Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KRISMA 14 April 2022 : MATA PARA IMAM HARUS TERTUJU KEPADA YESUS SEHINGGA DAPAT MENGENYAHKAN BERHALA-BERHALA YANG TERSEMBUNYI

Bacaan Ekaristi : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

 

Dalam bacaan dari Kitab Nabi Yesaya yang telah kita dengar, Tuhan membuat janji yang penuh harapan, janji yang pertama-tama menjadi perhatian kita : “Kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita … Aku akan memberi upahmu dengan tepat, dan akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu” (61:6.8). Menjadi imam, saudara-saudaraku yang terkasih, adalah sebuah rahmat, sebuah rahmat yang sangat besar, namun bukan terutama sebuah rahmat bagi kita, melainkan bagi umat kita.[1] Kenyataan bahwa Tuhan mengangkat, dari antara kawanan domba-Nya, beberapa orang yang mengabdikan diri mereka secara khusus untuk memelihara kawanan domba-Nya sebagai bapa dan gembala adalah karunia besar bagi umat kita. Tuhan sendiri yang memberi upah para imam : "Aku akan memberi upahmu dengan tepat" (Yes 61:8). Dan, seperti yang kita semua ketahui, Ia adalah pemberi upah yang baik, bahkan jika Ia memiliki kekhasan dalam melakukan sesuatu, seperti memberi upah orang-orang yang terakhir ketimbang yang pertama inilah cara-Nya.

 

Bacaan dari Kitab Wahyu memberitahu kita apa upah Tuhan tersebut. Upah Tuhan adalah kasih dan pengampunan-Nya yang tanpa syarat atas dosa-dosa kita dengan harga darah-Nya yang tercurah di kayu Salib : “Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya -- dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya” ( 1:5-6). Tidak ada upah yang lebih besar daripada persahabatan dengan Yesus, jangan melupakanhal ini. Tidak ada kedamaian yang lebih besar daripada pengampunan-Nya, dan kita semua tahu hal tersebut. Tidak ada harga yang lebih mahal daripada darah-Nya yang berharga, dan kita tidak boleh membiarkannya dilecehkan oleh perilaku yang tidak layak.

 

Jika kita memikirkannya, saudara para imam yang terkasih, Tuhan sedang mengundang kita untuk setia kepada-Nya, setia kepada perjanjian-Nya, dan membiarkan diri kita dikasihi dan diampuni oleh-Nya. Semuanya adalah undangan yang ditujukan kepada kita, sehingga dengan cara ini kita dapat melayani, dengan hati nurani yang bersih, umat Allah yang kudus dan setia. Umat kita layak mendapatkan hal ini dan mereka membutuhkannya. Injil Lukas memberitahu kita bahwa, setelah Yesus membaca nas dari Kitab Nabi Yesaya di hadapan penduduk kota asal-Nya dan duduk, “mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya” (4:20). Kitab Wahyu juga berbicara kepada kita tentang hari ini mata yang tertuju kepada Yesus. Kitab Wahyu berbicara tentang daya tarik yang tak tertahankan dari Tuhan yang disalibkan dan bangkit yang menuntun kita untuk mengakui dan menyembah-Nya : “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin!" (1:7). Rahmat utama, pada saat kembalinya Tuhan yang bangkit, akan berupa pengakuan langsung. Kita akan melihat Dia dan luka-luka-Nya. Kita akan mengenali siapa Dia, dan siapa kita, sebagai orang-orang berdosa yang malang.

 

“Membuat mata kita tertuju kepada Yesus” adalah sebuah rahmat yang perlu kita, sebagai para imam, kembangkan. Pada akhir hari, kita sebaiknya menatap Tuhan, dan membiarkan Ia menatap hati kita dan hati semua orang yang telah kita jumpai. Bukan sebagai pertanggungjawaban atas dosa-dosa kita, tetapi sebagai tindakan kontemplasi yang penuh kasih, di mana kita menelaah hari kita dengan mata Yesus, melihat rahmat dan karunia hari itu, dan mengucap syukur atas semua yang telah dilakukan-Nya bagi kita. Tetapi juga untuk menghadapkan pencobaan-pencobaan kita kepada-Nya, untuk mengenali dan menolaknya. Sebagaimana dapat kita lihat, hal ini membutuhkan pemahaman apa yang berkenan bagi Tuhan dan apa yang Ia minta dari diri kita di sini dan sekarang, pada titik ini dalam hidup kita.

 

Dan mungkin, jika kita memandang-Nya dengan penuh kebaikan, Ia juga akan membantu kita untuk menunjukkan kepada-Nya berhala-berhala kita. Berhala-berhala yang, seperti Rahel, kita sembunyikan di balik lipatan jubah kita (bdk. Kej 31:34-35). Membiarkan Tuhan melihat berhala-berhala yang tersembunyi itu - kita semua memilikinya; kita semua! - dan memperkuat kita menentang dan mengenyahkan kuasa berhala-berhala itu.

 

Tatapan Tuhan membuat kita melihat bahwa, melalui mereka kita benar-benar memuliakan diri kita sendiri,[2] karena di sana, di ruang-ruang yang kita tandai sebagai milik kita secara eksklusif, iblis menyelundupkan diri dengan racunnya. Ia tidak hanya membuat kita berpuas diri, membebaskan kendali terhadap satu kegairahan atau pemeliharaan lainnya, bahkan Ia juga menuntun kita untuk menggantikan dengan berhala-berhala itu kehadiran Pribadi ilahi, Bapa, Putra dan Roh yang berdiam di dalam diri kita. Hal ini terjadi. Meskipun kita mungkin mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita tahu betul perbedaan antara Allah dan berhala, dalam pelaksanaannya kita mengambil ruang Tritunggal untuk diberikan kepada iblis, dalam semacam penyembahan tidak langsung. Ibadah orang yang diam-diam namun terus-menerus mendengarkan pembicaraannya dan memakai produknya, sehingga pada akhirnya tidak ada sedikit pun sudut yang tersisa untuk Tuhan. Ia seperti itu, ia bekerja dengan tenang dan perlahan-lahan. Dalam konteks lain saya berbicara tentang setan-setan yang “terpelajar”, ​​yang menurut Yesus lebih buruk daripada yang diusir. Mereka "sopan", mereka membunyikan bel, mereka masuk dan secara bertahap mengambil alih rumah. Kita harus berhati-hati, inilah berhala-berhala kita.

 

Ada sesuatu tentang berhala-berhala yang bersifat pribadi. Ketika kita gagal membuka kedok mereka, ketika kita tidak membiarkan Yesus menunjukkan kepada kita bahwa di dalam berhala-berhala itu kita keliru dan tidak perlu mencari diri kita, kita memberi ruang bagi si Jahat. Kita perlu ingat bahwa iblis menuntut kita untuk melakukan kehendaknya dan melayaninya, tetapi ia tidak selalu meminta kita untuk melayani dan menyembahnya terus-menerus; tetapi hati-hati, ia adalah diplomat yang hebat. Menerima penyembahan kita dari waktu ke waktu sudah cukup baginya untuk membuktikan bahwa ia adalah tuan kita yang sebenarnya dan bahwa ia bisa merasa seperti allah dalam hidup kita dan di dalam hati kita.

 

Karena itu, dalam Misa Krisma ini, saya ingin membagikan kepadamu tiga ruang penyembahan berhala yang tersembunyi di mana Si Jahat menggunakan berhala-berhala kita untuk melemahkan panggilan kita sebagai gembala dan, sedikit demi sedikit, memisahkan kita dari kehadiran Yesus, Roh dan Bapa yang penuh kebajikan dan kasih.

 

Satu ruang penyembahan berhala yang tersembunyi terbuka di mana pun ada keduniawian rohani, yang merupakan "tawaran kehidupan, budaya, budaya fana, penampilan, kosmetik".[3] Kriterianya adalah triumfalisme, triumfalisme tanpa salib. Yesus berdoa agar Bapa menjaga kita dari budaya keduniawian ini. Godaan kemuliaan tanpa salib ini sungguh bertentangan dengan pribadi Tuhan, bertentangan dengan Yesus, yang merendahkan diri-Nya dalam penjelmaan dan, sebagai tanda perbantahan, adalah satu-satunya obat kita melawan setiap berhala. Menjadi miskin bersama Kristus yang miskin dan “memilih menjadi miskin”: inilah pola pikir Sang Kasih; tidak ada yang lain. Dalam Bacaan Injil hari ini, kita melihat bagaimana Tuhan memilih sebuah rumah ibadat sederhana di desa kecil di mana Ia menghabiskan sebagian besar hidup-Nya, untuk mewartakan pesan yang juga akan Ia wartakan pada akhir zaman, ketika Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya, dikelilingi oleh para malaikat. Mata kita harus tertuju kepada Kristus, kepada kenyataan sejarah-Nya yang sesungguhnya bersama saya, sekarang, bahkan sebagaimana akan terjadi kelak. Sikap duniawi mengupayakan kemuliaan kita merampas kehadiran Yesus, yang rendah hati dan hina, Tuhan yang dekat dengan semua orang, Kristus yang menderita dengan semua orang yang menderita, yang disembah oleh umat kita, yang tahu siapa para sahabat sejati-Nya. Seorang imam duniawi tidak lebih daripada seorang kafir yang menjadi klerus.

 

Ruang kedua penyembahan berhala yang tersembunyi terbuka dengan jenis pragmatisme di mana angka menjadi hal yang paling penting. Orang-orang yang menghargai berhala tersembunyi ini dapat dikenali dari kecintaan mereka pada statistik, angka-angka yang dapat mendepersonalisasi setiap diskusi dan menarik mayoritas sebagai kriteria definitif untuk membedakan; ini tidak bagus. Ini tidak bisa menjadi satu-satunya metode atau kriteria untuk Gereja Kristus. Orang tidak dapat "dihitung", dan Allah tidak "mengukur" karunia Roh-Nya (bdk. Yoh 3:34). Dalam ketertarikan dan kecintaan pada angka-angka ini, kita benar-benar mencari diri kita sendiri, senang dengan kendali yang ditawarkan kepada kita dengan cara berpikir ini, tidak peduli dengan wajah-wajah individu dan jauh dari cinta. Salah satu ciri para kudus besar adalah mereka tahu bagaimana melangkah mundur untuk meninggalkan ruang sepenuhnya bagi Allah. Langkah mundur ini, melupakan diri kita dan ingin dilupakan oleh orang lain, adalah tanda Roh, yang dalam arti tertentu "tidak berwajah", - Roh "tidak berwajah" - hanya karena Ia sepenuhnya Kasih, menerangi gambar Sang Putra dan, di dalam Dia, gambar Bapa. Pemujaan angka mencoba untuk menggantikan pribadi Roh Kudus, yang suka bersembunyi - karena Ia "tak berwajah" - mencoba membuat segalanya "jelas", meskipun dengan cara abstrak dan direduksi menjadi angka, tanpa penjelmaan nyata.

 

Ruang ketiga penyembahan berhala yang tersembunyi, terkait dengan yang kedua, berasal dari fungsionalisme. Ini bisa memikat; banyak orang “lebih antusias dengan peta jalan daripada jalan”. Pola pikir fungsionalis memiliki sedikit perhatian terhadap misteri; tujuannya demi efisiensi. Sedikit demi sedikit, berhala ini menggantikan kehadiran Bapa di dalam diri kita. Berhala pertama menggantikan kehadiran Putra, berhala kedua menggantikan kehadiran Roh, dan berhala ketiga menggantikan kehadiran Bapa. Bapa kita adalah Sang Pencipta, tetapi bukan hanya pencipta yang membuat segala sesuatu "berfungsi". Ia “menciptakan” kita, sebagai Bapa kita, dengan cinta yang lembut, merawat ciptaan-Nya dan bekerja untuk membuat manusia semakin bebas. “Para pejabat” tidak senang dengan rahmat yang dicurahkan Roh kepada umat-Nya, yang darinya mereka juga dapat “dipelihara” seperti pekerja yang mendapatkan upahnya. Para gembala dengan pola pikir fungsionalis memiliki makanan sendiri, yaitu egonya. Dalam fungsionalisme, kita mengesampingkan penyembahan Bapa dalam perkara besar dan kecil dalam hidup kita serta menikmati efisiensi program kita. Sebagaimana dilakukan Daud ketika, tergoda oleh Iblis, ia bersikeras untuk melakukan cacah jiwa (bdk. 1Taw 21:1). Inilah para pecinta rencana rute dan rencana perjalanan, serta bukan perjalanan itu sendiri.

 

Dalam dua ruang penyembahan berhala yang tersembunyi terakhir (pragmatisme angka dan fungsionalisme), kita mengganti harapan, yang merupakan ruang perjumpaan dengan Allah, dengan hasil empiris. Ini menunjukkan sikap keangkuhan dari pihak gembala, sikap yang melemahkan persatuan umat-Nya dengan Allah dan menempa berhala baru berdasarkan angka dan program: berhala “kuasaku, kuasa kita”,[4] program kita, angka-angka dan rencana pastoral kita. Menyembunyikan berhala-berhala ini (seperti yang dilakukan Rahel), dan tidak tahu bagaimana membuka kedoknya dalam kehidupan kita sehari-hari, mengurangi kesetiaan kita pada janji imamat kita dan membuat hubungan pribadi kita dengan Tuhan menjadi suam-suam kuku. Tetapi apa yang diinginkan Uskup ini? Alih-alih berbicara tentang Yesus, ia berbicara tentang berhala hari ini. Seseorang bisa berpikir seperti itu…

 

Saudara-saudara terkasih, Yesus adalah satu-satunya "jalan" untuk menghindari kesalahan dalam memahami apa yang kita rasakan dan ke mana hati kita membawa kita. Ia adalah satu-satunya jalan yang menuntun kepada penegasan yang tepat, saat kita mengukur diri kita terhadap Dia setiap hari. Seolah-olah, bahkan sekarang, Ia duduk di gereja paroki kita dan memberitahu kita bahwa hari ini semua yang kita dengar sekarang telah digenapi. Yesus Kristus, sebagai tanda perbantahan – yang tidak selalu sesuatu yang keras dan menyakitkan, demi belas kasihan dan, terlebih lagi, kasih yang lembut, dengan sendirinya merupakan tanda perbantahan – Yesus Kristus, saya ulangi, memaksa berhala-berhala ini untuk menunjukkan diri mereka, sehingga kita dapat melihat kehadiran mereka, akar mereka dan cara mereka beroperasi, dan membiarkan Tuhan menghancurkan mereka. Ini adalah tawaran : perkenankan Tuhan menghancurkan berhala-berhala yang tersembunyi itu. Kita harus mengingat hal-hal ini dan berhati-hati, jangan sampai lalang berhala-berhala ini yang dapat kita sembunyikan di dalam lipatan hati kita dapat tumbuh kembali.

 

Saya ingin mengakhiri dengan memohon kepada Santo Yosef, sebagai bapa yang bergegas, bebas dari berhala-berhala tersembunyi, untuk membebaskan kita dari segala bentuk kepemilikan, karena kepemilikan adalah tanah subur di mana berhala-berhala ini tumbuh. Semoga ia juga mendapatkan bagi kita rahmat untuk bertekun dalam tugas yang sulit untuk membedakan berhala-berhala yang terlalu sering kita sembunyikan atau yang menyembunyikan diri mereka. Marilah kita juga memohon, kapan pun kita bertanya-tanya apakah kita dapat melakukan hal-hal yang lebih baik, agar ia menjadi perantara kita, sehingga Roh dapat menerangi penilaian kita, sama seperti yang Ia lakukan ketika Yosef tergoda untuk menceraikan Maria "secara diam-diam" (lathra). Dengan cara ini, dengan keluhuran hati, kita mungkin dapat membuat diri kita tunduk pada cinta kasih yang telah kita pelajari melalui hukum.[5]

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 14 April 2022)



[1]Karena imamat jabatan atau hirarkis melayani imamat umum kaum beriman. Tuhan telah mengangkat orang-orang tertentu “demi nama Kristus secara resmi menunaikan tugas imamat bagi orang-orang” (Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam Presbyterorum Ordinis, 2; bdk. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 10). “Para pelayan, yang mempunyai kekuasaan kudus, melayani saudara-saudara mereka” (Lumen Gentium, 18).

[2]Bdk. Audiensi Umum, 1 Agustus 2018.

[3]Homili, Misa di kediaman Santa Marta, 16 Mei 2020.

[4]J.M. BERGOGLIO, Meditasi Kaum Religius, Bilbao, Mensajero, 2014, 145.

[5]Bdk. Surat Apostolik Patris Corde, 4, catatan 18.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PALMA 10 April 2022 : YA BAPA, AMPUNILAH MEREKA, SEBAB MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA PERBUAT!

Bacaan Ekaristi : Luk 19:28-40. Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Luk. 22:14-23:56.

 

Di Kalvari, dua cara berpikir berbenturan. Dalam Bacaan Injil, perkataan Yesus yang disalibkan sangat kontras dengan perkataan orang-orang yang menyalibkan Dia. Orang-orang itu terus berkata : "Selamatkanlah diri-Mu". Para pemimpin bangsa berkata : “Biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah” (Luk 23:35). Para prajurit mengatakan hal yang sama : “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” (ayat 37). Akhirnya, salah seorang penjahat, menggemakan perkataan mereka, berkata kepada-Nya : “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu” (ayat 39). Selamatkanlah diri-Mu. Pedulikanlah diri-Mu. Pikirkanlah diri-Mu. Bukan orang lain, tetapi hanya kesejahteraan-Mu, keberhasilan-Mu, minat-Mu : kepunyaan-Mu, kuasa-Mu, citra-Mu. Selamatkanlah diri-Mu. Inilah pengulangan terus menerus dunia yang menyalibkan Tuhan. Marilah kita memikirkannya.

 

Lawan pola pikir yang egois ini adalah cara berpikir Allah. Mantra "selamatkanlah diri-Mu" bertabrakan dengan perkataan Sang Juruselamat yang menawarkan diri-Nya. Seperti musuh-musuh-Nya, Yesus berbicara tiga kali dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. ayat 34. 43. 46). Namun Ia tidak mengklaim apa pun untuk diri-Nya; memang, Ia bahkan tidak membela atau membenarkan diri. Ia berdoa kepada Bapa dan menawarkan belas kasihan kepada penjahat yang baik. Salah satu perkataan-Nya, khususnya, menandai perbedaan sehubungan dengan mantra "selamatkanlah diri-Mu". Ia berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka" (ayat 34).

 

Marilah kita bercermin pada perkataan Tuhan. Kapan Ia mengatakannya? Pada saat yang sangat khas : ketika Ia disalibkan, ketika Ia merasakan paku menusuk pergelangan tangan dan kaki-Nya. Marilah kita mencoba membayangkan rasa sakit yang luar biasa yang diderita-Nya. Pada saat itu, di tengah rasa sakit jasmani yang paling membakar sengsara-Nya, Kristus memohon pengampunan bagi mereka yang sedang menikam-Nya. Pada saat seperti itu, kita akan berteriak dan melampiaskan segenap kemarahan dan penderitaan kita. Tetapi Yesus berkata : Ya Bapa, ampunilah mereka.

 

Tidak seperti para martir lain yang dibicarakan oleh Kitab Suci (bdk. 2Mak 7:18-19), Yesus tidak menegur para algojo-Nya atau mengancam hukuman atas nama Allah; sebaliknya, Ia mendoakan para pelaku kejahatan. Terikat pada tiang gantung penghinaan, sikap memberi-Nya menjadi sikap mengampuni.

 

Saudara dan saudari, Allah melakukan hal yang sama dengan kita. Ketika kita menyebabkan penderitaan akibat tindakan kita, Allah menderita tetapi hanya memiliki satu keinginan : mengampuni kita. Untuk menghargai hal ini, marilah kita menatap Tuhan yang tersalib. Dari luka-luka-Nya yang menyakitkan, dari aliran darah yang disebabkan oleh paku-paku keberdosaan kita, pengampunan terpancar. Marilah kita memandang Yesus di kayu salib dan menyadari bahwa perkataan yang lebih besar tidak pernah terucap : Ya Bapa, ampunilah. Marilah kita memandang Yesus di kayu salib dan menyadari bahwa kita tidak pernah dipandang dengan tatapan yang lebih lembut dan penuh kasih. Marilah kita memandang Yesus di kayu salib dan memahami bahwa kita belum pernah menerima pelukan yang lebih penuh kasih. Marilah kita memandang kepada Tuhan yang tersalib dan berkata, "Terima kasih, Yesus : Engkau mengasihiku dan senantiasa mengampuniku, bahkan pada saat-saat ketika aku merasa sulit untuk mengasihi dan mengampuni diriku sendiri".

 

Di sana, ketika Ia disalibkan, pada puncak rasa sakit-Nya, Yesus sendiri menaati perintah-Nya yang paling menuntut : agar kita mengasihi musuh kita. Marilah kita memikirkan seseorang yang, dalam hidup kita, melukai, menyinggung atau mengecewakan kita; seseorang yang membuat kita marah, yang tidak memahami kita atau yang memberi contoh buruk. Seberapa sering kita menghabiskan waktu untuk melihat kembali orang-orang yang telah berbuat salah kepada kita! Seberapa sering kita memikirkan kembali dan menjilat luka yang telah ditimpakan orang lain, kehidupan itu sendiri, dan sejarah terhadap diri kita. Hari ini, Yesus mengajar kita untuk tidak tinggal di sana, tetapi bereaksi, memutuskan lingkaran setan kejahatan dan kesedihan. Bereaksi terhadap paku dalam hidup kita dengan kasih, terhadap serangan kebencian dengan pelukan pengampunan. Sebagai murid Yesus, apakah kita mengikuti Sang Guru atau mengikuti keinginan kita sendiri untuk menyerang balik? Ini adalah pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita. Apakah kita mengikuti Sang Guru atau tidak?

 

Jika kita ingin menguji apakah kita benar-benar milik Kristus, marilah kita melihat bagaimana kita bersikap terhadap orang-orang yang telah menyakiti kita. Tuhan meminta kita untuk menanggapi bukan seperti yang kita rasakan, atau seperti yang dilakukan orang lain, tetapi dengan cara Ia bertindak terhadap kita. Ia meminta kita untuk keluar dari pola pikir yang mengatakan : “Aku akan mengasihimu jika kamu mengasihiku; aku akan menjadi sahabatmu jika kamu adalah sahabatku; aku akan menolongmu jika kamu menolongku”. Sebaliknya, kita harus menunjukkan kasih sayang dan belas kasihan kepada semua orang, karena Allah melihat seorang putra atau putri dalam diri setiap orang. Ia tidak memisahkan kita baik dan buruk, sahabat dan musuh. Kitalah yang melakukan hal ini, dan kita membuat Allah menderita. Bagi Dia, kita semua adalah anak-anak kesayangan-Nya, anak-anak yang ingin Ia peluk dan ampuni. Sama seperti dalam perumpamaan perjamuan kawin, di mana bapa sang mempelai laki-laki mengutus para hamba-Nya ke jalan dan berkata, "Undanglah setiap orang : putih, hitam, baik dan jahat, setiap orang, orang sehat, orang sakit, setiap orang ..." (bdk. .Mat 22:9-10). Kasih Yesus untuk semua orang; setiap orang memiliki hak istimewa yang sama : dikasihi dan diampuni.

 

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Menurut Bacaan Injil, Yesus "tetap mengatakan" ini (bdk. ayat 34). Ia tidak mengatakannya sekali untuk selamanya ketika Ia dipaku di kayu salib; sebaliknya, Ia menghabiskan seluruh waktu-Nya di kayu salib dengan perkataan ini di bibir dan di dalam hati-Nya. Allah tidak pernah lelah mengampuni. Kita perlu memahami hal ini, tidak hanya dalam pikiran kita, tetapi juga dalam hati kita. Allah tidak pernah lelah mengampuni. Kitalah yang lelah memohon ampun. Tetapi Ia tidak pernah lelah mengampuni. Ia menerima kita dengan sabar untuk sementara waktu dan kemudian berubah pikiran, seperti yang coba kita lakukan. Yesus – begitu Injil Lukas mengajarkan kita – datang ke dunia untuk membawakan kita pengampunan atas dosa-dosa kita (bdk. Luk 1:77). Pada akhirnya, Ia memberi kita perintah yang jelas : menyampaikan pengampunan dosa kepada semua orang dalam nama-Nya (bdk. Luk 24:47). Marilah kita tidak pernah lelah mewartakan pengampunan Allah : kita para imam, jangan pernah lelah melayaninya; seluruh umat Kristiani, menerimanya dan menjadi saksinya. Marilah kita tidak pernah lelah dalam hal pengampunan Allah.

 

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Marilah kita amati satu hal lagi. Yesus tidak hanya meminta agar mereka diampuni, tetapi juga menyebutkan alasannya : sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Bagaimana bisa? Mereka yang menyalibkan-Nya telah merencanakan pembunuhan-Nya, mengatur penangkapan dan pengadilan-Nya, dan sekarang mereka berdiri di Kalvari untuk menyaksikan wafat-Nya. Namun Kristus membenarkan orang-orang yang kejam itu dengan mengatakan : mereka tidak tahu. Begitulah cara Yesus bertindak dalam perkara kita : Ia menjadikan diri-Nya pembela kita. Ia tidak menempatkan diri-Nya melawan kita, tetapi untuk kita dan melawan dosa-dosa kita. Kata-katanya membuat kita berpikir : karena mereka tidak tahu. Ini adalah ketidaktahuan hati, yang kita semua miliki sebagai orang berdosa.

 

Ketika kita menggunakan kekerasan, kita menunjukkan bahwa kita tidak lagi tahu apa-apa tentang Allah, yang adalah Bapa kita, atau bahkan tentang orang lain, yang adalah saudara dan saudari kita. Kita lupa mengapa kita ada di dunia dan bahkan akhirnya melakukan tindakan kekejaman yang tidak masuk akal. Kita melihat hal ini dalam kebodohan perang, di mana Kristus disalibkan di lain waktu. Kristus sekali lagi dipaku di kayu Salib dalam diri ibu-ibu yang berduka atas ketidakadilan kematian suami dan anak mereka. Ia disalibkan dalam diri para pengungsi yang melarikan diri dari bom dengan anak-anak di tangan mereka. Ia disalibkan dalam diri para orang tua yang ditinggalkan mati sendirian; dalam diri kaum muda yang kehilangan masa depan; dalam diri para tentara yang dikirim untuk membunuh saudara-saudara mereka. Kristus sedang disalibkan di sana, hari ini.

 

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Banyak orang mendengar perkataan yang luar biasa ini, tetapi hanya satu orang yang menanggapinya. Ia adalah seorang penjahat, yang disalibkan di sebelah Yesus. Kita dapat membayangkan bahwa belas kasihan Kristus membangkitkan dalam dirinya satu harapan terakhir dan menuntunnya untuk mengucapkan kata-kata ini : "Yesus, ingatlah akan aku" (Luk 23:42). Seolah-olah mau mengatakan : “Semua orang telah melupakanku, namun Engkau terus memikirkan orang-orang yang menyalibkan-Mu. Maka, bersama-Mu, ada juga tempat untukku”. Penjahat yang baik menerima Allah saat hidupnya berakhir, dan dengan cara ini, hidupnya dimulai lagi. Di neraka dunia ini, ia melihat surga terbuka : “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ayat 43). Inilah keajaiban pengampunan Allah, yang mengubah permohonan terakhir seorang manusia yang dihukum mati menjadi kanonisasi pertama dalam sejarah.

 

Saudara dan saudari, dalam perjalanan pekan ini, marilah kita berpegang teguh pada kepastian bahwa Allah dapat mengampuni setiap dosa. Ia mengampuni semua orang. Ia dapat menjembatani setiap jarak, dan mengubah segala duka menjadi tarian (bdk. Mzm 30:12). Kepastian bahwa bersama Yesus senantiasa ada tempat bagi setiap orang. Bahwa bersama Kristus segala sesuatunya tidak pernah berakhir. Bahwa bersama-Nya, tidak ada kata terlambat. Bersama Allah, kita senantiasa bisa hidup kembali. Teguhkanlah hati! Marilah kita melakukan perjalanan menuju Paskah dengan pengampunan-Nya. Karena Kristus senantiasa menjadi Pengantara kita di hadapan Bapa (bdk. Ibr 7:25). Menatap dunia kita yang kejam dan tersiksa, Ia tidak pernah lelah mengulangi : Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Marilah kita sekarang melakukan hal yang sama, dalam keheningan, dalam hati kita, dan mengulangi : Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 10 April 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA GRANARIES, FLORIANA, MALTA 3 April 2022 : BELAJAR DARI PEREMPUAN YANG TERTANGKAP BASAH KETIKA IA SEDANG BERBUAT ZINAH DAN PARA PENDAKWANYA

Bacaan Ekaristi : Yes. 43:16-21; Mzm. 126:1-2b,2c-3,4-5,6; Flp. 3:8-14; Yoh. 8:1-11.

 

“Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya” (Yoh 8:2). Kata-kata ini memperkenalkan kisah perempuan yang tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Latar belakangnya tenang : pagi-pagi benar di Bait Allah, di jantung kota Yerusalem. Pusatnya adalah umat Allah, yang sedang mencari Yesus, Sang Guru, di pelataran Bait Allah : mereka ingin mendengarkan-Nya, karena kata-kata-Nya penuh pengertian dan menghangatkan hati. Tidak ada yang abstrak dalam ajaran-Nya; ajaran-Nya menyentuh, membebaskan, mengubah rupa, dan memperbarui kehidupan nyata. Di sini kita melihat “gerak batin” umat Allah; mereka tidak puas dengan bait yang dibangun dari batu, tetapi berkerumun di sekitar pribadi Yesus. Dalam perikop ini, kita dapat melihat orang-orang percaya dari segala zaman, umat Allah yang kudus. Di sini, di Malta, orang-orang itu banyak dan giat, setia dalam mencari Tuhan melalui iman yang nyata dan hidup. Untuk ini, saya berterima kasih kepada kamu semua.

 

Di hadapan orang-orang itu, Yesus meluangkan waktu : Injil memberitahu kita bahwa, "Ia duduk dan mengajar mereka" (ayat 2). Namun, ada kursi kosong di sekolah Yesus tersebut. Tidak ada perempuan tersebut dan para pendakwanya. Tidak seperti yang lain, mereka tidak pergi kepada Sang Guru. Mereka semua punya alasan : ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir bahwa mereka sudah tahu segalanya dan tidak membutuhkan pengajaran Yesus; perempuan tersebut, di sisi lain, tersesat dan bingung, seseorang yang tersesat mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Mereka tidak hadir karena alasan yang berbeda, dan cerita akan berakhir berbeda untuk mereka masing-masing. Marilah kita renungkan "ketidakhadiran" ini.

 

Pertama-tama, marilah kita memperhatikan para pendakwa perempuan itu. Di dalam diri mereka, kita melihat cerminan dari semua orang yang membanggakan diri sebagai orang benar, pemerhati hukum Allah, orang-orang yang baik dan terhormat. Mereka mengabaikan kesalahan mereka sendiri, namun mereka sangat memperhatikan kesalahan orang lain. Mereka pergi kepada Yesus : tidak dengan hati terbuka untuk mendengarkan perkataan-Nya, tetapi "untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya" (ayat 6). Ini mengungkapkan pikiran batin orang-orang yang terpelajar dan religius ini, yang mengetahui Kitab Suci dan mengunjungi Bait Allah, namun menempatkan hal ini di bawah kepentingan pribadi mereka dan tidak menentang pikiran jahat yang muncul di hati mereka. Di mata orang-orang, mereka tampak ahli dalam perkara Allah, namun mereka gagal mengenali Yesus; memang, mereka memandang-Nya sebagai musuh yang harus dilenyapkan. Untuk mencapai hal ini, mereka menempatkan di hadapan-Nya seseorang yang mereka sebut sebagai "perempuan ini", memperlakukannya sebagai sesuatu, dan secara terbuka mencela perzinahannya. Mereka menyerukan agar perempuan tersebut dilempari batu, dan mencurahkan seluruh permusuhan mereka terhadap belas kasihan yang ditunjukkan oleh Yesus. Dan mereka melakukannya di balik jubah nama baik mereka sebagai orang yang saleh dan religius.

 

Saudara dan saudari, tokoh-tokoh Injil ini mengingatkan kita bahwa setiap saat keagamaan pribadi dan komunal kita dapat menyembunyikan cacing kemunafikan dan dorongan untuk menuding orang lain. Kita selalu dapat berisiko gagal untuk memahami Yesus, memiliki nama-Nya di bibir kita tetapi menyangkal Dia dengan cara kita hidup. Bahkan saat kita mengangkat spanduk yang mempertontonkan salib. Kalau begitu, bagaimana kita bisa membuktikan apakah kita sungguh bukan murid Sang Guru? Kita melakukannya dengan cara kita memandang sesama kita dan cara kita memandang diri kita sendiri. Inilah poin penting dalam mendefinisikan siapa kita.

 

Membicarakan kita memandang sesama kita : apakah kita melakukan ini dengan pandangan belas kasihan, seperti yang ditunjukkan Yesus kepada kita hari ini, atau dengan pandangan menghakimi, bahkan menghina, seperti para pendakwa dalam Bacaan Injil, yang menampilkan diri mereka sebagai pembela Allah tetapi gagal untuk menyadari bahwa mereka menginjak-injak saudara-saudari mereka. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka menegakkan iman dengan menuding orang lain mungkin memiliki "keagamaan" tertentu, tetapi mereka belum memeluk semangat Injil, karena mereka mengabaikan belas kasihan, yang merupakan hati Allah.

 

Untuk memahami apakah kita adalah sungguh murid Sang Guru atau bukan, kita perlu memikirkan bagaimana kita memandang diri kita. Para pendakwa perempun itu yakin bahwa mereka tidak perlu belajar apa-apa. Penampilan lahiriah mereka sempurna, namun mereka tidak memiliki kebenaran hati. Mereka mewakili orang-orang percaya yang di setiap zaman menjadikan iman sebagai bagian tampak muda mereka; penampilan lahiriah mereka mengesankan dan resmi, namun mereka tidak memiliki kemiskinan lahiriah, harta hati manusia yang terbesar. Bagi Yesus, yang sungguh penting adalah keterbukaan dan kepatuhan dari orang-orang yang tidak menganggap diri mereka aman, tetapi menyadari kebutuhan mereka akan keselamatan. Maka ada baiknya bagi kita, setiap kali kita berdoa, tetapi juga setiap kali kita ikut serta dalam ibadat keagamaan yang indah, untuk bertanya pada diri sendiri apakah kita benar-benar selaras dengan Tuhan. Kita dapat langsung bertanya kepada-Nya, “Yesus, aku di sini bersama-Mu, tetapi apa yang Engkau inginkan dari diriku? Apa yang ada di hatiku, dalam hidupku, yang Engkau ingin kuubah? Bagaimana Engkau ingin aku menghargai orang lain?” Berdoa seperti itu akan bermanfaat bagi kita, karena Sang Guru tidak puas dengan penampilan; Ia mencari kebenaran hati. Begitu kita membuka hati kita kepada-Nya dalam kebenaran, Ia dapat melakukan keajaiban dalam diri kita.

 

Kita melihat hal ini pada perempuan yang tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Situasinya tampak tanpa harapan, tetapi kemudian cakrawala baru dan tak terduga terbuka di hadapannya. Ia dihina dan menunggu penghakiman tanpa ampun dan hukuman berat. Namun yang mengejutkannya, ia mendapati dirinya dibebaskan oleh Allah, yang mengarahkannya ke masa depan yang sama sekali tidak diantisipasinya : "Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" – Yesus berkata kepadanya – "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ayat 10.11). Betapa berbedanya Sang Guru dan para pendakwa perempuan itu! Mereka mengutip Kitab Suci untuk mengutuknya; Yesus, Sabda Allah, sepenuhnya memulihkan nama baik perempuan itu, memulihkan harapannya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa penilaian apa pun yang tidak diilhami dan digerakkan oleh amal kasih hanya akan memperburuk keadaan bagi mereka yang menerimanya. Allah, di sisi lain, selalu meninggalkan ruang untuk kesempatan kedua; Ia selalu dapat menemukan jalan yang mengarah pada pembebasan dan keselamatan.

 

Pengampunan mengubah hidup perempuan itu. Belas kasihan dan kesengsaraan dipeluk. Belas kasihan dan kesengsaraan bertemu di sana, dan kehidupan perempuan itu berubah. Kita bahkan dapat berspekulasi apakah, setelah diampuni oleh Yesus, ia mampu pada gilirannya untuk mengampuni orang lain. Mungkin ia bahkan datang untuk melihat para pendakwanya tidak lagi sebagai manusia yang kejam dan jahat, tetapi sebagai sarana yang membawanya kepada perjumpaan dengan Yesus. Tuhan juga menginginkan kita, para murid-Nya, Gereja-Nya, yang juga diampuni oleh-Nya, menjadi saksi rekonsiliasi yang tak kenal lelah. Saksi-saksi Allah yang tidak ada kata “tak dapat ditebus”, Allah yang selalu mengampuni. Allah selalu mengampuni. Kitalah yang bosan memohon ampun. Allah kita adalah Allah yang tidak pernah berhenti mempercayai kita dan selalu memberi kita kesempatan untuk memulai yang baru. Tidak ada dosa atau kegagalan yang dapat kita bawa ke hadapan-Nya yang tidak dapat menjadi kesempatan untuk memulai hidup baru dan berbeda di bawah panji-panji belas kasihan. Tidak ada dosa yang tidak dapat diperlakukan dengan cara ini. Allah mengampuni segalanya. Ia mengampuni setiap dosa.

 

Inilah Tuhan Yesus. Kita benar-benar mengenal-Nya ketika kita mengalami pengampunan-Nya, dan ketika, seperti perempuan dalam Injil, kita menemukan bahwa Allah datang kepada kita melalui luka batin kita. Memang di situlah Tuhan berkenan menjadikan diri-Nya dikenal, karena Ia datang bukan untuk orang sehat tetapi untuk orang sakit (bdk. Mat 9:12). Hari ini, perempuan, yang menemukan belas kasihan di tengah kesengsaraannya dan yang pergi disembuhkan oleh pengampunan Yesus, mengundang kita, sebagai Gereja, untuk kembali ke sekolah Injil, untuk belajar dari Allah harapan yang tidak pernah berhenti mengejutkan kita. Jika kita meneladani-Nya, kita tidak akan berkecenderungan untuk berfokus mengutuk dosa, tetapi berangkat dengan kasih untuk mencari orang berdosa. Kita akan berpuas diri dengan mereka yang sudah hadir, tetapi akan pergi mencari mereka yang tidak hadir. Kita tidak akan kembali menuding, tetapi akan mulai mendengarkan. Kita tidak akan menyingkirkan orang yang hina, tetapi memandangnya pertama-tama sebagai orang-orang yang dianggap paling kecil oleh orang lain. Saudara dan saudari, inilah yang diajarkan Yesus kepada kita hari ini melalui teladan-Nya. Marilah kita memperkenankan-Nya memukau kita. Marilah kita dengan sukacita menyambut kabar baik yang dibawa-Nya.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN 400 TAHUN KANONISASI SANTO IGNATIUS DARI LOYOLA, SANTO FRANSISKUS XAVERIUS, SANTA TERESA DARI AVILA, SANTO ISIDORUS SI PETANI DAN SANTO FILIPUS NERI DI GEREJA NAMA YESUS YANG TERSUCI (GEREJA GESU), ROMA, 12 Maret 2022 : MEMAKNAI EMPAT KATA KERJA DALAM PERISTIWA PERUBAHAN RUPA YESUS

Bacaan Ekaristi : Kej. 15:5-12,17-18; Mzm. 27:1,7-8,9abc,13-14; Flp. 3:17-4:1 Luk. 9:28b-36.

 

Peristiwa perubahan rupa Yesus dalam Bacaan Injil hari ini menyajikan kepada kita empat perbuatan Yesus. Sebaiknya kita merenungkannya, untuk menemukan dalam gerakan-gerakan ini arah yang jelas bagi perjalanan kita sebagai murid-murid-Nya.

 

Kata kerja pertama, perbuatan Yesus yang pertama ini, adalah membawa serta. Lukas memberitahu kita bahwa Yesus “membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus” (9:28). Yesus “membawa” para murid, dan juga diri-Nya sendiri, untuk “bersama-Nya”. Kristus mengasihi, memilih dan memanggil kita. Semuanya dimulai dengan misteri rahmat, pilihan, "pemilihan". Pertama-tama, bukan kita yang memutuskan; sebaliknya, Yesus memanggil kita, terlepas apa pun jasa kita. Sebelum menjadi manusia yang menjadikan hidup kita suatu karunia, kita adalah orang-orang yang menerima karunia yang diberikan secara cuma-cuma : karunia kasih Allah secara cuma-cuma. Perjalanan kita, saudara-saudari, perlu dimulai lagi setiap hari dari rahmat awal ini. Seperti yang diperbuat-Nya dengan Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus telah memanggil nama kita dan membawa serta kita. Ia menggandeng tangan kita. Ke mana? Ke gunung-Nya yang kudus, di mana bahkan sekarang Ia melihat kita beserta-Nya selamanya, diubah rupa oleh kasih-Nya. Rahmat, rahmat pertama ini, membawa kita ke sana. Jadi, ketika kita merasakan kepahitan atau kekecewaan, ketika kita merasa diremehkan atau disalahpahami, janganlah kita mengembara ke dalam keluhan atau nostalgia masa lalu. Ini adalah godaan yang menghalangi kemajuan kita, yang membawa kita ke mana-mana. Sebaliknya, marilah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan kita, memulai yang baru dengan rahmat, dalam kesetiaan terhadap panggilan kita. Marilah kita menerima karunia melihat setiap hari sebagai langkah sepanjang jalan menuju tujuan akhir kita.

 

Yesus membawa serta Petrus, Yakobus dan Yohanes. Tuhan membawa serta para murid; Ia menganggap mereka sebagai komunitas. Panggilan kita berlandaskan persekutuan. Untuk memulai yang baru setiap hari, kita perlu mengalami sekali lagi misteri pemilihan kita dan rahmat hidup dalam Gereja, Bunda hierarkis kita, dan bagi Gereja, mempelai kita. Kita adalah milik Yesus, dan kita adalah milik-Nya sebagai sebuah Serikat. Marilah kita tidak pernah lelah memohon kekuatan untuk membentuk dan membina persekutuan, menjadi ragi persaudaraan bagi Gereja dan dunia. Kita bukan penyanyi solo dalam mencari hadirin, tetapi saudara-saudara tertata sebagai paduan suara. Marilah kita berpikir bersama Gereja dan menolak godaan untuk mengkhawatirkan keberhasilan atau pencapaian pribadi kita. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam klerikalisme yang mengarah pada kekakuan atau ideologi yang mengarah pada perpecahan. Orang-orang kudus yang kita peringati hari ini adalah pilar persekutuan. Mereka mengingatkan kita bahwa, karena segala perbedaan karakter dan sudut pandang kita, kita dipanggil untuk bersama. Jika kita akan selamanya bersatu di surga, mengapa tidak mulai dari sini? Marilah kita menghargai keindahan karena telah “dibawa”, dipertemukan, dipanggil bersama, oleh Yesus. Inilah kata kerja pertama : membawa.

 

Kata kerja kedua adalah naik. Yesus "naik ke atas gunung" (ayat 28). Jalan Yesus adalah jalan pendakian, bukan jalan penurunan. Cahaya perubahan rupa tidak terlihat di dataran, tetapi hanya setelah pendakian yang berat. Dalam mengikut Yesus, kita juga perlu meninggalkan dataran biasa-biasa saja dan kaki bukit kenyamanan; kita perlu meninggalkan rutinitas kita yang meyakinkan dan memulai keluaran. Yesus, setelah naik ke atas gunung, berbicara kepada Musa dan Elia secara tepat tentang "keluaran, yang harus dilakukan-Nya di Yerusalem" (ayat 31). Musa dan Elia telah pergi ke Sinai atau Horeb setelah dua pengalaman "keluaran" di padang gurun (bdk. Kel 19; 1Raj 19); sekarang mereka berbicara dengan Yesus tentang keluaran yang menentukan, yaitu keluaran Paskah-Nya. Saudara-saudari, hanya pendakian salib yang mengarah ke tujuan kemuliaan. Inilah jalannya : dari salib menuju kemuliaan. Godaan duniawi adalah mencari kemuliaan dengan melewati salib. Kita lebih suka jalan yang akrab, langsung dan mulus, tetapi untuk menemukan terang Yesus kita harus terus-menerus meninggalkan diri kita dan mengikuti-Nya ke atas. Tuhan yang, sebagaimana kita dengar, pertama-tama “membawa Abraham ke luar” (Kej 15:5), juga mengundang kita untuk bergerak ke luar dan ke atas.

 

Bagi kita para Jesuit, perjalanan bergerak ke luar dan ke atas ini mengikuti jalan tertentu, yang dilambangkan dengan indah oleh gunung. Dalam Kitab Suci, puncak gunung melambangkan keekstriman, ketinggian, perbatasan antara langit dan bumi. Kita dipanggil untuk pergi dengan tepat ke sana, ke perbatasan antara langit dan bumi tempat manusia "menghadap" Allah dengan kesulitan-kesulitan mereka, sehingga kita pada gilirannya dapat menemani mereka dalam pencarian gelisah dan keraguan agama mereka. Di situlah kita perlu ada, dan untuk melakukannya, kita harus pergi ke luar dan ke atas. Musuh kodrat manusiawi akan membujuk kita untuk tetap berada di jalur rutinitas yang kosong namun nyaman dan bentangan yang akrab, sedangkan Roh mendorong kita kepada keterbukaan dan kedamaian yang tidak pernah meninggalkan kita dalam kedamaian. Ia mengutus murid-murid-Nya ke batas maksimum. Kita hanya perlu memikirkan Fransiskus Xaverius.

 

Dalam perjalanan ini, dalam mengikuti jalan ini, saya memikirkan perlunya perjuangan. Pikirkan malangnya Abraham yang sudah berusia senja, di sana dengan pengorbanannya, melawan burung-burung pemangsa yang akan memakannya (bdk. Kej 15:7-11). Bersama pembantunya, ia mengusir burung-burung pemangsa tersebut. Orang tua yang malang. Marilah kita memikirkan hal ini : berjuang untuk mempertahankan jalan ini, perjalanan ini, hal ini, penyerahan diri kita kepada Tuhan.

 

Di setiap zaman, murid-murid Kristus mendapati diri mereka di persimpangan jalan ini. Kita dapat berlaku seperti Petrus, yang menanggapi ramalan Yesus tentang keluaran-Nya dengan mengatakan, “Betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (ayat 33). Inilah resiko dari iman yang statis, iman yang “terparkir dengan rapi”. Saya takut dengan iman yang "terparkir" ini. Kita berisiko menganggap diri kita sebagai murid yang "terhormat", tetapi sebenarnya tidak mengikuti Yesus; sebaliknya, kita secara pasif tetap diam, dan, tanpa menyadarinya, tertidur seperti para murid dalam Injil. Di Taman Getsemani murid-murid juga akan tertidur. Saudara-saudari, marilah kita berpikir bahwa bagi para pengikut Yesus, sekarang bukan waktunya untuk tidur, membiarkan jiwa kita dibius, dibius oleh budaya konsumerisme dan individualistis dewasa ini, dengan bersikap “hidup itu baik asalkan baik untukku". Dengan cara tersebut, kita dapat terus berbicara dan berteori, seraya kehilangan pandangan tentang daging saudara-saudari kita, dan keberwujudan Injil. Salah satu tragedi besar di zaman kita adalah penolakan untuk membuka mata kita terhadap kenyataan dan malahan melihat ke arah lain. Santo Teresa membantu kita untuk bergerak melampaui diri kita, naik ke atas gunung bersama Tuhan, untuk menyadari bahwa Yesus juga menyatakan diri-Nya melalui luka-luka saudara-saudari kita, perjuangan umat manusia, dan tanda-tanda zaman. Jangan takut untuk menjamah luka-luka tersebut : luka-luka tersebut adalah luka-luka Tuhan.

 

Bacaan Injil memberitahu kita bahwa Yesus naik ke atas gunung "untuk berdoa" (ayat 28). Inilah kata kerja ketiga : berdoa. “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan” (ayat 29). Perubahan rupa berasal dari doa. Marilah kita bertanya pada diri kita, bahkan setelah bertahun-tahun pelayanan, dewasa ini apa artinya berdoa bagi kita, bagiku? Mungkin kekuatan kebiasaan atau ritual harian tertentu telah membuat kita berpikir bahwa doa tidak mengubah individu atau sejarah. Namun berdoa berarti mengubah kenyataan. Doa adalah perutusan aktif, pengantaraan yang langgeng. Doa tidak jauh dari dunia, tetapi mengubah dunia. Berdoa adalah membawa detak jantung perkara saat ini ke hadirat Allah, sehingga tatapan-Nya akan bersinar atas sejarah. Apa artinya berdoa bagi kita?

 

Hari ini sebaiknya kita menanyakan pada diri kita apakah doa membenamkan kita dalam perubahan ini. Apakah doa memberi pencerahan baru kepada sesama dan mengubah situasi mereka? Karena jika doa itu hidup, ia “membebaskan” hati kita, menyalakan kembali api perutusan, mengobarkan kembali sukacita kita, dan terus-menerus mendorong kita untuk membiarkan diri kita diganggu oleh permohonan semua orang yang menderita di dunia kita. Marilah kita juga bertanya : bagaimana kita sedang membawa peperangan dewasa ini ke dalam doa kita? Kita dapat melihat doa Santo Filipus Neri, yang melapangkan hatinya dan membuatnya membuka pintunya bagi anak-anak jalanan kota Roma pada masanya. Atau Santo Isidorus, yang berdoa di ladang dan membawa pekerjaan pertaniannya ke dalam doanya.

 

Setiap hari membawa secara baru panggilan pribadi kita dan sejarah komunitas kita; kemudian naik menuju ketinggian yang ditunjukkan Allah kepada kita; dan berdoa untuk mengubah dunia yang di dalamnya kita terbenam ini.

 

Namun ada juga kata kerja keempat, yang muncul dalam ayat terakhir Bacaan Injil hari ini : “Yesus tinggal seorang diri” (ayat 36). Ia tinggal, sementara segala sesuatu yang lain berlalu kecuali gema "kesaksian" Bapa : "Dengarkanlah Dia" (ayat 35). Bacaan Injil diakhiri dengan membawa kita kembali kepada apa yang penting. Kita sering tergoda, dalam Gereja dan dunia, dalam kerohanian kita dan dalam masyarakat kita, untuk lebih mengutamakan kepentingan banyak kebutuhan sekunder. Menjadikan sejumlah kebutuhan sekunder sebagai yang utama merupakan godaan setiap hari. Singkatnya, kita berisiko berfokus pada adat istiadat, kebiasaan, dan tradisi yang membuat hati kita terpaku pada hal-hal yang berlalu dan membuat kita melupakan apa yang tinggal. Betapa pentingnya kita bekerja menggunakan hati, sehingga kita dapat membedakan perkara Allah yang tinggal, dan perkara duniawi yang berlalu!

 

Saudara-saudari terkasih, semoga bapa suci kita Ignatius membantu kita menjaga kearifan, warisan berharga kita, sebagai harta yang selalu dicurahkan pada Gereja dan dunia. Karena kearifan memampukan kita untuk “melihat kembali segala sesuatu di dalam Kristus”. Memang, kearifan sangat penting, sehingga, sebagaimana ditulis Santo Petrus Faber, "kebaikan yang dapat dicapai, dipikirkan atau dikelola, dapat dilakukan dengan semangat yang baik, bukan yang jahat" (bdk. Memorial, Paris, 1959, no. .51). Amin.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Maret 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA, ROMA 2 Maret 2022 : DUA MACAM UPAH YANG DAPAT DIBERIKAN OLEH HIDUP KITA

(Homili dibacakan oleh Pietro Kardinal Parolin, Sekretaris Negara Kota Vatikan, yang memimpin Misa karena Paus Fransiskus masih diharuskan beristirahat untuk penyembuhan sakit lutut akut yang dideritanya)
 

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Hari ini, saat kita memulai masa Prapaskah, Tuhan berkata kepada kita : “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga” (Mat 6:1). Perkataan Tuhan tersebut mungkin mengejutkan, tetapi dalam Bacaan Injil hari ini, kata yang paling sering kita dengar adalah upah (bdk. ayat 1.2.5.16). Biasanya, pada Hari Rabu Abu, kita lebih memikirkan ketetapan hati yang dituntut oleh perjalanan iman, daripada ganjaran yang menjadi tujuannya. Namun hari ini Yesus terus kembali ke kata itu, upah, yang tampaknya menjadi alasan perbuatan kita. Tetapi di dalam hati kita, sesungguhnya, ada kehausan, keinginan akan upah, yang menarik dan memotivasi kita.

 

Tetapi, Tuhan berbicara tentang dua macam upah yang dapat diberikan oleh hidup kita : upah dari Bapa dan, di pihak lain, upah dari orang lain. Upah yang pertama bersifat abadi, upah yang sesungguhnya dan utama, tujuan hidup kita. Upah yang kedua bersifat fana, sorotan yang kita cari setiap kali kekaguman orang lain dan kesuksesan duniawi menjadi hal terpenting bagi kita, kepuasan terbesar kita. Tetapi upah yang kedua tersebut hanya sebuah khayalan. upah tersebut bagaikan sebuah fatamorgana yang, begitu kita sampai di sana, ternyata bersifat khayalan; upah tersebut membuat diri kita tidak terpenuhi. Kegelisahan dan ketidakpuasan selalu ada di sekitar orang-orang yang memandang sebuah keduniawian yang menarik tetapi kemudian mengecewakan. Mereka yang mencari upah duniawi tidak pernah menemukan kedamaian atau memberikan sumbangsih terhadap kedamaian. Mereka kehilangan pandangan akan Bapa dan saudara-saudara mereka. Inilah risiko yang dihadapi kita semua, dan oleh karena itu Yesus memerintahkan kita untuk “ingat”. Seolah mengatakan : “Kamu memiliki kesempatan untuk menikmati upah yang tak terbatas, upah yang tiada bandingnya. Maka ingatlah, dan jangan biarkan dirimu terpesona oleh penampilan, mengejar upah murah yang mengecewakan begitu kamu menyentuhnya”.

 

Ritual penerimaan abu di kepala kita dimaksudkan untuk melindungi kita dari kesalahan menempatkan upah yang diterima dari orang lain di atas upah yang kita terima dari Bapa. Tanda keras ini, yang menuntun kita untuk merenungkan kefanaan keadaan manusia kita, laksana obat yang memiliki rasa pahit tetapi ampuh untuk menyembuhkan penyakit penampilan, penyakit rohani yang memperbudak kita dan membuat kita bergantung pada kekaguman orang lain. Sebuah "perbudakan" mata dan pikiran yang sesungguhnya (bdk. Ef 6:6, Kol 3:22). Sebuah perbudakan yang membuat kita menjalani hidup kita untuk kesia-siaan, di mana yang terpenting bukanlah kemurnian hati kita tetapi kekaguman orang lain. Bukan bagaimana Allah memandang kita, tetapi bagaimana orang lain memandang kita. Kita tidak bisa hidup dengan baik jika kita berkehendak berpuas dengan upah itu.

 

Masalahnya yakni "penyakit penampilan" ini mengancam bahkan daerah yang paling suci sekalipun. Itulah yang dikatakan Yesus kepada kita hari ini : bahkan doa, amal kasih dan puasa dapat menjadi acuan diri. Dalam setiap perbuatan, bahkan yang paling mulia sekalipun, ada cacing kepuasan diri yang bisa bersembunyi. Maka hati kita tidak sepenuhnya bebas, karena ia mencari, bukan kasih Bapa dan saudara-saudari kita, tetapi persetujuan manusia, tepuk tangan orang, kemuliaan diri kita sendiri. Semuanya kemudian bisa menjadi semacam kepura-puraan di hadapan Alah, di hadapan diri kita sendiri dan di hadapan orang lain. Itulah sebabnya sabda Allah mendesak kita untuk melihat ke dalam dan mengenali kemunafikan kita. Marilah kita membuat diagnosa penampilan yang kita cari, dan marilah kita berusaha membuka kedoknya. Akan ada baiknya untuk kita berbuat demikian.

 

Abu menunjukkan kekosongan yang bersembunyi di balik pencarian hiruk pikuk untuk upah duniawi. Abu mengingatkan kita bahwa keduniawian itu seperti debu yang terbawa angin. Saudari-saudara, kita di dunia ini bukan untuk mengejar angin; hati kita haus akan keabadian. Masa Prapaskah adalah waktu yang diberikan Tuhan kepada kita untuk diperbarui, untuk memelihara kehidupan batin kita dan untuk melakukan perjalanan menuju Paskah, menuju hal-hal yang tidak akan berlalu, menuju upah yang akan kita terima dari Bapa. Masa Prapaskah juga merupakan perjalanan penyembuhan. Bukan diubah dalam semalam, tetapi menjalani setiap hari dengan semangat yang diperbarui, “gaya” yang berbeda. Doa, amal kasih dan puasa adalah pertolongan untuk hal ini. Dimurnikan oleh abu Prapaskah, dimurnikan dari kemunafikan penampilan, doa, amal kasih dan puasa menjadi semakin kuat dan memulihkan kita kepada hubungan yang hidup dengan Allah, saudara-saudari kita, dan diri kita.

 

Doa, doa yang rendah hati, doa “secara tersembunyi” (Mat 6:6), dalam ketersembunyian kamar kita, menjadi tersembunyi untuk membuat hidup kita berkembang di mana pun juga. Doa adalah dialog, hangat dalam kasih sayang dan kepercayaan, yang menghibur dan melapangkan hati kita. Selama masa Prapaskah ini, marilah kita berdoa terutama dengan memandang Tuhan yang tersalib. Marilah kita membuka hati kita terhadap kelembutan Allah yang menyentuh, dan di dalam luka-luka-Nya tempatkanlah luka-luka kita dan luka-luka dunia kita. Janganlah kita selalu terburu-buru, tetapi temukan waktu untuk berdiri dalam keheningan di hadirat-Nya. Marilah kita temukan kembali kesuburan dan kesederhanaan dialog sepenuh hati dengan Tuhan. Karena Allah tidak tertarik dengan penampilan. Sebaliknya, Ia berkenan ditemukan dalam ketersembunyian, "ketersembunyian kasih", jauh dari segala kesombongan dan hiruk pikuk.

 

Jika doa itu nyata, tentu akan berbuah dalam amal kasih. Dan amal kasih membebaskan kita dari bentuk perbudakan yang paling buruk, yaitu perbudakan terhadap diri sendiri. Amal kasih masa Prapaskah, yang dimurnikan oleh abu ini, membawa kita kembali kepada apa yang hakiki, kepada sukacita mendalam yang ditemukan dalam memberi. Derma yang dilaksanakan jauh dari lampu sorot mengisi hati dengan kedamaian dan harapan. Ini mengungkapkan kepada kita keindahan memberi, yang kemudian menjadi menerima, dan dengan demikian memungkinkan kita untuk menemukan rahasia yang berharga : hati kita lebih bersukacita karena memberi daripada menerima (bdk. Kis 20:35).

 

Terakhir, puasa. Puasa bukanlah diet. Memang, puasa membebaskan kita dari pengusahaan kebugaran fisik yang mementingkan diri sendiri dan menghantui, guna membantu kita menjaga kebugaran tidak hanya tubuh kita tetapi juga jiwa kita. Puasa membuat kita menghargai sesuatu sesuai dengan nilainya yang sesungguhnya. Puasa mengingatkan kita secara nyata bahwa hidup tidak boleh dibuat bergantung pada bentangan dunia dewasa ini yang hanya sekilas. Puasa juga tidak boleh dibatasi hanya pada makanan saja. Khususnya di masa Prapaskah, kita harus berpuasa dari apa pun yang dapat membuat dalam diri kita segala jenis kecanduan. Inilah sesuatu yang harus direnungkan kita masing-masing, agar berpuasa dengan cara yang akan berdampak pada kehidupan kita yang sesungguhnya.

 

Doa, amal kasih, dan puasa perlu tumbuh "secara tersembunyi", tetapi tidak demikian dengan dampaknya. Doa, amal kasih dan puasa bukanlah obat yang dimaksudkan hanya untuk diri kita sendiri tetapi untuk semua orang: ketiganya dapat mengubah sejarah. Pertama, karena orang-orang yang mengalami dampaknya hampir secara tidak sadar menyebarkannya kepada orang lain; tetapi terutama, karena doa, amal kasih dan puasa adalah cara utama Allah untuk campur tangan dalam kehidupan kita dan dunia. Ketiganya adalah senjata jiwa dan, bersama ketiganya, pada hari doa dan puasa untuk Ukraina ini, kita memohonkan dari Allah perdamaian yang tidak dapat dibangun sendiri oleh manusia.

 

Ya Tuhan, Engkau melihat secara tersembunyi dan Engkau memberikan upah kepada kami melebihi setiap harapan kami. Dengarkanlah doa orang-orang yang percaya kepada-Mu, terutama orang-orang kecil, orang-orang yang dicobai dengan susah payah, serta orang-orang yang menderita dan melarikan diri di hadapan deru senjata. Pulihkanlah kedamaian dalam hati kami; sekali lagi, anugerahkanlah damai-Mu kepada hari-hari kami. Amin.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 3 Maret 2022)