Bacaan
Ekaristi : Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9; Rm. 13:11-14a; Mat. 24:37-44.
Saudara-saudari
terkasih,
Kita
merayakan Misa ini menjelang hari di mana Gereja memperingati Santo Andreas,
rasul dan pelindung negeri ini. Bersamaan dengan itu, kita memulai Masa Adven,
masa mempersiapkan diri untuk menghayati kembali misteri Yesus, Putra Allah,
yang "dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa" (Syahadat
Nicea-Konstantinopel), sebagaimana dideklarasikan secara khidmat 1.700 tahun
yang lalu oleh para Bapa Konsili Nicea.
Dalam
konteks ini, Bacaan Pertama (Yes 2:1-5) Misa hari ini berasal dari salah satu
bagian terindah dalam kitab Nabi Yesaya, di mana ajakan bergema, memanggil
semua orang untuk naik ke gunung Tuhan (bdk. ayat 3), tempat terang dan damai.
Oleh karena itu, saya ingin merenungkan bersama apa artinya menjadi bagian dari
Gereja dengan merefleksikan beberapa gambaran yang disajikan dalam teks ini.
Gambaran
pertama adalah gunung yang "akan tegak melampaui puncak
gunung-gunung" (bdk. Yes 2:2). Gambaran ini mengingatkan kita bahwa buah
dari tindakan Allah dalam hidup kita adalah anugerah bukan hanya bagi kita,
tetapi bagi semua orang. Sion adalah kota yang terletak di atas gunung dan
simbol komunitas yang terlahir kembali dalam kesetiaan. Keindahannya adalah
mercusuar cahaya bagi orang-orang dari segala tempat, dan berfungsi sebagai
pengingat bahwa sukacita kebaikan itu menjangkiti. Kehidupan banyak orang kudus
menegaskan hal ini. Santo Petrus bertemu Yesus berkat antusiasme Andreas,
saudaranya (bdk. Yoh 1:40-42), yang dituntun kepada Tuhan, bersama Rasul
Yohanes, berkat semangat Yohanes Pembaptis. Santo Agustinus, berabad-abad
kemudian, datang kepada Kristus berkat khotbah Santo Ambrosius yang bersemangat
dan masih banyak contoh serupa.
Di
sini kita menemukan ajakan untuk memperbarui kekuatan kesaksian iman kita.
Santo Yohanes Krisostomus, seorang gembala agung Gereja ini, berbicara tentang
daya tarik kekudusan sebagai tanda yang jauh lebih mengesankan ketimbang banyak
mukjizat. Ia berkata, “Mukjizat terjadi dan berlalu, tetapi kehidupan Kristiani
tetap ada dan terus-menerus membangun” (Ulasan Injil Matius, 43, 5). Sebagai
penutup, ia menasihati, “Karena itu marilah kita menjaga diri kita, agar kita
juga dapat memberi manfaat kepada orang lain” (idem). Sahabat-sahabat terkasih,
jika kita sungguh ingin membantu orang-orang yang kita jumpai, marilah kita
“berjaga-jaga”, sebagaimana dianjurkan Bacaan Injil (bdk. Mat 24:42) dengan
membina iman kita melalui doa dan sakramen-sakramen, mengamalkannya secara
konsisten dalam kasih, dan menanggalkan — sebagaimana dikatakan Santo Paulus
dalam Bacaan Kedua — perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan
senjata terang (bdk. Rm 13:12). Tuhan, yang kita nanti-nantikan dalam kemuliaan
di akhir zaman, datang setiap hari untuk mengetuk pintu kita. Marilah kita siap
sedia menyambut kedatangan-Nya (bdk. Mat 24:44), dengan sungguh-sungguh
berkomitmen untuk menjalani hidup yang baik, mengikuti teladan banyak orang
kudus, orang-orang, yang telah tinggal di negeri ini sepanjang masa.
Gambaran
kedua yang kita peroleh dari Nabi Yesaya adalah dunia yang damai. Ia
menggambarkannya demikian: "Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi
mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi
mengangkat pedang melawan bangsa lain, dan mereka tidak akan lagi belajar
perang" (Yes 2:4). Betapa mendesaknya panggilan ini bagi kita saat ini!
Betapa besar kebutuhan akan perdamaian, kesatuan, dan rekonsiliasi di sekitar
kita, di dalam diri kita, dan di antara kita! Apa kontribusi kita sebagai
tanggapannya?
Untuk
lebih memahami hal ini, marilah kita lihat logo perjalanan ini, di mana salah
satu gambar yang dipilih adalah sebuah jembatan. Logo perjalanan ini juga dapat
mengingatkan kita pada jembatan yang terkenal di kota ini, yang melintasi Selat
Bosporus dan menyatukan dua benua: Asia dan Eropa. Seiring berjalannya waktu,
dua penyeberangan lainnya telah dibangun, sehingga kini terdapat tiga titik
penghubung antara kedua benua. Ketiga struktur komunikasi, pertukaran, dan
perjumpaan yang luar biasa ini sungguh mengesankan, namun sangat kecil dan
rapuh dibandingkan dengan luasnya wilayah yang dihubungkan.
Jembatan
tiga dimensi yang membentang melintasi selat ini mengingatkan kita akan
pentingnya upaya bersama kita untuk membangun jembatan kesatuan di tiga
tingkatan: di dalam komunitas, dalam hubungan ekumenis dengan anggota
denominasi kristiani lain, dan dalam perjumpaan kita dengan saudara-saudari
yang beragama lain. Memelihara ketiga ikatan ini, memperkuat dan memperluasnya
dengan segala cara yang mungkin, merupakan bagian dari panggilan kita untuk
menjadi kota yang terletak di atas gunung (bdk. Mat 5:14-16).
Ikatan
kesatuan pertama yang baru saja saya sebutkan adalah ikatan di dalam Gereja
ini, yang di negeri ini terdiri dari empat tradisi liturgi yang berbeda —
Latin, Armenia, Kaldean, dan Suriah. Masing-masing tradisi menyumbangkan
kekayaan spiritual, historis, dan gerejawi. Ambil bagian dalam
perbedaan-perbedaan ini dengan jelas menunjukkan salah satu ciri terindah dari
wajah Mempelai Kristus: kekatolikan yang mempersatukan. Kesatuan yang mengikat
kita bersama di sekitar altar adalah karunia Allah. Karena itu, kesatuan
tersebut kuat dan tak terkalahkan, karena merupakan karya rahmat-Nya. Namun,
pada saat yang sama, perwujudan kesatuan ini pada waktunya dipercayakan kepada
kita, kepada usaha kita. Karena alasan ini, seperti jembatan di atas Selat
Bosporus, kesatuan membutuhkan kepedulian, perhatian, dan
"pemeliharaan," agar fondasinya tetap kokoh dan tidak melemah oleh
waktu dan perubahan. Dengan mata kita tertuju kepada gunung yang dijanjikan,
gambaran Yerusalem surgawi, tujuan dan ibu kita (bdk. Gal 4:26), marilah kita
berupaya semaksimal mungkin untuk memelihara dan memperkuat ikatan yang
mempersatukan kita, sehingga kita dapat saling memperkaya dan menjadi tanda
yang dapat dipercaya di hadapan dunia akan kasih Tuhan yang universal dan tak
terbatas.
Ikatan
kesatuan kedua yang disiratkan oleh liturgi ini adalah ekumenisme. Hal ini juga
dibuktikan dengan kehadiran para perwakilan dari pengakuan iman kristiani
lainnya, yang saya sambut dengan hangat. Sungguh, iman yang sama kepada Yesus,
Juruselamat kita, tidak hanya mempersatukan kita yang berada di dalam Gereja
Katolik, tetapi juga semua saudara dan saudari kita yang tergabung dalam Gereja
kristiani lainnya. Kita mengalami hal ini kemarin dalam doa kita di İznik. Ini
juga merupakan jalan yang telah kita tempuh bersama selama beberapa waktu.
Santo Yohanes XXIII, yang terhubung dengan tanah ini melalui ikatan kasih
sayang yang mendalam, adalah seorang promotor besar, dan saksi, bagi
persekutuan ekumenis. Oleh karena itu, seraya kita memohon dalam kata-kata Paus
Yohanes agar “misteri agung kesatuan yang dimohonkan Kristus Yesus kepada Bapa
surgawi dengan doa-doa yang sungguh-sungguh pada malam pengorbanan-Nya dapat
digenapi” (Wejangan Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II, 11 Oktober 1962,
8.2), hari ini kita memperbarui “ya” kita untuk kesatuan, “supaya mereka semua
menjadi satu” (Yoh 17:21), ut unum sint.
Ikatan
kesatuan ketiga, yang kepadanya sabda Allah memanggil kita, adalah ikatan
dengan anggota komunitas nonkristiani. Kita hidup di dunia di mana agama
terlalu sering digunakan untuk membenarkan peperangan dan kekejaman. Namun,
sebagaimana dinyatakan oleh Konsili Vatikan II, "hubungan manusia dengan
Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat,
sehingga Alkitab berkata: Siapa yang tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah
(1Yoh 4:8)" (Nostra Aetate, 5). Oleh karena itu, kita ingin berjalan
bersama dengan menghargai apa yang mempersatukan kita, meruntuhkan tembok
prasangka dan ketidakpercayaan, mengembangkan saling pengertian dan saling
menghargai agar dapat menyampaikan pesan pengharapan yang kuat dan ajakan untuk
menjadi "orang yang membawa damai" (Mat 5:9).
Sahabat-sahabat
terkasih, marilah kita jadikan nilai-nilai ini sebagai resolusi kita untuk Masa
Adven, dan terlebih lagi untuk kehidupan pribadi dan bersama kita. Kita
berjalan seolah-olah di atas jembatan yang menghubungkan bumi dengan surga,
jembatan yang telah dibangun Tuhan bagi kita. Marilah kita senantiasa
mengarahkan pandangan kita ke surga dan bumi, agar kita dapat mengasihi Allah
dan saudara-saudari kita dengan segenap hati sehingga dapat berjalan bersama
dan suatu hari nanti menemukan diri kita bersatu di rumah Bapa.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 30 November 2025)





Print this page