Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN 500 TAHUN PEWARTAAN INJIL DI FILIPINA DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN - 14 Maret 2021


Bacaan Liturgi : 2Taw. 36:14-16,19-23; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Ef. 2:4-10; Yoh. 3:14-21.

 

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16). Inilah intisari Injil; inilah sumber sukacita kita. Pesan Injil bukanlah gagasan atau ajaran. Pesan Injil adalah Yesus sendiri : Putra yang diberikan Bapa kepada kita agar kita dapat memiliki kehidupan. Sumber sukacita kita bukanlah teori yang indah tentang bagaimana menemukan kebahagiaan, tetapi pengalaman aktual didampangi dan dikasihi sepanjang perjalanan hidup. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal”. Saudara dan saudari, marilah kita berdiam sejenak pada dua pemikiran ini : “Begitu besar kasih Allah” dan “Allah mengaruniakan”.

 

Pertama-tama, begitu besar kasih Allah. Kata-kata Yesus kepada Nikodemus - seorang penatua Yahudi yang ingin mengenal Sang Guru - membantu kita untuk memandang wajah Allah yang sesungguhnya. Ia selalu memandang kita dengan kasih, dan demi kasih, Ia datang di antara kita dalam rupa daging Putra-Nya. Di dalam Yesus, Ia pergi mencari kita ketika kita tersesat. Di dalam Yesus, Ia datang untuk membangkitkan kita ketika kita jatuh. Di dalam Yesus, Ia menangis bersama kita dan menyembuhkan luka-luka kita. Di dalam Yesus, Ia memberkati hidup kita selamanya. Injil mengatakan kepada kita bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa. melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Di dalam Yesus, Allah mengucapkan kata yang pasti tentang hidup kita : kamu tidak binasa, kamu dikasihi. Dikasihi selamanya.

 

Jika mendengarkan Injil dan mengamalkan iman kita tidak melapangkan hati kita dan membuat kita memahami begitu besar kasih Allah - mungkin karena kita lebih menyukai religiositas yang murung, penuh kesedihan dan mementingkan diri sendiri - maka inilah tandanya kita perlu berhenti dan kembali mendengarkan pemberitaan Kabar Baik. Allah sangat mengasihimu sehingga Ia mengaruniakan seluruh hidup-Nya kepadamu. Ia bukanlah allah yang memandang rendah kita dari tempat tinggi, acuh tak acuh, tetapi Bapa yang penuh kasih yang menjadi bagian sejarah kita. Ia bukanlah allah yang menikmati kematian orang berdosa, tetapi Bapa yang peduli agar tak seorang pun binasa. Ia bukanlah allah yang menghakimi, tetapi seorang Bapa yang menyelamatkan kita dengan pelukan kasih-Nya yang menghibur.

 

Sekarang kita sampai pada aspek kedua : Allah "mengaruniakan” Putra-Nya. Justru karena Ia begitu mengasihi kita, Allah mengaruniakan diri-Nya; Ia menawarkan hidup-Nya kepada kita. Mereka yang mengasihi selalu keluar dari dirinya sendiri. Jangan melupakan hal ini : mereka yang mengasihi keluar dari dirinya sendiri. Kasih selalu menawarkan dirinya sendiri, memberikan dirinya sendiri, mencurahkan dirinya sendiri. Itulah kekuatan kasih : kekuatan kasih menghancurkan cangkang keegoisan kita, menerobos zona keamanan kita yang dibangun dengan seksama, meruntuhkan tembok dan mengatasi ketakutan, sehingga dapat memberikan dengan bebas dari dirinya sendiri. Itulah apa yang dilakukan kasih : kasih memberikan dirinya sendiri. Dan demikianlah para pengasih : mereka lebih suka mengambil risiko menyerahkan diri daripada mempertahankan diri. Itulah sebabnya Allah datang kepada kita : karena Ia “begitu mengasihi” kita. Begitu besar kasih-Nya sehingga Ia tidak bisa urung memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Ketika orang-orang diserang oleh ular tedung di padang gurun, Allah menyuruh Musa untuk membuat ular tembaga. Tetapi, di dalam Yesus yang ditinggikan di kayu salib, Ia sendiri datang untuk menyembuhkan kita dari bisa maut; Ia menjadi berdosa untuk menyelamatkan kita dari dosa. Allah tidak mengasihi kita dengan kata-kata : Ia mengaruniakan kepada kita Putra-Nya, supaya setiap orang yang memandang-Nya dan percaya kepada-Nya diselamatkan (bdk. Yoh 3:14-15).

 

Semakin kita mengasihi, semakin kita mampu memberi. Itu juga kunci untuk memahami hidup kita. Sungguh menakjubkan bertemu orang-orang yang saling mengasihi dan berbagi kehidupan mereka dalam kasih. Kita dapat mengatakan tentang mereka apa yang kita katakan tentang Allah : mereka begitu saling mengasihi sehingga mereka memberikan hidup mereka. Yang penting bukan apa yang dapat kita jadikan atau hasilkan semata; pada akhirnya, kasih yang bisa kita berikan.

 

Inilah sumber sukacita! Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya. Di sini kita melihat makna undangan Gereja pada hari Minggu ini : “Bersukacitalah ... Bergembiralah dengan sukacita, hai kamu semua yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu!” (Antifon Pembuka; bdk. Yes 66:10-11). Saya memikirkan apa yang kita lihat seminggu yang lalu di Irak: orang-orang yang telah sangat menderita bersukacita dan bergembira, bersyukur kepada Allah dan atas kasih-Nya yang murah hati.

 

Kadang-kadang kita mencari sukacita di tempat ia tidak bisa ditemukan : dalam khayalan yang lenyap, dalam impian akan kemuliaan, dalam andalan yang berwujud harta benda, dalam pengkultusan citra kita, dan dalam banyak hal lainnya. Tetapi kehidupan mengajarkan kita bahwa sukacita sejati berasal dari kesadaran bahwa kita dikasih secara cuma-cuma, memahami diri kita tidak sendirian, memiliki seseorang yang ambil bagian dalam impian kita serta yang, ketika kita mengalami kecelakaan kapal, ada di sana untuk membantu kita dan menuntun kita menuju pelabuhan yang aman.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, lima ratus tahun telah berlalu sejak pewartaan Kristiani pertama kali tiba di Filipina. Kamu menerima sukacita Injil : kabar baik bahwa Allah begitu mengasihi kita sehingga Ia menganugerahkan Putra-Nya kepada kita. Dan sukacita ini terbukti pada bangsamu. Kita melihatnya di matamu, di wajahmu, dalam lagu-lagumu dan dalam doa-doamu. Dalam sukacita yang menyertai imanmu yang kamu bawa ke negeri lain. Saya sering mengatakan bahwa di sini, di Roma, para perempuan Filipina adalah para "penyelundup" iman! Karena ke mana pun mereka pergi bekerja, mereka menaburkan iman. Menaburkan iman adalah bagian genmu, sebuah “penyakit menular” yang saya dorong untuk kamu pertahankan. Tetaplah membawa iman, kabar baik yang kamu terima lima ratus tahun yang lalu, kepada orang lain. Saya ingin bersyukur, atas sukacita yang kamu bawa ke seluruh dunia dan kepada komunitas Kristiani kita. Saya memikirkan, seperti yang saya sebutkan, banyak pengalaman indah dalam keluarga di sini di Roma - tetapi juga di seluruh dunia - di mana kehadiranmu yang bijaksana dan penuh kerja keras menjadi kesaksian iman. Dalam jejak Maria dan Yusuf, karena Allah berkenan membawa sukacita iman melalui pelayanan yang rendah hati, tersembunyi, berani dan tekun.

 

Pada peringatan yang sangat penting bagi umat Allah yang kudus di Filipina ini, saya juga ingin mendorongmu untuk bertekun dalam karya pewartaan Injil - bukan penyebaran agama, yang merupakan hal lain. Pewartaan Kristiani yang kamu terima perlu terus-menerus disampaikan kepada orang lain. Pesan Injil tentang kedekatan Allah memanggil untuk diungkapkan dalam kasih terhadap saudara dan saudari kita. Allah tak menginginkan seorang pun binasa. Karena alasan ini, Ia meminta Gereja untuk peduli terhadap mereka yang terluka dan hidup di pinggiran kehidupan. Allah begitu mengasihi kita sehingga Ia memberikan diri-Nya kepada kita, dan Gereja memiliki perutusan yang sama. Gereja dipanggil bukan untuk menghakimi tetapi untuk menyambut; bukan untuk menuntut, tetapi untuk menabur benih; bukan untuk mengutuk, tetapi membawa Kristus Sang Keselamatan kita.

 

Saya tahu bahwa ini adalah program pastoral Gerejamu : sebuah komitmen misioner yang melibatkan semua orang dan menjangkau semua orang. Jangan pernah berkecil hati saat kamu berjalan di jalan ini. Jangan pernah takut untuk mewartakan Injil, melayani dan mengasihi. Dengan sukacitamu, kamu akan membantu orang-orang untuk mengatakan tentang Gereja juga : "ia sangat mengasihi dunia!" Betapa indah dan menariknya Gereja yang mengasihi dunia tanpa menghakimi, Gereja yang menyerahkan dirinya kepada dunia. Semoga demikian, saudara-saudari yang terkasih, di Filipina dan di pelbagai bagian bumi.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 14 Maret 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION FRANSO HARIRI, ERBIL, IRAK 7 Maret 2021


Bacaan Ekaristi : Kel. 20:1-17; Mzm. 19:8,9,10,11; 1Kor. 1:22-25; Yoh. 2:13-25.

 

Santo Paulus telah memberitahu kita bahwa "Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah" (1Kor 1:22-25). Yesus mengungkapkan kekuatan dan hikmat itu terutama dengan menawarkan pengampunan dan menunjukkan belas kasihan. Ia memilih untuk melakukannya bukan dengan menunjukkan kekuatan atau dengan berbicara kepada kita dari tempat tinggi, dalam ceramah yang panjang lebar dan terpelajar. Ia melakukannya dengan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib. Ia mengungkapkan hikmat dan kekuatan-Nya dengan menunjukkan kepada kita, sampai kesudahan, kesetiaan kasih Bapa; kesetiaan Allah perjanjian, yang membawa umat-Nya keluar dari perbudakan dan memimpin mereka dalam perjalanan kebebasan (bdk. Kel 20:1-2).

 

Betapa mudahnya untuk jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa kita harus menunjukkan kepada orang lain bahwa kita kuat atau berhikmat, ke dalam perangkap membuat gambaran palsu tentang Allah yang dapat memberi kita keamanan (bdk. Kel 20:4-5). Namun sesungguhnya kita semua membutuhkan kekuatan dan hikmat Allah yang diungkapkan oleh Yesus di kayu salib. Di Kalvari, Ia mempersembahkan kepada Bapa bilur-bilur-Nya yang hanya olehnya kita disembuhkan (bdk. 1 Ptr 2:24). Di sini, di Irak, berapa banyak saudara dan saudari, sahabat-sahabat dan sesama wargamu yang menanggung bilur-bilur peperangan dan kekerasan, bilur-bilur yang kasat mata maupun tidak! Godaannya adalah bereaksi terhadap hal ini dan pengalaman menyakitkan lainnya dengan kekuatan manusia, hikmat manusia. Sebaliknya, Yesus menunjukkan kepada kita jalan Allah, jalan yang Ia ambil, jalan panggilan kita untuk mengikuti-Nya.

 

Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Yoh 2:13-25), kita melihat bagaimana Yesus mengusir keluar dari Bait Suci di Yerusalem para penukar uang serta seluruh pedagang dan pembeli. Mengapa Yesus melakukan sesuatu yang sangat tegas dan provokatif ini? Ia melakukannya karena Bapa mengutus-Nya untuk membersihkan Bait Allah : tidak hanya Bait batu, tetapi terutama bait hati kita. Yesus tidak bisa mentolerir rumah Bapa-Nya menjadi pasar (bdk. Yoh 2:16); Ia juga tidak ingin hati kita menjadi tempat kebisingan, kekacauan dan kebingungan. Hati kita harus dibersihkan, ditertibkan dan dimurnikan. Dari apa? Kepalsuan yang menodainya, dari sikap bermuka dua yang munafik. Kita semua memiliki hal ini. Keduanya adalah penyakit yang merusak hati, mengotori hidup kita dan membuatnya tidak tulus. Kita perlu dibersihkan dari keamanan yang memperdaya yang akan mempertukarkan iman kita kepada Allah dengan hal-hal yang sepintas lalu, dengan keuntungan yang bersifat sementara. Kita butuh godaan kekuasaan dan uang yang merusak disapu dari hati kita dan Gereja. Untuk membersihkan hati kita, kita perlu mengotori tangan kita, merasa bertanggung jawab, dan tidak hanya memandangi saudara dan saudari kita yang sedang menderita. Bagaimana kita memurnikan hati kita? Dengan usaha kita sendiri, kita tidak bisa; kita membutuhkan Yesus. Ia memiliki kuasa untuk menaklukkan kejahatan kita, menyembuhkan penyakit kita, membangun kembali bait hati kita.

 

Untuk menunjukkan hal ini, dan sebagai tanda kuasa-Nya, Yesus melanjutkan dengan berkata : “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" (ayat 19). Yesus Kristus, Ia sendiri, dapat membersihkan kita dari perbuatan jahat. Yesus, yang wafat dan bangkit! Yesus, Tuhan! Saudara dan saudari yang terkasih, Tuhan tidak membiarkan kita mati dalam dosa-dosa kita. Bahkan ketika kita berpaling daripada-Nya, Ia tidak pernah meninggalkan kita pada perangkat kita sendiri. Ia mencari kita, mengejar kita, memanggil kita untuk bertobat dan menyucikan diri kita dari dosa-dosa kita. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup” (Yeh 33:11). Tuhan ingin kita diselamatkan dan menjadi bait kasih-Nya yang hidup, dalam persaudaraan, dalam pelayanan, dalam belas kasihan.

 

Yesus tidak hanya membersihkan kita dari dosa-dosa kita, tetapi memberi kita bagian dalam kuasa dan hikmat-Nya. Ia membebaskan kita dari pemahaman yang sempit dan memecah belah tentang keluarga, iman dan komunitas yang memecah belah, menentang dan mengucilkan, sehingga kita dapat membangun Gereja dan masyarakat yang terbuka bagi semua orang dan peduli terhadap saudara-saudari kita yang paling membutuhkan. Pada saat yang sama, Ia memperkuat kita agar dapat menahan godaan untuk membalas dendam, yang hanya menjerumuskan kita ke dalam pilinan pembalasan tanpa akhir. Dalam kuasa Roh Kudus, Ia mengutus kita, bukan sebagai para penyebar agama, tetapi sebagai murid-murid misioner, pria dan wanita yang dipanggil untuk bersaksi tentang kuasa Injil yang mengubah hidup. Tuhan yang bangkit menjadikan kita sarana belas kasihan dan damai Allah, pengrajin tatanan sosial baru yang sabar dan pemberani. Dengan cara ini, oleh kuasa Kristus dan Roh Kudus, kata-kata nubuat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus digenapi : “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia” (1 Kor 1:25). Komunitas Kristiani yang terdiri dari orang-orang sederhana dan kecil menjadi tanda datangnya kerajaan-Nya, kerajaan kasih, keadilan dan perdamaian.

 

“Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Yesus sedang berbicara tentang bait tubuh-Nya, dan tentang Gereja juga. Tuhan berjanji kepada kita bahwa, dengan kuasa kebangkitan-Nya, Ia dapat membangkitkan kita, dan komunitas kita, dari reruntuhan yang ditinggalkan oleh ketidakadilan, perpecahan dan kebencian. Itulah janji yang kita rayakan dalam Ekaristi ini. Dengan mata iman, kita mengenali kehadiran Tuhan yang tersalib dan bangkit di tengah-tengah kita. Dan kita belajar untuk menerima hikmat-Nya yang membebaskan, beristirahat dalam bilur-bilur-Nya, serta menemukan kesembuhan dan kekuatan untuk melayani kedatangan kerajaan-Nya di dunia kita. Oleh bilur-bilur-Nya, kita telah disembuhkan (bdk. 1 Ptr 2:24). Dalam bilur-bilur itu, saudara dan saudari yang terkasih, kita menemukan balsem cinta kasih-Nya. Karena Ia, seperti orang Samaria yang baik hati, ingin mengurapi setiap bilur, menyembuhkan setiap ingatan yang menyakitkan dan mengilhami masa depan perdamaian dan persaudaraan di negeri ini.

 

Gereja di Irak, dengan rahmat Allah, telah melakukan banyak hal untuk mewartakan hikmat salib yang luar biasa ini dengan menyebarkan belas kasihan dan pengampunan Kristus, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. Bahkan di tengah kemiskinan dan kesulitan yang luar biasa, banyak dari kamu telah dengan murah hati menawarkan bantuan dan kesetiakawanan yang nyata kepada orang miskin dan orang yang sedang menderita. Itulah salah satu alasan yang membuat saya datang sebagai peziarah di tengah-tengahmu, bersyukur dan meneguhkanmu dalam iman dan kesaksianmu. Hari ini, saya dapat melihat secara langsung bahwa Gereja di Irak hidup, Kristus hidup dan bekerja dalam hal ini, umat-Nya yang kudus dan setia.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, saya mempercayakanmu, keluargamu dan komunitasmu, kepada perlindungan keibuan Perawan Maria, yang dipersatukan dengan Putranya dalam penderitaan dan wafat-Nya, dan ambil bagian dalam sukacita kebangkitan-Nya. Semoga ia menjadi pengantara kita dan menuntun kita kepada Kristus, kekuatan dan hikmat Allah.

 

[Sambutan Bapa Suci pada akhir Misa]

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa Yang Mulia Mar Gewargis III, Patriark Katolik Gereja Timur Asiria, yang tinggal di kota ini dan menghormati kita dengan kehadiran-Nya. Terima kasih, Saudaraku! Bersama beliau, saya merangkul umat Kristiani dari berbagai denominasi: begitu banyak dari mereka telah menumpahkan darah di negeri ini! Namun para martir kita bersinar bersama-sama seperti bintang-bintang di langit yang sama! Dari sana mereka memanggil kita untuk berjalan bersama, tanpa ragu, menuju kesatuan yang utuh.

 

Di akhir perayaan ini, saya berterima kasih kepada Uskup Agung Bashar Matti Warda serta Uskup Nizar Semaan dan saudara saya yang lainnya, para uskup, yang telah bekerja sangat keras demi perjalanan ini. Saya berterima kasih kepada Anda semua yang telah mempersiapkan dan menyertai kunjungan saya dengan doa dan menyambut saya dengan sangat hangat. Dengan secara khusus, saya menyapa rakyat Kurdi yang tercinta. Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah dan otoritas sipil atas kontribusi mereka yang sangat diperlukan, dan saya berterima kasih kepada semua orang yang dengan berbagai cara bekerjasama dalam mengatur seluruh perjalanan di Irak, otoritas Irak - semuanya - dan banyak sukarelawan. Terima kasih saya untuk Anda semua!

 

Dalam waktu saya di antara Anda, saya telah mendengar suara kesedihan dan kehilangan, tetapi juga suara harapan dan penghiburan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh penjangkauan amal yang tak kenal lelah yang dimungkinkan oleh lembaga-lembaga keagamaan dari setiap pengakuan, Gereja lokal Anda, dan berbagai organisasi amal yang membantu orang-orang di negara ini dalam pekerjaan pembangunan kembali dan kelahiran kembali secara sosial. Secara khusus, saya berterima kasih kepada anggota ROACO dan agensi yang mereka wakili.

 

Sekarang waktunya sudah dekat untuk kepulangan saya ke Roma. Namun Irak akan selalu bersama saya, dalam hati saya. Saya meminta Anda semua, saudara dan saudari terkasih, untuk bekerjasama dalam persatuan demi masa depan perdamaian dan kemakmuran yang tidak meninggalkan siapa pun dan tidak mendiskriminasi siapa pun. Saya meyakinkan Anda tentang doa-doa saya untuk negara tercinta ini. Dengan cara tertentu, saya berdoa agar para anggota berbagai komunitas keagamaan, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, dapat bekerjasama untuk menjalin ikatan persaudaraan dan kesetiakawanan dalam pelayanan kebaikan dan perdamaian.

 

Salam, salam, salam! Sukrán [Terima kasih]! Semoga Tuhan memberkati semuanya! Semoga Tuhan memberkati Irak! Allah ma’akum! [Tuhan besertamu!]

________


(Peter Suriadi - Bogor, 7 Maret 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI KATEDRAL KHALDEAN SANTO YOSEF, BAGHDAD, IRAK 6 MARET 2021 : KEBIJAKSANAAN, KESAKSIAN DAN JANJI


Bacaan Ekaristi : Keb 6:1-11; 1Kor 12:31-13:8; Mat 5:1-10

 

Hari ini sabda Allah berbicara kepada kita tentang kebijaksanaan, kesaksian dan janji.

 

Kebijaksanaan di negeri ini telah dibudidayakan sejak zaman dahulu kala. Memang pencarian kebijaksanaan selalu menarik manusia. Namun, seringkali, orang-orang yang lebih mampu dapat memperoleh lebih banyak pengetahuan dan memiliki kesempatan yang lebih besar, sementara orang-orang yang kurang mampu disingkirkan. Kesenjangan seperti itu - yang telah meningkat di zaman kita - tidak dapat diterima. Kitab Kebijaksanaan mengejutkan kita dengan membalikkan sudut pandang ini. Kitab Kebijaksanaan memberitahu kita bahwa “memang yang bawahan saja dapat dimaafkan karena belas kasihan, tetapi yang berkuasa akan disiksa dengan berat” (Keb 6:6). Di mata dunia, orang-orang yang kurang mampu disingkirkan, sementara orang-orang yang lebih mampu diistimewakan. Tidak demikian bagi Allah : yang lebih berkuasa tunduk pada pengawasan yang ketat, sedangkan yang paling hina diistimewakan oleh Allah.

 

Yesus, yang adalah Sang Kebijaksanaan secara pribadi, menuntaskan pembalikan ini dalam Bacaan Injil, dan Ia melakukannya dengan khotbah pertama-Nya, dengan Sabda Bahagia. Pembalikan sepenuhnya : orang yang miskin, orang yang berdukacita, orang yang dianiaya semuanya disebut berbahagia. Bagaimana hal ini mungkin? Bagi dunia, orang yang berbahagia adalah orang yang kaya, orang yang berkuasa dan orang yang terkenal! Mereka yang kaya dan makmurlah yang terhitung! Tetapi tidak bagi Allah : Bukan lagi orang kaya yang luar biasa, tetapi orang yang miskin di hadapan Allah; bukan orang yang bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain, tetapi orang yang lemah lembut terhadap semua orang. Bukan orang yang disanjung oleh orang banyak, tetapi orang yang menunjukkan belas kasihan kepada saudara-saudarinya. Pada titik ini, kita mungkin bertanya-tanya : jika saya hidup seperti yang diminta Yesus, apa yang saya dapatkan? Bukankah saya mengambil risiko membiarkan orang lain menguasai saya? Apakah undangan Yesus berharga, atau urusan kehilangan? Undangan itu bukannya tidak berharga, tetapi bijaksana.

 

Undangan Yesus bijaksana karena kasih yang merupakan inti Sabda Bahagia, meski tampak lemah di mata dunia, nyatanya selalu berjaya. Di kayu salib, kasih terbukti lebih kuat dari dosa, di dalam kubur, Ia mengalahkan maut. Kasih itu juga membuat para martir menang dalam pencobaan mereka - dan berapa banyak martir yang telah ada di abad terakhir, bahkan lebih banyak daripada di masa lalu! Kasih adalah kekuatan kita, sumber kekuatan bagi saudara-saudari kita yang di sini juga telah menderita prasangka dan penghinaan, penganiayaan dan penyiksaan demi nama Yesus. Namun seraya kekuatan, kemuliaan dan kesia-siaan dunia lenyap, kasih tetap ada. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus kepada kita : “Kasih tidak berkesudahan” (1 Kor 13:8). Maka, menjalani kehidupan yang dibentuk oleh Sabda Bahagia searti dengan mengabadikan hal-hal yang sepintas lalu, membawa surga ke bumi.

 

Tetapi bagaimana kita mengamalkan Sabda Bahagia? Sabda Bahagia tidak meminta kita melakukan hal-hal yang luar biasa, kemahiran di luar kemampuan kita. Sabda Bahagia meminta kesaksian sehari-hari. Yang berbahagia adalah mereka yang hidup dengan lemah lembut, yang menunjukkan kemurahan hati di mana pun mereka berada, yang suci hatinya di mana pun mereka tinggal. Yang berbahagia, kita tidak perlu sesekali menjadi pahlawan, tetapi menjadi saksi hari demi hari. Kesaksian adalah cara untuk mewujudkan kebijaksaan Yesus. Begitulah bagaimana dunia diubah : bukan dengan kekuatan dan kekuasaan, tetapi oleh Sabda Bahagia. Karena itulah yang dilakukan Yesus : Ia hidup sampai kesudahan apa yang Ia katakan sejak awal. Semuanya bergantung pada memberikan kesaksian tentang kasih Yesus, kasih yang dijelaskan oleh Santo Paulus dengan luar biasa dalam Bacaan Kedua hari ini. Marilah kita lihat bagaimana ia memaparkannya.

 

Pertama, Paulus mengatakan bahwa “kasih itu sabar” (ayat 4). Kita tidak sedang mengharapkan kata sifat ini. Kasih tampaknya serupa dengan kebaikan, kemurahan hati, dan perbuatan baik, namun Paulus mengatakan bahwa kasih itu terutama merupakan kesabaran. Kitab Suci berbicara pertama-tama dan terutama tentang kesabaran Allah. Sepanjang sejarah, manusia terbukti terus-menerus tidak setia terhadap perjanjian dengan Allah, jatuh ke dalam dosa-dosa lama yang sama. Namun alih-alih menjadi lelah dan menjauh, Allah selalu tetap setia, mengampuni dan memulai kembali. Kesabaran untuk memulai kembali setiap saat ini adalah mutu pertama kasih, karena kasih tidak mudah cemburu, tetapi selalu memulai kembali. Kasih tidak menjadi lelah dan putus asa, tetapi selalu mendesak. Kasih tidak menjadikan berkecil hati, tetapi tetap kreatif. Menghadapi kejahatan, kasih tidak menyerah atau mundur. Orang-orrang yang mengasihi tidak menutup diri ketika ada hal yang keliru, tetapi menanggapi kejahatan dengan kebaikan, sadar akan kebijaksanaan salib yang berjaya. Saksi-saksi Allah adalah seperti itu : tidak pasif atau menerima nasib, tetapi pada kemurahan hati kejadian, perasaan atau peristiwa di sekitar. Sebaliknya, mereka terus-menerus penuh harapan, karena berlandaskan kasih yang "menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (ayat 7).

 

Kita bisa bertanya pada diri sendiri : bagaimana kita bereaksi terhadap situasi yang tidak benar? Dalam menghadapi kesulitan, selalu ada dua godaan. Godaan yang pertama adalah lari : kita bisa lari, membelakangi, berusaha menjauhkan diri dari segalanya. Godaan yang kedua adalah bereaksi dengan amarah, dengan unjuk kekuatan. Begitulah kasus para murid di Taman Getsemani : dalam kebingungan mereka, banyak yang melarikan diri dan Petrus menghunus pedang. Namun baik lari maupun pedang tidak mencapai apa-apa. Sebaliknya, Yesus mengubah sejarah. Bagaimana? Dengan kekuatan kasih yang rendah hati, dengan kesaksian-Nya yang sabar. Inilah yang harus kita lakukan; dan begitulah cara Allah memenuhi janji-Nya.

 

Janji. Kebijaksanaan Yesus, yang diwujudkan dalam Sabda Bahagia, memanggil untuk bersaksi dan menawarkan pahala yang terkandung dalam janji-janji ilahi. Karena setiap Sabda Bahagia segera diikuti oleh sebuah janji : mereka yang mengamalkannya akan memiliki Kerajaan Surga, mereka akan dihibur, mereka akan dipuaskan, mereka akan melihat Allah… (bdk. Mat 5:3-12). Janji Allah menjamin sukacita yang tak tertandingi dan tidak pernah mengecewakan. Tetapi bagaimana janji tersebut terpenuhi? Melalui kelemahan kita. Allah memberkati orang-orang yang menempuh jalan kemiskinan batin sampai kesudahan.

 

Inilah caranya; tidak ada cara lain. Marilah kita memandang Abraham, sang bapa bangsa. Allah menjanjikannya keturunan yang banyak, tetapi ia dan Sarah sekarang sudah tua dan tidak mempunyai anak. Namun justru di usia tua mereka sabar dan setia sehingga Allah melakukan keajaiban dan memberi mereka seorang putra. Marilah kita juga memandang Musa : Allah berjanji bahwa Ia akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, dan untuk itu Ia meminta Musa untuk berbicara kepada Firaun. Meskipun Musa mengatakan bahwa ia tidak pandai berbicara, namun melalui perkataannya Allah akan memenuhi janji-Nya. Marilah kita memandang Bunda Maria, yang menurut Hukum tidak dapat memiliki seorang anak, namun dipanggil untuk menjadi seorang ibu. Dan marilah kita memandang Petrus : ia menyangkal Tuhan, namun ia adalah orang yang dipanggil Yesus untuk menguatkan saudara-saudaranya. Saudara dan saudari yang terkasih, terkadang kita mungkin merasa tidak berdaya dan tidak berguna. Kita tidak boleh menyerah terhadap hal ini, karena Allah ingin melakukan keajaiban justru melalui kelemahan kita.

 

Allah berkenan melakukan hal itu, dan malam ini, delapan kali, kepada kita Ia telah mengucapkan kata ţūb'ā [berbahagia], untuk membuat kita menyadari bahwa, bersama-Nya, kita benar-benar “berbahagia”. Tentu saja, kita mengalami pencobaan, dan kita sering jatuh, tetapi jangan lupa bahwa, bersama Yesus, kita berbahagia. Apa pun yang diambil dunia dari kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kasih yang lembut dan sabar yang dengannya Allah memenuhi janji-Nya. Saudari yang terkasih, saudara yang terkasih, mungkin ketika kamu melihat tanganmu, tanganmu tampak kosong, mungkin kamu merasa putus asa dan tidak puas dengan kehidupan. Jika demikian, jangan takut : Sabda Bahagia adalah untukmu. Untuk kamu yang menderita, yang lapar dan haus akan keadilan, yang dianiaya. Allah berjanji kepadamu bahwa namamu tertulis di hati-Nya, tertulis di surga!

 

Hari ini saya bersyukur kepada Allah bersamamu dan karenamu, karena di sini, tempat kebijaksanaan muncul sejak dahulu kala, begitu banyak saksi telah muncul di zaman kita sekarang, sering kali terabaikan oleh berita, namun berharga di mata Allah. Saksi-saksi yang, dengan menghayati Sabda Bahagia, membantu Allah memenuhi janji-janji perdamaian-Nya.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 6 Maret 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RABU ABU 17 Februari 2021 : MASA PRAPASKAH MERUPAKAN SEBUAH PERJALANAN KEMBALI KEPADA ALLAH

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Kita sekarang sedang memulai perjalanan Masa Prapaskah kita, yang dibuka dengan perkataan nabi Yoel. Perkataan tersebut menunjukkan jalan yang harus kita ikuti. Kita mendengar undangan yang muncul dari hati Allah, yang dengan tangan terbuka dan mata penuh kerinduan memohon kepada kita : "Kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu" (Yl 2:12). Kembalilah kepada-Ku. Masa Prapaskah adalah perjalanan kembali kepada Allah. Berapa kali, dalam kesibukan atau ketidakacuhan kita, kita telah mengatakan kepada-Nya : "Tuhan, nanti aku akan datang kepada-Mu, tunggu sebentar ... Hari ini aku tidak bisa datang, tetapi besok aku akan mulai berdoa dan melakukan sesuatu untuk sesama". Kita melakukan hal ini, berulang kali. Tetapi, sekarang juga, Allah sedang berbicara kepada hati kita. Dalam kehidupan ini, kita akan selalu memiliki hal-hal yang harus dilakukan dan mengajukan berbagai alasan, tetapi sekarang juga, saudara dan saudari, sekarang juga adalah waktu untuk kembali kepada Allah.

 

 

Kembalilah kepada-Ku, sabda-Nya, dengan segenap hatimu. Masa Prapaskah adalah perjalanan yang melibatkan seluruh kehidupan kita, segenap diri kita. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memeriksa jalan yang sedang kita ambil, menemukan jalan pulang dan menemukan kembali hubungan kita yang terdalam dengan Allah, yang pada-Nya segala sesuatu bergantung. Masa Prapaskah bukan berkenaan dengan pengorbanan-pengorbanan kecil yang kita buat, tetapi pembedaan ke mana hati mengarah. Inilah inti Masa Prapaskah : menanyakan ke mana hatiku mengarah? Marilah kita bertanya : ke mana sistem penunjuk arah hidupku membawaku - menuju Allah atau menuju diriku? Apakah aku hidup untuk menyenangkan Tuhan, atau untuk diperhatikan, dipuji, ditempatkan di barisan depan… ? Apakah aku memiliki hati yang “goyah”, yang mengambil satu langkah maju dan kemudian satu langkah mundur? Apakah aku sedikit mengasihi Tuhan dan sedikit dunia, atau apakah hatiku teguh di dalam Allah? Apakah aku puas dengan kemunafikanku, atau apakah aku bekerja untuk membebaskan hatiku dari kepalsuan dan kebohongan yang mengikatnya?

 

Perjalanan Masa Prapaskah adalah sebuah keluaran dari perbudakan menuju kebebasan. Empat puluh hari yang berkaitan dengan empat puluh tahun perjalanan umat Allah di padang gurun untuk kembali ke tanah air mereka. Betapa sulitnya meninggalkan Mesir! Bagi umat Allah, lebih sulit meninggalkan Mesir hati, Mesir itu yang selalu mereka bawa di dalam diri mereka, ketimbang meninggalkan tanah Mesir. Sangat sulit untuk meninggalkan Mesir. Sepanjang perjalanan mereka, ada godaan merindukan bawang, kembali, melekat pada ingatan masa lalu, pada berhala ini atau itu. Demikian pula dengan kita : perjalanan kembali kita kepada Allah dihalangi oleh keterikatan kita yang tidak sehat, tertahan oleh jerat dosa kita yang menggoda, oleh andalan palsu dari uang dan penampilan, oleh kelumpuhan ketidakpuasan kita. Untuk memulai perjalanan ini, kita harus membuka topeng khayalan-khayalan ini.

 

Tetapi kita bertanya pada diri kita : lalu bagaimana kita melanjutkan perjalanan kembali kepada Allah? Kita bisa dibimbing oleh perjalanan pulang yang dijabarkan dalam Sabda Allah.

 

Kita dapat memikirkan anak yang hilang dan menyadari bahwa, bagi kita juga, inilah waktunya untuk kembali kepada Bapa. Seperti anak laki-laki itu, kita juga telah melupakan aroma akrab rumah kita, kita telah menyia-nyiakan warisan berharga untuk hal-hal remeh dan berakhir dengan tangan kosong dan hati yang tidak bahagia. Kita telah jatuh, seperti anak kecil yang terus menerus jatuh, balita yang mencoba berjalan tetapi terus jatuh dan butuh, berkali-kali, digendong oleh ayah mereka. Pengampunan Bapa yang selalu membuat kita bangkit kembali. Pengampunan Allah - Pengakuan Dosa - adalah langkah pertama dalam perjalanan kembali kita. Dalam menyebutkan Pengakuan Dosa, saya meminta para bapa pengakuan untuk menjadi seperti ayah, bukan menawarkan tongkat pukulan melainkan pelukan.

 

Kemudian kita perlu kembali kepada Yesus, seperti penderita kusta yang, setelah sembuh, kembali untuk mengucap syukur. Meskipun sepuluh penderita kusta telah disembuhkan, ia adalah satu-satunya yang diselamatkan, karena ia kembali kepada Yesus (bdk. Luk 17:12-19). Kita semua memiliki kelemahan rohani yang tidak dapat kita sembuhkan sendiri. Kita semua memiliki sifat buruk yang tidak dapat kita cerabut sendirian. Kita semua memiliki ketakutan yang melumpuhkan yang tidak dapat kita atasi sendirian. Kita perlu meneladan penderita kusta itu, yang kembali kepada Yesus dan tersungkur di kaki-Nya. Kita membutuhkan penyembuhan Yesus, kita perlu menunjukkan luka-luka kita kepada-Nya dan berkata : “Yesus, aku ada di hadapan-Mu, dengan dosaku, dengan kesedihanku. Engkau adalah tabib. Engkau bisa membebaskanku. Sembuhkanlah hatiku”.

 

Sekali lagi, sabda Allah meminta kita untuk kembali kepada Bapa, kembali kepada Yesus. Sabda Allah juga memanggil kita untuk kembali kepada Roh Kudus. Abu di kepala kita mengingatkan kita bahwa kita adalah debu dan kita akan kembali menjadi debu. Namun di atas debu kita ini, Allah menghembuskan Roh kehidupan-Nya. Jadi kita seharusnya tidak lagi menjalani hidup kita mengejar debu, mengejar hal-hal yang ada di sini hari ini dan besok pergi. Marilah kita kembali kepada Roh, Sang Pemberi Kehidupan; marilah kita kembali kepada Api yang membangkitkan abu kita, kepada Api yang mengajari kita untuk mengasihi. Kita akan selalu menjadi debu, tetapi sebagaimana dikatakan madah liturgi, “debu dalam kasih”. Marilah kita sekali lagi berdoa kepada Roh Kudus dan menemukan kembali api pujian, yang menghabiskan abu ratapan dan sikap terima nasib.

 

Saudara dan saudari, perjalanan kembali kita kepada Allah hanya mungkin karena Ia yang pertama kali melakukan perjalanan kepada kita. Kalau tidak, itu tidak mungkin. Sebelum kita mendatangi-Nya, Ia mendatangi kita. Ia mendahului kita; Ia turun untuk menemui kita. Demi kita, Ia merendahkan diri-Nya lebih dari yang bisa kita bayangkan : Ia menjadi dosa, Ia menjadi kematian. Demikian yang dikatakan Santo Paulus kepada kita: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita” (2 Kor 5:21). Bukan untuk meninggalkan kita tetapi untuk menyertai kita dalam perjalanan kita, Ia merangkul dosa dan kematian kita. Ia menjamah dosa kita; Ia menjamah kematian kita. Perjalanan kita kemudian adalah tentang memperkenankan Ia memegang kita. Bapa yang meminta kita pulang adalah Bapa yang meninggalkan rumah untuk mencari kita; Tuhan yang menyembuhkan kita adalah Tuhan yang membiarkan diri-Nya menderita di kayu salib; Roh yang memungkinkan kita untuk mengubah hidup kita adalah Roh yang bernapas dengan lembut namun kuat di atas debu kita.

 

Kemudian, inilah permohonan rasul Paulus : "didamaikan dengan Allah" (ayat 20). Didamaikan : perjalanan tidak berlandaskan kekuatan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa didamaikan dengan Tuhan sendirian. Pertobatan yang sepenuh hati, dengan perbuatan dan pengamalan yang mengungkapkannya, hanya mungkin jika dimulai dengan keutamaan karya Allah. Apa yang memungkinkan kita untuk kembali kepada-Nya bukanlah kemampuan atau jasa kita, tetapi tawaran rahmat-Nya. Rahmat menyelamatkan kita; keselamatan adalah rahmat semata, kecuma-cumaan semata. Yesus mengatakan hal ini dengan jelas dalam Injil : apa yang membenarkan kita bukanlah yang kita tunjukkan di hadapan sesama, tetapi hubungan kita yang tulus dengan Bapa. Awal kembali kepada Allah adalah pengakuan akan kebutuhan kita akan Dia dan belas kasihan-Nya, kebutuhan kita akan rahmat-Nya. Inilah jalan yang benar, jalan kerendahan hati. Apakah aku merasa membutuhkan, atau apakah aku merasa diriku berkecukupan?

 

Hari ini kita menundukkan kepala untuk menerima abu. Di akhir Masa Prapaskah, kita akan membungkuk lebih rendah lagi untuk membasuh kaki saudara-saudari kita. Masa Prapaskah adalah penurunan yang rendah hati baik ke dalam diri kita maupun ke arah sesama. Masa Prapaskah adalah tentang menyadari bahwa keselamatan bukanlah pendakian menuju kemuliaan, tetapi penurunan dalam kasih. Masa Prapaskah berkenaan dengan menjadi kecil. Agar kita tidak tersesat dalam perjalanan kita, marilah kita berdiri di hadapan salib Yesus : tahkta Allah yang sunyi. Marilah kita setiap hari merenungkan luka-luka-Nya, luka-luka yang Ia bawa ke surga dan tunjukkan setiap hari kepada Bapa dalam doa pengantaraan-Nya. Marilah kita setiap hari merenungkan luka-luka itu. Di dalam luka-luka itu, kita mengenali kekosongan kita, kekurangan kita, luka dosa kita dan semua luka yang telah kita alami. Namun di sana juga, kita melihat dengan jelas bahwa Allah tidak menuding siapa pun, tetapi justru membuka tangan-Nya untuk memeluk kita. Luka-Nya ditimpakan untuk kepentingan kita, dan oleh luka-luka itu kita telah disembuhkan (bdk. 1Ptr 2:25; Yes 53: 5). Dengan mencium luka-luka itu, kita akan menyadari bahwa di sana, dalam luka hidup yang paling menyakitkan, Allah menanti kita dengan belas kasihan-Nya yang tak terbatas. Karena di sana, di mana kita paling rentan, di mana kita merasa paling malu, Ia datang menemui kita. Dan setelah datang menemui kita, Ia sekarang mengundang kita untuk kembali kepada-Nya, menemukan kembali sukacita karena dikasihi.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 17 Februari 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-25) 2 Februari 2021 : KESABARAN ADALAH JAMINAN MUTU PARA PELAKU HIDUP BAKTI

Simeon, demikian Santo Lukas memberitahu kita, “menantikan penghiburan bagi Israel” (Luk 2:25). Ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus ke ke Bait Allah, ia menatang Sang Mesias. Orang yang mengenali terang yang datang untuk menyinari bangsa bukan Yahudi dalam diri Anak itu adalah seorang yang sudah lanjut usia yang dengan sabar menantikan penggenapan janji Tuhan.

 

Kesabaran Simeon. Marilah kita melihat lebih dekat kesabaran orang tua itu. Sepanjang hidupnya, ia telah menanti, melatih kesabaran hati. Dalam doanya, Simeon telah belajar bahwa Allah tidak datang dalam kejadian-kejadian yang luar biasa, tetapi berkarya di tengah kemiripan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam irama kegiatan kita yang sering membosankan, dalam hal-hal kecil yang, bekerja dengan keuletan dan kerendahan hati, kita capai dalam upaya kita untuk melakukan kehendak-Nya. Dengan ketekunan yang penuh kesabaran, Simeon tidak menjadi lelah seiring berjalannya waktu. Ia sekarang sudah tua, namun nyala api masih menyala terang di dalam hatinya. Dalam kehidupannya yang panjang, pasti ada saat-saat di mana ia pernah disakiti, kecewa, namun tidak putus asa. Ia percaya pada janji itu, dan tidak membiarkan dirinya diliputi oleh penyesalan masa lalu atau oleh rasa putus asa yang bisa datang saat kita mendekati senja hidup kita. Harapan dan penantiannya terungkap dalam kesabaran sehari-harinya yang, terlepas dari segala sesuatunya, tetap berjaga-jaga, sampai akhirnya "matanya melihat keselamatan" yang telah dijanjikan (bdk. Luk 2:30).

 

Saya bertanya pada diri saya sendiri : dari manakah Simeon belajar kesabaran seperti itu? Kesabaran tersebut berasal dari doa dan sejarah bangsanya, yang selalu melihat di dalam diri Tuhan “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Ia mengenali Bapa yang, bahkan dalam menghadapi penolakan dan ketidaksetiaan, tidak pernah menyerah, tetapi tetap "sabar bertahun-tahun lamanya" (bdk. Neh 9:30), terus-menerus mengulurkan kemungkinan pertobatan.

 

Dengan demikian, kesabaran Simeon adalah cermin kesabaran Allah sendiri. Dari doa dan sejarah bangsanya, Simeon belajar bahwa Allah memang sabar. Dengan kesabaran itu, Santo Paulus memberitahu kita, ia “menuntun kita kepada pertobatan” (Rm 2:4). Saya suka memikirkan Romano Guardini, yang pernah mengamati bahwa kesabaran adalah cara Allah untuk menanggapi kelemahan kita dan memberi kita waktu yang dibutuhkan untuk berubah (bdk. Glaubenserkenntnis, Würzburg, 1949, 28). Melebihi siapa pun, Mesias, Yesus, yang ditatang Simeon, menunjukkan kepada kita kesabaran Allah, Bapa yang penyayang yang terus memanggil kita, bahkan sampai saat terakhir kita. Allah, yang tidak menuntut kesempurnaan tetapi kegairahan yang tulus, yang membuka kemungkinan baru ketika segalanya tampak tersesat, yang ingin membuka celah dalam hati kita yang mengeras, yang membiarkan benih yang baik tumbuh tanpa mencabut lalang. Inilah alasan harapan kita : Allah tidak pernah lelah menanti kita. Saat kita berpaling, Ia datang mencari kita; saat kita jatuh, Ia memberdirikan kita; ketika kita kembali kepada-Nya setelah tersesat, Ia menanti kita dengan tangan terbuka. Kasih-Nya tidak ditimbang dalam keseimbangan perhitungan manusiawi kita, tetapi tanpa henti memberi kita keberanian untuk memulai kembali. Hal ini mengajarkan kita ketahanan, keberanian untuk selalu memulai kembali, setiap hari. Selalu memulai kembali setelah kejatuhan kita. Allah itu sabar.

 

Marilah kita melihat kesabaran kita. Marilah kita melihat kesabaran Allah dan kesabaran Simeon saat kita memikirkan hidup bakti kita sendiri. Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri apa sebenarnya kesabaran. Tentunya ini bukan hanya tentang menoleransi kesulitan atau menunjukkan tekad yang suram dalam menghadapi kesulitan. Kesabaran bukanlah tanda kelemahan, tetapi kekuatan jiwa yang memungkinkan kita untuk "memikul beban", bersabar, menanggung beban persoalan pribadi dan komunitas, menerima sesama sebagai orang yang berbeda dari diri kita, bertekun dalam kebaikan ketika semua tampak tersesat, serta terus maju bahkan ketika diliputi oleh kepenatan dan kelesuan.

 

Perkenankan saya menunjukkan tiga "pengaturan" yang di dalamnya kesabaran bisa menjadi nyata.

 

Pengaturan yang pertama adalah kehidupan pribadi kita. Ada saat ketika kita menanggapi panggilan Tuhan, dan dengan kegairahan dan kemurahan hati mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sepanjang jalan, bersama-sama penghiburan kita telah mengikutsertakan kekecewaan dan frustrasi kita. Kadang-kadang, kerja keras kita gagal mencapai hasil yang diinginkan, benih yang kita taburkan tampaknya tidak menghasilkan buah yang memadai, semangat doa kita menjadi dingin dan kita tidak selalu kebal terhadap kekeringan rohani. Dalam kehidupan kita sebagai para pelaku hidup bakti, dapat terjadi bahwa harapan perlahan memudar sebagai akibat dari pengharapan yang tidak terpenuhi. Kita harus bersabar dengan diri kita sendiri serta menantikan dengan harapan waktu dan tempat Allah, karena Ia tetap setia pada janji-janji-Nya. Inilah batu fondasi : Ia menepati janj-janji-Nya. Mengingat hal ini dapat membantu kita menelusuri kembali langkah-langkah kita dan menghidupkan kembali impian kita, ketimbang menyerah pada kesedihan dan keputusasaan batin. Saudara dan saudari, di dalam diri kita para pelaku hidup bakti, kesedihan batin adalah seekor cacing, seekor cacing yang memakan kita dari dalam. Minggatlah dari kesedihan batin!

 

Pengaturan yang kedua yang di dalamnya kesabaran dapat menjadi nyata adalah kehidupan komunitas. Kita semua tahu bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu tenang, terutama ketika hubungan tersebut melibatkan rancangan kehidupan atau kegiatan kerasulan. Ada kalanya pertikaian muncul dan tidak ada solusi segera yang dapat diharapkan ataupun tidak seharusnya dilakukan penilaian yang terburu-buru. Dibutuhkan waktu untuk melangkah mundur, menjaga perdamaian serta menunggu waktu yang lebih baik untuk menyelesaikan situasi dalam kasih dan kebenaran. Janganlah kita membiarkan diri kita dibuat bingung oleh prahara. Dalam Ibadat Harian, Bacaan Harian untuk besok, ada bagian yang bagus tentang penegasan rohani oleh Diodokus dari Photice. Ia berkata : “Laut yang tenang memungkinkan nelayan untuk memandang kedalamannya dengan benar. Tidak ada ikan yang bisa bersembunyi di sana dan luput dari pandangannya. Tetapi, laut yang berprahara menjadi keruh saat terombang-ambing oleh angin”. Kita tidak akan pernah bisa membedakan dengan baik, melihat kebenaran, jika hati kita terombang-ambing dan tidak sabar. Tidak pernah. Komunitas kita membutuhkan kesabaran timbal balik semacam ini : kemampuan untuk mendukung, yaitu, menanggung di pundak kita, kehidupan salah seorang saudara atau saudari kita, termasuk kelemahan dan kegagalannya, seluruhnya. Marilah kita mengingat bahwa Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi solois - kita tahu ada banyak di Gereja - tidak, kita tidak dipanggil untuk menjadi penyanyi tunggal tetapi menjadi bagian dari paduan suara yang terkadang bisa melewatkan satu atau dua nada, tetapi harus selalu berusaha untuk bernyanyi serempak.

 

Terakhir, pengaturan yang ketiga adalah hubungan kita dengan dunia. Simeon dan Hana sangat menghargai harapan yang diberitakan oleh para nabi, meskipun harapan itu lambat tergenapi dan tumbuh dalam diam di tengah ketidaksetiaan dan reruntuhan dunia kita. Mereka tidak mengeluh tentang betapa kelirunya hal-hal itu, tetapi dengan sabar mencari terang yang bersinar dalam kegelapan sejarah. Mencari terang yang bersinar dalam kegelapan sejarah; mencari terang yang bersinar dalam kegelapan komunitas kita. Kita juga membutuhkan kesabaran semacam itu, agar tidak jatuh ke dalam perangkap keluh kesah. Beberapa orang ahli dalam berkeluh kesah, pujangga dalam berkeluh kesah, mereka sangat pandai berkeluh kesah! Tidak, berkeluh kesah memenjarakan kita : "dunia tidak lagi mendengarkan kita" - seberapa sering kita mendengar hal itu - atau "kita semakin tidak memiliki panggilan lagi, jadi kita harus menutup rumah", atau "ini bukan waktu yang mudah" - " ah, jangan beritahu aku! ... ”. Demikianlah duet keluh kesah dimulai. Dapat terjadi bahwa meskipun Allah dengan sabar mengolah tanah sejarah dan hati kita, kita menunjukkan diri tidak sabar dan ingin menilai semuanya dengan segera : sekarang atau tidak sama sekali, sekarang, sekarang, sekarang. Dengan cara ini, kita kehilangan kebajikan-kebajikan "kecil" tetapi terindah itu : harapan. Saya telah melihat banyak pelaku hidup bakti yang kehilangan harapan, hanya karena tidak sabar.

 

Kesabaran membantu kita untuk berbelas kasih dalam cara kita memandang diri kita, komunitas kita dan dunia kita. Dalam hidup kita sendiri, apakah kita menyambut kesabaran Roh Kudus? Dalam komunitas kita, apakah kita saling mendukung dan memancarkan sukacita hidup persaudaraan? Di dunia ini, apakah kita dengan sabar memberikan pelayanan kita, atau melontarkan penilaian yang sumbang? Inilah tantangan-tantangan nyata bagi hidup bakti kita : kita tidak bisa tetap terjebak dalam nostalgia masa lalu atau terus mengulangi hal-hal lama atau keluh kesah sehari-hari yang sama. Kita membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk terus maju, menjelajahi jalan baru, dan menanggapi bisikan Roh Kudus. Dan melakukannya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan, tanpa propaganda atau publisitas yang besar.

 

Marilah kita merenungkan kesabaran Allah serta memohonkan kesabaran Simeon dan Hana yang penuh kepercayaan. Dengan cara ini, semoga mata kita juga melihat terang keselamatan dan membawa terang itu ke seluruh dunia, seperti yang dilakukan oleh dua orang lanjut usia ini dalam kata-kata pujian mereka.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 2 Februari 2021)