Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 Februari 2019 : KITA SEMUA MEMILIKI KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN

Bacaan Ekaristi : Ibr. 12:18-19,21-24; Mzm. 48:2-3a,3b-4,9,10,11; Mrk. 6:7-13.

Kita semua membutuhkan kesembuhan. Lakukanlah demikian : bertobat, sembuh dan jadilah baru. Paus Fransiskus menekankan hal ini dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi 7 Februari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, ketika beliau merenungkan pertobatan dan penyembuhan yang dibutuhkan kita semua.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION ZAYED SPORTS CITY, ABU DHABI (UNI EMIRAT ARAB) 5 Februari 2019 : SABDA BAHAGIA ADALAH PETA PERJALANAN HIDUP KITA

Berbahagialah : inilah kata yang mengawali khotbah Yesus dalam Injil Matius. Dan kata tersebut merupakan sebuah refren yang Ia ulangi hari ini, seolah-olah untuk menetapkan dalam hati kita, melebihi apa pun, sebuah pesan penting : jika kamu bersama Yesus, jika kamu suka mendengarkan sabda-Nya seperti yang dilakukan para murid pada waktu itu, jika kamu berusaha mengamalkan sabda ini setiap hari, maka kamu berbahagia. Kamu bukan akan berbahagia, tetapi kamu berbahagia; inilah kebenaran pertama yang kita ketahui tentang kehidupan Kristiani. Kehidupan Kristiani bukan sekedar daftar pedoman lahiriah yang harus dipenuhi atau seperangkat ajaran yang harus diketahui. Kehidupan Kristiani, pertama-tama dan terutama, bukan hal ini; melainkan pengetahuan bahwa, di dalam Yesus, kita adalah anak-anak Bapa yang tercinta. Kehidupan Kristiani berarti menghayati dengan penuh sukacita hal berbahagia ini, ingin menjalani kehidupan sebagai sebuah kisah kasih, kisah kesetiaan kasih Allah, Ia yang tidak pernah meninggalkan kita dan berharap selalu bersekutu dengan kita. Inilah alasan kita untuk bersukacita, sebuah sukacita yang tak dapat diambil dari kita oleh siapapun di dunia ini dan keadaan sekitar kehidupan kita. Kehidupan Kristiani adalah sebuah sukacita yang memberikan kedamaian juga di tengah-tengah penderitaan, sebuah sukacita yang sudah membuat kita ikut serta dalam kebahagiaan abadi yang menanti kita. Saudara dan saudari terkasih, dalam sukacita bertemu kalian, inilah kata yang telah saya sampaikan kepada kalian : berbahagialah!

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-23) 2 Februari 2019

Bacaan Ekaristi : Mal. 3:1-4; Mzm. 24:7,8,9,10; Ibr. 2:14-18; Luk. 2:22-40.

Liturgi hari ini menunjukkan Yesus yang pergi keluar untuk menemui umat-Nya. Liturgi hari ini adalah hari pesta perjumpaan : kebaruan Sang Anak berjumpa dengan tradisi bait Allah; janji tergenapi; Maria dan Yosef yang masih muda berjumpa dengan Simeon dan Hana yang sudah tua. Oleh karena itu, segala sesuatunya bertemu ketika Yesus datang.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 1 Februari 2019 : BERTEKUN DALAM INGATAN DAN HARAPAN PADA SAAT-SAAT KEHANCURAN

Bacaan Ekaristi : Ibr. 10:32-39; Mzm. 37:3-4,5-6,23-24,39-40; Mrk. 4:26-34.

Kehancuran dan saat-saat kelam membuat kita kehilangan makna akan berbagai hal yang harus dipertahankan umat Kristiani untuk menggapai janji Tuhan tanpa jatuh atau mundur. Inilah permenungan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi, 1 Februari 2019, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau merujuk pada Bacaan Pertama (Ibr. 10:32-39), yang dialamatkan penulisnya kepada umat Kristiani yang sedang melalui saat penganiayaan yang kelam, sama seperti yang dilalui oleh setiap orang, termasuk Yesus yang mengalami saat-saat kehancuran.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 31 Januari 2019 : PARA IMAM SEHARUSNYA BERSUKACITA SEPERTI SANTO YOHANES BOSCO

Bacaan Ekaristi : Ibr. 10:19-25; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Mrk. 4:21-25.

Para imam seharusnya bersukacita dan melihat berbagai hal dari sudut pandang manusia dan ilahi, seperti yang dilakukan Santo Yohanes Bosco. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 31 Januari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau mendorong para imam untuk meneladan Don Bosco, yang memandang kenyataan dengan hati seorang bapa dan seorang guru, seperti yang kita baca dalam Doa Pembukaan. Sudut pandang tersebut menunjukkan kepadanya jalan ke depan : ia tergerak melihat kaum muda yang malang di jalanan, dan mencari cara untuk membantu mereka tumbuh. Ia berjalan bersama mereka, dan ia menangis bersama mereka.