Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA ARWAH BAGI PARA KARDINAL DAN USKUP YANG MENINGGAL DALAM SETAHUN TERAKHIR 2 November 2022 : HARAPAN DAN KEJUTAN

Bacaan Ekaristi : Yes 25:6a,7-9; Rm. 8:14-23; Mat. 25:31-46.

 

Bacaan-bacaan yang telah kita dengar membangkitkan dalam diri kita, dalam diri saya, dua kata : harapan dan kejutan.

 

Harapan mengungkapkan makna hidup, karena kita hidup untuk mengantisipasi perjumpaan : perjumpaan dengan Allah, yang menjadi alasan doa pengantaraan kita hari ini, terutama untuk para kardinal dan uskup yang telah meninggal setahun terakhir, yang bagi mereka kita memilih untuk mempersembahkan kurban Ekaristi ini.

 

Kita semua hidup dalam pengharapan, dengan harapan suatu hari nanti mendengar kata-kata Yesus yang ditujukan kepada kita : "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku" (Mat 25:34). Kita berada di ruang tunggu dunia untuk masuk surga, untuk ambil bagian dalam "perjamuan bagi segala bangsa" yang diceritakan oleh nabi Yesaya kepada kita (bdk. 25:6). Ia mengatakan sesuatu yang menghangatkan hati kita karena akan memenuhi harapan terbesar kita : Tuhan "akan meniadakan maut untuk seterusnya" dan "menghapuskan air mata dari pada segala muka" (ayat 8). Sungguh indah ketika Tuhan datang untuk menghapuskan air mata! Tetapi sungguh buruk ketika kita mengharapkan orang lain, dan bukan Tuhan, yang menghapus mereka. Dan lebih buruk lagi, tidak memiliki air mata. Kemudian kita akan dapat mengatakan: “Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan - Ia yang menghapuskan air mata -; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!” (ayat 9). Ya, kita hidup dalam pengharapan menerima perbendaharaan yang begitu besar dan indah sehingga kita bahkan tidak dapat membayangkannya, karena, sebagaimana diingatkan Rasul Paulus kepada kita, "kita adalah ahli waris janji-janji Allah, ahli waris bersama dengan Kristus" (Rm 8:17) dan "kita menantikan untuk hidup selamanya, kita menantikan pembebasan tubuh kita" (bdk. ayat 23).

 

Saudara dan saudari, marilah kita kembangkan harapan surga, marilah kita praktikkan keinginan surga. Ada baiknya kita hari ini bertanya pada diri kita apakah keinginan kita ada hubungannya dengan Surga. Karena kita beresiko terus menerus mencita-citakan hal yang berlalu, mencampuradukkan keinginan dengan kebutuhan, mendahulukan pengharapan dunia ketika kita menantikan Tuhan, namun melupakan apa yang penting. Mengejar angin adalah kesalahan terbesar dalam hidup. Kita mengedadah, karena kita sedang menuju puncak, sementara hal-hal di bawah sini tidak akan naik ke sana : karier terbaik, pencapaian terbesar, gelar dan penghargaan paling bergengsi, akumulasi kekayaan dan keuntungan duniawi, semuanya akan lenyap dalam sekejap, semuanya. Dan setiap harapan yang ditempatkan di dalamnya akan dikecewakan selamanya. Namun, berapa banyak waktu, berapa banyak usaha dan energi yang kita habiskan untuk mengkhawatirkan dan menyedihkan diri kita untuk hal-hal ini, membiarkan ketegangan menuju rumah memudar, kehilangan pandangan akan makna perjalanan, tujuan perjalanan, ketakterbatasan yang cenderung kita tuju, sukacita yang karenanya marilah kita bernapas! Marilah kita bertanya pada diri kita : apakah aku melaksanakan apa yang kuucapkan dalam Syahadat, "Aku menanti - yaitu - kebangkitan orang mati dan kehidupan dunia yang akan datang"? Dan bagaimana penantianku? Apakah aku dapat pergi kepada hal-hal penting atau apakah aku terganggu oleh begitu banyak hal yang berlebihan? Apakah aku menumbuhkan harapan atau apakah aku terus mengeluh, karena aku memberi terlalu banyak nilai pada banyak hal yang tidak diperhitungkan dan kemudian akan berlalu?

 

Untuk mengantisipasi hari esok, Bacaan Injil hari ini membantu kita. Dan di sini muncul kata kedua yang ingin saya bagikan kepadamu : kejutan. Karena kejutan-Nya luar biasa setiap kali kita mendengarkan Matius bab 25. Hal ini mirip dengan orang-orang benar, yang mengatakan: "Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?" (ayat 37-39). Bilamana pun? Demikianlah diungkapkan keterkejutan semua orang, keheranan orang-orang benar dan kekecewaan orang-orang yang tidak benar.

 

Bilamana? Kita dapat mengatakannya juga : kita mengharapkan bahwa penghakiman atas kehidupan dan dunia akan berlangsung di bawah panji keadilan, di hadapan pengadilan penyelesaian yang, dengan memeriksa setiap unsur, memperjelas situasi dan niat selamanya. Sebaliknya, di pengadilan ilahi, satu-satunya bagian dari ganjaran dan tuduhan adalah belas kasihan terhadap orang miskin dan yang terlantar : "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku". (ayat 40 ). Yang Mahatinggi tampaknya berpihak pada orang-orang kecil. Mereka yang tinggal di kolong langit termasuk mereka yang paling tidak berarti bagi dunia. Benar-benar kejutan! Tetapi penghakiman akan berlangsung seperti ini karena akan dipancarkan oleh Yesus, Allah kasih yang rendah hati, Ia yang, lahir dan wafat miskin, hidup sebagai hamba. Ukurannya adalah cinta yang melampaui ukuran kita dan tolok ukurnya adalah kemurahan hati. Jadi, untuk mempersiapkan diri, kita tahu apa yang harus dilakukan : cinta cuma-cuma dan tanpa balas jasa, tanpa menunggu balasan, orang-orang yang termasuk dalam daftar preferensi mereka, orang-orang yang tidak dapat mengembalikan apa pun kepada kita, orang-orang yang tidak menarik kita, orang-orang yang melayani orang-orang kecil.

 

Pagi ini saya menerima sepucuk surat dari seorang pendeta panti asuhan, seorang pendeta Lutheran Protestan di panti asuhan di Ukraina. Anak-anak yatim piatu akibat perang, anak-anak sendirian, terlantar. Dan ia berkata: "Ini adalah pelayanan saya : menemani orang-orang yang ditolak ini, karena mereka telah kehilangan orangtua mereka, perang yang kejam telah membuat mereka tinggal sendirian". Orang ini melakukan apa yang diminta Yesus dari dirinya : menyembuhkan anak-anak kecil dari tragedi itu. Dan ketika saya membaca surat itu, yang ditulis dengan sangat menyakitkan, saya tergerak, karena saya berkata : "Tuhan, Engkau dapat melihat bahwa Engkau terus menginspirasi nilai-nilai Kerajaan yang sebenarnya".

 

Bilamana? Pendeta ini akan mengatakan bilamana ia bertemu Tuhan. "Bilamana" yang mengherankan, yang muncul empat kali dalam pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan umat manusia kepada Tuhan (bdk. ayat 37.38.39.44), datang terlambat, hanya "apabila Anak manusia datang dalam kemuliaan-Nya" (ayat 31). Saudara, saudari, janganlah kita terkejut juga. Kita sangat berhati-hati untuk tidak mempermanis cita rasa Injil. Karena seringkali, demi kenyamanan atau kemudahan, kita cenderung melemahkan pesan Yesus, untuk memperlunak kata-kata-Nya. Marilah kita hadapi itu, kita sudah cukup pandai berkompromi dengan Injil. Selalu sampai di sini, sampai di sana... kompromi. Memberi makan orang lapar ya, tetapi masalah kelaparan itu rumit, dan saya pasti tidak bisa menyelesaikannya! Membantu orang miskin, ya, tetapi kemudian ketidakadilan harus diatasi dengan cara tertentu dan kemudian lebih baik menunggu, juga karena jika kamu berkomitmen maka kamu berisiko diganggu sepanjang waktu dan mungkin kamu menyadari bahwa kamu bisa melakukannya lebih baik, lebih baik menunggu sebentar. Menjadi dekat dengan orang sakit dan para tahanan, ya, tetapi di halaman depan surat kabar dan media sosial ada masalah lain yang lebih mendesak dan mengapa aku harus tertarik pada itu semua? Menyambut para migran ya, tentu saja, tetapi ini adalah masalah umum yang rumit, ini menyangkut politik ... Aku tidak mencampuradukkan diriku dalam hal-hal ini ... Selalu berkompromi: "ya, ya ...", tetapi "tidak, tidak". Ini adalah kompromi yang kita buat dengan Injil. Semua "ya" tetapi, pada akhirnya, semua "tidak". Jadi, dengan berkat "tetapi" dan "tetapi" - sering kali kita adalah manusia "tetapi" dan "tetapi" - kita membuat hidup menjadi kompromi dengan Injil. Dari murid sederhana Guru kita menjadi ahli kerumitan, yang banyak berdebat dan sedikit berbuat, yang mencari jawaban lebih banyak di depan komputer daripada di depan Salib, di internet daripada di mata saudara-saudari kita; umat Kristiani yang berkomentar, berdebat, dan mengungkap teori, tetapi tidak mengenal orang miskin sekalipun namanya, tidak mengunjungi orang sakit selama berbulan-bulan, tidak pernah memberi makan atau mendandani seseorang, tidak pernah berteman dengan orang yang membutuhkan, lupa bahwa "umat Kristiani program adalah hati yang melihat” (Benediktus XVI, Deus Caritas Est, 31).

 

Bilamana? - kejutan besar : kejutan dari sisi orang benar dan dari sisi orang yang tidak benar - Bilamanakah? Orang benar maupun orang tidak benar bertanya mengejutkan. Jawabannya hanya satu : bilamana adalah sekarang, hari ini, di pintu keluar Ekaristi ini. Sekarang, hari ini. Itu ada di tangan kita, dalam karya belas kasih kita : bukan dalam klarifikasi dan analisis yang halus, bukan dalam pembenaran individu atau sosial. Di tangan kita, dan kita bertanggung jawab. Hari ini Allah mengingatkan kita bahwa kematian datang untuk membuat kebenaran tentang kehidupan dan menyingkirkan segala keadaan yang meringankan menjadi belas kasihan. Saudara-saudara, kita tidak bisa mengatakan kita tidak tahu. Kita tidak dapat mengacaukan kenyataan keelokan dengan riasan yang dibuat secara artifisial. Injil menjelaskan bagaimana hidup dalam pengharapan: kita pergi menemui Allah dengan mengasihi karena Ia adalah kasih. Dan, di hari perpisahan kita, kejutan itu akan membahagiakan jika sekarang kita membiarkan diri kita dikejutkan oleh kehadiran Allah, yang menanti kita di antara orang miskin dan terluka di dunia. Kita tidak takut akan kejutan ini: kita berkembang dalam hal-hal yang dikatakan Injil kepada kita, untuk dinilai benar pada akhirnya. Tuhan menanti untuk dibelai bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 November 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN 60 TAHUN PEMBUKAAN KONSILI VATIKAN II 11 Oktober 2022 : DUA CARA MELIHAT GEREJA YANG KITA PELAJARI DARI KONSILI VATIKAN II

Bacaan Ekaristi : Yeh 34:11-16; Yoh 21:15-17.

 

"Apakah engkau mengasihi Aku?". Inilah kata-kata pertama yang diucapkan Yesus kepada Petrus dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Yoh 21:15). Kata-kata terakhir-Nya adalah : “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (ayat 17). Pada peringatan pembukaan Konsili Vatikan II, kita dapat merasakan bahwa kata-kata Tuhan yang sama itu juga ditujukan kepada kita, kepada kita sebagai Gereja : Apakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku.

 

Pertama : Apakah engkau mengasihi Aku? Ini adalah sebuah pertanyaan, karena gaya Yesus bukanlah menawarkan jawaban melainkan mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang menantang hidup kita. Tuhan, yang “dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka” (Dei Verbum, 2), terus bertanya kepada Gereja, Mempelai Perempuan-Nya: “Apakah engkau mengasihi Aku?”. Konsili Vatikan II adalah salah satu tanggapan yang bagus untuk pertanyaan ini. Untuk mengobarkan kembali cintanya kepada Tuhan, Gereja, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, mengabdikan sebuah Konsili untuk memeriksa dirinya serta merenungkan kodrat dan perutusannya. Ia melihat dirinya sekali lagi sebagai misteri rahmat yang dihasilkan oleh cinta; ia melihat dirinya secara baru sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus, bait Roh Kudus yang hidup!

 

Inilah cara pertama melihat Gereja : dari atas. Memang, Gereja pertama-tama perlu dilihat dari atas, dengan mata Allah, mata penuh cinta. Marilah kita bertanya pada diri kita apakah kita, di dalam Gereja, memulai dengan Allah dan tatapan kasih-Nya kepada kita. Kita selalu tergoda untuk memulai dari diri kita sendiri dan bukan dari Allah, menempatkan agenda kita di depan Injil, membiarkan diri kita terperangkap dalam angin keduniawian untuk mengejar mode saat ini atau membalikkan punggung kita pada saat penyelenggaraan ilahi telah dianugerahkan kepada kita, untuk menelusuri kembali langkah kita. Namun marilah kita berhati-hati : baik “progresivisme” yang berbaris di belakang dunia dan “tradisionalisme” – atau “melihat ke belakang” – yang merindukan dunia masa lalu bukanlah bukti cinta, tetapi ketidaksetiaan. Semua itu adalah bentuk keegoisan Pelagian yang menempatkan selera dan rencana kita di atas cinta yang berkenan bagi Allah, cinta yang sederhana, rendah hati dan setia yang diminta Yesus dari Petrus.

 

Apakah engkau mengasihi Aku? Marilah kita temukan kembali Konsili untuk memulihkan keutamaan Allah, pada apa yang hakiki : pada Gereja yang jatuh cinta dengan Tuhannya dan semua manusia yang Ia kasihi; pada Gereja yang kaya dalam Yesus dan miskin dalam aset; pada Gereja yang bebas dan sedang membebaskan. Ini adalah jalan yang ditunjukkan oleh Konsili kepada Gereja. Jalan yang menuntunnya untuk kembali, seperti Petrus dalam Bacaan Injil, ke Galilea, ke sumber cinta pertamanya; menemukan kembali kekudusan Allah dalam kemiskinannya (bdk. Lumen Gentium, 8c; bab 5). Kita masing-masing kita juga memiliki Galilea, Galilea cinta pertama kita, dan tentu saja hari ini kita semua dipanggil untuk kembali ke Galilea kita untuk mendengarkan suara Tuhan : "Ikutlah Aku". Dan di sana, menemukan kembali dalam tatapan Tuhan yang disalibkan dan bangkit sukacita yang telah memudar; berfokus pada Yesus. Menemukan kembali sukacita kita, karena telah lama kehilangan sukacitanya, Gereja telah kehilangan cintanya. Menjelang akhir hayatnya, Paus Yohanes menulis : “Hidupku ini, yang sekarang mendekati matahari terbenam, tidak dapat menemukan akhir yang lebih baik daripada memusatkan segenap pikiranku di dalam Yesus, Putera Maria… persahabatan yang besar dan terus-menerus dengan Yesus, direnungkan sebagai seorang Kanak-kanak dan di atas kayu salib, serta disembah dalam Sakramen Mahakudus” (Jurnal Sebuah Jiwa). Ini adalah pandangan kita dari atas; ini adalah sumber kita yang selalu hidup : Yesus, Galilea cinta, Yesus yang memanggil kita, Yesus yang bertanya kepada kita : "Apakah engkau mengasihi Aku?".

 

Saudara dan saudari, marilah kita kembali ke sumber cinta murni Konsili. Marilah kita temukan kembali semangat Konsili dan memperbarui semangat kita untuk Konsili! Tenggelam dalam misteri Gereja, Bunda dan Mempelai Perempuan, marilah kita juga mengatakan, bersama Santo Yohanes XXIII : Gaudet Mater Ecclesia! (Wejangan pada Pembukaan Konsili, 11 Oktober 1962). Semoga Gereja diliputi dengan sukacita. Jika ia gagal untuk bersukacita, ia akan menyangkal dirinya sendiri, karena ia akan melupakan cinta yang melahirkannya. Namun berapa banyak dari kita yang tidak mampu menjalani iman dengan sukacita, tanpa mengeluh dan mengkritik? Gereja yang mengasihi Yesus tidak punya waktu untuk dan berbantah-bantahan, bergunjing, dan berselisih paham. Semoga Allah membebaskan kita dari sikap kritis dan intoleran, keras dan marah! Ini bukan soal gaya tetapi soal cinta. Bagi mereka yang mengasihi, seperti yang diajarkan Rasul Paulus, lakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut (bdk. Flp 2:14). Tuhan, ajari kami tatapanmu yang luhur; ajarilah kami untuk melihat Gereja seperti Engkau melihatnya. Dan ketika kita kritis dan tidak puas, marilah kita ingat bahwa menjadi Gereja berarti menjadi saksi keindahan cinta-Mu, menjalani hidup kita sebagai jawaban atas pertanyaan-Mu : Apakah engkau mengasihi Aku? Dan tidak bertindak seolah-olah kita sedang berada di pemakaman.

Apakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku. Dengan kata kerja kedua, gembalakanlah, Yesus mengungkapkan jenis kasih yang Ia inginkan dari Petrus. Jadi marilah kita sekarang berkaca pada Petrus. Ia adalah seorang nelayan yang dijadikan Yesus penjala manusia (bdk. Luk 5:10). Yesus memberinya peran baru, peran sebagai gembala, sesuatu yang sama sekali baru baginya. Ini sebenarnya merupakan titik balik dalam kehidupan Petrus, karena sementara para nelayan sibuk mengangkut tangkapan untuk diri mereka, para gembala peduli dengan sesama, dengan menggembalakan sesama. Gembala hidup dengan domba-domba mereka; mereka menggembalakan domba dan datang untuk mencintai mereka. Seorang gembala tidak “di atas” jala – seperti seorang nelayan – tetapi “di tengah” domba-dombanya. Seorang gembala berdiri di depan orang-orang untuk menandai jalan, di tengah-tengah orang-orang sebagai salah satu dari mereka, dan di belakang orang-orang agar dekat dengan orang-orang yang tersesat. Seorang gembala tidak berada di atas, seperti seorang nelayan, tetapi di tengah-tengah.

 

Inilah cara kedua melihat Gereja yang kita pelajari dari Konsili : melihat sekeliling. Dengan kata lain, berada di dunia bersama orang lain tanpa pernah merasa lebih tinggi dari yang lain, menjadi hamba dari kenyataan yang lebih tinggi yaitu Kerajaan Allah (bdk. Lumen Gentium, 5); membawa kabar baik Injil ke dalam kehidupan dan bahasa bangsa-bangsa (bdk. Sacrosanctum Concilium, 36), ambil bagian dalam kegembiraan dan harapan mereka (bdk. Gaudium et Spes, 1). Berada di tengah-tengah umat, bukan di atas umat, yang merupakan dosa buruk klerikalisme yang membunuh domba-domba daripada membimbing atau membantu mereka bertumbuh. Alangkah tepatnya saat Konsili! Konsili membantu kita menolak godaan untuk mengurung diri dalam batas-batas kenyamanan dan keyakinan kita. Konsili membantu kita meneladan pendekatan Allah, yang digambarkan oleh nabi Yehezkiel kepada kita hari ini : “Carilah domba yang hilang dan bawalah pulang ke kandang, balutlah domba yang terluka dan kuatkanlah domba yang lemah” (bdk. Yeh 34:16).

 

Gembalakanlah : Gereja tidak mengadakan Konsili untuk mengagumi dirinya sendiri, tetapi untuk memberikan dirinya kepada orang lain. Memang, Bunda kita yang kudus dan hierarkis, yang muncul dari hati Tritunggal, ada demi cinta. Ia adalah umat imami (bdk. Lumen Gentium, 10 dst.), tidak dimaksudkan untuk menonjol di mata dunia, tetapi untuk melayani dunia. Janganlah kita lupa bahwa Umat Allah dilahirkan "ekstrovert" dan memperbarui masa mudanya dengan penyerahan diri, karena itu adalah sakramen cinta, "tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia" (Lumen Gentium, 1). Saudara dan saudari, marilah kita kembali ke Konsili, yang menemukan kembali sungai Tradisi yang hidup tanpa tetap terperosok dalam tradisi. Konsili menemukan kembali sumber cinta, bukan untuk tetap berada di ketinggian gunung, tetapi mengalir ke bawah sebagai saluran belas kasih bagi semua orang. Marilah kita kembali ke Konsili dan bergerak melampaui diri kita, menahan godaan untuk mementingkan diri sendiri, yang merupakan cara untuk menjadi duniawi. Sekali lagi, Tuhan memberitahu Gereja-Nya : gembalakanlah! Dan saat ia menggembalakan, ia meninggalkan nostalgia masa lalu, penyesalan atas berlalunya pengaruh sebelumnya, dan keterikatan pada kekuasaan. Bagimu, Umat Allah yang kudus, adalah umat pastoral. Kamu tidak berada di sini untuk menggembalakan dirimu sendiri, atau mendaki, tetapi menggembalakan orang lain – semua yang lain – dengan cinta. Dan jika tepatnya untuk menunjukkan perhatian khusus, penggembalaan hendaknya ditujukan kepada mereka yang paling dikasihi Allah : kaum miskin dan kaum yang terbuang (bdk. Lumen Gentium, 8; Gaudium et Spes, 1). Gereja dimaksudkan untuk menjadi, seperti yang dikatakan Paus Yohanes, “Gereja semua orang, dan khususnya Gereja kaum miskin” (Pesan Radio kepada umat beriman di seluruh dunia sebulan sebelum Konsili Ekumenis Vatikan II, 11 September 1962).

 

Apakah engkau mengasihi Aku? Tuhan kemudian berkata : “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Ia tidak bermaksud hanya beberapa domba, tetapi semuanya, karena Ia mencintai mereka semua, dengan penuh kasih menyebut mereka sebagai "domba-domba-Ku". Gembala yang baik melihat keluar dan ingin domba-dombanya bersatu, di bawah bimbingan para gembala yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Ia ingin kita – dan ini adalah cara ketiga dalam memandang Gereja – melihat keseluruhan, kita semua bersama-sama. Konsili mengingatkan kita bahwa Gereja adalah persekutuan menurut gambar Tritunggal (bdk. Lumen Gentium, 4.13). Iblis, di sisi lain, ingin menabur benih perpecahan. Janganlah kita menyerah pada bujukan atau godaan pengutuban. Seberapa sering, setelah Konsili, umat Kristiani lebih memilih untuk memihak Gereja, tanpa menyadari bahwa mereka telah menghancurkan hati Bunda mereka! Berapa kali mereka lebih suka menyemangati pesta mereka sendiri daripada menjadi pelayan semua orang? Menjadi progresif atau konservatif daripada menjadi saudara dan saudari? Berada di “kanan” atau “kiri”, bukannya bersama Yesus? Menampilkan diri mereka sebagai "penjaga kebenaran" atau "pelopor inovasi" daripada melihat diri mereka sebagai anak-anak Gereja Bunda yang kudus yang rendah hati dan penuh syukur. Kita semua adalah anak-anak Allah, semua saudara dan saudari di Gereja, kita semua yang membentuk Gereja, kita semua. Menjadi seperti itulah Tuhan menginginkan kita. Kita adalah domba-domba-Nya, kawanan-Nya, dan kita hanya bisa bersama dan sebagai satu kesatuan. Marilah kita atasi semua pengutuban dan melestarikan persekutuan kita. Semoga kita semua semakin “menjadi satu”, seperti yang didoakan Yesus sebelum mengorbankan nyawa-Nya untuk kita (bdk. Yoh 17:21). Dan semoga Maria, Bunda Gereja, membantu kita dalam hal ini. Semoga kerinduan akan persatuan bertumbuh di dalam diri kita, keinginan untuk berkomitmen dalam persekutuan penuh di antara semua orang yang percaya kepada Kristus. Marilah kita menyingkirkan “isme”, karena umat Allah tidak menyukai pengutuban. Umat ​​Allah adalah umat Allah yang setia dan kudus : inilah Gereja. Ada baiknya hari ini, seperti selama Konsili, perwakilan dari komunitas Kristiani lainnya hadir bersama kita. Terima kasih! Terima kasih telah berada di sini, terima kasih atas kehadiranmu!

 

Kami berterima kasih, Tuhan, atas karunia Konsili. Engkau yang mencintai kami, bebaskan kami dari anggapan kecukupan diri dan dari semangat kritik duniawi. Halangilah kami untuk tidak mengecualikan diri dari persatuan. Engkau yang dengan penuh kasih menggembalakan kami, tuntunlah kami keluar dari bayang-bayang keasyikan diri. Engkau yang menginginkan kami menjadi satu kawanan yang bersatu padu, selamatkan kami dari bentuk-bentuk pengutuban dan “isme” yang merupakan hasil karya iblis. Dan kami, Gereja-Mu, bersama Petrus dan seperti Petrus, sekarang berkata kepada-Nya : “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau" (bdk. Yoh 21:17).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Oktober 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVIII (MISA KANONISASI BEATO GIOVANNI BATTISTA SCALABRINI DAN BEATO ARTEMIDE ZATTI) 9 Oktober 2022 : BERJALAN BERSAMA DAN MENGUCAP SYUKUR

Bacaan Ekaristi : 2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19.

 

Ketika Yesus sedang berjalan, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia dan berteriak, "Kasihanilah kami!" (Luk 17:13). Kesepuluh orang itu disembuhkan, namun hanya satu dari mereka yang kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus. Ia adalah seorang Samaria, semacam bidaah bagi orang-orang Yahudi. Pada mulanya, mereka berjalan bersama, tetapi kemudian orang Samaria itu meninggalkan yang lainnya dan “kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring” (ayat 15). Marilah kita berhenti dan merenungkan dua aspek Injil hari ini : berjalan bersama dan mengucap syukur.

 

Pertama, berjalan bersama. Di awal kisah, tidak ada perbedaan antara orang Samaria dan sembilan orang lainnya. Kita hanya mendengar bahwa mereka adalah penderita kusta, yang bersama-sama, sebagai kelompok, mendekati Yesus. Kusta, sebagaimana kita ketahui, bukan hanya penyakit fisik yang sampai sekarang harus kita upayakan untuk memberantasnya, tetapi juga merupakan “penyakit sosial”, karena pada masa itu, karena takut menulari, penderita kusta harus dipisahkan dari masyarakat (bdk. Im 13:46). Oleh karena itu, mereka tidak bisa memasuki desa; mereka dijauhkan, dikucilkan dan diasingkan ke pinggiran kehidupan sosial dan bahkan kehidupan keagamaan. Dengan berjalan bersama, para penderita kusta ini menuntut masyarakat yang mengucilkan mereka. Kita juga harus mencatat bahwa orang Samaria, meskipun dianggap bidaah, “orang asing”, adalah bagian dari kelompok mereka. Saudara dan saudari, setiap kali penyakit dan kerapuhan ditanggung bersama, hambatan runtuh dan pengucilan diatasi.

 

Gambaran ini juga berarti bagi kita : ketika kita jujur ​​pada diri sendiri, kita menyadari bahwa kita semua sakit hati, semua pendosa membutuhkan belas kasihan Bapa. Kemudian kita berhenti menciptakan perpecahan berdasarkan prestasi, posisi sosial atau kriteria dangkal lainnya; hambatan batin dan prasangka kita juga runtuh. Pada akhirnya, kita menyadari sekali lagi bahwa kita adalah saudara-saudari. Bahkan Naaman, orang Siria, sebagaimana Bacaan Pertama mengingatkan kita, dengan segala kekayaan dan kekuasaannya, hanya dapat disembuhkan dengan melakukan sesuatu yang sederhana : mandi di sungai yang di dalamnya semua orang juga sedang mandi. Pertama-tama, ia harus menanggalkan baju zirah dan jubahnya (bdk. 2Raj 5). Sebaiknya kita mengesampingkan baju zirah kita, penghalang pertahanan kita, dan mandi dengan kerendahan hati, sadar bahwa batin kita semua rentan dan membutuhkan penyembuhan. Kita semua adalah saudara dan saudari. Marilah kita ingat hal ini : iman kristiani selalu meminta kita untuk berjalan bersama orang lain, tidak pernah menjadi musafir sendirian. Iman selalu mendorong kita untuk bergerak melampaui diri kita serta menuju Allah dan saudara-saudari kita, tidak pernah tinggal tertutup di dalam diri kita. Iman mengundang kita untuk mengakui terus-menerus bahwa kita membutuhkan penyembuhan dan pengampunan, serta ambil bagian dalam kelemahan orang-orang yang dekat dengan kita, tanpa merasa diri kita lebih unggul.

 

Saudara dan saudari, marilah kita merenungkan dan melihat apakah dalam hidup kita, dalam keluarga kita, di tempat-tempat di mana kita sehari-hari bekerja dan menghabiskan waktu kita, kita mampu berjalan bersama dengan orang lain, mendengarkan mereka, menangkal godaan untuk mengunci diri. dalam keasyikan diri dan hanya memikirkan kebutuhan kita. Berjalan bersama – bersifat “sinodal” – juga merupakan panggilan Gereja. Marilah kita bertanya pada diri kita apakah kita benar-benar komunitas yang benar-benar terbuka dan bersifat menyertakan semua orang; apakah kita bekerjasama, sebagai imam dan awam, dalam pelayanan Injil; dan apakah kita menunjukkan diri kita menyambut, tidak hanya dengan kata-kata tetapi dengan gerakan nyata, kepada mereka yang dekat dan jauh, dan semua orang yang diterpa pasang surut kehidupan. Apakah kita membuat mereka merasa menjadi bagian dari masyarakat? Atau apakah kita mengecualikan mereka? Saya terganggu ketika saya melihat komunitas Kristiani yang membagi dunia menjadi baik dan buruk, orang kudus dan orang berdosa : ini membuat mereka merasa lebih unggul dari yang lain dan mengecualikan begitu banyak orang yang ingin dipeluk oleh Allah. Tolong, selalu menyertakan : dalam Gereja dan dalam masyarakat, yang masih dirusak oleh banyak bentuk ketidaksetaraan dan marginalisasi. Selalu menyertakan. Hari ini, hari di mana Uskup Scalabrini menjadi orang kudus, saya memikirkan para migran. Mengecualikan migran adalah skandal. Sebenarnya, mengecualikan imigran adalah kriminal. Mereka sekarat tepat di depan kita, karena Mediterania adalah kuburan terbesar di dunia. Mengecualikan migran adalah memberontak, berdosa dan kriminal. Tidak membuka pintu bagi mereka yang membutuhkan – “Tidak, kami tidak mengecualikan mereka, kami mengirim mereka pergi” ke kamp-kamp, ​​di mana mereka dieksploitasi dan dijual seperti budak. Saudara dan saudari, hari ini marilah kita mengingat para migran ini, terutama mereka yang sedang sekarat. Dan mereka yang bisa masuk, apakah kita menyambut mereka sebagai saudara atau kita mengeksploitasi mereka? Saya hanya mengajukan pertanyaan.

 

Aspek kedua adalah mengucap syukur.  Dalam kelompok sepuluh penderita kusta, hanya ada satu orang yang menyadari bahwa ia telah sembuh, kembali untuk memuji Allah dan menunjukkan rasa syukur kepada Yesus. Sembilan lainnya disembuhkan, tetapi kemudian pergi dengan cara mereka sendiri, melupakan orang yang telah menyembuhkan mereka. Mereka melupakan rahmat yang diberikan Allah kepada mereka. Orang Samaria, di sisi lain, menjadikan karunia yang diterimanya sebagai langkah pertama dari sebuah perjalanan baru : ia kembali kepada orang yang menyembuhkannya;  ia kembali kepada Yesus untuk mengenal Dia lebih baik; ia masuk ke dalam hubungan dengan Tuhan. Maka, sikap syukurnya bukanlah sekadar tindakan sopan santun, tetapi awal dari perjalanan syukur : ia tersungkur di kaki Yesus (bdk. Luk 17:16) dan menyembah-Nya. Ia mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, bahwa Yesus lebih penting daripada kesembuhan yang ia terima.

 

Ini juga merupakan pelajaran yang berharga bagi kita, saudara-saudari, yang setiap hari mendapat manfaat dari karunia-karunia Allah, namun seringkali menempuh jalan kita sendiri, gagal memupuk hubungan yang hidup dan nyata dengan-Nya. Inilah penyakit rohani yang menjijikan : kita menganggap remeh segala sesuatu, termasuk iman, termasuk hubungan kita dengan Allah, sampai pada titik di mana kita menjadi orang Kristiani yang tidak lagi bisa kagum atau bersyukur, tidak bersyukur dan tidak mampu melihat keajaiban-keajaiban Tuhan. Seorang perempuan yang saya kenal pernah berkata, “Mereka adalah orang Kristen air mawar”. Kita akhirnya berpikir bahwa semua karunia yang kita terima setiap hari adalah alami dan karena kita. Syukur, kemampuan mengucap syukur, justru membuat kita lebih menghargai kehadiran Allah yang Mahakasih dalam hidup kita. Dan menyadari pentingnya orang lain, mengatasi ketidakpuasan dan ketidakpedulian yang menodai hati kita. Sangat penting untuk mengetahui bagaimana mengucapkan "terima kasih". Mengucapkan terima kasih kepada Tuhan setiap hari dan saling berterima kasih. Dalam keluarga kita, karena karunia-karunia kecil kita terima setiap hari dan seringkali bahkan tidak kita pikirkan. Di tempat-tempat kita menghabiskan hari-hari kita, karena banyak pelayanan yang kita nikmati dan semua orang yang mendukung kita. Dalam komunitas Kristiani kita, karena kasih Allah yang kita alami dalam kedekatan saudara dan saudari kita yang, seringkali dalam diam, berdoa, berkorban, menderita dan melakukan perjalanan bersama kita. Jadi tolong, jangan lupa untuk mengucapkan kata-kata kunci ini : terima kasih!

 

Kedua orang kudus yang dikanonisasi hari ini mengingatkan kita akan pentingnya berjalan bersama dan mampu mengucap syukur. Uskup Scalabrini, yang mendirikan dua Kongregasi – satu laki-laki dan satu perempuan – untuk perawatan para migran, pernah mengatakan bahwa dalam perjalanan bersama para migran, kita tidak hanya melihat masalah, tetapi juga rencana takdir. Dalam kata-katanya : “Tepatnya karena migrasi yang dipaksakan oleh penganiayaan, Gereja melampaui batas Yerusalem dan Israel, dan menjadi 'katolik'; berkat migrasi pada zaman kita, Gereja akan menjadi alat perdamaian dan persekutuan di antara bangsa-bangsa” (L’emigrazione degli operai italiani, Ferrara, 1899). Migrasi yang saat ini terjadi di Eropa menyebabkan penderitaan besar dan memaksa kita untuk membuka hati – yaitu migrasi rakyat Ukraina yang melarikan diri dari perang. Jangan kita melupakan para migran Ukraina yang terkepung. Dengan visi yang besar, Scalabrini melihat ke depan ke dunia dan Gereja tanpa hambatan, di mana tidak ada orang asing. Sedangkan Bruder Artemide Zatti dari Salesian – dengan sepedanya – adalah contoh hidup dari rasa syukur. Sembuh dari tuberkulosis, ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani orang lain, merawat yang lemah dengan cinta yang lembut. Ia dikatakan telah membawa di pundaknya mayat salah seorang pasiennya. Dipenuhi dengan rasa syukur atas semua yang telah ia terima, ia ingin mengucapkan "terima kasih" dengan menanggung sendiri luka orang lain.

 

Marilah kita berdoa agar para kudus ini, saudara-saudara kita, dapat membantu kita berjalan bersama, tanpa tembok pemisah; dan memupuk keluhuran jiwa yang berkenan kepada Allah, yaitu rasa syukur.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Oktober 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVI (PENUTUPAN KONGRES NASIONAL EKARISTI KE-27) DI KOTA MATERA 25 September 2022 : ROTI HARUS DIBAGIKAN DI MEJA DUNIA

Bacaan Ekaristi : Am 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31.


Tuhan mengumpulkan kita di sekeliling meja-Nya, menjadikan diri-Nya roti untuk kita : "Roti pesta di atas meja anak-anak, [...] menciptakan hal berbagi, memperkuat ikatan, memiliki citarasa persekutuan" (Madah Rohani XVII Kongres Nasional Ekaristi, Matera 2022). Namun, Bacaan Injil yang baru saja kita dengar memberitahu kita bahwa roti tidak selalu dibagikan di meja dunia : ini benar; aroma persekutuan tidak selalu terpancar; roti tidak selalu dipecah-pecahkan secara adil.

 

Ada baiknya kita berhenti di depan adegan dramatis yang digambarkan oleh Yesus dalam perumpamaan yang telah kita dengar ini : di satu sisi, orang kaya berpakaian jubah ungu dan kain halus, yang memamerkan kemewahan dan pesta poranya; di sisi lain, orang miskin, penuh dengan borok, yang berbaring di dekat pintu mengharapkan dapat memakan remah-remah yang jatuh dari meja orang kaya. Dan dalam menghadapi kontradiksi ini - yang kita lihat setiap hari - di hadapan kontradiksi ini kita bertanya pada diri kita : untuk apakah sakramen Ekaristi, sumber dan puncak kehidupan Kristiani, mengundang kita?


Pertama-tama, Ekaristi mengingatkan kita akan keutamaan Allah. Orang kaya dalam perumpamaan itu tidak terbuka terhadap hubungan dengan Allah : ia hanya memikirkan kesejahteraannya, memuaskan kebutuhannya, menikmati hidup. Dan dengan ini ia juga kehilangan nama. Bacaan Injil tidak mengatakan siapa namanya : Injil menamainya dengan kata sifat "kaya", sebaliknya orang miskin disebut namanya : Lazarus. Kekayaan membawamu ke sini, kekayaan juga melucuti dirimu dari namamu. Puas dengan dirinya sendiri, mabuk dengan uang, terpana oleh perkara kesia-siaan, tidak ada ruang bagi Allah dalam hidupnya karena ia hanya menyembah dirinya sendiri. Tidak mengherankan, namanya tidak disebutkan sehubungan dengan dirinya : kita menyebutnya "kaya", kita mendefinisikannya hanya dengan kata sifat karena ia sekarang telah kehilangan namanya, ia telah kehilangan jatidirinya yang hanya diberikan oleh barang yang dimilikinya. Betapa menyedihkan kenyataan ini bahkan hari ini, ketika kita merancukan siapa diri kita dengan apa yang kita miliki, ketika kita menilai orang dari kekayaan yang mereka miliki, dengan gelar yang mereka tunjukkan, dengan peran yang mereka pegang atau dengan merek pakaian yang mereka kenakan. Agama yang berkenaan dengan memiliki dan penampilan, yang sering mendominasi pemandangan dunia ini, tetapi pada akhirnya meninggalkan kita dengan tangan kosong : selalu. Faktanya, orang kaya dalam Bacaan Injil ini bahkan tidak memiliki nama. Ia bukan siapa-siapa lagi. Sebaliknya, orang miskin itu bernama, Lazarus, yang berarti "Allah menolong". Bahkan dalam kondisi miskin dan terpinggirkan, ia dapat menjaga martabatnya tetap utuh karena ia hidup dalam hubungan dengan Allah. Dalam namanya terkandung sesuatu dari Allah dan Allah adalah harapan yang tak tergoyahkan dalam hidupnya.

 

Kemudian di sinilah tantangan tetap yang ditawarkan Ekaristi bagi hidup kita : menyembah Allah dan bukan diri kita, bukan diri kita. Menempatkan Allah sebagai pusat dan bukan kesombongan diri kita. Mengingatkan kita bahwa hanya di sinilah tantangan tetap yang ditawarkan Ekaristi bagi hidup kita : menyembah Allah dan bukan diri kita, bukan diri kita. Menempatkan Dia sebagai pusat dan bukan kesombongan diri kita. Mengingatkan kita bahwa hanya Tuhan adalah Allah dan segala sesuatu yang lainnya adalah rahmat-Nya bagi kita. Karena jika kita menyembah diri kita, kita mati dalam sesak napas kecilnya diri kita; jika kita menyembah kekayaan dunia ini, mereka menguasai dan memperbudak kita; jika kita menyembah ilah penampilan dan mabuk pemborosan, cepat atau lambat kehidupan itu sendiri akan menagih kita. Hidup selalu menagih kita. Di sisi lain, ketika kita menyembah Tuhan Yesus yang hadir dalam Ekaristi, kita juga menerima pandangan baru dalam hidup kita : aku bukan hal-hal yang kumiliki atau keberhasilan yang kuperoleh; nilai hidupku tidak tergantung pada seberapa banyak aku berhasil menunjukkannya dan juga tidak berkurang ketika aku menghadapi kegagalan demi kegagalan. Aku adalah anak terkasih, kita masing-masing adalah anak terkasih; aku diberkati oleh Allah; Ia ingin mendandaniku dengan kecantikan dan Ia ingin aku bebas, Ia ingin aku bebas dari segala perbudakan. Marilah kita ingat hal ini : siapa pun yang menyembah Allah tidak menjadi budak siapa pun : ia bebas. Marilah temukan kembali doa penyembahan, doa yang sering terlupakan.

 

Menyembah, doa penyembahan, marilah kita temukan kembali : doa penyembahan membebaskan kita dan memulihkan martabat kita sebagai anak-anak, bukan sebagai hamba.

 

Selain keutamaan Allah, Ekaristi memanggil kita untuk mengasihi saudara kita. Roti ini terutama adalah sakramen kasih. Kristuslah yang menawarkan diri-Nya dan kelegaan bagi kita serta meminta kita untuk melakukan hal yang sama, sehingga hidup kita menjadi gandum pokok dan menjadi roti yang memberi makan saudara-saudara kita. Orang kaya dalam Bacaan Injil gagal dalam tugas ini; ia hidup dalam kemewahan, berpesta pora bahkan tanpa memperhatikan tangisan sunyi Lazarus yang malang, yang terbaring kelelahan di depan pintunya. Hanya pada akhir hidupnya, ketika Allah membalikkan nasibnya, ia akhirnya melihat Lazarus, tetapi Abraham mengatakan kepadanya : "Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi" (Luk 16:26). Tetapi kamu menetapkanya : kamu sendiri. Ini adalah kita, ketika dalam keegoisan kita membelalak pada jurang. Orang kayalah yang menggali jurang antara dirinya dan Lazarus selama hidupnya di dunia dan sekarang, dalam kehidupan abadi, jurang itu tetap ada. Karena masa depan kekal kita bergantung pada kehidupan sekarang ini : jika sekarang kita menggali sebuah jurang dengan saudara-saudari kita -, kita “menggali kubur” untuk alam baka; jika sekarang kita membangun tembok melawan saudara-saudari kita, kita tetap terpenjara dalam kesepian dan kematian bahkan setelahnya.

 

Saudara-saudari yang terkasih, sungguh menyakitkan melihat perumpamaan ini masih menjadi sejarah di zaman kita : ketidakadilan, kesenjangan, sumber daya bumi yang disalurkan secara tidak merata, yang kuat menyalahgunakan yang lemah, ketidakpedulian terhadap jeritan orang miskin, jurang yang kita gali setiap hari dengan menghasilkan marginalisasi, tidak bisa - semua ini - meninggalkan kita acuh tak acuh. Maka hari ini, bersama-sama, kita mengakui bahwa Ekaristi adalah nubuat tentang dunia baru, kehadiran Yesus meminta kita untuk berkomitmen agar terjadi pertobatan yang efektif : pertobatan dari ketidakpedulian menjadi belas kasih, pertobatan dari pemborosan menjadi berbagi, pertobatan dari keegoisan menjadi kasih, pertobatan dari individualisme menjadi persaudaraan.

 

Saudara-saudara, kita bermimpi. Kita memimpikan sebuah Gereja seperti ini : Gereja Ekaristis. Terdiri dari pria dan wanita yang dipecah seperti roti untuk semua orang yang mengunyah kesepian dan kemiskinan, untuk mereka yang haus akan kelembutan dan kasih sayang, untuk mereka yang hidupnya hancur karena ragi harapan yang baik telah gagal. Sebuah Gereja yang berlutut di hadapan Ekaristi dan menyembah Tuhan hadir dalam rupa roti dengan keheranan; tetapi yang juga tahu bagaimana membungkuk dengan belas kasih dan kelembutan di depan luka-luka orang-orang yang menderita, membebaskan orang-orang miskin, mengeringkan air mata orang-orang yang menderita, menjadikan diri mereka roti harapan dan sukacita bagi semua orang. Karena tidak ada ibadat Ekaristi sejati tanpa belas kasihan bagi banyak "Lazarus" yang bahkan hari ini berjalan di samping kita. Banyak!

 

Saudara, saudari, dari kota Matera ini, "kota roti", saya ingin memberitahumu : marilah kembali kepada Yesus, marilah kembali kepada Ekaristi. Marilah kita kembali kepada citarasa roti, karena sementara kita haus akan kasih dan harapan, atau kita hancur oleh kesulitan dan penderitaan hidup, Yesus menjadi santapan yang memberi kita makan dan menyembuhkan kita. Marilah kita kembali kepada citarasa roti, karena sementara ketidakadilan dan diskriminasi terhadap orang miskin terus dikonsumsi di dunia, Yesus memberi kita Roti berbagi dan mengutus kita setiap hari sebagai rasul persaudaraan, rasul keadilan, rasul perdamaian. Marilah kita kembali kepada citarasa roti untuk menjadi Gereja Ekaristis, yang menempatkan Yesus sebagai pusat dan menjadi roti kelembutan, roti rahmat bagi semua orang. Marilah kita kembali kepada citarasa roti untuk mengingat bahwa, sementara keberadaan duniawi kita sedang dikonsumsi, Ekaristi mengantisipasi janji kebangkitan dan membimbing kita menuju kehidupan baru yang mengalahkan kematian.

 

Hari ini marilah kita memikirkan dengan sungguh-sungguh orang kaya dan Lazarus. Ini terjadi setiap hari. Dan berkali-kali juga - biarlah kita malu - perjuangan ini terjadi di dalam diri kita, di antara kita, di dalam masyarakat. Dan ketika harapan padam dan kita merasakan dalam diri kita kesepian hati, kelelahan batin, siksaan dosa, ketakutan tidak tergantikan, kita kembali lagi kepada citarasa roti. Kita semua adalah orang berdosa: kita masing-masing membawa dosa kita sendiri. Tetapi, orang-orang berdosa, marilah kita kembali kepada citarasa Ekaristi, citarasa roti. Marilah kita kembali kepada Yesus, kita menyembah Yesus, kita menyambut Yesus. Karena hanya Dia yang mengalahkan maut dan selalu memperbaharui hidup kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 September 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI EXPO GROUNDS, NUR-SULTAN (KAZAKHSTAN) 14 September 2022 : ULAR YANG MEMAGUT DAN ULAR YANG MENYELAMATKAN

Bacaan Ekaristi : Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.

 

Salib adalah tiang gantung kematian. Namun hari ini kita merayakan peninggian salib Kristus, karena di kayu salib itu Yesus menanggung sendiri semua dosa kita dan kejahatan dunia kita, serta mengalahkannya dengan kasih-Nya. Itulah sebabnya kita merayakan Pesta hari ini. Sabda Allah yang baru saja kita dengar memberitahu kita jalannya, dengan membandingkan ular yang memagut dengan ular yang menyelamatkan. Marilah kita renungkan kedua gambar ini.

 

Pertama, ular yang memagut. Ular-ular ini menyerang orang-orang yang telah jatuh kembali ke dalam dosa karena berbicara menentang Allah. Berbicara menentang Allah seperti itu lebih dari sekadar menggerutu dan berkeluh-kesah; pada tingkat yang lebih dalam, tanda bahwa di dalam hati mereka, orang-orang Israel telah kehilangan kepercayaan kepada-Nya dan janji-janji-Nya. Saat umat Allah berjalan melalui padang gurun menuju tanah perjanjian, mereka menjadi lelah dan tidak dapat lagi menahan hati (bdk. Bil 21:4). Mereka menjadi putus asa; mereka kehilangan harapan, dan, pada titik tertentu, mereka bahkan tampak melupakan janji Tuhan. Mereka bahkan tidak memiliki kekuatan untuk percaya bahwa Tuhan sendiri yang sedang membimbing mereka menuju tanah kelimpahan.

 

Bukan suatu kebetulan bahwa orang-orang yang tidak lagi percaya kepada Allah dipagut ular tedung. Kita diingatkan akan ular pertama yang disebutkan dalam Kitab Suci, dalam Kitab Kejadian : si penggoda, yang meracuni hati Adam dan Hawa serta membuat mereka meragukan Allah. Iblis, dalam bentuk ular, menipu mereka dan menabur benih ketidakpercayaan kepada mereka, meyakinkan mereka bahwa Allah tidak baik, dan bahkan iri terhadap kebebasan dan kebahagiaan mereka. Sekarang, di padang gurun, ular muncul kembali, kali ini sebagai "ular-ular tedung" (ayat 6). Dengan kata lain, dosa asal kembali : orang Israel meragukan Allah; mereka tidak percaya kepada-Nya; mereka bersungut-sungut dan memberontak terhadap Dia yang memberi mereka kehidupan, serta dengan demikian mereka menemui ajal mereka. Di situlah hati yang tidak percaya berakhir!

 

Saudara-saudari terkasih, bagian pertama narasi ini meminta kita untuk memeriksa dengan cermat saat-saat dalam kehidupan pribadi dan komunitas kita ketika kepercayaan kita kepada Tuhan dan satu sama lain telah gagal. Seberapa sering kita menjadi kering, berkecil hati dan tidak sabar di padang gurun pribadi kita, dan kehilangan tujuan perjalanan kita! Di sini juga, di negara yang luas ini, ada padang gurun. Seluruh keindahan alamnya yang luar biasa juga dapat mengingatkan kita akan keletihan dan kegersangan yang kadang-kadang kita tanggung di dalam hati kita. Saat letih dan mengalami pencobaan, ketika kita tidak lagi memiliki kekuatan untuk menengadah kepada Allah. Situasi dalam hidup kita ketika, sebagai individu, sebagai Gereja dan sebagai masyarakat, kita dapat dipagut oleh ular ketidakpercayaan, diracuni oleh kekecewaan dan keputusasaan, pesimisme dan kepasrahan, dan hanya terjebak dengan diri kita sendiri, kurang antusias.

 

Namun negeri ini telah mengalami "pagutan" lain yang menyakitkan dalam sejarahnya. Saya memikirkan ular-ular tedung kekerasan, penganiayaan ateis dan seluruh masa sulit ketika kebebasan orang-orang terancam dan martabat mereka dihina. Sebaiknya kita tetap menghidupkan ingatan akan penderitaan itu dan tidak melupakan saat-saat suram tertentu; jika tidak, kita dapat menganggap semuanya itu sebagai air di bawah jembatan dan berpikir bahwa sekarang, segera dan untuk selamanya, kita berada di jalan yang benar. Tidak. Perdamaian tidak pernah tercapai sekali dan untuk selamanya; sebagaimana pembangunan seutuhnya, keadilan sosial dan hidup berdampingan yang rukun dari berbagai kelompok etnis dan tradisi agama harus kembali dicapai setiap hari. Semua pihak dituntut untuk berkomitmen jika Kazakhstan ingin terus bertumbuh dalam “persaudaraan, dialog, dan pemahaman… membangun jembatan kesetiakawanan dan kerjasama dengan orang-orang, bangsa-bangsa, dan budaya-budaya lainnya” (Santo Yohanes Paulus II, Wejangan pada Upacara Penyambutan, 22 September 2001). Namun bahkan sebelum itu, kita perlu memperbarui iman kita kepada Tuhan : menengadah, memandang kepada-Nya dan belajar dari kasih-Nya yang bersifat semesta dan tersalib.

 

Maka kita sampai pada gambar kedua : ular yang menyelamatkan. Ketika banyak orang mati karena terpagut ular tedung, Allah mendengar doa pengantaraan Musa dan mengatakan kepadanya : “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup” (Bil 21:8). Dan memang, “jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup” (ayat 9). Namun, kita mungkin bertanya : Mengapa Allah tidak membinasakan ular-ular tedung itu saja daripada memberikan petunjuk terperinci ini kepada Musa? Cara Allah bertindak mengungkapkan kepada kita cara-Nya menghadapi kejahatan, dosa, dan ketidakpercayaan umat manusia. Kemudian, seperti sekarang, dalam pertempuran rohani besar yang terus berlanjut sepanjang sejarah, Allah tidak menghancurkan hal-hal yang keji dan tidak berharga yang menjadi dipilih untuk dikejar oleh manusia. Ular tedung tidak menghilang; mereka selalu ada, menunggu, selalu siap memagut. Kemudian apa yang telah berubah, apa yang dilakukan Allah?

 

Yesus memberitahu kita dalam Bacaan Injil : “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14-15). Ini adalah perubahan yang menentukan : ular yang menyelamatkan sekarang telah datang di antara kita. Yesus, yang ditinggikan di tiang salib, tidak memperkenankan ular tedung yang menyerang kita menyebabkan kematian. Menghadapi kesengsaraan kita, Allah memberi kita cakrawala baru : jika kita tetap menatap Yesus, sengat kejahatan tidak bisa lagi menguasai kita, karena di kayu salib Ia mengambil racun dosa dan kematian, serta menghancurkan kekuasaannya. Itulah tanggapan Bapa terhadap penyebaran kejahatan di dunia : Ia memberi kita Yesus, yang mendekat kepada kita dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita” (2 Kor 5:21). Begitulah keagungan belas kasih ilahi yang tak terbatas : Yesus “menjadi dosa” karena kita. Yesus, dapat kita katakan, di kayu salib “menjadi seekor ular”, sehingga dengan memandang kepada-Nya kita dapat menahan pagutan berbisa dari ular-ular jahat yang menyerang kita.

 

Saudara-saudari, inilah jalan, jalan menuju keselamatan kita, kelahiran kembali dan kebangkitan kita : melihat Yesus yang disalibkan. Dari ketinggian salib, kita dapat melihat hidup kita dan sejarah bangsa kita secara baru. Karena dari salib Kristus kita belajar kasih, bukan kebencian; belas kasihan, bukan ketidakpedulian; pengampunan, bukan balas dendam. Tangan Yesus yang terentang adalah pelukan kasih yang lembut yang dengannya Allah ingin memeluk kita. Semua menunjukkan kepada kita panggilan kasih persaudaraan yang harus kita memiliki satu sama lain dan terhadap semua orang. Semua menunjukkan kepada kita jalan, jalan Kristiani. Bukan suatu jalan pembebanan dan pemaksaan, kekuasaan dan status; tidak pernah mengacung-acungkan salib Kristus terhadap saudara-saudari kita yang demi mereka Ia memberikan nyawa-Nya! Jalan Yesus, jalan keselamatan berbeda : jalan Yesus adalah jalan kasih yang bersifat semesta dan berlimpah kerendahan hati, tanpa "seandainya", "dan" atau "tetapi".

 

Ya, karena di kayu salib Kristus, bisa ular kejahatan menyingkir. Maka, menjadi seorang Kristiani, berarti hidup tanpa racun : tidak saling memagut, tidak berkeluh-kesah, menyalahkan dan memfitnah, tidak menyebarkan kejahatan, tidak mencemari bumi dengan dosa dan ketidakpercayaan yang berasal dari si jahat. Saudara-saudari, kita telah dilahirkan kembali dari lambung tertikam Yesus yang disalibkan. Semoga kita bebas dari racun maut (bdk. Keb 1:14), dan berdoa agar berkat rahmat Allah kita dapat menjadi semakin kristiani sepenuhnya : saksi-saksi kehidupan baru, kasih dan damai yang penuh sukacita.

 

[Ucapan terima kasih pada akhir Misa Kudus]

 

Terima kasih, Uskup Agung Peta, atas sambutan ramahmu baik. Terima kasih juga atas segala upaya yang dilakukan untuk persiapan perayaan ini dan kunjungan saya. Saya juga kembali mengungkapkan terima kasih saya yang tulus kepada otoritas sipil dan agama di negara ini. Saya menyapa kamu semua, saudara dan saudari, dan khususnya kamu yang datang dari negara-negara lain di Asia Tengah dan dari negara-negara yang jauh dari negeri yang luas ini. Dengan kasih sayang yang besar, saya memberkati orang tua dan orang sakit, anak-anak dan orang muda.

 

Hari ini, pada Pesta Salib Suci ini, kita merasa bersatu secara rohani dengan Tempat Suci Nasional Ratu Damai di Oziornoje. Uskup Tomash mengingatkan kita akan salibnya yang besar, bertuliskan kata-kata : "Terima kasih kepada Rakyat Kazakhstan" dan "Damai bagi Umat Manusia". Rasa syukur kepada Tuhan atas umat Allah yang kudus yang tinggal di negara besar ini, digabungkan dengan rasa syukur atas komitmennya untuk mempromosikan dialog, memohonkan perdamaian, perdamaian yang sangat dirindukan dunia kita.

 

Pikiran saya tertuju ke semua wilayah yang dilanda perang di dunia kita, dan khususnya Ukraina tercinta. Semoga kita tidak pernah terbiasa dengan perang, atau menyerah pada keniscayaan. Marilah kita datang untuk membantu mereka yang menderita dan bersikeras bahwa upaya tulus dilakukan untuk mencapai perdamaian. Apa yang masih perlu terjadi, dan berapa banyak kematian masih akan dibutuhkan, sebelum pertikaian menghasilkan dialog untuk kebaikan orang, bangsa dan seluruh umat manusia? Satu-satunya solusi adalah perdamaian dan satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian adalah melalui dialog. Saya sedih mengetahui bahwa pada jam-jam ini telah terjadi ketegangan baru di wilayah Kaukasus. Marilah kita terus berdoa agar, di negeri-negeri ini juga, diskusi damai dan kerukunan akan menang atas ketidaksepakatan. Semoga dunia kita belajar bagaimana membangun perdamaian, paling tidak dengan membatasi perlombaan senjata dan mengubah jumlah besar yang dihabiskan untuk perang menjadi bantuan nyata bagi masyarakat. Saya berterima kasih kepada semua orang yang percaya akan hal ini; saya berterima kasih kepada kamu semua, serta semua pria dan wanita yang menjadi pembawa perdamaian dan persatuan!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 September 2022)