Bacaan
Ekaristi : Kis. 2:14a,36-41; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh.
10:1-10.
Saudara-saudari
terkasih,
Salam
saya terutama ditujukan kepada mereka yang baru saja ditahbiskan menjadi imam,
keluargamu, para imam Roma, yang banyak di antaranya ditahbiskan pada hari
Minggu Paskah IV ini, dan semua yang hadir.
Hari
Minggu ini adalah kepenuhan hidup! Meskipun kematian mengelilingi kita, janji
Yesus sudah mulai terwujud: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan
mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Kita melihat kemurahan hati
dan antusiasme yang besar dalam kesediaan orang-orang muda ini yang hari ini
dipanggil Gereja untuk ditahbiskan sebagai imam. Sebagai komunitas yang banyak
dan beragam yang berkumpul di sekitar satu Guru, kita merasakan kehadiran yang
memperbarui kita. Roh Kudus mempersatukan orang dan panggilan dalam kebebasan
sehingga seorang pun tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Setiap hari Minggu
memanggil kita keluar dari “kuburan” pengasingan dan keterpencilan, sehingga
kita dapat bertemu di taman persekutuan di mana Yesus yang bangkit adalah
penjaga kita.
Panggilan
saudara-saudara kita ini mengajak kita untuk merefleksikan pelayanan imamat,
yang merupakan pelayanan persekutuan. “Hidup yang berlimpah-limpah,”
sesungguhnya, bukan hanya datang kepada kita dalam perjumpaan pribadi yang
mendalam dengan pribadi Putra, tetapi segera membuka mata kita kepada
saudara-saudari kita yang sudah mengalami, atau yang masih mencari, “hak supaya
menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Inilah salah satu rahasia hidup seorang
imam. Para calon imam yang terkasih, semakin dalam ikatanmu dengan Kristus,
semakin radikal keterikatanmu dengan seluruh umat manusia. Tidak ada
pertentangan, atau persaingan, antara surga dan bumi; di dalam Yesus keduanya
bersatu selama-lamanya. Misteri yang hidup dan dinamis ini mengikat hati pada
kasih yang tak terpisahkan: ia mengikat dan memenuhinya. Tentu saja, seperti
kasih suami istri, kasih yang menginspirasi selibat untuk Kerajaan Allah juga
harus dijaga dan terus diperbarui, karena setiap kasih sayang sejati akan
matang dan berbuah seiring waktu. Kamu dipanggil untuk cara mencintai yang
khas, tak mencolok, dan sulit, dan terlebih lagi, membiarkan dirimu dicintai
dalam kebebasan. Hal ini akan menjadikanmu bukan hanya imam yang baik, tetapi
juga warga negara yang jujur dan suka membantu, pembangun perdamaian dan persahabatan
sosial.
Dalam hal
ini, sungguh mencolok bahwa dalam Bacaan Injil yang diwartakan (Yoh 10:1-10),
Yesus merujuk pada tokoh dan tindakan agresif: orang asing, pencuri, dan
perampok yang mengabaikan batasan dan mengganggu Dia dan orang-orang yang
dikasihi-Nya. Mereka datang, kata Yesus, “hanya untuk mencuri, membunuh, dan
membinasakan” (ayat 10). Suara mereka berbeda dari suara-Nya, dan tidak dapat
dikenali (bdk. ayat 5). Kata-kata Tuhan penuh dengan kenyataan. Ia mengetahui
kekejaman dunia, tempat Ia berjalan bersama kita. Dengan kata-kata-Nya, Ia
membangkitkan bukan hanya bentuk agresi fisik, tetapi terutama agresi
spiritual. Namun, ini tidak menghalangi-Nya untuk menyerahkan hidup-Nya.
Kecaman tidak menjadi penolakan; bahaya tidak menyebabkan pelarian. Ini adalah
rahasia lain bagi hidup seorang imam: kita tidak boleh takut akan kenyataan.
Tuhan kehidupanlah yang memanggil kita. Semoga pelayanan yang dipercayakan
kepadamu, saudara-saudara terkasih, menyampaikan kedamaian orang-orang yang
tahu bahwa mereka aman, bahkan di tengah bahaya.
Dewasa
ini, kebutuhan akan keamanan membuat orang menjadi agresif, menyebabkan
komunitas menutup diri, dan mendorong orang untuk mencari musuh dan kambing
hitam. Rasa takut seringkali hadir di sekitar kita dan mungkin di dalam diri
kita. Semoga keamananmu tidak terletak pada peran yang kamu emban, tetapi pada
kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, serta pada partisipasimu, bersama
dengan umatmu, dalam kisah keselamatan. Keselamatan ini sudah bekerja dalam
banyak perbuatan baik yang diam-diam dilakukan oleh orang-orang yang
berkehendak baik di paroki dan lingkungan tempatmu akan bergabung dengan mereka
sebagai sesama pengembara. Apa yang kamu wartakan dan rayakan akan
melindungimu, bahkan di masa-masa sulit.
Di
komunitas tempatmu akan diutus, Yesus yang bangkit telah hadir, dan banyak yang
telah mengikuti-Nya dengan patut dipuji. Kamu akan mengenali luka-luka-Nya dan
membedakan suara-Nya. Kamu akan bertemu dengan orang-orang yang akan
mengarahkanmu kepada-Nya. Komunitas-komunitas ini juga akan membantumu menjadi
orang-orang kudus! Sebagai bagianmu, bantulah mereka untuk berjalan bersama,
mengikuti Yesus, Gembala yang baik, sehingga mereka dapat menjadi tempat —
taman — kehidupan yang bangkit kembali dan berbagi diri dengan orang lain.
Orang-orang sering kali kekurangan tempat di mana mereka dapat memahami bahwa
lebih baik dan indah untuk bersama, dan bahwa mungkin untuk rukun.
Memfasilitasi pertemuan, membantu menyatukan mereka yang mungkin tidak akan
pernah bertemu, dan mendamaikan perpecahan adalah satu dan sama dengan
merayakan Ekaristi dan Sakramen Tobat. Bersatu selalu berarti menanam kembali
Gereja.
Pada
suatu bagian dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mulai berbicara tentang
diri-Nya menggunakan sebuah gambaran penting. Ia menggambarkan diri-Nya sebagai
"gembala," tetapi mereka yang mendengarkan tampaknya tidak mengerti.
Maka Ia mengubah metafora tersebut: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu:
Akulah pintu bagi domba-domba itu" (Yoh 10:7). Di Yerusalem, ada sebuah
pintu yang disebut persis seperti itu, "pintu domba," di dekat kolam
Betesda. Domba dan anak domba memasuki bait suci melalui pintu itu, pertama-tama
dicelupkan ke dalam air, dan kemudian diperuntukkan untuk dikorbankan. Gambaran
ini segera mengingatkan kita pada baptisan.
“Akulah
pintu,” kata Yesus. Yubileum menunjukkan kepada kita bahwa gambaran ini terus
berbicara kepada hati jutaan orang. Selama berabad-abad, pintu — seringkali
portal sejati — telah mengundang orang untuk melewati ambang Gereja. Dalam
beberapa kasus, bejana baptis dibangun di luar, seperti Kolam Betesda kuno, di
serambi-serambinya “berbaring sejumlah besar orang sakit — orang-orang buta,
orang-orang timpang, dan orang-orang lumpuh” (Yoh 5:3). Para calon imam yang
terkasih, anggaplah dirimu sebagai bagian dari umat manusia yang menderita ini,
yang menantikan kehidupan yang berlimpah-limpah. Dengan memperkenalkan orang
lain kepada iman, kamu akan menghidupkan kembali imanmu sendiri. Bersama dengan
umat beriman yang telah dibaptis, kamu akan melewati ambang misteri setiap hari
— ambang yang memuat wajah dan nama Yesus. Jangan pernah menyembunyikan pintu
suci ini. Jangan menghalanginya; jangan menjadi penghalang bagi mereka yang
ingin masuk. “Kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk
ke dalam kamu halang-halangi” (Luk 11:52): ini adalah teguran keras Yesus
kepada mereka yang telah menyembunyikan kunci menuju jalan yang seharusnya
terbuka untuk semua orang.
Dewasa
ini, lebih dari sebelumnya, terutama ketika statistik tampaknya menunjukkan
adanya jurang pemisah antara orang-orang dan Gereja, tetaplah membuka pintu!
Biarkan orang masuk, dan bersiaplah untuk keluar. Ini adalah rahasia lain untuk
hidupmu: kamu adalah saluran, bukan penyaring. Banyak orang percaya bahwa
mereka sudah tahu apa yang ada di balik ambang pintu. Mereka membawa kenangan,
mungkin dari masa lalu yang jauh. Seringkali, ada sesuatu di dalam diri mereka
yang hidup dan belum mati; ini menarik mereka masuk. Namun, di lain waktu, ada
sesuatu yang lain di dalam diri mereka yang masih berdarah dan menolak mereka.
Tuhan tahu, dan Ia menunggu. Jadilah cerminan kesabaran dan kelembutan-Nya.
Kamu milik semua orang dan untuk semua orang! Biarlah ini menjadi tujuan
mendasar perutusanmu: menjaga ambang pintu tetap terbuka dan mengarahkan orang
lain ke sana, tanpa menggunakan terlalu banyak kata.
Di sisi
lain, Yesus menegaskan dan menjelaskan, “Akulah pintu. Siapa yang masuk melalui
Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang
rumput” (Yoh 10:9). Ia tidak membatasi kebebasan kita. Ada komunitas yang
menyesakkan; beberapa kelompok mudah dimasuki tetapi hampir mustahil untuk
ditinggalkan. Ini bukan kasus Gereja Tuhan, atau komunitas murid-murid-Nya.
Siapa pun yang diselamatkan, kata Yesus, dapat “masuk dan keluar serta
menemukan padang rumput.” Kita semua mencari perlindungan, kelegaan, dan kepedulian.
Pintu Gereja terbuka, tetapi bukan untuk memisahkan kita dari kehidupan:
kehidupan tidak berakhir di paroki, sebuah perkumpulan, sebuah gerakan, sebuah
kelompok. Siapa yang diselamatkan dapat “keluar dan menemukan padang rumput.”
Saudara-saudara
terkasih, keluarlah dan temukan budaya, orang-orang, dan kehidupan! Kagumi
hal-hal yang Allah tumbuhkan tanpa kita menaburnya. Orang-orang yang akan kamu
layani sebagai imam — umat awam dan keluarga, muda dan tua, anak-anak dan orang
sakit — mendiami padang rumput yang harus kamu kenal. Terkadang kamu mungkin
merasa kekurangan peta yang diperlukan. Tetapi Gembala yang baik memilikinya;
dengarkan suara-Nya yang sangat dikenal. Begitu banyak orang saat ini merasa
tersesat! Banyak yang merasa tidak lagi dapat menemukan arah. Dalam hal ini,
tidak ada kesaksian yang lebih berharga daripada ini: “Ia membaringkan aku di
padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia
menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya” (Mzm.
23:2-3). Nama-Nya adalah Yesus: “Allah menyelamatkan”! Kamu adalah saksi akan
hal ini. “Kebaikan dan kasih belaka akan mengikuti aku seumur hidupku” (Mzm.
23:6). Saudara-saudari terkasih, dan kaum muda: semoga demikian adanya!
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 26 April 2026)





Print this page