Bacaan
Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28;
Yoh. 6:37-40.
“Siapa
yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun
pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12:26). Kata-kata Yesus ini menyentuh hati kita
secara langsung, memanggil kita untuk mengikuti Dia di sepanjang jalan yang
telah Ia tempuh sendiri: jalan menuju kemuliaan melalui salib. Dalam perjalanan
ini — di mana kita tidak luput dari berbagai pencobaan dan penderitaan — kita
dibimbing dan dikuatkan oleh suatu janji: janji akan persekutuan yang tidak
dapat dikuasai oleh maut. Sesungguhnya, siapa pun yang mengikuti Kristus
menjadi pelayan-Nya dan akan senantiasa berada di tempat Ia berada, justru
karena mereka telah menempuh jalan-Nya. Oleh karena itu, Santo Paulus
menegaskan: “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim
2:11). Saudara-saudari terkasih, kepastian iman dan pengharapan inilah yang
mendasari perayaan kita demi kedamaian jiwa para kardinal dan uskup yang telah
meninggalkan kita sepanjang tahun yang lalu. Kita ingin berdoa kepada Tuhan
bagi mereka, agar Ia berkenan memberikan upah kepada para pelayan-Nya yang
setia.
Kenangan
dalam doa ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai rohani dari ingatan. Saat
berpamitan dengan putra-putranya, Agustinus dan Navigius, menjelang ajalnya,
Santa Monika berkata, “Hanya satu hal yang kuminta darimu: ingatlah aku di
mezbah Tuhan, di mana pun kamu berada” (Santo Agustinus, Pengakuan-pengakuan,
IX, 11, 27). Di sini, misteri kematian dikaitkan dengan doa bagi orang yang
telah meninggal — sebuah praktik yang telah dijalankan Gereja sejak awal mula
sebagai salah satu kewajiban dasariahnya.
Dalam
terang sabda Allah, kita dapat merefleksikan secara singkat dua kebenaran yang
menerangi doa kita bagi orang yang telah meninggal: harapan akan kebangkitan
dan persekutuan para kudus.
Kisah
tentang Yudas Makabe yang kita dengar dalam Bacaan Pertama (2 Mak 12:43-46)
membantu kita merefleksikan perihal kebangkitan. Setelah beberapa rekannya,
yang telah berdosa karena menyembah berhala, gugur dalam pertempuran, Yudas
menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah dan mengatur agar persembahan
penghapus dosa dipersembahkan bagi mereka, supaya mereka dapat dibebaskan dari
dosa mereka. Tindakan ini didasarkan pada keyakinan bahwa persekutuan yang kita
alami satu sama lain di dunia ini — meskipun penuh dengan keterbatasan dan
kegagalan — tidak berakhir ketika diserahkan ke dalam tangan Allah. Dengan
demikian, kesaksian dari zaman Makabe ini mengantisipasi apa yang kemudian
digenapi dalam liturgi Kristiani. Sebab, peringatan kita akan saudara-saudari
yang telah mendahului kita di hadapan mezbah Tuhan berlandaskan pada janji
bahwa hidup kita, di dalam Kristus, tidak akan sirna, karena hidup itu telah
ditebus.
Tindakan
Yudas, pertama-tama dan terutama, merupakan suatu tindakan iman, karena ia
mempersembahkan kurbannya “dengan harapan teguh bahwa mereka yang telah
meninggal akan bangkit kembali” (ayat 44). Dalam terang Yesus — yang merupakan
sumber kebangkitan itu sendiri — kita pun berdoa bagi mereka yang telah
mendahului kita, berkat harapan besar yang dianugerahkan kepada kita dalam
misteri Paskah. Sebab, sebagaimana ditegaskan oleh Kitab Suci, jika tidak ada
kebangkitan, maka sia-sialah doa bagi orang mati (bdk. ayat 44). Rasul Paulus
pun menyampaikan pernyataan yang tegas ini: “Seandainya tidak ada kebangkitan
orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak
dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”
(1Kor 15:13-14).
Saudara-saudari
terkasih, mendoakan mereka yang telah meninggal berarti merayakan kehidupan —
terutama kehidupan Kristus Tuhan yang telah bangkit, dan kemudian, berkat
rahmat-Nya, kehidupan kita sendiri yang turut bangkit di dalam Dia. Kurban
Ekaristi merupakan kenangan akan Paskah-Nya, peristiwa di mana Ia menyelamatkan
kita dengan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Oleh karena itu, janganlah kita
membiarkan pengenangan akan orang yang telah meninggal sekadar menjadi
nostalgia belaka. Dalam iman, marilah kita merenungkan misteri kematian tanpa
rasa takut, karena Tuhan itu hidup, menantikan kita, dan telah menyediakan
tempat bagi kita di rumah Bapa-Nya (bdk. Yoh 14:2-3).
Gereja
merayakan tindakan penyerahan diri dan pengharapan ini di dalam persekutuan
para kudus. Ketika kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal, kita
melakukannya bukan hanya untuk mereka, melainkan juga bersama mereka — terlibat
dalam suatu hubungan timbal balik yang dihidupkan oleh Roh Kudus di dalam hati
kita. Gereja merupakan misteri persekutuan antara Kristus, sang Kepala, dengan
kita, anggota-anggota tubuh-Nya: dari Dialah kita menerima kehidupan.
Persekutuan ini mempersatukan jiwa-jiwa bahagia yang telah memandang wajah
Allah dengan semua orang yang, baik di surga maupun di bumi, sedang dalam
perjalanan menuju tujuan yang gilang-gemilang itu.
Saudara-saudari
terkasih, di dalam Kristus, kematian tidak memutuskan ikatan di antara kita.
Sebaliknya, kematian mengubah ikatan tersebut ke dalam dimensi baru — dimensi
yang hanya dapat dipahami melalui misteri kasih-Nya, kasih yang diberikan
hingga tuntas di atas kayu salib dan dicurahkan setelah kemenangan Paskah-Nya.
Dengan menyambut kasih Tuhan yang telah bangkit dalam Ekaristi kudus, marilah
kita menjaga dan memelihara persekutuan ini sepanjang perjalanan hidup kita.
Dengan demikian, kelak saat tiba giliran kita, kita pun dapat menerima doa dari
saudara-saudari kita yang masih dalam peziarahan, serta bersukacita bersama
seluruh orang kudus dalam kebahagiaan di tanah air surgawi.
____
(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2026)



Print this page