Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU ADVEN I DI VOLKSWAGEN ARENA, ISTANBUL, TURKI 29 November 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9; Rm. 13:11-14a; Mat. 24:37-44.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita merayakan Misa ini menjelang hari di mana Gereja memperingati Santo Andreas, rasul dan pelindung negeri ini. Bersamaan dengan itu, kita memulai Masa Adven, masa mempersiapkan diri untuk menghayati kembali misteri Yesus, Putra Allah, yang "dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa" (Syahadat Nicea-Konstantinopel), sebagaimana dideklarasikan secara khidmat 1.700 tahun yang lalu oleh para Bapa Konsili Nicea.

 

Dalam konteks ini, Bacaan Pertama (Yes 2:1-5) Misa hari ini berasal dari salah satu bagian terindah dalam kitab Nabi Yesaya, di mana ajakan bergema, memanggil semua orang untuk naik ke gunung Tuhan (bdk. ayat 3), tempat terang dan damai. Oleh karena itu, saya ingin merenungkan bersama apa artinya menjadi bagian dari Gereja dengan merefleksikan beberapa gambaran yang disajikan dalam teks ini.

 

Gambaran pertama adalah gunung yang "akan tegak melampaui puncak gunung-gunung" (bdk. Yes 2:2). Gambaran ini mengingatkan kita bahwa buah dari tindakan Allah dalam hidup kita adalah anugerah bukan hanya bagi kita, tetapi bagi semua orang. Sion adalah kota yang terletak di atas gunung dan simbol komunitas yang terlahir kembali dalam kesetiaan. Keindahannya adalah mercusuar cahaya bagi orang-orang dari segala tempat, dan berfungsi sebagai pengingat bahwa sukacita kebaikan itu menjangkiti. Kehidupan banyak orang kudus menegaskan hal ini. Santo Petrus bertemu Yesus berkat antusiasme Andreas, saudaranya (bdk. Yoh 1:40-42), yang dituntun kepada Tuhan, bersama Rasul Yohanes, berkat semangat Yohanes Pembaptis. Santo Agustinus, berabad-abad kemudian, datang kepada Kristus berkat khotbah Santo Ambrosius yang bersemangat dan masih banyak contoh serupa.

 

Di sini kita menemukan ajakan untuk memperbarui kekuatan kesaksian iman kita. Santo Yohanes Krisostomus, seorang gembala agung Gereja ini, berbicara tentang daya tarik kekudusan sebagai tanda yang jauh lebih mengesankan ketimbang banyak mukjizat. Ia berkata, “Mukjizat terjadi dan berlalu, tetapi kehidupan Kristiani tetap ada dan terus-menerus membangun” (Ulasan Injil Matius, 43, 5). Sebagai penutup, ia menasihati, “Karena itu marilah kita menjaga diri kita, agar kita juga dapat memberi manfaat kepada orang lain” (idem). Sahabat-sahabat terkasih, jika kita sungguh ingin membantu orang-orang yang kita jumpai, marilah kita “berjaga-jaga”, sebagaimana dianjurkan Bacaan Injil (bdk. Mat 24:42) dengan membina iman kita melalui doa dan sakramen-sakramen, mengamalkannya secara konsisten dalam kasih, dan menanggalkan — sebagaimana dikatakan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua — perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang (bdk. Rm 13:12). Tuhan, yang kita nanti-nantikan dalam kemuliaan di akhir zaman, datang setiap hari untuk mengetuk pintu kita. Marilah kita siap sedia menyambut kedatangan-Nya (bdk. Mat 24:44), dengan sungguh-sungguh berkomitmen untuk menjalani hidup yang baik, mengikuti teladan banyak orang kudus, orang-orang, yang telah tinggal di negeri ini sepanjang masa.

 

Gambaran kedua yang kita peroleh dari Nabi Yesaya adalah dunia yang damai. Ia menggambarkannya demikian: "Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yes 2:4). Betapa mendesaknya panggilan ini bagi kita saat ini! Betapa besar kebutuhan akan perdamaian, kesatuan, dan rekonsiliasi di sekitar kita, di dalam diri kita, dan di antara kita! Apa kontribusi kita sebagai tanggapannya?

 

Untuk lebih memahami hal ini, marilah kita lihat logo perjalanan ini, di mana salah satu gambar yang dipilih adalah sebuah jembatan. Logo perjalanan ini juga dapat mengingatkan kita pada jembatan yang terkenal di kota ini, yang melintasi Selat Bosporus dan menyatukan dua benua: Asia dan Eropa. Seiring berjalannya waktu, dua penyeberangan lainnya telah dibangun, sehingga kini terdapat tiga titik penghubung antara kedua benua. Ketiga struktur komunikasi, pertukaran, dan perjumpaan yang luar biasa ini sungguh mengesankan, namun sangat kecil dan rapuh dibandingkan dengan luasnya wilayah yang dihubungkan.

 

Jembatan tiga dimensi yang membentang melintasi selat ini mengingatkan kita akan pentingnya upaya bersama kita untuk membangun jembatan kesatuan di tiga tingkatan: di dalam komunitas, dalam hubungan ekumenis dengan anggota denominasi kristiani lain, dan dalam perjumpaan kita dengan saudara-saudari yang beragama lain. Memelihara ketiga ikatan ini, memperkuat dan memperluasnya dengan segala cara yang mungkin, merupakan bagian dari panggilan kita untuk menjadi kota yang terletak di atas gunung (bdk. Mat 5:14-16).

 

Ikatan kesatuan pertama yang baru saja saya sebutkan adalah ikatan di dalam Gereja ini, yang di negeri ini terdiri dari empat tradisi liturgi yang berbeda — Latin, Armenia, Kaldean, dan Suriah. Masing-masing tradisi menyumbangkan kekayaan spiritual, historis, dan gerejawi. Ambil bagian dalam perbedaan-perbedaan ini dengan jelas menunjukkan salah satu ciri terindah dari wajah Mempelai Kristus: kekatolikan yang mempersatukan. Kesatuan yang mengikat kita bersama di sekitar altar adalah karunia Allah. Karena itu, kesatuan tersebut kuat dan tak terkalahkan, karena merupakan karya rahmat-Nya. Namun, pada saat yang sama, perwujudan kesatuan ini pada waktunya dipercayakan kepada kita, kepada usaha kita. Karena alasan ini, seperti jembatan di atas Selat Bosporus, kesatuan membutuhkan kepedulian, perhatian, dan "pemeliharaan," agar fondasinya tetap kokoh dan tidak melemah oleh waktu dan perubahan. Dengan mata kita tertuju kepada gunung yang dijanjikan, gambaran Yerusalem surgawi, tujuan dan ibu kita (bdk. Gal 4:26), marilah kita berupaya semaksimal mungkin untuk memelihara dan memperkuat ikatan yang mempersatukan kita, sehingga kita dapat saling memperkaya dan menjadi tanda yang dapat dipercaya di hadapan dunia akan kasih Tuhan yang universal dan tak terbatas.

 

Ikatan kesatuan kedua yang disiratkan oleh liturgi ini adalah ekumenisme. Hal ini juga dibuktikan dengan kehadiran para perwakilan dari pengakuan iman kristiani lainnya, yang saya sambut dengan hangat. Sungguh, iman yang sama kepada Yesus, Juruselamat kita, tidak hanya mempersatukan kita yang berada di dalam Gereja Katolik, tetapi juga semua saudara dan saudari kita yang tergabung dalam Gereja kristiani lainnya. Kita mengalami hal ini kemarin dalam doa kita di İznik. Ini juga merupakan jalan yang telah kita tempuh bersama selama beberapa waktu. Santo Yohanes XXIII, yang terhubung dengan tanah ini melalui ikatan kasih sayang yang mendalam, adalah seorang promotor besar, dan saksi, bagi persekutuan ekumenis. Oleh karena itu, seraya kita memohon dalam kata-kata Paus Yohanes agar “misteri agung kesatuan yang dimohonkan Kristus Yesus kepada Bapa surgawi dengan doa-doa yang sungguh-sungguh pada malam pengorbanan-Nya dapat digenapi” (Wejangan Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II, 11 Oktober 1962, 8.2), hari ini kita memperbarui “ya” kita untuk kesatuan, “supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh 17:21), ut unum sint.

 

Ikatan kesatuan ketiga, yang kepadanya sabda Allah memanggil kita, adalah ikatan dengan anggota komunitas nonkristiani. Kita hidup di dunia di mana agama terlalu sering digunakan untuk membenarkan peperangan dan kekejaman. Namun, sebagaimana dinyatakan oleh Konsili Vatikan II, "hubungan manusia dengan Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat, sehingga Alkitab berkata: Siapa yang tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah (1Yoh 4:8)" (Nostra Aetate, 5). Oleh karena itu, kita ingin berjalan bersama dengan menghargai apa yang mempersatukan kita, meruntuhkan tembok prasangka dan ketidakpercayaan, mengembangkan saling pengertian dan saling menghargai agar dapat menyampaikan pesan pengharapan yang kuat dan ajakan untuk menjadi "orang yang membawa damai" (Mat 5:9).

 

Sahabat-sahabat terkasih, marilah kita jadikan nilai-nilai ini sebagai resolusi kita untuk Masa Adven, dan terlebih lagi untuk kehidupan pribadi dan bersama kita. Kita berjalan seolah-olah di atas jembatan yang menghubungkan bumi dengan surga, jembatan yang telah dibangun Tuhan bagi kita. Marilah kita senantiasa mengarahkan pandangan kita ke surga dan bumi, agar kita dapat mengasihi Allah dan saudara-saudari kita dengan segenap hati sehingga dapat berjalan bersama dan suatu hari nanti menemukan diri kita bersatu di rumah Bapa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 30 November 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM (MISA YUBILEUM PADUAN SUARA) 23 November 2025

Bacaan Ekaristi : 2Sam. 5:1-3; Mzm. 122:1-2,4-5; Kol. 1:12-20; Luk. 23:35-43.

 

Saudari-saudari terkasih,

 

Dalam Mazmur Tanggapan, kita telah menyanyikan, "Mari kita pergi ke Rumah Tuhan dengan sukacita" (bdk. Mzm. 122). Oleh karena itu, liturgi hari ini mengajak kita untuk berjalan bersama dalam pujian dan sukacita menuju perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, Penguasa yang lemah lembut dan rendah hati, Dia yang adalah awal dan akhir segala sesuatu. Kuasa-Nya adalah kasih, takhta-Nya adalah salib, dan melalui salib Kerajaan-Nya bersinar di atas dunia. "Dari kayu Ia berkuasa" (bdk. Madah Vexilla Regis) sebagai Raja Damai dan Raja Keadilan yang, dalam sengsara-Nya, menyatakan kepada dunia belas kasih Allah yang tak terhingga. Kasih ini juga menjadi inspirasi dan motivasi nyanyianmu.

 

Para anggota paduan suara dan pemusik terkasih, hari ini kamu merayakan Yubileum dan mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia dan rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu untuk melayani-Nya dengan mempersembahkan suara dan talentamun demi kemuliaan-Nya dan demi pembangunan rohani saudara-saudarimu (bdk. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 120). Tugasmu adalah mengajak orang lain untuk memuji Allah dan membantu mereka berpartisipasi lebih penuh dalam liturgi melalui nyanyian. Hari ini, kamu sepenuhnya mengungkapkan "iubilum"-mu, kegembiraanmu, yang mengalir dari hati yang meluap dengan sukacita rahmat.

 

Peradaban-peradaban besar telah menganugerahkan kita karunia musik untuk mengungkapkan apa yang kita simpan di lubuk hati dan apa yang tak selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata. Musik dapat mengungkapkan seluruh rentang perasaan dan emosi yang muncul dalam diri kita dari hubungan yang hidup dengan kenyataan. Bernyanyi, khususnya, merupakan ungkapan alami dan luhur manusia: pikiran, perasaan, tubuh, dan jiwa bersatu untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa besar kehidupan. Sebagaimana diingatkan Santo Agustinus kepada kita: “Cantare amantis est” (bdk. Khotbah 336,1), artinya, “bernyanyi adalah milik mereka yang mengasihi.” Mereka yang bernyanyi mengungkapkan kasih, tetapi juga mengungkapkan kesukaran, kelembutan, dan kerinduan yang bersemayam di hati mereka, sementara pada saat yang sama, mengasihi orang-orang yang mereka tuju dengan nyanyian mereka (bdk. Enarrationes in Psalmos, 72,1).

 

Bagi umat Allah, nyanyian mengungkapkan permohonan dan pujian. Nyanyian adalah "lagu baru" yang dikumandangkan Kristus yang bangkit kepada Bapa, di mana semua orang yang dibaptis berpartisipasi sebagai satu tubuh yang dijiwai oleh kehidupan baru Roh Kudus. Di dalam Kristus, kita menjadi penyanyi rahmat, anak-anak Gereja yang menemukan dalam Kristus yang bangkit sumber pujian kita. Dengan demikian, musik liturgi menjadi sarana berharga yang melaluinya kita melaksanakan pelayanan pujian kita kepada Allah dan mengungkapkan sukacita kehidupan baru dalam Kristus.

 

Santo Agustinus kembali menasihati kita untuk bernyanyi sambil berjalan, seperti para pelancong yang lelah yang menemukan dalam nyanyian sebuah gambaran awal dari sukacita yang akan mereka alami ketika mereka mencapai tujuan. "Bernyanyilah, tetapi teruskan perjalananmu [...] majulah dalam kebajikan" (Khotbah 256, 3). Menjadi bagian dari paduan suara berarti maju bersama, oleh karena itu, menggandeng tangan saudara-saudari kita dan membantu mereka berjalan bersama kita. Bernyanyi berarti bersama-sama menyanyikan pujian bagi Allah, menghibur saudara-saudari kita yang sedang menderita, menyemangati mereka ketika mereka tampak menyerah terhadap kelelahan, dan menyemangati mereka ketika kesulitan tampaknya datang. Bernyanyi mengingatkan kita bahwa kita adalah Gereja yang sedang dalam perjalanan, sebuah kenyataan sinodal yang autentik yang mampu berbagi dengan semua orang panggilan untuk memuji dan bersukacita dalam peziarahan kasih dan pengharapan ini.

 

Santo Ignatius dari Antiokhia juga menggunakan kata-kata yang menyentuh untuk mengungkapkan hubungan antara nyanyian paduan suara dan kesatuan Gereja: “Dari kesatuan dan kasihmu yang selarah, bernyanyilah bagi Yesus Kristus. Dan biarlah masing-masing menjadi paduan suara, sehingga dengan selaras dalam aransemenmu dan menyanyikan nyanyian Allah dalam kesatuan, dengan satu suara kamu dapat bernyanyi bagi Bapa melalui Yesus Kristus, agar Ia dapat mendengar dan mengenalimu karena perbuatan baikmu” (Santo Ignatius dari Antiokhia, Ad Ephesios, IV). Sesungguhnya, aneka suara dalam paduan suara saling selaras, menghasilkan satu madah pujian, sebuah lambang Gereja yang bercahaya, yang menyatukan semua orang dalam kasih dalam satu melodi yang menyenangkan.

 

Kamu termasuk dalam paduan suara yang menjalankan pelayanan mereka terutama dalam konteks liturgis. Pelayananmu adalah pelayanan sejati yang membutuhkan persiapan, komitmen, saling pengertian, dan, yang terpenting, kehidupan rohani yang mendalam, sehingga ketika bernyanyi, kamu berdoa sekaligus membantu semua orang untuk berdoa. Pelayanan ini menuntut disiplin dan semangat melayani, terutama saat mempersiapkan liturgi khidmat atau acara penting dalam komunitasmu. Paduan suara adalah keluarga kecil yang dipersatukan oleh kecintaan mereka pada musik dan pelayanan yang mereka berikan. Namun, ingatlah bahwa komunitas adalah keluargamu yang lebih besar. Kamu tidak berada di atas panggung, melainkan bagian dari komunitas itu, berusaha membantunya bertumbuh dalam kesatuan dengan menginspirasi dan melibatkan para anggotanya. Seperti dalam semua keluarga, ketegangan atau kesalahpahaman kecil dapat muncul. Hal-hal ini normal ketika bekerja bersama dan berjuang untuk mencapai suatu tujuan. Kita dapat mengatakan sampai batas tertentu bahwa paduan suara melambangkan Gereja, yang, berjuang menuju tujuannya, berjalan melalui sejarah memuji Allah. Bahkan ketika perjalanan ini dipenuhi oleh kesulitan dan pencobaan dan saat-saat yang menyenangkan memberi jalan kepada saat-saat yang lebih menantang, bernyanyi membuat perjalanan lebih ringan, memberikan kelegaan dan penghiburan.

 

Oleh karena itu, berusahalah agar paduan suaramu senantiasa selaras dan indah, serta menjadi gambaran Gereja yang lebih cemerlang dalam memuji Tuhannya. Pelajarilah Magisterium dengan saksama. Dokumen-dokumen konsili menetapkan norma-norma untuk melaksanakan pelayananmu sebaik mungkin. Terutama, baktikanlah dirimu untuk memfasilitasi partisipasi umat Allah, tanpa menyerah pada godaan pamer, yang menghalangi seluruh jemaat liturgi untuk berpartisipasi aktif dalam nyanyian. Dalam hal ini, jadilah tanda doa Gereja yang mengesankan, yang mengungkapkan kasihnya kepada Allah melalui keindahan musik. Jagalah agar kehidupan rohanimu senantiasa selaras dengan pelayanan yang kamu laksanakan, sehingga pelayananmu dapat secara autentik mengungkapkan rahmat liturgi.

 

Saya menempatkan kamu semua di bawah perlindungan Santa Sesilia, perawan dan martir yang telah melantunkan kidung kasih yang terindah melalui hidupnya di Roma, menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Kristus dan mempersembahkan teladan iman dan kasih yang cemerlang kepada Gereja. Marilah kita terus bernyanyi dan sekali lagi menjadikan undangan dari mazmur tanggapan hari ini sebagai mazmur kita: “Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita.”

______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 November 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXXIII (MISA YUBILEUM ORANG MISKIN - HARI ORANG MISKIN SEDUNIA IX) 16 November 2025

Bacaan Ekaristi : Mal. 4:1-2a; Mzm. 98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari-hari Minggu terakhir tahun liturgi mengundang kita untuk melihat akhir sejarah. Dalam Bacaan Pertama, Nabi Maleakhi melihat kedatangan "hari Tuhan" sebagai awal dari sebuah era baru. Hari itu digambarkan sebagai waktu Allah, ketika, bagaikan fajar yang memancarkan surya kebenaran, pengharapan orang-orang miskin dan rendah hati akan menerima jawaban akhir dan definitif dari Tuhan, dan perbuatan orang fasik serta ketidakadilan mereka, terutama terhadap orang-orang yang tak berdaya dan miskin, akan ditumpas dan dibakar seperti jerami.

 

Surya kebenaran yang terbit ini, sebagaimana kita ketahui, adalah Yesus sendiri. Hari Tuhan, sesungguhnya, bukan hanya hari terakhir sejarah; hari Tuhan adalah semakin mendekatnya Kerajaan Allah bagi setiap orang dalam kedatangan Putra Allah. Dalam Bacaan Injil, dengan menggunakan bahasa apokaliptik yang khas pada zaman-Nya, Yesus mewartakan dan menginagurasikan Kerajaan ini. Dia sendiri adalah kuasa Allah, yang hadir dan berperan aktif dalam peristiwa-peristiwa dramatis sejarah. Peristiwa-peristiwa ini hendaknya tidak menakutkan para murid, melainkan memampukan mereka untuk bertekun dalam kesaksian mereka, karena mereka tahu bahwa janji Yesus selalu hidup dan setia: "Tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang" (Luk. 21:18).

 

Saudara-saudari, kita berlabuh dalam pengharapan ini, terlepas dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang terkadang malang. Bahkan dewasa ini, "dengan mengembara di antara penganiayaan dunia dan hiburan yang diterimanya dari Allah Gereja maju. Gereja mewartakan salib dan wafat Tuhan, hingga Ia datang" (Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, 8). Dan ketika segenap pengharapan manusia tampaknya padam, keyakinan ini, yang lebih teguh daripada langit dan bumi, menjadi semakin kuat, karena Tuhan tidak akan membiarkan sehelai pun dari rambut kepala kita hilang.

 

Di tengah penganiayaan, penderitaan, pergumulan, dan penindasan dalam kehidupan pribadi kita dan dalam masyarakat, Allah tidak meninggalkan kita. Ia menyatakan diri-Nya sebagai yang berada di pihak kita. Kitab Suci dijalin dengan benang emas yang menceritakan kisah Allah, yang selalu berpihak kepada orang kecil, anak yatim, pendatang, dan janda (bdk. Ul. 10:17-19). Dan dalam Yesus, Putra-Nya, kedekatan Allah mencapai puncak kasih. Karena itu, kehadiran dan sabda Kristus menjadi kegembiraan dan yubileum bagi orang yang paling miskin, karena Ia datang untuk mewartakan kabar baik kepada orang-orang miskin dan memberitakan tahun rahmat Tuhan (bdk. Luk 4:18-19).

 

Secara istimewa hari ini kita juga sedang berpartisipasi dalam tahun rahmat ini, saat kita merayakan Yubileum Orang Miskin pada Hari Orang Miskin Sedunia ini. Selagi seluruh Gereja bergembira dan bersukacita, khususnya kepadamu, saudara-saudari terkasih, saya ingin mewartakan sabda Tuhan Yesus sendiri yang tak terbantahkan: "Dilexi te, Aku mengasihi engkau" (Why 3:9). Ya, di hadapan kekecilan dan kemiskinan kita, Allah memandang kita tiada taranya dan mencintai kita dengan kasih yang kekal. Dan Gereja-Nya, bahkan hingga saat ini, mungkin khususnya di zaman kita, yang masih terluka oleh bentuk kemiskinan lama dan baru, berharap untuk menjadi "bunda orang miskin, tempat penyambutan dan keadilan" (Seruan Apostolik Dilexi Te, 39).

 

Sangat banyak bentuk kemiskinan menindas dunia kita! Pertama dan terutama adalah bentuk-bentuk kemiskinan materi, tetapi ada juga banyak situasi kemiskinan moral dan spiritual, yang seringkali memengaruhi orang muda dengan cara tertentu. Tragedi yang melanda mereka semua adalah kesepian. Kita ditantang untuk memandang kemiskinan secara menyeluruh, karena meskipun terkadang memang perlu untuk menanggapi kebutuhan mendesak, kita juga harus mengembangkan budaya perhatian, justru untuk meruntuhkan tembok kesepian. Maka, marilah kita memperhatikan sesama, setiap orang, di mana pun kita berada, di mana pun kita tinggal, menularkan sikap ini dalam keluarga kita, menghidupinya di tempat kerja dan lingkungan akademis, di berbagai komunitas, di dunia digital, di mana pun, menjangkau mereka yang terpinggirkan dan menjadi saksi kelembutan Allah.

 

Dewasa ini, skenario perang, yang sayangnya terjadi di berbagai wilayah di dunia, tampaknya semakin menegaskan bahwa kita berada dalam kondisi ketidakberdayaan. Namun, globalisasi ketidakberdayaan muncul dari sebuah kebohongan, dari keyakinan bahwa sejarah selalu seperti ini dan tidak dapat diubah. Bacaan Injil, di sisi lain, mengingatkan kita bahwa justru dalam pergolakan sejarahlah Tuhan datang untuk menyelamatkan kita. Dan dewasa ini, sebagai komunitas kristiani, bersama orang miskin, kita harus menjadi tanda yang hidup keselamatan ini.

 

Kemiskinan menantang umat kristiani, tetapi juga menantang semua orang yang bertanggung jawab dalam masyarakat. Saya mendesak para kepala negara dan para pemimpin bangsa untuk mendengarkan jeritan orang yang paling miskin. Tidak akan ada perdamaian tanpa keadilan, dan orang miskin mengingatkan kita akan hal ini dalam banyak cara, melalui migrasi maupun melalui jeritan mereka, yang seringkali diredam oleh mitos kesejahteraan dan kemajuan yang tidak mempertimbangkan semua orang, dan justru melupakan banyak individu, membiarkan mereka menghadapi nasib mereka sendiri.

 

Kepada para pekerja amal, begitu banyak relawan, dan orang-orang yang berupaya meringankan beban hidup orang-orang yang paling miskin, saya menyampaikan rasa terima kasih, sekaligus mendorong untuk terus menjadi suara hati yang kritis bagi masyarakat. Kamu semua tahu betul persoalan orang miskin berpangkal pada hakikat iman kita, karena mereka adalah daging Kristus sendiri dan bukan sekadar kategori sosiologis (bdk. Dilexi Te, 110). Karena itulah, “Gereja, bagaikan seorang ibu, mendampingi mereka yang sedang berjalan. Di mana dunia melihat ancaman, ia melihat anak-anak; di mana tembok dibangun, ia membangun jembatan” (idem, 75).

 

Marilah kita semua bersatu dalam komitmen ini. Sebagaimana ditulis Rasul Paulus kepada umat kristiani di Tesalonika (bdk. 2Tes. 3:6-13): sambil menantikan kedatangan Tuhan yang mulia, kita tidak boleh hidup tertutup, dalam keterasingan religius yang mengasing kita dari sesama dan sejarah. Sebaliknya, mencari Kerajaan Allah menyiratkan keinginan untuk mengubah hidup berdampingan manusiawi menjadi ruang persaudaraan dan martabat bagi semua orang, tanpa terkecuali. Selalu ada bahaya hidup seperti pendatang yang kehilangan arah, tidak peduli dengan tujuan akhir dan pada orang-orang yang ambil bagian dalam perjalanan bersama kita.

 

Dalam Yubileum Orang Miskin ini, marilah kita terinspirasi oleh kesaksian para kudus yang melayani Kristus dalam diri orang-orang yang paling membutuhkan dan mengikuti-Nya di jalan kerendahan hati dan penyangkalan diri. Secara khusus, saya ingin menyebut Santo Benediktus Joseph Labre, yang hidup sebagai "pengembara Allah", mencirikannya sebagai santo pelindung para tunawisma. Perawan Maria, melalui Magnificat-nya, terus mengingatkan kita akan pilihan-pilihan Allah dan telah menjadi suara bagi orang-orang yang tak bersuara. Semoga Maria membantu kita merangkul cara berpikir baru Kerajaan Allah, sehingga dalam kehidupan kristiani kita, kasih Allah, yang menyambut, membalut luka, mengampuni, menghibur, dan menyembuhkan, senantiasa hadir.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 16 November 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PERINGATAN WAJIB SANTO MARTINUS DARI TOURS (MISA 125 TAHUN PEMBERKATAN GEREJA SANTO ANSELMUS ROMA) 11 November 2025

Bacaan Ekaristi : Yeh 43:1-2,4-7a; 1Ptr 2:4-9; Mat. 16:13-20.

 

"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku" (Mat 16:18). Saudara-saudari terkasih, kita telah mendengar sabda Yesus ini saat kita memperingati 125 tahun pemberkatan gereja ini, yang sangat dinantikan oleh Paus Leo XIII, yang mendukung pembangunannya.

 

Ia bermaksud agar bangunan ini, beserta bangunan Kolese Internasional yang diambil alih, berkontribusi dalam memperkuat kehadiran Benediktin dalam Gereja dan dunia, melalui persatuan yang semakin erat dalam Konfederasi Benediktin. Inilah tujuan dibentuknya pelayanan rahib utama. Ia percaya tarekatmu yang telah lama didirikan dapat memberikan pelayanan yang luar biasa bagi kesejahteraan seluruh umat Allah di masa yang penuh tantangan, seperti peralihan dari abad ke-19 menuju abad ke-20.

 

Memang, monastisisme, sejak awal, telah menjadi kenyataan "perbatasan", yang mendorong para manusia pemberani untuk mendirikan pusat doa, karya, dan amal di tempat-tempat paling terpencil dan sulit dijangkau, yang seringkali mengubah daerah-daerah terpencil menjadi tanah yang subur dan kaya, baik secara pertanian maupun ekonomi, tetapi terutama secara rohani. Dengan demikian, biara semakin menjadi tempat pertumbuhan, kedamaian, keramahtamahan, dan persatuan, bahkan di masa-masa tergelap dalam sejarah.

 

Zaman kita pun tak luput dari tantangan. Perubahan mendadak yang kita saksikan menantang dan mempertanyakan kita, memunculkan isu-isu yang sebelumnya tak terlihat. Perayaan ini mengingatkan kita bahwa, seperti Rasul Petrus, dan bersamanya Benediktus dan begitu banyak orang lainnya, kita juga dapat menanggapi tuntutan panggilan yang telah kita terima hanya dengan menempatkan Kristus di pusat keberadaan dan perutusan kita, dimulai dengan tindakan iman yang membuat kita mengakui-Nya sebagai Juruselamat dan menerjemahkannya ke dalam doa, studi, dan komitmen untuk hidup kudus.

 

Di sini, semua ini dicapai dengan berbagai cara: pertama dalam liturgi, kemudian dalam lectio divina, dalam penelitian, dalam reksa pastoral, dengan melibatkan para rahib dari seluruh dunia dan dengan keterbukaan terhadap para klerus, biarawan dan biarawati, serta kaum awam dari berbagai latar belakang dan keadaan. Biara, Athenaeum, Institut Liturgi, dan kegiatan-kegiatan pastoral yang terkait dengan Gereja, sesuai dengan ajaran Santo Benediktus, harus semakin bertumbuh dalam sinergi sebagai "sekolah pelayanan kepada Allah" yang sejati (Santo Benediktus, Peraturan, Pendahuluan, 45).

 

Karena alasan ini, saya merenungkan kerumitan yang kita temukan sebagai kenyataan yang harus bercita-citakan menjadi jantung yang berdetak dalam tubuh agung dunia Benediktin, yang berpusat, menurut ajaran Santo Benediktus, pada Gereja.

 

Bacaan Pertama (bdk. Yeh 43:1-2,4-7a) menyajikan kepada kita gambaran sungai yang mengalir dari Bait Suci. Gambaran ini selaras dengan gambaran jantung yang memompa darah kehidupan ke seluruh tubuh, sehingga setiap anggota dapat menerima makanan dan kekuatan untuk kepentingan yang lain (bdk. 1Kor 12:20-27); serta dengan gambaran bangunan rohani yang dibicarakan dalam Bacaan Kedua, yang didirikan di atas batu karang yang kokoh yaitu Kristus (bdk. 1Ptr 2:4-9).

 

Dalam sarang Santo Anselmus yang penuh semangat, semoga inilah tempat dari mana segala sesuatu bermula dan ke mana segala sesuatu kembali untuk menemukan verifikasi, konfirmasi, dan pendalaman di hadapan Allah, sebagaimana dianjurkan Santo Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Athenaeum Kepausan dalam rangka peringatan seratus tahun berdirinya. Merujuk pada santo pelindungnya, ia berkata: "Santo Anselmus mengingatkan semua orang [...] bahwa pengetahuan akan misteri ilahi bukanlah sekadar pencapaian kejeniusan manusia, melainkan anugerah yang diberikan Allah kepada orang-orang yang rendah hati dan umat beriman" (Pidato, 1 Juni 1986).

 

Sebagaimana telah disebutkan, ia merujuk pada ajaran Doktor Aosta, tetapi kita berharap bahwa ini juga akan menjadi pesan kenabian yang dibawa lembaga ini kepada Gereja dan dunia, sebagai pemenuhan misi yang telah kita semua terima, untuk menjadi umat yang diperoleh Allah agar kita dapat mewartakan karya-karya agung Dia yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (bdk. 1 Ptr 2:9).

 

Pemberkatan sebuah bangunan suci, yang di dalamnya ia dikuduskan sebagai tempat pertemuan antara ruang dan waktu, antara yang terbatas dan yang tak terbatas, antara manusia dan Allah: sebuah pintu terbuka menuju keabadian, tempat jiwa menemukan jawaban atas "tegangan antara segala kejadian saat ini dan cahaya waktu, cakrawala yang lebih luas [...] yang terbuka pada masa depan sebagai sebab akhir yang menarik kita pada dirinya" (Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 222) dalam perjumpaan antara kepenuhan dan keterbatasan yang menyertai perjalanan duniawi kita adalah momen khidmat dalam sejarah.

 

Konsili Vatikan II menggambarkan semua ini dalam salah satu bagian terindahnya, ketika mendefinisikan Gereja bersifat "sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir […] sedemikian rupa sehingga dalam Gereja apa yang insani diarahkan dan diabdikan kepada yang ilahi, apa yang kelihatan kepada yang tidak nampak, apa yang termasuk kegiatan kepada kontemplasi, dan apa yang ada sekarang kepada kota yang akan datang, yang sedang kita cari" (Sacrosanctum Concilium, 2).

 

Itulah pengalaman hidup kita dan hidup manusia di dunia ini, dalam pencarian jawaban hakiki dan mendasar yang dapat dinyatakan "bukan oleh daging maupun darah", melainkan hanya oleh Bapa yang di surga (bdk. Mat 16:17); yang pada akhirnya membutuhkan Yesus, "Kristus, Anak Allah yang hidup" (ayat 16). Kita dipanggil untuk mencari Dia dan kepada-Nya kita dipanggil untuk membawa semua orang yang kita jumpai, bersyukur atas karunia yang telah Ia berikan kepada kita, dan terutama atas kasih yang telah lebih dulu Ia berikan kepada kita (bdk. Rm 5:6). Bait suci ini kemudian akan semakin menjadi tempat sukacita, tempat kita mengalami keindahan berbagi dengan orang lain apa yang telah kita terima dengan cuma-cuma (bdk. Mat 10:8).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 November 2025)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PESTA PEMBERKATAN BASILIKA LATERAN 9 November 2025

Bacaan Ekaristi : Yeh. 47:1-2.8-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9c-11,16-17; Luk. 19:1-10.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran, yang berlangsung pada abad keempat oleh Paus Silvester I. Basilika ini, yang kemudian dikenal sebagai Katedral Roma, dibangun atas perintah Kaisar Konstantinus, setelah ia memberikan kebebasan kepada umat kristiani untuk menganut iman dan menjalankan agama mereka pada tahun 313.

 

Mengapa kita memperingati peristiwa ini hingga saat ini? Tentu saja untuk mengenang, dengan penuh sukacita dan rasa syukur, sebuah peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi kehidupan Gereja, tetapi ini bukan satu-satunya alasan. Basilika ini, sesungguhnya, "Bunda segala Gereja," lebih dari sekadar monumen atau tugu peringatan bersejarah. Basilika ini adalah "tanda Gereja yang hidup, yang dibangun dengan batu-batu pilihan dan berharga di dalam Kristus Yesus, sang batu penjuru (bdk. 1 Ptr 2:4-5)" (Konferensi Wali Gereja Italia, Ritus Pemberkatan Minyak dan Pemberkatan Gereja dan Altar, Pendahuluan). Dengan demikian, Basilika ini mengingatkan kita bahwa kita juga bagaikan "batu-batu yang hidup dibangun di dunia ini ... yang dibangun menjadi" bait rohani (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 6). Karena alasan ini, sebagaimana dicatat Santo Paulus VI, komunitas kristen perdana segera mulai menerapkan "nama Gereja, yang berarti perkumpulan umat beriman, terhadap bait yang menghimpun mereka" (Doa Malaikat Tuhan, 9 November 1969). Komunitas gerejawi, "Gereja, persekutuan umat beriman, [yang] memberi Basilika Santo Yohanes Lateran struktur eksternalnya yang paling kokoh dan mencolok" (idem). Oleh karena itu, saat kita memandang bangunan ini, marilah kita merenungkan apa artinya menjadi Gereja dalam terang bacaan-bacaan hari ini.

 

Pertama-tama, marilah kita membahas dasarnya. Pentingnya dasar ini jelas, bahkan agak meresahkan. Jika para pembangun tidak menggali cukup dalam untuk menemukan dasar yang kokoh untuk membangun sisanya, seluruh bangunan pasti sudah runtuh sejak lama atau berisiko runtuh kapan saja, yang akan menempatkan kita dalam bahaya besar. Untungnya, para pendahulu kita telah meletakkan dasar yang kokoh bagi Katedral kita, menggali dalam-dalam dengan susah payah sebelum membangun tembok-tembok yang menyambut kita, dan ini membuat kita merasa jauh lebih tenang.

 

Hal ini patut direnungkan. Sebagai pekerja di dalam Gereja yang hidup, kita juga harus terlebih dahulu menggali dalam-dalam diri kita dan di sekitar kita sebelum kita dapat membangun struktur yang mengesankan. Kita harus menyingkirkan material yang tidak stabil yang akan menghalangi kita mencapai batu karang Kristus yang kokoh (bdk. Mat. 7:24-27). Inilah tepatnya yang dibicarakan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua ketika ia berkata bahwa "tidak seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus" (1Kor. 3:11). Ini berarti senantiasa kembali kepada Yesus dan Injil-Nya serta taat kepada karya Roh Kudus. Jika tidak, kita berisiko membebani bangunan dengan struktur berat karena penopang dasarnya terlalu lemah.

 

Saudara-saudari terkasih, seraya kita giat melayani Kerajaan Allah, marilah kita tidak tergesa-gesa atau dangkal. Marilah kita menggali lebih dalam, tanpa terhalang oleh kriteria duniawi, yang terlalu sering menuntut hasil instan dan mengabaikan kebijaksanaan menunggu. Sejarah Gereja selama seribu tahun mengajarkan kita bahwa dengan pertolongan Allah, komunitas iman sejati hanya dapat dibangun dengan kerendahan hati dan kesabaran. Komunitas semacam itu mampu menyebarkan kasih, mengembangkan misi, mewartakan, merayakan, dan melayani Magisterium Apostolik yang bait suci ini merupakan pusatnya (bdk. Doa Malaikat Tuhan, 9 November 1969).

 

Adegan yang disajikan kepada kita dalam Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10) terutama mencerahkan dalam hal ini: Zakheus, orang yang kaya dan berkuasa, tergerak untuk bertemu Yesus. Namun, ia menyadari bahwa ia terlalu pendek untuk bertemu Yesus sehingga memutuskan untuk memanjat pohon. Ini adalah tindakan yang tidak biasa dan tidak pantas bagi seseorang dengan kedudukannya yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya di kantor cukai seolah-olah itu adalah haknya. Namun kali ini, jalannya lebih panjang dan memanjat dahan pohon berarti Zakheus menyadari keterbatasannya dan mengatasi hambatan kesombongannya. Dengan demikian, ia dapat bertemu Yesus, yang berkata kepadanya, "Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu" (ayat 5). Perjumpaan itu menandai awal kehidupan baru bagi Zakheus (bdk. ayat 8).

 

Ketika Yesus memanggil kita untuk ambil bagian dalam rancangan besar Allah, Ia mengubah kita dengan membentuk kita secara terampil sesuai dengan rencana keselamatan-Nya. Dalam beberapa tahun terakhir, gambaran "lokasi pembangunan" sering digunakan untuk menggambarkan perjalanan gerejawi kita. Gambaran indah ini berbicara tentang aktivitas, kreativitas, dan dedikasi, serta kerja keras dan terkadang masalah rumit yang harus dipecahkan. Gambaran ini menangkap upaya nyata dan kasat mata dari komunitas kita yang bertumbuh setiap hari, membagikan karisma mereka di bawah bimbingan para gembala mereka. Gereja Roma, khususnya, menjadi saksi akan hal ini dalam tahap pelaksanaan Sinode saat ini. Apa yang telah matang selama bertahun-tahun kerja kini perlu diuji dan dievaluasi "di lapangan." Ini menyiratkan perjalanan yang berat, tetapi kita tidak boleh berkecil hati. Sebaliknya, kita harus terus melanjutkan dengan keyakinan dalam upaya kita untuk bertumbuh bersama.

 

Pembangunan gedung megah tempat kita berada ini telah mengalami banyak momen kritis, penundaan, dan perubahan terhadap rencana awal. Namun, berkat kegigihan para pendahulu kita, kini kita dapat berkumpul di tempat yang luar biasa ini. Di Roma, kebaikan yang luar biasa sedang bertumbuh berkat upaya banyak orang. Janganlah kita biarkan kelelahan menghalangi kita untuk mengakui dan merayakan kebaikan ini, agar kita dapat memelihara dan memperbarui antusiasme kita. Bagaimanapun, melalui amal kasih dalam tindakan wajah Gereja kita dibentuk, membuatnya semakin jelas bagi semua orang bahwa ia adalah seorang "ibu", "ibu dari semua Gereja", atau bahkan seorang "ibu", sebagaimana dikatakan Santo Yohanes Paulus II ketika berbicara kepada anak-anak pada pesta ini (bdk. Wejangan pada Pesta Pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran, 9 November 1986).

 

Akhirnya, saya ingin menyebutkan aspek hakiki misi Katedral: liturgi. Liturgi adalah "puncak yang dituju kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya-kekuatannya" (Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10). Di dalamnya, kita menemukan tema-tema yang sama yang telah kita sebutkan: kita dibangun sebagai kenisah suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai kita mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (bdk. idem, 2). Oleh karena itu, pemeliharaan liturgi, khususnya di sini di Takhta Petrus, haruslah sedemikian rupa sehingga dapat menjadi teladan bagi seluruh umat Allah. Liturgi harus selaras dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan, memperhatikan perbedaan kepekaan para peserta, dan berpegang teguh pada prinsip inkulturasi yang bijaksana (bdk. idem, 37-38). Pada saat yang sama, ia harus tetap setia pada kesederhanaan khidmat yang khas tradisi Romawi, yang dapat mendatangkan begitu banyak kebaikan bagi jiwa-jiwa mereka yang berpartisipasi aktif di dalamnya (bdk. idem, 14). Hendaknya diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar keindahan ritus-ritus yang sederhana mengungkapkan nilai ibadat bagi pertumbuhan yang harmonis seluruh tubuh Tuhan. Sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, "keindahan tak lain adalah kasih, dan kasih adalah hidup" (Kuliah 365, 1). Kebenaran ini diwujudkan secara istimewa dalam liturgi, dan saya berharap orang-orang yang mendekati altar Katedral Roma pulang dengan dipenuhi rahmat untuk melimpahi dunia sesuai kehendak Tuhan (bdk. Yeh. 47:1-2, 8-9, 12).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 November 2025)