“Seorang
bayi yang dibedung dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12) sungguh
merupakan tanda jelas yang diberikan kepada dunia yang gelap. Untuk menemukan
Juruselamat, kita hendaknya tidak menatap ke atas, tetapi melihat ke bawah:
kemahakuasaan Allah bersinar dalam ketidakberdayaan seorang bayi yang baru
lahir; kefasihan berbicara Sabda yang kekal bergema dalam tangisan pertama
seorang bayi; kekudusan Roh bersinar dalam tubuh kecil tersebut, yang baru saja
dimandikan dan dibedung. Kebutuhan akan perhatian dan kehangatan menjadi
sesuatu yang ilahi karena Putra Bapa ambil bagian dalam sejarah bersama seluruh
saudara dan saudari-Nya. Cahaya ilahi yang terpancar dari Bayi ini membantu
kita mengenali kemanusiaan dalam setiap kehidupan baru.
Untuk
menyembuhkan kebutaan kita, Tuhan memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam
setiap manusia, yang mencerminkan citra-Nya yang sejati, sesuai dengan rencana
kasih yang dimulai sejak penciptaan dunia. Selama kegelapan kesalahan
mengaburkan kebenaran ilahi ini, “sesama, anak-anak, orang miskin, orang asing
tidak mendapat tempat” (Benediktus XVI, Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember
2012). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini tetap menjadi pengingat yang tepat
waktu bahwa di bumi, Tuhan tidak mendapat tempat selama pribadi manusia tidak
mendapat tempat. Menolak yang satu berarti menolak yang lain. Namun, di mana
manusia mendapat tempat, di situ Allah mendapat tempat; bahkan kandang pun
dapat menjadi lebih sakral daripada bait suci, dan rahim Perawan Maria menjadi
Tabut Perjanjian Baru.
Saudara-saudari
terkasih, marilah kita takjub akan kebijaksanaan Natal. Dalam Kanak Yesus,
Allah memberi dunia kehidupan baru: kehidupan-Nya sendiri, yang dipersembahkan
untuk semua orang. Ia tidak memberi kita solusi cerdas untuk setiap masalah,
tetapi sebuah kisah cinta yang menarik kita. Ia mengutus seorang Anak untuk
menjadi kata pengharapan guna menanggapi pengharapan manusiawi. Ia mengutus
seorang Anak yang tak berdaya untuk menjadi kekuatan untuk bangkit kembali di
tengah penderitaan orang miskin. Ia menyalakan cahaya lembut yang menerangi
dengan keselamatan seluruh anak di dunia ini di hadapan kekerasan dan
penindasan. Santo Agustinus menelaah dengan mengatakan, “kesombongan manusia
telah sangat membebanimu sehingga hanya kerendahan hati ilahi yang dapat
membangkitkanmu kembali” (Santo Agustinus, Khotbah 188, III, 3). Sementara
ekonomi yang menyimpang membuat kita memperlakukan manusia sebagai barang
dagangan semata, Allah menjadi seperti kita, mengungkapkan martabat tak
terbatas setiap orang. Sementara umat manusia berusaha menjadi “allah” untuk
menguasai orang lain, Allah memilih untuk menjadi manusia guna membebaskan kita
dari segala bentuk perbudakan. Akankah cinta ini cukup untuk mengubah sejarah
kita?
Jawabannya
akan datang segera setelah kita terbangun dari malam yang mematikan menuju
terang kehidupan baru, dan, seperti para gembala, merenungkan Kanak Yesus. Di
atas kandang Betlehem, tempat Maria dan Yusuf menjaga Anak yang baru lahir
dengan hati yang penuh ketakjuban, langit berbintang berubah rupa menjadi
“sejumlah besar bala tentara surga” (Luk 2:13). Bala tentara yang tak
bersenjata dan melucuti senjata, karena mereka menyanyikan kemuliaan Allah, di
mana damai sejahtera di bumi merupakan perwujudan sejatinya (bdk. ayat 14).
Sesungguhnya, di dalam hati Kristus berdenyut ikatan kasih yang menyatukan
surga dan bumi, Pencipta dan ciptaan.
Karena
alasan ini, tepat satu tahun yang lalu, Paus Fransiskus menegaskan bahwa
kelahiran Yesus menghidupkan kembali dalam diri kita “karunia dan tugas untuk
membawa pengharapan ke tempat-tempat di mana pengharapan telah hilang,” karena
“bersama Dia, sukacita berkembang; bersama Dia, hidup berubah; bersama Dia,
pengharapan tidak mengecewakan” (Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2024).
Dengan kata-kata ini, Tahun Suci dimulai. Kini, saat Yubileum mendekati akhir,
Natal menjadi waktu bagi kita untuk bersyukur dan menjalankan perutusan;
bersyukur atas karunia yang diterima, dan perutusan untuk memberikan kesaksian
tentangnya di hadapan dunia. Pemazmur menyanyikan bagi Tuhan, “Kabarkanlah
karya keselamatan-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara
bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku
bangsa” (Mzm 96:2-3).
Saudara-saudari,
permenungan akan Sabda yang menjadi daging membangkitkan dalam seluruh Gereja
suatu pemberitaan baru dan benar. Karena itu, marilah kita mewartakan sukacita
Natal, yang merupakan perayaan iman, amal kasih, dan pengharapan. Perayaan iman
karena Allah menjadi manusia, lahir dari Perawan. Perayaan amal kasih karena
karunia Putra yang sedang menebus diwujudkan dalam pengorbanan diri
persaudaraan. Perayaan pengharapan karena Kanak Yesus menyalakannya di dalam
diri kita, menjadikan kita pembawa pesan perdamaian. Dengan kebajikan-kebajikan
ini di dalam hati kita, tanpa takut akan malam, kita dapat melangkah maju untuk
menyambut fajar hari yang baru.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)


Print this page
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.