Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS 29 Juni 2021 : PETRUS DAN PAULUS DIBEBASKAN BERKAT PERJUMPAAN MEREKA DENGAN KRISTUS

Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.


Dua Rasul besar Injil dan dua pilar Gereja : Petrus dan Paulus. Hari ini kita merayakan pengenangan mereka. Marilah kita melihat lebih dekat kedua saksi iman ini. Inti kisah mereka bukanlah karunia dan kemampuan mereka; pusatnya adalah perjumpaan dengan Kristus yang mengubah hidup mereka. Mereka mengalami kasih yang menyembuhkan dan membebaskan mereka. Mereka kemudian menjadi rasul dan pelayan kebebasan bagi sesama.

 

Petrus dan Paulus dibebaskan karena mereka dibebaskan. Marilah kita berkaca dengan berpusat pada titik ini.

 

Petrus, nelayan dari Galilea, dibebaskan terutama dari rasa ketidakmampuan dan pengalaman pahitnya akan kegagalan, berkat kasih Yesus yang tanpa syarat. Kendati ia seorang nelayan yang terampil, berkali-kali, di tengah malam, ia merasakan kepahitan rasa frustrasi karena tidak menangkap apa-apa (bdk. Luk 5:5; Yoh 21:5) dan, melihat jala yang kosong, tergoda untuk berhenti mendayung. Meskipun kuat dan terburu nafsu, Petrus sering menyerah pada rasa takut (bdk. Mat 14:30). Meskipun seorang murid Tuhan yang sungguh-sungguh, ia terus berpikir dengan baku duniawi, dan dengan demikian gagal untuk memahami dan menerima makna salib Kristus (bdk. Mat 16:22). Bahkan setelah mengatakan bahwa ia siap memberikan nyawanya untuk Yesus, dicurigai bahwa ia adalah salah seorang murid Kristus membuatnya ketakutan sehingga menyangkal Tuhan (bdk. Mrk 14:66-72).

 

Yesus tetap mengasihi Petrus dan bersedia mengambil resiko atas dirinya. Ia mendorong Petrus untuk tidak menyerah, menebarkan jala sekali lagi, berjalan di atas air, menemukan kekuatan untuk menerima kerapuhannya, mengikuti-Nya di jalan salib, memberikan nyawanya untuk saudara-saudaranya, menggembalakan kawanan domba-Nya. Dengan cara ini, Yesus membebaskan Petrus dari rasa takut, dari perhitungan yang hanya berlandaskan kepentingan duniawi. Ia memberinya keberanian untuk mempertaruhkan segalanya dan sukacita menjadi penjala manusia. Petruslah yang dipanggil Yesus untuk menguatkan saudara-saudaranya dalam iman (bdk. Luk 22:32). Ia memberinya – seperti yang kita dengar dalam Bacaan Injil – kunci untuk membuka pintu menuju perjumpaan dengan Tuhan serta kuasa untuk mengikat dan melepaskan : mengikat saudara-saudarinya kepada Kristus serta melepaskan simpul dan rantai dalam kehidupan mereka (bdk. Mat 16:19).

 

Semua itu hanya mungkin karena – seperti yang kita dengar dalam Bacaan Pertama (Kis. 12:1-11) – Petrus sendiri telah dibebaskan. Rantai yang menahannya digugurkan dan, seperti pada malam ketika orang Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, ia diperintahkan untuk segera bangun, mengencangkan ikat pinggang dan mengenakan sepatu serta pergi. Tuhan kemudian membuka pintu di hadapannya (bdk. Kis 12:7-10). Di sini kita melihat sejarah baru pembukaan, pembebasan, rantai yang gugur, keluaran dari rumah perbudakan. Petrus memiliki pengalaman Paskah : Tuhan membebaskannya.

 

Rasul Paulus juga mengalami kebebasan yang dibawa oleh Kristus. Ia dibebaskan dari bentuk perbudakan yang paling menindas, yaitu perbudakan terhadap dirinya sendiri. Dari Saulus, nama raja pertama Israel, ia menjadi Paulus, yang berarti “kecil”. Ia juga dibebaskan dari semangat keagamaan yang telah membuatnya menjadi pembela yang gigih adat istiadat nenek moyangnya (bdk. Gal 1:14) dan seorang penganiaya jemaat Kristiani yang kejam. Membebaskan. Ketaatan agama yang formal dan pembelaan yang gigih terhadap adat istiadat, alih-alih membuatnya terbuka terhadap kasih Allah dan saudara-saudarinya, telah mengeraskannya : ia adalah seorang fundamentalis. Allah membebaskannya dari hal ini, namun Ia tidak menyayangkan kerapuhan dan kesulitan untuk membuat perutusan penginjilannya semakin berbuah : ketegangan kerasulan, kelemahan jasmani (bdk. Gal 4:13-14); kekerasan dan penganiayaan, kapal karam, kelaparan dan kehausan, dan, seperti yang Ia sendiri katakan kepada kita, duri di dalam daging yang menyakitkan (bdk. 2Kor 12:7-10).

 

Dengan demikian Paulus menyadari bahwa “apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Kor 1:27), bahwa kita dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang menguatkan kita (bdk. Flp 4:13), dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (bdk. Rm 8:35-39). Karena alasan ini, di akhir hidupnya – seperti yang kita dengar dalam Bacaan Kedua (2Tim. 4:6-8,17-18) – Paulus dapat berkata : “Tuhan telah mendampingi aku” dan “Ia akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat” (2 Tim 4:17). Paulus memiliki pengalaman Paskah : Tuhan membebaskannya.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, Gereja memandang dua raksasa iman dan melihat dua Rasul yang membebaskan kuasa Injil di dunia kita ini, hanya karena pertama-tama mereka sendiri telah dibebaskan berkat perjumpaan mereka dengan Kristus. Yesus tidak menghakimi mereka atau mempermalukan mereka. Justru Ia ikut serta dalam kehidupan mereka dengan kasih sayang dan kedekatan. Ia mendukung mereka dengan doa-Nya, dan bahkan terkadang mencela mereka untuk membuat mereka berubah. Kepada Petrus, Yesus dengan lembut berkata : “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” (Luk 22:32). Dan kepada Paulus : “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku” (Kis 9:4). Ia melakukan hal yang sama terhadap kita: Ia meyakinkan kita tentang kedekatan-Nya dengan mendoakan dan mengantarai kita di hadirat Bapa, serta dengan lembut mencela kita setiap kali kita tersesat, sehingga kita dapat menemukan kekuatan untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan.

 

Kita juga telah dijamah oleh Tuhan; kita juga telah dibebaskan. Namun kita perlu diberi waktu luang lagi dan lagi, karena hanya Gereja yang bebas yang merupakan Gereja yang dapat dipercaya. Seperti Petrus, kita dipanggil untuk dibebaskan dari rasa kegagalan sebelum kadang kala kita memancing bencana. Dibebaskan dari rasa takut yang melumpuhkan kita, membuat kita mencari perlindungan dalam keamanan kita, dan merampas keberanian kita untuk bernubuat. Seperti Paulus, kita dipanggil untuk dibebaskan dari penampilan lahiriah yang munafik, bebas dari godaan untuk menampilkan diri kita dengan kekuatan duniawi ketimbang dengan kelemahan yang memberi ruang bagi Allah, bebas dari keagamaan yang membuat kita kaku dan tidak luwes; bebas dari lembaga dengan kekuasaan yang meragukan serta dari rasa takut disalahpahami dan diserang.

 

Petrus dan Paulus mewariskan kepada kita gambaran Gereja yang dipercayakan ke tangan kita, namun dibimbing oleh Tuhan dengan kesetiaan dan kasih yang lembut, karena Dialah yang membimbing Gereja. Gereja yang lemah, namun menemukan kekuatan di hadirat Allah. Gambaran Gereja yang dibebaskan dan mampu menawarkan kepada dunia kebebasan yang tidak dapat diberikan oleh dunia itu sendiri : kebebasan dari dosa dan kematian, dari sikap pasrah menerima nasib, dan dari rasa ketidakadilan dan hilangnya harapan yang merendahkan kehidupan manusia di zaman kita.

 

Marilah kita bertanya, hari ini dalam perayaan ini tetapi juga setelahnya : sejauh mana kota-kota kita, masyarakat kita dan dunia kita membutuhkan kebebasan? Berapa banyak rantai yang harus digugurkan dan berapa banyak pintu yang lama tertutup harus dibuka! Kita dapat membantu membawa kebebasan ini, tetapi hanya jika kita terlebih dahulu memperkenankan diri kita dibebaskan oleh kebaruan Yesus, dan berjalan dalam kebebasan Roh Kudus.

 

Hari ini saudara kita para Uskup Agung menerima pallium. Tanda persatuan dengan Petrus ini mengingatkan perutusan gembala yang memberikan nyawa untuk kawanan dombanya. Dengan memberikan nyawanya, gembala tersebut, dirinya sendiri dibebaskan, menjadi sarana untuk membawa kebebasan bagi saudara-saudaranya. Hari ini juga, kita bergabung dengan delegasi Patriarkat Ekumenis, yang dikirim untuk kesempatan ini oleh saudara kita yang terkasih Bartholomew. Kehadiranmu yang disambut adalah tanda persatuan yang berharga dalam perjalanan kebebasan kita dari jarak yang secara memalukan memisahkan orang-orang percaya di dalam Kristus. Terima kasih atas kehadiranmu.

 

Kita mendoakanmu, seluruh gembala, Gereja dan kita semua : agar, dibebaskan oleh Kristus, kita dapat menjadi rasul kebebasan di seluruh dunia.

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS 6 Juni 2021 : MEMAKNAI TIGA GAMBARAN INJIL MENGENAI PERJAMUAN TERAKHIR

Bacaan Ekaristi : Kel. 24:3-8; Mzm. 116:12-13,15,16bc,17-18; Ibr. 9:11-15; Mrk. 14:12-16,22-26.

 

Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi dan mempersiapkan tempat untuk merayakan perjamuan Paskah. Merekalah yang bertanya : "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" (Mrk 14:12). Saat kita merenungkan dan menyembah kehadiran Tuhan dalam Roti Ekaristi, kita juga dipanggil untuk bertanya pada diri sendiri : di "tempat" apakah kita ingin mempersiapkan Paskah Tuhan? "Tempat-tempat" apakah dalam hidup kita Allah meminta dijamu oleh kita? Saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan berpusat pada tiga gambaran Injil yang telah kita dengar (Mrk 14:12-16.22-26).

 

Gambaran pertama adalah seorang yang membawa kendi berisi air (bdk. ayat 13). Gambaran ini merupakan rincian yang tampaknya berlebihan. Namun orang yang benar-benar tidak dikenal itu menjadi pemandu para murid yang sedang mencari tempat yang nantinya akan disebut Ruang Atas. Dan kendi berisi air adalah tanda pengenalan : tanda yang membuat kita berpikir tentang umat manusia yang kehausan, selalu mencari sumber air yang memuaskan dan memperbaharuinya kembali. Kita semua menjalani hidup dengan kendi di tangan : kita semua, kita masing-masing haus akan kasih, sukacita, kehidupan yang berhasil di dunia yang semakin manusiawi. Dan terhadap kehausan ini, air hal-hal duniawi tidak berguna, karena ada kehausan yang lebih dalam, yang hanya dapat dipuaskan oleh Allah.

 

Kita masih mengikuti "sinyal" simbolik ini. Yesus memberitahu para pengikut-Nya bahwa ketika ada seorang dengan kendi berisi air menuntun mereka, mereka dapat merayakan Perjamuan Paskah. Oleh karena itu, untuk merayakan Ekaristi, pertama-tama kita harus mengenali kehausan kita akan Allah : merasa membutuhkan Dia, menginginkan kehadiran-Nya dan kasih-Nya, menyadari bahwa kita tidak dapat melakukannya sendiri tetapi kita membutuhkan makanan dan minuman kehidupan kekal yang menopang kita di jalan. Drama hari ini - bisa kita katakan - yakni kehausan sering kali telah sirna. Pertanyaan tentang Allah telah sirna, keinginan akan Dia telah memudar, para pencari Allah menjadi semakin langka. Allah tidak lagi menarik karena kita tidak lagi merasakan kehausan kita yang dalam. Tetapi hanya jika ada seorang dengan kendi berisi air - kita memikirkan perempuan Samaria, misalnya (bdk. Yoh 4:5-30) - Tuhan dapat menyatakan diri-Nya sebagai Sosok yang memberi kehidupan baru, yang memelihara impian dan cita-cita kita dengan harapan yang dapat diandalkan, kehadiran kasih yang memberi makna dan arah pada peziarahan duniawi kita. Sebagaimana telah kita catat, seorang dengan kendi itulah yang menuntun para murid ke ruangan tempat Yesus akan menetapkan Ekaristi. Kehausan akan Allah membawa kita ke altar. Jika tidak ada kehausan, perayaan kita menjadi kering. Kemudian, bahkan sebagai Gereja, kelompok kecil orang-orang yang biasa berkumpul untuk merayakan Ekaristi tidak memadai; kita harus pergi ke kota, bertemu orang-orang, belajar mengenali dan membangkitkan kehausan akan Allah dan hasrat akan Injil.

 

Gambaran kedua adalah sebuah ruangan atas yang besar (lihat ayat 15). Di sanalah Yesus dan umat-Nya akan mengadakan perjamuan Paskah dan ruangan ini terletak di rumah seseorang yang menjamu mereka. Don Primo Mazzolari berkata : "Di sini ada seorang tanpa nama, seorang tuan tanah, sedang meminjamkan ruangannya yang paling indah. […] Ia memberikan yang terbesar dari apa yang ia miliki karena segala sesuatu di sekitar sakramen agung itu agung, ruangan dan hati, perkataan dan tingkah laku” (La Pasqua, La Locusta 1964, 46-48).

 

Sebuah ruangan yang besar untuk sepotong kecil Roti. Allah menjadikan diri-Nya sekecil sepotong roti dan karena alasan inilah dibutuhkan hati yang besar untuk dapat mengenali, menyembah, menyambut-Nya. Kehadiran Allah begitu rendah hati, tersembunyi, terkadang kasat mata, sehingga membutuhkan hati yang siap, terpelihara, dan menyambut untuk mengenalinya. Sebaliknya jika hati kita, melebihi sebuah ruangan besar, menyerupai lemari tempat kita menyimpan barang-barang lama dengan penyesalan; jika terlihat seperti loteng di mana kita telah lama menempatkan kegairahan dan impian kita; jika terlihat seperti ruangan sempit, ruangan gelap karena kita hanya hidup pada diri kita, masalah dan kepahitan kita, maka mustahil untuk mengenali hadirat Allah yang hening dan rendah hati ini. Kita membutuhkan ruangan yang besar. Hati harus diperbesar. Meninggalkan ruangan kecil diri kita dan memasuki ruangan besar ketakjuban dan penyembahan diperlukan. Dan kita sangat merindukan hal ini! Kita tidak memiliki hal ini dalam banyak gerakan yang kita lakukan untuk bertemu, bersatu kembali, berpikir bersama tentang pelayanan pastoral … Tetapi jika hal ini tidak ada, jika tidak ada ketakjuban dan penyembahan, tidak ada jalan yang membawa kita kepada Allah. Bahkan tidak akan ada sinode, tidak ada apa-apa. Inilah sikap di depan Ekaristi, inilah yang kita butuhkan : penyembahan. Gereja juga harus menjadi aula yang besar. Bukan lingkaran kecil dan tertutup, tetapi komunitas dengan tangan terbuka, menyambut semua orang. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : ketika seseorang yang terluka, yang telah berbuat salah, yang memiliki jalan hidup yang berbeda, mendekat, Gereja, Gereja ini, apakah sebuah ruangan besar untuk menyambutnya dan menuntunnya menuju sukacita perjumpaan dengan Kristus? Ekaristi ingin memberi makan mereka yang lelah dan lapar di sepanjang jalan, jangan lupakan hal itu! Gereja yang sempurna dan murni adalah sebuah ruangan di mana tidak ada ruang bagi siapa pun; Gereja dengan pintu terbuka, yang merayakan di sekitar Kristus, adalah sebuah ruangan besar di mana setiap orang - semua orang, baik orang benar maupun orang berdosa - dapat masuk.

 

Terakhir, gambaran ketiga, gambaran Yesus memecah-mecahkan Roti. Gambaran ini, terutama, mengisyaratkan Ekaristi, mengisyaratkan jatidiri iman kita, tempat perjumpaan kita dengan Allah yang mempersembahkan diri-Nya untuk membuat kita dilahirkan kembali kepada kehidupan baru. Isyarat ini juga mengejutkan : sampai saat itu domba dikorbankan dan dipersembahkan sebagai korban kepada Allah, sekarang Yesus yang menjadikan diri-Nya Anak Domba dan mengorbankan diri-Nya untuk memberikan kehidupan kepada kita. Dalam Ekaristi kita merenungkan dan menyembah Allah kasih. Tuhan tidak memecah-mecahkan siapa pun tetapi memecah-mecahkan diri-Nya. Tuhan tidak menuntut pengorbanan tetapi mengorbankan diri-Nya. Tuhan tidak meminta apapun selain memberikan segalanya. Merayakan dan menghayati Ekaristi, kita juga dipanggil untuk menghayati kasih ini. Karena kamu tidak dapat memecah-mecahkan Roti Hari Minggu jika hatimu tertutup terhadap saudara-saudaramu. Kamu tidak bisa makan Roti ini jika kamu tidak memberikan roti kepada orang-orang yang lapar. Kamu tidak dapat membagikan Roti ini jika kamu tidak ikut serta dalam penderitaan orang-orang yang membutuhkan. Pada akhir segalanya, bahkan akhir liturgi Ekaristi kita yang khusyuk, hanya kasih yang akan tetap ada. Dan mulai sekarang, Ekaristi kita mengubah rupa dunia sejauh kita memperkenankan diri diubahrupa dan menjadi roti bagi orang lain.

 

Saudara dan saudari, juga hari ini ke mana "mempersiapkan perjamuan Tuhan"? Perarakan Sakramen Mahakudus - ciri khas Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, tetapi untuk saat ini kita belum bisa melakukannya - perarakan mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk pergi membawa Yesus. Dengan kegairahan pergi keluar membawa Kristus kepada orang-orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjadi sebuah Gereja dengan kendi di tangan, yang membangkitkan kehausan dan membawa air. Marilah kita membuka hati kita dalam kasih, menjadi ruangan yang luas dan ramah di mana setiap orang dapat masuk untuk bertemu Tuhan. Marilah memecah-mecahkan hidup kita dalam kasih sayang dan kesetiakawanan, agar dunia melihat melalui kita keagungan kasih Allah. Dan kemudian Tuhan akan datang, Ia kembali akan mengejutkan kita, Ia akan menjadikan diri-Nya santapan untuk kehidupan dunia. Dan santapan itu akan memuaskan kita selamanya, sampai hari ketika, dalam perjamuan surgawi, kita akan merenungkan wajah-Nya dan bersukacita tanpa akhir.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 23 Mei 2021 : ROH KUDUS ADALAH PARAKLETOS, SANG PENGHIBUR DAN PEMBELA


Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29bc,-30,31,34; Gal. 5:16-25; Yoh. 15:26-27; 16:12-15.

 

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang …” (Yoh 15:26). Dengan kata-kata ini, Yesus berjanji untuk mengutus Roh Kudus, karunia tertinggi, karunia dari segala karunia, kepada murid-murid-Nya. Ia mempergunakan kata yang tidak biasa dan misterius untuk menggambarkan Roh Kudus : Parakletos. Hari ini marilah kita bercermin pada kata ini, yang tidak mudah diterjemahkan, karena memiliki sejumlah arti. Pada dasarnya, Parakletos berarti dua hal : Penghibur dan Pembela.

 

Parakletos adalah Penghibur. Kita semua, terutama pada saat-saat sulit seperti yang sedang kita alami saat ini akibat pandemi, mencari penghiburan. Namun, sering kali, kita hanya berpaling pada penghiburan duniawi, penghiburan yang bersifat sementara yang dengan cepat memudar. Hari ini, kepada kita Yesus menawarkan penghiburan surgawi, Roh Kudus, yang adalah "Penghibur yang ulung" (Sekuensia). Apa bedanya? Penghiburan dunia seperti pereda rasa nyeri : penghiburan dunia dapat memberikan kelegaan sesaat, tetapi tidak menyembuhkan penyakit yang bercokol di lubuk hati kita. Penghiburan dunia bisa menenangkan kita, tetapi pada intinya tidak menyembuhkan kita. Penghiburan dunia bekerja di permukaan, di tingkat indrawi, tetapi hampir tidak menyentuh hati kita. Hanya seseorang yang membuat kita merasa dikasihi apa adanya yang dapat memberikan kedamaian di hati kita. Roh Kudus, kasih Allah, melakukan hal itu dengan tepat. Ia turun di dalam diri kita; sebagai Roh, Ia bertindak dalam roh kita. Ia turun "di dalam hati", sebagai "sahabat jiwa" (Sekuensia). Ia adalah kasih Allah, yang tidak meninggalkan kita; karena kehadiran-Nya merupakan sumber penghiburan bagi orang-orang yang kesepian.

 

Saudari terkasih, saudara terkasih, jika kamu merasakan gelapnya kesepian, jika kamu merasakan rintangan di dalam dirimu menghalangi jalan untuk berharap, jika hatimu memiliki luka yang bernanah, jika kamu tidak melihat jalan keluar, bukalah hatimu kepada Roh Kudus. Santo Bonaventura memberitahu kita bahwa, “semakin besar pencobaan, Roh Kudus membawa penghiburan yang semakin besar, tidak seperti dunia, yang menghibur dan menyanjung kita ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik, tetapi mencemooh dan mengutuk kita ketika terjadi sebaliknya” (Homili dalam Oktaf Hari Raya Kenaikan Tuhan). Itulah apa yang dilakukan dunia, terutama yang dilakukan oleh Iblis, sang roh permusuhan. Pertama, ia menyanjung kita dan membuat kita merasa tak terkalahkan (karena rayuan iblis memelihara kesombongan kita); lalu ia menjatuhkan kita dan membuat kita merasa bahwa kita gagal. Ia mempermainkan kita. Ia melakukan segalanya untuk menjatuhkan kita, sedangkan Roh Tuhan yang bangkit ingin membangkitkan kita. Lihatlah para rasul: mereka sendirian pagi itu, sendirian dan kebingungan, meringkuk di balik pintu-pintu yang tertutup, hidup dalam ketakutan dan kewalahan oleh kelemahan, kegagalan dan dosa mereka, karena mereka telah menyangkal Kristus. Tahun-tahun yang mereka habiskan bersama Yesus tidak mengubah mereka : mereka tidak berbeda dari sebelumnya. Kemudian, mereka menerima Roh Kudus dan segalanya berubah : masalah dan kegagalan tetap ada, namun mereka tidak lagi takut pada masalah dan kegagalan, atau siapa pun yang akan memusuhi mereka. Mereka merasakan penghiburan di dalam diri mereka dan mereka ingin berkelimpahan dengan penghiburan Allah. Sebelumnya, mereka takut; sekarang satu-satunya ketakutan mereka adalah tidak bersaksi tentang kasih yang telah mereka terima. Yesus telah menubuatkan hal ini : “Ia [Roh Kudus] akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi” (Yoh 15:26-27).

 

Marilah kita melangkah lagi. Kita juga dipanggil untuk bersaksi di dalam Roh Kudus, untuk menjadi parakletos, penghibur. Roh Kudus meminta kita untuk mewujudkan penghiburan yang dibawa-Nya. Bagaimana kita bisa melakukan hal ini? Bukan dengan berpidato yang bagus, tetapi dengan mendekati sesama. Bukan dengan kata-kata hambar, tetapi dengan doa dan kedekatan. Marilah kita ingat bahwa kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan adalah “merek dagang” Allah, selalu. Parakletos memberitahu Gereja bahwa hari ini adalah masa penghiburan. Masa untuk memberitakan Injil dengan sukacita ketimbang memerangi paganisme. Masa untuk membawa sukacita Tuhan yang bangkit, bukannya meratapi drama sekularisasi. Masa untuk mencurahkan kasih kepada dunia, bukannya merangkul keduniawian. Bahkan masa untuk bersaksi tentang belas kasihan, bukannya menanamkan aturan dan regulasi. Masa Parakletos! Masa kebebasan hati, dalam Parakletos.

 

Parakletos juga merupakan Pembela. Pada zaman Yesus, para pembela tidak melakukan apa yang mereka lakukan hari ini : bukannya berbicara di tempat terdakwa, mereka hanya berdiri di samping si terdakwa dan menyarankan alasan yang dapat dipergunakannya untuk membela diri. Itulah yang dilakukan Parakletos, karena Ia adalah "Roh Kebenaran" (ayat 26). Ia tidak menggantikan kita, tetapi melindungi kita dari tipu daya kejahatan dengan mengilhami pikiran dan perasaan. Ia melakukannya secara diam-diam, tanpa memaksa kita : Ia mengusulkan tetapi tidak memaksa. Roh tipu daya, si jahat, melakukan sebaliknya : ia mencoba memaksa kita; ia ingin membuat kita berpikir bahwa kita harus selalu menyerah pada daya pikat dan bisikan kejahatan. Marilah kita mencoba menerima tiga saran yang menjadi ciri khas Parakletos, Sang Pembela kita. Ketiga saran tersebut adalah penangkal dasariah terhadap tiga godaan yang dewasa ini begitu meluas.

 

Saran pertama yang ditawarkan oleh Roh Kudus adalah, “Hiduplah di masa sekarang”. Masa sekarang, bukan masa lalu atau masa depan. Parakletos menegaskan keutamaan hari ini, menentang godaan untuk membiarkan diri kita dilumpuhkan oleh dendam atau kenangan masa lalu, atau oleh ketidakpastian atau ketakutan akan masa depan. Roh Kudus mengingatkan kita akan rahmat saat ini. Tidak ada masa yang lebih baik bagi kita : sekarang, di sini dan sekarang, adalah satu-satunya masa untuk berbuat baik, menjadikan hidup kita sebagai karunia. Marilah kita hidup di masa sekarang!

 

Roh Kudus juga memberitahu kita, “Pandanglah seluruhnya”. Keseluruhan, bukan sebagian. Roh Kudus tidak membentuk individu yang terasing, tetapi membentuk kita menjadi Gereja dalam berbagai karisma kita, menjadi satu kesatuan yang tidak pernah seragam. Parakletos menegaskan keutamaan keseluruhan. Di sanalah, secara keseluruhan, dalam komunitas, Roh Kudus lebih memilih untuk bekerja dan membawa kebaruan. Marilah kita melihat para rasul. Mereka semua sangat berbeda. Misalnya, Matius, seorang pemungut cukai yang bekerja sama dengan orang Romawi, dan Simon yang disebut orang Zelot, yang tidak sealiran dengan mereka, termasuk di antara mereka. Mereka memiliki gagasan politik yang berbeda, daya lihat dunia yang berbeda. Namun begitu mereka menerima Roh Kudus, mereka belajar untuk memberikan keutamaan bukan pada sudut pandang manusiawi tetapi pada “keseluruhan” yang merupakan rencana Allah. Hari ini, jika kita mendengarkan Roh Kudus, kita tidak akan peduli dengan kaum konservatif maupun kaum progresif, kaum tradisionalis maupun kaum pembaharu, sayap kanan maupun sayap kiri. Ketika itu menjadi kriteria kita, maka Gereja telah melupakan Roh Kudus. Parakletos mendorong kita menuju persatuan, kerukunan, keselarasan keanekaragaman. Ia membuat kita melihat diri kita sendiri sebagai bagian dari tubuh yang sama, saling bersaudara. Marilah kita melihat keseluruhan! Musuh menginginkan keanekaragaman menjadi oposisi dan karenanya ia menjadikannya sebagai ideologi. Katakan tidak untuk ideologi, ya untuk keseluruhan.

 

Saran ketiga dari Roh Kudus adalah, "Utamakan Allah”. Ini adalah langkah menentukan dalam kehidupan rohani, yang bukan merupakan penjumlahan pahala dan pencapaian kita, tetapi keterbukaan yang rendah hati kepada Allah. Roh Kudus menegaskan keutamaan rahmat. Hanya dengan mengosongkan diri, kita menyisakan ruang untuk Tuhan; hanya dengan memberikan diri kepada-Nya, kita menemukan diri kita; hanya dengan menjadi miskin dalam roh, kita menjadi kaya akan Roh Kudus. Ini juga berlaku untuk Gereja. Kita tidak menyelamatkan siapa pun, bahkan diri kita sendiri, dengan upaya kita. Jika kita memprioritaskan rancangan kita, tatanan kita, rencana kita untuk reformasi, kita hanya akan mementingkan efektivitas, efisiensi, kita hanya akan berpikir secara mendatar dan, akibatnya, kita tidak akan membuahkan hasil. Sebuah "-isme" adalah sebuah ideologi yang memecah-belah dan memisahkan. Gereja manusiawi, tetapi bukan hanya sebuah organisasi manusiawi, Gereja adalah bait Roh Kudus. Yesus membawa api Roh ke bumi dan Gereja direformasi dengan urapan rahmat, kecuma-cumaan pengurapan rahmat, kuasa doa, sukacita perutusan dan keindahan kemiskinan yang mengenyahkan amarah. Marilah kita mengutamakan Allah!

 

Roh Kudus, Roh Parakletos, penghibur hati kita. Jadikanlah kami misionaris penghiburan-Mu, parakletos belas kasihan-Mu di hadapan dunia. Pembela kami, penasihat jiwa yang manis, jadikanlah kami saksi-saksi "hari ini" Allah, para nabi persatuan Gereja dan umat manusia, dan para rasul yang berlandaskan rahmat-Mu, yang menciptakan dan memperbarui segala sesuatu. Amin.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 23 Mei 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH VII BERSAMA UMAT MYANMAR DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN - 16 Mei 2021 : MEMELIHARA IMAN, PERSATUAN DAN KEBENARAN


Bacaan Ekaristi : Kis. 1:15-17.20a.20c-26; Mzm. 103:1-2.11-12.19-20ab; 1Yoh. 4:11-16; Yoh. 17:11b-19.

 

Pada saat-saat terakhir hidup-Nya, Yesus berdoa. Di saat-saat yang menyedihkan itu, ketika ia bersiap untuk berpamitan dengan murid-murid-Nya dan dunia ini, Yesus mendoakan sahabat-sahabat-Nya. Meskipun Ia bahkan menanggung di dalam hati-Nya dan daging-Nya seluruh dosa dunia, Yesus terus mengasihi kita dan mendoakan kita. Dari doa-Nya, kita belajar bagaimana menghadapi saat-saat dramatis dan menyakitkan dalam hidup kita. Marilah kita memikirkan satu kata khusus yang dipergunakan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa : kata tersebut adalah kata “memelihara”. Saudara dan saudari yang terkasih, pada hari-hari ketika negara Myanmar yang kamu cintai sedang mengalami kekerasan, pertikaian, dan penindasan, marilah kita bertanya pada diri sendiri : kita sedang dipanggil untuk memelihara apa?

 

Pertama, memelihara iman. Kita perlu memelihara iman agar tidak menyerah pada kesedihan atau jatuh ke dalam keputusasaan orang-orang yang tidak lagi melihat jalan keluar. Dalam Bacaan Injil, Yohanes memberitahu kita bahwa Yesus, sebelum mengucapkan sepatah kata pun, “menengadah ke langit” (Yoh 17:1). Di saat-saat terakhir hidup-Nya ini, Yesus terbebani oleh kesedihan akan sengsara yang akan dihadapi-Nya, sadar akan malam kelam yang akan Ia alami, merasa dikhianati dan ditinggalkan. Namun di saat yang sama, Ia menengadah ke langit. Yesus mengalihkan pandangan-Nya kepada Allah. Ia tidak pasrah pada kejahatan; Ia tidak membiarkan diri-Nya diliputi oleh kesedihan; Ia tidak menarik diri ke dalam kepahitan orang yang kalah dan kecewa; sebaliknya, Ia memandang ke surga. Ini adalah nasihat yang sama yang Ia berikan kepada murid-murid-Nya : ketika Yerusalem diduduki oleh balatentara, dan orang-orang sedang melarikan diri dengan cemas di tengah ketakutan dan kehancuran, Ia mengatakan kepada mereka, “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat" (Luk 21:28). Memelihara iman berarti memelihara pandangan kita tetap terangkat ke surga, seperti di bumi ini, pertempuran terjadi dan darah orang-orang yang tidak bersalah ditumpahkan. Memelihara iman berarti menolak untuk menyerah pada nalar kebencian dan balas dendam, tetapi tetap mengarahkan pandangan kita kepada Allah kasih, yang memanggil kita untuk saling bersaudara.

 

Doa menuntun kita untuk percaya kepada Allah bahkan di saat-saat sulit. Doa membantu kita untuk berharap ketika segala sesuatunya tampak tanpa harapan dan doa menopang kita dalam pergumulan kita sehari-hari. Doa bukanlah penarikan diri, pelarian, dalam menghadapi masalah. Doa justru merupakan satu-satunya senjata yang kita miliki untuk memelihara kasih dan harapan tetap hidup di tengah senjata kematian. Mengangkat pandangan kita saat kita terluka tidak mudah, tetapi iman membantu kita menahan godaan untuk menyerahkan diri. Kita mungkin ingin melakukan protes, berseru kepada Allah dalam penderitaan kita. Kita tidak perlu takut melakukannya, karena itu juga doa. Seorang nenek pernah berkata kepada cucunya : “marah kepada Allah juga bisa menjadi salah satu bentuk doa”; kebijaksanaan orang benar dan sederhana, yang tahu kapan harus mengangkat mata mereka di saat-saat sulit… Kadang kala doa itulah yang lebih didengar Allah ketimbang doa-doa lainnya, karena berasal dari hati yang terluka dan Allah selalu mendengar jeritan umat-Nya dan mengeringkan air mata mereka. Saudara dan saudari yang terkasih, tetaplah memandang ke surga. Peliharalah imanmu!

 

Kedua, memelihara persatuan. Yesus memohon kepada Bapa untuk memelihara persatuan murid-murid-Nya, supaya mereka “menjadi satu” (Yoh 17:21), satu keluarga yang di dalamnya kasih dan persaudaraan berkuasa. Ia tahu apa yang ada di dalam hati murid-murid-Nya; Ia telah melihat mereka terkadang mempertengkarkan tentang siapa yang terbesar, siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Inilah penyakit yang mematikan : penyakit perpecahan. Kita pun mengalaminya di dalam hati kita, karena hati kita terbagi-bagi; kita mengalaminya dalam keluarga dan masyarakat, di antara bangsa-bangsa, bahkan di dalam Gereja. Banyak dosa melawan persatuan : iri hati, kecemburuan, mengejar kepentingan pribadi daripada kebaikan bersama, kecenderungan untuk menghakimi orang lain. Pertikaian-pertikaian kecil kita itu tercermin dalam pertikaian-pertikaian besar, seperti pertikaian yang sedang dialami negaramu pada hari-hari ini. Begitu kepentingan pihak-pihak tertentu serta kehausan akan keuntungan dan kekuasaan mengambil alih, pertikaian dan perpecahan pasti berkobar. Seruan terakhir yang dibuat Yesus sebelum Paskah-Nya adalah seruan untuk persatuan. Karena perpecahan berasal dari iblis, sang pemecah-belah dan pendusta besar yang selalu menciptakan perpecahan.

 

Kita dipanggil untuk memelihara persatuan, menanggapi dengan sungguh-sungguh permohonan sepenuh hati Yesus kepada Bapa : supaya benar-benar menjadi satu, menjadi sebuah keluarga, menemukan keberanian hidup dalam persahabatan, kasih dan persaudaraan. Betapa besar kebutuhan kita, terutama pada hari ini, akan persaudaraan! Saya tahu bahwa sebagian situasi politik dan sosial lebih besar dari diri kita. Namun komitmen akan perdamaian dan persaudaraan selalu berasal dari bawah : setiap orang, dalam hal-hal kecil, dapat memainkan peranannya. Dalam hal-hal kecil, kamu masing-masing dapat berusaha menjadi pembangun persaudaraan, penabur persaudaraan, seseorang yang bekerja untuk membangun kembali apa yang rusak ketimbang mengobarkan kekerasan. Kita juga dipanggil untuk melakukan hal ini sebagai Gereja; marilah kita menggalakkan dialog, menghormati orang lain, peduli terhadap saudara dan saudari kita, persekutuan! Kita tidak dapat membiarkan cara berpikir pihak tertentu masuk ke dalam Gereja, cara berpikir yang memecah belah, yang mengutamakan setiap individu seraya mengesampingkan orang lain. Hal ini sangat merusak : cara berpikir tersebut menghancurkan keluarga, Gereja, masyarakat dan kita masing-masing.

 

Terakhir, yang ketiga, kita dipanggil untuk memelihara kebenaran. Yesus memohon kepada Bapa untuk menguduskan murid-murid-Nya dalam kebenaran karena mereka akan diutus ke seluruh dunia untuk melaksanakan perutusan-Nya. Memelihara kebenaran tidak berarti mempertahankan gagasan, menjadi penjaga sistem ajaran dan dogma, tetapi tetap terikat kepada Kristus dan mengabdi kepada Injil-Nya. Kebenaran, bagi rasul Yohanes, adalah Kristus sendiri, pewahyuan kasih Bapa. Yesus berdoa agar murid-murid-Nya, meskipun hidup di dunia, tidak mengikuti kriteria dunia ini. Mereka tidak boleh membiarkan diri mereka terpikat oleh berhala-berhala, tetapi memelihara persahabatan mereka dengan-Nya; mereka tidak membelokkan Injil ke cara berpikir manusiawi dan duniawi, tetapi mempertahankan pesannya secara utuh. Memelihara kebenaran berarti menjadi seorang nabi dalam setiap situasi kehidupan, dengan kata lain dikuduskan bagi Injil dan memberi kesaksian bahkan ketika hal itu berarti melawan arus. Kadang kali, kita umat Kristiani ingin berkompromi, tetapi Injil meminta kita untuk teguh dalam kebenaran dan demi kebenaran, mempersembahkan hidup kita untuk orang lain. Di tengah perang, kekerasan dan kebencian, kesetiaan pada Injil dan menjadi pembawa damai menuntut komitmen, juga melalui pilihan sosial dan politik, bahkan dengan resiko hidup kita. Hanya dengan cara inilah hal-hal bisa berubah. Tuhan tidak menginginkan kita bersikap suam-suam kuku. Ia ingin kita dikuduskan dalam kebenaran dan keindahan Injil, sehingga kita dapat memberikan kesaksian tentang sukacita kerajaan Allah bahkan di malam kelam kesedihan, bahkan ketika kejahatan tampaknya berada di atas angin.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, hari ini saya ingin meletakkan di atas altar Tuhan, penderitaan umat-Nya dan bergabung dengan kamu sekalian dalam doa agar Allah sudi mempertobatkan segenap hati menuju perdamaian. Doa Yesus membantu kita memelihara iman, bahkan di saat-saat sulit, untuk menjadi para pembangun persatuan dan mempertaruhkan hidup kita demi kebenaran Injil. Tolong, jangan kehilangan harapan : bahkan hingga hari ini, Yesus sedang menjadi pengantara di hadapan Bapa, Ia berdiri di hadapan Bapa dalam doa-Nya. Ia menunjukkan kepada Bapa, dalam doa-Nya, luka-luka yang dengannya Ia membayar keselamatan kita. Dalam doa ini Yesus menjadi pengantara kita semua, berdoa agar Bapa menjaga kita dari si jahat dan membebaskan kita dari kuasa si jahat.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH IV (MISA TAHBISAN IMAM) 25 April 2021 : PARA IMAM HARUS MENGADOPSI EMPAT BENTUK KEDEKATAN AGAR MENJADI GEMBALA YANG BAIK

Bacaan Liturgi : Kis. 4:8-12; Mzm. 118:1,8-9,21-23,26,28cd,29; 1Yoh. 3:1-2; Yoh. 10:11-18. 

Saudara-saudara yang terkasih, anak-anak kita ini telah dipanggil ke dalam jenjang presbiterat. Marilah kita dengan seksama memikirkan pelayanan apa yang akan mereka tingkatkan di dalam Gereja.

 

Seperti yang kamu ketahui, saudara-saudara, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Imam Besar Perjanjian Baru; tetapi di dalam diri-Nya juga segenap umat Allah yang kudus diangkat menjadi umat yang imami. Meskipun demikian, di antara semua murid-Nya, Tuhan Yesus ingin memilih beberapa orang secara khusus, sehingga dengan secara terbuka menjalankan jabatan imamat di dalam Gereja atas nama-Nya demi kepentingan semua orang, mereka akan melanjutkan perutusan pribadi-Nya sebagai guru, imam dan gembala.

 

Setelah permenungan yang matang, sekarang kita akan mengangkat saudara-saudara ini ke dalam jenjang presbiterat, sehingga dalam melayani Kristus Sang Guru, Imam dan Gembala mereka bekerjasama dalam membangun tubuh Kristus, yaitu Gereja, menjadi umat Allah. dan bait suci Roh Kudus.

 

Adapun bagimu, anak-anak yang terkasih, yang akan diangkat ke jenjang presbiterat, pikirkan bahwa dengan menjalankan pelayanan ajaran suci kamu akan berperan serta dalam perutusan Kristus, Guru satu-satunya. Kamu akan menjadi gembala seperti Dia, inilah yang Ia inginkan darimu. Gembala. Gembala umat Allah yang kudus. Gembala yang pergi bersama-sama umat Allah : terkadang di depan kawanan dombanya, terkadang di tengah atau di belakang, tetapi selalu di sana, bersama umat Allah.

 

Pada suatu ketika - dalam bahasa masa lalu - ada pembicaraan tentang "karir gerejawi", yang tidak memiliki arti yang sama seperti saat ini. Ini bukanlah sebuah "karir" : sebuah pelayanan, sebuah pelayanan seperti yang telah diperbuat Allah kepada umat-Nya. Dan pelayanan Allah kepada umat-Nya ini memiliki "jejak", memiliki gaya, gaya yang harus kamu ikuti. Gaya kedekatan, gaya kasih sayang dan gaya kelembutan. Inilah gaya Allah. Kedekatan, kasih sayang, kelembutan.

 

Lingkungan sekitar. Ada empat lingkungan imam. Kedekatan dengan Allah dalam doa, sakramen-sakramen, Misa. Bicara kepada Tuhan, dekat dengan Tuhan. Ia menjadikan diri-Nya dekat dengan kita dalam Putra-Nya. Seluruh cerita Putra-Nya. Ia juga telah dekat denganmu, dengan kamu masing-masing, di jalan hidupmu hingga saat ini. Bahkan di saat-saat buruk dosa, kedekatan itu tetap ada. Kedekatan. Dekat dengan umat Allah yang kudus. Tetapi pertama-tama dekat dengan Allah, dengan doa. Seorang imam yang tidak berdoa perlahan-lahan memadamkan api Roh di dalam dirinya. Kedekatan dengan Allah.

 

Kedua : kedekatan dengan Uskup, dan dalam hal ini dengan "Wakil Uskup". Tetap dekat, karena di dalam Uskup kamu akan memiliki kesatuan. Kamu adalah, saya tidak memaksudkan hamba - kamu adalah hamba Allah - tetapi rekan kerja Uskup. Kedekatan. Saya ingat suatu kali, dahulu kala, seorang imam yang mengalami kemalangan - bisa dibilang - "terpeleset" ... Hal pertama yang ada dalam benak saya adalah menelepon Uskup. Bahkan di saat-saat buruk ia memanggil Uskup untuk dekat dengannya. Kedekatan dengan Allah dalam doa, kedekatan dengan Uskup. “Tetapi saya tidak menyukai Uskup ini…”. Tetapi ia adalah bapamu. "Tetapi Uskup ini memperlakukan saya dengan buruk ...". Bersikaplah rendah hati, pergilah kepada Uskup.

 

Ketiga : kedekatan di antara kamu. Dan saya menyarankan kamu membuat sebuah ketetapan hati hari ini : jangan pernah berbicara buruk tentang seorang saudara imam. Jika kamu memiliki sesuatu yang bertentangan dengan orang lain, jadilah lelaki, kamu memiliki celana : pergilah ke sana, dan katakan padanya di depan wajahnya. "Tetapi ini adalah hal yang sangat buruk ... aku tidak tahu bagaimana ia akan menerimanya ...". Pergilah kepada Uskup, yang membantumu. Tetapi jangan pernah, jangan pernah bergosip. Jangan banyak bicara. Jangan jatuh ke dalam gosip. Kesatuan di antara kalian : dalam dewan imam, dalam komisi, di tempat kerja. Kedekatan antara kamu dan Uskup.

 

Dan keempat : bagi saya, setelah Allah, kedekatan yang paling penting adalah dengan umat Allah yang kudus. Tak satu pun dari kamu belajar untuk menjadi seorang imam. Kamu telah mempelajari ilmu-ilmu gerejawi, sebagaimana dikatakan Gereja itu harus dilakukan. Tetapi kamu dipilih, diambil dari umat Allah. Tuhan berkata kepada Daud : "Aku telah mengambilmu dari kawanan domba". Jangan lupa dari mana asalmu : keluargamu, umatmu ... Jangan kehilangan rasa sebagai umat Allah. Paulus berkata kepada Timotius : "Ingatlah ibumu, nenekmu ...". Ya, darimana asalmu. Dan umat Allah itu ... Penulis Surat kepada orang Ibrani mengatakan : "Ingatlah orang-orang yang memperkenalkanmu pada iman". Imam umat, bukan klerus negara!

 

Empat kedekatan imam : kedekatan dengan Allah, kedekatan dengan uskup, kedekatan di antaramu, kedekatan dengan umat Allah. Gaya kedekatan yang merupakan gaya Allah. Tetapi gaya Allah juga merupakan gaya kasih sayang dan kelembutan. Jangan menutup hatimu dari masalah. Dan kamu akan melihat begitu banyak! Ketika umat datang untuk memberitahumu tentang masalah mereka dan didampingi… kamu menghabiskan waktu untuk mendengarkan dan menghibur. Kasih sayang, yang menuntunmu pada pengampunan, belas kasihan. Tolong: berbelas kasihanlah, jadilah pengampun. Karena Allah mengampuni segalanya, Ia tidak pernah lelah mengampuni, kitalah yang lelah memohon pengampunan. Kedekatan dan kasih sayang. Tetapi kasih sayang yang lembut, dengan kelembutan keluarga, saudara, seorang ayah ... dengan kelembutan itu yang membuatmu merasakan bahwa kamu berada di rumah Allah.

 

Saya berharap kamu memiliki gaya ini, gaya yang merupakan gaya Allah ini.

 

Dan kemudian, saya menyebutkan sesuatu kepadamu dalam Sakristi, tetapi saya ingin menyebutkannya di sini di hadapan umat Allah. Tolong, jauhi kesombongan, kebanggaan akan uang. Iblis masuk "dari kantong". Pikirkan tentang hal ini. Jadilah miskin, karena umat Allah yang kudus adalah miskin. Umat yang miskin yang mengasihi kaum miskin. Jangan menjadi pendaki. "Karir gerejawi" ... Kemudian kamu menjadi pejabat, dan ketika seorang imam mulai menjadi seorang wirausahawan, baik di paroki maupun di perguruan tinggi ..., di mana pun ia berada, ia kehilangan kedekatan dengan umat, ia kehilangan kemiskinan yang menjadikannya serupa dengan Kristus yang miskin dan disalibkan, serta menjadi pengusaha, imam pengusaha dan bukan pelayan. Saya mendengar sebuah cerita yang menyentuh hati saya. Seorang imam yang sangat cerdas, sangat praktis, sangat cakap, yang memegang banyak tugas administrasi, tetapi suatu hari hatinya terikat pada jabatan itu, karena ia melihat salah satu karyawannya, seorang lelaki tua, telah melakukan kesalahan, memarahinya, mengusirnya. Dan orang tua itu meninggal karenanya. Orang itu telah ditahbiskan sebagai imam, dan berakhir sebagai pengusaha yang kejam. Selalu milikilah gambaran ini, selalu milikilah gambaran ini.

 

Gembala yang dekat dengan Allah, dengan Uskup, di antaramu, dan dengan umat Allah. Gembala : hamba sebagai gembala, bukan pengusaha. Dan menjauhlah dari uang.

 

Dan kemudian, ingatlah bahwa jalan keempat lingkungan sekitar ini indah, jalan menjadi gembala ini, karena Yesus menghibur para gembala, karena Ia adalah Sang Gembala yang baik. Dan mencari penghiburan di dalam Yesus, mencari penghiburan dalam Bunda Maria - jangan lupakan Bunda Maria - carilah selalu penghiburan di sana : dihibur dari sana.

 

Dan memikul salib - akan ada beberapa salib dalam hidup kita - di tangan Yesus dan Bunda Maria. Dan jangan takut, jangan takut. Jika kamu dekat dengan Tuhan, Uskup, di antaramu sendiri, dan umat Allah, jika kamu memiliki gaya Allah - kedekatan, kasih sayang dan kelembutan - jangan takut, semuanya akan baik-baik saja.

 

NB : para diakon yang ditahbiskan menjadi imam adalah Diakon Georg Marius Bogdan, Diakon Salvatore Marco Montone, Diakon Manuel Secci, Diakon Diego Armando Barrera Parra, Diakon Salvatore Lucchesi, Diakon Giorgio de Iuri, Diakon Riccardo Cendamo, Samuel Piermarini dan Diakon Mateus Henrique Ataide da Cruz.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 25 April 2021)