Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA KONSISTORI LUAR BIASA 8 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : 1Yoh 4:7-10; Mzm 72:2.3-4ab.7-8; Mrk 6:34-44.

 

Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah” (1Yoh 4:7). Liturgi menghadirkan nasihat ini di hadapan kita saat kita merayakan konsistori luar biasa, suatu momen rahmat di mana persatuan kita dalam pelayanan Gereja menemukan ungkapannya.

 

Sebagaimana kita ketahui, kata "konsistori" (consistorium, atau “sidang”) dapat dipahami melalui akar kata kerja consistere, yang berarti “berhenti sejenak.” Memang, kita semua telah “berhenti sejenak” untuk berada di sini. Kita telah mengesampingkan kegiatan kita untuk sementara waktu, dan bahkan membatalkan komitmen penting, agar dapat bersama-sama memahami apa yang diminta Tuhan dari kita demi kebaikan umat-Nya. Hal ini dengan sendirinya sudah merupakan tindakan yang sangat penting dan profetik, terutama dalam konteks masyarakat yang hiruk pikuk tempat kita hidup. Konsistori mengingatkan kita akan pentingnya, dalam setiap aspek kehidupan, berhenti sejenak untuk berdoa, mendengarkan, dan melakukan refleksi. Dengan berbuat demikian, kita memfokuskan kembali perhatian kita dengan lebih jelas pada tujuan kita, mengarahkan setiap upaya dan sumber daya pada tujuan, agar kita tidak berisiko berlari tanpa tujuan atau “memukul angin” dengan sia-sia, sebagaimana diperingatkan Rasul Paulus (bdk. 1Kor 9:26). Kita berkumpul bukan untuk mempromosikan “agenda” pribadi atau kelompok, tetapi untuk mempercayakan rencana dan inspirasi kita kepada kebijaksanaan yang melampaui diri kita – “seperti tingginya langit dari bumi” (Yes 55:9) – dan berasal dari Tuhan semata.

 

Oleh karena itu, selama Ekaristi ini kita meletakkan setiap pengharapan dan gagasan kita di atas altar merupakan sesuatu yang penting. Bersama-sama pemberian hidup kita, kita mempersembahkannya kepada Bapa dalam persatuan dengan kurban Kristus, sehingga kita dapat menerimanya kembali dalam keadaan yang dimurnikan, tercerahkan, dipersatukan, dan diubah rupa oleh rahmat menjadi satu Roti. Sesungguhnya, hanya dengan cara inilah kita akan benar-benar tahu bagaimana mendengarkan suara-Nya, dan menyambutnya melalui pemberian kita kepada satu sama lain – yang merupakan alasan utama kita berkumpul.

 

Dewan Kardinal kita, meskipun kaya akan banyak keterampilan dan karunia yang luar biasa, tidak terutama dipanggil untuk menjadi sekadar kelompok pakar, tetapi komunitas iman. Hanya ketika karunia yang dibawa setiap orang dipersembahkan kepada Tuhan dan dikembalikan oleh-Nya, barulah karunia itu akan menghasilkan buah terbesar sesuai dengan rencana-Nya.

 

Lebih jauh lagi, kasih Allah, kasih kita sebagai murid dan rasul, adalah kasih yang “bersifat tritunggal” dan “relasional”. Itulah sumber spiritualitas persekutuan, yang dengannya mempelai Kristus hidup serta ingin menjadi rumah dan sekolah (bdk. Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 6 Januari 2001, 43). Menyatakan pengharapan bahwa spiritualitas ini akan berkembang pada awal milenium ketiga, Santo Yohanes Paulus II menggambarkannya sebagai “kontemplasi hati akan misteri Tritunggal yang berdiam di dalam diri kita, dan yang cahayanya juga harus dapat kita lihat bersinar di wajah saudara-saudari di sekitar kita” (idem).

 

“Berhenti sejenak” kita, pertama dan terutama, adalah tindakan kasih yang mendalam kepada Allah, Gereja, dan orang-orang di seluruh dunia. Melalui hal ini, kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Roh: selain terutama dalam doa dan keheningan, juga dengan saling berhadapan dan mendengarkan. Dalam kebersamaan kita, kita menjadi suara bagi semua orang yang telah dipercayakan Tuhan kepada pelayanan pastoral kita di berbagai belahan dunia. Kita harus menjalani tindakan ini dengan rendah hati dan murah hati, menyadari bahwa kita berada di sini karena rahmat. Selain itu, kita tidak membawa apa pun yang belum kita terima terlebih dahulu sebagai karunia atau talenta, yang tidak boleh disia-siakan, tetapi harus diinvestasikan dengan bijaksana dan teguh hati (bdk. Mat 25:14-30).

 

Santo Leo Agung mengajarkan bahwa “seluruh umat Kristus bersama-sama mengerjakan tugas yang sama, dan semua tingkatan dan golongan … bekerja sama dengan satu Roh yang sama merupakan sesuatu yang agung dan sangat berharga di mata Tuhan.” Dengan cara ini, “orang yang lapar diberi makan, orang yang telanjang diberi pakaian, orang sakit dikunjungi, dan tidak seorang pun mencari kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan sesamanya” (Khotbah 88, 4). Inilah semangat yang ingin kita terapkan dalam bekerja bersama: semangat mereka yang menginginkan agar setiap anggota Tubuh Mistik Kristus bekerja sama secara tertib demi kebaikan semua orang (bdk. Ef 4:11–13). Semoga kita sepenuhnya melaksanakan pelayanan kita dengan bermartabat di bawah bimbingan Roh Kudus, dengan senang hati mempersembahkan pekerjaan kita dan melihat hasilnya yang terbaik. Semoga kita juga menerima pekerjaan sesama kita dan bersukacita melihatnya berkembang (bdk. Santo Leo Agung, Khotbah 88, 5).

 

Selama dua milenium, Gereja telah mewujudkan misteri ini dalam keindahannya yang beraneka ragam (bdk. Fransiskus, Ensiklik Fratelli Tutti, 280). Sidang ini sendiri menjadi saksi akan hal itu melalui keanekaragaman asal usul dan zaman kita, dan dalam kesatuan rahmat dan iman yang menyatukan kita dan menjadikan kita bersaudara.

 

Tentu saja, kita berdiri di hadapan "sejumlah besar" umat manusia yang haus akan kebaikan dan perdamaian. Di dunia di mana kepuasan dan kelaparan, kelimpahan dan penderitaan, dan perjuangan untuk bertahan hidup bersama dengan kekosongan keberadaan yang putus asa terus memecah belah dan melukai individu, komunitas, dan bangsa, kita mungkin merasa tidak mampu. Dihadapkan dengan kata-kata Sang Guru, "Kamu harus memberi mereka makan" (Mrk 6:37), kita pun mungkin merasa, seperti para murid, kekurangan sarana yang diperlukan. Namun Yesus mengulangi kepada kita sekali lagi, "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa" (Mrk 6:38). Inilah yang dapat kita lakukan bersama. Kita mungkin tidak selalu menemukan solusi langsung untuk masalah yang kita hadapi, namun di setiap tempat dan keadaan, kita akan dapat saling membantu – dan khususnya, membantu Paus – untuk menemukan "lima roti dan dua ikan" yang selalu disediakan oleh takdir di mana pun anak-anak-Nya meminta pertolongan. Ketika kita menerima karunia-karunia ini, menyerahkannya, menerima dan membagikannya, karunia-karunia itu diperkaya oleh berkat Allah serta iman dan kasih akan semua orang, sehingga tak seorang pun kekurangan apa yang dibutuhkan (bdk. Mrk 6:42).

 

Saudara-saudara terkasih, apa yang kamu persembahkan kepada Gereja melalui pelayananmu, di setiap tingkatan, adalah sesuatu yang mendalam dan sangat pribadi, unik bagi kamu masing-masing dan berharga bagi semua orang. Tanggung jawab yang kamu emban bersama Penerus Petrus memang berat dan menuntut.

 

Karena alasan ini, saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepadamu, dan saya ingin mengakhiri dengan mempercayakan karya dan perutusan kita kepada Tuhan dengan kata-kata Santo Agustinus: “Engkau memberi kami banyak hal ketika kami berdoa, dan segala kebaikan yang kami terima sebelum kami berdoa untuk itu, telah kami terima dari Engkau. Kami juga telah menerima dari Engkau rahmat yang kemudian kami sadari... Ingatlah, Tuhan, ‘bahwa kami hanyalah debu.’ Engkau telah menjadikan manusia dari debu” (Pengakuan-pengakuan, 10, xxxi, 45). Karena itu, kami berkata kepada-Mu: “Berikanlah apa yang Engkau perintahkan, dan perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki” (idem).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Januari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (PENUTUPAN TAHUN YUBILEUM BIASA 2025) 6 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil (bdk. Mat 2:1-12) menggambarkan kepada kita sukacita besar yang dialami orang-orang Majus ketika mereka melihat bintang itu sekali lagi (bdk. ayat 10), dan pada saat yang sama bagaimana Herodes dan seluruh Yerusalem terkejut karena pencarian orang-orang Majus tersebut (bdk. ayat 3). Sesungguhnya, setiap kali Kitab Suci berbicara tentang Allah yang menyatakan diri-Nya, Kitab Suci tidak menyembunyikan reaksi yang kontras, seperti sukacita dan keterkejutan, penolakan dan ketaatan, ketakutan dan kerinduan. Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, menyadari bahwa di hadirat-Nya tidak ada yang tetap sama. Ini menandai awal pengharapan, karena Allah menyatakan diri-Nya dan tidak ada yang tetap tidak berubah. Kehadiran-Nya mengakhiri jenis kepuasan melankolis yang menyebabkan orang-orang tanpa henti berkata, “Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh 1:9). Sesuatu yang menentukan masa kini dan masa depan baru dimulai, sebagaimana diberitakan Nabi Yesaya: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (60:1).

 

Yerusalem, kota yang telah menyaksikan banyak permulaan baru, dilanda masalah, sungguh mengejutkan. Di dalam kota itu, mereka yang mempelajari Kitab Suci dan mengira mereka memiliki semua jawaban tampaknya telah kehilangan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan dan memupuk rasa rindu. Sesungguhnya, kota itu takut kepada mereka yang, tergerak oleh pengharapan, datang dari jauh; kota itu tampak terancam oleh apa yang seharusnya membawa sukacita besar. Reaksi ini juga menantang kita sebagai Gereja.

 

Pintu Suci Basilika ini, yang hari ini merupakan pintu terakhir yang ditutup, telah menyaksikan aliran tak terhitung banyaknya pria dan wanita, para peziarah pengharapan, yang melakukan perjalanan menuju Yerusalem baru, kota yang pintunya selalu terbuka (bdk. Why 21:25). Siapakah pria dan wanita ini, dan apa yang memotivasi mereka? Di akhir tahun Yubileum ini, pencarian spiritual orang-orang sezaman kita, yang jauh lebih kaya daripada yang mungkin dapat kita pahami, mengundang kita untuk melakukan refleksi yang sungguh-sungguh. Jutaan dari mereka telah melewati ambang pintu Gereja. Apa yang mereka temukan? Apa yang ada di hati mereka, pertanyaan mereka, perasaan mereka? Ya, orang-orang Majus masih ada hingga hari ini. Mereka adalah orang-orang yang merasakan kebutuhan untuk pergi mencari, menerima risiko yang terkait dengan perjalanan mereka, terutama di dunia yang penuh masalah seperti kita saat ini yang mungkin tidak menyenangkan dan berbahaya dalam banyak hal.

 

Orang-orang zaman dahulu menyebutnya homo viator, dan memang seluruh hidup kita adalah sebuah perjalanan. Bacaan Injil menantang Gereja untuk tidak takut akan fenomena ini, tetapi menghargainya, dan mengarahkannya kepada Allah yang menopang kita. Dia adalah Allah yang dapat mengguncang kita karena Dia tidak tetap berada di tangan kita seperti berhala-berhala perak dan emas; sebaliknya, Dia hidup dan memberi kehidupan, seperti Bayi yang dipeluk Maria dan disembah oleh orang-orang Majus. Tempat-tempat suci seperti katedral, basilika, dan gua Maria, yang telah menjadi tujuan ziarah Yubileum, harus menyebarkan aroma kehidupan, kesadaran yang tak terlupakan bahwa dunia lain telah dimulai.

 

Marilah kita bertanya pada diri sendiri: adakah kehidupan dalam Gereja kita? Adakah ruang bagi lahirnya sesuatu yang baru? Apakah kita mengasihi dan mewartakan Allah yang menuntun kita dalam sebuah perjalanan?

 

Dalam Bacaan Injil, Herodes takut akan takhtanya dan terkejut akan hal-hal yang menurutnya di luar kendalinya. Ia mencoba memanfaatkan keinginan orang-orang Majus dengan memanipulasi pencarian mereka. Ia siap berbohong, ia bersedia melakukan apa saja. Ketakutan memang membutakan kita. Sebaliknya, sukacita Injil membebaskan kita. Sukacita Injil membuat kita bijaksana, ya, tetapi juga berani, penuh perhatian, dan kreatif; sukacita Injil mengajak kita menempuh jalan yang berbeda dari jalan yang telah kita lalui.

 

Orang-orang Majus membawa pertanyaan sederhana dan penting ke Yerusalem: “Di manakah Dia yang baru dilahirkan itu?” (Mat 2:2). Betapa pentingnya bagi mereka yang melewati pintu Gereja untuk menyadari bahwa Mesias baru dilahirkan, sebuah komunitas berkumpul di mana pengharapan muncul, dan sebuah kisah kehidupan sedang terungkap! Yubileum mengingatkan kita bahwa kita dapat memulai kembali, bahkan, kita masih di awal dan Tuhan ingin kehadiran-Nya tumbuh di antara kita sebagai Allah yang menyertai kita. Ya, Allah menantang tatanan yang ada, karena Dia memiliki rencana yang menginspirasi para nabi-Nya bahkan hingga hari ini. Allah bertekad untuk menyelamatkan kita dari bentuk-bentuk perbudakan lama dan baru. Dia melibatkan orang muda dan orang tua, orang miskin dan orang kaya, laki-laki dan perempuan, orang kudus dan orang berdosa dalam karya belas kasih-Nya, dan dalam keajaiban keadilan-Nya. Meskipun Tuhan melakukannya dengan tenang, Dia telah membuat Kerajaan-Nya tumbuh di mana-mana di dunia.

 

Betapa banyak pencerahan yang telah diberikan kepada kita dan betapa banyak lagi yang dapat diberikan kepada kita! Namun, pencerahan itu harus menjauhkan kita dari niat Herodes, dari ketakutan yang selalu siap berubah menjadi agresi. “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya” (Mat 11:12). Ungkapan misterius Yesus ini, yang dilaporkan dalam Injil Matius, mau tidak mau membuat kita berpikir tentang banyak konflik yang digunakan manusia untuk melawan dan bahkan merusak hal-hal baru yang telah disiapkan Allah untuk semua orang. Mencintai dan mengupayakan perdamaian berarti melindungi apa yang kudus dan, akibatnya, apa yang baru lahir seperti bayi kecil yang rentan dan rapuh. Di sekitar kita, ekonomi yang menyimpang mencoba mengambil keuntungan dari segala sesuatu. Kita melihat bagaimana pasar dapat mengubah kerinduan manusia untuk mencari, bepergian, dan memulai kembali menjadi sekadar bisnis. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah Yubileum telah mengajarkan kita untuk menjauhi jenis efisiensi ini yang mereduksi segala sesuatu menjadi produk dan manusia menjadi konsumen? Setelah tahun ini, akankah kita lebih mampu mengenali seorang peziarah dalam diri pengunjung, seorang pencari dalam diri orang asing, seorang sesama dalam diri orang asing, dan sesama pengembara dalam diri orang-orang yang berbeda?

 

Cara Yesus bertemu dan membiarkan diri-Nya didekati oleh semua orang mengajarkan kita untuk menghargai rahasia hati, yang hanya Dia yang dapat membacanya. Bersama-Nya, kita belajar untuk menyambut tanda-tanda zaman (bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, Gaudium et Spes, 4). Tidak seorang pun dapat menjual hal ini kepada kita. Anak yang disembah oleh orang-orang Majus adalah sang Kebaikan yang tak ternilai dan tak terukur. Penampakan Tuhan dari sebuah karunia. Penampakan Tuhan tidak terjadi di tempat yang bergengsi, tetapi di tempat yang sederhana. “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara para pemimpin Yehuda” (Mat 2:6). Berapa banyak kota, berapa banyak komunitas yang perlu mendengar dikatakan, “Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil.” Ya, Tuhan masih mengejutkan kita! Ia menyatakan diri-Nya dan membiarkan diri-Nya ditemukan. Jalan-Nya bukanlah jalan kita, dan orang-orang yang kejam tidak berhasil mengendalikannya, demikian pula kekuatan dunia tidak dapat menghalanginya. Inilah sukacita besar orang-orang Majus, yang meninggalkan istana dan bait suci untuk berangkat ke Betlehem; hanya pada saat itulah mereka melihat bintang itu sekali lagi!

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, menjadi peziarah pengharapan sungguh luar biasa. Kita bersama-sama terus menjadi peziarah sungguh luar biasa! Kesetiaan Allah terus membuat kita takjub. Jika kita tidak mereduksi gereja-gereja kita menjadi monumen, jika komunitas kita menjadi rumah, jika kita bersatu dan menolak sanjungan dan godaan dari mereka yang berkuasa, maka kita akan menjadi generasi fajar baru. Maria, Bintang Pagi, akan selalu berjalan di depan kita! Dalam Putranya kita akan merenungkan dan melayani umat manusia yang luar biasa, yang diubah rupa bukan oleh khayalan Yang Mahakuasa, tetapi oleh Allah yang menjadi manusia karena kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH 1 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, di awal tahun sipil yang baru, Liturgi menawarkan kepada kita teks berkat yang indah: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil 6:24-26).

 

Dalam Kitab Bilangan, berkat ini mengikuti petunjuk mengenai pengudusan kaum nazir, menyoroti dimensi sakral dan berbuah dari persembahan dalam hubungan antara Allah dan umat Israel. Manusia mempersembahkan kepada Sang Pencipta segala yang telah mereka terima, dan Ia, pada gilirannya, menanggapi dengan mengarahkan pandangan-Nya yang penuh kebajikan kepada mereka, seperti yang Ia lakukan pada awal penciptaan (bdk. Kej 1:31).

 

Selain itu, umat Israel, yang menjadi alamat berkat ini, adalah umat yang telah dibebaskan – laki-laki dan perempuan dilahirkan kembali setelah masa perbudakan yang panjang, berkat campur tangan Allah dan tanggapan murah hati dari hamba-Nya, Musa. Di Mesir, mereka menikmati beberapa kenyamanan: makanan tersedia, begitu pula tempat tinggal dan kestabilan. Akan tetapi hal ini datang dengan harga kebebasan mereka; diperbudak, mereka ditindas oleh penguasa yang lalim yang menuntut lebih banyak namun memberi lebih sedikit (bdk. Kel 5:6-7). Sekarang, di padang gurun, banyak dari kenyamanan sebelumnya telah hilang. Tetapi sebagai gantinya ada kebebasan, yang berbentuk jalan terbuka menuju masa depan, ditemukan dalam pemberian hukum kebijaksanaan dan janji tanah tempat mereka dapat hidup dan berkembang tanpa belenggu atau rantai. Singkatnya, sebuah kelahiran kembali.

 

Dengan demikian, di awal tahun baru, Liturgi mengingatkan kita bahwa bagi kita masing-masing, setiap hari dapat menjadi awal kehidupan baru, berkat kasih Allah yang murah hati, belas kasih-Nya, dan tanggapan dari kebebasan kita. Alangkah indahnya memandang tahun yang akan datang dengan cara ini: sebagai perjalanan terbuka yang harus dijelajahi. Sesungguhnya, melalui rahmat, kita dapat memulai perjalanan ini dengan penuh keyakinan – bebas dan pembawa kebebasan, diampuni dan pembawa pengampunan, mempercayai kedekatan dan kebaikan Tuhan yang senantiasa menyertai kita.

 

Kita mengingat kebenaran ini saat kita merayakan misteri keibuan ilahi Maria. Melalui "ya"-nya, ia membantu memberikan wajah manusiawi kepada sumber segala belas kasih dan kebaikan: wajah Yesus. Melalui mata-Nya – pertama sebagai seorang anak kecil, kemudian sebagai seorang muda dan sebagai seorang dewasa – kasih Bapa menjangkau kita dan mengubah rupa kita.

 

Oleh karena itu, saat kita melangkah menuju hari-hari baru dan unik yang menanti kita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengalami setiap saat, di sekitar kita dan atas diri kita, kehangatan pelukan kebapaan-Nya dan cahaya tatapan-Nya yang penuh kebaikan. Dengan cara ini, kita dapat lebih memahami dan senantiasa mengingat siapa diri kita dan ke arah mana apa yang menjadi takdir luar biasa kita tertuju (bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 41). Pada saat yang sama, marilah kita juga memuliakan Allah melalui doa, kekudusan hidup, dan dengan menjadi cermin kebaikan-Nya bagi satu sama lain.

 

Santo Agustinus mengajarkan bahwa, dalam diri Maria, “Pencipta manusia menjadi manusia: sehingga, meskipun Ia mengatur bintang-bintang, Ia dapat menyusu pada seorang perempuan; meskipun Ia adalah Roti (bdk. Yoh 6:35), Ia dapat lapar (bdk. Mat 4:2)… untuk membebaskan kita, meskipun kita tidak layak” (Khotbah 191, 1.1). Dengan cara ini, Agustinus mengingatkan kita salah satu ciri dasariah wajah Allah: kecuma-cumaan kasih-Nya yang sempurna. Sebagaimana saya tekankan dalam Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia ini, Allah menampilkan diri-Nya kepada kita “tanpa senjata dan melucuti senjata,” telanjang dan tak berdaya seperti bayi yang baru lahir di dalam buaian. Ia melakukan ini untuk mengajarkan kita bahwa dunia tidak diselamatkan dengan menajamkan pedang, atau dengan menghakimi, menindas, atau menyingkirkan saudara-saudari kita. Sebaliknya, dunia diselamatkan dengan tanpa lelah berusaha untuk memahami, mengampuni, membebaskan, dan menyambut setiap orang, tanpa perhitungan dan tanpa rasa takut.

 

Inilah wajah Allah yang diperkenankan Maria untuk terbentuk dan tumbuh di dalam rahimnya, yang sepenuhnya mengubah rupa hidupnya. Inilah wajah yang ia nyatakan melalui cahaya matanya yang penuh sukacita namun lembut saat mengandung-Nya; wajah yang keindahannya ia renungkan setiap hari di rumahnya saat Yesus tumbuh sebagai seorang anak kecil, seorang remaja, dan seorang muda; dan wajah yang ia ikuti dengan hati seorang murid yang rendah hati, saat Ia menempuh perjalanan misi-Nya, hingga salib dan kebangkitan. Untuk melakukan hal itu, ia juga menanggalkan setiap pertahanan, melepaskan harapan, tuntutan, dan kenyamanan – sebagaimana sering dilakukan para ibu – mengabdikan hidupnya tanpa syarat bagi Putra yang telah ia terima melalui rahmat, sehingga ia dapat, pada gilirannya, mengembalikan-Nya kepada dunia.

 

Dalam keibuan ilahi Maria, kita melihat pertemuan dua kenyataan yang sangat luar biasa dan "tanpa senjata": kenyataan Allah, yang melepaskan setiap keistimewaan keilahian-Nya untuk dilahirkan dalam daging (bdk. Filipi 2:6-11), dan kenyataan manusiawi yang, dengan penuh kepercayaan dan sepenuhnya, menerima kehendak Allah. Dalam tindakan kasih yang sempurna, ia mempersembahkan kepada-Nya kekuatan terbesar yang dimilikinya: kebebasannya.

 

Melakukan refleksi atas misteri ini, Santo Yohanes Paulus II mengajak kita untuk merenungkan apa yang ditemukan para gembala di Betlehem: "kelembutan Anak yang melucuti senjata, kemiskinan yang mengejutkan di mana Ia ditemukan, dan kesederhanaan yang rendah hati dari Maria dan Yusuf." Kenyataan-kenyataan ini mengubah rupa kehidupan mereka, menjadikan mereka "pembawa pesan keselamatan" (Homili dalam Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, Hari Perdamaian Sedunia ke-34, 1 Januari 2001).

 

Ia mengucapkan kata-kata ini pada penutupan Yubileum Agung Tahun 2000, dengan kata-kata yang bergema dengan refleksi kita hari ini: “Alangkah banyak karunia,” tegasnya, “alangkah banyak kesempatan luar biasa yang ditawarkan Yubileum Agung kepada orang-orang percaya! Dalam pengalaman pengampunan yang diterima dan diberikan, dalam peringatan para martir, dalam mendengarkan jeritan kaum miskin di dunia… kita pun telah melihat sekilas kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam sejarah. Kita, seolah-olah, secara fisik merasakan kasih-Nya yang memperbarui wajah bumi” (idem). Kemudian ia menyimpulkan, “Sebagaimana Ia meminta para gembala yang bergegas untuk menyembah-Nya, Kristus meminta orang-orang percaya, yang telah Ia berikan sukacita bertemu dengan-Nya, kesiapan untuk berani sekali lagi berangkat memberitakan Injil-Nya, lama dan selalu baru. Ia mengutus mereka untuk menghidupkan sejarah dan budaya manusiawi kita dengan pesan keselamatan-Nya” (idem).

 

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Raya ini, di awal tahun baru, dan saat kita mendekati akhir Yubileum Pengharapan, marilah kita mendekati ornamen Kelahiran Yesus dengan iman. Marilah kita mendekatinya sebagai tempat damai yang "tanpa senjata dan melucuti senjata" – tempat berkat di mana kita mengingat keajaiban yang telah dikerjakan Tuhan dalam sejarah keselamatan dan hidup kita. Kemudian, seperti para saksi yang rendah hati di gua, marilah kita berangkat sekali lagi, "memuji dan memuliakan Allah" (Luk 2:20) atas segala yang telah kita lihat dan dengar. Semoga ini menjadi komitmen dan tekad kita untuk bulan-bulan mendatang, dan, sesungguhnya, untuk seluruh kehidupan kristiani kita.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA NATAL 25 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1:1-18.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

“Bergembiralah, bersorak-sorailah!” (Yes 52:9), utusan perdamaian berseru kepada orang-orang yang berdiri di tengah reruntuhan kota yang sangat membutuhkan pembangunan kembali. Meskipun berdebu dan terluka, betapa indahnya langkah mereka, tulis Nabi Yesaya (bdk. Yes. 52:7), karena di sepanjang jalan yang terjal dan melelahkan, langkah mereka telah membawa kabar gembira yang melahirkan kembali segalanya. Hari baru telah tiba! Kita pun merupakan bagian dari permulaan baru ini, meskipun hanya sedikit yang mempercayainya: damai itu nyata, dan sudah ada di antara kita.

 

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi” (Yoh 14:27). Yesus berbicara demikian kepada para murid, yang kakinya baru saja Ia basuh. Mereka akan menjadi pembawa pesan damai sejahtera, diutus untuk melakukan perjalanan tanpa lelah ke seluruh dunia untuk menyatakan kepada semua orang “hak supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Oleh karena itu, hari ini kita tidak hanya terkejut dengan damai sejahtera yang sudah ada di sini; kita juga merayakan cara pemberian anugerah ini kepada kita. Dalam “bagaimana” ini, sesungguhnya, bersinar perbedaan ilahi yang menyebabkan kita melantunkan nyanyian sukacita. Karena alasan inilah, di seluruh dunia, Natal adalah perayaan musik dan nyanyian yang tiada bandingnya.

 

Prolog Injil keempat itu sendiri adalah sebuah madah, dengan Sabda Allah sebagai pelaku utamanya. “Sabda” adalah sabda yang bertindak. Inilah ciri khas Sabda Allah: tidak pernah tanpa dampak. Memang, banyak kata-kata kita juga memiliki dampak, terkadang tanpa disengaja. Ya, kata-kata “bertindak.” Namun, inilah kejutan yang disajikan liturgi Natal kepada kita: Sabda Allah tampak tetapi tidak dapat berbicara. Ia datang kepada kita sebagai bayi yang baru lahir yang hanya dapat menangis dan mengoceh. “Sabda itu telah menjadi daging” (Yoh 1:14). Meskipun Ia akan tumbuh dan suatu hari nanti mempelajari bahasa umat-Nya, untuk saat ini Ia hanya berbicara melalui kehadiran-Nya yang sederhana dan rapuh. “Daging” adalah ketelanjangan radikal yang, di Betlehem seperti di Kalvari, tetap ada bahkan tanpa kata-kata – sama seperti begitu banyak saudara dan saudari, yang dilucuti martabatnya dan dibungkam, tidak memiliki kata-kata hari ini. Daging manusia meminta perhatian; ia memohon sambutan dan pengakuan; ia mencari tangan yang mampu menunjukkan kelembutan dan pikiran yang mau mendengarkan; ia merindukan kata-kata kebaikan.

 

“Ia datang kepada milik-Nya sendiri, tetapi orang-orang milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun, semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:11-12). Inilah cara paradoks di mana damai sejahtera sudah ada di antara kita: anugerah Allah mengundang kita masuk; anugerah itu berusaha untuk diterima dan, pada gilirannya, menginspirasi penyerahan diri kita. Allah mengejutkan kita karena Ia membiarkan diri-Nya terbuka terhadap penolakan. Ia juga memikat kita karena Ia menarik kita menjauh dari ketidakpedulian. Menjadi anak-anak Allah adalah kekuatan sejati – kekuatan yang tetap terpendam selama kita menjaga jarak dari tangisan anak-anak dan kerapuhan orang tua, keheningan tak berdaya para korban dan kemurungan pasrah orang-orang yang melakukan kejahatan yang tidak mereka inginkan.

 

Untuk mengingatkan kita akan sukacita Injil, Paus Fransiskus yang kita kasihi menulis: “Kadang-kadang kita tergoda untuk menjadi orang Kristiani yang terus menerus menatap luka Yesus di sekujur tubuh-Nya dari jarak tertentu. Padahal Yesus ingin supaya kita menyentuh penderitaan manusia dan menyentuh daging sesama yang menderita. Yesus mengharapkan kita supaya menghentikan upaya sekadar mencari tempat nyaman baik untuk pribadi maupun untuk bersama, yang memungkinkan kita tetap berada pada jarak tertentu dari simpul kacau balaunya kemalangan manusia. Padahal, kita diharapkan masuk ke dalam kenyataan kehidupan konkret sesama dan mengenal kekuatan dari kelemahlembutan” (Evangelii Gaudium, 270).

 

Saudara-saudari terkasih, sejak Sabda menjadi daging, kemanusiaan kini berbicara, berseru dengan keinginan Allah sendiri untuk berjumpa kita. Sabda telah mendirikan kemah-Nya yang rapuh di antara kita. Lalu, bagaimana mungkin kita tidak memikirkan kemah-kemah di Gaza, yang selama berminggu-minggu terpapar hujan, angin, dan dingin; dan kemah-kemah pengungsi dan orang-orang yang terlantar lainnya di setiap benua; atau tempat-tempat penampungan sementara ribuan orang tunawisma di kota-kota kita sendiri? Rapuh adalah daging penduduk yang tak berdaya, yang telah dicobai oleh begitu banyak perang, yang sedang berlangsung atau telah berakhir, meninggalkan puing dan luka menganga. Rapuh adalah pikiran dan kehidupan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata, yang di garis depan merasakan kesia-siaan dari apa yang diminta dari mereka dan kebohongan yang memenuhi pidato-pidato sombong dari orang-orang yang mengirim mereka menuju kematian.

 

Ketika kerapuhan sesama menembus hati kita, ketika penderitaan mereka menghancurkan kepastian kita yang kaku, maka damai sejahtera telah dimulai. Damai sejahtera Allah lahir dari tangisan bayi yang baru lahir yang disambut, dari tangisan yang didengar. Ia lahir di tengah reruntuhan yang menyerukan bentuk-bentuk solidaritas baru. Ia lahir dari mimpi dan visi yang, seperti nubuat, membalikkan jalannya sejarah. Ya, semua ini ada, karena Yesus adalah Logos, Makna, dari mana segala sesuatu telah terbentuk. “Segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala sesuatu yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Misteri ini berbicara kepada kita dari panggung kelahiran Yesus yang telah kita dirikan; ia membuka mata kita kepada sebuah dunia di mana Sabda masih bergema, “beruang kali dan dengan berbagai cara” (bdk. Ibr 1:1), dan masih memanggil kita untuk bertobat.

 

Tentu saja, Injil tidak menyembunyikan perlawanan kegelapan terhadap terang. Injil menggambarkan jalan Sabda Allah sebagai jalan yang terjal, penuh rintangan. Hingga hari ini, para pembawa pesan damai sejahtera yang sejati mengikuti Sabda di sepanjang jalan ini, yang pada akhirnya menjangkau hati — hati yang gelisah yang sering kali menginginkan hal yang justru bertentangan. Dengan cara ini, Natal memberikan dorongan baru kepada Gereja misioner, mendorongnya ke jalan yang telah digariskan oleh Sabda Allah baginya. Kita tidak melayani Sabda yang mendominasi — terlalu banyak Sabda seperti itu yang sudah bergema di mana-mana — melainkan kehadiran yang menginspirasi kebaikan, mengetahui kemanjurannya, dan tidak mengklaim monopoli atasnya.

 

Inilah jalan misi: jalan menuju sesama. Dalam Allah, setiap kata adalah kata yang ditujukan; undangan untuk percakapan, kata yang tidak pernah tertutup pada dirinya sendiri. Inilah pembaharuan yang dipromosikan oleh Konsili Vatikan II, yang hanya akan berbuah jika kita berjalan bersama dengan segenap umat manusia, tanpa pernah memisahkan diri darinya. Kebalikannya adalah keduniawian: menempatkan diri sendiri di pusat. Gerakan Inkarnasi adalah dinamika percakapan. Akan ada damai sejahtera ketika monolog kita terputus dan, diperkaya oleh pendengaran, kita berlutut di hadapan kemanusiaan sesama kita. Dalam hal ini, Perawan Maria adalah Bunda Gereja, Bintang Evangelisasi, Ratu Perdamaian. Di dalam dirinya, kita memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang lahir dari unjuk kekuatan, dan segala sesuatu dilahirkan kembali dari kekuatan diam dari kehidupan yang diterima.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA MALAM NATAL 24 Desember 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama ribuan tahun, di seluruh bumi, berbagai bangsa telah menatap ke langit, memberi nama bintang-bintang yang senyap, dan melihat berbagai gambar di dalamnya. Dalam kerinduan imajinatif, mereka mencoba membaca masa depan di langit, mencari kebenaran di tempat tinggi yang tidak ditemukan di bawah perumahan mereka. Namun, seolah-olah meraba-raba dalam kegelapan, mereka tetap tersesat, bingung oleh ramalan mereka sendiri. Namun pada malam ini, “bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang tinggal di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes 9:2).

 

Lihatlah bintang yang memukau dunia, percikan api baru menyala dan berkobar dengan kehidupan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Ke dalam ruang dan waktu – di tengah-tengah kita – datanglah Juruselamat yang tanpa Dia kita tidak akan ada. Ia yang memberikan nyawa-Nya bagi kita tinggal di antara kita, menerangi malam dengan terang keselamatan-Nya. Tidak ada kegelapan yang tidak diterangi oleh bintang ini, karena dengan cahayanya segenap umat manusia melihat fajar kehidupan baru dan kekal.

 

Itulah kelahiran Yesus, Imanuel. Dalam Putra yang menjadi manusia, Allah memberikan segenap diri-Nya bagi kita, guna “membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri” (Tit 2:14). Yesus yang membebaskan kita dari kegelapan lahir di malam hari. Tanda fajar menyingsing tidak lagi dicari di tempat yang jauh di alam semesta, tetapi dengan membungkuk, di kandang terdekat.

 

“Seorang bayi yang dibedung dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12) sungguh merupakan tanda jelas yang diberikan kepada dunia yang gelap. Untuk menemukan Juruselamat, kita hendaknya tidak menatap ke atas, tetapi melihat ke bawah: kemahakuasaan Allah bersinar dalam ketidakberdayaan seorang bayi yang baru lahir; kefasihan berbicara Sabda yang kekal bergema dalam tangisan pertama seorang bayi; kekudusan Roh bersinar dalam tubuh kecil tersebut, yang baru saja dimandikan dan dibedung. Kebutuhan akan perhatian dan kehangatan menjadi sesuatu yang ilahi karena Putra Bapa ambil bagian dalam sejarah bersama seluruh saudara dan saudari-Nya. Cahaya ilahi yang terpancar dari Bayi ini membantu kita mengenali kemanusiaan dalam setiap kehidupan baru.

 

Untuk menyembuhkan kebutaan kita, Tuhan memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam setiap manusia, yang mencerminkan citra-Nya yang sejati, sesuai dengan rencana kasih yang dimulai sejak penciptaan dunia. Selama kegelapan kesalahan mengaburkan kebenaran ilahi ini, “sesama, anak-anak, orang miskin, orang asing tidak mendapat tempat” (Benediktus XVI, Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2012). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini tetap menjadi pengingat yang tepat waktu bahwa di bumi, Tuhan tidak mendapat tempat selama pribadi manusia tidak mendapat tempat. Menolak yang satu berarti menolak yang lain. Namun, di mana manusia mendapat tempat, di situ Allah mendapat tempat; bahkan kandang pun dapat menjadi lebih sakral daripada bait suci, dan rahim Perawan Maria menjadi Tabut Perjanjian Baru.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita takjub akan kebijaksanaan Natal. Dalam Kanak Yesus, Allah memberi dunia kehidupan baru: kehidupan-Nya sendiri, yang dipersembahkan untuk semua orang. Ia tidak memberi kita solusi cerdas untuk setiap masalah, tetapi sebuah kisah cinta yang menarik kita. Ia mengutus seorang Anak untuk menjadi kata pengharapan guna menanggapi pengharapan manusiawi. Ia mengutus seorang Anak yang tak berdaya untuk menjadi kekuatan untuk bangkit kembali di tengah penderitaan orang miskin. Ia menyalakan cahaya lembut yang menerangi dengan keselamatan seluruh anak di dunia ini di hadapan kekerasan dan penindasan. Santo Agustinus menelaah dengan mengatakan, “kesombongan manusia telah sangat membebanimu sehingga hanya kerendahan hati ilahi yang dapat membangkitkanmu kembali” (Santo Agustinus, Khotbah 188, III, 3). Sementara ekonomi yang menyimpang membuat kita memperlakukan manusia sebagai barang dagangan semata, Allah menjadi seperti kita, mengungkapkan martabat tak terbatas setiap orang. Sementara umat manusia berusaha menjadi “allah” untuk menguasai orang lain, Allah memilih untuk menjadi manusia guna membebaskan kita dari segala bentuk perbudakan. Akankah cinta ini cukup untuk mengubah sejarah kita?

 

Jawabannya akan datang segera setelah kita terbangun dari malam yang mematikan menuju terang kehidupan baru, dan, seperti para gembala, merenungkan Kanak Yesus. Di atas kandang Betlehem, tempat Maria dan Yusuf menjaga Anak yang baru lahir dengan hati yang penuh ketakjuban, langit berbintang berubah rupa menjadi “sejumlah besar bala tentara surga” (Luk 2:13). Bala tentara yang tak bersenjata dan melucuti senjata, karena mereka menyanyikan kemuliaan Allah, di mana damai sejahtera di bumi merupakan perwujudan sejatinya (bdk. ayat 14). Sesungguhnya, di dalam hati Kristus berdenyut ikatan kasih yang menyatukan surga dan bumi, Pencipta dan ciptaan.

 

Karena alasan ini, tepat satu tahun yang lalu, Paus Fransiskus menegaskan bahwa kelahiran Yesus menghidupkan kembali dalam diri kita “karunia dan tugas untuk membawa pengharapan ke tempat-tempat di mana pengharapan telah hilang,” karena “bersama Dia, sukacita berkembang; bersama Dia, hidup berubah; bersama Dia, pengharapan tidak mengecewakan” (Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2024). Dengan kata-kata ini, Tahun Suci dimulai. Kini, saat Yubileum mendekati akhir, Natal menjadi waktu bagi kita untuk bersyukur dan menjalankan perutusan; bersyukur atas karunia yang diterima, dan perutusan untuk memberikan kesaksian tentangnya di hadapan dunia. Pemazmur menyanyikan bagi Tuhan, “Kabarkanlah karya keselamatan-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” (Mzm 96:2-3).

 

Saudara-saudari, permenungan akan Sabda yang menjadi daging membangkitkan dalam seluruh Gereja suatu pemberitaan baru dan benar. Karena itu, marilah kita mewartakan sukacita Natal, yang merupakan perayaan iman, amal kasih, dan pengharapan. Perayaan iman karena Allah menjadi manusia, lahir dari Perawan. Perayaan amal kasih karena karunia Putra yang sedang menebus diwujudkan dalam pengorbanan diri persaudaraan. Perayaan pengharapan karena Kanak Yesus menyalakannya di dalam diri kita, menjadikan kita pembawa pesan perdamaian. Dengan kebajikan-kebajikan ini di dalam hati kita, tanpa takut akan malam, kita dapat melangkah maju untuk menyambut fajar hari yang baru.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)