Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA MALAM NATAL 24 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama ribuan tahun, di seluruh bumi, berbagai bangsa telah menatap ke langit, memberi nama bintang-bintang yang senyap, dan melihat berbagai gambar di dalamnya. Dalam kerinduan imajinatif, mereka mencoba membaca masa depan di langit, mencari kebenaran di tempat tinggi yang tidak ditemukan di bawah perumahan mereka. Namun, seolah-olah meraba-raba dalam kegelapan, mereka tetap tersesat, bingung oleh ramalan mereka sendiri. Namun pada malam ini, “bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang tinggal di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes 9:2).

 

Lihatlah bintang yang memukau dunia, percikan api baru menyala dan berkobar dengan kehidupan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Ke dalam ruang dan waktu – di tengah-tengah kita – datanglah Juruselamat yang tanpa Dia kita tidak akan ada. Ia yang memberikan nyawa-Nya bagi kita tinggal di antara kita, menerangi malam dengan terang keselamatan-Nya. Tidak ada kegelapan yang tidak diterangi oleh bintang ini, karena dengan cahayanya segenap umat manusia melihat fajar kehidupan baru dan kekal.

 

Itulah kelahiran Yesus, Imanuel. Dalam Putra yang menjadi manusia, Allah memberikan segenap diri-Nya bagi kita, guna “membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri” (Tit 2:14). Yesus yang membebaskan kita dari kegelapan lahir di malam hari. Tanda fajar menyingsing tidak lagi dicari di tempat yang jauh di alam semesta, tetapi dengan membungkuk, di kandang terdekat.

 

“Seorang bayi yang dibedung dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12) sungguh merupakan tanda jelas yang diberikan kepada dunia yang gelap. Untuk menemukan Juruselamat, kita hendaknya tidak menatap ke atas, tetapi melihat ke bawah: kemahakuasaan Allah bersinar dalam ketidakberdayaan seorang bayi yang baru lahir; kefasihan berbicara Sabda yang kekal bergema dalam tangisan pertama seorang bayi; kekudusan Roh bersinar dalam tubuh kecil tersebut, yang baru saja dimandikan dan dibedung. Kebutuhan akan perhatian dan kehangatan menjadi sesuatu yang ilahi karena Putra Bapa ambil bagian dalam sejarah bersama seluruh saudara dan saudari-Nya. Cahaya ilahi yang terpancar dari Bayi ini membantu kita mengenali kemanusiaan dalam setiap kehidupan baru.

 

Untuk menyembuhkan kebutaan kita, Tuhan memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam setiap manusia, yang mencerminkan citra-Nya yang sejati, sesuai dengan rencana kasih yang dimulai sejak penciptaan dunia. Selama kegelapan kesalahan mengaburkan kebenaran ilahi ini, “sesama, anak-anak, orang miskin, orang asing tidak mendapat tempat” (Benediktus XVI, Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2012). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini tetap menjadi pengingat yang tepat waktu bahwa di bumi, Tuhan tidak mendapat tempat selama pribadi manusia tidak mendapat tempat. Menolak yang satu berarti menolak yang lain. Namun, di mana manusia mendapat tempat, di situ Allah mendapat tempat; bahkan kandang pun dapat menjadi lebih sakral daripada bait suci, dan rahim Perawan Maria menjadi Tabut Perjanjian Baru.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita takjub akan kebijaksanaan Natal. Dalam Kanak Yesus, Allah memberi dunia kehidupan baru: kehidupan-Nya sendiri, yang dipersembahkan untuk semua orang. Ia tidak memberi kita solusi cerdas untuk setiap masalah, tetapi sebuah kisah cinta yang menarik kita. Ia mengutus seorang Anak untuk menjadi kata pengharapan guna menanggapi pengharapan manusiawi. Ia mengutus seorang Anak yang tak berdaya untuk menjadi kekuatan untuk bangkit kembali di tengah penderitaan orang miskin. Ia menyalakan cahaya lembut yang menerangi dengan keselamatan seluruh anak di dunia ini di hadapan kekerasan dan penindasan. Santo Agustinus menelaah dengan mengatakan, “kesombongan manusia telah sangat membebanimu sehingga hanya kerendahan hati ilahi yang dapat membangkitkanmu kembali” (Santo Agustinus, Khotbah 188, III, 3). Sementara ekonomi yang menyimpang membuat kita memperlakukan manusia sebagai barang dagangan semata, Allah menjadi seperti kita, mengungkapkan martabat tak terbatas setiap orang. Sementara umat manusia berusaha menjadi “allah” untuk menguasai orang lain, Allah memilih untuk menjadi manusia guna membebaskan kita dari segala bentuk perbudakan. Akankah cinta ini cukup untuk mengubah sejarah kita?

 

Jawabannya akan datang segera setelah kita terbangun dari malam yang mematikan menuju terang kehidupan baru, dan, seperti para gembala, merenungkan Kanak Yesus. Di atas kandang Betlehem, tempat Maria dan Yusuf menjaga Anak yang baru lahir dengan hati yang penuh ketakjuban, langit berbintang berubah rupa menjadi “sejumlah besar bala tentara surga” (Luk 2:13). Bala tentara yang tak bersenjata dan melucuti senjata, karena mereka menyanyikan kemuliaan Allah, di mana damai sejahtera di bumi merupakan perwujudan sejatinya (bdk. ayat 14). Sesungguhnya, di dalam hati Kristus berdenyut ikatan kasih yang menyatukan surga dan bumi, Pencipta dan ciptaan.

 

Karena alasan ini, tepat satu tahun yang lalu, Paus Fransiskus menegaskan bahwa kelahiran Yesus menghidupkan kembali dalam diri kita “karunia dan tugas untuk membawa pengharapan ke tempat-tempat di mana pengharapan telah hilang,” karena “bersama Dia, sukacita berkembang; bersama Dia, hidup berubah; bersama Dia, pengharapan tidak mengecewakan” (Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2024). Dengan kata-kata ini, Tahun Suci dimulai. Kini, saat Yubileum mendekati akhir, Natal menjadi waktu bagi kita untuk bersyukur dan menjalankan perutusan; bersyukur atas karunia yang diterima, dan perutusan untuk memberikan kesaksian tentangnya di hadapan dunia. Pemazmur menyanyikan bagi Tuhan, “Kabarkanlah karya keselamatan-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” (Mzm 96:2-3).

 

Saudara-saudari, permenungan akan Sabda yang menjadi daging membangkitkan dalam seluruh Gereja suatu pemberitaan baru dan benar. Karena itu, marilah kita mewartakan sukacita Natal, yang merupakan perayaan iman, amal kasih, dan pengharapan. Perayaan iman karena Allah menjadi manusia, lahir dari Perawan. Perayaan amal kasih karena karunia Putra yang sedang menebus diwujudkan dalam pengorbanan diri persaudaraan. Perayaan pengharapan karena Kanak Yesus menyalakannya di dalam diri kita, menjadikan kita pembawa pesan perdamaian. Dengan kebajikan-kebajikan ini di dalam hati kita, tanpa takut akan malam, kita dapat melangkah maju untuk menyambut fajar hari yang baru.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.