Bacaan
Ekaristi : Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42.
Saudara-saudari
terkasih!
Saya
senang berada di antaramu pada Hari Minggu Prapaskah III ini. Hari Minggu
Prapaskah III adalah langkah penting dalam mengikuti Yesus, menuju Paskah-Nya
yang penuh dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan.
Dalam
perjalanan ini, kedekatan Allah dan kehidupan iman kita sangat terjalin: dengan
memperbarui rahmat baptisan dalam diri kita masing-masing, Allah memanggil kita
untuk bertobat, bahkan ketika Ia menyucikan hati kita dengan kasih-Nya dan
karya amal kasih yang Ia ajak untuk kita lakukan. Dalam hal ini, perjumpaan
Yesus dan perempuan Samaria sangat menyentuh kita. Bacaan Injil hari ini,
sesungguhnya, tidak hanya berbicara kepada kita, tetapi juga tentang kita dan
membantu kita memikirkan kembali hubungan kita dengan Allah.
Rasa
haus perempuan Samaria akan hidup dan kasih adalah rasa haus kita: rasa haus
Gereja dan seluruh umat manusia, yang terluka oleh dosa tetapi bahkan lebih
intim diliputi oleh kerinduan akan Allah. Kita mencari Dia seperti air, bahkan
ketika kita tidak menyadarinya, setiap kali kita mempertanyakan makna
peristiwa, setiap kali kita merasa betapa kita kekurangan kebaikan yang kita
inginkan untuk diri kita dan orang-orang di sekitar kita.
Dalam
pencarian ini, kita berjumpa Yesus. Ia sudah ada di sana, di sumur, tempat
perempuan Samaria itu menemukan-Nya sendirian, di bawah terik matahari siang,
lelah karena perjalanannya. Perempuan itu pergi ke sumur pada jam yang tidak
biasa, mungkin untuk menghindari pandangan penuh prasangka dari
perempuan-perempuan lain. Yesus membaca dalam hatinya alasan pengucilan ini:
pernikahannya yang gagal dan hidupnya saat ini membuatnya tidak layak berada di
antara para anak perempuan, istri, dan ibu di desa itu. Namun, Yesus duduk di
dekat sumur seolah-olah menunggunya. Perjumpaan yang mengejutkan ini adalah
salah satu cara di mana, sebagaimana sering kali diulangi Paus Fransiskus,
Kristus mengungkapkan Allah yang penuh kejutan: perjumpaan yang paling indah,
perjumpaan yang mengubah hidup, di mana pun orang berjumpa Dia dan bagaimana
pun ia menampilkan dirinya di hadapan Tuhan.
Yesus
mengasihi perempuan Samaria itu seperti tidak ada orang lain sebelumnya.
Sementara perempuan itu mencari air setiap hari, Ia ingin memberinya air baru,
air hidup, yang mampu memuaskan setiap rasa haus dan menenangkan setiap
kegelisahan, karena air ini memancar dari hati Allah, kepenuhan yang tak
habis-habisnya dari setiap pengharapan.
Prakarsa
Yesus ini mengawali pencarian akan kebaikan yang melebihi air itu sendiri:
"Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah," kata Tuhan kepada
perempuan itu. Ini bukanlah celaan, melainkan janji: "Aku di sini untuk
memperkenalkanmu kepada Allah, yang memberikan diri-Nya kepadamu." Ya,
tepatnya untukmu, yang tidak mengenal-Nya, yang menganggap dirimu jauh dan
terkutuk. Karunia ini akan mengubahmu: kamu sendiri akan menjadi mata air yang
memancar sampai pada hidup yang kekal. Sebagai ganti rasa haus sebelumnya, yang
dipenuhi kepahitan dan kekeringan rohani, Putra Allah menawarkan karunia hidup
yang diperbarui oleh air yang memancar dari belas kasih Bapa. Segala sesuatu
berubah dalam perjumpaan dengan Tuhan: perempuan yang haus menjadi mata air,
orang yang terbuang menjadi percaya diri. Perempuan yang dipenuhi rasa malu
kini dipenuhi sukacita; ia yang tetap diam di desa menjadi misionaris bagi
seluruh penduduknya.
Ia
tidak pernah membayangkan bahwa ia, yang begitu bingung dan dikalahkan oleh
kehidupan, suatu hari akan mencicipi air segar, karunia Allah yang
sesungguhnya, dan pada gilirannya menjadi karunia bagi sesamanya. Bagaimana ini
bisa terjadi? Melalui perjumpaan dengan Yesus, melalui percakapan dengan-Nya,
sabda Allah yang hidup yang menjadi manusia demi keselamatan kita.
Narasi
Injil dengan cermat menggambarkan perjalanan pertumbuhan perempuan itu, saat ia
secara bertahap mengenali ciri khas jatidiri Yesus: manusia, nabi, Mesias, dan
Juruselamat. Berdiri di samping-Nya dan menikmati kebersamaan dengan-Nya,
perempuan Samaria itu kemudian menjadi sumber kebenaran. Air baru karunia Allah
mulai memancar di hatinya, dan ia segera merasa terdorong untuk berlari kembali
ke desanya, akhirnya bebas dari rasa malu dan bersemangat untuk memperkenalkan
sang Pembebasnya kepada semua orang, Yesuslah yang memungkinkan semua keajaiban
itu. Ia berlari kepada orang yang sebelumnya menghukumnya, bahkan ketika Allah
telah mengampuninya, dan ia memberitakan, menyatakan, dan memberi kesaksian.
Kebutuhan akan air, yang telah mendorongnya ke sumur, kini digantikan oleh
keinginan untuk berbagi kebaruan yang luar biasa yang telah mengubahnya.
Saudara-saudara
terkasih, dengan baptisan, kita semua telah menerima karunia air baru, yang
membersihkan setiap dosa dan memuaskan setiap rasa haus. Seperti perempuan
Samaria, hari ini dalam Masa Prapaskah kita diberi waktu untuk menemukan
kembali karunia sakramen ini, yang, seperti sebuah pintu, memperkenalkan kita
pada iman dan kehidupan kristiani. Sebagai Gembala yang baik dan penuh kasih,
Tuhan menanti kita dan selalu menyertai kita, di mana pun kita berada dan
seperti apa pun kita. Ia dengan penuh belas kasih menyembuhkan luka-luka kita
dan menjadi karunia bagi kita, sehingga kita pada gilirannya dapat menjadi
karunia bagi saudara-saudari kita.
Saya
tahu betul komunitas parokimu hidup di wilayah dengan beragam tantangan.
Termasuk adanya marginalisasi yang mengkhawatirkan, kemiskinan materi dan
moral. Bahkan remaja dan kaum muda berisiko tumbuh dewasa tertipu oleh para
pedagang kematian atau kecewa tentang masa depan. Banyak yang menantikan rumah,
pekerjaan yang menjamin kehidupan yang bermartabat, lingkungan yang aman di
mana mereka dapat berjumpa, bermain, dan merencanakan sesuatu yang indah
bersama-sama.
Seperti
di sumur dalam Bacaan Injil, orang-orang tiba di paroki ini dengan jiwa yang
terluka, martabat mereka ternoda, dan haus akan harapan. Kamu bertugas
menunjukkan kedekatan Yesus, keinginan-Nya untuk menebus keberadaan kita dari
kejahatan yang mengancamnya dengan tawaran untuk kehidupan yang adil, benar,
dan memuaskan. Dimulai dari Ekaristi, jantung setiap komunitas kristiani, saya
mendorongmu untuk memastikan bahwa kegiatan paroki merupakan tanda Gereja yang
— seperti seorang ibu — peduli terhadap anak-anaknya, tanpa menghukum mereka,
tetapi lebih menyambut, mendengarkan, dan mendukung mereka dalam menghadapi
bahaya. Semoga sabda Injil, yang memancar dalam diri kita sebagai sumber
kebenaran, membantu kita masing-masing untuk membuka mata, agar mampu dengan
bijaksana menilai apa yang baik dan apa yang jahat, sehingga membentuk hati
nurani yang bebas dan dewasa.
Saudara-saudari
terkasih, majulah dengan penuh keyakinan! Dalam setiap situasi, Allah menyertai
dan mendukung kita di sepanjang jalan. Semoga Bunda Maria selalu menyertai
langkah-langkah imanmu, dan menganugerahkan kepadamu sukacita menjadi pewarta
Injil-Nya yang rendah hati dan berani.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 8 Maret 2026)





Print this page