Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BEATIFIKASI PAUS YOHANES PAULUS I (MISA HARI MINGGU BIASA XXIII) 4 September 2022

Bacaan Ekaristi : Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33.

 

Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, dan Bacaan Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa “banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus” (Luk 14:25). Bepergian dengan Yesus berarti mengikuti-Nya, menjadi murid-murid-Nya. Namun, pesan Tuhan kepada orang-orang itu tidak begitu menarik; sebenarnya, pesan tersebut cukup menuntut : Barangsiapa yang tidak mencintai-Nya lebih dari keluarganya sendiri, barangsiapa tidak memikul salibnya, barangsiapa tetap terikat pada barang-barang duniawi, tidak dapat menjadi murid-Nya (bdk. ayat 26-27.33). Mengapa Yesus mengatakan hal-hal ini kepada orang banyak? Apa yang dimaksud dengan peringatan-peringatan ini? Marilah kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

 

Pertama, kita melihat banyak orang mengikuti Yesus. Kita bisa membayangkan bahwa banyak yang tertarik dengan kata-kata-Nya, heran dengan hal-hal yang Ia lakukan, dan melihat-Nya sebagai sumber harapan untuk masa depan. Apa yang akan dilakukan oleh guru manapun pada waktu itu atau, dalam hal ini, apa yang akan dilakukan oleh para pemimpin yang cerdik, melihat bahwa kata-kata dan karisma-Nya menarik banyak orang dan meningkatkan popularitas-Nya? Hal yang sama terjadi hari ini, pada saat krisis pribadi atau sosial, ketika kita menjadi mangsa perasaan marah atau takut akan hal-hal yang mengancam masa depan kita. Kita menjadi lebih rentan dan dengan demikian, pada gelombang emosi, kita melihat mereka yang dapat dengan cerdik memanfaatkan situasi, mengambil keuntungan dari ketakutan masyarakat dan berjanji untuk menjadi "penyelamat" yang dapat menyelesaikan semua masalahnya, padahal kenyataannya mereka mencari persetujuan yang lebih luas dan kekuasaan yang lebih besar, berdasarkan kesan yang mereka buat, kemampuan mereka untuk menangani segala sesuatu.

 

Bacaan Injil memberitahu kita bahwa ini bukan jalan Yesus. Gaya Allah berbeda. Penting untuk memahami gaya Allah, bagaimana Ia bertindak. Allah bertindak menurut suatu gaya, dan gaya Allah berbeda dengan gaya orang-orang tertentu, karena Ia tidak mengeksploitasi kebutuhan kita atau menggunakan kerentanan kita untuk kepentingan-Nya. Ia tidak ingin merayu kita dengan janji-janji yang menipu atau membagikan bantuan murahan; Ia tidak tertarik pada kerumunan orang banyak. Ia tidak terobsesi dengan angka; Ia tidak meminta persetujuan; Ia tidak mengidolakan kesuksesan pribadi. Sebaliknya, Ia tampak khawatir ketika orang-orang mengikuti-Nya dengan penuh semangat dan antusias. Akibatnya, alih-alih menyerah pada daya pikat popularitas – karena popularitas itu memikat – Ia meminta setiap orang untuk memahami dengan cermat alasan mereka mengikuti-Nya dan konsekuensi yang akan ditimbulkannya. Sebagian dari orang banyak itu mungkin telah mengikuti Yesus karena mereka berharap Ia akan menjadi seorang pemimpin yang dapat membebaskan mereka dari musuh-musuh mereka, seseorang yang, sekali berkuasa, dapat berbagi kuasa itu dengan mereka, atau seseorang yang dengan melakukan mukjizat dapat mengenyahkan kelaparan dan penyakit. Kita dapat mengikuti Tuhan untuk sejumlah alasan. Beberapa di antaranya, harus diakui, bersifat duniawi. Lahiriah religius yang sempurna dapat berfungsi untuk menyembunyikan kepuasan kebutuhan kita, pencarian prestise pribadi kita, keinginan untuk status sosial tertentu atau untuk menjaga hal-hal di bawah kendali, haus akan kekuasaan dan hak istimewa, keinginan untuk pengakuan dan sebagainya. Hal ini terjadi bahkan saat ini di antara umat kristiani. Namun itu bukanlah gaya Yesus. Itu tidak bisa menjadi gaya murid-murid-Nya dan Gereja-Nya. Jika seseorang mengikuti Yesus dengan kepentingan pribadi seperti ini, ia telah salah jalan.

 

Tuhan menuntut sikap yang berbeda. Mengikuti-Nya tidak berarti menjadi bagian dari pengadilan atau prosesi kemenangan, atau bahkan menerima polis asuransi seumur hidup. Sebaliknya, mengikuti Tuhan berarti “memikul salib” (Luk 14:27) : memikul, seperti Dia, beban sendiri dan orang lain, menjadikan hidup kita sebagai karunia, bukan kepemilikan, menghabiskannya dengan meneladan kemurahan hati dan kasih sayang-Nya kepada kita. Ini adalah keputusan yang melibatkan totalitas hidup kita. Karena alasan ini, Yesus menginginkan agar murid-murid-Nya tidak memilih apa pun untuk cinta ini, bahkan kasih sayang terdalam dan harta terbesar mereka.

 

Untuk melakukan hal ini, kita perlu memandang Dia lebih dari pada diri kita sendiri, belajar bagaimana mencintai, dan mempelajari hal ini dari Yesus yang tersalib. Di dalam Dia, kita melihat cinta yang melimpahkan dirinya sampai akhir, tanpa ukuran dan tanpa batas. Ukuran cinta adalah mencintai tanpa ukuran. Dalam kata-kata Paus Yohanes Paulus, “kita adalah obyek cinta abadi Allah” (Doa Malaikat Tuhan, 10 September 1978). Cinta abadi : cinta tidak pernah tenggelam di bawah cakrawala kehidupan kita; cinta menyinari kita dan menerangi bahkan malam tergelap kita. Ketika kita memandang kepada Tuhan yang tersalib, kita dipanggil menuju ketinggian cinta itu, dimurnikan dari ide-ide kita yang menyimpang tentang Allah dan dari keasyikan diri kita, serta mencintai Allah dan sesama, dalam Gereja dan masyarakat, termasuk mereka yang tidak melihat hal-hal yang kita lakukan, mencintai bahkan musuh kita.

 

Mencintai bahkan dengan harga pengorbanan, keheningan, kesalahpahaman, kesendirian, perlawanan dan penganiayaan. Mencintai dengan cara ini, bahkan dengan harga ini, karena, sebagaimana juga dikatakan Beato Yohanes Paulus, jika kamu ingin mencium Yesus yang tersalib, “kamu tidak dapat menahan diri untuk tidak membungkuk di atas salib dan membiarkan dirimu ditikam oleh beberapa duri dari mahkota di atasnya. kepala Tuhan” (Audiensi Umum, 27 September 1978). Cinta yang bertahan sampai akhir, duri dan segalanya : tidak meninggalkan hal-hal setengah jadi, tidak ada jalan pintas, tidak ada kesulitan melarikan diri. Jika kita gagal mencapai tujuan yang tinggi, jika kita menolak untuk mengambil risiko, jika kita puas dengan iman yang encer, kita, seperti yang dikatakan Yesus, seperti mereka yang ingin membangun sebuah menara tetapi tidak memperkirakan biayanya; mereka "meletakkan dasar", tetapi kemudian "tidak dapat menyelesaikannya" (ayat 29). Jika rasa takut kehilangan diri kita membuat kita berhenti memberi diri kita, kita meninggalkan hal-hal yang belum terselesaikan : hubungan dan pekerjaan kita, tanggung jawab dan komitmen kita, impian kita dan bahkan iman kita. Dan kemudian kita akhirnya menjalani hidup setengah jalan – dan berapa banyak orang yang menjalani hidup setengah jalan, dan kita juga sering tergoda untuk menjalani hidup setengah jalan – tanpa pernah mengambil langkah tegas – inilah artinya menjalani hidup setengah jalan – tanpa pernah terbang, tanpa pernah mengambil risiko untuk kebaikan, dan tanpa pernah benar-benar berkomitmen untuk membantu orang lain. Yesus menanyakan hal ini kepada kita secara tepat : hayati Injil dan kamu akan menghayati hidupmu, bukan setengah jalan tetapi sepenuhnya. Hayati Injil, hayati hidup, tanpa kompromi.

 

Saudara-saudari terkasih, Beato kita yang baru hidup seperti itu : dalam sukacita Injil, tanpa kompromi, penuh kasih sampai akhir. Ia mewujudkan kemiskinan murid, yang tidak hanya terlepas dari harta benda, tetapi juga kemenangan atas godaan untuk menempatkan diri di pusat, mencari kemuliaan diri. Sebaliknya, mengikuti teladan Yesus, ia adalah seorang gembala yang lemah lembut dan rendah hati. Ia menganggap dirinya sebagai debu yang pada dirinya Allah berkenan untuk menulis (bdk. A. Luciani/Yohanes Paulus I, Opera Omnia, Padua, 1988, vol. II, 11). Itulah sebabnya ia bisa mengatakan: “Tuhan sangat menganjurkannya : jadilah rendah hati. Bahkan jika kamu telah melakukan hal-hal besar, katakanlah : 'Kami adalah hamba yang tidak berguna'” (Audiensi Umum, 6 September 1978).

 

Dengan senyuman, Paus Yohanes Paulus berhasil menyampaikan kebaikan Tuhan. Alangkah indahnya Gereja dengan wajah bahagia, teduh dan tersenyum, Gereja yang tidak pernah menutup pintu, tidak pernah mengeraskan hati, tidak pernah mengeluh atau menyimpan dendam, tidak menjadi marah atau tidak sabar, tidak terlihat muram atau menderita nostalgia masa lalu, jatuh ke dalam sikap mundur. Marilah kita berdoa kepadanya, bapa kita dan saudara kita, dan memintanya untuk mendapatkan bagi kita "senyuman jiwa", senyuman transparan yang tidak menipu, senyuman jiwa. Marilah kita berdoa, dengan kata-katanya : “Tuhan, terimalah aku apa adanya, dengan segala aibku, dengan kekuranganku, tetapi jadikanlah aku seperti yang Engkau inginkan” (Audiensi Umum, 13 September 1978). Amin.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 September 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM KONSISTORI PUBLIK BIASA UNTUK PENGANGKATAN KARDINAL BARU DAN PEMBERIAN SUARA UNTUK BEBERAPA PENYEBAB KANONISASI 27 Agustus 2022

Kata-kata Yesus, di tengah-tengah Injil Lukas, menusuk kita bagaikan anak panah : "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!" (12:49).

 

Dalam perjalanan bersama murid-murid-Nya menuju Yerusalem, Tuhan mengumumkan hal ini dalam gaya nubuat yang khas, menggunakan dua gambaran : api dan baptisan (bdk. 12:49-50). Ia akan membawa api ke dunia; baptisan yang akan diterima-Nya. Perkenankan saya mengambil gambar api, nyala api yang kuat dari Roh Allah, Allah sendiri, sebagai "api yang menghanguskan" (Ul 4:24; Ibr 12:29). Cinta yang penuh gairah yang memurnikan, meregenerasi, dan mengubah rupa segala sesuatu. Api ini - tetapi juga "pembaptisan" ini - terungkap sepenuhnya dalam misteri Paskah Kristus, ketika Ia, seperti tiang api, membuka jalan menuju kehidupan melalui lautan gelap dosa dan kematian.

 

Namun ada api lain, api arang yang kita temukan dalam catatan Yohanes tentang penampakan ketiga dan terakhir dari Yesus yang bangkit kepada para murid di Danau Galilea (bdk. 21:9-14). Api arang adalah api kecil yang dibuat Yesus sendiri di dekat pantai, ketika para murid di perahu mereka sedang menghela jala mereka yang secara ajaib terisi ikan. Simon Petrus tiba lebih dulu, melompat ke dalam air, penuh dengan sukacita (bdk. ayat 7). Api arang itu tenang dan lembut, namun lebih tahan lama dan digunakan untuk memasak. Di sana di tepi laut, api arang menciptakan suasana yang akrab di mana para murid, kagum dan tergerak, menikmati kedekatan mereka dengan Tuhan mereka.

 

Hari ini, saudara dan saudari terkasih, ada baiknya kita bersama-sama bermeditasi pada gambar api dalam kedua bentuk ini, dan dalam cahayanya, untuk mendoakan para Kardinal, terutama bagi Anda yang dalam perayaan ini akan menerima martabat dan tugas itu.

 

Dengan kata-kata yang ditemukan dalam Injil Lukas, Tuhan memanggil kita sekali lagi untuk mengikuti-Nya di sepanjang jalan perutusan-Nya. Perutusan yang berapi-api - seperti perutusan Elia - tidak hanya untuk apa yang ingin Ia capai tetapi juga bagaimana Ia menyelesaikannya. Dan kepada kita yang di dalam Gereja telah dipilih dari antara umat untuk suatu pelayanan pelayanan tertentu, seolah-olah Yesus memberikan kepada kita obor yang menyala dan mengatakan kepada kita : "Terimalah; Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh 20:21). Dengan cara ini, Tuhan ingin menganugerahkan kepada kita keberanian apostolik-Nya, semangat-Nya untuk keselamatan setiap manusia, tanpa kecuali. Ia ingin berbagi dengan kita kemurahan hati-Nya, cinta-Nya yang tak terbatas dan tanpa syarat, karena hati-Nya berapi-api dengan belas kasihan Bapa. Inilah yang membara di hati Yesus : belas kasihan Bapa. Dan di dalam api ini juga, ada ketegangan misterius dari perutusan-Nya, yang berada di antara kesetiaan terhadap umat-Nya, terhadap tanah terjanji, terhadap mereka yang telah diberikan Bapa kepada-Nya, dan, pada saat yang sama, keterbukaan kepada semua orang, - ketegangan universal itu, terhadap cakrawala dunia, terhadap pinggiran yang belum diketahui.

 

Ini adalah api yang kuat yang juga mendorong Rasul Paulus dalam pelayanannya yang tak kenal lelah bagi Injil, dalam "perlombaan"-nya, semangat misionernya terus-menerus diilhami oleh Roh dan sabda. Juga api seluruh misionaris pria dan wanita yang telah mengetahui sukacita penginjilan yang melelahkan namun manis, dan yang hidupnya sendiri menjadi sebuah Injil, karena mereka juga adalah saksi di hadapan semua orang.

 

Saudara dan saudari, ini adalah api yang Yesus "bawa ke bumi" ketika Ia datang, api yang dinyalakan Roh Kudus di dalam hati, tangan dan kaki semua orang yang mengikuti-Nya. Api Yesus, api yang dibawa Yesus.

 

Lalu ada api lainnya, yaitu api arang. Tuhan juga ingin berbagi api ini dengan kita, sehingga seperti Dia, dengan kelemahlembutan, kesetiaan, kedekatan dan kelembutan - ini adalah gaya Allah : kedekatan, kasih sayang dan kelembutan - kita dapat menuntun banyak orang untuk menikmati kehadiran Yesus hidup di tengah-tengah kita. Kehadiran yang begitu jelas, meskipun dalam misteri, sehingga tidak perlu bertanya: "Siapa kamu?" Karena hati kita memberitahu kita bahwa itulah Dia, itulah Tuhan. Api ini menyala dengan cara tertentu dalam doa adorasi, ketika kita diam-diam berdiri di hadapan Ekaristi dan bersenang-senang di hadirat Tuhan yang rendah hati, bijaksana dan tersembunyi. Seperti api arang, kehadiran-Nya menjadi kehangatan dan nutrisi bagi kehidupan kita sehari-hari.

 

Api itu membuat kita berpikir tentang teladan Santo Charles de Foucauld, yang hidup selama bertahun-tahun di lingkungan non-Kristiani, dalam kesunyian padang gurun, mempertaruhkan segalanya di hadapan: kehadiran Yesus yang hidup, di dalam sabda dan dunia. Ekaristi, dan kehadirannya, bersifat persaudaraan, ramah dan amal. Ekaristi juga membuat kita berpikir tentang saudara-saudari kita yang hidup dalam pengabdian sekuler, di dunia, memelihara api yang tenang dan abadi di tempat kerja mereka, dalam hubungan antarpribadi, dalam tindakan kecil persaudaraan. Atau para imam yang bertekun dalam pelayanan tanpa pamrih dan sederhana di tengah umat mereka. Seorang imam dari tiga paroki, di sini di Italia, mengatakan kepada saya bahwa ia memiliki banyak pekerjaan. Saya berkata, "Apakah kamu dapat mengunjungi seluruh umat?" "Ya, aku mengenal seluruh umat!" "Kamu tahu nama seluruh umat?" "Ya, bahkan nama anjing keluarga". Ini adalah jenis api lembut yang membawa kerasulan dalam terang Yesus. Demikian pula, bukankah api serupa, kekudusan suami-istri, yang setiap hari menghangatkan kehidupan pasangan-pasangan Kristiani yang tak terhitung jumlahnya, tetap menyala dengan doa-doa sederhana, "buatan sendiri", gerak-gerik dan tatapan lembut, dan oleh cinta yang dengan sabar menemani anak-anak dalam perjalanan pertumbuhan. Kita juga tidak bisa mengabaikan api yang terus dinyalakan oleh orang tua : mereka adalah khazanah, khazanah Gereja - perapian kenangan, baik dalam keluarga maupun kehidupan masyarakat. Betapa pentingnya api orang tua! Di sekelilingnya, keluarga-keluarga bersatu dan belajar menafsirkan masa kini dalam terang pengalaman masa lalu dan membuat keputusan yang bijaksana.

 

Saudara para kardinal yang terkasih, dengan terang dan kekuatan api ini berjalanlah umat yang kudus dan setia yang daripadanya kita diambil - kita, diambil dari umat Allah - dan kepadanya kita telah diutus sebagai pelayan Kristus Tuhan. Apa yang dikatakan oleh api rangkap dua Yesus ini, api yang berapi-api dan juga lembut, secara khusus kepada saya dan kepadamu? Memikirkan hal itu mengingatkan kita bahwa seorang manusia dengan semangat kerasulan didorong oleh api Roh untuk peduli, dengan berani, dengan hal-hal besar dan kecil, untuk "non coerceri a maximo, contineri tamen a minimo, divinum est". Ingat : Santo Thomas, dalam Prima Pars, mengatakan: Non coerceri a maximo, tidak dibatasi oleh yang terbesar, contineri tamen a minimo, namun terkandung dalam yang terkecil, divinum est, adalah ilahi.

 

Seorang Kardinal mencintai Gereja, selalu dengan api spiritual yang sama, baik menghadapi persoalan besar atau menangani masalah sehari-hari, dengan penguasa di dunia ini - yang sering harus ia lakukan -, atau orang-orang biasa yang hebat di mata Allah. Saya memikirkan teladan Agostino Kardinal Casaroli, yang terkenal karena keterbukaannya untuk mempromosikan, melalui dialog yang berpandangan jauh ke depan dan dengan sabar, prospek baru yang terbuka di Eropa setelah Perang Dingin - semoga Allah mencegah kepicikan manusia untuk menutup kembali prospek yang ia buka! Namun, di mata Allah, kunjungan yang biasa ia lakukan kepada narapidana muda di penjara remaja Roma, di mana ia hanya dikenal sebagai "Don Agostino", sama pentingnya. Ia adalah seorang diplomat hebat - seorang martir kesabaran, begitulah hidupnya - bersama dengan kunjungan mingguan ke Casal del Marmo, untuk mengunjungi orang-orang muda. Berapa banyak lagi, teladan serupa muncul dalam pikiran! Saya memikirkan Kardinal Van Thuân, yang dipanggil untuk menggembalakan Umat Allah dalam skenario penting lain dari abad kedua puluh, yang dipimpin oleh api cintanya kepada Kristus untuk merawat jiwa para penjaga penjara yang mengawasinya di pintu. dari sel penjaranya. Orang-orang seperti ini tidak takut pada yang "hebat" atau "tertinggi"; mereka juga melibatkan "anak-anak kecil" setiap hari. Setelah pertemuan, di mana Kardinal Casaroli telah memberitahu Santo Yohanes Paulus II tentang misi terakhirnya - saya tidak tahu apakah itu di Slovakia atau Republik Ceska, salah satu negara itu - ketika ia pergi, Paus memanggilnya dan berkata , "Yang Mulia, satu hal lagi: apakah kamu masih mengunjungi para narapidana muda?" "Ya". "Jangan pernah tinggalkan mereka!" Masalah besar diplomasi dan masalah pastoral kecil. Ini adalah hati seorang imam, hati seorang Kardinal.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita sekali lagi merenungkan Yesus. Ia sendiri yang mengetahui rahasia keagungan yang hina-dina ini, kekuatan yang sederhana ini, visi universal yang selalu memperhatikan hal-hal tertentu. Rahasia api Allah, yang turun dari surga, menerangi langit dari ujung ke ujung, dan perlahan memasak makanan keluarga miskin, migran, dan tunawisma. Hari ini juga, Yesus ingin membawa api ini ke bumi. Ia ingin menyalakannya lagi di tepi kehidupan kita sehari-hari. Yesus memanggil kita dengan nama, kita masing-masing, Ia memanggil kita dengan nama : kita bukan nomor; Ia menatap mata kita - biarkan kita masing-masing membiarkan diri kita menatap mata - dan Ia bertanya : kamu, yaitu Kardinal baru - dan kamu semua, saudara Kardinal, dapatkah aku mengandalkan Engkau? Itulah pertanyaan Tuhan.

 

Saya tidak ingin mengakhiri tanpa mengingat Richard Kuuia Kardinal Baawobr, Uskup Wa, yang kemarin, setibanya di Roma, merasa tidak enak dan dirawat di rumah sakit karena masalah jantung dan mengira mereka melakukan beberapa jenis operasi. Marilah kita mendoakan saudara ini yang seharusnya ada di sini dan dirawat di rumah sakit. Terima kasih.

____

(Peter Suriadi - Bogor 27 Agustus 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI BASILIKA SANTA MARIA, COLLEMAGGIO, L’AQUILA 28 Agustus 2022

Bacaan Ekaristi : Sir. 3:17-18,20,28-29; Mzm. 68:4-5ac,6-7ab,10-11; Ibr. 12:18-19,22-24a; Luk. 14:1,7-14.

 

Para kudus adalah penjelasan yang menarik tentang Injil. Kehidupan mereka adalah tempat istimewa yang daripadanya kita dapat melihat sekilas kabar baik yang diwartakan Yesus melalui kedatangan-Nya – yaitu, Allah adalah Bapa kita dan kita masing-masing dikasihi oleh-Nya. Ini adalah pokok Injil, dan Yesus adalah bukti dari kasih ini – penjelmaan-Nya, wajah-Nya.

 

Hari ini kita sedang merayakan Ekaristi pada hari khusus untuk kota ini dan Gereja ini : Pengampunan Selestinian. Di sini, relikui Paus Selestinus V disimpan. Orang ini tampaknya telah sepenuhnya mencapai apa yang kita dengar dalam Bacaan Pertama: "Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan” (Sir 3:18). Kita secara keliru mengingat Selestinus V sebagai “orang yang membuat penolakan besar”, menurut ungkapan yang digunakan Dante dalam Komedi Ilahi-nya. Tetapi Selestinus V bukanlah seorang yang mengatakan "tidak", tetapi seorang yang mengatakan "ya".

 

Faktanya, tidak ada cara lain untuk mewujudkan kehendak Allah selain mengambil alih kekuatan orang yang rendah hati, tidak ada cara lain. Justru karena mereka demikian adanya, orang yang rendah hati tampak lemah dan pecundang di mata laki-laki dan perempuan, padahal kenyataannya mereka adalah pemenang sejati karena mereka adalah orang-orang yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan mengetahui kehendak-Nya. Faktanya, "kepada yang hina-dina Allah mengungkapkan rahasia-Nya, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati" (bdk. Sir 3:19-20). Dalam semangat dunia yang dikuasai kesombongan, Sabda Allah hari ini mengajak kita untuk rendah hati dan lemah lembut. Kerendahan hati tidak berupa meremehkan diri kita sendiri, melainkan dalam realisme sehat yang membuat kita mengenali potensi kita maupun kesengsaraan kita. Dimulai dengan kesengsaraan kita, kerendahan hati membuat kita mengalihkan pandangan dari diri kita sendiri untuk mengarahkannya kepada Allah, kepada Dia yang dapat melakukan segalanya dan yang bahkan memperolehkan bagi kita apa yang tidak akan berhasil kita peroleh sendiri. “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Mrk 9:23).

 

Kekuatan orang yang hina-dina adalah Tuhan, bukan strategi, sarana manusia, nalar dunia ini, perhitungan. Bukan, kekuatan orang yang hina-dina adalah Tuhan. Dalam pengertian itu, Selestinus V adalah saksi Injil yang berani karena tidak ada nalar atau kekuatan yang mampu memenjarakan atau mengendalikannya. Di dalam dirinya, kita mengagumi Gereja yang bebas dari nalar duniawi, memberi kesaksian sepenuhnya bagi nama Allah Sang Belas Kasihan. Ini adalah pokok Injil yang sesungguhnya, karena belas kasihan adalah memahami bahwa kita dikasihi dalam kesengsaraan kita. Keduanya berjalan seiring. Belas kasihan tidak dapat dipahami tanpa memahami kesengsaraan diri. Menjadi orang percaya tidak berarti mendekati Allah yang gelap dan menakutkan. Surat kepada orang Ibrani mengingatkan kita akan hal ini : “Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka" (12:18-19). Tidak. Saudara-saudari yang terkasih, kita telah mendekat kepada Yesus, Sang Putra Allah, Sang Rahmat Bapa dan Kasih yang menyelamatkan. Ia adalah rahmat, dan hanya dengan belas kasihan-Nya Ia dapat berbicara tentang kesengsaraan kita. Jika salah satu dari kita berpikir bahwa mereka dapat mencapai belas kasihan dengan cara lain selain melalui kesengsaraan mereka sendiri, mereka telah mengambil jalan yang salah. Inilah pentingnya memahami kenyataan diri sendiri.

 

Selama berabad-abad, L'Aquila tetap menghidupkan karunia yang ditinggalkan oleh Paus Selestinus V. Karunia itu adalah keistimewaan untuk mengingatkan semua orang bahwa dengan belas kasihan, dan hanya dengan belas kasihan, kehidupan setiap pria dan wanita dapat dijalani dengan sukacita. Belas kasihan adalah pengalaman merasa disambut, berdiri kembali, dikuatkan, disembuhkan, didorong. Diampuni berarti mengalami di sini dan sekarang apa yang paling dekat dengan kebangkitan. Pengampunan adalah perjalanan dari kematian menuju kehidupan, dari pengalaman penderitaan dan rasa bersalah menuju kebebasan dan kegembiraan. Semoga gereja ini selalu menjadi tempat di mana orang-orang dapat berdamai dan mengalami rahmat yang membuat kita bangkit lagi dan memberi kita kesempatan lagi. Allah kita adalah Allah kesempatan kedua – “Berapa kali, Tuhan? Satu kali? Tujuh kali?” – “Tujuh puluh kali tujuh kali”. Tuhanlah yang selalu memberimu kesempatan lagi. Semoga ada gereja pengampunan, bukan setahun sekali, tetapi selalu, setiap hari. Karena dengan cara ini perdamaian dibangun, melalui pengampunan yang diterima dan diberikan.

 

Dimulai dengan kesengsaraan kita dan melihat hal itu, mencoba mencari cara untuk mencapai pengampunan, karena bahkan dalam kesengsaraan kita akan selalu menemukan cahaya yang merupakan jalan menuju Tuhan. Ia memberi kita cahaya dalam kesengsaraan kita. Pagi ini, misalnya, saya memikirkan hal ini ketika, ketika kami tiba di L'Aquila dan kami tidak dapat mendarat – kabut tebal, semuanya gelap, kamu tidak dapat mendarat. Pilot helikopter itu berputar-putar, berputar-putar, berputar-putar…. Pada akhirnya, ia melihat sebuah lubang kecil dan ia melewatinya – ia berhasil, seorang sokopilot. Dan saya memikirkan kesengsaraan ini dan bagaimana hal yang sama terjadi dengan kesengsaraan kita. Berapa kali kita melihat siapa kita – tidak ada apa-apanya, melebihi tidak ada apa-apanya – dan kita berputar-putar, berputar-putar…. Tetapi terkadang, Tuhan membuat lubang kecil. Tempatkan dirimu di sana, itu adalah luka-luka Tuhan! Di situlah belas kasihan berada, tetapi di dalam kesengsaraanmu. Ada lubang dalam kesengsaraanmu yang dibuat Tuhan agar kamu masuk ke dalamnya. Belas kasihan yang masuk ke dalam dirimu, ke dalam diriku, ke dalam kesengsaraan kita.

 

Saudara-saudari terkasih, kamu telah banyak menderita karena gempa bumi. Dan sebagai penduduk, kamu mencoba untuk bangkit dan bangkit kembali. Tetapi mereka yang telah menderita harus dapat menciptakan khazanah dari penderitaan mereka, mereka harus memahami bahwa dalam kegelapan yang mereka alami, mereka juga menerima karunia untuk memahami penderitaan orang lain. Kamu dapat menghargai karunia belas kasih karena kamu tahu apa artinya kehilangan segalanya, melihat semua yang telah dibangun runtuh, meninggalkan semua yang kamu sayangi, merasakan lubang yang ditinggalkan oleh ketidakhadiran orang-orang yang kamu cintai. Kamu dapat menghargai belas kasihan karena kamu telah mengalami belas kasihan.

Dalam kehidupan mereka, setiap orang, bahkan tanpa hidup melalui gempa bumi, dapat mengalami “gempa jiwa”, sehingga dapat dikatakan, yang membuat kita berhubungan dengan kelemahan kita, keterbatasan kita, kesengsaraan kita. Dalam pengalaman ini, kita bisa kehilangan segalanya, tetapi kita juga bisa belajar kerendahan hati yang sejati. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa membiarkan hidup membuat kita pahit, atau kita bisa belajar kelembutan. Jadi, kerendahan hati dan kelemahlembutan adalah ciri orang-orang yang mengemban misi memelihara dan bersaksi tentang belas kasihan. Ya, karena belas kasihan, ketika datang kepada kita dan karena kita menghargainya, kita juga bisa menjadi saksi atas belas kasihan ini. Belas kasihan adalah karunia bagi saya, bagi kesengsaraan saya, tetapi belas kasihan ini juga harus ditularkan kepada orang lain sebagai karunia Tuhan.

 

Namun, ada panggilan yang membangunkan yang memberitahu kita jika kita salah jalan. Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan hal ini (bdk. Luk 14:1,7-14). Yesus diundang untuk makan malam, kita mendengar, di rumah seorang Farisi, dan dengan penuh perhatian mengamat-amati berapa banyak yang berlarian untuk mendapatkan tempat duduk terbaik di meja. Hal ini mengisyaratkan-Nya untuk menceritakan sebuah perumpamaan yang tetap berlaku bahkan bagi kita hari ini : “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah” (ayat 8-9). Terlalu sering orang-orang mendasarkan nilai mereka pada tempat yang mereka tempati di dunia. Seseorang bukanlah posisi yang dipegangnya. Seseorang adalah kebebasan yang mampu ia diwujudkan sepenuhnya ketika ia menempati tempat terakhir, atau ketika tempat disediakan untuk orang itu di Kayu Salib.

 

Orang Kristiani tahu bahwa hidupnya bukanlah karier menurut cara dunia, tetapi karier menurut cara Kristus yang berkata tentang diri-Nya sendiri bahwa Ia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani (bdk. Mrk 10:45). Kecuali kita memahami bahwa revolusi Injil terkandung dalam jenis kebebasan ini, kita akan terus menyaksikan perang, kekerasan dan ketidakadilan, yang tidak lain adalah gejala lahiriah dari ketiadaan kebebasan batiniah. Di mana tidak ada kebebasan batiniah, keegoisan, individualisme, kepentingan pribadi, dan penindasan, dan semua kesengsaraan ini, menemukan jalan masuknya. Dan kesengsaraan mengambil kendali.

 

Saudara-saudari, semoga L'Aquila benar-benar menjadi ibu kota pengampunan, ibu kota perdamaian dan rekonsiliasi! Semoga L'Aquila tahu bagaimana menawarkan kepada semua orang perubahan rupa yang dilantunkan Maria dalam Magnificat : “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52), perubahan rupa yang diingatkan Yesus kepada kita dalam Bacaan Injil hari ini, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 14:11). Dan tepatnya kepada Maria, yang kamu hormati dengan gelar Keselamatan Umat L'Aquila, kita ingin mempercayakan resolusi untuk hidup sesuai dengan Injil. Semoga pengantaraan keibuannya mendapatkan pengampunan dan kedamaian bagi seluruh dunia. Kesadaran akan kesengsaraan kita dan keindahan belas kasihan.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Agustus 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA UNTUK REKONSILIASI DI TEMPAT KUDUS NASIONAL SANTA ANNA DE BEAUPRÉ, QUÉBEC, KANADA 28 Juli 2022

Perjalanan para murid ke Emaus, sebagai penutup Injil Lukas, adalah ikon perjalanan pribadi kita dan Gereja. Di jalan kehidupan dan iman, saat kita berusaha mencapai impian, rencana, harapan dan pengharapan jauh di lubuk hati kita, kita juga menghadapi kerapuhan dan kelemahan kita; kita mengalami kemunduran dan kekecewaan, serta seringkali kita dapat tinggal terpenjara oleh rasa kegagalan yang melumpuhkan. Namun Bacaan Injil memberitahu kita bahwa pada saat-saat itu kita tidak sendirian, karena Tuhan datang menemui kita dan berdiri di samping kita. Ia menemani kita dalam perjalanan dengan keleluasaan rekan seperjalanan yang berbudi bahasa yang ingin membuka mata kita dan membuat hati kita sekali lagi membara di dalam diri kita. Setiap kali kegagalan kita mengarah kepada perjumpaan dengan Tuhan, kehidupan dan harapan terlahir kembali dan kita dapat didamaikan : dengan diri kita sendiri, dengan saudara-saudari kita, dan dengan Allah.

 

Jadi marilah kita ikuti pedoman perjalanan ini. Kita bisa menyebutnya perjalanan dari kegagalan menuju harapan.

 

Pertama, ada rasa kegagalan yang menghantui hati kedua murid setelah kematian Yesus. Mereka dengan antusias mengejar mimpi serta menggantungkan semua harapan dan keinginan mereka pada Yesus. Sekarang, setelah kematian-Nya yang keji di kayu salib, mereka meninggalkan Yerusalem dan kembali ke kehidupan mereka semula. Mereka sedang dalam perjalanan pulang, mungkin sebagai cara untuk meninggalkan pengalaman yang telah begitu mencemaskan mereka dan ingatan tentang Mesias yang dieksekusi di kayu salib, seperti para penjahat pada umumnya. Mereka dalam perjalanan pulang dengan sedih, "muka muram" (Luk 24:17). Pengharapan mereka yang tersimpan dalam hati menjadi sia-sia; harapan yang mereka yakini telah sirna, mimpi yang mereka impikan telah berubah menjadi kekecewaan dan kesedihan.

 

Pengalaman itu juga menandai kehidupan kita, dan perjalanan rohani kita, pada saat ketika kita dipaksa untuk menyesuaikan ulang pengharapan dan mengatasi kegagalan serta kemenduaan dan kesimpangsiuran hidup kita. Ketika tingginya cita-cita kita muncul menentang kekecewaan hidup dan kita meninggalkan tujuan kita karena kelemahan dan kekurangan kita. Ketika kita memulai rencana-rencana besar, tetapi kemudian menemukan bahwa kita tidak dapat melaksanakannya (bdk. Rm 7:18). Ketika, cepat atau lambat, kita semua, dalam kehidupan dan hubungan kita sehari-hari, mengalami kemunduran, kesalahan, kegagalan atau keterpurukan, dan melihat apa yang telah kita yakini, atau komitmenkan, menjadi sia-sia. Ketika kita merasa hancur lebur oleh dosa-dosa dan rasa sesal kita.

 

Inilah yang terjadi dengan Adam dan Hawa, seperti kita dengar dalam Bacaan Pertama : dosa mereka menjauhkan mereka dari Allah, tetapi juga satu sama lain. Sekarang mereka hanya bisa saling menuduh. Dan kita melihatnya dalam diri kedua murid Emaus, yang karena sedih melihat rencana Yesus sia-sia belaka sehingga percakapan mereka bernada putus asa. Kita juga dapat melihatnya dalam kehidupan Gereja, komunitas para murid Tuhan, yang diwakili oleh kedua murid Emaus tersebut. Meskipun kita adalah komunitas Tuhan yang bangkit, kita dapat menemukan diri kita bingung dan kecewa berhadapan dengan kekejian kejahatan dan kekerasan yang mengarah ke Kalvari. Pada saat-saat itu, kita tidak dapat melakukan lebih dari sekadar berpegang teguh pada rasa kegagalan kita dan bertanya : Apa yang terjadi? Mengapa ini terjadi? Bagaimana itu bisa terjadi?

 

Saudara-saudari, inilah pertanyaan-pertanyaan kita, dan merupakan pertanyaan-pertanyaan membara yang sedang diajukan oleh Gereja peziarah di Kanada ini, dengan kesedihan yang mendalam, dalam perjalanan penyembuhan dan rekonsiliasinya yang sulit dan menuntut. Dalam menghadapi kejinya kejahatan dan tubuh Kristus yang terluka dalam daging saudara-saudari pribumi kita, kita juga telah mengalami kekecewaan yang mendalam; kita juga merasakan beban kegagalan. Kemudian, perkenankan saya untuk bergabung dalam semangat banyak peziarah yang di tempat ini menaiki "tangga suci" yang membangkitkan pendakian Yesus menuju mahkamah Pilatus. Perkenankan saya untuk menemanimu sebagai Gereja dalam merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari hati yang penuh dengan rasa sakit ini : Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi dalam komunitas orang-orang yang mengikut Yesus?

 

Namun, pada saat-saat seperti itu, kita harus memperhatikan godaan untuk melarikan diri, sebagaimana kita lihat dalam diri kedua murid dalam Bacaan Injil : godaan untuk melarikan diri, melangkah mundur, meninggalkan tempat di mana semua itu terjadi, mencoba menghalanginya habis-habisan dan mencari “tempat perlindungan” seperti Emaus, di mana kita tidak perlu memikirkannya lagi. Ketika dihadapkan dengan kegagalan hidup, tidak ada yang lebih buruk daripada melarikan diri untuk menghindarinya. Ini adalah godaan yang datang dari musuh, yang mengancam perjalanan rohani kita dan perjalanan Gereja, karena ia ingin kita berpikir bahwa semua kegagalan kita sekarang tidak dapat diubah. Ia ingin melumpuhkan kita dengan kesedihan dan penyesalan, meyakinkan kita bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, bahwa tidak ada harapan untuk mencoba menemukan cara guna memulai kembali.

 

Tetapi, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita bahwa justru dalam situasi kekecewaan dan kesedihan seperti itu – ketika kita dikejutkan oleh kekerasan kejahatan dan rasa malu atas dosa-dosa kita, ketika air kehidupan kita dikeringkan oleh dosa dan kegagalan, ketika kita kehilangan segalanya dan tampaknya tidak memiliki apa-apa lagi – Tuhan datang menemui kita dan berjalan di samping kita. Dalam perjalanan ke Emaus, Yesus dengan lembut mendekat dan mengiringi langkah putus asa dari kedua murid yang bersedih itu. Dan apa yang Ia lakukan? Ia tidak menawarkan kata-kata umum yang menyemangati, kata-kata penghiburan yang sederhana dan mudah, tetapi sebaliknya, dengan mengungkapkan misteri wafat dan kebangkitan-Nya yang dinubuatkan dalam Kitab Suci, Ia memberi cahaya baru pada kehidupan mereka dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami. Dengan cara ini, Ia membuka mata mereka untuk melihat segala sesuatu dengan cara baru. Kita yang ambil bagian dalam Ekaristi di Basilika ini juga dapat melihat kembali banyak peristiwa sejarah kita. Di tempat ini, tiga gereja sebelumnya berdiri; selalu ada orang yang menolak untuk melarikan diri dalam menghadapi kesulitan, yang terus bermimpi, terlepas dari kesalahan mereka dan kesalahan orang lain. Mereka tidak membiarkan diri mereka diliputi oleh api dahsyat seabad yang lalu, serta, dengan keberanian dan kreativitas, membangun gereja ini. Dan mereka yang ambil bagian dalam Ekaristi kita di Dataran Abraham terdekat juga dapat memikirkan ketabahan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang menolak untuk membiarkan diri mereka disandera oleh kebencian, perang, kehancuran dan rasa sakit, tetapi mulai membangun kembali sebuah kota dan negara.

 

Akhirnya, di hadapan kedua murid Emaus, Yesus memecahkan roti, membuka mata mereka dan sekali lagi menyatakan diri-Nya sebagai Allah kasih yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya. Dengan cara ini, Ia membantu mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh sukacita, memulai dari awal, berlalu dari kegagalan menuju harapan. Saudara-saudari, Tuhan juga ingin melakukan hal yang sama dengan kita masing-masing dan dengan Gereja-Nya. Bagaimana mata kita bisa terbuka? Bagaimana hati kita sekali lagi bisa membara di dalam diri kita demi Injil? Apa yang harus kita lakukan, saat kita menanggung cobaan rohani dan jasmani, saat kita mencari jalan menuju masyarakat yang semakin adil dan bersaudara, saat kita berusaha untuk pulih dari kekecewaan dan keletihan kita, saat kita berharap untuk disembuhkan dari luka masa lalu dan menjadi berdamai dengan Allah dan dengan sesama?

 

Hanya ada satu jalan, satu-satunya jalan : jalan Yesus, jalan yang adalah Yesus sendiri (bdk. Yoh 14:6). Marilah kita percaya bahwa Yesus mendekat kepada kita dalam perjalanan kita. Marilah kita pergi keluar untuk menemui-Nya. Marilah kita memperkenankan sabda-Nya menafsirkan sejarah yang kita buat sebagai individu dan sebagai komunitas, serta menunjukkan kepada kita jalan menuju penyembuhan dan rekonsiliasi. Dalam iman, marilah kita bersama-sama memecahkan Roti Ekaristi, sehingga di sekeliling meja kita sekali lagi dapat melihat diri kita sebagai anak-anak Bapa yang terkasih, yang dipanggil untuk menjadi saudara dan saudari semua orang.

 

Memecahkan roti, Yesus meneguhkan pesan yang dibawa oleh para perempuan, sebuah kesaksian yang telah didengar oleh para murid, tetapi tidak dapat dipercayai : bahwa Ia telah bangkit! Di Basilika ini, di mana kita memperingati ibu Perawan Maria, dengan ruang bawah tanah yang didedikasikan untuk Yang Dikandung Tanpa Noda, bagaimana mungkin kita tidak memikirkan peran yang ingin diberikan Allah kepada kaum perempuan dalam rencana keselamatan-Nya. Santa Anna, Santa Perawan Maria, dan para perempuan di pagi Paskah menunjukkan kepada kita jalan baru menuju rekonsiliasi. Kasih keibuan yang lembut dari begitu banyak perempuan dapat menemani kita – sebagai Gereja – menuju masa-masa baru dan berbuah, meninggalkan begitu banyak kemandulan dan kematian, serta menempatkan Yesus yang disalibkan dan kemudian bangkit sebagai pusatnya.

 

Sungguh, kita tidak boleh menempatkan diri kita di pusat pertanyaan kita, pergumulan batin kita atau kehidupan pastoral Gereja. Sebaliknya, kita harus menempatkan Dia, Tuhan Yesus. Marilah kita menjadikan sabda-Nya sebagai pusat segala sesuatu yang kita lakukan, karena sabda-Nya menjelaskan semua yang terjadi dan memulihkan visi kita. Sabda-Nya memungkinkan kita untuk melihat kehadiran kasih Allah yang bekerja dan potensi kebaikan bahkan dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan. Marilah kita menempatkan Roti Ekaristi di tengah, yang hari ini sekali lagi dipecahkan-Nya untuk kita, sehingga Ia dapat berbagi hidup-Nya dengan kita, merangkul kelemahan kita, menopang langkah-langkah kita yang lelah dan menyembuhkan hati kita. Berdamai dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri kita, semoga kita sendiri menjadi alat rekonsiliasi dan perdamaian dalam masyarakat kita.

 

Tuhan Yesus, jalan kami, kekuatan dan penghiburan kami, seperti para murid Emaus, kami memohon kepada-Mu: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam" (Luk 24:29). Tinggallah bersama-sama dengan kami, Tuhan Yesus, ketika harapan memudar dan malam kekecewaan tiba. Tinggallah bersama-sama dengan kami, karena bersama-Mu perjalanan kami terus berlanjut dan dari jalan buntu ketidakpercayaan, keajaiban sukacita terlahir kembali. Tinggallah bersama-sama dengan kami, Tuhan, karena bersama-Mu malam kesakitan berubah menjadi fajar kehidupan yang bersinar. Marilah kita katakan, dengan segenap kesederhanaan : Tinggallah bersama-sama dengan kami, Tuhan! Karena jika Engkau berjalan di samping kami, kegagalan memberi jalan kepada harapan kehidupan baru. Amin.

___

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Juli 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA SANTO YOAKIM DAN SANTA ANNA DI STADION COMMONWEALTH, EDMONTON, KANADA 26 JulI 2022 : KITA ADALAH ANAK SEJARAH DAN PENULIS SEJARAH

Bacaan Ekaristi : Sir. 44:1,10-15; Mzm. 132:11,13-14,17-18; Mat. 13:16-17.

 

Hari ini kita merayakan pesta kakek-nenek Yesus. Tuhan telah mengumpulkan kita semua bersama-sama tepat pada kesempatan ini, sangat sayang kepada kamu dan saya. Di rumah Yoakim dan Anna inilah kanak Yesus mengenal kerabatnya yang lebih tua dan mengalami kedekatan, kasih yang lembut, dan kebijaksanaan kakek-neneknya. Marilah kita berpikir tentang kakek-nenek kita sendiri, dan merenungkan dua hal penting.

 

Pertama: kita adalah anak-anak sejarah yang perlu dilestarikan. Kita bukan individu, pulau yang terasing. Tidak ada yang datang ke dunia ini terlepas dari orang lain. Asal-usul kita, kasih yang menanti dan menyambut kita ke dunia, keluarga tempat kita dibesarkan, adalah bagian dari sejarah unik yang mendahului kita dan memberi kita kehidupan. Kita tidak memilih sejarah itu; kita menerimanya sebagai karunia, di mana kita dipanggil untuk menghargainya, karena, seperti diingatkan oleh Kitab Sirakh, kita adalah “keturunan” dari mereka yang telah mendahului kita; kita adalah “warisan” mereka (Sir 44:11). Sebuah warisan yang, terlepas dari klaim atas gengsi atau otoritas, kecerdasan atau kreativitas dalam lagu atau puisi, berpusat pada kebenaran, pada kesetiaan kepada Allah dan kehendak-Nya. Inilah yang mereka wariskan kepada kita. Untuk menerima siapa diri kita sebenarnya, dan betapa berharganya kita, kita perlu menerima sebagai bagian dari diri kita pria dan wanita yang daripadanya kita berasal. Mereka tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri, tetapi memberikan kepada kita harta kehidupan. Kita berada di sini berkat orangtua kita tetapi juga berterima kasih kepada kakek-nenek kita, yang membantu kita merasa diterima di dunia. Seringkali mereka adalah orang-orang yang mengasihi kita tanpa syarat, tanpa mengharapkan balasan apa pun. Mereka memegang tangan kita ketika kita takut, meyakinkan kita di kegelapan malam, menyemangati kita ketika kita menghadapi keputusan hidup yang penting di siang hari yang cerah. Terima kasih kepada kakek-nenek kita, kita menerima belaian dari sejarah yang mendahului kita : kita belajar bahwa kebaikan, kasih yang lembut, dan kebijaksanaan adalah akar kemanusiaan yang kokoh. Di rumah kakek-nenek kitalah banyak dari kita menghirup aroma Injil, kekuatan iman yang membuat kita merasa seperti di rumah sendiri. Berkat mereka, kita menemukan iman yang “akrab” seperti itu, iman rumah tangga. Karena begitulah iman secara mendasar diturunkan, di rumah, melalui bahasa ibu, dengan kasih sayang serta dorongan, perhatian dan kedekatan.

 

Ini adalah sejarah kita, di mana kita adalah pewaris dan kita dipanggil untuk melestarikannya. Kita adalah anak-anak karena kita adalah cucu. Kakek-nenek kita meninggalkan jejak unik kepada kita dengan cara hidup mereka; mereka memberi kita martabat dan kepercayaan diri pada diri kita dan orang lain. Mereka menganugerahkan kepada kita sesuatu yang tidak akan pernah bisa diambil dari kita dan itu, pada saat yang sama, memungkinkan kita untuk menjadi unik, tulen, dan bebas. Dari kakek-nenek kita, kita belajar bahwa cinta tidak pernah dipaksakan; cinta tidak pernah merampas kebebasan batin orang lain. Begitulah cara Yoakim dan Anna mencintai Maria dan Yesus; dan begitulah Maria mencintai Yesus, dengan cinta yang tidak pernah mencekik-Nya atau menahan-Nya, tetapi menemani-Nya dalam merangkul perutusan yang untuk itu Ia datang ke dunia. Marilah kita mencoba mempelajari hal ini, sebagai individu dan sebagai Gereja. Semoga kita belajar untuk tidak pernah menekan hati nurani orang lain, tidak pernah membatasi kebebasan orang-orang di sekitar kita, dan yang terpenting, tidak pernah gagal dalam mencintai dan menghormati mereka yang mendahului kita dan dipercayakan kepada kita. Karena mereka adalah harta berharga yang melestarikan sejarah yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Kitab Sirakh juga memberitahu kita bahwa melestarikan sejarah yang memberi kita kehidupan tidak berarti mengaburkan “kemuliaan” nenek moyang kita. Kita tidak boleh kehilangan ingatan mereka, atau melupakan sejarah yang melahirkan kehidupan kita. Kita harus selalu mengingat mereka yang tangannya membelai kita dan yang memeluk kita; karena dalam sejarah ini kita dapat menemukan penghiburan di saat-saat putus asa, cahaya untuk membimbing kita, dan keberanian untuk menghadapi tantangan hidup. Namun melestarikan sejarah yang memberi kita kehidupan juga berarti terus-menerus kembali ke sekolah tempat kita pertama kali belajar bagaimana mencintai. Itu berarti bertanya pada diri kita sendiri, ketika dihadapkan dengan pilihan sehari-hari, apa yang paling bijaksana dari para penatua yang kita tahu akan diperbuat di tempat kita, nasihat apa yang akan diberikan kakek nenek dan kakek buyut kita kepada kita.

 

Jadi, saudara-saudara terkasih, marilah kita bertanya pada diri kita : apakah anak cucu kita mampu menjaga harta yang kita warisi ini? Apakah kita mengingat ajaran baik yang telah kita terima? Apakah kita berbicara dengan orang yang lebih tua, dan meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka? Dan, di rumah kita yang semakin lengkap, modern dan fungsional, apakah kita tahu bagaimana menyisihkan ruang yang layak untuk melestarikan ingatan mereka, tempat khusus, ingatan keluarga kecil yang, melalui gambar dan benda berharga, memungkinkan kita untuk mengingat dalam doa orang-orang yang mendahului kita? Sudahkah kita menyimpan Alkitab mereka, manik-manik rosario mereka? Dalam kabut kelupaan yang membayangi masa-masa kita yang bergejolak, saudara-saudara, penting untuk menjaga akar kita, berdoa untuk dan bersama para nenek moyang kita, mendedikasikan waktu untuk mengingat dan menjaga warisan mereka. Beginilah cara pohon keluarga tumbuh; ini adalah bagaimana masa depan dibangun.

Mari kita sekarang memikirkan hal penting kedua. Selain menjadi anak-anak sejarah yang perlu dilestarikan, kita adalah penulis sejarah yang belum ditulis. Kita masing-masing dapat mengenali diri kita untuk siapa dan apa diri kita yang sesungguhnya, ditandai oleh cahaya dan bayangan, dan oleh cinta yang kita terima atau tidak. Inilah misteri kehidupan manusia : kita semua adalah anak-anak seseorang, dilahirkan dan dibentuk oleh orang lain, tetapi ketika kita menjadi dewasa, kita juga dipanggil untuk memberikan kehidupan, untuk menjadi ayah, ibu atau kakek-nenek bagi orang lain. Memikirkan orang-orang kita adalah hari ini, apa yang ingin kita lakukan dengan diri kita? Kakek-nenek yang telah mendahului, orangtua yang memiliki impian dan harapan untuk kita, dan membuat pengorbanan besar untuk kita, mengajukan pertanyaan penting kepada kita : masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun? Kita menerima begitu banyak dari tangan mereka yang mendahului kita. Pada gilirannya, apa yang ingin kita wariskan kepada mereka yang datang setelah kita? “Air mawar”, itu adalah iman yang menipis, atau iman yang hidup? Sebuah masyarakat yang didirikan atas keuntungan pribadi atau persaudaraan? Dunia yang sedang berperang atau dunia yang damai? Ciptaan yang hancur atau rumah yang tetap ramah?

Janganlah kita lupa bahwa getah pemberi kehidupan mengalir dari akar menuju cabang, menuju daun, menuju bunga, dan kemudian menuju buah pohon. Tradisi otentik diungkapkan dalam dimensi vertikal ini : dari bawah ke atas. Kita perlu berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam karikatur tradisi, yang tidak vertikal – dari akar menuju buah – tetapi horizontal – ke depan dan ke belakang. Tradisi yang dipahami dengan cara ini hanya membawa kita kepada semacam “budaya terbelakang”, tempat berlindungnya pemusatan diri, yang hanya mengepung masa kini, menjebaknya dalam mentalitas yang mengatakan, “Kita selalu melakukannya dengan cara ini”.

 

Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, Yesus memberitahu para murid bahwa mereka berbahagia karena mereka dapat melihat dan mendengar apa yang hanya bisa diharapkan oleh begitu banyak nabi dan orang benar (bdk. Mat 13:16-17). Banyak orang telah percaya pada janji Allah tentang akan datangnya Mesias, telah mempersiapkan jalan bagi-Nya dan telah mengumumkan kedatangan-Nya. Tetapi sekarang setelah Mesias tiba, mereka yang dapat melihat dan mendengar-Nya dipanggil untuk menyambut-Nya dan menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita.

 

Saudara-saudari, ini juga berlaku untuk kita. Mereka yang mendahului kita telah memberikan kepada kita gairah, kekuatan dan kerinduan, nyala api yang terserah kita untuk menyalakannya kembali. Ini bukan masalah melestarikan abu, tetapi menyalakan kembali api yang mereka nyalakan. Kakek-nenek dan orangtua kita ingin melihat dunia yang semakin adil, bersaudara, dan bersetia kawan, dan mereka berjuang untuk memberi kita masa depan. Sekarang, terserah kita untuk tidak mengecewakan mereka. Terserah kita untuk menerima tradisi yang diterima, karena tradisi itu adalah iman yang hidup dari orang kita yang telah meninggal. Jangan sampai kita mengubah rupanya menjadi “tradisionalisme”, yang merupakan iman yang mati dari orang yang hidup, seperti yang pernah dikatakan seorang penulis. Ditopang oleh mereka yang menjadi asal usul ita, kini giliran kita berbuah. Kita adalah cabang yang harus mekar dan menyebarkan benih sejarah baru. Marilah kita bertanya pada diri kita, kemudian, beberapa pertanyaan nyata. Sebagai bagian dari sejarah keselamatan, dalam terang mereka yang telah mendahuluiku dan mencintaiku, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku memiliki peran yang unik dan tak tergantikan dalam sejarah, tetapi tanda apa yang akan kutinggalkan? Apa yang kusampaikan kepada mereka yang akan datang setelahku? Apa yang kuberikan dari diriku? Seringkali kita mengukur hidup kita berdasarkan pendapatan kita, jenis karir kita, tingkat kesuksesan kita dan bagaimana orang lain memandang kita. Namun ini bukan kriteria yang memberi kehidupan. Pertanyaan sebenarnya adalah : apakah aku memberi kehidupan? Apakah aku mengantarkan ke dalam sejarah cinta yang baru dan diperbarui yang tidak ada sebelumnya? Apakah aku mewartakan Injil di lingkunganku? Apakah aku dengan bebas melayani orang lain, seperti yang dilakukan orang-orang yang telah mendahuluiku untukku? Apa yang kulakukan untuk Gereja kita, kota kita, masyarakat kita? Saudara-saudari, mudah untuk mengkritik, tetapi Tuhan tidak ingin kita hanya menjadi pengkritik sistem, atau tertutup dan "melihat ke belakang", seperti yang dikatakan penulis Surat kepada Ibrani (bdk. 10:39). Sebaliknya, ia ingin kita menjadi pengrajin sejarah baru, penenun harapan, pembangun masa depan, pembawa damai.

 

Semoga Yoakim dan Annae menjadi perantara kita. Semoga mereka membantu kita untuk menghargai sejarah yang memberi kita kehidupan, dan, bagian kita adalaj membangun sejarah yang memberi kehidupan. Semoga mereka mengingatkan kita akan tugas rohani kita untuk menghormati kakek-nenek dan orangtua kita, menghargai kehadiran mereka di antara kita untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Masa depan di mana orangtua tidak dikesampingkan karena, dari sudut pandang "praktis", mereka "tidak lagi berguna". Masa depan yang tidak menilai orang hanya dengan apa yang dapat mereka hasilkan. Masa depan yang tidak acuh dengan kebutuhan para lansia untuk diperhatikan dan didengarkan. Masa depan di mana sejarah kekerasan dan marginalisasi yang dialami oleh saudara-saudara pribumi kita tidak pernah terulang. Masa depan itu mungkin jika, dengan pertolongan Allah, kita tidak memutuskan ikatan yang menyatukan kita dengan mereka yang telah mendahului kita, dan jika kita mendorong dialog dengan mereka yang akan datang setelah kita. Tua-muda, kakek-nenek dan cucu, semuanya bersama-sama. Marilah kita maju bersama-sama, dan bersama-sama, marilah kita bermimpi. Juga, janganlah kita melupakan nasihat Paulus kepada muridnya Timotius: Ingatlah ibumu dan nenekmu (bdk. 2 Tim 1:5).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Juli 2022)