Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XX DI TEMPAT KUDUS SANTA MARIA DELLA ROTONDA (ALBANO) 17 Agustus 2025

Bacaan Liturgi : Yer. 38:4-6,8-10; Mzm. 39:2-4.18; Ibr. 12:1-4; Luk. 12:49-53.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sukacita dapat berkumpul bersama merayakan Ekaristi hari Minggu memberi kita sukacita yang lebih mendalam. Sungguh, jika kedekatan hari ini saja sudah merupakan anugerah dan mengatasi jarak dengan saling memandang, sebagai saudara-saudari sejati, anugerah yang lebih besar adalah penaklukkan maut di dalam Tuhan. Yesus telah menaklukkan maut — Hari Minggu adalah hari-Nya, hari Kebangkitan — dan kita sudah mulai menaklukkannya bersama-Nya. Beginilah adanya: kita masing-masing datang ke gereja dengan sedikit rasa lelah dan takut — terkadang kecil, terkadang besar — dan seketika kita tidak lagi sendirian, kita bersama dan kita menemukan sabda dan tubuh Kristus. Dengan demikian, hati kita menerima kehidupan yang melampaui maut. Roh Kudus, Roh Yesus yang Bangkit, yang melakukan hal ini di antara kita dan di dalam diri kita, secara diam-diam, hari Minggu demi hari Minggu, hari demi hari.

 

Kita menemukan diri kita di sebuah tempat suci kuno yang dindingnya merangkul kita. Tempat itu disebut "Rotonda", dan bentuknya yang melingkar, seperti Lapangan Santo Petrus dan gereja-gereja lain, baik yang lama maupun yang baru, membuat kita merasa disambut dalam pangkuan Tuhan. Dari luar, Gereja, seperti setiap realitas manusia, mungkin tampak kasar. Namun, realitas ilahinya terungkap ketika kita melewati ambang pintunya dan menemukan penerimaan. Maka kemiskinan kita, kerentanan kita, dan terutama, kegagalan yang karenanya kita mungkin dihina dan dihakimi — dan terkadang kita membenci dan menghakimi diri kita sendiri — akhirnya disambut dalam kekuatan Tuhan yang lembut, kasih tanpa batas, kasih tanpa syarat. Maria, ibu Yesus, bagi kita adalah tanda dan antisipasi akan keibuan Tuhan. Di dalam dirinya, kita menjadi Gereja induk, yang melahirkan dan meregenerasi bukan berdasarkan kekuatan duniawi, melainkan dengan kebajikan kasih.

 

Barangkali apa yang dikatakan Yesus dalam Bacaan Injil yang baru saja kita baca mengejutkan kita. Kita mencari kedamaian, tetapi kita telah mendengar: "Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan damai, kata-Ku kepadamu, melainkan pertentangan" (Luk. 12:51). Dan kita hampir menjawab: "Tetapi bagaimana mungkin, Tuhan? Engkau juga? Kita sudah terlalu banyak mengalami pertentangan. Bukankah Engkau yang berkata pada Perjamuan Terakhir: 'Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu'?" "Ya," jawab Tuhan, "Akulah ini." Namun, ingatlah bahwa pada malam itu, malam terakhir-Ku, Aku langsung menambahkan tentang damai sejahtera: "Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi. Janganlah gelisah dan gentar hatimu" (bdk. Yoh. 14:27).

 

Sahabat-sahabat terkasih, dunia membiasakan kita menukar kedamaian dengan kenyamanan, kebaikan dengan ketenangan. Oleh karena itu, agar damai-Nya, shalom Allah, dapat hadir di antara kita, Yesus harus berkata, "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku menginginkan api itu telah menyala!" (Luk. 12:49). Mungkin keluarga kita, sebagaimana dinubuatkan Injil, dan bahkan sahabat-sahabat kita, akan terbagi pendapatnya mengenai hal ini. Dan beberapa orang akan menasihati kita untuk tidak mengambil risiko, melindungi diri kita, karena penting untuk tetap tenang dan orang lain tidak pantas untuk dikasihi. Namun, Yesus dengan berani membenamkan diri-Nya dalam kemanusiaan kita. Inilah "baptisan" yang Ia bicarakan (ayat 50): baptisan salib, pembenaman total dalam risiko yang ditimbulkan oleh kasih. Dan ketika kita, seperti kata mereka, "mengambil komuni," kita dipupuk oleh karunia-Nya yang berani ini. Misa memelihara keputusan ini. Itulah keputusan untuk tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, untuk membawa api ke dunia. Bukan api senjata, bahkan bukan kata-kata yang membakar orang lain. Bukan, bukan itu. Melainkan api kasih, yang merendahkan diri dan melayani, yang melawan ketidakpedulian dengan kepedulian dan kesombongan dengan kelembutan; api kebaikan, yang tidak semahal persenjataan, melainkan memperbarui dunia dengan cuma-cuma. Mungkin saja ia harus menanggung kesalahpahaman, cemoohan, bahkan penganiayaan, tetapi tak ada kedamaian yang lebih besar daripada memiliki api di dalam dirinya sendiri.

 

Oleh karena itu, hari ini saya ingin mengucapkan terima kasih, bersama Uskupmu, Vincenzo, kepada kamu semua yang di Keuskupan Albano berkomitmen untuk membawa api kasih. Dan saya mendorongmu untuk tidak membeda-bedakan di antara mereka yang membantu dan mereka yang dibantu, antara mereka yang tampak memberi dan mereka yang tampak menerima, antara mereka yang tampak miskin dan mereka yang merasa menyumbangkan waktu, keterampilan, dan bantuan. Kita adalah Gereja Tuhan, Gereja kaum miskin, semua berharga, semua subjek, masing-masing pembawa Sabda Allah yang unik. Masing-masing adalah anugerah bagi sesama. Marilah kita meruntuhkan tembok pemisah. Saya berterima kasih kepada mereka yang bekerja di setiap komunitas kristiani untuk memfasilitasi perjumpaan antara orang-orang dari berbagai latar belakang, situasi ekonomi, psikologis, dan emosional: hanya bersama-sama, hanya dengan menjadi satu Tubuh di mana bahkan yang paling rapuh pun berpartisipasi dengan penuh martabat, kitalah Tubuh Kristus, Gereja Allah. Hal ini terjadi ketika api yang dibawa Yesus yang datang membakar habis prasangka, kehati-hatian, dan ketakutan yang masih meminggirkan mereka yang menanggung kemiskinan Kristus yang tertulis dalam sejarah mereka. Janganlah kita mengecualikan Tuhan dari gereja-gereja kita, rumah-rumah kita, dan kehidupan kita. Sebaliknya, marilah kita membiarkan-Nya masuk ke dalam diri orang-orang miskin, dan dengan demikian kita juga akan berdamai dengan kemiskinan kita sendiri, kemiskinan yang kita takuti dan sangkal ketika kita mencari ketenangan dan rasa aman dengan segala cara.

 

Semoga Perawan Maria, yang mendengar Simeon, penatua suci, mengacu Putranya, Yesus, sebagai "tanda perbantahan" (Lukas 2:34), berdoa bagi kita. Semoga pikiran hati kita terungkap, dan semoga api Roh Kudus mengubahnya dari hati batu menjadi hati yang taat.

 

Santa Maria dari Rotonda, doakanlah kami!

_______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Agustus 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA DI PAROKI SANTO THOMAS DARI VILLANOVA (CASTEL GANDOLFO) 15 Agustus 2025

Bacaan Liturgi : Why. 11:19a;12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10c-12,16; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini bukan hari Minggu, namun kita merayakan secara lain misteri Paskah Yesus, yang mengubah jalannya sejarah. Dalam diri Maria dari Nazaret, kita mengenali sejarah kita: sejarah Gereja, yang terbenam dalam nasib bersama umat manusia. Dengan mengambil rupa daging dalam diri Maria, Allah kehidupan — Allah kebebasan — telah menaklukkan maut. Ya, hari ini kita merenungkan bagaimana Allah mengalahkan maut — namun tak pernah tanpa kita. Ia meraja, tetapi "ya" kita terhadap kasih-Nya dapat mengubah segalanya. Di kayu salib, Yesus dengan bebas mengucapkan "ya" yang akan melucuti kuasa maut — maut yang masih menjalar di mana pun tangan kita tersalib dan hati kita tetap terpenjara oleh rasa takut dan ketidakpercayaan. Di kayu salib, kepercayaan menang; demikian pula kasih, yang melihat apa yang akan datang; dan pengampunan menang.

 

Maria hadir di sana, bersatu dengan Putranya. Di zaman kita, kita seperti Maria setiap kali kita tidak melarikan diri, setiap kali kita menjadikan "ya" Yesus sebagai "ya" kita. "Ya" itu masih hidup dan menolak maut dalam diri para martir zaman kita, dalam kesaksian iman dan keadilan, kelembutan dan perdamaian. Maka, hari sukacita ini juga menjadi hari yang memanggil kita untuk memilih – bagaimana dan untuk siapa kita akan hidup.

 

Perayaan liturgi Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga menawarkan kita Bacaan Injil tentang kunjungan Maria. Santo Lukas mencatat dalam bacaan ini sebuah momen yang menentukan dalam panggilan Maria. Sungguh indah mengenang hari itu, saat kita merayakan momen puncak kehidupannya. Setiap kisah manusia, bahkan kisah Bunda Allah, singkat di bumi ini dan akan berakhir. Namun tidak ada yang hilang. Ketika sebuah kehidupan berakhir, keunikannya bahkan bersinar lebih jelas. Magnificat, yang dalam Bacaan Injil ditempatkan di bibir Maria yang masih belia, sekarang memancarkan terang seluruh harinya. Satu hari saja — hari ia bertemu sepupunya Elisabet — mengandung benih dari setiap hari lainnya, dari setiap musim lainnya. Dan kata-kata saja tidak cukup; sebuah kidung dibutuhkan, kidung yang terus dinyanyikan dalam Gereja “turun-temurun” (Luk 1:50), di setiap penghujung hari. Kesuburan yang mengejutkan dari Elisabet yang mandul meneguhkan kepercayaan Maria; mengantisipasi kesuburan jawaban "ya"-nya, yang juga mencakup kesuburan Gereja dan seluruh umat manusia setiap kali Sabda Allah yang memperbarui disambut. Hari itu, dua perempuan bertemu dalam iman, lalu tinggal bersama selama tiga bulan untuk saling mendukung, bukan hanya dalam hal-hal praktis tetapi juga cara baru dalam membaca sejarah.

 

Maka, saudara-saudari terkasih, kebangkitan memasuki dunia kita bahkan hingga hari ini. Kata-kata dan pilihan kematian mungkin tampak menang, tetapi kehidupan Allah menerobos keputusasaan kita melalui pengalaman nyata persaudaraan dan gestur solidaritas yang baru. Sebelum menjadi takdir akhir kita, kebangkitan mengubah rupa — dalam jiwa dan raga — tempat tinggal kita di bumi. Kidung Maria, Magnificat, menguatkan pengharapan orang-orang yang rendah hati, lapar, dan hamba-hamba Allah yang setia. Mereka adalah para pria dan wanita Sabda Bahagia yang, bahkan dalam kesengsaraan, sudah melihat yang tak terlihat: orang-orang berkuasa diturunkan dari takhta mereka, orang-orang kaya diusir dengan tangan hampa, janji-janji Allah digenapi. Pengalaman-pengalaman semacam itu seharusnya ditemukan dalam setiap komunitas kristiani. Pengalaman-pengalaman itu mungkin tampak mustahil, tetapi Sabda Allah terus dinyatakan. Ketika ikatan lahir, yang dengannya kita menghadapi kejahatan dengan kebaikan dan kematian dengan kehidupan, kita melihat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (bdk. Luk 1:37).

 

Terkadang, sayangnya, ketika kecukupan diri manusia merajalela, ketika kenyamanan materi dan rasa puas diri menumpulkan hati nurani, iman ini dapat menjadi usang. Kemudian kematian datang dalam bentuk kepasrahan dan keluhan, nostalgia dan ketakutan. Alih-alih membiarkan dunia lama berlalu, kita masih berpegang teguh padanya, mencari pertolongan orang kaya dan berkuasa, yang seringkali disertai dengan penghinaan terhadap orang miskin dan kecil. Namun, Gereja hidup dalam anggota-anggotanya yang rapuh, dan diperbarui oleh Magnificat mereka. Bahkan di zaman kita, komunitas-komunitas kristiani yang miskin dan teraniaya, para saksi kelembutan dan pengampunan di tempat-tempat pertikaian, dan para pembawa damai serta pembangun jembatan di dunia yang hancur, adalah sukacita Gereja. Mereka adalah kesuburannya yang abadi, buah-buah sulung Kerajaan yang akan datang. Banyak dari mereka adalah perempuan, seperti Elisabet yang lanjut usia dan Maria yang masih belia — perempuan-perempuan Paskah, para rasul kebangkitan. Marilah kita ditobatkan oleh kesaksian mereka!

 

Saudara-saudari, ketika dalam kehidupan ini kita “memilih kehidupan” (Ul 30:19), kita sungguh melihat dalam diri Maria, yang diangkat ke surga, takdir kita. Ia diberikan kepada kita sebagai tanda bahwa kebangkitan Yesus bukan peristiwa yang terasing, bukan sekadar pengecualian. Di dalam Kristus, kita juga dapat “menelan maut” (bdk. 1 Kor 15:54). Memang, itu adalah karya Allah, bukan karya kita. Namun Maria adalah persatuan rahmat dan kebebasan yang menakjubkan, yang mendorong kita masing-masing untuk memiliki kepercayaan, keberanian, dan partisipasi dalam kehidupan umat Allah. “Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:49): semoga kita masing-masing mengetahui sukacita ini dan mewartakannya dengan nyanyian baru. Janganlah kita takut memilih kehidupan! Mungkin tampak berisiko dan ceroboh. Banyak suara berbisik: “Untuk apa repot-repot? Lupakan saja. Pikirkan kepentinganmu sendiri.” Ini adalah suara-suara maut. Tetapi kita adalah murid-murid Kristus. Kasih-Nyalah yang menggerakkan kita — jiwa dan raga — di zaman kita. Sebagai individu dan Gereja, kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri. Inilah — dan hanya inilah — yang menyebarkan kehidupan dan memungkinkan kehidupan berjaya. Kemenangan kita atas maut dimulai di sini dan saat ini.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XVIII (MISA YUBILEUM ORANG MUDA) 3 Agustus 2025

Bacaan Ekaristi : Pkh. 1:2; 2:21-23; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol. 3:1-5.9-11; Luk. 12:13-21.

 

Orang muda terkasih,

 

Setelah Doa Vigili tadi malam, kita berkumpul kembali hari ini untuk merayakan Ekaristi, sakramen pemberian diri Tuhan sepenuhnya bagi kita. Hari ini kita dapat membayangkan diri kita menelusuri kembali perjalanan yang dilakukan para murid pada malam Paskah di jalan menuju Emaus (bdk. Luk 24:13-35): mereka berangkat dari Yerusalem dengan ketakutan dan kekecewaan, yakin bahwa, setelah kematian Yesus, tidak ada lagi yang bisa diharapkan, tidak ada tempat untuk menaruh pengharapan mereka. Namun mereka kemudian menemukan-Nya di sepanjang jalan, menyambut-Nya sebagai teman seperjalanan, mendengarkan-Nya ketika Ia menjelaskan Kitab Suci, dan kemudian mengenali-Nya saat Ia memecah-mecahkan roti. Mata mereka terbuka, dan kabar penuh sukacita Paskah mendapat tempat di hati mereka.

 

Liturgi hari ini tidak secara langsung menyebut peristiwa ini, tetapi mengajak kita untuk merenungkan apa yang diceritakannya: perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, yang mengubah rupa hidup kita dan menerangi kasih sayang, keinginan, dan pikiran kita.

 

Bacaan Pertama, yang diambil dari Kitab Pengkhotbah, mengajak kita, seperti kedua murid itu, untuk berdamai dengan pengalaman keterbatasan kita dan sifat fana dari segala sesuatu yang sekejab (bdk. Pkh. 1:2; 2:21-23). Senada dengan itu, Mazmur Tanggapan menyajikan kepada kita gambaran tentang "rumput yang akan binasa, di waktu pagi bersemi dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu" (Mzm. 90:5-6). Ini adalah dua pengingat kuat yang mungkin sedikit mengejutkan, tetapi seharusnya tidak membuat kita takut seolah-olah keduanya merupakan isu "tabu" yang harus dihindari. Kerapuhan yang dibicarakan keduanya, sesungguhnya, merupakan bagian dari keajaiban ciptaan. Bayangkan gambaran rumput: bukankah lahan bunga yang indah? Tentu saja, ia rapuh, terdiri dari batang-batang kecil yang rapuh, rentan mengering, bengkok, dan patah. Namun, di saat yang sama, bunga-bunga ini segera digantikan oleh bunga-bunga lain yang tumbuh setelahnya, diberi nutrisi dan pupuk berlimpah oleh bunga-bunga pertama saat mereka membusuk di tanah. Beginilah cara lahan ini bertahan: melalui regenerasi yang terus menerus. Bahkan selama bulan-bulan musim dingin yang menusuk tulang, ketika segalanya tampak sunyi, energinya bergejolak di bawah tanah, bersiap untuk mekar menjadi ribuan warna saat musim semi tiba.

 

Kita juga, sahabat-sahabat terkasih, diciptakan seperti ini, kita diciptakan untuk ini. Kita tidak diciptakan untuk kehidupan di mana segala sesuatunya dianggap biasa dan statis, melainkan untuk keberadaan yang terus diperbarui melalui pemberian diri dalam kasih. Inilah sebabnya kita senantiasa mendambakan sesuatu yang "lebih" yang tak dapat diberikan oleh realitas ciptaan mana pun; kita merasakan dahaga yang mendalam dan membara yang tak dapat dipuaskan oleh minuman apa pun di dunia ini. Mengetahui hal ini, janganlah kita menipu hati kita dengan mencoba memuaskannya dengan tiruan murahan! Marilah kita lebih baik mendengarkan mereka! Marilah kita ubah dahaga ini menjadi pijakan, seperti anak-anak yang berjinjit, untuk mengintip melalui jendela perjumpaan dengan Allah. Kita kemudian akan menemukan diri kita di hadapan-Nya, yang sedang menunggu kita, mengetuk lembut jendela jiwa kita (bdk. Why 3:20). Sungguh indah, terutama di usia muda, membuka lebar-lebar hati kita, memperkenankan Dia masuk, dan memulai petualangan ini bersama-Nya menuju kekekalan.

 

Santo Agustinus, merenungkan pencariannya yang mendalam akan Allah, bertanya pada dirinya sendiri: “Lalu, apa objek pengharapan kita [...]? Apakah bumi? Tidak. Apakah sesuatu yang berasal dari bumi, seperti emas, perak, pohon, tanaman, atau air [...]? Hal-hal ini menyenangkan, hal-hal ini indah, hal-hal ini baik” (Sermo 313/F, 3). Dan kesimpulan yang ia capai adalah: “Carilah Dia yang menciptakannya, Dialah pengharapanmu” (idem). Merenungkan perjalanannya sendiri, ia berdoa, katanya: “Engkau [Tuhan] ada di dalam diriku, tetapi aku ada di luar, dan di sanalah aku mencari-Mu […] Engkau memanggil, Engkau berseru, dan Engkau menembus ketulianku. Engkau bersinar, Engkau bersinar dan Engkau menghalau kebutaanku. Engkau menghembuskan keharuman-Mu kepadaku; aku menghirup napas dan sekarang aku merintih merindukan-Mu. Aku telah mengecap Engkau (bdk. Mzm 34:9; 1Ptr 2:3) sekarang aku lapar dan haus akan lebih banyak lagi (bdk. Mat 5:6; 1 Kor 4:11); Engkau menjamahku, dan aku terbakar oleh damai-Mu” (Pengakuan-pengakuan, 10, 27).

 

Saudari-saudari, kata-kata ini indah dan mengingatkan kita pada apa yang disampaikan Paus Fransiskus bagi orang muda sepertimu di Lisbon pada Hari Orang Muda Sedunia: “Kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan besar yang tidak memiliki jawaban sederhana atau langsung, tetapi menantang kita untuk melanjutkan perjalanan, untuk bangkit melampaui diri kita serta melampaui apa yang ada di sini dan saat ini. [...] Kita dipanggil untuk sesuatu yang lebih tinggi, dan kita tidak akan pernah bisa terbang tinggi kecuali kita terbang terlebih dahulu. Maka, kita tidak perlu khawatir jika kita merasakan dahaga batin, kerinduan yang gelisah dan tak terpenuhi akan makna dan masa depan [...] Kita tidak boleh lesu, tetapi tetap hidup!” (Wejangan kepada Mahasiswa, 3 Agustus 2023).

 

Ada pertanyaan yang membara di hati kita, kebutuhan akan kebenaran yang tidak dapat kita abaikan, yang membuat kita bertanya pada diri sendiri: apa itu kebahagiaan sejati? Apa arti hidup yang sebenarnya? Apa yang dapat membebaskan kita dari jerat ketidakbermaknaan, kebosanan, dan biasa-biasa saja?

 

Dalam beberapa hari terakhir, kamu telah mengalami banyak pengalaman yang indah. Kamu telah bertemu dengan orang muda lainnya dari berbagai belahan dunia dan beragam budaya. Kamu telah bertukar pengetahuan, berbagi pengharapan, dan berdialog dengan kota melalui seni, musik, teknologi, dan olahraga. Di Circus Maximus, kamu juga menerima Sakramen Tobat dan menerima pengampunan Allah, memohon pertolongan-Nya untuk menjalani hidup yang baik.

 

Melalui semua ini, kamu dapat memahami sebuah poin penting: kepenuhan keberadaan kita tidak bergantung pada apa yang kita timbun atau, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, pada apa yang kita miliki (bdk. Luk 12:13-21). Sebaliknya, kepenuhan berkaitan dengan apa yang kitaterima dan bagikan dengan sukacita (bdk. Mat 10:8-10; Yoh 6:1-13). Membeli, menimbun, dan mengonsumsi saja tidak cukup. Kita perlu menengadah, memandang ke atas, kepada "hal-hal yang di atas" (Kol 3:2), untuk menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki makna hanya sejauh hal itu berfungsi untuk mempersatukan kita dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita dalam kasih, membantu kita untuk bertumbuh dalam "belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran" (Kol 3:12), pengampunan (bdk. idem, ayat 13) dan damai sejahtera (bdk. Yoh 14:27), semuanya dalam meneladani Kristus (bdk. Flp 2:5). Dan dengan cara ini kita akan bertumbuh dalam pemahaman yang semakin dalam tentang apa artinya pengharapan yang tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita melalui Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (bdk. Rm 5:5).

 

Orang muda terkasih, Yesus adalah pengharapan kita. Dialah, sebagaimana dikatakan Santo Yohanes Paulus II, “yang membangkitkan dalam dirimu hasrat untuk melakukan sesuatu yang besar dengan hidupmu [...] untuk berkomitmen ... memperbaiki diri dan masyarakat, menjadikan dunia semakin manusiawi dan bersaudara.” (Hari Orang Muda Sedunia XV, Doa Vigili, 19 Agustus 2000). Marilah kita tetap bersatu dengan-Nya, marilah kita tetap bersahabat dengan-Nya, senantiasa, memupuknya melalui doa, adorasi, Komuni Ekaristi, Pengakuan Dosa yang sering, dan kasih yang murah hati, mengikuti teladan Beato Piergiorgio Frassati dan Beato Carlo Acutis yang akan segera diangkat menjadi santo. Bercita-citalah untuk hal-hal yang besar, untuk kekudusan, di mana pun kamu berada. Jangan puas dengan yang kurang. Kamu akan melihat terang Injil bertumbuh setiap hari, di dalam dirimu dan di sekitarmu.

 

Saya memercayakan kalian kepada Perawan Maria, Bunda Pengharapan. Dengan pertolongannya, saat kamu kembali ke negaramu masing-masing dalam beberapa hari mendatang, di setiap belahan dunia, teruslah berjalan dengan penuh sukacita mengikuti jejak Sang Juruselamat, serta sebarkanlah antusiasme dan kesaksian imanmu kepada setiap orang yang kamu temui! Semoga perjalanan pulangmu menyenangkan!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Agustus 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XVI DI GEREJA KATEDRAL ALBANO 20 Juli 2025

Bacaan Ekaristi : Kej. 18:1-10a; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Kol. 1:24-28; Luk. 10:38-42.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini saya sangat bahagia berada di sini, di Gereja Katedral yang indah ini, untuk merayakan Ekaristi. Sebagaimana kamu ketahui, saya seharusnya berada di sini pada tanggal 12 Mei, tetapi Roh Kudus bekerja dengan cara yang berbeda. Namun, saya sungguh senang berada bersamamu serta dalam semangat persaudaraan dan sukacita kristiani, saya menyapa kamu semua yang hadir di sini, Yang Mulia, serta para uskup Keuskupan, dan para pemimpin yang hadir.

 

Dalam Misa ini, baik Bacaan Pertama maupun Bacaan Injil mengajak kita untuk merenungkan keramahtamahan, pelayanan, dan mendengarkan (bdk. Kej 18:1-10; Luk 10:38-42).

 

Pertama, Allah mengunjungi Abraham dalam sosok "tiga orang" yang tiba di kemahnya "pada saat hari panas terik" (bdk. Kej 18:1-2). Adegannya mudah dibayangkan: cahaya matahari yang menyengat, keheningan padang gurun, panas terik, dan ketiga orang asing yang mencari perlindungan. Abraham duduk "di pintu kemahnya," posisi tuan rumah, dan sungguh menggugah melihat bagaimana ia menjalankan peran ini. Menyadari kehadiran Allah dalam diri para tamu, ia bangkit, berlari menyongsong mereka, dan bersujud sampai ke tanah memohon agar mereka tetap tinggal. Dengan demikian, seluruh adegan menjadi hidup. Keheningan senja dipenuhi dengan gestur kasih yang tidak hanya melibatkan Sang Bapa Bangsa, tetapi juga istrinya, Sara, dan para hamba. Abraham tidak lagi duduk, tetapi berdiri “di bawah pohon di dekat mereka” (Kej 18:8), dan di sanalah Allah memberinya kabar terbaik yang mungkin ia harapkan: “Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki” (Kej 18:10).

 

Dinamika perjumpaan ini membawa kita untuk merenungkan bagaimana Allah memilih jalan keramahtamahan untuk masuk ke dalam kehidupan Sara dan Abraham serta menyampaikan bahwa mereka akan memiliki seorang anak, yang telah lama mereka dambakan meski mereka telah putus asa. Setelah mengunjungi mereka sebelumnya dalam banyak momen penuh rahmat, Allah kembali mengetuk pintu mereka, memohon keramahtamahan dan kepercayaan. Pasutri yang telah lanjut usia itu menanggapi dengan positif, meskipun belum memahami apa yang akan terjadi. Mereka menyadari berkat dan kehadiran Allah dalam diri para tamu misterius itu, dan menawarkan apa yang mereka miliki: makanan, kebersamaan, pelayanan, dan naungan pohon. Sebagai balasannya, mereka menerima janji kehidupan baru dan keturunan.

 

Meskipun situasinya berbeda, Bacaan Injil juga mengajarkan kita tentang cara Allah bertindak. Di sini pun, Yesus menampakkan diri sebagai tamu di rumah Marta dan Maria. Namun, kali ini, Ia bukanlah orang asing: Ia datang ke rumah sahabat-sahabat-Nya di tengah suasana pesta. Salah satu saudari menyambut-Nya dengan melayani-Nya, sementara yang lain duduk di kaki-Nya, mendengarkan seperti seorang murid mendengarkan gurunya. Sebagaimana kita ketahui, Yesus menanggapi keluhan saudari pertama yang membutuhkan bantuan untuk tugas-tugas yang ada dengan mengajaknya untuk menyadari pentingnya mendengarkan (bdk. Luk 10:41-42).

 

Akan tetapi, tidaklah tepat jika kita menganggap kedua sikap ini saling eksklusif, atau membandingkan jasa kedua perempuan ini. Melayani dan mendengarkan, sesungguhnya, merupakan dimensi kembar dari keramahtamahan.

 

Hubungan kita dengan Allah adalah yang utama. Meskipun benar bahwa kita harus menghidupi iman kita melalui tindakan nyata, dengan setia menjalankan tugas kita sesuai dengan status hidup dan panggilan kita, penting bagi kita untuk melakukannya hanya setelah merenungkan Sabda Allah dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh Kudus dalam hati kita. Untuk tujuan ini, kita hendaknya menyisihkan saat-saat hening, saat-saat doa, saat-saat di mana, dengan meredam kebisingan dan gangguan, kita merenungkan diri kita di hadapan Allah dalam kesederhanaan hati. Inilah dimensi kehidupan kristiani yang khususnya perlu kita pulihkan saat ini, baik sebagai nilai bagi individu maupun komunitas, maupun sebagai tanda kenabian bagi zaman kita. Kita harus menyediakan ruang untuk hening, untuk mendengarkan Bapa yang berbicara dan "melihat yang tersembunyi" (Mat. 6:6). Musim panas dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengalami keindahan dan pentingnya hubungan kita dengan Allah, dan betapa hal itu dapat membantu kita menjadi lebih terbuka, lebih ramah terhadap orang lain.

 

Selama musim panas, kita memiliki lebih banyak waktu luang untuk berpikir dan merenung, serta bepergian dan menghabiskan waktu bersama. Marilah kita manfaatkan waktu ini sebaik-baiknya, dengan meninggalkan hiruk-pikuk komitmen dan kekhawatiran untuk menikmati sejenak kedamaian, refleksi, dan meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat lain serta ambil bagian dalam sukacita bertemu orang lain — seperti yang saya lakukan di sini hari ini. Marilah kita jadikan musim panas sebagai kesempatan untuk peduli terhadap sesama, saling mengenal, dan menawarkan nasihat serta mendengarkan, karena semua itu adalah ungkapan kasih, dan itulah yang kita semua butuhkan. Marilah kita melakukannya dengan berani. Dengan demikian, melalui solidaritas, dalam berbagi iman dan kehidupan, kita akan membantu mempromosikan budaya damai, membantu orang-orang di sekitar kita mengatasi perpecahan dan permusuhan, serta membangun persekutuan antarindividu, bangsa, dan agama.

 

Paus Fransiskus berkata, “Jika kita ingin menikmati hidup dengan sukacita, kita harus mengaitkan dua pendekatan ini: di satu sisi, ‘berada di kaki’ Yesus, untuk mendengarkan-Nya saat Ia menyingkapkan rahasia segala sesuatu kepada kita; di sisi lain, bersikap penuh perhatian dan siap sedia dalam keramahtamahan, ketika Ia lewat dan mengetuk pintu kita, dengan wajah seorang sahabat yang membutuhkan waktu istirahat dan persaudaraan” (Doa Malaikat Tuhan, 21 Juli 2019). Kata-kata ini diucapkan hanya beberapa bulan sebelum pandemi melanda; pengalaman panjang dan sulit itu, yang masih kita ingat, mengajarkan kita banyak hal tentang kebenarannya.

 

Tentu saja semua ini membutuhkan usaha. Melayani dan mendengarkan tidak selalu mudah; keduanya membutuhkan kerja keras dan kemampuan untuk berkorban. Misalnya, dibutuhkan usaha dalam mendengarkan dan melayani agar dapat menjadi ibu dan ayah yang setia dan penuh kasih dalam membesarkan keluarga, demikian juga dibutuhkan usaha bagi anak-anak untuk menanggapi kerja keras orang tua mereka di rumah dan di sekolah. Juga dibutuhkan usaha untuk saling memahami ketika terjadi perselisihan, mengampuni ketika seseorang berbuat salah, menolong ketika seseorang sakit, dan saling menghibur di saat sedih. Namun, justru dengan berusaha, sesuatu yang berharga dapat dibangun dalam hidup; itulah satu-satunya cara untuk membentuk dan memelihara hubungan yang kuat dan tulus antarmanusia. Dengan demikian, dengan fondasi kehidupan sehari-hari, Kerajaan Allah bertumbuh dan menyatakan kehadirannya (bdk. Luk 7:18-22).

 

Santo Agustinus, merenungkan kisah Marta dan Maria dalam salah satu homilinya, berkata: “Kedua perempuan ini melambangkan dua kehidupan: masa kini dan masa depan; kehidupan yang dijalani dengan jerih payah dan kehidupan yang penuh ketenangan; yang satu penuh masalah dan yang lainnya penuh berkat; yang satu sementara, yang lainnya abadi” (Khotbah 104, 4). Dan merenungkan pekerjaan Marta, Agustinus berkata, “Siapakah yang terbebas dari kewajiban merawat sesama? Siapakah yang dapat beristirahat dari tugas-tugas ini? Marilah kita berusaha melaksanakannya dengan kasih dan sedemikian rupa sehingga tak seorang pun akan dapat menemukan kesalahan pada kita... Kelelahan akan berlalu dan ketenangan akan datang, tetapi ketenangan hanya akan datang melalui usaha yang dilakukan. Perahu akan berlayar dan mencapai tanah airnya; tetapi tanah air tidak akan tercapai kecuali melalui perahu” (idem, 6-7).

 

Hari ini, Abraham, Marta, dan Maria mengingatkan kita bahwa mendengarkan dan melayani adalah dua sikap yang saling melengkapi yang memampukan kita untuk membuka diri dan hidup kita bagi berkat-berkat Tuhan. Teladan mereka mengajak kita untuk menyelaraskan kontemplasi dan tindakan, istirahat dan kerja keras, keheningan dan kesibukan hidup kita sehari-hari dengan kebijaksanaan dan keseimbangan, senantiasa menjadikan kasih Yesus sebagai ukuran kita, Sabda-Nya sebagai terang kita, dan anugerah-Nya sebagai sumber kekuatan kita, yang menopang kita melampaui batas kemampuan kita (bdk. Flp. 4:13).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 Juli 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XV DI PAROKI KEPAUSAN SANTO THOMAS DARI VILLANOVA (CASTEL GANDOLFO) 13 JulI 2025

Bacaan Ekaristi : Ul. 30:10-14; Mzm. 69:14,17,30-31,33-34,36ab,37 atau Mzm. 19:8,9,10,11; Kol. 1:15-20; Luk. 10:25-37.

 

Saudara-saudari,

 

Saya bersukacita merayakan Ekaristi ini bersamamu. Saya menyapa semua yang hadir, komunitas paroki, para imam, dan yang mulia, para uskup keuskupan, serta para pejabat sipil dan militer.

 

Dalam Injil hari Minggu ini, kita telah mendengar salah satu perumpamaan Yesus yang paling indah dan menggerakkan. Kita semua tahu perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati (Luk 10:25-37).

 

Perumpamaan itu senantiasa menantang kita untuk merenungkan hidup kita sendiri. Perumpamaan itu menyusahkan hati nurani kita yang terlena atau terganggu, dan memperingatkan kita tentang risiko iman yang berpuas diri, yang puas dengan ketaatan lahiriah terhadap Hukum Taurat tetapi tidak mampu merasakan dan bertindak dengan belas kasihan yang murah hati seperti Allah.

 

Perumpamaan itu sesungguhnya tentang belas kasihan. Memang, kisah Injil berbicara tentang belas kasihan yang menggerakkan seorang Samaria untuk bertindak, tetapi pertama-tama kisah itu berbicara tentang bagaimana orang lain memandang orang yang terluka yang tergeletak di pinggir jalan setelah diserang penyamun. Kita diberitahu bahwa ketika seorang imam dan seorang Lewi "melihat orang itu, ia melewatinya" (ayat 32). Namun, tentang orang Samaria itu, Bacaan Injil mengatakan, "Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan" (ayat 33).

 

Saudara-saudari terkasih, cara kita memandang orang lainlah yang terpenting, karena itu menunjukkan isi hati kita. Kita bisa melihat dan melewati begitu saja, atau kita bisa melihat dan tersentuh oleh belas kasihan. Ada jenis cara melihat yang dangkal, teralihkan, dan tergesa-gesa, cara melihat sambil berpura-pura tidak melihat. Kita bisa melihat tanpa tersentuh atau tertantang oleh penglihatan itu. Lalu, ada pula cara melihat dengan mata hati, melihat lebih dekat, berempati dengan orang lain, ambil bagian dalam pengalamannya, membiarkan diri kita tersentuh dan tertantang. Cara melihat ini mempertanyakan cara kita menjalani hidup dan tanggung jawab yang kita rasakan terhadap orang lain.

 

Perumpamaan ini berbicara kepada kita pertama-tama tentang cara Allah memandang kita, sehingga kita pada gilirannya dapat belajar bagaimana melihat situasi dan orang-orang dengan mata-Nya, yang penuh kasih dan belas kasihan. Orang Samaria yang murah hati sungguh merupakan gambaran Yesus, Putra kekal yang diutus Bapa ke dalam sejarah kita justru karena Ia memandang umat manusia dengan belas kasihan dan tidak melewati begitu saja. Seperti orang dalam Bacaan Injil yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, umat manusia sedang terjerumus ke jurang kematian; di zaman kita juga, kita harus menghadapi kegelapan kejahatan, penderitaan, kemiskinan, dan teka-teki kematian. Namun, Allah telah memandang kita dengan belas kasihan; Ia ingin menapaki jalan yang sama dan turun di antara kita. Dalam diri Yesus, Orang Samaria yang murah hati, Ia datang untuk menyembuhkan luka-luka kita serta mencurahkan balsem kasih dan kemurahhatian-Nya kepada kita.

 

Paus Fransiskus, yang sering mengingatkan kita bahwa Allah adalah kemurahan hati dan belas kasihan, pernah menyebut Yesus sebagai "belas kasihan Bapa kepada kita" (Doa Malaikat Tuhan, 14 Juli 2029). Santo Agustinus memberitahu kita bahwa, sebagai Orang Samaria yang murah hati yang datang menolong kita, Yesus "ingin dikenal sebagai sesama kita. Sungguh, Tuhan Yesus Kristus menyadarkan kita bahwa Dialah yang peduli kepada orang yang hampir meninggal karena dipukuli para penyamun dan ditinggalkan di pinggir jalan (De Doctrina Christiana, I, 30.33).

 

Maka, kita dapat memahami mengapa perumpamaan ini begitu menantang bagi kita masing-masing. Jika Kristus menunjukkan kepada kita wajah Allah yang penuh belas kasihan, maka percaya kepada-Nya dan menjadi murid-Nya berarti membiarkan diri kita diubah dan memiliki perasaan yang sama seperti Dia. Itu berarti belajar memiliki hati yang tergerak, mata yang melihat dan tak berpaling, tangan yang membantu orang lain dan menyembuhkan luka mereka, bahu yang memikul beban mereka yang membutuhkan.

 

Dalam Bacaan Pertama hari ini, kita mendengar perkataan Musa, yang memberitahu kita bahwa menaati perintah-perintah Tuhan serta mengarahkan pikiran dan hati kita kepada-Nya tidak berarti memperbanyak tindakan lahiriah, melainkan melihat ke dalam hati kita dan menemukan bahwa di sanalah Allah telah menuliskan hukum kasih-Nya. Jika kita menyadari jauh di lubuk hati bahwa Kristus, Orang Samaria yang murah hati, mengasihi kita dan peduli kepada kita, kita juga akan tergerak untuk mengasihi dengan cara yang sama dan menjadi penuh belas kasihan seperti Dia. Setelah kita disembuhkan dan dikasihi oleh Kristus, kita juga dapat menjadi saksi kasih dan belas kasihan-Nya di dunia kita.

 

Saudara-saudari, hari ini kita membutuhkan "revolusi kasih" ini. Hari ini, jalan yang membentang dari Yerusalem ke Yerikho adalah jalan yang dilalui oleh semua orang yang jatuh ke dalam dosa, penderitaan, dan kemiskinan. Jalan yang dilalui oleh semua orang yang terbebani oleh masalah atau terluka oleh kehidupan. Jalan yang dilalui oleh semua orang yang jatuh, kehilangan arah, dan mencapai titik terendah. Jalan yang dilalui oleh semua orang yang dilucuti, dirampok, dan dijarah, korban sistem politik tirani, ekonomi yang memaksa mereka jatuh miskin, dan perang yang menghancurkan impian dan kehidupan mereka.

 

Apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya melihat dan berjalan melewati, atau apakah kita membuka hati kita kepada orang lain, seperti orang Samaria itu? Apakah kita terkadang hanya puas melakukan tugas kita, atau menganggap sebagai sesama kita hanya mereka yang merupakan bagian dari kelompok kita, yang berpikir seperti kita, yang memiliki kebangsaan atau agama yang sama dengan kita? Yesus menjungkirbalikkan cara berpikir ini dengan menyajikan dirinya kepada kita sebagai seorang Samaria, orang asing atau orang yang tidak seagama, yang bertindak sebagai sesama bagi orang yang terluka itu. Dan Ia meminta kita melakukan hal yang sama.

 

Orang Samaria, tulis Benediktus XVI, “tidak bertanya sejauh mana kewajiban solidaritasnya. Ia juga tidak bertanya tentang jasa yang dibutuhkan untuk kehidupan kekal. Sesuatu yang lain terjadi: hatinya terluka... Jika diajukan pertanyaan ‘Apakah orang Samaria juga sesamaku?’ kepadanya, ia pasti menjawab tidak, mengingat situasi saat itu. Namun Yesus kini membalikkan seluruh masalah: orang Samaria, orang asing itu, menjadikan dirinya sesama dan menunjukkan kepada saya bahwa saya harus belajar menjadi sesama di lubuk hati dan bahwa saya sudah memiliki jawabannya dalam diri saya. Saya harus menjadi seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, seseorang yang hatinya terbuka diguncang oleh kebutuhan orang lain” (Yesus dari Nazaret, 197).

 

Memandang tanpa berjalan, menghentikan laju kehidupan kita yang sangat menggelisahkan, membiarkan kehidupan orang lain, siapa pun mereka, dengan kebutuhan dan masalah mereka, menyentuh hati kita. Itulah yang menjadikan kita sesama bagi satu sama lain, yang melahirkan persaudaraan sejati dan meruntuhkan tembok serta penghalang. Pada akhirnya, kasih menang, dan terbukti lebih berkuasa daripada kejahatan dan maut.

 

Sahabat-sahabat terkasih, marilah kita memandang Kristus, Orang Samaria yang murah hati. Marilah kita mendengarkan kembali suara-Nya hari ini. Karena Ia berkata kepada kita masing-masing, "Pergilah dan perbuatlah demikian" (ayat 37).

 

[Kata-kata Bapa Suci di akhir Misa Kudus]

 

Pada saat ini, saya ingin mempersembahkan sebuah hadiah kecil kepada pastor paroki kepausan ini, untuk mengenang perayaan kita hari ini. Patena dan sibori yang kita gunakan untuk merayakan Ekaristi adalah sarana persekutuan, dan keduanya dapat menjadi undangan bagi kita semua untuk hidup dalam persekutuan, dan sungguh-sungguh mengembangkan persaudaraan ini, persekutuan yang kita hidupi dalam Yesus Kristus ini.

_____________________

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Juli 2025)