Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS FRANSISKUS (DIBACAKAN OLEH MICHAEL KARDINAL CZERNY) DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH I (MISA YUBILEUM PEKERJA SUKARELA) 9 Maret 2025 : TIGA ASPEK PENCOBAAN

Bacaan Ekaristi : Ul. 26:4-10; Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15; Rm. 10:8-13; Luk. 4:1-13.

 

Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (bdk. Luk 4:1). Setiap tahun, perjalanan Prapaskah kita dimulai dengan mengikuti Tuhan ke sana dan ambil bagian dalam pengalaman itu, yang Ia ubah rupa demi kebaikan kita. Ketika Yesus memasuki padang gurun, terjadilah perubahan yang menentukan: tempat yang sunyi menjadi tempat mendengarkan. Di padang gurun, kemampuan kita untuk mendengarkan diuji, karena suatu pilihan harus dibuat di antara dua suara yang sama sekali berbeda. Dalam hal ini, Bacaan Injil memberitahu kita perjalanan Yesus dimulai dengan tindakan mendengarkan dan ketaatan: Roh Kuduslah, kuasa Allah sendiri, yang membawa-Nya ke suatu tempat di mana tidak ada hal baik yang muncul dari tanah atau hujan yang turun dari langit. Di padang gurun, kita mengalami kemiskinan material dan spiritual, kebutuhan kita akan roti dan sabda Allah.

 

Yesus, sungguh  manusia, mengalami rasa lapar itu (lihat ayat 2). Ia dicobai selama empat puluh hari oleh firman yang bukan berasal dari Roh Kudus, melainkan dari si jahat, iblis. Setelah memulai empat puluh hari Prapaskah, marilah kita merenungkan fakta bahwa kita juga dicobai, tetapi kita tidak sendirian. Yesus bersama kita, membawa kita melewati padang gurun. Putra Allah yang menjadi manusia tidak sekadar memberi kita contoh tentang cara memerangi kejahatan. Ia memberi kita sesuatu yang jauh lebih besar: kekuatan untuk melawan serangannya dan bertahan dalam perjalanan kita.

 

Jadi, marilah kita membahas tiga aspek pencobaan Yesus dan kita : awalnya, bagaimana pencobaan itu terjadi, dan hasilnya. Dengan cara ini, kita akan menemukan inspirasi untuk perjalanan pertobatan kita.

 

Pertama, awal. Pencobaan Yesus adalah sebuah kesengajaan: Tuhan tidak pergi ke padang gurun untuk menunjukkan kekuatan kehendak-Nya, tetapi demi keterbukaan bakti-Nya kepada Roh Bapa, yang bimbingan-Nya Ia terima dengan siap sedia dan bebas. Pencobaan yang kita hadapi, di sisi lain, bukanlah sebuah kesengajaan: kejahatan mendahului kebebasan kita, menyerangnya dari dalam, seperti bayangan batin dan ancaman yang terus-menerus. Setiap kali kita memohon kepada Allah untuk tidak membawa kita ke dalam pencobaan (bdk. Mat 6:13), kita perlu mengingat bahwa Ia telah menjawab doa itu melalui Yesus, Sabda-Nya yang menjelma, yang senantiasa tinggal bersama kita. Tuhan dekat dengan kita dan peduli kepada kita, terutama di saat pencobaan dan ketidakpastian, ketika si penggoda memperdengarkan suaranya. Ia adalah bapa pendusta (bdk. Yoh 8:44), jahat dan suka melawan, karena ia mengetahui Sabda Allah tanpa memahaminya. Justru sebaliknya: sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak zaman Adam di Taman Eden (lihat Kej 3:1-5), demikian pula yang dilakukan-Nya sekarang perihal Yesus, Adam baru, di padang gurun.

 

Di sini kita melihat jalan yang luar biasa yang ditempuh Kristus ketika dicobai, yaitu, melalui hubungan-Nya dengan Allah, Bapa-Nya. Iblis memisahkan dan memecah-belah, sedangkan Yesus mempersatukan Allah dan manusia, sang perantara. Dalam penyelewengannya, iblis ingin menghancurkan ikatan itu dan membuat Yesus mengeksploitasi kedudukan-Nya. Ia berkata, "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah batu ini menjadi roti" (Luk 4:3), dan sekali lagi, "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah" (ayat 9) dari bubungan Bait Allah. Dalam menanggapi godaan-godaan ini, Yesus, Anak Allah, yang dibawa oleh Roh, memilih cara yang bisa menjadikan-Nya menjalani hubungan bakti terhadap Bapa. Inilah apa yang dipilih Tuhan: hubungan-Nya yang unik dan eksklusif dengan Allah, sebagai Putra-Nya yang tunggal, menjadi hubungan yang merangkul semua orang, tanpa mengecualikan siapa pun. Hubungan Yesus dengan Bapa bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan (lihat Flp. 2:6) atau dibanggakan demi meraih kesuksesan dan menarik pengikut, justru karunia yang Ia bagikan kepada dunia demi keselamatan kita.

 

Kita juga tergoda dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi dengan cara yang sama sekali berbeda. Iblis membisikkan ke telinga kita bahwa Allah bukan Bapa kita yang sebenarnya, bahwa Ia telah meninggalkan kita. Iblis mencoba meyakinkan kita bahwa tidak ada roti untuk orang yang lapar, apalagi yang berasal dari batu, bahwa malaikat tidak akan datang menolong kita ketika kita jatuh, dan dunia berada di tangan kekuatan jahat yang menghancurkan bangsa-bangsa dengan rencana semena-mena mereka dan kebrutalan perang. Namun, tepat ketika iblis menginginkan kita percaya bahwa Allah jauh dari kita, dan akan menggoda kita untuk putus asa, Allah semakin mendekati kita, memberikan nyawa-Nya untuk menebus dunia.

 

Aspek ketiga adalah hasil pencobaan ini. Yesus, yang diurapi Allah, mengalahkan kejahatan; Ia mengusir iblis, yang meskipun demikian akan kembali untuk mencobai-Nya, sambil menunggu "kesempatan lain" (ayat 13). Demikianlah Injil memberitahu kita, dan kita akan mengingat hal ini ketika, di Golgota, Yesus dicobai lagi, "Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu" (Mat 27:40; bdk. Luk 23:35). Di padang gurun, Sang Penggoda dikalahkan, namun kemenangan Kristus belum definitif, sebagaimana yang akan terjadi dalam misteri Paskah wafat dan kebangkitan-Nya.

 

Saat kita bersiap untuk merayakan ini, misteri utama iman kita, kita menyadari bahwa hasil pencobaan kita berbeda. Dalam menghadapi pencobaan, kita terkadang jatuh; kita semua adalah orang berdosa. Namun, kekalahan kita tidaklah definitif, karena setelah setiap kejatuhan kita, Allah mengangkat kita kembali dengan kasih dan pengampunan-Nya yang tak terbatas. Pencobaan kita tidak berakhir dengan kegagalan, karena di dalam Kristus, kita ditebus dari kejahatan. Saat kita berjalan melalui padang gurun bersama-Nya, kita mengikuti jalan yang belum pernah dilalui sebelumnya: Yesus sendiri membuka jalan baru pembebasan dan penebusan di hadapan kita. Dengan mengikuti Tuhan dalam iman, kita berubah dari pengembara menjadi peziarah.

 

Saudari-saudari terkasih, saya mengundangmu untuk memulai perjalanan Prapaskah dengan cara ini. Dan karena, di sepanjang jalan, kita membutuhkan “kehendak baik” yang selalu ditopang oleh Roh Kudus dalam diri kita, dengan senang hati saya menyapa semua “tenaga sukarela" yang hadir di sini di Roma hari ini untuk peziarahan Yubileum mereka. Sahabat-sahabat terkasih, dengan sepenuh hati saya berterima kasih karena, mengikuti teladan Yesus, kamu melayani sesama tanpa henti. Di jalan dan rumah, bersama orang sakit, orang yang menderita dan yang dipenjara, bersama orang muda dan orang tua, kemurahan hati dan komitmenmu menawarkan pengharapan bagi seluruh masyarakat kita. Di padang gurun kemiskinan dan kesepian, semua gerakan kecil itu membantu membuat kemanusiaan baru berkembang di taman yang merupakan impian Allah, selalu dan di mana pun, demi kita semua.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Maret 2025)

HOMILI PAUS FRANSISKUS (DIBACAKAN OLEH ANGELO KARDINAL DE DONATIS) DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA 5 Maret 2025

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Petang ini, kita menerima abu suci. Hal ini mengingatkan kita tentang apakah kita, tetapi juga pengharapan tentang akan menjadi apakah kita nantinya. Abu mengingatkan kita bahwa kita ini debu, sekaligus membawa kita pada perjalanan menuju pengharapan yang menjadi tujuan panggilan kita. Karena Yesus turun ke dalam debu tanah dan, melalui kebangkitan-Nya, telah menarik kita bersama-Nya ke dalam hati Bapa.

 

Maka perjalanan Prapaskah menuju Paskah terbentang di tengah ingatan akan kerapuhan kita dan pengharapan bahwa, di ujung jalan, Tuhan yang bangkit sedang menanti kita.

 

Pertama, kita harus ingat. Kita menundukkan kepala untuk menerima abu seolah-olah kita melihat diri kita, melihat ke dalam diri kita. Memang, abu membantu mengingatkan kita bahwa hidup kita rapuh dan tidak berarti: kita adalah debu, kita diciptakan dari debu, dan kita akan kembali menjadi debu. Selain itu, ada begitu banyak waktu ketika, melihat diri kita atau pada kenyataan yang mengelilingi kita, kita menyadari bahwa "Betapa fananya aku [...] Manusia hanya meributkan yang sia-sia. Ia menimbun, tetapi tidak tahu siapa yang meraupnya nanti" (Mzm 39:5-6).

 

Kita mempelajarinya terutama melalui pengalaman kerapuhan kita: kelelahan kita, kelemahan yang harus kita hadapi, ketakutan yang ada dalam diri kita, kegagalan yang menggerogoti kita, sekejabnya impian kita dan kesadaran bahwa apa yang kita miliki bersifat sementara. Terbuat dari abu dan tanah, kita mengalami kerapuhan melalui penyakit, kemiskinan, dan kesulitan yang tiba-tiba dapat menimpa kita dan keluarga kita. Kita juga mengalaminya ketika, dalam kenyataan sosial dan politik zaman kita, kita mendapati diri kita terpapar "debu halus" yang mencemari dunia kita: pertentangan ideologis, penyalahgunaan kekuasaan, munculnya kembali ideologi lama yang didasarkan pada jatidiri yang menganjurkan pengucilan, eksploitasi sumber daya bumi, kekerasan dalam segala bentuknya dan perang antarmanusia. "Debu beracun" ini mengaburkan udara planet kita yang menghalangi hidup berdampingan secara damai, sementara ketidakpastian dan ketakutan akan masa depan terus meningkat.

 

Lebih jauh, kondisi rapuh mengingatkan kita pada tragedi kematian. Dalam banyak hal, kita mencoba mengusir kematian dari masyarakat kita, yang sangat bergantung pada penampilan, dan bahkan menyingkirkannya dari bahasa kita. Namun, kematian memaksakan dirinya sebagai kenyataan yang harus kita hadapi, sebuah tanda ketidakpastian dan singkatnya hidup kita.

 

Meskipun kita mengenakan topeng dan berbagai taktik cerdik yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian kita, abu mengingatkan kita tentang siapa diri kita. Ini baik untuk kita. Abu membentuk kita kembali, mengurangi keparahan narsisme kita, membawa kita kembali ke kenyataan dan membuat kita semakin rendah hati dan terbuka terhadap satu sama lain: tidak seorang pun dari kita adalah Allah; kita semua sedang dalam perjalanan.

 

Namun, Masa Prapaskah juga merupakan undangan untuk menyalakan kembali pengharapan kita. Meskipun kita menerima abu dengan kepala tertunduk untuk mengenang siapa diri kita, Masa Prapaskah tidak berakhir di sana. Sebaliknya, kita diundang untuk mengangkat mata kita kepada Dia yang bangkit dari kedalaman kematian dan membawa kita dari abu dosa dan kematian menuju kemuliaan kehidupan kekal.

 

Abu mengingatkan kita akan pengharapan yang kita miliki dalam Yesus, Putra Allah, yang telah mengambil debu tanah dan mengangkatnya ke tempat yang tinggi di surga. Ia turun ke jurang debu, wafat untuk kita dan mendamaikan kita dengan Bapa, sebagaimana kita dengar dari Santo Paulus: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita” (2Kor 5:21).

 

Saudara-saudari, inilah pengharapan yang menghidupkan kembali "abu" kehidupan kita. Tanpa pengharapan seperti itu, kita ditakdirkan untuk secara pasif menanggung kerapuhan kondisi manusiawi kita. Terutama ketika dihadapkan dengan pengalaman kematian, ketiadaan pengharapan dapat membuat kita jatuh ke dalam kesedihan dan kehancuran, dan kita akhirnya bernalar seperti orang bodoh: "Singkat dan menyedihkan hidup kita, dan tidak ada obatnya ketika kehidupan berakhir [...] tubuh akan berubah menjadi abu, dan roh akan hancur seperti udara kosong" (Keb 2:1-3). Namun pengharapan Paskah yang kita tuju meyakinkan kita akan pengampunan Allah. Bahkan ketika tenggelam dalam abu dosa, pengharapan membuka kita terhadap pengakuan hidup yang penuh sukacita: "Tetapi, aku tahu Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas bumi" (Ayb 19:25). Marilah kita mengingat hal ini: “Manusia itu debu dan akan kembali menjadi debu, tetapi debu berharga di mata Allah, sebab Allah menciptakan manusia dan menentukannya untuk keabadian” (Benediktus XVI, Audiensi Umum, 17 Februari 2010).

 

Saudara-saudari, setelah menerima abu, kita melangkah menuju pengharapan Paskah. Marilah kita berbalik kepada Allah. Marilah kita berbalik kepada-Nya dengan segenap hati (bdk. Yoel 2:12). Marilah kita menempatkan Dia di pusat kehidupan kita, sehingga kenangan akan siapa kita — rapuh dan fana seperti abu yang diterbangkan angin — akhirnya dapat dipenuhi dengan pengharapan akan Tuhan yang bangkit. Marilah kita mengarahkan hidup kita kepada-Nya, menjadi tanda pengharapan bagi dunia. Marilah kita belajar dari sedekah untuk melampaui diri kita, saling berbagi kebutuhan dan memelihara pengharapan akan dunia yang lebih adil. Marilah kita belajar dari doa untuk menemukan kebutuhan kita akan Allah atau, sebagaimana dikatakan Jacques Maritain, bahwa kita adalah "pengemis surga", dan dengan demikian menumbuhkan pengharapan bahwa di balik kelemahan kita ada seorang Bapa yang menunggu kita dengan tangan terbuka di akhir peziarahan duniawi kita. Akhirnya, marilah kita belajar dari puasa bahwa kita hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, melainkan juga haus akan kasih dan kebenaran, hanya kasih kepada Allah dan kasih kepada satu sama lain yang dapat benar-benar memuaskan kita dan memberi kita pengharapan untuk masa depan yang lebih baik.

 

Marilah kita bertekun dalam keyakinan bahwa sejak Tuhan mengambil abu umat manusia, “sejarah bumi adalah sejarah surga. Allah dan manusia terikat bersama dalam satu takdir” (C. Carretto, Il deserto nella città, Roma 1986, 55), dan Ia akan selamanya menyapu bersih abu kematian dan membuat kita bersinar dengan kehidupan yang baru.

 

Dengan pengharapan ini di dalam hati kita, marilah kita memulai perjalanan kita. Marilah kita berdamai dengan Allah.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Maret 2025)

HOMILI PAUS FRANSISKUS (DIBACAKAN OLEH MGR. RINO FISICHELLA) DALAM MISA HARI MINGGU BIASA VII (YUBILEUM DIAKON) 23 Februari 2025: PENGAMPUNAN, PELAYANAN TANPA PAMRIH, DAN PERSEKUTUAN

Bacaan Ekaristi : 1Sam. 26:2,7-9,12-13,22-23; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12-13; 1Kor. 15:45-49; Luk. 6:27-38.

 

Pesan bacaan hari ini dapat dirangkum dalam satu kata: "kemurahan hati". Kata tersebut pasti kamu sayangi sebagai diakon, yang berkumpul di sini untuk perayaan Yubileum. Jadi, marilah kita merenungkan tiga aspek khusus dari dimensi dasariah kehidupan kristiani ini secara umum dan pelayananmu secara khusus: pengampunan, pelayanan tanpa pamrih, dan persekutuan.

 

Pertama: pengampunan. Pewartaan pengampunan adalah bagian penting dari pelayananmu sebagai diakon. Sesungguhnya pengampunan adalah unsur yang tak terpisahkan dari setiap panggilan gerejawi dan persyaratan setiap hubungan manusia. Yesus menunjukkan perlunya dan pentingnya hal itu ketika Ia berkata, "Kasihilah musuh-musuhmu" (Luk 6:27). Hal ini tentu saja benar: jika kita ingin bertumbuh bersama dan saling ambil bagian dalam kekuatan dan kelemahan, pencapaian dan kegagalan, kita harus mampu mengampuni dan memohon pengampunan, membangun kembali hubungan dan bahkan memilih untuk tidak menahan kasih kita terhadap mereka yang menyakiti atau mengkhianati kita. Dunia yang tidak merasakan apa pun kecuali kebencian terhadap musuh-musuhnya adalah dunia tanpa harapan dan masa depan, yang ditakdirkan untuk peperangan, perpecahan, dan dendam yang tak berkesudahan. Sayangnya, inilah yang kita saksikan hari ini, di berbagai tingkatan dan di seluruh belahan dunia. Pengampunan berarti mempersiapkan masa depan yang ramah dan aman bagi kita dan komunitas kita. Para diakon, yang secara pribadi ditugasi dengan pelayanan yang membawa mereka ke pinggiran dunia kita, berkomitmen untuk melihat – dan mengajar orang lain untuk melihat – dalam diri setiap orang, bahkan dalam diri mereka yang berbuat salah kepada kita dan menyebabkan kita menderita, saudara-saudari yang terluka, dan karenanya lebih membutuhkan rekonsiliasi, bimbingan, dan bantuan daripada siapa pun.

 

Bacaan pertama hari ini berbicara tentang keterbukaan hati ini, yang menghadirkan kepada kita kasih setia Daud yang tanpa pamrih terhadap Saul, raja sekaligus penganiayanya (bdk. 1 Sam 26:2, 7-9, 12-13, 22-23). ​​Kita kembali melihat hal ini dalam kematian keteladanan diakon Stefanus, yang mengampuni orang-orang yang melemparinya dengan batu (bdk. Kis 7:60). Terutama, kita menemukannya diteladankan dalam diri Yesus, model seluruh diakonia, yang, dengan "mengosongkan" diri-Nya sendiri hingga menyerahkan nyawa-Nya bagi kita di kayu salib (bdk. Flp 2:7), mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya dan membuka gerbang Firdaus bagi penjahat yang baik (bdk. Luk 23:34, 43).

 

Ini membawa kita pada poin kedua: pelayanan tanpa pamrih. Tuhan menggambarkannya dalam Injil dengan kata-kata yang sederhana dan jelas: "Berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan apa pun" (Luk 6:35). Sebuah frasa yang singkat, tetapi membangkitkan keindahan persahabatan. Pertama, persahabatan Allah dengan kita, tetapi juga persahabatan kita sendiri. Bagi kamu sebagai diakon, pelayanan tanpa pamrih bukanlah aspek sekunder kegiatanmu, tetapi dimensi penting keberadaanmu. Sesungguhnya, melalui pelayanan-Mu, kamu mengabdikan diri untuk menjadi "pemahat" dan "pelukis" wajah Bapa yang penuh belas kasihan, dan saksi misteri Allah Tritunggal.

 

Dalam banyak bagian Injil, Yesus berbicara tentang diri-Nya dalam terang ini. Ia melakukannya dengan Filipus, di Ruang Atas, ketika, tak lama setelah membasuh kaki kedua belas Rasul, Ia berkata, "Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yoh 14:9). Dan kembali, ketika Ia menetapkan Ekaristi, Ia berkata, "Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan" (Luk 22:27). Namun, bahkan sebelumnya, dalam perjalanan ke Yerusalem, ketika para murid-Nya memperdebatkan di antara mereka tentang siapa yang terbesar, Ia telah menjelaskan bahwa "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (bdk. Mrk 10:45).

 

Saudara-saudara diakon, pekerjaan "tanpa pamrih" yang kamu lakukan sebagai ungkapan pengabdianmu kepada amal kasih Kristus dengan demikian menjadi pewartaan utamamu akan sabda Allah, sumber keyakinan dan sukacita bagi mereka yang berjumpa denganmu. Sesering mungkin, laksanakanlah dengan senyuman, tanpa mengeluh dan tanpa mencari pengakuan, saling mendukung, juga dalam hubunganmu dengan para uskup dan imam, “sebagai ungkapan Gereja yang berkomitmen untuk bertumbuh dalam pelayanan Kerajaan Allah dengan menghargai semua tingkatan pelayanan kaum tertahbis” (Konferensi Wali Gereja Italia, Diakon Tetap dalam Gereja di Italia. Pedoman dan Norma, 1993, 55). Melalui kerja sama dan kemurahan hatimu, kamu akan menjadi jembatan yang menghubungkan altar dengan jalanan dan Ekaristi dengan kehidupan sehari-hari umat. Amal kasih akan menjadi liturgimu yang paling indah dan liturgi akan menjadi pelayananmu yang paling sederhana.

 

Sekarang, kita sampai pada pokok terakhir: kemurahan hati sebagai sumber persekutuan. Memberi dan tidak mengharapkan imbalan apa pun mempersatukan; menciptakan ikatan karena mengungkapkan dan membina kebersamaan yang tidak memiliki tujuan lain selain pemberian diri dan kebaikan sesama. Santo Laurensius, pelindungmu, ketika diminta oleh para pendakwanya untuk menyerahkan harta Gereja, memperlihatkan orang-orang miskin kepada mereka dan berkata, "Ini adalah harta kami!" Begitulah persekutuan dibangun: dengan memberitahu saudara-saudarimu melalui perkataanmu tetapi terutama melalui perbuatanmu, baik secara individu maupun sebagai sebuah komunitas: "Kamu penting bagi kami;" "Kami mengasihimu;" "Kami ingin kamu menjadi bagian dari perjalanan dan kehidupan kami." Inilah tepatnya yang kamu lakukan. Kamu yang tidak menjadi diakon tetap melakukannya sebagai suami, ayah, dan kakek-nenek yang, melalui pelayananmu, memilih untuk memperluas keluargamu mencakup orang-orang yang membutuhkan di semua tempat di mana pun kamu tinggal. Para diakon terkasih, perutusanmu memisahkanmu dari masyarakat hanya untuk kemudian dibenamkan kembali di dalamnya agar masyarakat dapat menjadi tempat yang semakin terbuka dan ramah bagi semua orang. Itulah salah satu ungkapan terbaik Gereja sinodal, Gereja yang “bergerak maju.”

 

Segera, beberapa dari kamu, dengan menerima sakramen tahbisan suci, akan “menuruni” langkah-langkah pelayanan. Saya sengaja mengatakan “turun,” dan bukan “naik,” karena ditahbiskan bukanlah pendakian, melainkan penurunan, yang dengannya kita membuat diri kita kecil. Kita merendahkan dan menanggalkan diri. Dalam kata-kata Santo Paulus, melalui pelayanan, kita meninggalkan “manusia duniawi,” dan mengenakan, dalam kasih, “manusia surgawi” (lihat 1 Kor 15:45-49).

 

Marilah kita semua merenungkan apa yang akan kita lakukan, bahkan saat kita mempercayakan diri kita kepada Perawan Maria, hamba Tuhan, dan kepada Santo Laurensius, pelindungmu. Semoga mereka membantu kita untuk mengalami setiap ungkapan pelayanan kita dengan rendah hati dan penuh kasih, dan menjadi, dengan "tanpa pamrih," rasul pengampunan, hamba yang tidak mementingkan diri sendiri demi saudara-saudari kita, dan pembangun persekutuan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2025)

HOMILI PAUS FRANSISKUS (DIBACAKAN OLEH JOSÉ TOLENTINO KARDINAL DE MENDONÇA) DALAM MISA HARI MINGGU BIASA VI (YUBILEUM PARA SENIMAN DAN DUNIA KEBUDAYAAN) 16 Februari 2025

Bacaan Ekaristi : Yer. 17:5-8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; 1Kor. 15:12,16-20; Luk. 6:17,20-26.


Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia kepada para murid-Nya dan banyak orang. Kita telah mendengarnya berkali-kali, namun Sabda Bahagia tidak pernah berhenti membuat kita takjub: “Berbahagialah, hai Kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai Kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai Kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk 6:20–21). Kata-kata ini menjungkirbalikkan mentalitas duniawi kita dan mengajak kita untuk melihat kenyataan dengan mata baru, dengan tatapan Allah, sehingga kita dapat melihat melampaui penampilan dan mengenali keindahan bahkan di tengah-tengah kelemahan dan penderitaan.

 

Bagian kedua Bacaan Injil berisi kata-kata yang keras dan menegur: "Celakalah kamu, hai Kamu yang kaya, karena kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis" (Luk 6:24-25). Kontras antara "berbahagialah kamu" dan "celakalah kamu" mengingatkan kita tentang pentingnya membedakan di mana kita menemukan keamanan kita.

 

Sebagai seniman dan perwakilan dunia budaya, kamu dipanggil untuk menjadi saksi visi revolusioner Sabda Bahagia. Perutusanmu bukan hanya untuk menciptakan keindahan, tetapi mengungkapkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang tersembunyi di balik lipatan sejarah, menyuarakan orang-orang yang tak bersuara, mengubah rupa penderitaan menjadi pengharapan.

 

Kita hidup di masa krisis finansial dan sosial yang rumit, tetapi krisis kita terutama adalah krisis spiritual, krisis makna. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri tentang waktu dan tujuan. Apakah kita peziarah atau pengembara? Apakah perjalanan kita memiliki tujuan, atau apakah kita tanpa arah? Seniman memiliki tugas untuk membantu umat manusia agar tidak tersesat dan tetap memiliki pandangan yang penuh pengharapan.

 

Namun, ketahuilah bahwa pengharapan bukanlah sesuatu yang mudah, dangkal, atau abstrak. Tidak! Pengharapan sejati terjalin dalam drama keberadaan manusia. Pengharapan bukanlah tempat berlindung yang nyaman, tetapi api yang membakar dan memancarkan cahaya, seperti sabda Allah. Itulah sebabnya seni yang autentik selalu mengungkapkan perjumpaan dengan misteri, dengan keindahan yang melampaui diri kita, dengan penderitaan yang menantang kita, dengan kebenaran yang memanggil kita. Jika tidak, "celakalah kita!" Peringatan Tuhan itu keras.

 

Sebagaimana ditulis oleh penyair Gerard Manley Hopkins, “Dunia dipenuhi dengan keagungan Allah. Dunia akan menyala, seperti kilauan kertas timah yang terkena cahaya”. Perutusan seniman adalah menemukan keagungan yang tersembunyi ini dan mengungkapkannya, membuatnya dapat dirasakan oleh mata dan hati kita. Sang penyair juga merasakan “gema kelam” dan “gema keemasan” dalam dunia. Seniman peka terhadap resonansi ini, dan melalui karya mereka, mereka terlibat dalam pembedaan berbagai gema peristiwa di dunia ini dan membantu sesamanya untuk melakukan hal yang sama. Orang-orang yang mewakili dunia budaya dipanggil untuk mengevaluasi gema ini, menjelaskannya kepada kita, dan menunjukkan kepada kita jalan mana yang dituntun oleh gema tersebut: apakah gema tersebut berupa lagu-lagu sirene yang menggoda atau seruan autentik bagi umat manusia. Kamu diminta untuk memberikan wawasan guna membantu membedakan antara apa yang seperti “sekam yang dihamburkan angin” dan apa yang kokoh, “seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air”, yang mampu menghasilkan buah (lihat Mzm 1:3-4).

 

Para seniman yang terkasih, saya melihat dalam dirimu para penjaga keindahan yang bersedia memperhatikan kehancuran dunia kita, mendengarkan jeritan mereka yang miskin, menderita, terluka, dipenjara, dianiaya, atau menjadi pengungsi. Saya melihat dalam dirimu para penjaga Sabda Bahagia! Kita hidup di masa ketika tembok-tembok baru sedang dibangun, ketika perbedaan menjadi dalih untuk memecah belah daripada kesempatan untuk saling memperkaya. Namun, kamu, orang-orang di dunia budaya, dipanggil untuk membangun jembatan, menciptakan ruang bagi perjumpaan dan dialog, mencerahkan pikiran dan menghangatkan hati.

 

Beberapa orang mungkin berkata, "Tetapi apa gunanya seni di dunia kita yang terluka ini? Bukankah ada hal-hal yang lebih mendesak, lebih praktis, dan lebih mendesak untuk dilakukan?". Namun, seni bukanlah kemewahan, tetapi sesuatu yang dibutuhkan jiwa. Seni bukanlah pelarian dari kenyataan, tetapi sebuah tuntutan, panggilan untuk bertindak, seruan, dan jeritan. Mendidik tentang keindahan sejati berarti mendidik tentang pengharapan. Dan pengharapan tidak pernah terpisah dari drama kehidupan; pengharapan mengalir melalui perjuangan kita sehari-hari, kesulitan hidup, dan tantangan zaman kita.

 

Dalam Bacaan Injil yang kita dengar hari ini, Yesus menyatakan bahwa mereka yang miskin, menderita, lemah lembut, dan teraniaya adalah orang-orang yang berbahagia. Sebuah perubahan mentalitas, revolusi sudut pandang. Seniman dipanggil untuk ambil bagian dalam revolusi ini. Dunia membutuhkan seniman yang kenabian, intelektual yang berani, dan pencipta budaya.

 

Perkenankanlah Injil Sabda Bahagia membimbingmu, dan semoga senimu menjadi pembawa berita sebuah dunia yang baru. Perkenankanlah kami melihat puisimu! Jangan pernah berhenti mencari, mempertanyakan, dan mengambil risiko. Seni sejati tidak pernah mudah; ia menawarkan kedamaian kegelisahan. Dan jangan lupa bahwa pengharapan bukanlah khayalan; keindahan bukanlah utopia. Karuniamu tidak acak, tetapi sebuah panggilan. Maka, tanggapilah dengan kemurahan hati, gairah, dan cinta.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Februari 2025)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA V (YUBILEUM ANGKATAN BERSENJATA, KEPOLISIAN DAN APARAT KEAMANAN) 9 Februari 2025 : YESUS MELIHAT, NAIK KE DALAM PERAHU DAN DUDUK

Bacaan Ekaristi : Yes. 6:1-2a,3-8; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,4-5,7c-8; 1Kor. 15:1-11 (1Kor. 15:3-8,11); Luk. 5:1-11.

 

Tindakan Yesus di Danau Genesaret dijelaskan oleh Penginjil Lukas dengan tiga kata kerja: ia melihat, ia naik ke dalam perahu dan ia duduk. Yesus melihat, Yesus naik ke dalam perahu dan Yesus duduk. Yesus tidak berurusan dengan pamer kepada orang banyak, melakukan suatu pekerjaan, mengikuti jadwal dalam melaksanakan perutusan-Nya. Berjumpa sesama, berhubungan dengan mereka, serta bersimpati dengan pergumulan dan rintangan yang sering membebani hati dan mengenyahkan harapan justru selalu menjadi prioritas-Nya.

 

Itulah sebabnya Yesus, pada hari itu, melihat, naik ke dalam kapal dan duduk.

 

Pertama, Yesus melihat. Ia memiliki tatapan tajam yang, bahkan di tengah kerumunan orang banyak, membuat-Nya mampu melihat dua perahu mendekati pantai dan melihat kekecewaan di wajah para nelayan itu, yang sekarang sedang membasuh jala mereka yang kosong setelah sepanjang malam bekerja tanpa hasil. Yesus memandang dengan bela rasa kepada orang-orang itu. Janganlah kita pernah melupakan hal ini: bela rasa Allah. Tiga sikap Allah adalah kedekatan, bela rasa, dan kelembutan. Janganlah kita lupa: Allah dekat, Allah lembut, dan Allah selalu berbela rasa. Yesus memandang dengan bela rasa terhadap ungkapan orang-orang itu, merasakan keputusasaan dan frustrasi mereka setelah bekerja sepanjang malam dan tidak menangkap apa pun, hati mereka kosong seperti jala yang mereka tarik.

 

Maafkan saya, sekarang saya akan meminta pemimpin [Perayaan Liturgi] untuk melanjutkan membaca karena saya kesulitan bernapas.

 

Melihat keputusasaan mereka, Yesus naik ke dalam perahu. Ia meminta Simon untuk menepi tidak jauh dari pantai dan Simon pun naik ke dalam perahu. Dengan cara ini, Ia masuk ke dalam kehidupan Simon dan ikut merasakan kekecewaan dan kesia-siaannya. Ini penting: Yesus tidak hanya berdiri diam dan melihat segala sesuatunya berjalan buruk, seperti yang sering kita lakukan, lalu mengeluh dengan getir. Sebaliknya, Ia mengambil prakarsa, Ia mendekati Simon, menghabiskan waktu bersamanya pada saat-saat sulit itu dan memilih untuk menaiki perahu kehidupannya, yang malam itu tampaknya penuh dengan kegagalan.

 

Kemudian, setelah naik ke dalam perahu, Yesus duduk. Dalam keempat Injil, hal ini merupakan ciri khas seorang guru, seseorang yang mengajar orang lain. Memang, Bacaan Injil menyatakan bahwa Yesus duduk dan mengajar. Melihat sekilas di mata dan hati para nelayan itu rasa frustrasi karena sepanjang malam bekerja keras tanpa hasil, Yesus naik ke dalam perahu untuk mewartakan kabar baik, membawa terang pada malam gelap kekecewaan, menceritakan keindahan Allah bahkan di tengah pergumulan hidup, dan menegaskan kembali bahwa pengharapan tetap ada bahkan ketika semuanya tampak sirna.

 

Kemudian terjadilah mukjizat: ketika Tuhan naik ke dalam perahu kehidupan kita untuk membawa kabar baik tentang kasih Allah yang senantiasa menyertai dan menopang kita, kehidupan dimulai kembali, pengharapan lahir kembali, semangat bangkit kembali, dan kita dapat kembali menebarkan jala ke danau.

 

Saudara-saudari, pesan pengharapan ini menyertai kita hari ini saat kita merayakan Yubileum Angkatan Bersenjata, Kepolisian, dan Aparat Keamanan. Saya mengucapkan terima kasih kepada kamu sekalian atas pengabdianmu, dan saya menyapa semua otoritas, lembaga dan akademi militer, serta ordinaris dan imam militer yang hadir. Kamu sekalian telah dipercayakan dengan perutusan luhur yang mencakup berbagai aspek kehidupan sosial dan politik: membela negara kita, menjaga keamanan, menegakkan legalitas dan keadilan. Kamu hadir di lembaga pemasyarakatan dan berada di garis depan dalam memerangi kejahatan dan berbagai bentuk kekerasan yang mengancam mengganggu kehidupan masyarakat. Saya juga memikirkan semua orang yang terlibat dalam upaya bantuan pascabencana alam, upaya menjaga lingkungan, upaya penyelamatan di laut, perlindungan terhadap mereka yang rentan, dan upaya menggalakkan perdamaian.

 

Tuhan juga memintamu untuk melakukan apa yang Ia lakukan: melihat, naik ke dalam kapal, dan duduk. Melihat, karena kamu dipanggil untuk selalu membuka mata, waspada terhadap ancaman terhadap kebaikan bersama, terhadap bahaya yang mengancam kehidupan sesama warga negara, dan terhadap risiko lingkungan, sosial, dan politik yang kita hadapi. Naik ke dalam perahu, karena seragammu, disiplin yang telah membentukmu, keberanian yang menjadi ciri khasmu, sumpah yang telah kamu ucapkan — semua ini adalah hal-hal yang mengingatkanmu tentang pentingnya tidak hanya melihat kejahatan untuk dilaporkan, tetapi juga naik ke dalam perahu yang diterjang badai dan bekerja untuk memastikan bahwa perahu itu tidak kandas. Karena itu melayani kebaikan, kebebasan, dan keadilan juga merupakan bagian dari perutusanmu. Kemudian, akhirnya, duduk, karena kehadiranmu di kota-kota dan lingkungan sekitar kita untuk menegakkan hukum dan ketertiban, dan keikutsertaanmu dalam pihak yang tidak berdaya, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Semua itu mengajarkan kita bahwa kebaikan dapat menang atas segalanya. Kebaikan mengajarkan kita bahwa keadilan, kewajaran, dan tanggung jawab sipil tetap diperlukan saat ini seperti sebelumnya. Kebaikan mengajarkan kita bahwa kita dapat menciptakan dunia yang lebih manusiawi, adil, dan bersaudara, meskipun ada kekuatan jahat yang menentang.

 

Dalam melaksanakan tugasmu, yang mencakup seluruh hidupmu, kamu didampingi oleh para imam, kehadiran mereka di tengah-tengahmu penting. Tugas mereka bukanlah — seperti yang kadang-kadang terjadi dalam sejarah — untuk memberkati tindakan perang yang menyimpang. Tidak. Mereka berada di tengah-tengahmu sebagai kehadiran Kristus, yang ingin berjalan di sampingmu, menyendengkan telinga yang mendengarkan dan bersimpati, mendorongmu untuk memulai hidup baru dan mendukungmu dalam pelayananmu sehari-hari. Sebagai sumber dukungan moral dan spiritual, mereka mendampingimu di setiap langkah dan membantumu untuk melaksanakan perutusanmu dalam terang Injil dan mengupayakan kebaikan bersama.

 

Saudara-saudari terkasih, kami bersyukur atas apa yang kamu lakukan, kadang-kadang dengan risiko pribadi yang besar. Terima kasih karena dengan naik ke dalam perahu kami yang diterjang badai, kamu menawarkan perlindungan kepada kami dan mendorong kami untuk tetap pada tujuan kami. Pada saat yang sama, saya ingin mendorongmu untuk jangan pernah melupakan tujuan pelayanan dan semua kegiatanmu, yaitu mengembangkan kehidupan, menyelamatkan nyawa, menjadi pembela kehidupan yang terus-menerus. Dan saya mohon kepadamu, mohon, untuk waspada. Waspadalah terhadap godaan menumbuhkan untuk semangat perang. Waspadalah agar tidak terperdaya oleh khayalan kekuasaan dan gemuruh senjata. Waspadalah agar kamu tidak diracuni oleh propaganda yang menanamkan kebencian, yang memecah belah dunia menjadi kawan yang harus dibela dan seteru yang harus dilawan. Sebaliknya, beranilah bersaksi akan kasih Allah Bapa kita, yang menghendaki kita semua menjadi saudara dan saudari. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berangkat untuk menjadi perajin era baru perdamaian, keadilan, dan persaudaraan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Februari 2025)