Bacaan
Ekaristi : 1Yoh 4:7-10; Mzm 72:2.3-4ab.7-8; Mrk 6:34-44.
Saudara-saudara
yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari
Allah” (1Yoh 4:7). Liturgi menghadirkan nasihat ini di hadapan kita saat kita
merayakan konsistori luar biasa, suatu momen rahmat di mana persatuan kita
dalam pelayanan Gereja menemukan ungkapannya.
Sebagaimana
kita ketahui, kata "konsistori" (consistorium,
atau “sidang”) dapat dipahami melalui akar kata kerja consistere, yang berarti
“berhenti sejenak.” Memang, kita semua telah “berhenti sejenak” untuk berada di
sini. Kita telah mengesampingkan kegiatan kita untuk sementara waktu, dan
bahkan membatalkan komitmen penting, agar dapat bersama-sama memahami apa yang
diminta Tuhan dari kita demi kebaikan umat-Nya. Hal ini dengan sendirinya sudah
merupakan tindakan yang sangat penting dan profetik, terutama dalam konteks
masyarakat yang hiruk pikuk tempat kita hidup. Konsistori mengingatkan kita
akan pentingnya, dalam setiap aspek kehidupan, berhenti sejenak untuk berdoa,
mendengarkan, dan melakukan refleksi. Dengan berbuat demikian, kita memfokuskan
kembali perhatian kita dengan lebih jelas pada tujuan kita, mengarahkan setiap
upaya dan sumber daya pada tujuan, agar kita tidak berisiko berlari tanpa
tujuan atau “memukul angin” dengan sia-sia, sebagaimana diperingatkan Rasul
Paulus (bdk. 1Kor 9:26). Kita berkumpul bukan untuk mempromosikan “agenda”
pribadi atau kelompok, tetapi untuk mempercayakan rencana dan inspirasi kita
kepada kebijaksanaan yang melampaui diri kita – “seperti tingginya langit dari
bumi” (Yes 55:9) – dan berasal dari Tuhan semata.
Oleh
karena itu, selama Ekaristi ini kita meletakkan setiap pengharapan dan gagasan
kita di atas altar merupakan sesuatu yang penting. Bersama-sama pemberian hidup
kita, kita mempersembahkannya kepada Bapa dalam persatuan dengan kurban
Kristus, sehingga kita dapat menerimanya kembali dalam keadaan yang dimurnikan,
tercerahkan, dipersatukan, dan diubah rupa oleh rahmat menjadi satu Roti.
Sesungguhnya, hanya dengan cara inilah kita akan benar-benar tahu bagaimana
mendengarkan suara-Nya, dan menyambutnya melalui pemberian kita kepada satu
sama lain – yang merupakan alasan utama kita berkumpul.
Dewan
Kardinal kita, meskipun kaya akan banyak keterampilan dan karunia yang luar
biasa, tidak terutama dipanggil untuk menjadi sekadar kelompok pakar, tetapi
komunitas iman. Hanya ketika karunia yang dibawa setiap orang dipersembahkan
kepada Tuhan dan dikembalikan oleh-Nya, barulah karunia itu akan menghasilkan
buah terbesar sesuai dengan rencana-Nya.
Lebih
jauh lagi, kasih Allah, kasih kita sebagai murid dan rasul, adalah kasih yang
“bersifat tritunggal” dan “relasional”. Itulah sumber spiritualitas
persekutuan, yang dengannya mempelai Kristus hidup serta ingin menjadi rumah
dan sekolah (bdk. Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 6 Januari 2001, 43).
Menyatakan pengharapan bahwa spiritualitas ini akan berkembang pada awal
milenium ketiga, Santo Yohanes Paulus II menggambarkannya sebagai “kontemplasi
hati akan misteri Tritunggal yang berdiam di dalam diri kita, dan yang
cahayanya juga harus dapat kita lihat bersinar di wajah saudara-saudari di
sekitar kita” (idem).
“Berhenti
sejenak” kita, pertama dan terutama, adalah tindakan kasih yang mendalam kepada
Allah, Gereja, dan orang-orang di seluruh dunia. Melalui hal ini, kita
membiarkan diri kita dibentuk oleh Roh: selain terutama dalam doa dan
keheningan, juga dengan saling berhadapan dan mendengarkan. Dalam kebersamaan
kita, kita menjadi suara bagi semua orang yang telah dipercayakan Tuhan kepada
pelayanan pastoral kita di berbagai belahan dunia. Kita harus menjalani
tindakan ini dengan rendah hati dan murah hati, menyadari bahwa kita berada di
sini karena rahmat. Selain itu, kita tidak membawa apa pun yang belum kita
terima terlebih dahulu sebagai karunia atau talenta, yang tidak boleh disia-siakan,
tetapi harus diinvestasikan dengan bijaksana dan teguh hati (bdk. Mat 25:14-30).
Santo
Leo Agung mengajarkan bahwa “seluruh umat Kristus bersama-sama mengerjakan
tugas yang sama, dan semua tingkatan dan golongan … bekerja sama dengan satu
Roh yang sama merupakan sesuatu yang agung dan sangat berharga di mata Tuhan.”
Dengan cara ini, “orang yang lapar diberi makan, orang yang telanjang diberi
pakaian, orang sakit dikunjungi, dan tidak seorang pun mencari kepentingannya
sendiri, melainkan kepentingan sesamanya” (Khotbah 88, 4). Inilah semangat yang
ingin kita terapkan dalam bekerja bersama: semangat mereka yang menginginkan
agar setiap anggota Tubuh Mistik Kristus bekerja sama secara tertib demi
kebaikan semua orang (bdk. Ef 4:11–13). Semoga kita sepenuhnya melaksanakan
pelayanan kita dengan bermartabat di bawah bimbingan Roh Kudus, dengan senang
hati mempersembahkan pekerjaan kita dan melihat hasilnya yang terbaik. Semoga
kita juga menerima pekerjaan sesama kita dan bersukacita melihatnya berkembang
(bdk. Santo Leo Agung, Khotbah 88, 5).
Selama
dua milenium, Gereja telah mewujudkan misteri ini dalam keindahannya yang
beraneka ragam (bdk. Fransiskus, Ensiklik Fratelli Tutti, 280). Sidang ini
sendiri menjadi saksi akan hal itu melalui keanekaragaman asal usul dan zaman
kita, dan dalam kesatuan rahmat dan iman yang menyatukan kita dan menjadikan
kita bersaudara.
Tentu
saja, kita berdiri di hadapan "sejumlah besar" umat manusia yang haus
akan kebaikan dan perdamaian. Di dunia di mana kepuasan dan kelaparan,
kelimpahan dan penderitaan, dan perjuangan untuk bertahan hidup bersama dengan
kekosongan keberadaan yang putus asa terus memecah belah dan melukai individu,
komunitas, dan bangsa, kita mungkin merasa tidak mampu. Dihadapkan dengan
kata-kata Sang Guru, "Kamu harus memberi mereka makan" (Mrk 6:37),
kita pun mungkin merasa, seperti para murid, kekurangan sarana yang diperlukan.
Namun Yesus mengulangi kepada kita sekali lagi, "Berapa banyak roti yang
ada padamu? Cobalah periksa" (Mrk 6:38). Inilah yang dapat kita lakukan
bersama. Kita mungkin tidak selalu menemukan solusi langsung untuk masalah yang
kita hadapi, namun di setiap tempat dan keadaan, kita akan dapat saling
membantu – dan khususnya, membantu Paus – untuk menemukan "lima roti dan
dua ikan" yang selalu disediakan oleh takdir di mana pun anak-anak-Nya
meminta pertolongan. Ketika kita menerima karunia-karunia ini, menyerahkannya,
menerima dan membagikannya, karunia-karunia itu diperkaya oleh berkat Allah
serta iman dan kasih akan semua orang, sehingga tak seorang pun kekurangan apa
yang dibutuhkan (bdk. Mrk 6:42).
Saudara-saudara
terkasih, apa yang kamu persembahkan kepada Gereja melalui pelayananmu, di
setiap tingkatan, adalah sesuatu yang mendalam dan sangat pribadi, unik bagi
kamu masing-masing dan berharga bagi semua orang. Tanggung jawab yang kamu
emban bersama Penerus Petrus memang berat dan menuntut.
Karena
alasan ini, saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepadamu, dan saya ingin
mengakhiri dengan mempercayakan karya dan perutusan kita kepada Tuhan dengan
kata-kata Santo Agustinus: “Engkau memberi kami banyak hal ketika kami berdoa,
dan segala kebaikan yang kami terima sebelum kami berdoa untuk itu, telah kami
terima dari Engkau. Kami juga telah menerima dari Engkau rahmat yang kemudian
kami sadari... Ingatlah, Tuhan, ‘bahwa kami hanyalah debu.’ Engkau telah
menjadikan manusia dari debu” (Pengakuan-pengakuan, 10, xxxi, 45). Karena itu,
kami berkata kepada-Mu: “Berikanlah apa yang Engkau perintahkan, dan
perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki” (idem).
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 8 Januari 2026)





Print this page