Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION SIR JOHN GUISE, PORT MORESBY, PAPUA NUGINI 8 September 2024 : JARAK ORANG TULI DAN KEDEKATAN YESUS

Bacaan Ekaristi : Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37.


Kata-kata pertama yang disampaikan Tuhan kepada kita hari ini adalah, “Kuatkan hatimu, janganlah takut!” (Yes 35:4). Dengan cara ini, Nabi Yesaya berbicara kepada semua orang yang telah kehilangan semangat. Ia juga menyemangati umat-Nya dan, bahkan di tengah kesulitan dan penderitaan, mengundang mereka untuk menengadah ke cakrawala harapan dan masa depan di mana Allah akan datang untuk menyelamatkan kita. Karena Tuhan memang akan datang, dan pada waktu itu, “mata orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang tuli akan dibuka” (Yes 35:5).

 

Nubuat ini tergenapi dalam diri Yesus. Dalam kisah Santo Markus, dua hal secara khusus ditekankan: jarak orang tuli dan kedekatan Yesus.

 

Jarak yang ditempuh orang tuli. Kita melihat dia di wilayah geografis yang dalam bahasa masa kini kita sebut sebagai "pinggiran". Wilayah Dekapolis terletak di seberang Sungai Yordan, jauh dari pusat keagamaan Yerusalem. Lebih dari itu, orang tuli ini juga merasakan jarak yang lain: ia jauh dari Allah dan orang lain karena ia tidak dapat berkomunikasi, ia tuli dan karenanya tidak dapat mendengar, dan ia juga bisu sehingga tidak dapat berbicara. Ia terputus dari dunia, terasing, terpenjara oleh kondisi bisu tulinya, sehingga ia tidak dapat menjangkau orang lain atau berkomunikasi dengan mereka.

 

Kita juga dapat menafsirkan situasi orang itu dalam pengertian lain, karena kita juga dapat terputus dari persekutuan dan persahabatan dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita ketika, alih-alih telinga dan lidah kita, hati kita yang tersumbat. Sungguh, ada semacam ketulian dan kebisuan batiniah hati yang terjadi setiap kali kita menutup diri, atau menutup diri dari Allah dan orang lain melalui keegoisan, ketidakpedulian, takut mengambil risiko atau berterus terang, dendam, kebencian, dan daftarnya bisa terus berlanjut. Semua ini menjauhkan kita dari Allah, dari saudara-saudari kita, dari diri kita sendiri dan dari sukacita kehidupan.

 

Saudara-saudari, Allah menanggapi jarak seperti itu dengan cara yang sangat bertolak belakang, dengan kedekatan Yesus. Melalui Putra-Nya, Allah ingin menunjukkan pertama-tama bahwa Ia dekat dan berbela rasa, Ia peduli kepada kita dan mengatasi jarak apa pun. Bahkan, dalam perikop Injil kita melihat Yesus pergi ke daerah-daerah pinggiran, meninggalkan Yudea untuk bertemu dengan orang-orang kafir (bdk. Mrk 7:31).

 

Melalui kedekatan-Nya, Yesus menyembuhkan kebisuan dan ketulian manusia. Sungguh, setiap kali kita merasa jauh, atau kita memilih untuk menjaga jarak dari Allah, dari saudara-saudari kita atau dari mereka yang berbeda dengan kita, kita menutup diri, menghalangi diri kita dari luar. Kita akhirnya hanya berputar di sekitar ego kita, tuli terhadap sabda Allah dan jeritan sesama kita, dan karena itu tidak dapat berbicara kepada Allah atau sesama kita.

 

Dan kamu, saudara-saudari, yang tinggal di negeri yang sangat jauh ini, mungkin kamu membayangkan bahwa kamu terpisah dari Tuhan dan satu sama lain. Ini tidak benar, tidak: Kamu dipersatukan dalam Roh Kudus dan di dalam Tuhan! Dan Tuhan berkata kepadamu masing-masing, "terbukalah"! Yang terpenting adalah membuka diri kita kepada Allah dan saudara-saudari kita, serta membuka diri kita kepada Injil, menjadikannya pedoman kehidupan kita.

 

Hari ini, Tuhan juga berkata kepadamu, “Beranilah, rakyat Papua Nugini, janganlah takut! Bukalah dirimu! Bukalah dirimu terhadap sukacita Injil; bukalah dirimu untuk berjumpa dengan Allah; bukalah dirimu terhadap kasih saudara-saudarimu”. Semoga tidak seorang pun dari kita yang tetap tuli atau gagap terhadap undangan ini. Selain itu, semoga Beato John Mazzuccini menemanimu dalam perjalanan ini, karena di tengah banyak kesulitan dan permusuhan, ia membawa Kristus ke tengah-tengahmu, sehingga tidak seorang pun akan tetap tuli terhadap pesan keselamatan yang penuh sukacita, dan agar semua orang dapat melonggarkan lidah mereka untuk menyanyikan kasih Allah. Semoga hal ini benar-benar terjadi terhadapmu hari ini!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 September 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION UTAMA GELORA BUNG KARNO 5 September 2024 : MENDENGARKAN DAN MENGHIDUPI SABDA

Bacaan Ekaristi : 1Kor 3:18-23; Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6; Luk 5:1-11.

 

Perjumpaan dengan Yesus mengundang kita untuk menghidupi dua sikap mendasar yang memampukan kita menjadi murid-murid-Nya. Sikap pertama adalah mendengarkan sabda, dan sikap kedua adalah menghidupi sabda. Pertama, mendengarkan, karena semua hal berasal dari mendengarkan, dari membuka diri kita kepada-Nya, dari menyambut anugerah yang sangat berharga dari persahabatan dengan-Nya. Lalu, penting untuk menghidupi sabda yang telah kita terima, agar bukan hanya menjadi pendengar yang sia-sia dan menipu diri kita sendiri (bdk. Yak 1:22). Memang, mereka yang hanya mendengarkan dengan telinga berisiko tidak membiarkan benih sabda turun ke dalam hati mereka dan dengan demikian mengubah cara pikir, cara merasa dan cara bertindak mereka, dan ini tidak baik. Sabda yang dianugerahkan, dan yang kita dengar, butuh untuk menjadi kehidupan di dalam diri kita, mengubah rupa diri kita dan menjelma di dalam hidup kita.

 

Bacaan Injil yang baru saja diwartakan membantu kita merenungkan dua sikap penting ini: mendengarkan sabda dan menghidupi sabda.

 

Pertama, mendengarkan sabda. Penginjil bercerita bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada Yesus dan “mengerumuni Dia hendak mendengarkan sabda Allah” (Luk 5:1). Mereka mencari Dia, lapar dan haus akan sabda Tuhan serta mendengarnya bergema dalam sabda Yesus. Adegan ini, kemudian, diulang berkali-kali dalam Injil, memberitahu kita bahwa hati manusia selalu mencari kebenaran yang dapat memenuhi dan memuaskan hasratnya akan kebahagiaan. Kita tidak dapat dipuaskan hanya dengan kata-kata manusia, pemikiran dunia dan penilaian duniawi ini. Kita selalu membutuhkan sebuah terang yang datang dari atas untuk menyinari langkah-langkah kita, air kehidupan yang dapat memuaskan dahaga padang gurun jiwa, sebuah penghiburan yang tidak mengecewakan karena ia berasal dari surga dan bukan dari hal-hal fana dunia ini. Di tengah kekacauan dan kefanaan kata-kata manusia, saudara-saudari, ada kebutuhan akan sabda Allah, satu-satunya pedoman sejati bagi perjalanan kita, yang di tengah begitu banyaknya luka dan kekacauan mampu menuntun kita menuju makna kehidupan sejati.

 

Saudara-saudari, janganlah kita lupa bahwa tugas pertama seorang murid – dan kita semua adalah murid! – bukanlah mengenakan jubah keagamaan yang tampak sempurna, melakukan hal-hal yang luar biasa atau terlibat dalam usaha yang muluk. Bukan, tugas pertama, langkah pertama, sebaliknya, adalah mengetahui bagaimana mendengarkan satu-satunya sabda yang menyelamatkan, yaitu sabda Yesus. Kita dapat melihat hal ini dalam adegan Injil, ketika Sang Guru menaiki perahu Petrus untuk sedikit menjauhkan diri dari pantai dan dengan demikian bisa mewartakan Injil dengan lebih baik kepada orang banyak (bdk. Luk 5:3). Kehidupan iman kita dimulai ketika kita menerima Yesus dengan rendah hati ke dalam perahu kehidupan kita, memberi ruang untuk-Nya, mendengarkan sabda-Nya serta membiarkan diri kita dipertanyakan, ditantang dan diubah oleh sabda-Nya.

 

Pada saat yang sama, saudara-saudari, sabda Tuhan menuntut untuk dijelmakan secara nyata dalam diri kita sehingga kita dipanggil untuk menghidupi sabda. Sekadar mengulang-ulang sabda, tanpa menghidupinya, membuat kita seperti burung beo: ya, kita mengucapkan sabda Tuhan, tetapi tidak memahaminya, tidak menghidupinya. Setelah Yesus selesai berkhotbah kepada orang banyak dari atas perahu, Ia berpaling kepada Petrus dan menantangnya untuk mengambil risiko dengan bertaruh pada sabda ini, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ayat 4). Sabda Tuhan tidak dapat tetap tinggal sebagai gagasan abstrak yang indah atau hanya membangkitkan emosi sesaat. Sabda Tuhan menuntut kita untuk mengubah cara pandang kita dan membiarkan hati kita diubah rupa menjadi gambaran hati Kristus. Sabda Tuhan meminta kita untuk berani menebarkan jala Injil ke lautan dunia, berlari dengan risiko, ya, berlari dengan risiko menghidupi kasih yang telah Ia ajarkan kepada kita dan yang telah Ia hidupi lebih dahulu. Tuhan, dengan kekuatan sabda-Nya yang membara, juga meminta kita, saudara-saudari, untuk berlayar, melepaskan diri dari pantai yang tergenang akibat kebiasaan buruk, ketakutan dan keadaan biasa-biasa saja serta berani untuk menjalani kehidupan baru. Iblis menyukai keadaan biasa-biasa saja, karena keadaan biasa-biasa saja merasuki dan menghancurkan diri kita.

 

Tentu saja, selalu ada rintangan dan alasan untuk mengatakan tidak terhadap panggilan ini. Marilah kita melihat kembali sikap Petrus. Ia telah tiba di pantai setelah malam yang sulit karena ia tidak menangkap apa-apa. Ia marah, lelah, dan kecewa, namun, daripada tinggal dilumpuhkan oleh kehampaan atau terhalang oleh kegagalannya sendiri, ia berkata, “Guru, sepanjang malam kami telah bekerja keras, tetapi tidak menangkap apa-apa. Namun, karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala” (ayat 5). Karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala. Kemudian, sesuatu yang tidak pernah terdengar terjadi, mukjizat sebuah perahu yang terisi penuh ikan hingga hampir tenggelam (bdk. ayat 7).

 

Saudara-saudari, menghadapi berbagai tugas dalam kehidupan sehari-hari, bersama dengan panggilan yang kita semua rasakan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan melangkah maju di jalan perdamaian dan dialog – jalan yang telah lama menjadi kenyataan di Indonesia – kita terkadang merasa tidak mampu. Kita terkadang merasakan beban komitmen dan dedikasi kita yang tidak selalu membuahkan hasil, atau kesalahan-kesalahan kita yang tampaknya menghambat perjalanan yang kita jalani. Kita juga diminta untuk tidak tinggal sebagai tawanan kegagalan kita, yang sangat buruk, karena kegagalan menguasai kita dan kita dapat menjadi tawanan kegagalan. Jangan, janganlah kita tetap menjadi tawanan kegagalan kita. Daripada hanya terpaku pada jala kita yang kosong, maka kita harus memandang Yesus dan percaya kepada-Nya. Jangan lihat jalamu yang kosong, lihatlah Yesus! Ia akan membuatmu berjalan, Ia akan menolongmu, percayalah kepada Yesus! Bahkan ketika kita telah melewati malam kegagalan dan saat kekecewaan ketika kita tidak menangkap apa-apa, kita selalu dapat mengambil risiko untuk melaut dan menebarkan jala lagi. Sekarang marilah kita hening sejenak dan kamu masing-masing merenungkan kegagalanmu. Dan melihat kegagalan ini, marilah kita mengambil risiko, marilah kita melangkah maju dengan keteguhan sabda Allah.

 

Santa Teresa dari Kalkuta, yang peringatannya kita rayakan hari ini, yang tanpa lelah peduli pada orang-orang termiskin serta menjadi penggiat perdamaian dan dialog, pernah berkata, “Ketika kita tidak memiliki apapun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menabur”. Saudara-saudari, jangan pernah lelah menabur, karena ini adalah kehidupan.

 

Saudara-saudari, saya juga hendak mengatakan kepadamu, kepada bangsa ini, kepada nusantara yang mengagumkan dan beranekaragam ini, jangan lelah berlayar, jangan lelah menebarkan jala, jangan lelah bermimpi, jangan lelah membangun kembali peradaban perdamaian. Selalu berani bermimpi tentang persaudaraan, yang merupakan harta sejati di antara Anda. Dibimbing oleh sabda Tuhan, saya mendorongmu untuk menabur benih kasih, dengan percaya diri menapaki jalan dialog, terus menunjukkan kebaikan budi dan hatimu dengan senyumanmu yang khas. Apakah kamu pernah diberitahu bahwa kamu adalah orang-orang yang suka tersenyum? Tolong, jangan kehilangan senyumanmu, dan teruslah maju! Jadilah pembangun perdamaian. Jadilah pembangun harapan!

 

Para Uskup di negara ini baru-baru ini menyampaikan keinginan yang juga ingin saya sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia: berjalan bersama demi kebaikan masyarakat dan Gereja! Jadilah pembangun harapan. Dengarkanlah baik-baik: jadilah pembangun harapan, harapan Injil, yang tidak mengecewakan (bdk. Rm 5:5), yang tidak pernah mengecewakan, tetapi sebaliknya membuka kita pada sukacita yang tak berkesudahan. Terima kasih banyak.

 

[Sambutan pada akhir Misa]

 

Saya berterima kasih kepada Kardinal Ignatius, serta Ketua Konferensi Waligereja dan para uskup Gereja Indonesia lainnya, yang bersama para imam dan diakon melayani umat Allah yang kudus di negeri yang besar ini. Saya juga berterima kasih kepada para biarawan dan biarawati, seluruh relawan, dan dengan penuh kasih sayang, para orang tua, orang sakit, dan orang yang menderita, yang telah mendoakan kita. Terima kasih!

 

Kunjungan saya di tengah-tengahmu akan segera berakhir, dan saya ingin menyampaikan rasa syukur yang penuh sukacita atas sambutan luar biasa yang telah saya terima. Saya kembali mengucapkan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, yang hadir di sini hari ini, kepada para pejabat sipil lainnya, dan aparat keamanan, saya juga menyampaikan penghargaan saya kepada seluruh rakyat Indonesia.

 

Dalam Kisah Para Rasul disebutkan bahwa pada hari Pentakosta terjadilah kegemparan besar di Yerusalem. Dan semua orang riuh rendah memberitakan Injil. Tolong, saudara-saudari terkasih, riuh rendahlah! Riuh rendahlah!

 

Semoga Tuhan memberkatimu. Terima kasih!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 September 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XIV DI PIAZZA UNITÀ D'ITALIA (TRIESTE) 7 Juli 2024 : KITA MEMBUTUHKAN SKANDAL IMAN

Bacaan Ekaristi : Yeh. 2:2-5; Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-4; 2Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6.

 

Untuk menghidupkan kembali harapan di dalam hati yang remuk redam dan menopang beban perjalanan, Allah selalu membangkitkan para nabi di antara umat-Nya. Namun, sebagaimana diceritakan dalam Bacaan Pertama hari ini melalui kisah Nabi Yehezkiel, mereka sering kali menjumpai bangsa yang memberontak, “keturunan yang keras kepala dan tegar hati” (Yeh 2:4), dan ditolak.

 

Yesus pun mengalami hal yang sama seperti para nabi. Ia pulang ke Nazaret, kampung halaman-Nya, di antara orang-orang yang sebaya dengan-Nya, namun Ia tidak dikenali dan bahkan ditolak: “Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11). Bacaan Injil memberitahu kita bahwa Yesus “menjadi skandal bagi mereka” (Mrk 6:3), namun kata “skandal” tidak mengacu pada sesuatu yang cabul atau tidak senonoh seperti yang kita gunakan saat ini; skandal berarti “batu sandungan”, sebuah hambatan, sesuatu yang menghalangi dan merintangimu untuk melangkah lebih jauh. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: hambatan apa yang menghalangi kita untuk percaya kepada Yesus?

 

Marilah kita bertanya pada diri kita: hambatan apa yang menghalangi kita untuk percaya kepada Yesus?

 

Mendengarkan diskusi orang-orang sekampung-Nya, kita melihat bahwa mereka hanya berhenti pada sejarah duniawi-Nya, pada asal usul keluarga-Nya, sehingga mereka tidak dapat memahami bagaimana hikmah tersebut, dan bahkan kemampuan untuk melakukan mukjizat, dapat datang dari putra Yusuf si tukang kayu; yaitu dari orang biasa. Skandalnya adalah kemanusiaan Yesus. Kendala yang menghalangi orang-orang ini untuk mengenali kehadiran Allah di dalam diri Yesus adalah kenyataan bahwa Ia manusiawi, hanya putra Yusuf si tukang kayu: Bagaimana Allah, Sang Maha Kuasa, menyatakan diri-Nya dalam kerapuhan daging manusiawi? Bagaimana mungkin Allah yang maha kuasa dan kuat, yang menciptakan bumi dan membebaskan umat-Nya dari perbudakan, menjadi cukup lemah datang dalam daging dan merendahkan diri-Nya untuk membasuh kaki para murid-Nya?

 

Saudara-saudara, inilah skandalnya: iman yang berlandaskan Allah yang manusiawi, yang merendahkan diri-Nya terhadap umat manusia, yang peduli terhadapnya, yang tergerak oleh luka-luka kita, yang menanggung keletihan kita, yang laksana roti yang dipecah-pecahkan bagi kita. Allah yang kuat dan berkuasa, yang ada di sampingku dan memuaskanku dalam segala hal adalah hal yang menarik; Allah yang lemah, yang wafat di kayu salib karena mengasihi serta memintaku mengatasi segenap keegoisan dan mempersembahkan hidupku demi keselamatan dunia, adalah Allah yang tidak nyaman.

 

Tetapi, saat kita berdiri di hadapan Tuhan Yesus dan menatap tantangan-tantangan yang menghadang kita, banyaknya isu-isu sosial dan politik yang dibahas bahkan dalam Pekan Sosial ini, kehidupan nyata masyarakat kita dan perjuangan mereka, kita dapat mengatakan bahwa inilah apa yang persisnya kita butuhkan saat ini: skandal iman. Bukan keagamaan yang tertutup, yang menengadah ke surga tanpa mempedulikan apa yang terjadi di bumi dan merayakan liturgi di Bait Suci namun melupakan debu yang beterbangan di jalan-jalan kita. Sebaliknya, kita membutuhkan skandal iman, iman yang berakar pada Allah yang menjadi manusia dan, oleh karena itu, iman yang manusiawi, iman daging, yang memasuki sejarah, yang menyentuh kehidupan orang-orang, yang menyembuhkan hati yang remuk redam, yang menjadi ragi bagi kita semua. harapan dan benih sebuah dunia baru.

 

Iman inilah yang membangunkan hati nurani dari kelesuan, yang meletakkan jarinya dalam luka-luka masyarakat, yang menimbulkan pertanyaan tentang masa depan umat manusia dan sejarah; iman yang gelisah yang membantu kita mengatasi keadaan biasa-biasa saja dan kelambanan hati, yang menjadi duri dalam daging masyarakat yang sering dibius dan dibingungkan oleh konsumerisme. Terutama, iman yang mematahkan perhitungan keegoisan manusiawi, mencela kejahatan, menunjukkan ketidakadilan, mengganggu rencana orang-orang yang, dalam bayang-bayang kekuasaan, mempermainkan kehidupan kaum lemah.

 

Seorang penyair dari kota ini, yang menggambarkan dalam sebuah lirik kepulangannya yang biasa dilakukan pada malam hari, mengatakan bahwa ia melintasi jalan yang agak gelap, sebuah tempat pembusukan di mana orang-orang dan barang-barang di pelabuhan adalah “detritus”, yaitu sisa-sisa umat manusia; tetapi di sini, ia menulis, “saat lewat, aku menemukan kerendahan hati yang tak terbatas,” karena pelacur dan pelaut, perempuan yang suka bertengkar dan tentara, “semuanya adalah makhluk yang hidup dan menderita; di dalam diri mereka, seperti di dalam diriku, Tuhan mencetuskan” (U. SABA, “Città vecchia,” dalam Il canzoniere (1900-1954) Edizione definitiva, Torino, Einaudi, 1961).

 

Dan kita, yang kadang-kadang merasa mengalami skandal karena begitu banyak hal-hal kecil yang tidak perlu, sebaiknya bertanya pada diri kita: Mengapa kita tidak merasa mengalami skandal ketika menghadapi kejahatan yang merajalela, kehidupan yang dipermalukan, masalah perburuhan, dan penderitaan para migran?

 

Janganlah kita lupa: Allah tersembunyi di sudut-sudut kehidupan dan kota-kota kita yang gelap, kehadiran-Nya terungkap tepat di wajah-wajah yang ditandai dengan penderitaan dan di mana kemerosotan tampak merajalela. Ketidakterbatasan Allah tersembunyi dalam kesengsaraan manusia, Allah menggerakkan dan persisnya menjadi kehadiran yang bersahabat dalam daging yang terluka dari orang-orang yang paling hina, yang terlupakan, dan terlantar. Dan kita, yang kadang-kadang merasa mengalami skandal hal-hal kecil yang tidak perlu, sebaiknya bertanya pada diri kita sendiri: Mengapa kita tidak merasa mengalami skandal ketika menghadapi kejahatan yang merajalela, kehidupan yang dipermalukan, masalah perburuhan, dan penderitaan para migran? Mengapa kita tetap acuh tak acuh dan tidak peduli terhadap ketidakadilan yang terjadi di dunia? Mengapa kita tidak mencamkan situasi para tahanan, yang bahkan dari kota Trieste ini terdengar seperti jeritan kesedihan?

 

Sahabat-sahabat terkasih, Yesus menghidupi nubuat kehidupan sehari-hari dalam daging-Nya, memasuki kehidupan sehari-hari dan kisah orang-orang, mewujudkan belas kasihan Allah di dalam lingkup kemanusiaan yang rapuh dan terluka. Dan oleh karena itu, sebagian orang merasa mengalami skandal oleh-Nya, Ia menjadi penghalang, Ia ditolak bahkan sampai diadili dan dihukum; tetapi, Ia tetap setia pada perutusan-Nya, Ia tidak bersembunyi di balik ambiguitas, tidak berkompromi dengan nalar kekuasaan politik dan agama. Ia menjadikan hidup-Nya sebagai persembahan kasih kepada Bapa. Demikian pula, kita umat Kristiani dipanggil untuk menjadi nabi dan saksi Kerajaan Allah, dalam segala situasi yang kita jalani, di setiap tempat yang kita huni.

 

Dari Kota Trieste ini, menghadap Eropa, sebuah persimpangan bangsa-bangsa dan budaya, sebuah perbatasan, marilah kita memupuk impian peradaban baru yang berlandaskan perdamaian dan persaudaraan; janganlah kita merasa mengalami skandal oleh Yesus tetapi, sebaliknya, marilah kita marah pada segenap situasi di mana kehidupan direndahkan, dilukai, dan dibunuh; marilah kita membawa nubuat Injil ke dalam daging kita, dengan pilihan-pilihan kita bahkan sebelum kata-kata kita. Dan kepada Gereja Trieste ini, saya ingin mengatakan: Majulah! Teruslah berada di garis depan untuk mewartakan Injil pengharapan, terutama kepada mereka yang datang dari jalur Balkan dan kepada semua orang, baik secara jasmani maupun rohani, yang perlu diberi dorongan dan penghiburan. Marilah kita berkomitmen bersama: karena dengan memahami bahwa kita dikasihi oleh Bapa, kita dapat hidup sebagai saudara-saudari bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Juli 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS, RASUL 29 Juni 2024 : KITA MEMBUTUHKAN TUHAN UNTUK MEMBUKA PINTU HATI KITA

Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

 

Marilah kita memandang dua rasul, Petrus dan Paulus: nelayan dari Galilea yang dijadikan penjala manusia oleh Yesus, dan orang Farisi yang menganiaya Gereja namun diubah rupa oleh anugerah menjadi penginjil bangsa-bangsa. Dalam terang sabda Allah, marilah kita mengambil inspirasi dari kisah mereka dan semangat kerasulan yang menandai kehidupan mereka. Dalam perjumpaan dengan Tuhan, mereka mengalami paskah yang sesungguhnya: mereka dibebaskan: pintu menuju kehidupan baru terbuka di hadapan mereka.

 

Saudara-saudari, menjelang Tahun Yubileum, marilah kita merenungkan gambaran pintu tersebut. Tahun Yubileum akan menjadi masa rahmat di mana kita akan membuka Pintu Suci agar setiap orang dapat melintasi ambang tempat kudus yang hidup yaitu Yesus dan, di dalam Dia, mengalami kasih Allah yang meneguhkan pengharapan kita dan memperbaharui sukacita kita. Dalam kisah Petrus dan Paulus, beberapa pintu terbuka.

 

Bacaan Pertama menceritakan tentang pembebasan Petrus dari penjara; bacaan dipenuhi dengan gambar-gambar yang mengingatkan Paskah. Peristiwa ini terjadi pada Hari Raya Roti Tak Beragi. Herodes mengenang sosok Firaun Mesir. Pembebasan terjadi pada malam hari, sebagaimana terjadi pada bangsa Israel. Malaikat memberikan petunjuk yang sama kepada Petrus yang pernah diberikan kepada Israel: ia menyuruh Petrus untuk segera bangun, bersiap dan memakai alas kaki (bdk. Kis 12:8; Kel 12:11). Jadi, kisahnya adalah keluaran baru. Allah membebaskan Gereja-Nya, membebaskan umat-Nya yang dirantai, dan sekali lagi menyatakan diri-Nya sebagai Allah kerahiman yang menopang perjalanan mereka.


Pada malam pembebasan itu, pintu-pintu penjara terbuka secara ajaib untuk pertama kalinya. Kemudian, kita diberitahu bahwa ketika Petrus dan malaikat yang menemaninya sampai ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota, “pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka” (Kis 12:10). Mereka tidak membuka pintu; pintu terbuka dengan sendirinya. Allahlah yang membukakan pintu; Dialah yang membebaskan kita dan membukakan jalan bagi kita. Yesus, seperti yang kita dengar dalam Bacaan Injil, mempercayakan kunci Kerajaan Allah kepada Petrus, namun Petrus menyadari bahwa Tuhanlah yang membukakan pintu; Ia selalu mendahului kita. Titik ini penting: pintu-pintu penjara terbuka oleh kekuatan Tuhan, namun Petrus kemudian merasa sulit memasuki rumah komunitas kristiani. Perempuan yang pergi ke pintu mengiranya hantu dan tidak membukakan pintu (bdk. Kis 12:12-17). Berapa kali komunitas-komunitas tidak memahami kebijaksanaan tentang perlunya membuka pintu ini!

 

Perjalanan Rasul Paulus pada dasarnya juga merupakan pengalaman Paskah. Pertama, ia diubah oleh perjumpaannya dengan Tuhan yang bangkit di jalan menuju Damsyik dan kemudian, dengan sungguh-sungguh merenungkan Kristus yang disalibkan, menemukan anugerah kelemahan. Ketika kita lemah, katanya, saat itulah kita menjadi kuat, karena kita tidak lagi mengandalkan diri kita, tetapi Kristus (bdk. 2Kor 12:10). Ditangkap oleh Tuhan dan disalibkan bersamanya, Paulus dapat menulis, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Namun hal ini tidak mengarah pada keagamaan yang menghibur dan melihat ke dalam – sebagaimana ditemukan dalam beberapa gerakan dalam Gereja dewasa ini – sebaliknya, perjumpaan dengan Tuhan menyulut dalam kehidupan Paulus semangat yang membara untuk penginjilan. Sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Kedua, di akhir hidupnya, ia dapat berkata, “Tuhan mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya” (2Tim 4:17) .

 

Dengan menggambarkan bagaimana Tuhan memberinya begitu banyak kesempatan untuk memberitakan Injil, Paulus menggunakan gambar pintu yang terbuka. Ia melakukan perjalanan ke Antiokhia bersama Barnabas, dan kita membaca bahwa “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman” (Kis 14:27) . Dengan cara serupa, ketika menulis kepada jemaat di Korintus, ia berkata, “Sebab semakin terbuka lebar kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan besar” (1 Kor. 16:9). Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus mendesak mereka: “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus” (Kol. 4:3).

 

Saudara-saudari, Rasul Petrus dan Paulus sama-sama mengalami anugerah ini. Mereka memberi kesaksian secara langsung karya Allah, yang membuka pintu-pintu penjara diri mereka dan juga penjara-penjara yang sebenarnya yang ke dalamnya mereka dijebloskan karena Injil. Tuhan juga membukakan mereka pintu penginjilan, agar mereka dapat merasakan sukacita berjumpa saudara-saudari mereka di dalam komunitas-komunitas pemula dan membawa harapan Injil kepada semua orang. Kini, tahun ini kita juga sedang bersiap membuka Pintu Suci.

 

Saudara-saudari, hari ini para uskup agung metropolitan yang diangkat tahun lalu menerima pallium. Dalam persekutuan dengan Petrus dan mengikuti teladan Kristus, pintu bagi domba-domba (bdk. Yoh 10:7), mereka dipanggil untuk menjadi gembala yang bersemangat yang membuka pintu Injil dan, melalui pelayanan mereka, membantu membangun Gereja dan masyarakat pintu terbuka.

 

Dengan kasih sayang persaudaraan, saya menyapa delegasi Patriarkat Ekumenis, yang saya ucapkan terima kasih karena telah datang guna mewujudkan keinginan bersama untuk persekutuan penuh di antara Gereja-Gereja kita. Saya juga menyapa dengan hangat dan tulus saudara saya yang tercinta, Bartholomew.

 

Semoga Santo Petrus dan Santo Paulus membantu kita membuka pintu kehidupan kita bagi Tuhan Yesus. Semoga mereka menjadi perantara kita, Kota Roma ini, dan seluruh dunia. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 Juni 2024 : UCAPAN SYUKUR, KENANGAN, DAN KEHADIRAN

Bacaan Ekaristi : Kel. 24:3-8; Mzm. 116:12-13,15,16bc,17-18; Ibr. 9:11-15; Mrk. 14:12-16,22-26.



“Yesus mengambil roti, mengucap syukur” (Mrk 14:22). Dengan cara ini, Injil Santo Markus memulai kisah tentang penetapan Ekaristi. Berangkat dari sikap Yesus yang mengucap syukur atas roti ini, kita dapat merenungkan tiga aspek misteri yang sedang kita rayakan: ucapan syukur, kenangan, dan kehadiran.

 

Pertama, ucapan syukur. Memang benar, kata “Ekaristi” berarti “syukur”: “mengucap syukur” kepada Allah atas karunia-karunia-Nya. Jadi, tanda roti itu penting, karena merupakan santapan kehidupan sehari-hari, dan dengannya kita membawa ke altar seluruh keberadaan kita dan seluruh yang kita miliki: kehidupan, pekerjaan, keberhasilan, dan juga kegagalan kita. Dalam beberapa kebudayaan hal ini dilambangkan dengan kebiasaan yang indah memungut dan mencium roti ketika roti itu jatuh ke tanah, untuk mengingatkan kita bahwa roti terlalu berharga untuk dibuang, bahkan setelah jatuh. Maka, Ekaristi mengajarkan kita untuk selalu mengucap syukur, menyambut dan menghargai karunia-karunia Allah sebagai sebuah tindakan syukur; tidak hanya dalam perayaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

 

Contohnya, kita tidak menyia-nyiakan milik dan talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Demikian pula, kita harus mengampuni dan mendukung mereka yang melakukan kesalahan dan terjatuh oleh karena kelemahan atau kesalahan, mengakui bahwa segala sesuatu adalah sebuah karunia dan tidak ada yang boleh hilang, tidak ada seorang pun yang boleh ditinggalkan, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk bangkit. Kita dapat melakukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari, melaksanakan pekerjaan kita dengan kasih, ketelitian, dan perhatian, mengakuinya sebagai karunia dan perutusan. Dan selalu membantu mereka yang telah terjatuh: jangan sekali pun kita memandang rendah seseorang: bantulah mereka bangkit kembali. Ini adalah perutuan kita.

 

Tentunya, kita bisa menambahkan banyak hal lain yang layak kita syukuri. Ini adalah sikap “Ekaristis” yang penting karena mengajarkan kita untuk menghargai nilai dari apa yang sedang kita lakukan dan persembahkan.

 

Pertama, ucapan syukur. Lalu, kedua, “mengucap syukur atas roti” artinya mengenang. Apa yang kita kenang? Bagi Israel kuno, ini berarti mengenang kembali pembebasan dari perbudakan Mesir dan awal keluaran menuju Tanah Terjanji. Bagi kita, ini berarti mengenang Paskah Kristus, sengsara dan kebangkitan-Nya, yang melaluinya Ia membebaskan kita dari dosa dan maut. Artinya mengenang kehidupan, keberhasilan, kesalahan kita, uluran tangan Tuhan yang selalu membantu kita bangkit kembali, kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

 

Ada yang mengatakan bahwa kebebasan sejati berarti hanya memikirkan diri sendiri, menikmati hidup dengan melakukan apa pun yang kita inginkan tanpa peduli terhadap orang lain. Ini bukan kebebasan, namun suatu bentuk perbudakan yang tersembunyi, sebuah perbudakan yang semakin memperbudak kita.

 

Namun kebebasan tidak ditemukan dalam brankas milik orang-orang yang menimbun kekayaan untuk diri mereka sendiri, atau sofa orang-orang yang bermalas-malasan menikmati pelepasan diri dan individualisme. Kebebasan ditemukan di Ruang Atas di mana, hanya dimotivasi oleh kasih, kita membungkuk untuk melayani sesama, menawarkan hidup kita sebagai orang-orang yang “diselamatkan”.

 

Ketiga, roti Ekaristi adalah kehadiran nyata. Hal ini berbicara kepada kita tentang Allah yang tidak jauh, yang tidak cemburu, namun dekat dan bersetia kawan dengan umat manusia; sesosok Allah yang tidak meninggalkan kita tetapi selalu mencari, menunggu, dan menyertai kita, bahkan sampai menyerahkan diri-Nya, tak berdaya, ke dalam tangan kita. Dan kehadiran-Nya yang nyata juga mengajak kita untuk dekat dengan saudara-saudari kita di manapun kasih memanggil kita.

 

Saudara-saudari, dunia kita sangat membutuhkan roti ini, dengan keharuman dan aromanya, yang mengenal rasa syukur, kebebasan dan kedekatan! Setiap hari kita melihat terlalu banyak jalan yang dulunya dipenuhi semerbak roti yang baru dipanggang, namun kini menjadi puing-puing karena perang, keegoisan, dan ketidakpedulian! Kita perlu segera membawa kembali kepada dunia kita aroma roti kasih yang baik dan segar, terus berharap tanpa kenal lelah dan membangun kembali apa yang dihancurkan oleh kebencian.

 

Hal ini juga merupakan makna dari isyarat yang akan segera kita lakukan dalam Perarakan Ekaristi. Mulai dari altar, kita akan membawa Tuhan ke seluruh rumah di kota kita. Kita melakukan ini bukan untuk pamer, atau memamerkan iman kita, melainkan untuk mengajak semua orang ikut serta, dalam Roti Ekaristi, dalam kehidupan baru yang telah diberikan Yesus kepada kita. Marilah kita melakukan perarakan dengan semangat ini. Terima kasih.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juni 2024)