Bacaan
Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.
Saudara-saudari
terkasih,
Hari
ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, di awal tahun sipil yang
baru, Liturgi menawarkan kepada kita teks berkat yang indah: “Tuhan memberkati
engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan
memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi
engkau damai sejahtera” (Bil 6:24-26).
Dalam
Kitab Bilangan, berkat ini mengikuti petunjuk mengenai pengudusan kaum nazir,
menyoroti dimensi sakral dan berbuah dari persembahan dalam hubungan antara
Allah dan umat Israel. Manusia mempersembahkan kepada Sang Pencipta segala yang
telah mereka terima, dan Ia, pada gilirannya, menanggapi dengan mengarahkan
pandangan-Nya yang penuh kebajikan kepada mereka, seperti yang Ia lakukan pada
awal penciptaan (bdk. Kej 1:31).
Selain
itu, umat Israel, yang menjadi alamat berkat ini, adalah umat yang telah
dibebaskan – laki-laki dan perempuan dilahirkan kembali setelah masa perbudakan
yang panjang, berkat campur tangan Allah dan tanggapan murah hati dari
hamba-Nya, Musa. Di Mesir, mereka menikmati beberapa kenyamanan: makanan
tersedia, begitu pula tempat tinggal dan kestabilan. Akan tetapi hal ini datang
dengan harga kebebasan mereka; diperbudak, mereka ditindas oleh penguasa yang
lalim yang menuntut lebih banyak namun memberi lebih sedikit (bdk. Kel 5:6-7).
Sekarang, di padang gurun, banyak dari kenyamanan sebelumnya telah hilang.
Tetapi sebagai gantinya ada kebebasan, yang berbentuk jalan terbuka menuju masa
depan, ditemukan dalam pemberian hukum kebijaksanaan dan janji tanah tempat
mereka dapat hidup dan berkembang tanpa belenggu atau rantai. Singkatnya,
sebuah kelahiran kembali.
Dengan
demikian, di awal tahun baru, Liturgi mengingatkan kita bahwa bagi kita
masing-masing, setiap hari dapat menjadi awal kehidupan baru, berkat kasih
Allah yang murah hati, belas kasih-Nya, dan tanggapan dari kebebasan kita.
Alangkah indahnya memandang tahun yang akan datang dengan cara ini: sebagai
perjalanan terbuka yang harus dijelajahi. Sesungguhnya, melalui rahmat, kita
dapat memulai perjalanan ini dengan penuh keyakinan – bebas dan pembawa
kebebasan, diampuni dan pembawa pengampunan, mempercayai kedekatan dan kebaikan
Tuhan yang senantiasa menyertai kita.
Kita
mengingat kebenaran ini saat kita merayakan misteri keibuan ilahi Maria.
Melalui "ya"-nya, ia membantu memberikan wajah manusiawi kepada
sumber segala belas kasih dan kebaikan: wajah Yesus. Melalui mata-Nya – pertama
sebagai seorang anak kecil, kemudian sebagai seorang muda dan sebagai seorang
dewasa – kasih Bapa menjangkau kita dan mengubah rupa kita.
Oleh
karena itu, saat kita melangkah menuju hari-hari baru dan unik yang menanti
kita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengalami setiap
saat, di sekitar kita dan atas diri kita, kehangatan pelukan kebapaan-Nya dan
cahaya tatapan-Nya yang penuh kebaikan. Dengan cara ini, kita dapat lebih
memahami dan senantiasa mengingat siapa diri kita dan ke arah mana apa yang
menjadi takdir luar biasa kita tertuju (bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II,
Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 41). Pada saat yang sama, marilah kita
juga memuliakan Allah melalui doa, kekudusan hidup, dan dengan menjadi cermin
kebaikan-Nya bagi satu sama lain.
Santo
Agustinus mengajarkan bahwa, dalam diri Maria, “Pencipta manusia menjadi
manusia: sehingga, meskipun Ia mengatur bintang-bintang, Ia dapat menyusu pada
seorang perempuan; meskipun Ia adalah Roti (bdk. Yoh 6:35), Ia dapat lapar
(bdk. Mat 4:2)… untuk membebaskan kita, meskipun kita tidak layak” (Khotbah
191, 1.1). Dengan cara ini, Agustinus mengingatkan kita salah satu ciri
dasariah wajah Allah: kecuma-cumaan kasih-Nya yang sempurna. Sebagaimana saya
tekankan dalam Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia ini, Allah menampilkan
diri-Nya kepada kita “tanpa senjata dan melucuti senjata,” telanjang dan tak
berdaya seperti bayi yang baru lahir di dalam buaian. Ia melakukan ini untuk
mengajarkan kita bahwa dunia tidak diselamatkan dengan menajamkan pedang, atau
dengan menghakimi, menindas, atau menyingkirkan saudara-saudari kita.
Sebaliknya, dunia diselamatkan dengan tanpa lelah berusaha untuk memahami,
mengampuni, membebaskan, dan menyambut setiap orang, tanpa perhitungan dan
tanpa rasa takut.
Inilah
wajah Allah yang diperkenankan Maria untuk terbentuk dan tumbuh di dalam
rahimnya, yang sepenuhnya mengubah rupa hidupnya. Inilah wajah yang ia nyatakan
melalui cahaya matanya yang penuh sukacita namun lembut saat mengandung-Nya;
wajah yang keindahannya ia renungkan setiap hari di rumahnya saat Yesus tumbuh
sebagai seorang anak kecil, seorang remaja, dan seorang muda; dan wajah yang ia
ikuti dengan hati seorang murid yang rendah hati, saat Ia menempuh perjalanan
misi-Nya, hingga salib dan kebangkitan. Untuk melakukan hal itu, ia juga
menanggalkan setiap pertahanan, melepaskan harapan, tuntutan, dan kenyamanan –
sebagaimana sering dilakukan para ibu – mengabdikan hidupnya tanpa syarat bagi
Putra yang telah ia terima melalui rahmat, sehingga ia dapat, pada gilirannya,
mengembalikan-Nya kepada dunia.
Dalam
keibuan ilahi Maria, kita melihat pertemuan dua kenyataan yang sangat luar
biasa dan "tanpa senjata": kenyataan Allah, yang melepaskan setiap
keistimewaan keilahian-Nya untuk dilahirkan dalam daging (bdk. Filipi 2:6-11),
dan kenyataan manusiawi yang, dengan penuh kepercayaan dan sepenuhnya, menerima
kehendak Allah. Dalam tindakan kasih yang sempurna, ia mempersembahkan
kepada-Nya kekuatan terbesar yang dimilikinya: kebebasannya.
Melakukan
refleksi atas misteri ini, Santo Yohanes Paulus II mengajak kita untuk
merenungkan apa yang ditemukan para gembala di Betlehem: "kelembutan Anak
yang melucuti senjata, kemiskinan yang mengejutkan di mana Ia ditemukan, dan
kesederhanaan yang rendah hati dari Maria dan Yusuf." Kenyataan-kenyataan
ini mengubah rupa kehidupan mereka, menjadikan mereka "pembawa pesan
keselamatan" (Homili dalam Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah,
Hari Perdamaian Sedunia ke-34, 1 Januari 2001).
Ia
mengucapkan kata-kata ini pada penutupan Yubileum Agung Tahun 2000, dengan
kata-kata yang bergema dengan refleksi kita hari ini: “Alangkah banyak
karunia,” tegasnya, “alangkah banyak kesempatan luar biasa yang ditawarkan
Yubileum Agung kepada orang-orang percaya! Dalam pengalaman pengampunan yang
diterima dan diberikan, dalam peringatan para martir, dalam mendengarkan
jeritan kaum miskin di dunia… kita pun telah melihat sekilas kehadiran Allah
yang menyelamatkan dalam sejarah. Kita, seolah-olah, secara fisik merasakan
kasih-Nya yang memperbarui wajah bumi” (idem). Kemudian ia menyimpulkan,
“Sebagaimana Ia meminta para gembala yang bergegas untuk menyembah-Nya, Kristus
meminta orang-orang percaya, yang telah Ia berikan sukacita bertemu dengan-Nya,
kesiapan untuk berani sekali lagi berangkat memberitakan Injil-Nya, lama dan
selalu baru. Ia mengutus mereka untuk menghidupkan sejarah dan budaya manusiawi
kita dengan pesan keselamatan-Nya” (idem).
Saudara-saudari
terkasih, pada Hari Raya ini, di awal tahun baru, dan saat kita mendekati akhir
Yubileum Pengharapan, marilah kita mendekati ornamen Kelahiran Yesus dengan
iman. Marilah kita mendekatinya sebagai tempat damai yang "tanpa senjata
dan melucuti senjata" – tempat berkat di mana kita mengingat keajaiban
yang telah dikerjakan Tuhan dalam sejarah keselamatan dan hidup kita. Kemudian,
seperti para saksi yang rendah hati di gua, marilah kita berangkat sekali lagi,
"memuji dan memuliakan Allah" (Luk 2:20) atas segala yang telah kita
lihat dan dengar. Semoga ini menjadi komitmen dan tekad kita untuk bulan-bulan
mendatang, dan, sesungguhnya, untuk seluruh kehidupan kristiani kita.
_____
(Peter
Suriadi - Bogor, 1 Januari 2026)

Print this page