Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RABU ABU 17 Februari 2021 : MASA PRAPASKAH MERUPAKAN SEBUAH PERJALANAN KEMBALI KEPADA ALLAH

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Kita sekarang sedang memulai perjalanan Masa Prapaskah kita, yang dibuka dengan perkataan nabi Yoel. Perkataan tersebut menunjukkan jalan yang harus kita ikuti. Kita mendengar undangan yang muncul dari hati Allah, yang dengan tangan terbuka dan mata penuh kerinduan memohon kepada kita : "Kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu" (Yl 2:12). Kembalilah kepada-Ku. Masa Prapaskah adalah perjalanan kembali kepada Allah. Berapa kali, dalam kesibukan atau ketidakacuhan kita, kita telah mengatakan kepada-Nya : "Tuhan, nanti aku akan datang kepada-Mu, tunggu sebentar ... Hari ini aku tidak bisa datang, tetapi besok aku akan mulai berdoa dan melakukan sesuatu untuk sesama". Kita melakukan hal ini, berulang kali. Tetapi, sekarang juga, Allah sedang berbicara kepada hati kita. Dalam kehidupan ini, kita akan selalu memiliki hal-hal yang harus dilakukan dan mengajukan berbagai alasan, tetapi sekarang juga, saudara dan saudari, sekarang juga adalah waktu untuk kembali kepada Allah.

 

 

Kembalilah kepada-Ku, sabda-Nya, dengan segenap hatimu. Masa Prapaskah adalah perjalanan yang melibatkan seluruh kehidupan kita, segenap diri kita. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memeriksa jalan yang sedang kita ambil, menemukan jalan pulang dan menemukan kembali hubungan kita yang terdalam dengan Allah, yang pada-Nya segala sesuatu bergantung. Masa Prapaskah bukan berkenaan dengan pengorbanan-pengorbanan kecil yang kita buat, tetapi pembedaan ke mana hati mengarah. Inilah inti Masa Prapaskah : menanyakan ke mana hatiku mengarah? Marilah kita bertanya : ke mana sistem penunjuk arah hidupku membawaku - menuju Allah atau menuju diriku? Apakah aku hidup untuk menyenangkan Tuhan, atau untuk diperhatikan, dipuji, ditempatkan di barisan depan… ? Apakah aku memiliki hati yang “goyah”, yang mengambil satu langkah maju dan kemudian satu langkah mundur? Apakah aku sedikit mengasihi Tuhan dan sedikit dunia, atau apakah hatiku teguh di dalam Allah? Apakah aku puas dengan kemunafikanku, atau apakah aku bekerja untuk membebaskan hatiku dari kepalsuan dan kebohongan yang mengikatnya?

 

Perjalanan Masa Prapaskah adalah sebuah keluaran dari perbudakan menuju kebebasan. Empat puluh hari yang berkaitan dengan empat puluh tahun perjalanan umat Allah di padang gurun untuk kembali ke tanah air mereka. Betapa sulitnya meninggalkan Mesir! Bagi umat Allah, lebih sulit meninggalkan Mesir hati, Mesir itu yang selalu mereka bawa di dalam diri mereka, ketimbang meninggalkan tanah Mesir. Sangat sulit untuk meninggalkan Mesir. Sepanjang perjalanan mereka, ada godaan merindukan bawang, kembali, melekat pada ingatan masa lalu, pada berhala ini atau itu. Demikian pula dengan kita : perjalanan kembali kita kepada Allah dihalangi oleh keterikatan kita yang tidak sehat, tertahan oleh jerat dosa kita yang menggoda, oleh andalan palsu dari uang dan penampilan, oleh kelumpuhan ketidakpuasan kita. Untuk memulai perjalanan ini, kita harus membuka topeng khayalan-khayalan ini.

 

Tetapi kita bertanya pada diri kita : lalu bagaimana kita melanjutkan perjalanan kembali kepada Allah? Kita bisa dibimbing oleh perjalanan pulang yang dijabarkan dalam Sabda Allah.

 

Kita dapat memikirkan anak yang hilang dan menyadari bahwa, bagi kita juga, inilah waktunya untuk kembali kepada Bapa. Seperti anak laki-laki itu, kita juga telah melupakan aroma akrab rumah kita, kita telah menyia-nyiakan warisan berharga untuk hal-hal remeh dan berakhir dengan tangan kosong dan hati yang tidak bahagia. Kita telah jatuh, seperti anak kecil yang terus menerus jatuh, balita yang mencoba berjalan tetapi terus jatuh dan butuh, berkali-kali, digendong oleh ayah mereka. Pengampunan Bapa yang selalu membuat kita bangkit kembali. Pengampunan Allah - Pengakuan Dosa - adalah langkah pertama dalam perjalanan kembali kita. Dalam menyebutkan Pengakuan Dosa, saya meminta para bapa pengakuan untuk menjadi seperti ayah, bukan menawarkan tongkat pukulan melainkan pelukan.

 

Kemudian kita perlu kembali kepada Yesus, seperti penderita kusta yang, setelah sembuh, kembali untuk mengucap syukur. Meskipun sepuluh penderita kusta telah disembuhkan, ia adalah satu-satunya yang diselamatkan, karena ia kembali kepada Yesus (bdk. Luk 17:12-19). Kita semua memiliki kelemahan rohani yang tidak dapat kita sembuhkan sendiri. Kita semua memiliki sifat buruk yang tidak dapat kita cerabut sendirian. Kita semua memiliki ketakutan yang melumpuhkan yang tidak dapat kita atasi sendirian. Kita perlu meneladan penderita kusta itu, yang kembali kepada Yesus dan tersungkur di kaki-Nya. Kita membutuhkan penyembuhan Yesus, kita perlu menunjukkan luka-luka kita kepada-Nya dan berkata : “Yesus, aku ada di hadapan-Mu, dengan dosaku, dengan kesedihanku. Engkau adalah tabib. Engkau bisa membebaskanku. Sembuhkanlah hatiku”.

 

Sekali lagi, sabda Allah meminta kita untuk kembali kepada Bapa, kembali kepada Yesus. Sabda Allah juga memanggil kita untuk kembali kepada Roh Kudus. Abu di kepala kita mengingatkan kita bahwa kita adalah debu dan kita akan kembali menjadi debu. Namun di atas debu kita ini, Allah menghembuskan Roh kehidupan-Nya. Jadi kita seharusnya tidak lagi menjalani hidup kita mengejar debu, mengejar hal-hal yang ada di sini hari ini dan besok pergi. Marilah kita kembali kepada Roh, Sang Pemberi Kehidupan; marilah kita kembali kepada Api yang membangkitkan abu kita, kepada Api yang mengajari kita untuk mengasihi. Kita akan selalu menjadi debu, tetapi sebagaimana dikatakan madah liturgi, “debu dalam kasih”. Marilah kita sekali lagi berdoa kepada Roh Kudus dan menemukan kembali api pujian, yang menghabiskan abu ratapan dan sikap terima nasib.

 

Saudara dan saudari, perjalanan kembali kita kepada Allah hanya mungkin karena Ia yang pertama kali melakukan perjalanan kepada kita. Kalau tidak, itu tidak mungkin. Sebelum kita mendatangi-Nya, Ia mendatangi kita. Ia mendahului kita; Ia turun untuk menemui kita. Demi kita, Ia merendahkan diri-Nya lebih dari yang bisa kita bayangkan : Ia menjadi dosa, Ia menjadi kematian. Demikian yang dikatakan Santo Paulus kepada kita: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita” (2 Kor 5:21). Bukan untuk meninggalkan kita tetapi untuk menyertai kita dalam perjalanan kita, Ia merangkul dosa dan kematian kita. Ia menjamah dosa kita; Ia menjamah kematian kita. Perjalanan kita kemudian adalah tentang memperkenankan Ia memegang kita. Bapa yang meminta kita pulang adalah Bapa yang meninggalkan rumah untuk mencari kita; Tuhan yang menyembuhkan kita adalah Tuhan yang membiarkan diri-Nya menderita di kayu salib; Roh yang memungkinkan kita untuk mengubah hidup kita adalah Roh yang bernapas dengan lembut namun kuat di atas debu kita.

 

Kemudian, inilah permohonan rasul Paulus : "didamaikan dengan Allah" (ayat 20). Didamaikan : perjalanan tidak berlandaskan kekuatan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa didamaikan dengan Tuhan sendirian. Pertobatan yang sepenuh hati, dengan perbuatan dan pengamalan yang mengungkapkannya, hanya mungkin jika dimulai dengan keutamaan karya Allah. Apa yang memungkinkan kita untuk kembali kepada-Nya bukanlah kemampuan atau jasa kita, tetapi tawaran rahmat-Nya. Rahmat menyelamatkan kita; keselamatan adalah rahmat semata, kecuma-cumaan semata. Yesus mengatakan hal ini dengan jelas dalam Injil : apa yang membenarkan kita bukanlah yang kita tunjukkan di hadapan sesama, tetapi hubungan kita yang tulus dengan Bapa. Awal kembali kepada Allah adalah pengakuan akan kebutuhan kita akan Dia dan belas kasihan-Nya, kebutuhan kita akan rahmat-Nya. Inilah jalan yang benar, jalan kerendahan hati. Apakah aku merasa membutuhkan, atau apakah aku merasa diriku berkecukupan?

 

Hari ini kita menundukkan kepala untuk menerima abu. Di akhir Masa Prapaskah, kita akan membungkuk lebih rendah lagi untuk membasuh kaki saudara-saudari kita. Masa Prapaskah adalah penurunan yang rendah hati baik ke dalam diri kita maupun ke arah sesama. Masa Prapaskah adalah tentang menyadari bahwa keselamatan bukanlah pendakian menuju kemuliaan, tetapi penurunan dalam kasih. Masa Prapaskah berkenaan dengan menjadi kecil. Agar kita tidak tersesat dalam perjalanan kita, marilah kita berdiri di hadapan salib Yesus : tahkta Allah yang sunyi. Marilah kita setiap hari merenungkan luka-luka-Nya, luka-luka yang Ia bawa ke surga dan tunjukkan setiap hari kepada Bapa dalam doa pengantaraan-Nya. Marilah kita setiap hari merenungkan luka-luka itu. Di dalam luka-luka itu, kita mengenali kekosongan kita, kekurangan kita, luka dosa kita dan semua luka yang telah kita alami. Namun di sana juga, kita melihat dengan jelas bahwa Allah tidak menuding siapa pun, tetapi justru membuka tangan-Nya untuk memeluk kita. Luka-Nya ditimpakan untuk kepentingan kita, dan oleh luka-luka itu kita telah disembuhkan (bdk. 1Ptr 2:25; Yes 53: 5). Dengan mencium luka-luka itu, kita akan menyadari bahwa di sana, dalam luka hidup yang paling menyakitkan, Allah menanti kita dengan belas kasihan-Nya yang tak terbatas. Karena di sana, di mana kita paling rentan, di mana kita merasa paling malu, Ia datang menemui kita. Dan setelah datang menemui kita, Ia sekarang mengundang kita untuk kembali kepada-Nya, menemukan kembali sukacita karena dikasihi.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 17 Februari 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-25) 2 Februari 2021 : KESABARAN ADALAH JAMINAN MUTU PARA PELAKU HIDUP BAKTI

Simeon, demikian Santo Lukas memberitahu kita, “menantikan penghiburan bagi Israel” (Luk 2:25). Ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus ke ke Bait Allah, ia menatang Sang Mesias. Orang yang mengenali terang yang datang untuk menyinari bangsa bukan Yahudi dalam diri Anak itu adalah seorang yang sudah lanjut usia yang dengan sabar menantikan penggenapan janji Tuhan.

 

Kesabaran Simeon. Marilah kita melihat lebih dekat kesabaran orang tua itu. Sepanjang hidupnya, ia telah menanti, melatih kesabaran hati. Dalam doanya, Simeon telah belajar bahwa Allah tidak datang dalam kejadian-kejadian yang luar biasa, tetapi berkarya di tengah kemiripan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam irama kegiatan kita yang sering membosankan, dalam hal-hal kecil yang, bekerja dengan keuletan dan kerendahan hati, kita capai dalam upaya kita untuk melakukan kehendak-Nya. Dengan ketekunan yang penuh kesabaran, Simeon tidak menjadi lelah seiring berjalannya waktu. Ia sekarang sudah tua, namun nyala api masih menyala terang di dalam hatinya. Dalam kehidupannya yang panjang, pasti ada saat-saat di mana ia pernah disakiti, kecewa, namun tidak putus asa. Ia percaya pada janji itu, dan tidak membiarkan dirinya diliputi oleh penyesalan masa lalu atau oleh rasa putus asa yang bisa datang saat kita mendekati senja hidup kita. Harapan dan penantiannya terungkap dalam kesabaran sehari-harinya yang, terlepas dari segala sesuatunya, tetap berjaga-jaga, sampai akhirnya "matanya melihat keselamatan" yang telah dijanjikan (bdk. Luk 2:30).

 

Saya bertanya pada diri saya sendiri : dari manakah Simeon belajar kesabaran seperti itu? Kesabaran tersebut berasal dari doa dan sejarah bangsanya, yang selalu melihat di dalam diri Tuhan “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Ia mengenali Bapa yang, bahkan dalam menghadapi penolakan dan ketidaksetiaan, tidak pernah menyerah, tetapi tetap "sabar bertahun-tahun lamanya" (bdk. Neh 9:30), terus-menerus mengulurkan kemungkinan pertobatan.

 

Dengan demikian, kesabaran Simeon adalah cermin kesabaran Allah sendiri. Dari doa dan sejarah bangsanya, Simeon belajar bahwa Allah memang sabar. Dengan kesabaran itu, Santo Paulus memberitahu kita, ia “menuntun kita kepada pertobatan” (Rm 2:4). Saya suka memikirkan Romano Guardini, yang pernah mengamati bahwa kesabaran adalah cara Allah untuk menanggapi kelemahan kita dan memberi kita waktu yang dibutuhkan untuk berubah (bdk. Glaubenserkenntnis, Würzburg, 1949, 28). Melebihi siapa pun, Mesias, Yesus, yang ditatang Simeon, menunjukkan kepada kita kesabaran Allah, Bapa yang penyayang yang terus memanggil kita, bahkan sampai saat terakhir kita. Allah, yang tidak menuntut kesempurnaan tetapi kegairahan yang tulus, yang membuka kemungkinan baru ketika segalanya tampak tersesat, yang ingin membuka celah dalam hati kita yang mengeras, yang membiarkan benih yang baik tumbuh tanpa mencabut lalang. Inilah alasan harapan kita : Allah tidak pernah lelah menanti kita. Saat kita berpaling, Ia datang mencari kita; saat kita jatuh, Ia memberdirikan kita; ketika kita kembali kepada-Nya setelah tersesat, Ia menanti kita dengan tangan terbuka. Kasih-Nya tidak ditimbang dalam keseimbangan perhitungan manusiawi kita, tetapi tanpa henti memberi kita keberanian untuk memulai kembali. Hal ini mengajarkan kita ketahanan, keberanian untuk selalu memulai kembali, setiap hari. Selalu memulai kembali setelah kejatuhan kita. Allah itu sabar.

 

Marilah kita melihat kesabaran kita. Marilah kita melihat kesabaran Allah dan kesabaran Simeon saat kita memikirkan hidup bakti kita sendiri. Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri apa sebenarnya kesabaran. Tentunya ini bukan hanya tentang menoleransi kesulitan atau menunjukkan tekad yang suram dalam menghadapi kesulitan. Kesabaran bukanlah tanda kelemahan, tetapi kekuatan jiwa yang memungkinkan kita untuk "memikul beban", bersabar, menanggung beban persoalan pribadi dan komunitas, menerima sesama sebagai orang yang berbeda dari diri kita, bertekun dalam kebaikan ketika semua tampak tersesat, serta terus maju bahkan ketika diliputi oleh kepenatan dan kelesuan.

 

Perkenankan saya menunjukkan tiga "pengaturan" yang di dalamnya kesabaran bisa menjadi nyata.

 

Pengaturan yang pertama adalah kehidupan pribadi kita. Ada saat ketika kita menanggapi panggilan Tuhan, dan dengan kegairahan dan kemurahan hati mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sepanjang jalan, bersama-sama penghiburan kita telah mengikutsertakan kekecewaan dan frustrasi kita. Kadang-kadang, kerja keras kita gagal mencapai hasil yang diinginkan, benih yang kita taburkan tampaknya tidak menghasilkan buah yang memadai, semangat doa kita menjadi dingin dan kita tidak selalu kebal terhadap kekeringan rohani. Dalam kehidupan kita sebagai para pelaku hidup bakti, dapat terjadi bahwa harapan perlahan memudar sebagai akibat dari pengharapan yang tidak terpenuhi. Kita harus bersabar dengan diri kita sendiri serta menantikan dengan harapan waktu dan tempat Allah, karena Ia tetap setia pada janji-janji-Nya. Inilah batu fondasi : Ia menepati janj-janji-Nya. Mengingat hal ini dapat membantu kita menelusuri kembali langkah-langkah kita dan menghidupkan kembali impian kita, ketimbang menyerah pada kesedihan dan keputusasaan batin. Saudara dan saudari, di dalam diri kita para pelaku hidup bakti, kesedihan batin adalah seekor cacing, seekor cacing yang memakan kita dari dalam. Minggatlah dari kesedihan batin!

 

Pengaturan yang kedua yang di dalamnya kesabaran dapat menjadi nyata adalah kehidupan komunitas. Kita semua tahu bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu tenang, terutama ketika hubungan tersebut melibatkan rancangan kehidupan atau kegiatan kerasulan. Ada kalanya pertikaian muncul dan tidak ada solusi segera yang dapat diharapkan ataupun tidak seharusnya dilakukan penilaian yang terburu-buru. Dibutuhkan waktu untuk melangkah mundur, menjaga perdamaian serta menunggu waktu yang lebih baik untuk menyelesaikan situasi dalam kasih dan kebenaran. Janganlah kita membiarkan diri kita dibuat bingung oleh prahara. Dalam Ibadat Harian, Bacaan Harian untuk besok, ada bagian yang bagus tentang penegasan rohani oleh Diodokus dari Photice. Ia berkata : “Laut yang tenang memungkinkan nelayan untuk memandang kedalamannya dengan benar. Tidak ada ikan yang bisa bersembunyi di sana dan luput dari pandangannya. Tetapi, laut yang berprahara menjadi keruh saat terombang-ambing oleh angin”. Kita tidak akan pernah bisa membedakan dengan baik, melihat kebenaran, jika hati kita terombang-ambing dan tidak sabar. Tidak pernah. Komunitas kita membutuhkan kesabaran timbal balik semacam ini : kemampuan untuk mendukung, yaitu, menanggung di pundak kita, kehidupan salah seorang saudara atau saudari kita, termasuk kelemahan dan kegagalannya, seluruhnya. Marilah kita mengingat bahwa Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi solois - kita tahu ada banyak di Gereja - tidak, kita tidak dipanggil untuk menjadi penyanyi tunggal tetapi menjadi bagian dari paduan suara yang terkadang bisa melewatkan satu atau dua nada, tetapi harus selalu berusaha untuk bernyanyi serempak.

 

Terakhir, pengaturan yang ketiga adalah hubungan kita dengan dunia. Simeon dan Hana sangat menghargai harapan yang diberitakan oleh para nabi, meskipun harapan itu lambat tergenapi dan tumbuh dalam diam di tengah ketidaksetiaan dan reruntuhan dunia kita. Mereka tidak mengeluh tentang betapa kelirunya hal-hal itu, tetapi dengan sabar mencari terang yang bersinar dalam kegelapan sejarah. Mencari terang yang bersinar dalam kegelapan sejarah; mencari terang yang bersinar dalam kegelapan komunitas kita. Kita juga membutuhkan kesabaran semacam itu, agar tidak jatuh ke dalam perangkap keluh kesah. Beberapa orang ahli dalam berkeluh kesah, pujangga dalam berkeluh kesah, mereka sangat pandai berkeluh kesah! Tidak, berkeluh kesah memenjarakan kita : "dunia tidak lagi mendengarkan kita" - seberapa sering kita mendengar hal itu - atau "kita semakin tidak memiliki panggilan lagi, jadi kita harus menutup rumah", atau "ini bukan waktu yang mudah" - " ah, jangan beritahu aku! ... ”. Demikianlah duet keluh kesah dimulai. Dapat terjadi bahwa meskipun Allah dengan sabar mengolah tanah sejarah dan hati kita, kita menunjukkan diri tidak sabar dan ingin menilai semuanya dengan segera : sekarang atau tidak sama sekali, sekarang, sekarang, sekarang. Dengan cara ini, kita kehilangan kebajikan-kebajikan "kecil" tetapi terindah itu : harapan. Saya telah melihat banyak pelaku hidup bakti yang kehilangan harapan, hanya karena tidak sabar.

 

Kesabaran membantu kita untuk berbelas kasih dalam cara kita memandang diri kita, komunitas kita dan dunia kita. Dalam hidup kita sendiri, apakah kita menyambut kesabaran Roh Kudus? Dalam komunitas kita, apakah kita saling mendukung dan memancarkan sukacita hidup persaudaraan? Di dunia ini, apakah kita dengan sabar memberikan pelayanan kita, atau melontarkan penilaian yang sumbang? Inilah tantangan-tantangan nyata bagi hidup bakti kita : kita tidak bisa tetap terjebak dalam nostalgia masa lalu atau terus mengulangi hal-hal lama atau keluh kesah sehari-hari yang sama. Kita membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk terus maju, menjelajahi jalan baru, dan menanggapi bisikan Roh Kudus. Dan melakukannya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan, tanpa propaganda atau publisitas yang besar.

 

Marilah kita merenungkan kesabaran Allah serta memohonkan kesabaran Simeon dan Hana yang penuh kepercayaan. Dengan cara ini, semoga mata kita juga melihat terang keselamatan dan membawa terang itu ke seluruh dunia, seperti yang dilakukan oleh dua orang lanjut usia ini dalam kata-kata pujian mereka.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 2 Februari 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA III 24 Januari 2021 : TENTANG HARI MINGGU SABDA ALLAH


[Homili dibacakan oleh Uskup Agung Rino Fisichella yang memimpin Misa karena Paus Fransiskus menderita sakit linu panggul]

 

Bacaan Ekaristi : Yun. 3:1-5,10; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; 1Kor. 7:29-31; Mrk. 1:14-20.

 

Pada Hari Minggu Sabda Allah ini, marilah kita mendengarkan Yesus saat Ia memberitakan Kerajaan Allah. Marilah kita perhatikan apa yang Ia katakan dan kepada siapa Ia mengatakannya.

 

Apa yang Ia katakan? Yesus memulai khotbahnya dengan kata-kata ini : “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15). Allah sudah dekat, itulah pesan pertama. Kerajaan-Nya telah turun ke bumi. Allah tidak, sebagaimana kita sering tergoda untuk berpikir, jauh, di surga, terlepas dari kondisi manusiawi. Tidak, Ia ada di tengah-tengah kita. Waktu berjarak-Nya berakhir ketika, di dalam Yesus, Ia menjadi manusia. Sejak saat itu, Allah sangat dekat dengan kita; Ia tidak akan pernah menarik diri dari kondisi manusiawi kita atau bosan karenanya. Kedekatan ini adalah pesan pokok Injil yang sesungguhnya; bacaan hari ini memberitahu kita bahwa Yesus "mengucapkan" (ayat 15) kata-kata itu : Ia terus mengulanginya. “Allah sudah dekat” adalah motif utama dari khotbah-Nya, inti pesan-Nya. Jika hal ini adalah tema pembuka dan pengulangan dari seluruh khotbah Yesus, maka harus menjadi satu-satunya yang berkesinambungan dalam kehidupan dan pesan Kristiani. Sebelum semuanya, kita harus percaya dan menyatakan bahwa Allah telah mendekat kepada kita, kita telah diampuni dan ditunjukkan belas kasihan. Sebelum setiap perkataan kita tentang Allah, ada sabda-Nya kepada kita, sabda-Nya yang terus memberitahu kita : “Jangan takut, Aku menyertai kamu. Aku ada di sampingmu dan Aku akan selalu ada”.

 

Sabda Allah Tuhan memampukan kita untuk menyentuh kedekatan ini, karena - seperti yang dikatakan dalam Kitab Ulangan - sabda Allah tidak jauh dari kita, sabda Allah dekat dengan hati kita (bdk. 30:14). Sabda AlIah adalah penawar rasa takut ketika kita harus menghadapi hidup sendirian. Sungguh, dengan sabda-Nya Allah menghibur kita, yaitu, Ia berdiri “bersama” (con-) orang-orang yang “sendirian” (soli). Saat berbicara kepada kita, Ia mengingatkan kita bahwa Ia telah mengambil hati kita, kita berharga di mata-Nya, dan Ia menggenggam kita. Sabda Allah Tuhan menanamkan kedamaian ini, tetapi tidak meninggalkan kita dalam kedamaian. Sabda Allah adalah sabda penghiburan tetapi juga panggilan untuk bertobat. “Bertobatlah”, kata Yesus, segera setelah menyatakan kedekatan Allah. Karena, berkat kedekatan-Nya, kita tidak bisa lagi menjauhkan diri dari Allah dan sesama. Waktu di mana kita hidup hanya memikirkan diri kita sendiri sekarang sudah berakhir. Melakukannya tidak Kristiani, karena mereka yang mengalami kedekatan Allah tidak dapat mengabaikan sesama mereka atau memperlakukan mereka dengan ketidakpedulian. Mereka yang mendengar sabda Allah terus menerus diingatkan bahwa hidup bukanlah tentang melindungi diri kita dari orang lain, tetapi tentang berjumpa mereka dalam nama Allah yang dekat. Sabda yang ditaburkan di tanah hati kita, pada gilirannya menuntun kita untuk menaburkan harapan melalui kedekatan dengan sesama. Bahkan seperti yang telah dilakukan Allah dengan kita.

 

Sekarang marilah kita memikirkan kepada siapa Yesus berbicara. Kata-kata pertama-Nya ditujukan kepada para nelayan Galilea, rakyat sederhana yang hidup dengan kerja kasar, siang dan malam. Mereka bukanlah pakar Kitab Suci atau orang-orang dengan pengetahuan dan budaya yang hebat. Mereka tinggal di wilayah yang terdiri dari berbagai bangsa, kelompok etnis, dan kultus : wilayah yang sangat jauh dari kemurnian agama Yerusalem, jantung negeri. Namun di situlah Yesus memulai, bukan dari pusat tetapi dari pinggiran, dan Ia melakukannya untuk memberitahu kita juga bahwa tidak ada seorang pun yang jauh dari hati Allah. Setiap orang dapat menerima sabda-Nya dan menjumpai-Nya secara langsung. Injil menawarkan rincian yang bagus dalam hal ini, ketika mengatakan kepada kita bahwa pemberitaan Yesus datang "setelah" pemberitaan Yohanes (Mrk 1:14). Kata "setelah" tersebut menentukan : kata itu menunjuk pada sebuah perbedaan. Yohanes menerima orang-orang di padang gurun, di mana hanya orang-orang yang bisa meninggalkan rumah yang bisa pergi. Yesus, sebaliknya, berbicara tentang Allah di jantung masyarakat, kepada semua orang, di mana pun mereka berada. Ia tidak berbicara pada waktu atau tempat tertentu, tetapi “berjalan menyusur pantai”, kepada para nelayan yang “sedang menebarkan jala mereka” (ayat 16). Ia berbicara kepada orang-orang di waktu dan tempat yang paling biasa. Di sini kita melihat kekuatan universal dari sabda Allah untuk menjangkau setiap orang dan setiap ranah kehidupan.

 

Namun Sabda Allah juga memiliki kekuatan tertentu, yaitu dapat menyentuh setiap orang secara langsung. Murid-murid tidak akan pernah melupakan kata-kata yang mereka dengar hari itu di tepi danau, di perahu mereka, ditemani anggota keluarga dan rekan kerja mereka : kata-kata yang menandai kehidupan mereka selamanya. Yesus berkata kepada mereka : "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (ayat 17). Ia tidak menarik mereka menggunakan kata-kata dan gagasan yang luhur, tetapi berbicara tentang kehidupan mereka. Ia memberitahu para nelayan bahwa mereka akan menjadi penjala manusia. Jika Ia memberitahu mereka : “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia, engkau akan diutus ke dunia untuk mewartakan Injil dengan kuasa Roh; engkau akan dibunuh, tetapi engkau akan menjadi orang-orang kudus", kita yakin bahwa Petrus dan Andreas akan menjawab : "Terima kasih, tetapi kami akan tetap berpegang pada jala dan perahu kami!" Tetapi Yesus berbicara kepada mereka dalam konteks mata pencaharian mereka : “Engkau adalah penjala ikan, dan engkau akan menjadi penjala manusia”. Terpesona oleh kata-kata itu, mereka menyadari bahwa menebarkan jala mereka untuk menangkap ikan terlalu kecil, sedangkan bertolak ke tempat yang dalam sebagai jawaban atas sabda Yesus adalah rahasia sukacita sejati. Tuhan melakukan hal yang sama dengan kita : Ia mencari kita di mana pun kita berada, Ia mengasihi kita apa adanya, dan Ia dengan sabar berjalan di samping kita. Seperti yang dilakukan-Nya dengan para nelayan itu, Ia menunggu kita di tepi kehidupan kita. Dengan sabda-Nya, Ia ingin mengubah kita, mengundang kita untuk menjalani kehidupan yang lebih utuh dan bertolak ke tempat yang dalam bersama-Nya.

 

Jadi saudara dan saudari terkasih, marilah kita tidak mengabaikan sabda Allah. Sabda Allah adalah surat cinta, ditulis untuk kita oleh Dia yang paling mengenal kita. Saat membacanya, kita mendengar lagi suara-Nya, memandang wajah-Nya dan menerima Roh-Nya. Sabda itu membawa kita dekat dengan Allah. Janganlah kita menjauhkannya, tetapi selalu membawanya, dalam saku, dalam gawai. Marilah kita memberinya tempat yang layak di rumah kita. Marilah kita meletakkan Injil di tempat di mana kita dapat ingat untuk membukanya setiap hari, mungkin di awal dan di akhir hari, sehingga di tengah semua perkataan yang terngiang di telinga kita, mungkin juga ada beberapa ayat dari Sabda Allah yang bisa menyentuh hati kita. Untuk dapat melakukan hal ini, marilah kita memohonkan kepada Tuhan kekuatan untuk mematikan televisi dan membuka Kitab Suci, mematikan gawai kita dan membuka Injil. Selama tahun liturgi ini, kita membaca Santo Markus, Injil yang paling sederhana dan paling pendek. Mengapa tidak membacanya di rumah juga, bahkan satu perikop singkat setiap hari. Itu akan membuat kita merasakan kedekatan Allah dengan kita dan memenuhi diri kita dengan keberanian saat kita menjalani kehidupan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 6 Januari 2021 : MENGANGKAT MUKA, MEMULAI PERJALANAN DAN MELIHAT


Bacaan Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

 

Penginjil Matius memberitahu kita bahwa para Majus, ketika mereka datang ke Betlehem, “melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia” (Mat 2:11). Menyembah Tuhan tidaklah mudah; menyembah Tuhan tidak terjadi begitu saja. Menyembah Tuhan membutuhkan kedewasaan rohani tertentu dan merupakan buah dari perjalanan batin yang terkadang panjang. Menyembah Tuhan bukanlah sesuatu yang kita lakukan secara spontan. Memang, manusia memiliki kebutuhan untuk menyembah, tetapi kita dapat beresiko kehilangan tujuan tersebut. Sungguh, jika kita tidak menyembah Allah, kita akan menyembah berhala - tidak ada jalan tengah, menyembah Allah atau menyembah berhala; atau, menggunakan kata-kata dari seorang penulis Prancis : “Barangsiapa tidak menyembah Allah, ia menyembah iblis” - dan bukannya menjadi orang percaya, kita akan menjadi para penyembah berhala. Hanya seperti itu, otomatis.

 

Di zaman kita, sangatlah penting bagi kita, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, mencurahkan lebih banyak waktu untuk menyembah. Kita perlu belajar lebih baik bagaimana merenungkan Tuhan. Kita agak kehilangan makna doa adorasi, jadi kita harus mengembalikannya, baik dalam komunitas kita maupun dalam kehidupan rohani kita sendiri. Hari ini, marilah kita mempelajari beberapa pelajaran yang bermanfaat dari para Majus. Seperti mereka, kita ingin sujud menyembah Tuhan. Menyembah-Nya dengan sungguh-sungguh, tidak seperti yang dikatakan Herodes : “Kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia". Bukan, penyembahan itu tidak baik. Penyembahan kita harus sungguh-sungguh!

 

Liturgi Sabda menawarkan kepada kita tiga frasa yang dapat membantu kita untuk memahami lebih lengkap apa artinya menjadi para penyembah Tuhan. Ketiga frasa tersebut adalah : "mengangkat muka kita", "memulai perjalanan" dan "melihat". Ketiga frasa ini dapat membantu kita untuk memahami apa artinya menjadi penyembah Tuhan.

 

Frasa yang pertama, mengangkat muka kita, datang kepada kita dari nabi Yesaya. Kepada jemaat Yerusalem, yang baru saja kembali dari pengasingan dan putus asa karena besarnya tantangan dan kesulitan, nabi Yesaya menyampaikan kata-kata dorongan yang kuat ini : “Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling” (60:4). Ia mendesak mereka untuk menyingkirkan keletihan dan keluhan, melepaskan diri dari kemacetan cara pandang yang sempit, mengenyahkan kediktatoran diri, godaan terus-menerus untuk menarik diri ke dalam diri kita sendiri dan perhatian kita sendiri. Menyembah Tuhan, pertama-tama kita harus “mengangkat muka kita”. Dengan kata lain, jangan biarkan diri kita terkurung oleh hantu khayalan yang melumpuhkan harapan, jangan menjadikan masalah dan kesulitan kita sebagai pusat kehidupan kita. Ini tidak berarti menyangkal kenyataan, atau menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, ini adalah perkara memandang masalah dan kecemasan dengan cara baru, memahami bahwa Tuhan sadar akan masalah kita, memperhatikan doa-doa kita dan tidak mengabaikan air mata kita yang tertumpah.

 

Cara melihat hal-hal ini, yang terlepas dari segala sesuatu terus memercayai Tuhan, menimbulkan rasa syukur bakti. Saat ini terjadi, hati kita menjadi terbuka untuk menyembah. Di sisi lain, ketika kita hanya berfokus pada masalah, dan menolak untuk mengangkat muka kita kepada Allah, ketakutan dan kebingungan merayap ke dalam hati kita, menimbulkan kemarahan, kebingungan, kecemasan dan depresi. Kemudian menjadi sulit untuk menyembah Tuhan. Setelah ini terjadi, kita perlu menemukan keberanian untuk keluar dari lingkaran kesimpulan kita yang terdahulu dan menyadari bahwa kenyataan jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Angkat mukamu, lihat di sekeliling dan lihat. Tuhan meminta kita pertama-tama untuk percaya kepada-Nya, karena Ia benar-benar peduli pada semua orang. Jika Allah mendandani rumput di ladang, yang tumbuh hari ini, dan besok dibuang ke dalam api, berapa banyak lagi yang akan Ia sediakan bagi kita? (bdk. Luk 12:28). Jika kita mengangkat muka kita kepada Tuhan, dan mempertimbangkan segala sesuatu dalam terang-Nya, kita akan melihat bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Sabda menjadi manusia (bdk. Yoh 1:14) dan senantiasa tinggal bersama kita, sepanjang masa (bdk. Mat 28:20). Senantiasa.

 

Ketika kita mengangkat muka kita kepada Allah, masalah hidup tidak akan lenyap, tidak; sebaliknya kita merasa yakin bahwa Tuhan memberi kita kekuatan untuk menghadapinya. Langkah pertama menuju sikap penyembahan, kemudian, adalah "mengangkat muka kita". Penyembahan kita yakni penyembahan para murid yang telah menemukan sukacita baru dan tak terduga di dalam Allah. Sukacita duniawi berlandaskan kekayaan, kesuksesan atau hal serupa, senantiasa dengan diri kita sendiri sebagai pusatnya. Sukacita murid-murid Kristus, sebaliknya, berlandaskan kesetiaan Allah, yang janji-janji-Nya tidak pernah gagal, apapun krisis yang mungkin kita hadapi. Rasa syukur dan sukacita bakti membangkitkan dalam diri kita keinginan untuk menyembah Tuhan, yang tetap sungguh setia dan tidak pernah meninggalkan kita.

 

Frasa bermanfaat yang kedua adalah memulai perjalanan. Sebelum mereka bisa menyembah Sang Anak di Betlehem, para Majus harus menempuh perjalanan yang panjang. Matius memberitahu kita bahwa pada masa itu "datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: 'Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia'" (Mat 2:1-2). Perjalanan senantiasa melibatkan perubahan rupa, perubahan. Setelah melakukan perjalanan, kita tidak lagi sama. Senantiasa ada sesuatu yang baru tentang mereka yang telah melakukan perjalanan : mereka telah mempelajari hal-hal baru, menemukan orang-orang dan situasi-situasi baru, serta menemukan kekuatan batin di tengah kesulitan dan resiko yang mereka hadapi di sepanjang jalan. Tidak ada yang menyembah Tuhan tanpa terlebih dahulu mengalami pertumbuhan batin yang berasal dari memulai sebuah perjalanan.

 

Kita menjadi para penyembah Tuhan melalui proses bertahap. Pengalaman mengajarkan kita, misalnya, bahwa pada usia lima puluh tahun kita menyembah secara berbeda daripada yang kita lakukan pada usia tiga puluh tahun. Mereka yang membiarkan diri dibentuk oleh rahmat biasanya berkembang seiring dengan waktu : secara lahiriah, kita bertambah tua - demikian Santo Paulus memberitahu kita - sementara kodrat batin kita diperbarui setiap hari (bdk. 2 Kor 4:16), saat bertumbuhnya pemahaman kita tentang cara terbaik untuk menyembah Tuhan. Dari sudut pandang ini, kegagalan, krisis, dan kesalahan kita dapat menjadi pengalaman pembelajaran : sering kali semuanya itu dapat membantu kita untuk lebih menyadari bahwa hanya Tuhan yang layak untuk kita sembah, karena hanya Dia yang dapat memuaskan hasrat terdalam kita akan kehidupan dan kekekalan. Dengan berlalunya waktu, pencobaan dan kesulitan hidup - dialami dalam iman - membantu memurnikan hati kita, membuat lebih rendah hati dan dengan demikian semakin terbuka kepada Allah. Bahkan dosa-dosa kita, kesadaran menjadi orang berdosa, mengalami hal-hal buruk seperti itu. “Tetapi saya melakukan ini ... saya melakukan ...” : jika kamu mendekatinya dengan iman dan pertobatan, dengan penyesalan, itu akan membantumu bertumbuh. Paulus berkata bahwa segala sesuatu dapat membantu kita untuk bertumbuh secara rohani, bertemu dengan Yesus, bahkan dosa-dosa kita. Dan Santo Thomas menambahkan : “etiam mortalia”, bahkan dosa-dosa yang buruk, yang terburuk. Tetapi jika kamu menanggapi dengan pertobatan itu akan membantumu dalam perjalanan untuk berjumpa Tuhan ini dan menyembah-Nya dengan lebih baik.

 

Seperti para Majus, kita juga harus membiarkan diri kita belajar dari perjalanan hidup, yang ditandai dengan ketidaknyamanan perjalanan yang tak terhindarkan. Kita tidak bisa membiarkan keletihan kita, kejatuhan kita, dan kegagalan kita mematahkan semangat kita. Sebaliknya, dengan mengakui semua itu dengan rendah hati, kita seharusnya menjadikan semuanya itu kesempatan untuk maju menuju Tuhan Yesus. Hidup bukanlah tentang memamerkan kemampuan kita, tetapi sebuah perjalanan menuju Dia yang mengasihi kita. Kita tidak boleh memamerkan kebajikan kita dalam setiap langkah hidup kita; sebaliknya, dengan kerendahan hati kita harus berjalan menuju Tuhan. Dengan menjaga pandangan kita tetap tertuju pada Tuhan, kita akan menemukan kekuatan yang dibutuhkan untuk bertahan dengan sukacita yang diperbarui.

 

Jadi kita sampai pada frasa yang ketiga : melihat. Mengangkat muka kita; memulai perjalanan; melihat. Penginjil mengatakan kepada kita bahwa, "Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia” (Mat 2:11). Menyembah adalah tindakan penghormatan yang diperuntukkan bagi penguasa dan pejabat tinggi. Para Majus menyembah Dia yang mereka tahu adalah raja orang Yahudi (bdk. Mat 2:2). Tetapi apa yang sebenarnya mereka lihat? Mereka melihat seorang Anak yang miskin dan ibu-Nya. Namun orang-orang bijak dari negeri nun jauh ini mampu melihat melampaui lingkungan hina itu dan mengenali dalam diri Anak itu kehadiran rajawi. Mereka mampu "melihat" melampaui penampilan. Sambil berlutut di hadapan Sang Bayi Betlehem, mereka mengungkapkan penyembahan yang terutama berada di dalam di diri mereka : membuka harta yang mereka bawa sebagai hadiah melambangkan persembahan hati mereka.

 

Untuk menyembah Tuhan kita perlu “melihat” di balik tabir hal-hal yang terlihat, yang seringkali terbukti menipu. Herodes dan warga terkemuka Yerusalem mewakili keduniawian yang diperbudak oleh penampilan dan atraksi langsung. Mereka melihat, namun mereka tidak dapat melihat. Bukan karena mereka tidak percaya, tidak; mereka tidak tahu bagaimana melihat karena mereka budak penampilan dan mencari apa yang menarik. Mereka hanya menghargai hal-hal yang sensasional, hal-hal yang menarik perhatian khalayak. Akan tetapi, dalam diri para Majus, kita melihat pendekatan yang sangat berbeda, yang dapat kita definisikan sebagai realisme teologis – kata-kata yang sangat "tinggi", namun bermanfaat - cara untuk memahami kenyataan obyektif dari berbagai hal dan mengarah pada kesadaran bahwa Allah menghindari segenap kesombongan. Tuhan ada dalam kerendahan hati, Ia bagaikan seorang anak yang rendah hati itu, yang menghindari kesombongan yang justru merupakan produk keduniawian. Sebuah cara untuk “melihat” yang melampaui yang terlihat dan memungkinkan kita untuk menyembah Tuhan yang sering kali tersembunyi dalam situasi sehari-hari, dalam diri orang-orang miskin dan mereka yang berada di pinggiran. Cara melihat hal-hal yang tidak dikesankan oleh suara dan amarah, tetapi mencari dalam setiap situasi perkara yang benar-benar penting, dan perkara mencari Tuhan. Bersama Santo Paulus, marilah kita “tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Kor 4:18).

 

Semoga Tuhan Yesus menjadikan kita para penyembah sejati, yang mampu menunjukkan melalui hidup kita rencana kasih-Nya bagi segenap umat manusia. Marilah kita memohon rahmat bagi kita masing-masing dan bagi seluruh Gereja, untuk belajar menyembah, terus menyembah, sering melakukan doa adorasi ini, karena hanya Allah yang harus disembah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS (YANG DIBACAKAN OLEH PIETRO KARDINAL PAROLIN) DALAM MISA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 1 Januari 2021 : MEMBERKATI, DILAHIRKAN DAN MENEMUKAN


Karena menderita sakit linu panggul, homili Paus Fransiskus dibacakan oleh Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Kardinal Parolin, yang memimpin Misa.

 

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Dalam Bacaan-bacaan Misa hari ini, tiga kata kerja menemukan penggenapannya dalam Bunda Allah : memberkati, dilahirkan dan menemukan.

 

Memberkati. Dalam Kitab Bilangan, Tuhan memberitahu para pelayan-Nya yang kudus untuk memberkati umat-Nya : “Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: Tuhan memberkati engkau” (6:23-24). Ini bukan merupakan sebuah seruan yang saleh; merupakan sebuah permintaan khusus. Dan, hari ini juga, para imam terus-menerus memberkati umat Allah dan agar mereka menjadi pembawa berkat; agar mereka memberkati, adalah penting. Tuhan tahu betapa kita perlu diberkati. Hal pertama yang Ia perbuat setelah menciptakan dunia adalah mengatakan bahwa semuanya itu baik (bene-dicere) dan mengatakan kepada kita bahwa kita sungguh amat baik. Tetapi, sekarang, bersama Putra Allah kita menerima tidak hanya kata-kata berkat, tetapi berkat itu sendiri : Yesus sendiri adalah berkat dari Bapa. Di dalam Dia, Santo Paulus memberitahu kita, Bapa memberkati kita “dengan segala berkat” (Ef 1: 3). Setiap kali kita membuka hati kita kepada Yesus, berkat Allah memasuki hidup kita.

 

Hari ini kita merayakan Putra Allah, yang "diberkati" secara alami, yang datang kepada kita melalui Bunda-Nya, "diberkati" oleh kasih karunia. Dengan cara ini, Maria memberikan berkat Allah kepada kita. Di mana pun ia berada, Yesus datang kepada kita. Oleh karena itu, kita seharusnya menyambutnya seperti Santa Elisabet yang, segera mengakui berkat tersebut, berseru : “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!” (Luk 1:42). Kita mengulangi kata-kata itu setiap kali kita mendaraskan doa Salam Maria. Dengan menyambut Maria, kita menerima berkat, tetapi kita juga belajar untuk memberkati. Bunda Maria mengajari kita bahwa berkat diterima untuk diberikan. Ia, yang terberkati, menjadi berkat bagi semua orang yang ia temui : bagi Elisabet, bagi pengantin baru di Kana, bagi para Rasul di Ruang Atas … Kita juga dipanggil untuk memberkati, untuk "berbicara dengan baik" dalam nama Allah. Dunia kita sangat tercemar oleh cara kita "berbicara" dan berpikir "buruk" tentang orang lain, tentang masyarakat, tentang diri kita sendiri. Berbicara buruk merusak dan menghancurkan, sedangkan berkat memulihkan kehidupan dan memberikan kekuatan yang dibutuhkan untuk memulai kembali setiap hari. Marilah kita memohon rahmat kepada Bunda Allah agar menjadi pembawa berkat Allah yang penuh sukacita bagi orang lain, sebagaimana ia bagi kita.

 

Kata kerja yang kedua adalah dilahirkan. Santo Paulus menunjukkan bahwa Putra Allah “lahir dari seorang perempuan” (Gal 4:4). Dalam beberapa kata ini, ia memberitahu kita sesuatu yang luar biasa : bahwa Tuhan dilahirkan seperti kita. Ia tidak muncul di panggung sebagai orang dewasa, tetapi sebagai seorang anak. Ia datang ke dunia bukan dengan sendirinya, tetapi dari seorang perempuan, setelah sembilan bulan di dalam rahim ibu-Nya, yang daripadanya Ia memperkenankan kemanusiaannya dibentuk. Hati Tuhan mulai berdetak di dalam diri Maria; Allah Sang Empunya Kehidupan mengambil oksigen darinya. Sejak saat itu, Maria telah mempersatukan kita dengan Allah karena di dalam dirinya Allah mengikatkan diri pada daging kita, dan Ia tidak pernah meninggalkannya. Santo Fransiskus suka mengatakan bahwa Maria “menjadikan Tuhan yang Mahaluhur saudara kita” (SANTO BONAVENTURA, Legenda Maior, 9, 3). Maria bukan hanya jembatan yang menghubungkan kita dengan Allah; ia lebih dari itu. Ia adalah jalan yang dilalui Allah untuk mencapai kita, dan jalan yang harus kita lalui untuk mencapai-Nya. Melalui Maria, kita berjumpa Allah dengan cara yang diinginkan-Nya terhadap kita : dalam kasih yang lembut, dalam keintiman, dalam daging. Karena Yesus bukanlah gagasan yang abstrak; Ia nyata dan menjelma; Ia "lahir dari seorang perempuan", dan tumbuh dengan teduh. Para perempuan tahu tentang jenis pertumbuhan yang teduh ini. Kita para laki-laki cenderung abstrak dan menginginkan sesuatu dengan segera. Para perempuan nyata dan tahu bagaimana menjalin benang kehidupan dengan kesabaran yang teduh. Berapa banyak perempuan, berapa banyak ibu, yang melahirkan dan melahirkan kembali kehidupan, menawarkan sebuah masa depan kepada dunia!

 

Kita ada di dunia ini bukan untuk mati, tetapi untuk memberikan kehidupan. Santa Bunda Allah mengajarkan kita bahwa langkah pertama dalam memberikan kehidupan kepada orang-orang di sekitar kita adalah dengan menghargainya di dalam diri kita sendiri. Injil hari ini memberitahu kita bahwa Maria "menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya" (bdk. Luk 2:19). Dan kebaikan berasal dari hati. Betapa pentingnya untuk menjaga hati kita tetap murni, untuk mengembangkan kehidupan batin kita dan bertekun dalam doa kita! Betapa pentingnya mendidik hati kita untuk peduli, menghargai orang dan hal-hal di sekitar kita. Semuanya dimulai dari hal ini : dari menghargai orang lain, dunia dan ciptaan. Apa gunanya mengenal banyak orang dan hal jika kita gagal menghargainya? Tahun ini, seraya kita mengharapkan permulaan yang baru dan penyembuhan yang baru, marilah kita tidak mengabaikan kepedulian. Bersama dengan vaksin untuk tubuh kita, kita membutuhkan vaksin untuk hati kita. Vaksin itu kepedulian. Ini akan menjadi suatu tahun yang baik jika kita peduli terhadap orang lain, seperti yang dilakukan Bunda Maria dengan kita.

 

Kata kerja yang ketiga adalah menemukan. Injil memberitahu kita bahwa para gembala "menemukan Maria dan Yusuf dan bayi itu" (ayat 16). Mereka tidak menemukan tanda-tanda yang ajaib dan spektakuler, tetapi sebuah keluarga yang sederhana. Namun di sana mereka benar-benar menemukan Allah, yang adalah keagungan dalam kekecilan, kekuatan dalam kelembutan. Tetapi bagaimana para gembala dapat menemukan tanda yang tidak mencolok ini? Mereka dipanggil oleh malaikat. Kita juga tidak akan menemukan Allah jika kita tidak dipanggil oleh kasih karunia. Kita tidak pernah bisa membayangkan Allah yang semacam itu, lahir dari seorang perempuan, yang merevolusi sejarah dengan kasih yang lembut. Namun oleh kasih karunia kita menemukan-Nya. Dan kita menemukan bahwa pengampunan-Nya membawa kelahiran baru, penghiburan-Nya membangkitkan harapan, kehadiran-Nya melimpahkan sukacita yang tak tertahankan. Kita menemukan-Nya, tetapi kita tidak boleh tak mengindahkan-Nya. Sungguh, Tuhan tidak pernah ditemukan sekali untuk selamanya : setiap hari Ia harus ditemukan kembali. Jadi Injil menggambarkan para gembala sebagai orang-orang yang terus-menerus mengawasi, terus bergerak : "mereka cepat-cepat berangkat, mereka menemukan, mereka memberitahukan, mereka kembali, mereka memuji dan memuliakan Allah" (ayat 16-17.20). Mereka tidak pasif, karena untuk menerima kasih karunia kita harus aktif.

 

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Kita dipanggil untuk menemukan apa di awal tahun ini? Menemukan waktu untuk seseorang akan sangat baik. Waktu adalah harta yang kita semua miliki, namun kita menjaganya dengan cemburu, karena kita ingin menggunakannya hanya untuk diri kita sendiri. Marilah kita memohon rahmat untuk meluangkan waktu bagi Allah dan sesama kita - bagi mereka yang sendirian atau sedang menderita, bagi mereka yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan menunjukkan perhatian kepada mereka. Jika kita dapat menemukan waktu untuk memberi, kita akan takjub dan dipenuhi dengan sukacita, seperti para gembala. Semoga Bunda Maria, yang membawa Allah ke dunia waktu, membantu kita untuk bermurah hati dengan waktu kita. Santa Bunda Allah, kepada engkau kami mempersembahkan Tahun Baru ini. Engkau, yang tahu bagaimana menghargai berbagai hal di dalam hatimu, pedulikan kami, berkati waktu kami, dan ajari kami untuk menemukan waktu bagi Allah dan sesama. Dengan sukacita dan keyakinan, kami menobatkan engkau : Santa Bunda Allah! Amin.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2021)