Bacaan
Ekaristi : Ul. 26:4-10; Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15; Rm. 10:8-13; Luk. 4:1-13.
Yesus
dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (bdk. Luk 4:1). Setiap tahun, perjalanan
Prapaskah kita dimulai dengan mengikuti Tuhan ke sana dan ambil bagian dalam
pengalaman itu, yang Ia ubah rupa demi kebaikan kita. Ketika Yesus memasuki
padang gurun, terjadilah perubahan yang menentukan: tempat yang sunyi menjadi
tempat mendengarkan. Di padang gurun, kemampuan kita untuk mendengarkan diuji,
karena suatu pilihan harus dibuat di antara dua suara yang sama sekali berbeda.
Dalam hal ini, Bacaan Injil memberitahu kita perjalanan Yesus dimulai dengan
tindakan mendengarkan dan ketaatan: Roh Kuduslah, kuasa Allah sendiri, yang
membawa-Nya ke suatu tempat di mana tidak ada hal baik yang muncul dari tanah
atau hujan yang turun dari langit. Di padang gurun, kita mengalami kemiskinan
material dan spiritual, kebutuhan kita akan roti dan sabda Allah.
Yesus,
sungguh manusia, mengalami rasa lapar
itu (lihat ayat 2). Ia dicobai selama empat puluh hari oleh firman yang bukan
berasal dari Roh Kudus, melainkan dari si jahat, iblis. Setelah memulai empat
puluh hari Prapaskah, marilah kita merenungkan fakta bahwa kita juga dicobai,
tetapi kita tidak sendirian. Yesus bersama kita, membawa kita melewati padang
gurun. Putra Allah yang menjadi manusia tidak sekadar memberi kita contoh
tentang cara memerangi kejahatan. Ia memberi kita sesuatu yang jauh lebih
besar: kekuatan untuk melawan serangannya dan bertahan dalam perjalanan kita.
Jadi,
marilah kita membahas tiga aspek pencobaan Yesus dan kita : awalnya, bagaimana pencobaan
itu terjadi, dan hasilnya. Dengan cara ini, kita akan menemukan inspirasi untuk
perjalanan pertobatan kita.
Pertama,
awal. Pencobaan Yesus adalah sebuah kesengajaan: Tuhan tidak pergi ke padang
gurun untuk menunjukkan kekuatan kehendak-Nya, tetapi demi keterbukaan
bakti-Nya kepada Roh Bapa, yang bimbingan-Nya Ia terima dengan siap sedia dan
bebas. Pencobaan yang kita hadapi, di sisi lain, bukanlah sebuah kesengajaan:
kejahatan mendahului kebebasan kita, menyerangnya dari dalam, seperti bayangan
batin dan ancaman yang terus-menerus. Setiap kali kita memohon kepada Allah
untuk tidak membawa kita ke dalam pencobaan (bdk. Mat 6:13), kita perlu
mengingat bahwa Ia telah menjawab doa itu melalui Yesus, Sabda-Nya yang
menjelma, yang senantiasa tinggal bersama kita. Tuhan dekat dengan kita dan
peduli kepada kita, terutama di saat pencobaan dan ketidakpastian, ketika si
penggoda memperdengarkan suaranya. Ia adalah bapa pendusta (bdk. Yoh 8:44),
jahat dan suka melawan, karena ia mengetahui Sabda Allah tanpa memahaminya.
Justru sebaliknya: sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak zaman Adam di
Taman Eden (lihat Kej 3:1-5), demikian pula yang dilakukan-Nya sekarang perihal
Yesus, Adam baru, di padang gurun.
Di
sini kita melihat jalan yang luar biasa yang ditempuh Kristus ketika dicobai,
yaitu, melalui hubungan-Nya dengan Allah, Bapa-Nya. Iblis memisahkan dan
memecah-belah, sedangkan Yesus mempersatukan Allah dan manusia, sang perantara.
Dalam penyelewengannya, iblis ingin menghancurkan ikatan itu dan membuat Yesus
mengeksploitasi kedudukan-Nya. Ia berkata, "Jika Engkau Anak Allah,
perintahkanlah batu ini menjadi roti" (Luk 4:3), dan sekali lagi,
"Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah" (ayat 9) dari
bubungan Bait Allah. Dalam menanggapi godaan-godaan ini, Yesus, Anak Allah,
yang dibawa oleh Roh, memilih cara yang bisa menjadikan-Nya menjalani hubungan
bakti terhadap Bapa. Inilah apa yang dipilih Tuhan: hubungan-Nya yang unik dan
eksklusif dengan Allah, sebagai Putra-Nya yang tunggal, menjadi hubungan yang
merangkul semua orang, tanpa mengecualikan siapa pun. Hubungan Yesus dengan
Bapa bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan (lihat Flp. 2:6) atau
dibanggakan demi meraih kesuksesan dan menarik pengikut, justru karunia yang Ia
bagikan kepada dunia demi keselamatan kita.
Kita
juga tergoda dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi dengan cara yang sama
sekali berbeda. Iblis membisikkan ke telinga kita bahwa Allah bukan Bapa kita
yang sebenarnya, bahwa Ia telah meninggalkan kita. Iblis mencoba meyakinkan kita
bahwa tidak ada roti untuk orang yang lapar, apalagi yang berasal dari batu,
bahwa malaikat tidak akan datang menolong kita ketika kita jatuh, dan dunia
berada di tangan kekuatan jahat yang menghancurkan bangsa-bangsa dengan rencana
semena-mena mereka dan kebrutalan perang. Namun, tepat ketika iblis
menginginkan kita percaya bahwa Allah jauh dari kita, dan akan menggoda kita
untuk putus asa, Allah semakin mendekati kita, memberikan nyawa-Nya untuk
menebus dunia.
Aspek
ketiga adalah hasil pencobaan ini. Yesus, yang diurapi Allah, mengalahkan
kejahatan; Ia mengusir iblis, yang meskipun demikian akan kembali untuk
mencobai-Nya, sambil menunggu "kesempatan lain" (ayat 13).
Demikianlah Injil memberitahu kita, dan kita akan mengingat hal ini ketika, di
Golgota, Yesus dicobai lagi, "Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib
itu" (Mat 27:40; bdk. Luk 23:35). Di padang gurun, Sang Penggoda
dikalahkan, namun kemenangan Kristus belum definitif, sebagaimana yang akan
terjadi dalam misteri Paskah wafat dan kebangkitan-Nya.
Saat
kita bersiap untuk merayakan ini, misteri utama iman kita, kita menyadari bahwa
hasil pencobaan kita berbeda. Dalam menghadapi pencobaan, kita terkadang jatuh;
kita semua adalah orang berdosa. Namun, kekalahan kita tidaklah definitif, karena
setelah setiap kejatuhan kita, Allah mengangkat kita kembali dengan kasih dan
pengampunan-Nya yang tak terbatas. Pencobaan kita tidak berakhir dengan
kegagalan, karena di dalam Kristus, kita ditebus dari kejahatan. Saat kita
berjalan melalui padang gurun bersama-Nya, kita mengikuti jalan yang belum
pernah dilalui sebelumnya: Yesus sendiri membuka jalan baru pembebasan dan
penebusan di hadapan kita. Dengan mengikuti Tuhan dalam iman, kita berubah dari
pengembara menjadi peziarah.
Saudari-saudari
terkasih, saya mengundangmu untuk memulai perjalanan Prapaskah dengan cara ini.
Dan karena, di sepanjang jalan, kita membutuhkan “kehendak baik” yang selalu
ditopang oleh Roh Kudus dalam diri kita, dengan senang hati saya menyapa semua
“tenaga sukarela" yang hadir di sini di Roma hari ini untuk peziarahan
Yubileum mereka. Sahabat-sahabat terkasih, dengan sepenuh hati saya berterima
kasih karena, mengikuti teladan Yesus, kamu melayani sesama tanpa henti. Di
jalan dan rumah, bersama orang sakit, orang yang menderita dan yang dipenjara,
bersama orang muda dan orang tua, kemurahan hati dan komitmenmu menawarkan
pengharapan bagi seluruh masyarakat kita. Di padang gurun kemiskinan dan
kesepian, semua gerakan kecil itu membantu membuat kemanusiaan baru berkembang di
taman yang merupakan impian Allah, selalu dan di mana pun, demi kita semua.
____
(Peter Suriadi - Bogor, 9 Maret 2025)