Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH (HARI PERDAMAIAN SEDUNIA KE-57) 1 Januari 2024 : KEGENAPAN WAKTU

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Kata-kata Rasul Paulus menerangi permulaan tahun baru: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Ungkapan “genap waktunya” sungguh mengejutkan. Pada zaman dulu, merupakan kebiasaan untuk mengukur waktu dengan mengosongkan dan mengisi amphorae: ketika amphorae kosong, periode waktu baru dimulai, yang berakhir ketika amphorae sudah penuh. Inilah kepenuhan waktu: ketika amphora sejarah penuh, rahmat ilahi melimpah: Tuhan menjadi manusia dan melakukannya dalam nama seorang perempuan, Maria. Dia adalah jalan yang dipilih oleh Tuhan; dialah titik kedatangan banyak orang dan generasi yang, “setetes demi setetes”, telah mempersiapkan kedatangan Tuhan ke dunia. Oleh karena itu, Ibu berada di jantung waktu: Tuhan berkenan membuat sejarah berputar melalui dirinya, sang perempuan. Dengan kata ini, Kitab Suci merujuk kita pada asal usul, pada Kejadian, dan menyarankan bahwa Ibu dengan Anak menandai ciptaan baru, permulaan baru. Oleh karena itu, pada awal masa keselamatan ada Bunda Allah yang kudus, Bunda Suci kita.

 

Kata-kata Rasul Paulus menerangi permulaan tahun baru ini: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Ungkapan ”genap waktunya” sungguh mengejutkan. Pada zaman dulu, waktu diukur dengan menggunakan jambanganair; berlalunya waktu ditandai dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi jambangan kosong. Oleh karena itu makna ungkapan “genap waktunya” : begitu jambangan sejarah terisi, rahmat ilahi pun melimpah. Allah menjadi manusia dan Ia melakukannya melalui seorang perempuan, Maria. Maria adalah sarana yang dipilih Allah, puncak dari garis panjang individu dan generasi tersebut yang “setetes demi setetes” bersiap menyambut kedatangan Tuhan ke dalam dunia. Maka, Bunda Maria berdiri di tengah-tengah misteri waktu. Allah berkenan untuk membalikkan sejarah melalui dia, perempuan itu. Dengan satu kata, “perempuan”, Kitab Suci membawa kita kembali ke permulaan, ke Kitab Kejadian, dan menyadarkan kita bahwa ibu dan anak menandai ciptaan baru, permulaan baru. Jadi, pada awal masa keselamatan, ada Bunda Allah yang kudus, Bunda kita yang kudus.

 

Oleh karena itu, sudah sepantasnya tahun dibuka dengan memohon kepadanya; Sudah sepantasnya umat Allah yang setia memujinya dengan sukacita, sebagaimana pernah dilakukan oleh umat kristiani yang pemberani di Efesus, sebagai Bunda Allah yang kudus. Karena kata-kata ini, Bunda Allah, mengungkapkan kepastian penuh sukacita bahwa Tuhan, seorang Anak mungil dalam gendongan ibu-Nya, telah mempersatukan diri-Nya selamanya dengan kemanusiaan kita, hingga titik di mana kemanusiaan bukan lagi milik kita saja, melainkan milik-Nya juga. Bunda Allah: sebuah ungkapan sederhana yang mengakui perjanjian kekal Tuhan dengan kita. Bunda Allah: sebuah dogma iman, tetapi juga sebuah “dogma harapan”; Allah di dalam manusia, dan manusia di dalam Allah, selamanya. Bunda Allah yang kudus.

 

Setelah genap waktunya, Bapa mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan. Namun Santo Paulus juga berbicara tentang pengutusan kedua : “Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:6). Dalam pengutusan Roh Kudus, Bunda Maria juga memainkan peran sentral : Roh Kudus akan turun atasnya pada saat Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:35); kemudian, pada saat kelahiran Gereja, Ia turun atas para rasul yang berkumpul dalam doa “bersama Maria, ibu Yesus” (Kis 1:14). Penerimaan Maria terhadap karya Roh Kudus memberikan kepada kita karunia terbesar: ia “memungkinkan Tuhan Yang Maha Mulia menjadi saudara kita” (Thomas dari Celano, Vita secunda, CL, 198: FF 786), sehingga Roh Kudus dapat berseru dalam hati kita: “Ya Abba, ya Bapa!” Keibuan Maria adalah jalan yang menuntun kita menuju kelembutan kebapaan Allah, jalan yang paling dekat, langsung dan termudah. Inilah “gaya” Allah: kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Sesungguhnya Bunda Maria menuntun kita kepada permulaan dan pokok iman, yang bukan sekadar teori atau tugas, melainkan karunia tak terbatas yang menjadikan kita putra dan putri terkasih, tabernakel kasih Bapa. Oleh karena itu, menyambut Bunda Maria ke dalam hidup kita bukanlah soal devosi melainkan syarat iman: “Jika kita ingin menjadi umat Kristiani, kita harus menjadi 'pengikut Maria'” (Santo Paulus VI, Homili di Cagliari, 24 April 1970), yaitu “anak-anak Maria”.

 

Gereja membutuhkan Maria untuk memulihkan wajah perempuannya, semakin sepenuhnya menyerupai perempuan, perawan dan ibu, yang menjadi teladan dan gambaran sempurnanya (bdk. Lumen Gentium, 63), memberi ruang bagi perempuan dan menjadi “generatif” melalui pelayanan pastoral yang ditandai dengan keprihatinan dan kepedulian, kesabaran dan keberanian keibuan. Dunia juga perlu bergantung pada para ibu dan perempuan untuk menemukan kedamaian, keluar dari jalinan kekerasan dan kebencian, serta sekali lagi melihat segala sesuatunya dengan mata dan hati manusiawi. Setiap masyarakat perlu menerima karunia yang dimiliki oleh perempuan, setiap perempuan: menghormati, membela dan menghargai perempuan, dengan kesadaran bahwa siapapun yang menyakiti seorang perempuan yang belum bersuami, berarti mencemarkan nama Allah, yang “lahir dari seorang perempuan”.

 

Sama seperti Maria yang memainkan peran menentukan dalam kegenapan waktu, perempuan juga menentukan kehidupan kita masing-masing, karena tidak ada seorang pun yang mengenal dengan lebih baik daripada seorang ibu mengenal tahap-tahap pertumbuhan dan kebutuhan mendesak anak-anaknya. Maria menunjukkan kepada kita hal ini dalam “permulaan” yang lain: tanda pertama yang dilakukan Yesus, pada pesta perkawinan di Kana. Di sana, dialah yang menyadari bahwa anggur telah habis, dan memohon kepada Yesus (bdk. Yoh 2:3). Kebutuhan anak-anaknya menggerakkan Maria, sang ibu, untuk memohon agar Yesus turun tangan. Di Kana, Yesus berkata, “'Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air'. Mereka pun mengisinya sampai penuh” (Yoh. 2:7). Maria mengetahui kebutuhan kita; ia berdoa agar rahmat melimpah dalam kehidupan kita dan membimbing mereka menuju penggenapan sejati. Saudara-saudara, kita semua mempunyai kekurangan, masa-masa kesepian, kekosongan batin yang menuntut untuk diisi. Kita masing-masing mengetahui hal ini dengan baik. Siapa yang dapat mengisi kekosongan kita kalau bukan Maria, Bunda penggenapan? Kapan pun kita tergoda untuk menarik diri, marilah kita berlari ke arahnya; kapanpun kita tidak mampu lagi melepaskan ikatan dalam hidup kita, marilah kita berlindung padanya. Saat ini, yang kehilangan kedamaian, membutuhkan seorang ibu yang dapat mempersatukan kembali keluarga umat manusia. Marilah kita memandang Maria, untuk menjadi seniman persatuan. Marilah kita melakukan hal ini dengan kreativitas dan kepedulian keibuannya terhadap anak-anaknya. Karena ia mempersatukan dan menghibur mereka; ia mendengarkan kesusahan dan mengeringkan air mata mereka. Dan marilah kita melihat ikon lembut Madonna [dari Biara Montevergine]. Begitulah sikap ibu kita: betapa lembutnya dia menjaga dan mendekatkan kita. Ia peduli pada kita dan tetap dekat dengan kita.

 

Marilah kita mempercayakan tahun yang datang ini kepada Bunda Allah. Marilah kita mempersembahkan hidup kita kepadanya. Dengan cinta yang lembut, ia akan membuka mata kita terhadap kegenapan. Sebab ia akan menuntun kita kepada Yesus, yang adalah “kegenapan waktu”, kegenapan setiap waktu, kegenapan waktu kita, kegenapan setiap kita. Memang benar, sebagaimana pernah ditulis : “Bukan kegenapan waktu yang menyebabkan diutusnya Putra Allah, tetapi diutusnya Putra yang menghasilkan kegenapan waktu” (bdk. Martin Luther, Vorlesung über den Galaterbrief 1516-1517, 18). Saudara-saudari, semoga tahun ini dipenuhi dengan penghiburan Tuhan! Semoga tahun ini dipenuhi dengan kelembutan cinta keibuan Maria, Bunda Allah yang kudus.

 

Sekarang saya mengajak kita semua bersama-sama untuk menyerukan tiga kali : Bunda Allah yang kudus! Bunda Allah yang kudus! Bunda Allah yang kudus!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM NATAL 24 Desember 2023 : MEMAKNAI CACAH JIWA

Bacaan Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.

 

“Cacah jiwa semua orang di seluruh dunia” (bdk. Luk 2:1). Inilah konteks kelahiran Yesus, dan Bacaan Injil menegaskan hal ini. Cacah jiwa mungkin disebutkan secara sepintas, namun justru dicatat dengan cermat. Dan dengan cara ini, muncul perbedaan yang sangat besar. Ketika kaisar menghitung jumlah penduduk dunia, Allah memasuki dunia secara sembunyi-sembunyi. Sementara mereka yang menjalankan kekuasaan berusaha untuk mengambil tempat mereka di antara orang-orang besar dalam sejarah, Raja sejarah memilih jalan kekecilan. Tak seorang pun dari kalangan berkuasa memperhatikan-Nya: hanya sejumlah kecil gembala, yang terpinggirkan dalam kehidupan sosial.

 

Cacah jiwa menunjukkan sesuatu yang lain. Dalam Kitab Suci, pelaksanaan cacah jiwa berakibat buruk. Raja Daud, yang tergoda oleh jumlah penduduk yang besar dan perasaan tidak mampu mencukupi dirinya sendiri, melakukan dosa besar dengan memerintahkan dilakukannya pendaftaran semua orang. Ia ingin tahu seberapa kuat dirinya. Setelah sekitar sembilan bulan, ia mengetahui berapa banyak orang yang dapat menggunakan pedang (bdk. 2 Sam 24:1-9). Tuhan murka dan rakyat menderita. Tetapi pada malam ini, Yesus, “Putra Daud”, setelah sembilan bulan di dalam rahim Maria, lahir di Betlehem, kota Daud. Ia tidak memberikan hukuman terhadap Cacah jiwa tersebut, tetapi dengan rendah hati membiarkan diri-Nya didaftarkan sebagai salah seorang dari sekian banyak orang. Di sini kita melihat, bukan allah yang murka dan penghajar, melainkan Allah belas kasihan, yang mengambil rupa manusia dan memasuki dunia dalam kelemahan, yang dimaklumatkan : “damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14). Malam ini, hati kita berada di Betlehem, tempat Sang Raja Damai sekali lagi ditolak oleh nalar perang yang sia-sia, oleh bentrokan senjata yang bahkan hingga saat ini menghalangi-Nya untuk menemukan ruang di dunia (bdk. Luk 2:7).

 

Singkatnya, cacah jiwa di seluruh dunia mengejawantahkan benang merah yang sangat manusiawi sepanjang sejarah: pencarian kekuasaan dan keperkasaan duniawi, ketenaran dan kemuliaan, yang mengukur segala sesuatu berdasarkan keberhasilan, hasil, jumlah dan angka, dunia yang terobsesi dengan prestasi. Tetapi cacah jiwa juga mengejawantahkan cara Yesus, yang datang mencari kita melalui kedagingan. Ia bukan allah pencapaian, tetapi Allah penjelmaan. Ia tidak menyingkirkan ketidakadilan dari atas dengan menunjukkan kekuasaan, tetapi dari bawah, dengan menunjukkan kasih. Ia tidak muncul dengan kekuasaan yang tak terbatas, tetapi turun ke perbatasan-perbatasan sempit kehidupan kita. Ia tidak menghindari kelemahan kita, tetapi menjadikan kelemahan itu kelemahan-Nya.

 

Saudara-saudari, malam ini kita mungkin bertanya pada diri kita sendiri: Allah manakah yang kita percayai? Allah penjelmaan atau allah pencapaian? Karena selalu ada risiko kita merayakan Natal sambil memikirkan Allah dalam istilah kafir, sebagai penguasa yang berkuasa di angkasa; allah yang dikaitkan dengan kekuasaan, keberhasilan duniawi, dan penyembahan berhala konsumerisme. Dengan gambaran palsu tentang tuhan yang jauh dan pemurka yang memperlakukan orang baik dengan baik dan orang jahat dengan buruk; tuhan yang diciptakan menurut gambar dan rupa kita, berguna untuk menyelesaikan masalah kita dan menyingkirkan penyakit kita. Sebaliknya, Allah tidak menggunakan tongkat ajaib; Ia bukan allah perdagangan yang menjanjikan “semuanya sekaligus”. Ia tidak menyelamatkan kita dengan menekan sebuah tombol, tetapi mendekatkan kita, mengubah dunia kita dari hati. Tetapi betapa tertanam kuatnya gagasan duniawi tentang sosok tuhan yang jauh, menguasai, tak tergoyahkan, dan berkuasa yang membantu diri-Nya untuk mengatasi sosok lainnya! Seringkali gambaran ini tertanam dalam diri kita. Tetapi bukan itu masalahnya : Allah kita dilahirkan untuk semua orang, pada saat cacah jiwa di seluruh dunia.

 

Maka, marilah kita memandang kepada “Allah yang hidup dan benar” (1 Tes. 1:9). Allah yang melampaui segala perhitungan manusiawi tetapi membiarkan diri-Nya dihitung berdasarkan perhitungan kita. Allah yang merevolusi sejarah dengan menjadi bagian dari sejarah. Allah yang begitu menghormati kita sehingga membiarkan kita menolak-Nya; yang menghapus dosa dengan menanggungnya di atas diri-Nya; yang tidak menyingkirkan penderitaan tetapi mengubah rupanya; yang tidak menyingkirkan permasalahan dalam hidup kita tetapi memberikan pengharapan yang lebih besar dari segala permasalahan kita. Allah sangat ingin merangkul hidup kita sehingga, meskipun Ia tidak terbatas, Ia menjadi terbatas demi kita. Dalam kebesaran-Nya, ia memilih menjadi kecil; dalam kebenaran-Nya, Ia tunduk pada ketidakadilan kita. Saudara-saudari, inilah keheranan Natal: bukan campuran emosi yang tidak menyenangkan dan kepuasan duniawi, tetapi kelembutan sesosok Allah yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menyelamatkan dunia dengan menjelma. Marilah kita merenungkan Sang Anak, marilah kita merenungkan palungan, tempat tidur-Nya, yang oleh para malaikat disebut “tanda” bagi kita (bdk. Luk 2:12). Sebab sesungguhnya itulah tanda yang menampakkan wajah Allah, wajah kasih sayang dan belas kasihan, yang keperkasaan-Nya selalu ditunjukkan dan hanya dalam kasih. Ia menjadikan diri-Nya dekat, lembut, dan penuh kasih sayang. Inilah cara Allah: kedekatan, kasih sayang, kelembutan.

 

Saudara-saudari, marilah kita heran akan fakta bahwa Ia “telah menjadi manusia” (Yoh. 1:14). Manusia: kata itu sendiri membangkitkan kelemahan manusiawi kita. Bacaan Injil menggunakan kata ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Allah sepenuhnya mengambil alih kondisi kemanusiaan kita. Mengapa Ia bertindak sejauh itu? Karena Ia peduli pada kita, karena Ia mengasihi kita sampai-sampai Ia menganggap kita lebih berharga dari siapa pun. Saudara terkasih, saudari terkasih, bagi Allah, yang mengubah sejarah melalui cacah jiwa, kamu bukan sebuah angka, tetapi sebuah wajah. Namamu tertulis dalam hati-Nya. Tetapi jika kamu melihat ke dalam hatimu, dan memikirkan kekuranganmui dan dunia yang begitu menghakimi dan tidak mengampuni ini, kamu mungkin merasa sulit untuk merayakan Natal ini. Kamu mungkin berpikir segalanya berjalan buruk, atau merasa tidak puas dengan keterbatasan, kegagalan, masalah, dan dosa-dosamu. Tetapi hari ini, perkenankanlah Yesus mengambil prakarsa. Ia berkata kepadamu, “Demi engkau, Aku telah menjadi manusia; demi engkau, aku menjadi seperti engkau”. Jadi mengapa tetap terjebak dalam masalahmu? Seperti para gembala, yang meninggalkan kawanan dombanya, tinggalkanlah penjara kesedihanmu dan rangkullah kasih lembut Allah yang menjadi seorang anak. Singkirkan topeng dan baju besimu; serahkanlah kekhawatiranmu kepada-Nya dan Ia akan memeliharamu (bdk. Mzm 55:23). Ia menjadi manusia; Ia tidak mencari pencapaianmu tetapi hatimu yang terbuka dan percaya. Di dalam Dia, kamu akan menemukan kembali siapa dirimu yang sebenarnya: putra atau putri Allah yang terkasih. Sekarang kamu dapat mempercayainya, karena malam ini Tuhan telah lahir untuk menerangi hidupmu; mata-Nya bersinar dengan kasihi demi kamu. Kita sulit mempercayai hal ini, bahwa mata Allah bersinar dengan kasihi demi kita.

 

Kristus tidak melihat angka, tetapi wajah. Tetapi, siapa yang memandang-Nya di tengah banyaknya gangguan dan hiruk pikuk dunia yang sibuk dan acuh tak acuh? Siapa yang sedang mengamati? Di Betlehem, ketika orang banyak terjebak dalam kegairahan cacah jiwa, datang dan pergi, memenuhi penginapan, dan terlibat dalam percakapan kecil, ada beberapa orang yang dekat dengan Yesus: Maria dan Yusuf, para gembala, dan kemudian para Majus.

 

Marilah kita belajar dari mereka. Mereka berdiri menatap Yesus, dengan hati tertuju kepada-Nya. Mereka tidak berbicara, mereka menyembah. Malam ini, saudara-saudari, adalah saat adorasi, saat penyembahan.

 

Penyembahan adalah cara untuk merangkul penjelmaan. Sebab dalam keheningan itulah Yesus, Sabda Bapa, menjadi manusia dalam hidup kita. Marilah kita lakukan seperti yang mereka lakukan di Betlehem, sebuah kota yang namanya berarti “Rumah Roti”. Marilah kita berdiri di hadapan Dia yang adalah Roti Hidup. Marilah kita menemukan kembali penyembahan, karena penyembahan bukan menyia-nyiakan waktu, tetapi menjadikan waktu kita sebagai tempat bersemayamnya Allah. Menemukan kembali penyembahan berarti membiarkan benih penjelmaan berkembang di dalam diri kita; bahkan bekerja sama dalam pekerjaan Tuhan, yang bagaikan ragi, mengubah dunia. Menyembah berarti menjadi pengantara, melakukan perbaikan, memperkenankan Allah menyelaraskan kembali sejarah. Seperti pernah ditulis oleh seorang penutur kisah-kisah epik yang hebat kepada putranya, “Aku persembahkan kepadamu satu hal besar yang patut dicintai di dunia : Sakramen Mahakudus… Di sana kamu akan menemukan percintaan, kemuliaan, kehormatan, kesetiaan, dan jalan sejati segenap kasihmu di dunia” (J.R.R. TOLKIEN, Surat 43, Maret 1941).

 

Saudara-saudari, malam ini kasih mengubah sejarah. Tuhan, jadikanlah diri kami percaya pada kekuatan kasih-Mu, yang sangat berbeda dengan kekuatan dunia. Tuhan, jadikanlah kami, seperti Maria, Yusuf, para gembala, dan para Majus, berkumpul di sekitar-Mu dan menyembah-Mu. Karena Engkau telah menyelaraskan diri kami dengan diri-Mu, kami akan menjadi saksi di hadapan dunia tentang keindahan raut wajah-Mu.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXXIII (HARI ORANG MISKIN SEDUNIA VII) 19 November 2023 : PERJALANAN YESUS DAN PERJALANAN HIDUP KITA

Bacaan Ekaristi : Ams. 31:10-13,19-20,30-31; Mzm. 128:1-2,3,4-5; 1Tes. 5:1-6; Mat. 25:14-30.


Tiga orang mendapati diri mereka diberi sejumlah besar uang, berkat kemurahan hati majikan mereka, yang akan bepergian melakukan perjalanan jauh. Sang tuan akan kembali suatu hari nanti dan memanggil para hambanya itu, percaya bahwa ia akan bersukacita bersama mereka atas upaya mereka telah melipatgandakan hartanya dan menghasilkan buah. Perumpamaan yang baru saja kita dengarkan (bdk. Mat 25:14-30) mengajak kita untuk merenungkan dua perjalanan : perjalanan Yesus dan perjalanan hidup kita.

 

Perjalanan Yesus. Pada awal perumpamaan ini, Tuhan berbicara tentang “seorang yang mau bepergian. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka” (ayat 14). “Perjalanan” ini mengingatkan kita pada perjalanan Kristus sendiri, dalam penjelmaan, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga. Kristus, yang turun dari Bapa untuk tinggal di antara kita, melalui kematian-Nya menghancurkan kematian dan setelah bangkit dari kematian, kembali kepada Bapa. Maka, pada akhir perutusan-Nya di bumi, Yesus melakukan “perjalanan pulang” kepada Bapa. Tetapi sebelum berangkat, Ia meninggalkan kita harta-Nya, sebuah “modal” yang sesungguhnya. Ia meninggalkan kita diri-Nya dalam Ekaristi. Ia meninggalkan kita sabda kehidupan-Nya, Ia memberi kita Bunda-Nya yang kudus untuk menjadi Bunda kita, dan Ia membagikan karunia-karunia Roh Kudus agar kita dapat melanjutkan karya-Nya di bumi. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa “talenta-talenta” ini diberikan “menurut kesanggupan masing-masing” (ayat 15) dan dengan demikian untuk perutusan pribadi yang dipercayakan Tuhan kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam masyarakat dan Gereja. Rasul Paulus mengatakan hal yang sama : “Tetapi, kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya dikatakan, 'Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia'” (Ef. 4:7-8).

 

Marilah kita melihat sekali lagi kepada Yesus, yang menerima segala sesuatu dari tangan Bapa, tetapi tidak menyimpan harta ini untuk diri-Nya sendiri : “Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Fil 2:6-7). Ia mengenakan kemanusiaan kita yang lemah. Sebagai orang Samaria yang baik hati, Ia menuangkan minyak ke atas luka kita. Ia menjadi miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor. 8:9), dan ditinggikan di kayu salib. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita' (2 Kor 5:21). Karena kita. Yesus hidup untuk kita, karena kita. Itulah tujuan perjalanan-Nya di dunia, sebelum kembali kepada Bapa.

 

Perumpamaan hari ini juga memberitahu kita bahwa “lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka” (Mat 25:19). Perjalanan pertama Yesus menuju Bapa akan diikuti oleh perjalanan lainnya, di akhir zaman, ketika Ia akan kembali dalam kemuliaan dan menemui kita sekali lagi, untuk “mengadakan perhitungan” sejarah dan membawa kita ke dalam sukacita kehidupan kekal. Maka kita perlu bertanya pada diri kita sendiri : Dalam keadaan apa Tuhan akan mendapati kita ketika Ia datang kembali? Bagaimana aku akan menghadap-Nya pada waktu yang ditentukan?

 

Pertanyaan ini membawa kita pada permenungan kedua: perjalanan hidup kita. Jalan mana yang akan kita ambil dalam hidup kita: jalan Yesus, yang hidup-Nya sungguh merupakan karunia, atau jalan keegoisan? Jalan dengan tangan terbuka memberi kepada orang lain, memberikan diri kita, atau tangan tertutup agar kita punya lebih banyak harta benda dan hanya peduli pada diri kita sendiri? Perumpamaan tersebut memberitahu kita bahwa, menurut kesanggupan dan kemungkinan, kita masing-masing telah menerima “talenta” tertentu. Agar kita tidak disesatkan oleh istilah umum, kita perlu menyadari bahwa “talenta” itu bukan merupakan kesanggupan kita, melainkan sebagaimana telah kita katakan, karunia Tuhan yang ditinggalkan Kristus kepada kita ketika Ia kembali kepada Bapa. Bersama dengan karunia tersebut, Ia telah memberikan kepada kita Roh-Nya, yang di dalamnya kita menjadi anak-anak Allah dan berkat Roh itulah kita dapat menghabiskan hidup kita dengan memberikan kesaksian tentang Injil dan bekerja demi kedatangan kerajaan Allah. “Modal” yang sangat besar yang kita simpan adalah kasih Tuhan, landasan hidup dan sumber kekuatan kita dalam perjalanan kita.

 

Akibatnya, kita harus bertanya pada diri kita : Apa yang kulakukan dengan “talenta” ini dalam perjalanan hidupku? Perumpamaan tersebut menceritakan kepada kita bahwa dua hamba yang pertama melipatgandakan nilai pemberian yang telah mereka terima, sedangkan hamba yang ketiga, bukannya mempercayai tuannya yang telah memberinya talenta, malahan menjadi takut, dilumpuhkan oleh rasa takut. Menolak mengambil risiko, tidak mempertaruhkan diri, ia akhirnya mengubur talentanya. Hal ini juga berlaku bagi kita. Kita bisa melipatgandakan harta yang telah diberikan kepada kita, dan menjadikan hidup kita sebagai persembahan kasih demi sesama. Atau kita bisa menjalani kehidupan kita yang dihalangi oleh gambaran palsu tentang Allah, dan karena takut mengubur harta yang kita terima, hanya memikirkan diri kita, tidak peduli pada apa pun kecuali kenyamanan dan kepentingan kita, tetap tidak berkomitmen dan tidak terlibat. Pertanyaannya sangat jelas: dua hamba pertama mengambil risiko melalui transaksi mereka. Dan pertanyaan yang harus kita ajukan adalah : “Apakah aku mengambil risiko dalam hidupku? Apakah aku mengambil risiko melalui kekuatan imanku? Sebagai seorang kristiani, apakah aku tahu cara mengambil risiko atau apakah aku menutup diri karena takut atau pengecut?


Saudara-saudari, pada Hari Orang Miskin Sedunia ini perumpamaan tentang talenta merupakan sebuah panggilan untuk menelaah semangat kita dalam menghadapi perjalanan hidup kita. Kita telah menerima dari Tuhan karunia kasih-Nya dan kita dipanggil untuk menjadi karunia bagi orang lain. Kasih Yesus yang merawat kita, balsem belas kasihan-Nya, kasih sayang-Nya yang merawat luka-luka kita, nyala Roh yang memenuhi hati kita dengan sukacita dan harapan – semua ini adalah harta yang tidak bisa kita simpan begitu saja untuk diri kita, digunakan untuk tujuan kita sendiri atau dikubur di bawah tanah. Dicurahi dengan karunia, pada gilirannya kita dipanggil untuk menjadikan diri kita karunia. Kita yang sudah menerima banyak karunia harus menjadikan diri kita sebagai karunia bagi orang lain. Gambaran yang digunakan dalam perumpamaan ini sangat jelas: jika kita tidak menyebarkan kasih ke sekeliling kita, hidup kita akan tenggelam dalam kegelapan; jika kita tidak memanfaatkan talenta yang kita terima dengan baik, hidup kita akan terkubur di dalam tanah, seolah-olah kita sudah mati (bdk. ayat 25.30). Saudara-saudara, begitu banyak umat kristiani yang “terkubur di bawah tanah”! Banyak umat kristiani yang menghayati iman mereka seolah-olah mereka hidup di bawah tanah!

 

Maka marilah kita berpikir tentang semua bentuk kemiskinan material, budaya dan spiritual yang ada di dunia kita, tentang penderitaan besar yang terjadi di kota-kota kita, tentang orang-orang miskin yang terlupakan yang jeritan penderitaannya tidak terdengar dalam ketidakpedulian pada umumnya dari masyarakat yang sibuk dan terbagi-bagi perhatiannya. Ketika kita berpikir tentang kemiskinan, kita tidak boleh melupakan keleluasaannya: kemiskinan bersifat tersendiri; kemiskinan menyembunyikan dirinya. Kita harus berani pergi dan mencarinya. Marilah kita memikirkan mereka yang tertindas, letih atau terpinggirkan, para korban perang dan mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka dengan mempertaruhkan nyawa, mereka yang kelaparan dan mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan tanpa harapan. Begitu banyak kemiskinan setiap hari: bukan hanya satu, dua, atau tiga, melainkan banyak sekali. Jumlah penduduk miskin sangat banyak. Ketika kita memikirkan betapa banyaknya orang miskin di tengah-tengah kita, pesan Bacaan Injil hari ini jelas: janganlah kita menguburkan harta Tuhan! Marilah kita menebarkan harta amal kasih, berbagi roti dan memperbanyak kasih kita! Kemiskinan adalah sebuah skandal. Ketika Tuhan datang kembali, Ia akan melakukan perhitungan dengan kita dan – seperti kata-kata Santo Ambrosius – Ia akan berkata kepada kita: “Mengapa kamu membiarkan begitu banyak orang miskin mati kelaparan padahal kamu memiliki emas untuk membeli makanan bagi mereka? Mengapa begitu banyak budak yang dijual dan dianiaya oleh musuh, tanpa ada yang berusaha menebusnya?” (De Officiis: PL 16, 148-149).

 

Marilah kita berdoa agar kita masing-masing, sesuai dengan karunia yang kita terima dan perutusan yang dipercayakan kepada kita, dapat berusaha “membuat amal kasih membuahkan hasil” dan mendekatkan diri kepada orang miskin. Marilah kita berdoa agar di akhir perjalanan kita, setelah menyambut Kristus dalam diri saudara-saudari kita yang dengan mereka Ia menyatakan diri-Nya (bdk. Mat 25:40), kita juga dapat mendengarnya dikatakan kepada kita: “Bagus, hai hambaku yang baik dan setia ... Masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 20 November 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN DI PEMAKAMAN PERANG, ROMA, 2 November 2023 : KENANGAN DAN HARAPAN

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2,5-6,7ab,8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

Perayaan seperti hari ini membawa kita kepada dua pemikiran : kenangan dan harapan.

 

Kenangan akan orang-orang yang telah mendahului kita, yang menghabiskan kehidupan mereka, yang telah mengakhiri kehidupan ini; kenangan akan begitu banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita : di dalam keluarga, di antara teman-teman ... Dan juga kenangan akan orang-orang yang tidak berbuat banyak kebaikan, tetapi diterima dalam kenangan Allah, dalam kemurahan Allah. Sebuah misteri kemurahan Tuhan yang besar.

 

Dan kemudian, harapan. Hari ini adalah kenangan untuk melihat ke depan, untuk melihat jalan kita, jalur kita. Kita sedang berjalan menuju perjumpaan dengan Tuhan dan dengan semua orang. Dan kita harus memohonkan kepada Tuhan rahmat harapan ini : harapan yang tidak pernah menipu; harapan itulah keutamaan sehari-hari yang menuntun kita maju, yang membantu kita menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluar. Tetapi selalu maju, maju. Harapan yang berbuah itu, harapan teologis setiap hari, setiap saat itu : saya akan menyebutnya sebagai keutamaan teologis “dapur,” karena keutamaan tersebut ada di tangan dan selalu membantu kita. Harapan yang tidak menipu : kita hidup dalam ketegangan antara kenangan dan harapan.

 

Saya ingin berhenti sejenak pada sesuatu yang terjadi pada saya di pintu masuk. Saya melihat usia para prajurit yang gugur ini. Kebanyakan berusia antara 20 dan 30 tahun. Kehidupan yang terpenggal, kehidupan tanpa masa depan. Dan saya memikirkan para ayah, para ibu yang menerima surat itu: “Nyonya, saya mendapat kehormatan untuk memberitahumu bahwa kamu memiliki seorang putra yang menjadi pahlawan”. “Ya, pahlawan, tetapi mereka telah mengambilnya dariku!” Berapa banyak air mata dalam kehidupan yang terpenggal itu. Dan saya tidak dapat menghindari memikirkan peperangan yang terjadi saat ini. Hal yang sama terjadi saat ini: begitu banyak kaum muda, dan kaum yang tidak terlalu muda. Dalam peperangan di dunia, termasuk peperangan yang paling dekat dengan kita, di Eropa dan sekitarnya: berapa banyak yang tewas! Hidup dihancurkan tanpa disadari.

 

Hari ini, dengan memikirkan orang yang meninggal, memelihara kenangan terhadap orang yang meninggal dan memelihara harapan, kita memohon perdamaian kepada Tuhan, agar manusia tidak lagi saling membunuh dalam peperangan. Begitu banyak orang tak berdosa yang tewas, begitu banyak tentara yang kehilangan nyawa. Tetapi ini, mengapa? Peperangan selalu merupakan kekalahan, selalu. Tidak ada kemenangan sepenuhnya, tidak. Ya, yang satu mengalahkan yang lain, tetapi dibalik itu selalu ada kekalahan dengan harga yang harus dibayar. Marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk orang mati kita, untuk semua orang. Semoga Tuhan menerima semuanya. Dan marilah kita juga berdoa agar Tuhan mengasihani kita dan memberi kita harapan : harapan untuk maju dan agar kita semua menyertai Dia ketika Dia memanggil kita. Semoga.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 November 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN ARWAH PAUS BENEDIKTUS XVI SERTA PARA KARDINAL DAN PARA USKUP YANG MENINGGAL DALAM SETAHUN TERAKHIR 3 November 2023 : BELAS KASIHAN DAN KERENDAHAN HATI

Bacaan Ekaristi : Ayb 19:1,23-27a; Rm 5:17-21; Luk 7:11-17.

 

Yesus akan memasuki kota Nain; para murid dan “orang banyak yang berbondong-bondong" pergi bersama Dia (bdk. Luk 7:11). Saat Ia mendekati pintu gerbang kota, arak-arakan lain sedang dilakukan, tetapi dengan arah berlawanan : arak-arakan tersebut akan menguburkan anak tunggal seorang ibu yang sudah menjanda. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa, “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13). Yesus melihat apa yang terjadi dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Benediktus XVI, yang kita peringati hari ini, bersama dengan para kardinal dan para uskup yang meninggal dalam setahun terakhir, menulis dalam dnsiklik pertamanya bahwa program Yesus adalah “hati yang melihat” (Deus Caritas Est, 31). Berapa kali beliau mengingatkan kita iman pada dasarnya bukanlah sebuah gagasan yang harus dipahami atau sebuah aturan moral yang harus diikuti, tetapi sesosok pribadi yang harus dijumpai. Pribadi tersebut adalah Yesus Kristus, yang hati-Nya berdebar karena mengasihi kita, yang mata-Nya memandang iba penderitaan kita.

 

Tuhan berhenti di hadapan tragedi kematian. Penting untuk dicatat bahwa inilah pertama kalinya Injil Lukas menyebut Yesus “Tuhan” : “tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan”. Ia disebut Tuhan – Allah yang menjalankan kekuasaan atas segala sesuatu – karena Ia menunjukkan belas kasihan kepada seorang ibu yang menjanda yang kehilangan, bersamaan dengan putra tunggalnya, alasan untuk hidup. Di sini kita melihat Allah kita, yang keilahiannya bersinar saat kita merasakan duka dan duka, karena hati-Nya penuh belas kasihan. Kebangkitan pemuda itu, karunia kehidupan yang mengalahkan kematian, bersumber tepat di sana, dalam belas kasihan Tuhan, yang tergerak oleh kematian, penyebab terbesar penderitaan kita. Betapa pentingnya menyampaikan juga rasa belas kasih kepada semua orang yang berduka atas kematian orang-orang yang mereka cintai!

 

Belas kasihan Yesus nyata. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa “sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya” (bdk. Luk 7:14). Ia tidak perlu melakukan hal itu, dan bagaimanapun juga, pada masa itu, menyentuh jenazah orang yang sudah meninggal dianggap najis, menajiskan orang yang melakukannya. Tetapi Yesus tidak peduli akan hal itu; belas kasihan-Nya membuat-Nya menjangkau semua orang yang menderita. Itulah “gaya” Allah, "gaya" kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Dan satu dari sedikit kata. Kristus tidak mulai berkhotbah tentang kematian, tetapi sekadar memberitahu ibu pemuda tersebut : “Jangan menangis!” (Luk 7:13). Mengapa? Apakah menangis itu salah? Tidak, Yesus sendiri menangis dalam keempat Injil. Ia berkata kepada ibunya, “Jangan menangis”, karena bersama Tuhan air mata tidak bertahan selamanya; air mata memiliki kesudahan. Yesus adalah Allah yang, seperti dinubuatkan Kitab Suci, akan “menelan maut” dan “menghapuskan air mata dari semua muka” (Yes 25:8; bdk. Why 21:4). Ia telah menghapuskan air mata kita dengan menjadikan air mata-Nya.

 

Di sini, kita melihat belas kasihan Tuhan, yang menuntun-Nya untuk membangkitkan anak laki-laki itu. Tetapi di sini, tidak seperti mukjizat lain yang dilakukan-Nya, Yesus tidak terlebih dahulu meminta sang ibu untuk beriman. Mengapa mukjizat yang luar biasa dan tidak biasa ini terjadi? Karena mukjizat tersebut ada hubungannya dengan anak yatim dan janda, mereka yang menurut Kitab Suci, dan juga orang asing, dianggap paling kesepian dan terlantar, tidak punya siapa pun yang bisa dipercaya selain Allah. Janda, anak yatim, orang asing : inilah orang-orang yang paling dekat dan berkenan kepada Allah. Kita tidak bisa dekat dan berkenan kepada Allah jika kita mengabaikan mereka yang menikmati perlindungan dan kasih-Nya yang istimewa, karena suatu hari nanti merekalah yang akan menyambut kita di surga : janda, anak yatim, orang asing.

 

Dengan juga mempertimbangkan hal-hal tersebut, kita menemukan poin penting lainnya, yang akan saya rangkum menjadi kata kedua hari ini : kerendahan hati. Sebab anak yatim dan janda adalah orang-orang yang “rendah hati” yang paling unggul : mereka yang meletakkan seluruh pengharapan mereka pada Tuhan dan bukan pada diri mereka, telah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan mereka. Mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi Dia dan perhatian-Nya yang tiada henti. Dengan menolak segala anggapan bahwa mereka bisa mencukupi diri sendiri, mereka menyadari membutuhkan Allah dan meletakkan kepercayaan mereka kepada-Nya. Orang-orang yang rendah hati, yang miskin di hadapan Allah, yang mengungkapkan kepada kita “kekecilan” yang sangat berkenan kepada Tuhan, jalan yang menuntun ke surga. Allah mencari orang-orang yang rendah hati, yaitu orang-orang yang berharap kepada-Nya serta bukan pada diri dan rencana mereka. Saudara-saudari terkasih, inilah kerendahan hati Kristiani, yang bukan sekadar keutamaan di antara keutamaan-keutamaan lain, tetapi sifat dasar kehidupan : meyakini diri kita membutuhkan Allah, memberikan ruang bagi-Nya dan meletakkan segenap kepercayaan kita pada-Nya. Inilah kerendahan hati Kristiani.

 

Allah berkenan terhadap kerendahan hati karena kerendahan hati memungkinkan-Nya berinteraksi dengan kita. Terlebih lagi, Allah berkenan terhadap kerendahan hati karena Ia sendiri rendah hati. Ia datang kepada kita; Ia merendahkan diri-Nya; Ia tidak memaksakan diri-Nya; Ia memberi ruang kepada kita. Allah tidak hanya rendah hati; Ia adalah kerendahan hati itu sendiri. “Tuhan, Engkaulah kerendahan hati” adalah doa Santo Fransiskus dari Asisi (bdk. Lodi: FF 261). Kita berpikir tentang Bapa, yang nama-Nya sepenuhnya mengacu pada Putra, bukan pada diri-Nya sendiri, dan tentang Putra, yang nama-Nya sepenuhnya berhubungan dengan Bapa. Allah mengasihi mereka yang tidak menempatkan diri mereka sebagai pusat: orang yang rendah hati, yang paling mirip dengan-Nya. Itulah sebabnya, sebagaimana dikatakan Yesus, “Sebab siapa yang meninggikan diri, akan direndahkan” (Luk 14:11). Saya ingin mengingat kata-kata pertama yang diucapkan Paus Benediktus tentang dirinya setelah beliau terpilih : “seorang pekerja yang rendah hati di kebun anggur Tuhan”. Memang benar, umat Kristiani, khususnya Paus, para kardinal dan para uskup, dipanggil untuk menjadi pekerja yang rendah hati: melayani, bukan dilayani dan mengutamakan hasil kebun anggur Tuhan di atas keuntungan pribadi mereka. Menyerahkan diri kita demi Gereja Yesus sungguh merupakan suatu hal yang baik!

 

Saudara-saudari, marilah kita memohon kepada Allah agar memberi kita tatapan penuh kasih dan kerendahan hati. Semoga kita tidak pernah bosan mengajukan hal ini, karena melalui belas kasihan dan kerendahan hati Tuhan memberikan kepada kita nyawa-Nya, yang mengatasi maut. Marilah kita mendoakan saudara-saudara kita tercinta yang telah meninggal dunia. Hati mereka bersifat pastoral, penuh kasih sayang dan rendah hati, karena Tuhan adalah pusat kehidupan mereka. Di dalam Dia semoga mereka menemukan kedamaian abadi. Semoga mereka bersukacita bersama Maria, yang ditinggikan Tuhan yang melihat kerendahan hatinya (bdk. Luk 1:48).

____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2023)