Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH 1 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, di awal tahun sipil yang baru, Liturgi menawarkan kepada kita teks berkat yang indah: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil 6:24-26).

 

Dalam Kitab Bilangan, berkat ini mengikuti petunjuk mengenai pengudusan kaum nazir, menyoroti dimensi sakral dan berbuah dari persembahan dalam hubungan antara Allah dan umat Israel. Manusia mempersembahkan kepada Sang Pencipta segala yang telah mereka terima, dan Ia, pada gilirannya, menanggapi dengan mengarahkan pandangan-Nya yang penuh kebajikan kepada mereka, seperti yang Ia lakukan pada awal penciptaan (bdk. Kej 1:31).

 

Selain itu, umat Israel, yang menjadi alamat berkat ini, adalah umat yang telah dibebaskan – laki-laki dan perempuan dilahirkan kembali setelah masa perbudakan yang panjang, berkat campur tangan Allah dan tanggapan murah hati dari hamba-Nya, Musa. Di Mesir, mereka menikmati beberapa kenyamanan: makanan tersedia, begitu pula tempat tinggal dan kestabilan. Akan tetapi hal ini datang dengan harga kebebasan mereka; diperbudak, mereka ditindas oleh penguasa yang lalim yang menuntut lebih banyak namun memberi lebih sedikit (bdk. Kel 5:6-7). Sekarang, di padang gurun, banyak dari kenyamanan sebelumnya telah hilang. Tetapi sebagai gantinya ada kebebasan, yang berbentuk jalan terbuka menuju masa depan, ditemukan dalam pemberian hukum kebijaksanaan dan janji tanah tempat mereka dapat hidup dan berkembang tanpa belenggu atau rantai. Singkatnya, sebuah kelahiran kembali.

 

Dengan demikian, di awal tahun baru, Liturgi mengingatkan kita bahwa bagi kita masing-masing, setiap hari dapat menjadi awal kehidupan baru, berkat kasih Allah yang murah hati, belas kasih-Nya, dan tanggapan dari kebebasan kita. Alangkah indahnya memandang tahun yang akan datang dengan cara ini: sebagai perjalanan terbuka yang harus dijelajahi. Sesungguhnya, melalui rahmat, kita dapat memulai perjalanan ini dengan penuh keyakinan – bebas dan pembawa kebebasan, diampuni dan pembawa pengampunan, mempercayai kedekatan dan kebaikan Tuhan yang senantiasa menyertai kita.

 

Kita mengingat kebenaran ini saat kita merayakan misteri keibuan ilahi Maria. Melalui "ya"-nya, ia membantu memberikan wajah manusiawi kepada sumber segala belas kasih dan kebaikan: wajah Yesus. Melalui mata-Nya – pertama sebagai seorang anak kecil, kemudian sebagai seorang muda dan sebagai seorang dewasa – kasih Bapa menjangkau kita dan mengubah rupa kita.

 

Oleh karena itu, saat kita melangkah menuju hari-hari baru dan unik yang menanti kita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengalami setiap saat, di sekitar kita dan atas diri kita, kehangatan pelukan kebapaan-Nya dan cahaya tatapan-Nya yang penuh kebaikan. Dengan cara ini, kita dapat lebih memahami dan senantiasa mengingat siapa diri kita dan ke arah mana apa yang menjadi takdir luar biasa kita tertuju (bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 41). Pada saat yang sama, marilah kita juga memuliakan Allah melalui doa, kekudusan hidup, dan dengan menjadi cermin kebaikan-Nya bagi satu sama lain.

 

Santo Agustinus mengajarkan bahwa, dalam diri Maria, “Pencipta manusia menjadi manusia: sehingga, meskipun Ia mengatur bintang-bintang, Ia dapat menyusu pada seorang perempuan; meskipun Ia adalah Roti (bdk. Yoh 6:35), Ia dapat lapar (bdk. Mat 4:2)… untuk membebaskan kita, meskipun kita tidak layak” (Khotbah 191, 1.1). Dengan cara ini, Agustinus mengingatkan kita salah satu ciri dasariah wajah Allah: kecuma-cumaan kasih-Nya yang sempurna. Sebagaimana saya tekankan dalam Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia ini, Allah menampilkan diri-Nya kepada kita “tanpa senjata dan melucuti senjata,” telanjang dan tak berdaya seperti bayi yang baru lahir di dalam buaian. Ia melakukan ini untuk mengajarkan kita bahwa dunia tidak diselamatkan dengan menajamkan pedang, atau dengan menghakimi, menindas, atau menyingkirkan saudara-saudari kita. Sebaliknya, dunia diselamatkan dengan tanpa lelah berusaha untuk memahami, mengampuni, membebaskan, dan menyambut setiap orang, tanpa perhitungan dan tanpa rasa takut.

 

Inilah wajah Allah yang diperkenankan Maria untuk terbentuk dan tumbuh di dalam rahimnya, yang sepenuhnya mengubah rupa hidupnya. Inilah wajah yang ia nyatakan melalui cahaya matanya yang penuh sukacita namun lembut saat mengandung-Nya; wajah yang keindahannya ia renungkan setiap hari di rumahnya saat Yesus tumbuh sebagai seorang anak kecil, seorang remaja, dan seorang muda; dan wajah yang ia ikuti dengan hati seorang murid yang rendah hati, saat Ia menempuh perjalanan misi-Nya, hingga salib dan kebangkitan. Untuk melakukan hal itu, ia juga menanggalkan setiap pertahanan, melepaskan harapan, tuntutan, dan kenyamanan – sebagaimana sering dilakukan para ibu – mengabdikan hidupnya tanpa syarat bagi Putra yang telah ia terima melalui rahmat, sehingga ia dapat, pada gilirannya, mengembalikan-Nya kepada dunia.

 

Dalam keibuan ilahi Maria, kita melihat pertemuan dua kenyataan yang sangat luar biasa dan "tanpa senjata": kenyataan Allah, yang melepaskan setiap keistimewaan keilahian-Nya untuk dilahirkan dalam daging (bdk. Filipi 2:6-11), dan kenyataan manusiawi yang, dengan penuh kepercayaan dan sepenuhnya, menerima kehendak Allah. Dalam tindakan kasih yang sempurna, ia mempersembahkan kepada-Nya kekuatan terbesar yang dimilikinya: kebebasannya.

 

Melakukan refleksi atas misteri ini, Santo Yohanes Paulus II mengajak kita untuk merenungkan apa yang ditemukan para gembala di Betlehem: "kelembutan Anak yang melucuti senjata, kemiskinan yang mengejutkan di mana Ia ditemukan, dan kesederhanaan yang rendah hati dari Maria dan Yusuf." Kenyataan-kenyataan ini mengubah rupa kehidupan mereka, menjadikan mereka "pembawa pesan keselamatan" (Homili dalam Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, Hari Perdamaian Sedunia ke-34, 1 Januari 2001).

 

Ia mengucapkan kata-kata ini pada penutupan Yubileum Agung Tahun 2000, dengan kata-kata yang bergema dengan refleksi kita hari ini: “Alangkah banyak karunia,” tegasnya, “alangkah banyak kesempatan luar biasa yang ditawarkan Yubileum Agung kepada orang-orang percaya! Dalam pengalaman pengampunan yang diterima dan diberikan, dalam peringatan para martir, dalam mendengarkan jeritan kaum miskin di dunia… kita pun telah melihat sekilas kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam sejarah. Kita, seolah-olah, secara fisik merasakan kasih-Nya yang memperbarui wajah bumi” (idem). Kemudian ia menyimpulkan, “Sebagaimana Ia meminta para gembala yang bergegas untuk menyembah-Nya, Kristus meminta orang-orang percaya, yang telah Ia berikan sukacita bertemu dengan-Nya, kesiapan untuk berani sekali lagi berangkat memberitakan Injil-Nya, lama dan selalu baru. Ia mengutus mereka untuk menghidupkan sejarah dan budaya manusiawi kita dengan pesan keselamatan-Nya” (idem).

 

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Raya ini, di awal tahun baru, dan saat kita mendekati akhir Yubileum Pengharapan, marilah kita mendekati ornamen Kelahiran Yesus dengan iman. Marilah kita mendekatinya sebagai tempat damai yang "tanpa senjata dan melucuti senjata" – tempat berkat di mana kita mengingat keajaiban yang telah dikerjakan Tuhan dalam sejarah keselamatan dan hidup kita. Kemudian, seperti para saksi yang rendah hati di gua, marilah kita berangkat sekali lagi, "memuji dan memuliakan Allah" (Luk 2:20) atas segala yang telah kita lihat dan dengar. Semoga ini menjadi komitmen dan tekad kita untuk bulan-bulan mendatang, dan, sesungguhnya, untuk seluruh kehidupan kristiani kita.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA NATAL 25 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1:1-18.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

“Bergembiralah, bersorak-sorailah!” (Yes 52:9), utusan perdamaian berseru kepada orang-orang yang berdiri di tengah reruntuhan kota yang sangat membutuhkan pembangunan kembali. Meskipun berdebu dan terluka, betapa indahnya langkah mereka, tulis Nabi Yesaya (bdk. Yes. 52:7), karena di sepanjang jalan yang terjal dan melelahkan, langkah mereka telah membawa kabar gembira yang melahirkan kembali segalanya. Hari baru telah tiba! Kita pun merupakan bagian dari permulaan baru ini, meskipun hanya sedikit yang mempercayainya: damai itu nyata, dan sudah ada di antara kita.

 

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi” (Yoh 14:27). Yesus berbicara demikian kepada para murid, yang kakinya baru saja Ia basuh. Mereka akan menjadi pembawa pesan damai sejahtera, diutus untuk melakukan perjalanan tanpa lelah ke seluruh dunia untuk menyatakan kepada semua orang “hak supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Oleh karena itu, hari ini kita tidak hanya terkejut dengan damai sejahtera yang sudah ada di sini; kita juga merayakan cara pemberian anugerah ini kepada kita. Dalam “bagaimana” ini, sesungguhnya, bersinar perbedaan ilahi yang menyebabkan kita melantunkan nyanyian sukacita. Karena alasan inilah, di seluruh dunia, Natal adalah perayaan musik dan nyanyian yang tiada bandingnya.

 

Prolog Injil keempat itu sendiri adalah sebuah madah, dengan Sabda Allah sebagai pelaku utamanya. “Sabda” adalah sabda yang bertindak. Inilah ciri khas Sabda Allah: tidak pernah tanpa dampak. Memang, banyak kata-kata kita juga memiliki dampak, terkadang tanpa disengaja. Ya, kata-kata “bertindak.” Namun, inilah kejutan yang disajikan liturgi Natal kepada kita: Sabda Allah tampak tetapi tidak dapat berbicara. Ia datang kepada kita sebagai bayi yang baru lahir yang hanya dapat menangis dan mengoceh. “Sabda itu telah menjadi daging” (Yoh 1:14). Meskipun Ia akan tumbuh dan suatu hari nanti mempelajari bahasa umat-Nya, untuk saat ini Ia hanya berbicara melalui kehadiran-Nya yang sederhana dan rapuh. “Daging” adalah ketelanjangan radikal yang, di Betlehem seperti di Kalvari, tetap ada bahkan tanpa kata-kata – sama seperti begitu banyak saudara dan saudari, yang dilucuti martabatnya dan dibungkam, tidak memiliki kata-kata hari ini. Daging manusia meminta perhatian; ia memohon sambutan dan pengakuan; ia mencari tangan yang mampu menunjukkan kelembutan dan pikiran yang mau mendengarkan; ia merindukan kata-kata kebaikan.

 

“Ia datang kepada milik-Nya sendiri, tetapi orang-orang milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun, semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:11-12). Inilah cara paradoks di mana damai sejahtera sudah ada di antara kita: anugerah Allah mengundang kita masuk; anugerah itu berusaha untuk diterima dan, pada gilirannya, menginspirasi penyerahan diri kita. Allah mengejutkan kita karena Ia membiarkan diri-Nya terbuka terhadap penolakan. Ia juga memikat kita karena Ia menarik kita menjauh dari ketidakpedulian. Menjadi anak-anak Allah adalah kekuatan sejati – kekuatan yang tetap terpendam selama kita menjaga jarak dari tangisan anak-anak dan kerapuhan orang tua, keheningan tak berdaya para korban dan kemurungan pasrah orang-orang yang melakukan kejahatan yang tidak mereka inginkan.

 

Untuk mengingatkan kita akan sukacita Injil, Paus Fransiskus yang kita kasihi menulis: “Kadang-kadang kita tergoda untuk menjadi orang Kristiani yang terus menerus menatap luka Yesus di sekujur tubuh-Nya dari jarak tertentu. Padahal Yesus ingin supaya kita menyentuh penderitaan manusia dan menyentuh daging sesama yang menderita. Yesus mengharapkan kita supaya menghentikan upaya sekadar mencari tempat nyaman baik untuk pribadi maupun untuk bersama, yang memungkinkan kita tetap berada pada jarak tertentu dari simpul kacau balaunya kemalangan manusia. Padahal, kita diharapkan masuk ke dalam kenyataan kehidupan konkret sesama dan mengenal kekuatan dari kelemahlembutan” (Evangelii Gaudium, 270).

 

Saudara-saudari terkasih, sejak Sabda menjadi daging, kemanusiaan kini berbicara, berseru dengan keinginan Allah sendiri untuk berjumpa kita. Sabda telah mendirikan kemah-Nya yang rapuh di antara kita. Lalu, bagaimana mungkin kita tidak memikirkan kemah-kemah di Gaza, yang selama berminggu-minggu terpapar hujan, angin, dan dingin; dan kemah-kemah pengungsi dan orang-orang yang terlantar lainnya di setiap benua; atau tempat-tempat penampungan sementara ribuan orang tunawisma di kota-kota kita sendiri? Rapuh adalah daging penduduk yang tak berdaya, yang telah dicobai oleh begitu banyak perang, yang sedang berlangsung atau telah berakhir, meninggalkan puing dan luka menganga. Rapuh adalah pikiran dan kehidupan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata, yang di garis depan merasakan kesia-siaan dari apa yang diminta dari mereka dan kebohongan yang memenuhi pidato-pidato sombong dari orang-orang yang mengirim mereka menuju kematian.

 

Ketika kerapuhan sesama menembus hati kita, ketika penderitaan mereka menghancurkan kepastian kita yang kaku, maka damai sejahtera telah dimulai. Damai sejahtera Allah lahir dari tangisan bayi yang baru lahir yang disambut, dari tangisan yang didengar. Ia lahir di tengah reruntuhan yang menyerukan bentuk-bentuk solidaritas baru. Ia lahir dari mimpi dan visi yang, seperti nubuat, membalikkan jalannya sejarah. Ya, semua ini ada, karena Yesus adalah Logos, Makna, dari mana segala sesuatu telah terbentuk. “Segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala sesuatu yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Misteri ini berbicara kepada kita dari panggung kelahiran Yesus yang telah kita dirikan; ia membuka mata kita kepada sebuah dunia di mana Sabda masih bergema, “beruang kali dan dengan berbagai cara” (bdk. Ibr 1:1), dan masih memanggil kita untuk bertobat.

 

Tentu saja, Injil tidak menyembunyikan perlawanan kegelapan terhadap terang. Injil menggambarkan jalan Sabda Allah sebagai jalan yang terjal, penuh rintangan. Hingga hari ini, para pembawa pesan damai sejahtera yang sejati mengikuti Sabda di sepanjang jalan ini, yang pada akhirnya menjangkau hati — hati yang gelisah yang sering kali menginginkan hal yang justru bertentangan. Dengan cara ini, Natal memberikan dorongan baru kepada Gereja misioner, mendorongnya ke jalan yang telah digariskan oleh Sabda Allah baginya. Kita tidak melayani Sabda yang mendominasi — terlalu banyak Sabda seperti itu yang sudah bergema di mana-mana — melainkan kehadiran yang menginspirasi kebaikan, mengetahui kemanjurannya, dan tidak mengklaim monopoli atasnya.

 

Inilah jalan misi: jalan menuju sesama. Dalam Allah, setiap kata adalah kata yang ditujukan; undangan untuk percakapan, kata yang tidak pernah tertutup pada dirinya sendiri. Inilah pembaharuan yang dipromosikan oleh Konsili Vatikan II, yang hanya akan berbuah jika kita berjalan bersama dengan segenap umat manusia, tanpa pernah memisahkan diri darinya. Kebalikannya adalah keduniawian: menempatkan diri sendiri di pusat. Gerakan Inkarnasi adalah dinamika percakapan. Akan ada damai sejahtera ketika monolog kita terputus dan, diperkaya oleh pendengaran, kita berlutut di hadapan kemanusiaan sesama kita. Dalam hal ini, Perawan Maria adalah Bunda Gereja, Bintang Evangelisasi, Ratu Perdamaian. Di dalam dirinya, kita memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang lahir dari unjuk kekuatan, dan segala sesuatu dilahirkan kembali dari kekuatan diam dari kehidupan yang diterima.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA MALAM NATAL 24 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama ribuan tahun, di seluruh bumi, berbagai bangsa telah menatap ke langit, memberi nama bintang-bintang yang senyap, dan melihat berbagai gambar di dalamnya. Dalam kerinduan imajinatif, mereka mencoba membaca masa depan di langit, mencari kebenaran di tempat tinggi yang tidak ditemukan di bawah perumahan mereka. Namun, seolah-olah meraba-raba dalam kegelapan, mereka tetap tersesat, bingung oleh ramalan mereka sendiri. Namun pada malam ini, “bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang tinggal di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes 9:2).

 

Lihatlah bintang yang memukau dunia, percikan api baru menyala dan berkobar dengan kehidupan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Ke dalam ruang dan waktu – di tengah-tengah kita – datanglah Juruselamat yang tanpa Dia kita tidak akan ada. Ia yang memberikan nyawa-Nya bagi kita tinggal di antara kita, menerangi malam dengan terang keselamatan-Nya. Tidak ada kegelapan yang tidak diterangi oleh bintang ini, karena dengan cahayanya segenap umat manusia melihat fajar kehidupan baru dan kekal.

 

Itulah kelahiran Yesus, Imanuel. Dalam Putra yang menjadi manusia, Allah memberikan segenap diri-Nya bagi kita, guna “membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri” (Tit 2:14). Yesus yang membebaskan kita dari kegelapan lahir di malam hari. Tanda fajar menyingsing tidak lagi dicari di tempat yang jauh di alam semesta, tetapi dengan membungkuk, di kandang terdekat.

 

“Seorang bayi yang dibedung dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12) sungguh merupakan tanda jelas yang diberikan kepada dunia yang gelap. Untuk menemukan Juruselamat, kita hendaknya tidak menatap ke atas, tetapi melihat ke bawah: kemahakuasaan Allah bersinar dalam ketidakberdayaan seorang bayi yang baru lahir; kefasihan berbicara Sabda yang kekal bergema dalam tangisan pertama seorang bayi; kekudusan Roh bersinar dalam tubuh kecil tersebut, yang baru saja dimandikan dan dibedung. Kebutuhan akan perhatian dan kehangatan menjadi sesuatu yang ilahi karena Putra Bapa ambil bagian dalam sejarah bersama seluruh saudara dan saudari-Nya. Cahaya ilahi yang terpancar dari Bayi ini membantu kita mengenali kemanusiaan dalam setiap kehidupan baru.

 

Untuk menyembuhkan kebutaan kita, Tuhan memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam setiap manusia, yang mencerminkan citra-Nya yang sejati, sesuai dengan rencana kasih yang dimulai sejak penciptaan dunia. Selama kegelapan kesalahan mengaburkan kebenaran ilahi ini, “sesama, anak-anak, orang miskin, orang asing tidak mendapat tempat” (Benediktus XVI, Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2012). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini tetap menjadi pengingat yang tepat waktu bahwa di bumi, Tuhan tidak mendapat tempat selama pribadi manusia tidak mendapat tempat. Menolak yang satu berarti menolak yang lain. Namun, di mana manusia mendapat tempat, di situ Allah mendapat tempat; bahkan kandang pun dapat menjadi lebih sakral daripada bait suci, dan rahim Perawan Maria menjadi Tabut Perjanjian Baru.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita takjub akan kebijaksanaan Natal. Dalam Kanak Yesus, Allah memberi dunia kehidupan baru: kehidupan-Nya sendiri, yang dipersembahkan untuk semua orang. Ia tidak memberi kita solusi cerdas untuk setiap masalah, tetapi sebuah kisah cinta yang menarik kita. Ia mengutus seorang Anak untuk menjadi kata pengharapan guna menanggapi pengharapan manusiawi. Ia mengutus seorang Anak yang tak berdaya untuk menjadi kekuatan untuk bangkit kembali di tengah penderitaan orang miskin. Ia menyalakan cahaya lembut yang menerangi dengan keselamatan seluruh anak di dunia ini di hadapan kekerasan dan penindasan. Santo Agustinus menelaah dengan mengatakan, “kesombongan manusia telah sangat membebanimu sehingga hanya kerendahan hati ilahi yang dapat membangkitkanmu kembali” (Santo Agustinus, Khotbah 188, III, 3). Sementara ekonomi yang menyimpang membuat kita memperlakukan manusia sebagai barang dagangan semata, Allah menjadi seperti kita, mengungkapkan martabat tak terbatas setiap orang. Sementara umat manusia berusaha menjadi “allah” untuk menguasai orang lain, Allah memilih untuk menjadi manusia guna membebaskan kita dari segala bentuk perbudakan. Akankah cinta ini cukup untuk mengubah sejarah kita?

 

Jawabannya akan datang segera setelah kita terbangun dari malam yang mematikan menuju terang kehidupan baru, dan, seperti para gembala, merenungkan Kanak Yesus. Di atas kandang Betlehem, tempat Maria dan Yusuf menjaga Anak yang baru lahir dengan hati yang penuh ketakjuban, langit berbintang berubah rupa menjadi “sejumlah besar bala tentara surga” (Luk 2:13). Bala tentara yang tak bersenjata dan melucuti senjata, karena mereka menyanyikan kemuliaan Allah, di mana damai sejahtera di bumi merupakan perwujudan sejatinya (bdk. ayat 14). Sesungguhnya, di dalam hati Kristus berdenyut ikatan kasih yang menyatukan surga dan bumi, Pencipta dan ciptaan.

 

Karena alasan ini, tepat satu tahun yang lalu, Paus Fransiskus menegaskan bahwa kelahiran Yesus menghidupkan kembali dalam diri kita “karunia dan tugas untuk membawa pengharapan ke tempat-tempat di mana pengharapan telah hilang,” karena “bersama Dia, sukacita berkembang; bersama Dia, hidup berubah; bersama Dia, pengharapan tidak mengecewakan” (Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2024). Dengan kata-kata ini, Tahun Suci dimulai. Kini, saat Yubileum mendekati akhir, Natal menjadi waktu bagi kita untuk bersyukur dan menjalankan perutusan; bersyukur atas karunia yang diterima, dan perutusan untuk memberikan kesaksian tentangnya di hadapan dunia. Pemazmur menyanyikan bagi Tuhan, “Kabarkanlah karya keselamatan-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” (Mzm 96:2-3).

 

Saudara-saudari, permenungan akan Sabda yang menjadi daging membangkitkan dalam seluruh Gereja suatu pemberitaan baru dan benar. Karena itu, marilah kita mewartakan sukacita Natal, yang merupakan perayaan iman, amal kasih, dan pengharapan. Perayaan iman karena Allah menjadi manusia, lahir dari Perawan. Perayaan amal kasih karena karunia Putra yang sedang menebus diwujudkan dalam pengorbanan diri persaudaraan. Perayaan pengharapan karena Kanak Yesus menyalakannya di dalam diri kita, menjadikan kita pembawa pesan perdamaian. Dengan kebajikan-kebajikan ini di dalam hati kita, tanpa takut akan malam, kita dapat melangkah maju untuk menyambut fajar hari yang baru.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU ADVEN III (MISA YUBILEUM NARAPIDANA) 14 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 35:1-6a,10; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 5:7-10; Mat. 11:2-11.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Yubileum Pengharapan bagi lembaga pemasyarakatan, narapidana, dan semua orang yang menjaga atau bekerja di lembaga pemasyarakatan. Pemilihan hari ini, Hari Minggu Adven III, untuk yubileum khusus ini kaya akan makna, karena hari ini disebut Gereja sebagai Hari Minggu Gaudete, yang namanya berasal dari kata-kata pertama Antifon Pembuka Misa (bdk. Flp 4:4). Dalam Tahun Liturgi, Hari Minggu Adven III adalah Hari Minggu sukacita, yang mengingatkan kita akan aspek cerah dari penantian: keyakinan bahwa sesuatu yang indah, sesuatu yang penuh sukacita akan terjadi.

 

Dalam hal ini, pada tanggal 26 Desember tahun lalu, Paus Fransiskus, ketika membuka Pintu Suci di Gereja Bapa Kami di Lembaga Pemasyarakatan Rebibbia, menyampaikan undangan ini kepada semua orang: “Saya mengatakan dua hal kepadamu: Pertama, peganglah tali, dengan jangkar pengharapan. Kedua, bukalah lebar-lebar pintu hatimu.” Merujuk pada gambaran yang sudah mengarah pada kekekalan, melampaui batasan ruang dan waktu (bdk. Ibr 6:17-20), ia mengajak kita untuk tetap menghidupkan iman kita akan kehidupan yang akan datang dan selalu percaya pada kemungkinan masa depan yang lebih baik. Namun, pada saat yang sama, ia juga mendorong kita untuk menjadi orang-orang yang dengan murah hati mengamalkan keadilan dan kasih di tempat tinggal kita.

 

Meskipun penutupan Tahun Yubileum semakin dekat, kita harus mengakui bahwa, terlepas dari upaya banyak orang, bahkan dalam lembaga pemasyarakatan sekalipun masih banyak yang perlu dilakukan dalam hal ini. Kata-kata Nabi Yesaya yang baru saja kita dengar, “orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan sorak-sorai” (35:10), mengingatkan kita bahwa Allah yang menebus, membebaskan, dan menyelamatkan. Lebih jauh lagi, kata-kata itu menyampaikan makna perutusan penting dan menantang bagi kita semua. Tentu saja, lembaga pemasyarakatan adalah tempat yang sulit dan bahkan tawaran terbaik pun dapat menghadapi banyak rintangan. Karena alasan ini, kita tidak boleh pernah lelah, berkecil hati, atau menyerah. Kita harus terus bergerak maju dengan kegigihan, keberanian, dan semangat kerja sama. Memang, banyak yang belum memahami bahwa setiap kali jatuh seseorang harus mampu bangkit kembali, bahwa tidak ada manusia yang hanya didefinisikan oleh perbuatannya, dan bahwa keadilan selalu merupakan proses perbaikan dan rekonsiliasi.

 

Namun, bahkan dalam situasi sulit sekalipun kita mampu mempertahankan dan melestarikan keindahan perasaan, kepekaan, perhatian terhadap kebutuhan orang lain, rasa hormat, kemampuan untuk berbelas kasih dan mengampuni, sehingga bunga-bunga indah tumbuh dari “tanah keras” dosa dan penderitaan. Lebih jauh lagi, tindakan, rencana, dan perjumpaan, yang unik dalam kemanusiaannya, berkembang bahkan di dalam tembok lembaga pemasyarakatan. Hal ini melibatkan upaya untuk mengolah perasaan dan pikiran, yang diperlukan bagi mereka yang kehilangan kebebasan, tetapi terlebih lagi bagi orang-orang yang memiliki kewajiban untuk mewakili mereka dan memastikan bahwa mereka diperlakukan secara adil. Yubileum adalah seruan untuk pertobatan dan, dengan demikian, merupakan sumber pengharapan dan sukacita.

 

Oleh karena itu, pertama-tama memandang Yesus, kemanusiaan dan Kerajaan-Nya di mana “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan … dan orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:5) penting. Kita harus ingat bahwa, meskipun terkadang mukjizat-mukjizat ini datang melalui campur tangan Allah yang luar biasa, lebih sering mukjizat-mukjizat itu dipercayakan kepada kita, kepada bela rasa, perhatian, dan kebijaksanaan kita, serta tanggung jawab komunitas dan lembaga kita.

 

Hal ini membawa kita pada dimensi lain dari nubuat yang telah kita dengar: kewajiban untuk mempromosikan di setiap tempat – dan saya ingin menekankan khususnya di lembaga pemasyarakatan – sebuah masyarakat yang didirikan berdasarkan kriteria baru, dan pada akhirnya berdasarkan kasih, sebagaimana dikatakan Santo Paulus VI pada akhir Tahun Yubileum 1975: “Hal ini – amal kasih – hendaknya, terutama di ranah kehidupan publik, … menjadi awal dari saat rahmat dan niat baik yang baru, yang membuka kalender sejarah di hadapan kita: peradaban kasih!” (Audiensi Umum, 31 Desember 1975).

 

Untuk tujuan ini, Paus Fransiskus juga berharap bahwa selama tahun Yubileum ini “bentuk-bentuk amnesti atau pengampunan yang dimaksudkan untuk membantu individu mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka sendiri dan masyarakat" (Bulla Spes Non Confundit, 10) dapat diberikan dan perwujudan program reintegrasi dalam masyarakat ditawarkan kepada semua orang (bdk. Spes Non Confundit, 10). Saya berharap banyak negara mengikuti keinginannya. Sebagaimana kita ketahui, Tahun Yobel, dengan asal-usul biblisnya, adalah tahun rahmat di mana setiap orang diberi kesempatan untuk memulai kembali dalam berbagai cara (bdk. Im 25:8-10).

 

Bacaan Injil yang telah kita dengar juga berbicara kepada kita tentang kenyataan ini. Yohanes Pembaptis, ketika ia berkhotbah dan membaptis, mengajak umat untuk bertobat dan menyeberangi sungai sekali lagi, secara simbolis, seperti pada zaman Yosua (bdk. Yos 3:17) untuk memasuki dan menduduki “Tanah Terjanji” yang baru, yaitu hati yang berdamai dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita. Dalam hal ini, sosok Yohanes sebagai seorang nabi sangat mengesankan: ia jujur, tegas, dan terus terang, bahkan sampai dipenjara karena kata-katanya yang berani. Ia bukanlah “buluh yang digoyangkan angin” (Mat 11:7). Namun pada saat yang sama, ia kaya akan belas kasihan dan pengertian terhadap semua orang yang dengan tulus bertobat dan berjuang untuk berubah (bdk. Luk 3:10-14).

 

Dalam hal ini, Santo Agustinus menyimpulkan salah satu telaahnya yang terkenal tentang kisah seorang perempuan yang berzina dalam Injil (bdk. Yoh 8:1-11) dengan mengatakan, “Ketika para penuduh pergi, hanya perempuan malang itu dan belas kasihan yang tersisa. Dan kepadanya Tuhan berkata, 'Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi’ (Yoh 8:10-11)” (Sermo 302, 14).

 

Saudara-saudari terkasih, tugas yang dipercayakan Tuhan kepadamu — kepada kamu semua, para narapidana dan mereka yang bekerja di lembaga pemasyarakatan — bukanlah tugas yang mudah. ​​Ada banyak masalah yang harus diatasi. Di sini, kita dapat menyebutkan kepadatan yang berlebihan, kurangnya komitmen untuk menjamin program pendidikan yang stabil untuk rehabilitasi dan kesempatan kerja. Pada tingkat yang lebih pribadi, janganlah kita melupakan beban masa lalu, luka yang harus disembuhkan di tubuh dan hati, kekecewaan, kesabaran tak terbatas yang dibutuhkan terhadap diri sendiri dan orang lain ketika memulai jalan pertobatan, dan godaan untuk menyerah atau tidak lagi mengampuni. Namun, Tuhan, mengatasi semua ini, terus mengulangi kepada kita bahwa hanya satu hal yang penting: supaya tidak seorang pun binasa (bdk. Yoh 6:39) dan supaya semua orang “diselamatkan” (1Tim 2:4).

 

Jangan sampai ada seorang pun yang binasa! Semoga semua orang diselamatkan! Inilah yang dikehendaki Allah kita, inilah Kerajaan-Nya, dan inilah tujuan tindakan-Nya di dunia. Menjelang Natal, kita pun ingin semakin menghidupi impian-Nya, sambil tetap teguh dan setia dalam komitmen kita (bdk. Yak 5:8). Kita tahu bahwa bahkan dalam menghadapi tantangan terbesar sekalipun, kita tidak sendirian: Tuhan dekat (bdk. Flp 4:5), Ia berjalan bersama kita, dan dengan Dia di sisi kita, sesuatu yang indah dan penuh sukacita akan senantiasa terjadi.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Desember 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PESTA BUNDA MARIA DARI GUADALUPE 12 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Sir 24:23-31; Luk 1:39-48.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam bacaan dari Kitab Putra Sirakh, kita disajikan deskripsi puitis tentang hikmat, sebuah gambaran yang menemukan kepenuhan jatidirinya dalam Kristus, “hikmat Allah” (1Kor 1:24), yang, setelah genap waktunya, menjadi manusia, lahir dari seorang perempuan (bdk. Gal 4:4). Tradisi kristiani juga membaca bagian ini dalam terang Maria, karena mengingatkan kita pada perempuan yang dipersiapkan Allah untuk menerima Kristus. Sesungguhnya, siapa lagi selain Maria yang dapat berkata, “Di dalam aku terdapat segenap rahmat jalan dan kebenaran, segenap harapan hidup dan kebajikan” (Sir 24:25)? Karena alasan ini, tradisi kristiani tidak ragu untuk mengakuinya sebagai “ibu dari kasih” (idem, ayat 18).

 

Dalam Bacaan Injil, kita mendengar bagaimana Maria mengalami dinamika seorang yang membiarkan sabda Allah memasuki hidupnya dan mengubah rupa hidupnya. Seperti api yang berkobar-kobar yang tidak dapat dibendung, sabda Allah mendorong kita untuk berbagi sukacita karunia yang diterima (bdk. Yer 20:9; Luk 24:32). Bersukacita atas pemberitaan malaikat, ia memahami bahwa sukacita Allah digenapi dalam amal kasih, dan karena itu ia bergegas ke rumah Elisabet.

 

Sesungguhnya, kata-kata sang penuh rahmat “lebih manis daripada madu” (Sir 24:20). Sapaannya saja sudah cukup membuat anak dalam kandungan Elisabet melonjak karena penuh sukacita, dan Elisabet, yang penuh dengan Roh Kudus, bertanya pada dirinya sendiri, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43). Sukacita ini mencapai puncaknya dalam Magnificat, di mana Maria mengakui kebahagiaannya berasal dari Allah yang setia, yang telah mengarahkan pandangan-Nya kepada umat-Nya dan memberkati mereka (bdk. Mzm 67:2) dengan warisan yang lebih manis daripada sarang madu (bdk. Sir 24:19): kehadiran Putra-Nya sendiri.

 

Sepanjang hidupnya, Maria membawa sukacita ini ke tempat-tempat di mana sukacita manusia tidak mencukupi, di mana anggur telah habis (bdk. Yoh 2:3). Inilah yang terjadi di Guadalupe. Di Tepeyac, ia membangkitkan sukacita dalam diri penduduk Amerika karena mengetahui bahwa mereka dikasihi Allah. Dalam penampakan tahun 1531, berbicara kepada Santo Juan Diego dalam bahasa setempatnya, ia menyatakan bahwa ia "sangat menginginkan" agar sebuah "rumah kecil yang suci" dibangun di sana, tempat ia akan menyembah Allah dan menyatakan Dia (bdk. Nican Mopohua, 26-27). Di tengah konflik, ketidakadilan, dan penderitaan yang tak berkesudahan yang membutuhkan pertolongan, Bunda Maria dari Guadalupe menyatakan inti pesannya: "Bukankah aku di sini, aku yang adalah ibumu?" (idem, 119). Ia adalah suara yang membuat janji kesetiaan ilahi bergema, kehadiran yang menopang ketika hidup menjadi tak tertahankan.

 

Keibuan yang ia beritakan membuat kita menemukan diri kita sebagai anak-anak. Siapa pun yang mendengar “Aku adalah ibumu” akan ingat bahwa, dari salib, “Inilah ibumu” berkaitan dengan “Inilah anakmu” (bdk. Yoh 19:26-27). Dan sebagai anak-anak, kita akan berpaling kepadanya untuk bertanya, “Ibu, apa yang harus kami lakukan agar menjadi anak-anak yang dikehendaki hatimu?” Ia, setia pada perutusannya, akan dengan lembut berkata kepada kita, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu” (Yoh 2:5). Ya, Ibu, kami ingin menjadi anak-anakmu yang sejati: beritahu kami bagaimana bertumbuh dalam iman ketika kekuatan kami melemah dan bayang-bayang semakin besar. Bantulah kami memahami bahwa bersamamu, bahkan musim dingin sekali pun menjadi masa bunga mawar.

 

Dan sebagai anakmu, aku memohon kepadamu: Ibu, ajari bangsa-bangsa yang ingin menjadi anak-anakmu untuk tidak memecah belah dunia menjadi pihak-pihak yang tidak dapat didamaikan, tidak membiarkan kebencian menandai sejarah mereka, atau kebohongan menulis ingatan mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa otoritas harus dijalankan sebagai pelayanan, bukan sebagai dominasi. Arahkan para pemimpin mereka tentang kewajiban mereka untuk menjaga martabat setiap orang dalam semua tahap kehidupan. Jadikan bangsa-bangsa ini, anak-anakmu, tempat di mana setiap orang dapat merasa diterima.

 

Bunda, dampingi orang muda, agar mereka menerima dari Kristus kekuatan untuk memilih kebaikan dan keberanian untuk tetap teguh dalam iman, bahkan ketika dunia berusaha menarik mereka ke arah lain. Tunjukkan kepada mereka bahwa Putra-Mu berjalan di samping mereka. Jangan biarkan apa pun mengganggu hati mereka sehingga mereka dapat menerima rencana Allah tanpa rasa takut. Lindungi mereka dari ancaman kejahatan, kecanduan, dan bahaya kehidupan yang tidak bermakna.

 

Bunda, carilah mereka yang telah tersesat dari Gereja yang kudus: biarlah pandangan-Mu menjangkau mereka di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan kami, hancurkan tembok-tembok yang memisahkan kami, dan bawalah mereka kembali ke rumah dengan kekuatan kasih-Mu. Bunda, aku memohon kepadamu untuk mengarahkan hati mereka yang menabur perselisihan kepada kehendak Putra-Mu supaya "semua menjadi satu" (Yoh 17:21) dan memulihkan mereka kepada kasih yang memungkinkan persekutuan, karena di dalam Gereja, Bunda, anak-anak-Mu tidak dapat terpecah belah.

 

Kuatkanlah keluarga: semoga orang tua, mengikuti teladanmu, membesarkan anak-anak mereka dengan kelembutan dan ketegasan, sehingga setiap rumah dapat menjadi sekolah iman. Bunda, ilhamilah mereka yang membentuk pikiran dan hati agar mereka dapat menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, ketelitian, dan kejelasan yang berasal dari Injil. Doronglah mereka yang telah dipanggil Putramu untuk mengikuti-Nya lebih dekat: dukunglah para klerus dan para pelaku hidup bakti dalam kesetiaan sehari-hari dan perbaruilah cinta pertama mereka. Jagalah kehidupan batin mereka dalam doa, lindungilah mereka dalam godaan, doronglah mereka dalam kelelahan, dan bantulah orang-orang yang menderita.

 

Perawan suci, semoga kami, seperti engkau, menyimpan Injil di dalam hati kami (bdk. Luk 2:51). Bantulah kami untuk memahami bahwa, meskipun kami adalah penerimanya, kami bukan pemilik pesan ini, tetapi, seperti Santo Yohanes Diego, kami hanyalah hamba-hambanya. Semoga kami hidup dengan keyakinan bahwa di mana pun Kabar Baik tiba, semuanya menjadi indah, semuanya dipulihkan, semuanya diperbarui. “Siapa yang mengikutimu, ia tidak akan berdosa” (bdk. Sir 24:22); Bantulah kami agar kami tidak menodai kekudusan Gereja dengan dosa dan penderitaan kami, yang, seperti engkau, adalah seorang ibu.

 

Bunda “Allah sejati yang oleh-Nya kita hidup,” datanglah menolong Penerus Petrus, agar ia dapat meneguhkan semua orang yang dipercayakan kepadanya di jalan yang sama yang menuntun kepada buah rahimmu yang terberkati. Ingatkanlah putramu ini, “yang dipercayakan Kristus kunci Kerajaan Surga untuk kebaikan semua orang,” agar kunci ini dapat berfungsi “untuk mengikat dan melepaskan serta menebus segenap penderitaan manusia” (Santo Yohanes Paulus II, Khotbah di Syracuse, 6 November 1994). Dan anugerahilah, dengan mengandalkan perlindungan-Mu, agar kami dapat semakin erat bersatu, dengan Yesus dan dengan satu sama lain, menuju tempat kediaman kekal yang telah Ia persiapkan bagi kami dan di mana engkau menanti kami. Amin.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Desember 2025)