Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XIV (MISA UNTUK UMAT KONGO DI ROMA) 3 Juli 2022 : TIGA KEJUTAN MISIONER

Bacaan Ekaristi : Yes. 66:10-14c; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-12,17-20.

 

NB : berhubung Paus Fransiskus masih mengalami cedera kaki yang tidak memungkinkannya untuk berdiri lama, Misa dipersembahkan oleh Uskup Agung Mgr. Richard Gallagher.

 

Bobóto [Kedamaian] R / Bondeko [Persaudaraan]

Bondéko [Persaudaraan] R / Esengo [Sukacita]

 

Saya senang, sukacita : sabda Allah yang telah kita dengar memenuhi kita dengan sukacita. Mengapa, saudara-saudari? Karena, seperti dikatakan Yesus dalam Bacaan Injil, "Kerajaan Allah sudah dekat" (Luk 10:11). Kerajaan Allah dekat : tetapi belum tercapai, sebagian tersembunyi, tetapi dekat dengan kita. Dan kedekatan Allah di dalam Yesus ini, kedekatan Allah yang adalah Yesus ini, adalah sumber sukacita kita : kita dikasihi dan kita tidak pernah ditinggalkan sendirian. Tetapi sukacita yang berasal dari kedekatan Allah, seraya memberikan kedamaian, tidak membiarkanmu dalam kedamaian. Sukacita tersebut memberi kedamaian dan tidak meninggalkan kita sendirian, sukacita tertentu. Sukacita tersebut menyebabkan titik balik dalam diri kita : dipenuhi dengan keheranan, kejutan, mengubah kehidupan.

 

Dan perjumpaan dengan Tuhan adalah awal yang berkelanjutan, langkah maju yang berkelanjutan. Tuhan selalu mengubah hidup kita. Inilah apa yang terjadi pada para murid dalam Bacaan Injil : untuk mewartakan kedekatan Allah mereka pergi jauh, mereka pergi bermisi. Karena barang siapa yang menyambut Yesus merasa harus meneladani-Nya, berbuat apa yang Ia perbuat, karena Ia meninggalkan surga untuk melayani kita di bumi, dan Ia keluar dari diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, jika kita bertanya pada diri kita apa tugas kita di dunia, apa yang harus kita perbuat sebagai Gereja dalam sejarah, Bacaan Injil menjawab dengan jelas : misi. Pergi bermisi, mewartakan, mengumandangkan bahwa Yesus berasal dari Bapa.

 

Sebagai orang Kristiani kita tidak bisa berpuas dengan hidup dalam keadaan biasa-biasa saja. Dan ini adalah sebuah penyakit; begitu banyak orang Kristiani, kita juga memiliki bahaya hidup dalam keadaan biasa-biasa saja, berurusan dengan kemungkinan dan kenyamanan kita, hidup untuk hari ini. Tidak, kita adalah para misionaris Yesus. Kita semua adalah para misionaris Yesus. Tetapi kamu dapat mengatakan : "Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, aku tidak mampu!". Bacaan Injil masih membuat kita heran, menunjukkan kepada kita Tuhan yang mengutus murid-murid tanpa menunggu mereka siap dan terlatih dengan baik : mereka sudah lama tidak bersama-Nya, namun Ia mengutus mereka. Mereka belum belajar teologi, namun Ia mengutus mereka. Dan cara Ia mengutus mereka juga penuh kejutan. Oleh karena itu kita menangkap tiga kejutan, tiga hal yang membuat kita heran, tiga kejutan misioner yang disediakan Yesus untuk murid-murid-Nya dan disediakan untuk kita masing-masing jika kita mendengarkan-Nya.

 

Kejutan pertama : perlengkapan. Untuk bermisi di tempat yang tidak diketahui, kamu perlu membawa beberapa benda, tentu saja benda yang penting. Sebaliknya, Yesus tidak mengatakan apa yang harus dibawa, tetapi apa yang tidak boleh dibawa : "Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut" (ayat 4). Hampir tidak ada : tidak ada bagasi, tidak ada keamanan, tidak ada bantuan. Kita sering berpikir bahwa prakarsa gerejawi kita tidak berjalan dengan baik karena ketiadaan tatanan, uang dan sarana : ini tidak benar. Penyangkalan datang dari Yesus sendiri. Saudara, saudari, kita tidak percaya pada kekayaan dan kita tidak takut pada kemiskinan, baik material maupun manusiawi. Semakin kita bebas dan sederhana, kecil dan rendah hati, semakin Roh Kudus membimbing misi dan menjadikan kita pelaku utama dari keheranannya. Tinggalkan ruang untuk Roh Kudus!

 

Bagi Kristus, perlengkapan dasar kita bukan itu : saudara. Hal ini membuat penasaran. "Ia mengutus mereka berdua-dua" (ayat 1), kata Bacaan Injil. Tidak sendirian, tidak sendirian, selalu bersama saudara di sampingnya. Tidak pernah tanpa saudara, karena tidak ada misi tanpa persekutuan. Tidak ada dikatakan bahwa misi berhasil tanpa memperhatikan orang lain. Jadi kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : sebagai seorang Kristiani, apakah aku lebih memikirkan ketiadaanku untuk hidup dengan baik, atau apakah aku memikirkan untuk dekat dengan saudara-saudaraku, peduli terhadap mereka?

 

Kita sampai pada kejutan kedua perutusan : pesan. Masuk akal memikirkan bahwa, untuk mempersiapkan pewartaan, para murid harus belajar apa yang harus dikatakan, mempelajari isinya secara menyeluruh, menyiapkan khotbah yang meyakinkan dan diucapkan dengan baik. Ini benar. Saya juga melakukannya. Sebaliknya Yesus memberi mereka hanya dua frasa kecil. Yang pertama tampaknya bahkan berlebihan, karena merupakan salam : "Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: 'Damai sejahtera bagi rumah ini!'" (ayat 5). Artinya, Tuhan berketetapan untuk menampilkan diri, di mana saja, sebagai duta kedamaian. Seorang Kristiani selalu membawa kedamaian. Seorang Kristiani bekerja untuk membawa kedamaian ke tempat itu. Inilah tanda yang membedakan : orang Kristiani adalah pembawa kedamaian, karena Kristus adalah kedamaian. Dari sini kita mengenali jika kita berasal dari Dia. Sebaliknya, jika kita menyebarkan gosip dan kecurigaan, kita menciptakan perpecahan, kita menghalangi persekutuan, kita menempatkan milik kita di atas segalanya, kita tidak bertindak dalam nama Yesus. Kedamaian. Hari ini, saudara-saudari terkasih, marilah kita berdoa untuk kedamaian dan rekonsiliasi di tanah airmu, di Republik Demokratik Kongo yang terluka dan tereksploitasi. Kita bergabung dengan Misa yang dirayakan di negara itu sesuai dengan ujud ini dan berdoa agar orang Kristiani menjadi saksi kedamaian, yang mampu mengatasi perasaan balas dendam, mengatasi godaan bahwa rekonsiliasi tidak mungkin, keterikatan yang tidak sehat dengan kelompok mereka sendiri yang mengarah pada meremehkan orang lain.

 

Saudara, saudari, kedamaian dimulai dari diri kita; kedamaian dimulai dengan dirimu dan saya, kita masing-masing, hati kita masing-masing. Jika kamu menjalani kedamaian-Nya, Yesus datang dan keluargamu, masyarakatmu berubah. Mereka berubah jika hatimu tidak berperang sejak awal, tidak dipersenjatai dengan kebencian dan kemarahan, tidak terbagi-bagi, tidak ganda, tidak keliru. Menempatkan kedamaian dan ketertiban dalam hati, meredakan keserakahan, memadamkan kebencian dan dendam, menghindari korupsi, menghindari kecurangan dan kelicikan: di sinilah kedamaian dimulai. Kita ingin selalu bertemu dengan orang-orang yang lemah lembut, baik, penuh kedamaian, dimulai dari kerabat dan sesama kita. Tetapi Yesus berkata : “Kamu membawa kedamaian ke rumahmu, kamu mulai menghormati istrimu dan mencintainya dengan hatinya, menghormati dan merawat anak-anak, orang tua dan sesama. Saudara-saudari, tolong hidup dalam kedamaian, nyalakan kedamaian dan kedamaian akan bersemayam di rumahmu, dalam Gerejamu, di negaramu”.

 

Setelah salam damai, semua pesan yang dipercayakan kepada para murid dirangkum menjadi beberapa kata yang di dalamnya kita memulai dan yang diulangi Yesus sebanyak dua kali : "Kerajaan Allah sudah dekat denganmu! […] Kerajaan Allah sudah dekat” (ayat 9.11). Mewartakan kedekatan Allah, yang merupakan gaya-Nya; Gaya Allah jelas: kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Ini adalah gaya Allah. Mewartakan kedekatan Allah adalah hal yang hakiki. Harapan dan pertobatan berasal dari sini : dari percaya bahwa Allah dekat dan menjaga kita : Ia adalah Bapa kita semua, yang menginginkan kita semua bersaudara. Jika kita hidup di bawah tatapan ini, dunia tidak akan lagi menjadi medan perang, tetapi taman kedamaian; sejarah tidak akan menjadi perlombaan untuk mencapai garis akhir paling dulu, tetapi sebuah peziarahan bersama. Semua ini - marilah kita ingat dengan baik - tidak membutuhkan khotbah yang bagus, tetapi sedikit kata dan banyak kesaksian. Jadi kita bisa bertanya pada diri kita sendiri : apakah setiap orang yang bertemu denganku melihat aku sebagai saksi kedamaian dan kedekatan Allah atau orang yang gelisah, pemarah, tidak toleran, suka berperang? Apakah aku menunjukkan Yesus atau menyembunyikan-Nya dalam sikap suka berperang ini?

 

Setelah perlengkapan dan pesan, kejutan ketiga misi ini menyangkut gaya kita. Demi Dia, Yesus meminta untuk pergi ke dunia "seperti anak domba ke tengah-tengah serigala" (ayat 3). Akal sehat dunia mengatakan sebaliknya : memaksakan diri, mengungguli! Kristus, di sisi lain, membutuhkan domba, bukan serigala. Ia tidak bermaksud naif - tidak, tolong! - tetapi membenci setiap naluri supremasi dan penindasan, keserakahan dan kepemilikan. Ia yang hidup sebagai anak domba tidak menyerang, ia tidak rakus : ia berada di dalam kawanan, dengan orang lain, dan menemukan keamanan di dalam Gembala-Nya, bukan dalam kekuatan atau kesombongan, bukan dalam keserakahan akan uang dan barang yang juga menyebabkan begitu banyak merugikan Republik Demokratik Kongo. Murid Yesus menolak kekerasan, ia tidak menyakiti siapa pun - ia adalah orang yang penuh kedamaian - ia mengasihi semua orang. Dan jika hal ini tampak baginya sebagai pecundang, ia melihat Sang Gembalanya, Yesus, Anak Domba Allah yang dengan demikian menaklukkan dunia, di kayu salib. Jadi Ia memenangkan dunia. Dan apakah aku - marilah kita kembali bertanya pada diri kita sendiri - hidup sebagai anak domba, seperti Yesus, atau sebagai serigala, seperti yang diajarkan oleh roh dunia, roh yang membawa perang? Roh itu yang membuat perang, yang menghancurkan.

 

Semoga Tuhan membantu kita menjadi misionaris hari ini, pergi bersama saudara-saudari kita; memiliki kedamaian di bibirnya dan kedekatan dengan Allah; membawa dalam hati kelembutan dan kebaikan Yesus, Sang Anak Domba yang menghapus dosa dunia.

 

Moto azalí na matói ma koyóka [Siapa yang bertelinga hendaknya mendengar]

R / Ayoka [Berniat]

Moto azali na motém

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juli 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS, RASUL 29 Juni 2022 : BANGUNLAH SEGERA DAN MENGAKHIRI PERTANDINGAN YANG BAIK

Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

 

NB : berhubung Paus Fransiskus masih mengalami cedera kaki yang tidak memungkinkannya untuk berdiri lama, Misa dipersembahkan oleh Giovanni Battista Kardinal Re, Ketua Dewan Kardinal.

 

Kesaksian yang diberikan oleh dua Rasul besar Petrus dan Paulus hari ini menjadi hidup sekali lagi dalam liturgi Gereja. Petrus, yang dipenjarakan oleh Raja Herodes, diberitahu oleh seorang malaikat Tuhan : "Bangunlah segera!" (Kis 12:7), sementara Paulus, melihat kembali seluruh hidupnya dan kerasulan berkata : "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik" (2 Tim 4:7). Marilah kita merenungkan dua kalimat ini – “bangunlah segera” dan “mengakhiri pertandingan yang baik” – serta tanyakanlah apa yang hendaknya mereka katakan kepada komunitas Kristiani dewasa ini, yang terlibat dalam proses sinode.

 

Pertama, Kisah Para Rasul menceritakan kepada kita tentang malam ketika Petrus dibebaskan dari belenggu penjara. Seorang malaikat Tuhan menepuknya saat ia sedang tidur, dan membangunkannya, katanya, "Bangunlah segera!" (Kis 12:7). Malaikat itu membangunkan Petrus dan menyuruhnya bangun. Adegan itu mengingatkan kita pada Paskah, karena mengandung dua kata kerja yang ada dalam kisah kebangkitan : membangunkan dan bangun. Malaikat tersebut membangunkan Petrus dari tidur kematian dan mendesaknya untuk bangun, bangkit dan berangkat menuju terang, membiarkan dirinya dibimbing oleh Allah dalam melewati semua pintu tertutup di sepanjang jalan (bdk. ayat 10). Gambaran ini memiliki makna yang besar bagi Gereja. Kita juga, sebagai murid Tuhan dan komunitas Kristiani, dipanggil untuk segera bangun, masuk ke dalam misteri kebangkitan, dan membiarkan Tuhan membimbing kita di sepanjang jalan yang ingin ditunjukkan-Nya kepada kita.

 

Tetapi, kita mengalami banyak bentuk perlawanan batin yang menghalangi kita untuk berangkat. Kadang-kadang, sebagai Gereja, kita dikuasai oleh kemalasan; kita lebih suka duduk dan merenungkan beberapa hal pasti yang kita miliki, daripada bangun dan melihat cakrawala baru, menuju laut lepas. Seringkali kita seperti Petrus yang dirantai, terpenjara oleh kebiasaan kita, takut akan perubahan dan terikat pada rantai rutinitas kita. Hal ini secara diam-diam mengarah pada kerohanian yang biasa-biasa saja : kita menanggung risiko "santai saja" dan "cari aman", juga dalam karya pastoral kita. Antusiasme kita untuk perutusan berkurang, serta bukannya menjadi tanda vitalitas dan kreativitas, akhirnya tampak suam-suam kuku dan lesu. Kemudian, arus besar kebaruan dan kehidupan yang adalah Injil berada di tangan kita – menggunakan kata-kata Pastor de Lubac – iman yang “terjerumus ke dalam formalisme dan kebiasaan…, upacara keagamaan dan devosi, semarak keagamaan dan penghiburan yang vulgar … sebuah kekristenan yang klerikal, formalistik, lemah dan tidak berperasaan” (Drama Humanisme Ateis).

 

Sinode yang sekarang sedang kita rayakan memanggil kita untuk menjadi Gereja yang bangkit, Gereja yang tidak berbalik pada dirinya sendiri, tetapi mampu maju terus, meninggalkan penjaranya sendiri dan berangkat menemui dunia, dengan keberanian untuk membuka pintu. Pada malam yang sama, ada godaan lain (bdk. Kis 12:12-17) : gadis muda itu sangat girang sehingga, alih-alih membuka pintu, ia masuk ke dalam untuk menceritakan apa yang tampaknya seperti mimpi. Marilah kita membuka pintu. Tuhan memanggil. Semoga kita tidak seperti Rode yang kembali masuk ke dalam.

 

Sebuah Gereja tanpa rantai dan tembok, yang di dalamnya setiap orang dapat merasa disambut dan didampingi, sebuah Gereja tempat mendengarkan, dialog dan keikutsertaan dikembangkan di bawah otoritas tunggal Roh Kudus. Gereja yang bebas dan rendah hati, yang “segera bangun” dan tidak menunda-nunda atau bermalas-malasan menghadapi tantangan zaman sekarang. Gereja yang tidak berlama-lama di tempat kudusnya, tetapi terdorong oleh antusiasme untuk pewartaan Injil serta keinginan untuk berjumpa dan menerima semua orang. Janganlah kita melupakan kata tersebut : semua orang. Semua orang! Pergilah ke persimpangan jalan dan undanglah semua orang, orang buta, orang tuli, orang lumpuh, orang sakit, orang benar dan orang berdosa : semua orang! Sabda Tuhan ini seharusnya terus bergema di dalam hati dan pikiran kita : di dalam Gereja ada tempat untuk semua orang. Sering kali, kita menjadi sebuah Gereja dengan pintu terbuka, tetapi hanya untuk mengusir orang, mengutuk orang. Kemarin salah seorang dari kamu berkata kepada saya, “Ini bukan waktunya bagi Gereja untuk menjadi pengusir, ini saatnya untuk menyambut”. "Mereka tidak datang ke perjamuan ..." - jadi pergilah ke persimpangan jalan. Undanglah semua orang, semua orang! “Tetapi mereka adalah orang berdosa…” – Semua orang!

 

Dalam Bacaan Kedua, kita mendengar kata-kata Paulus yang, mengingat kembali seluruh hidupnya, mengatakan : "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik" (2 Tim 4:7). Rasul Paulus mengacu pada situasi yang tak terhitung jumlahnya, beberapa ditandai dengan penganiayaan dan penderitaan, di mana ia tidak menyayangkan dirinya dalam memberitakan Injil Yesus. Sekarang di akhir hidupnya, ia melihat bahwa "pertarungan" besar masih terjadi dalam sejarah, karena banyak yang tidak mau menerima Yesus, lebih suka mengejar kepentingan mereka sendiri dan mengikuti guru-guru lain, lebih akomodatif, lebih mudah, lebih terhadap kesukaan kita. Paulus telah berjuang dalam pertarungannya dan, sekarang ia telah mengakhiri pertandingannya, ia meminta Timotius dan saudara-saudara sekomunitas untuk melanjutkan pekerjaannya dengan perhatian yang penuh kewaspadaan, berkhotbah dan mengajar. Singkatnya, masing-masing orang melaksanakan perutusan yang telah ia terima; masing-masing orang harus melakukan bagiannya.

 

Nasihat Paulus juga merupakan sabda kehidupan bagi kita; nasihat Paulus membuat kita menyadari bahwa, di dalam Gereja, kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid misioner dan memberikan kontribusi kita. Di sini ada dua pertanyaan yang muncul di benak saya. Pertanyaan pertama : Apa yang dapat kulakukan untuk Gereja? Bukan berkeluh kesah tentang Gereja, tetapi berkomitmen terhadap Gereja. Ikut serta dengan semangat dan kerendahan hati : dengan semangat, karena kita tidak boleh tetap menjadi penonton yang pasif; dengan kerendahan hati, karena berkomitmen dalam komunitas tidak pernah berarti menjadi pusat perhatian, menganggap diri kita lebih baik dan menghalangi orang lain mendekat. Itulah yang dimaksud dengan Gereja sinodal : setiap orang memiliki peran untuk dimainkan, tidak ada individu yang menggantikan individu lain atau berada di atas individu lain. Tidak ada orang Kristiani kelas satu atau dua; semua orang telah dipanggil.

 

Ikut serta juga berarti melakukan “pertandingan yang baik” yang dibicarakan Paulus. Karena merupakan sebuah “pertarungan”, karena pemberitaan Injil tidak pernah netral – semoga Tuhan membebaskan kita dari mengencerkan Injil menjadi netral – pemberitaan Injil tidak pernah netral, tidak membiarkan hal-hal sebagaimana adanya; pemberitaan Injil tidak berkompromi dengan pemikiran dunia ini, melainkan menyalakan api kerajaan Allah di tengah permainan kekuasaan manusiawi, kejahatan, kekerasan, korupsi, ketidakadilan dan marginalisasi. Sejak Yesus bangkit dari antara orang mati, dan menjadi titik balik sejarah, “mulai ada pertarungan besar antara kehidupan dan kematian, antara harapan dan keputusasaan, antara pasrah terhadap yang terburuk dan berjuang untuk yang terbaik. Pertarungan yang tidak akan mengenal gencatan senjata sampai kekalahan definitif dari segenap kuasa kebencian dan kehancuran (C.M. Martini, Homili Paskah, 4 April 1999).

 

Lalu pertanyaan kedua : Apa yang dapat kita lakukan bersama, sebagai Gereja, untuk membuat dunia tempat kita hidup semakin manusiawi, adil dan bersetia kawan, semakin terbuka kepada Allah dan persaudaraan di antara manusia? Tentu saja kita tidak boleh mundur ke dalam lingkaran gerejawi kita dan tetap terpaku pada beberapa perdebatan kita yang sia-sia. Marilah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam klerikalisme, karena klerikalisme adalah penyimpangan. Seorang pemangku jabatan yang klerikal, yang memiliki sikap klerikal, telah mengambil jalan yang salah; bahkan lebih buruk lagi adalah umat awam yang klerikal. Marilah kita waspada terhadap penyimpangan ini yaitu klerikalisme. Marilah kita saling membantu untuk menjadi ragi dalam adonan dunia ini. Bersama-sama kita dapat dan harus terus peduli terhadap kehidupan manusia, perlindungan ciptaan, martabat pekerjaan, masalah keluarga, perawatan orang tua dan semua orang yang ditinggalkan, ditolak atau diperlakukan dengan penghinaan. Singkatnya, kita dipanggil untuk menjadi Gereja yang mempromosikan budaya kepedulian, kelembutan dan kasih sayang terhadap kaum yang rentan. Gereja yang memerangi segala bentuk kerusakan dan pembusukan, termasuk kota-kota kita dan tempat-tempat yang sering kita kunjungi, sehingga dalam kehidupan setiap orang, sukacita Injil dapat bersinar. Inilah "pertarungan" kita, dan inilah tantangan kita. Godaan untuk berdiri terpaku sangat besar; godaan nostalgia yang membuat penglihatan kita memandang waktu lain lebih baik. Semoga kita tidak jatuh ke dalam godaan untuk “menoleh ke belakang”, yang dewasa ini menjadi mode di dalam Gereja.

 

Saudara-saudari hari ini, menurut tradisi yang baik, saya telah memberkati pallium untuk Uskup Agung Metropolitan yang baru saja diangkat, banyak dari mereka hadir pada perayaan kita. Dalam persekutuan dengan Petrus, mereka dipanggil untuk “segera bangun”, tidak tidur, dan melayani sebagai penjaga yang waspada atas domba-domba mereka. Bangun dan “mengakhiri pertandingan yang baik”, tidak pernah sendirian, tetapi bersama-sama dengan seluruh umat Allah yang kudus dan setia. Dan sebagai gembala yang baik, berdiri di depan umat, di antara umat, dan di belakang umat, tetapi selalu dengan umat Allah yang kudus dan setia, karena mereka sendiri juga bagian dari Umat Allah yang kudus dan setia.

 

Dengan hormat saya menyambut Delegasi Patriarkat Ekumenis yang diutus oleh saudara saya yang terkasih Bartholomew. Terima kasih atas kehadiranmu dan pesan yang kamu bawa dari Bartholomew! Terima kasih telah berjalan bersama-sama karena hanya dengan bersama-sama kita dapat menjadi benih Injil dan saksi persaudaraan.

 

Semoga Petrus dan Paulus menjadi perantara kita, perantara Kota Roma, perantara Gereja dan perantara seluruh dunia kita. Amin.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENUTUPAN PERTEMUAN KELUARGA X (HARI MINGGU BIASA XIII) 25 Juni 2022

Bacaan Ekaristi : 1Raj 19:16b,19-21; Mzm 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal 5:1,13-18; Luk. 9:51-62.

 

NB : berhubung Paus Fransiskus masih mengalami cedera kaki yang tidak memungkinkannya untuk berdiri lama, Misa dipersembahkan oleh Kevin Kardinal Farrell, Ketua Dikasteri untuk Awam, Keluarga dan Kehidupan.

 

Sebagai bagian dari Pertemuan Keluarga Sedunia X, inilah saat bersyukur. Dengan rasa syukur hari ini kita membawa ke hadapan Allah - laksana dalam persembahan agung - semua yang telah ditaburkan Roh Kudus di dalam dirimu, keluarga-keluarga terkasih. Beberapa dari kamu telah ikut serta dalam saat bercermin dan berbagi di sini di Vatikan; lainnya menjiwai dan menghayatinya di keuskupan masing-masing, dalam semacam pertemuan yang sangat besar. Saya membayangkan kekayaan pengalaman, ujud, impian, serta ada juga kekhawatiran dan ketidakpastian. Sekarang marilah kita mempersembahkan segalanya kepada Tuhan, dan memohon kepada-Nya untuk menopangmu dengan kekuatan dan kasih-Nya. Kamu adalah ayah, ibu, anak-anak, kakek-nenek, paman; kamu adalah orang dewasa, anak-anak, orang muda, orang tua; masing-masing dengan pengalaman keluarga yang berbeda, tetapi semua memanjatkan doa dengan harapan yang sama : semoga Allah memberkati dan melindungi keluargamu dan seluruh keluarga di dunia.

 

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara kepada kita tentang kebebasan. Kebebasan adalah salah satu aset yang paling dihargai dan dicari oleh manusia modern masa kini.

 

Setiap orang ingin bebas, tidak dipersyaratkan, tidak dibatasi, dan oleh karena itu mereka bercita-cita untuk membebaskan diri dari segala jenis "penjara" : budaya, sosial, ekonomi. Tetapi, berapa banyak orang yang tidak memiliki kebebasan terbesar : kebebasan batin! Kebebasan terbesar adalah kebebasan batin. Rasul Paulus mengingatkan kita umat Kristiani bahwa hal ini terutama merupakan karunia, ketika ia berseru : "Kristus telah membebaskan kita untuk kebebasan!" (Gal 5:1). Kebebasan telah diberikan kepada kita. Kita semua dilahirkan dengan banyak persyaratan lahiriah dan rohaniah, dan terutama dengan berkecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, yaitu menempatkan diri kita sebagai pusat dan mengejar kepentingan kita. Tetapi dari perbudakan ini Kristus membebaskan kita. Untuk menghindari keraguan, Santo Paulus memperingatkan kita bahwa kebebasan yang diberikan kepada kita oleh Allah bukanlah kebebasan palsu dan kosong dari dunia, yang pada kenyataannya adalah "dalih untuk keinginan daging" (Gal 5:13). Tidak, kebebasan yang dibeli Kristus bagi kita dengan harga darah-Nya sepenuhnya berorientasi pada kasih, sehingga - sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus dan ia mengatakannya kepada kita hari ini - "layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Gal 5:13).

 

Kamu semua para pasutri, dalam membentuk keluargamu, dengan rahmat Kristus telah membuat pilihan yang berani ini : tidak menggunakan kebebasan untuk diri sendiri, tetapi untuk mengasihi orang-orang yang telah ditempatkan Allah di sisimu. Alih-alih hidup sebagai "pulau", kamu telah menempatkan dirimu "untuk saling melayani". Beginilah kebebasan hidup dalam keluarga! Tidak ada "planet" atau "satelit" yang masing-masing bergerak dalam orbitnya sendiri. Keluarga adalah tempat perjumpaan, berbagi, keluar dari diri sendiri untuk menyambut orang lain dan berdiri di samping mereka. Keluarga adalah tempat pertama kamu belajar untuk mengasihi. Jangan pernah melupakan hal ini : keluarga adalah tempat pertama kamu belajar mengasihi.

 

Saudara-saudari, seraya kita mengulangi hal ini dengan keyakinan yang besar, kita tahu betul bahwa kenyataannya tidak selalu demikian, karena berbagai alasan dan banyak situasi yang berbeda. Dan kemudian, saat kita menegaskan keindahan keluarga, kita merasa lebih dari sebelumnya bahwa kita harus mempertahankannya. Kita tidak membiarkannya tercemar oleh racun keegoisan, individualisme, budaya acuh tak acuh dan budaya membuang, sehingga kehilangan "DNA"-nya yaitu keramahan dan semangat melayani. Jejak keluarga : penerimaan, semangat pelayanan dalam keluarga.

 

Hubungan antara nabi Elia dan Elisa, yang disajikan dalam Bacaan Pertama, membuat kita berpikir tentang hubungan antargenerasi, tentang "penyerahan tongkat estafet" antara orangtua dan anak-anak. Hubungan di dunia sekarang ini tidak sederhana dan sering menimbulkan kekhawatiran. Orangtua takut bahwa anak-anak mereka tidak akan dapat menyesuaikan diri dalam kerumitan dan kebingungan masyarakat kita, di mana segala sesuatu tampak kacau, genting, dan pada akhirnya mereka akan tersesat. Ketakutan ini membuat sebagian orangtua cemas, sebagian lainnya overprotektif, dan terkadang malah menghalangi keinginan untuk menghadirkan kehidupan baru ke dunia.

 

Ada baiknya kita bercermin pada hubungan antara Elia dan Elisa. Elia, di saat krisis dan ketakutan akan masa depan, menerima perintah dari Allah untuk mengurapi Elisa sebagai penggantinya. Allah membuat Elia mengerti bahwa dunia tidak berakhir dengan dirinya dan memerintahkannya untuk menyerahkan perutusannya kepada orang lain. Inilah arti dari gerakan yang digambarkan dalam teks : Elia melemparkan jubahnya ke atas bahu Elisa, dan sejak saat itu sang murid akan menggantikan sang guru untuk melanjutkan pelayanan kenabiannya di Israel. Allah dengan demikian menunjukkan bahwa Ia percaya kepada Elisa yang masih muda. Elia yang sudah tua memberikan tugas, panggilan kenabian kepada Elisa. Ia memercayai seorang muda, ia memercayai masa depan. Dalam gerakan itu ada semua harapan, dan semoga melewati tongkat estafet.

 

Betapa pentingnya bagi orangtua untuk bercermin pada cara Allah bertindak! Allah mengasihi orang muda, tetapi ini tidak berarti bahwa Ia melindungi mereka dari setiap risiko, dari setiap tantangan dan dari setiap penderitaan. Allah tidak cemas dan overprotektif. Pikirkan baik-baik, hal ini : Allah tidak cemas dan overprotektif; sebaliknya, Ia memercayai orang muda dan memanggil mereka masing-masing untuk menakar kehidupan dan perutusan. Kita memikirkan Samuel yang masih kanak, Daud yang remaja, Yeremia yang muda; kita memikirkan terutama gadis itu, yang saat berusia enam belas, tujuh belas mengandung Yesus, Perawan Maria. Ia mempercayai seorang gadis. Orangtua yang terkasih, Sabda Allah menunjukkan jalan kepada kita : bukan untuk melindungi anak-anak dari setiap ketidaknyamanan dan penderitaan sekecil apa pun, tetapi untuk mencoba menyampaikan kepada mereka semangat hidup, menyalakan di dalam diri mereka keinginan untuk menemukan panggilan mereka dan merangkul perutusan agung yang telah dipikirkan Allah untuk mereka. Justru penemuan inilah yang membuat Elisa berani, berpendirian teguh dan menjadikannya dewasa. Perpisahan dari kedua orangtuanya dan penyembelihan lembu justru merupakan tanda bahwa Elisa mengerti bahwa sekarang "gilirannya", bahwa inilah saatnya untuk menerima panggilan Allah dan melanjutkan apa yang telah dilihatnya dilakukan oleh gurunya. Dan ia akan melakukannya dengan berani sampai akhir hayatnya. Orangtua yang terkasih, jika kamu membantu anak-anakmu untuk menemukan dan menerima panggilan mereka, kamu akan melihat bahwa mereka akan "direnggut" oleh perutusan ini serta akan memiliki kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup.

 

Saya juga ingin menambahkan bahwa, bagi seorang pendidik, cara terbaik untuk membantu orang lain mengikuti panggilannya adalah dengan merangkul panggilannya sendiri dengan setia mengasihi. Inilah yang dilakukan oleh para murid yang dilihat Yesus, dan Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita saat simbolis, ketika Yesus membuat "keputusan tegas untuk pergi ke Yerusalem" (Luk 9:51), mengetahui sepenuhnya bahwa Ia akan dihukum di sana. dan dibunuh. Dan dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus menderita penolakan oleh penduduk Samaria, penolakan yang membangkitkan reaksi amarah Yakobus dan Yohanes, tetapi justru Ia terima sebagai bagian dari panggilan-Nya : pada awalnya Ia ditolak di Nazaret - marilah kita pikirkan pada hari itu di rumah ibadat Nazaret (bdk. Mat 13:53-58) -, sekarang di Samaria, dan pada akhirnya Ia akan ditolak di Yerusalem. Yesus menerima semua ini karena Ia datang untuk menanggung dosa kita ke atas diri-Nya. Demikian pula, tidak ada yang lebih membesarkan hati bagi anak-anak selain melihat orangtua mereka menjalani pernikahan dan keluarga sebagai perutusan, dengan kesetiaan dan kesabaran, terlepas dari segala kesulitan, saat-saat sedih dan pencobaan. Dan apa yang terjadi pada Yesus di Samaria terjadi dalam setiap panggilan Kristiani, bahkan panggilan keluarga. Kita semua tahu itu : ada saat-saat ketika seseorang harus menanggung sendiri penolakan, keterasingan, kesalahpahaman yang datang dari hati manusia dan, dengan rahmat Kristus, mengubahnya menjadi penerimaan orang lain, menjadi kasih tanpa pamrih.

 

Dan dalam perjalanan ke Yerusalem, segera setelah kisah ini, yang menggambarkan dalam arti tertentu "panggilan Yesus", Injil menyajikan kepada kita tiga panggilan lain, tiga panggilan dari sebanyak mungkin calon murid Yesus. Yang pertama diundang untuk tidak mencari tempat tinggal yang langgeng, penginapan yang aman mengikuti Sang Guru. Memang, Ia "tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Luk 9:58). Mengikuti Yesus berarti bergerak dan selalu tetap bergerak, selalu "berjalan" bersama-Nya melalui peristiwa-peristiwa kehidupan. Alangkah benarnya hal ini bagi kamu yang sudah menikah! Kamu juga, menerima panggilan untuk pernikahan dan keluarga, telah meninggalkan "sarang"-mu dan telah memulai perjalanan, di mana kamu sebelumnya tidak dapat mengetahui semua tahapan, dan yang membuatmu terus bergerak, dengan situasi yang selalu baru, peristiwa yang tak terduga, kejutan, beberapa menyakitkan. Begitu juga perjalanan bersama Tuhan. Bersifat dinamis, tidak dapat diduga, dan selalu merupakan penemuan yang luar biasa. Marilah kita ingat bahwa selebihnya setiap murid Yesus justru melakukan kehendak Allah setiap hari, apapun itu.

 

Murid kedua diundang untuk tidak "pergi dahulu menguburkan orang mati" (ayat 59-60). Undangan ini bukan masalah melanggar perintah keempat, yang selalu tetap berlaku dan merupakan perintah yang sangat menguduskan kita; sebaliknya merupakan undangan untuk mematuhi pertama-tama perintah pertama : mengasihi Allah di atas segalanya. Hal ini juga terjadi pada murid ketiga, yang dipanggil untuk mengikuti Kristus dengan tegas dan dengan segenap hatinya, tanpa "menoleh ke belakang", bahkan tidak pamitan dahulu dengan keluarganya (bdk. ayat 61-62).

 

Keluarga terkasih, kamu juga diundang untuk tidak memiliki prioritas lain, "tidak menoleh ke belakang", yaitu, tidak menyesali kehidupan sebelumnya, kebebasan sebelumnya, dengan khayalan yang memperdaya : kehidupan menjadi fosil ketika tidak menyambut kebaruan panggilan Allah, menyesali masa lalu. Dan cara menyesali masa lalu dan tidak menerima berita yang disampaikan Allah kepada kita, selalu membuat kita menjadi fosil; membuat kita kaku, tidak membuat kita manusiawi. Ketika Yesus memanggil, bahkan untuk menikah dan berkeluarga, Ia meminta kita untuk melihat ke depan dan selalu mendahului kita dalam perjalanan, selalu mendahului kita dalam kasih dan pelayanan. Mereka yang mengikuti-Nya tidak akan kecewa!

 

Saudara-saudari terkasih, bacaan-bacaan liturgi hari ini semuanya berbicara tentang panggilan, yang justru menjadi tema Pertemuan Keluarga Sedunia X ini : "Kasih keluarga : panggilan dan jalan menuju kekudusan". Dengan kekuatan Sabda Kehidupan ini, saya mendorongmu untuk melanjutkan perjalanan kasih keluarga dengan tekad, berbagi sukacita panggilan ini dengan seluruh anggota keluarga. Dan itu bukan jalan yang mudah, bukan jalan yang mudah : akan ada saat-saat gelap, saat-saat sulit di mana kita akan berpikir bahwa semuanya sudah berakhir. Semoga kasih yang kamu jalani di antaramu selalu terbuka, ramah, mampu "menjamah" orang-orang yang paling lemah dan terluka yang kamu temui di sepanjang jalan : orang-orang yang rapuh jiwa dan raga. Sesungguhnya, kasih keluarga bahkan dimurnikan dan dikuatkan ketika diberikan.

 

Keberanian untuk mempertaruhkan kasih keluarga : dibutuhkan keberanian untuk menikah. Kita melihat banyak anak muda yang tidak berani menikah, dan berkali-kali beberapa ibu mengatakan kepada saya : "Lakukan sesuatu, bicaralah dengan anakku, yang belum menikah, ia sudah berusia 37 tahun!" - "Tetapi, nyonya, jangan menyetrikakan bajunya, kamu mulai sedikit mengusirnya, biarkan ia keluar dari sarangnya". Karena kasih keluarga mendorong anak-anak untuk terbang, mengajari mereka terbang dan mendorong mereka untuk terbang. Kasih keluarga tidak posesif : berasal dari kebebasan, selalu. Dan kemudian, di saat-saat sulit, dalam krisis - semua keluarga mengalami krisis - tolong jangan mengambil jalan mudah : "Aku akan kembali kepada ibuku". Tidak. Silakan dengan taruhan yang berani ini. Akan ada masa-masa sulit, akan ada masa-masa sulit, tetapi majulah, selalu. Suamimu, istrimu memiliki percikan kasih yang kamu rasakan di awal : biarkanlah keluar dari hati, temukan kembali kasih. Dan ini akan sangat membantu di saat krisis.

 

Gereja bersamamu, sungguh, Gereja ada di dalam dirimu! Gereja, pada kenyataannya, lahir dari sebuah keluarga, yaitu keluarga Nazaret, dan sebagian besar terdiri dari keluarga. Semoga Tuhan membantumu setiap hari untuk tetap dalam kesatuan, dalam damai, dalam sukacita dan juga dalam ketekunan di saat-saat sulit, setia dalam ketekunan yang membuat kita hidup lebih baik dan menunjukkan kepada semua orang bahwa Allah adalah kasih dan persekutuan hidup.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Juni 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 5 Juni 2022 : MARILAH KITA DUDUK DI SEKOLAH ROH KUDUS

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; Rm. 8:8-17; Yoh. 14:15-16,23b-26.

 

Dalam kata-kata terakhir Injil yang baru saja kita dengar, Yesus mengatakan sesuatu yang dapat memberi kita harapan dan membuat kita berpikir. Ia memberitahu murid-murid-Nya : “Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh 14:26). “Segala sesuatu”, “semuanya” – kata-kata ini mencolok; kata-kata ini membuat kita bertanya-tanya : bagaimana Roh Kudus memberikan pemahaman baru dan penuh ini kepada orang-orang yang menerima-Nya? Kata-kata ini bukan tentang kuantitas, atau pertanyaan akademis : Allah tidak ingin menjadikan kita ensiklopedia atau polimatika. Tidak. Kata-kata ini adalah masalah kualitas, sudut pandang, persepsi. Roh Kudus membuat kita melihat segala sesuatu dengan cara baru, dengan mata Yesus. Saya akan mengatakannya seperti ini : dalam perjalanan hidup yang luar biasa, Roh Kudus mengajari kita dari mana harus memulai, jalan apa yang harus diambil, dan bagaimana harus berjalan.

 

Pertama, dari mana harus memulai. Roh Kudus menunjukkan kepada kita titik awal kehidupan rohani. Apa itu? Yesus membicarakannya dalam ayat pertama Bacaan Injil, ketika Ia berkata : “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (ayat 15). Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti .... Ini adalah "nalar" Roh Kudus. Kita cenderung berpikir sebaliknya : jika kita menuruti perintah, kita akan mengasihi Yesus. Kita cenderung berpikir bahwa kasih berasal dari pemeliharaan kita, kesetiaan kita dan pengabdian kita. Namun Roh Kudus mengingatkan kita bahwa tanpa kasih sebagai dasar kita, segala sesuatu yang lainnya adalah sia-sia. Dan kasih bukan berasal dari kemampuan kita, tetapi sebagai karunia-Nya. Ia mengajarkan kita untuk mengasihi dan kita harus memohon karunia ini. Roh kasih mencurahkan kasih ke dalam hati kita, Ia membuat kita merasa dikasihi dan Ia mengajari kita cara mengasihi. Ia adalah “motor” kehidupan rohani kita. Ia menggerakkannya dalam diri kita. Tetapi jika kita tidak memulai dari Roh Kudus, atau bersama Roh Kudus atau melalui Roh Kudus, kita tidak akan mendapatkan apapun.

 

Roh Kudus sendiri mengingatkan kita akan hal ini, karena Ia adalah pengingat Allah, yang mengingatkan kita akan segala sesuatu yang telah dikatakan Yesus (bdk. ayat 26). Roh Kudus adalah pengingat yang aktif; Ia terus-menerus mengobarkan kembali kasih Allah di dalam hati kita. Kita telah mengalami kehadiran-Nya dalam pengampunan dosa-dosa kita, di saat-saat ketika kita dipenuhi dengan damai-Nya, kebebasan-Nya dan penghiburan-Nya. Menghargai ingatan rohani ini sangat penting. Kita selalu mengingat hal-hal yang salah; kita mendengarkan suara di dalam diri kita yang mengingatkan kita akan kejatuhan dan kegagalan kita, suara yang terus berkata : “Lihatlah, lagi-lagi kegagalan, lagi-lagi kekecewaan. Kamu tidak akan pernah berhasil; kamu tidak dapat melakukannya". Menceritakan hal ini mengerikan. Tetapi Roh Kudus memberitahu kita sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia mengingatkan kita : “Apakah kamu jatuh? Kamu adalah putra-putri Allah. Kamu adalah anak yang unik, terpilih, berharga dan terkasih. Bahkan ketika kamu kehilangan kepercayaan terhadap dirimu sendiri, Allah mempercayaimu!” Inilah “pengingatan” Roh Kudus, yang selalu diingatkan Roh Kudus kepada kita : Allah mengenalmu. Kamu mungkin lupa tentang Allah, tetapi Ia tidak melupakanmu. Ia selalu mengingatmu.

 

Tetapi, kamu mungkin keberatan : ini adalah kata-kata yang bagus, tetapi saya memiliki masalah, sakit hati dan kekhawatiran yang tidak dapat dihilangkan dengan kata-kata penghiburan yang dilancarkan! Justru di situlah Roh Kudus memohon kepadamu untuk memperkenankan-Nya masuk. Karena Ia, sang Penghibur, adalah Roh penyembuhan, Roh kebangkitan, yang dapat mengubah rupa luka yang membara di dalam dirimu. Ia mengajari kita untuk tidak menyimpan ingatan akan semua orang dan situasi yang telah menyakiti kita, tetapi memperkenankan-Nya memurnikan ingatan itu dengan kehadiran-Nya. Itulah yang dilakukan-Nya dengan para rasul dan kegagalan mereka. Mereka telah meninggalkan Yesus sebelum sengsara-Nya; Petrus telah menyangkal-Nya; Paulus telah menganiaya jemaat Kristiani. Kita juga memikirkan kesalahan kita. Berapa banyak kesalahan kita, dan begitu banyak rasa bersalah! Dibiarkan sendirian, rasa bersalah tidak mempunyai jalan keluar. Dibiarkan sendirian, tidak. Tetapi bersama sang Penghibur, ya. Karena Roh Kudus menyembuhkan ingatan. Bagaimana? Dengan menempatkan di urutan teratas daftar hal yang benar-benar penting : ingatan akan kasih Allah, tatapan kasih-Nya. Dengan cara ini, Ia mengatur hidup kita. Ia mengajarkan kita untuk saling menerima, saling mengampuni dan mengampuni diri kita sendiri; Ia mengajarkan kita untuk berdamai dengan masa lalu. Dan kembali berangkat.

 

Selain mengingatkan kita harus mulai dari mana, Roh Kudus mengajarkan kita jalan apa yang harus diambil. Kita melihat hal ini dalam Bacaan Kedua, di mana Santo Paulus menjelaskan bahwa orang-orang yang "dipimpin Roh Allah" (Rm 8:14) "tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh" (ayat 4). Roh Kudus, di setiap persimpangan jalan dalam kehidupan kita, menyarankan kepada kita jalan terbaik yang harus diikuti. Maka, dapat membedakan suara-Nya dari suara roh jahat penting. Keduanya berbicara kepada kita : kita perlu belajar untuk membedakan suara Roh Kudus, dapat mengenali suara itu dan mengikuti petunjuknya, untuk mengikuti hal-hal yang dikatakan-Nya kepada kita.

 

Marilah kita mempertimbangkan beberapa contoh. Roh Kudus tidak akan pernah memberitahumu bahwa dalam perjalananmu semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak akan pernah memberitahumu hal ini, karena tidak benar. Tidak, Ia mengoreksimu; Ia membuatmu menangisi dosa-dosamu; Ia mendorongmu untuk berubah, melawan kebohongan dan tipu dayamu, bahkan ketika hal itu membutuhkan kerja keras, perjuangan batin dan pengorbanan. Roh jahat, sebaliknya, mendorongmu untuk selalu melakukan apa yang kamu inginkan, apa yang menurutmu menyenangkan. Ia membuatmu berpikir bahwa kamu berhak untuk menggunakan kebebasanmu dengan cara apa pun yang kamu inginkan. Kemudian, begitu dirimu merasa kosong – dan berapa banyak dari kita yang mengetahui perasaan kosong yang mengerikan itu! – lalu ia mempersalahkanmu dan menjatuhkanmu. Roh jahat mempersalahkanmu, ia menjadi penuduh. Ia menjatuhkanmu dan menghancurkanmu. Roh Kudus, mengoreksimu di sepanjang jalan, tidak pernah meninggalkanmu tergeletak di tanah : Ia memegang tanganmu, menghiburmu dan terus-menerus mendorongmu.

 

Kemudian kembali, setiap kali kamu merasa terganggu oleh kepahitan, pesimisme, dan kenegatifan – berapa kali kita telah jatuh ke dalam hal ini! – maka ada baiknya untuk diingat bahwa hal-hal ini tidak pernah berasal dari Roh Kudus. Kepahitan, pesimisme, pikiran sedih tidak pernah berasal dari Roh Kudus. Ketiganya berasal dari kejahatan, yang ada di rumah bersama hal-hal negatif. Ketiganya sering menggunakan strategi ini : Ketiganya memicu ketidaksabaran dan rasa mengasihani diri sendiri, dan dengan mengasihani diri sendiri ada kebutuhan untuk mempersalahkan orang lain atas semua masalah kita. Ketiganya membuat kita gelisah, curiga, bingung. Mengeluh adalah bahasa roh jahat; ia ingin membuatmu mengeluh, murung, memasang wajah duka. Roh Kudus di sisi lain mendorong kita untuk tidak pernah putus asa dan selalu kembali memulai dari awal. Ia selalu mendorongmu untuk bangun. Ia memegang tanganmu dan berkata : "Bangunlah!" Bagaimana kita melakukannya? Dengan tepat melompat, tanpa menunggu orang lain. Dan dengan menyebarkan harapan dan sukacita, bukan keluhan; tidak pernah iri hati kepada orang lain. Tidak pernah! Iri hati adalah pintu masuknya roh jahat. Kitab Suci memberitahu kita hal ini : berkat iri hati iblis, kejahatan masuk ke dunia. Jadi jangan pernah iri hati! Roh Kudus memberimu kebaikan; Ia menuntunmu untuk bersukacita atas keberhasilan orang lain.

 

Roh Kudus itu praktis, Ia bukan sosok idealis. Ia ingin kita berkonsentrasi di sini dan sekarang, karena waktu dan tempat di mana kita menemukan diri kita dipenuhi rahmat. Ini adalah waktu dan tempat rahmat yang nyata, di sini dan sekarang. Di situlah Roh Kudus menuntun kita. Namun, roh jahat akan menarik kita menjauh dari sini dan sekarang, dan menempatkan kita di tempat lain. Seringkali ia menambatkan kita ke masa lalu : penyesalan kita, nostalgia kita, kekecewaan kita. Atau ia mengarahkan kita ke masa depan, memicu ketakutan, khayalan, dan harapan palsu kita. Tetapi bukan Roh Kudus. Roh Kudus menuntun kita untuk mengasihi, secara nyata, di sini dan sekarang, bukan dunia yang ideal atau Gereja yang ideal, kongregasi religius yang ideal, tetapi yang nyata, sebagaimana adanya, terlihat di siang hari, dengan tembus pandang dan kesederhanaan. Betapa sangat berbedanya dengan si jahat, yang mengobarkan gosip dan obrolan kosong. Obrolan kosong adalah kebiasaan buruk; obrolan kosong menghancurkan jatidiri seseorang.

 

Roh Kudus menginginkan kita bersama-sama; Ia menjadikan kita Gereja dan hari ini – inilah aspek ketiga dan terakhir – Ia mengajarkan Gereja cara berjalan. Para murid meringkuk di Ruang Atas; Roh Kudus kemudian turun dan membuat mereka berangkat. Tanpa Roh Kudus, mereka sendirian, hanya diri mereka, berkumpul bersama. Bersama Roh Kudus, mereka terbuka terhadap semua orang. Di setiap zaman, Roh Kudus menjungkirbalikkan praduga kita dan membuka kita kepada kebaruan-Nya. Allah, Roh Kudus, selalu baru! Ia terus-menerus mengajarkan Gereja tentang pentingnya berangkat, didorong untuk mewartakan Injil. Pentingnya keberadaan kita, bukan kandang domba yang aman, tetapi padang rumput terbuka di mana semua orang dapat menikmati keindahan Allah. Ia mengajarkan kita untuk menjadi rumah terbuka tanpa dinding pemisah. Roh duniawi mendorong kita untuk berkonsentrasi pada masalah dan kepentingan kita, pada kebutuhan kita untuk tampil bersangkut paut, pada kokohnya kita mempertahankan bangsa atau kelompok tempat kita berasal. Itu bukan cara Roh Kudus. Ia mengajak untuk melupakan diri kita dan membuka hati kita terhadap semua orang. Dengan cara itu, Ia membuat Gereja menjadi muda. Kita perlu mengingat hal ini : Roh Kudus meremajakan Gereja. Bukan diri kita dan usaha kita untuk sedikit mendandaninya. Karena Gereja tidak dapat "diprogram" dan setiap upaya "modernisasi" tidak memadai. Roh Kudus membebaskan kita dari obsesi dengan keadaan darurat. Ia mengundang kita untuk berjalan di jalan-Nya, selalu dahulu kala dan baru, jalan kesaksian, kemiskinan dan perutusan, dan dengan cara ini, Ia membebaskan kita dari diri kita dan mengutus kita ke dunia.

 

Dan akhirnya, anehnya, Roh Kudus adalah pencipta perpecahan, keonaran, kekacauan tertentu. Pikirkanlah pagi Pentakosta : Ia adalah penciptanya... Ia menciptakan perpecahan bahasa dan sikap ... sebuah keonaran, itulah! Tetapi pada saat yang sama, Ia adalah pencipta kerukunan. Ia memecah dengan berbagai karisma, tetapi perpecahan palsu, karena perpecahan yang sesungguhnya adalah bagian dari kerukunan. Ia menciptakan perpecahan dengan karisma dan Ia menciptakan kerukunan dengan seluruh perpecahan ini. Inilah kekayaan Gereja.

 

Saudara-saudari, marilah kita duduk di sekolah Roh Kudus, agar Ia dapat mengajarkan kita segala sesuatu. Marilah kita memanggil-Nya setiap hari, agar Ia dapat mengingatkan kita untuk menjadikan tatapan Allah kepada kita sebagai titik awal kita untuk membuat keputusan dengan mendengarkan suara-Nya, dan melakukan perjalanan bersama sebagai Gereja, taat kepada-Nya dan terbuka terhadap dunia. Amin.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Juni 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH V (MISA KANONISASI SEPULUH BEATO/BEATA) 15 Mei 2022

Titus Brandsma - Lazzaro, detto Devasahayam - César de Bus - Luigi Maria Palazzolo - Giustino Maria Russolillo - Charles de Foucauld - Maria Rivier - Maria Francesca di Gesù Rubatto - Maria di Gesù Santocanale - Maria Domenica Mantovani

 

Bacaan Ekaristi : Kis. 14:21b-27; Mzm.145:8-9,10-11,12-13ab; Why. 21:1-5a; Yoh. 13:31-33a,34-35.

 

Kita telah mendengar apa yang diucapkan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Ia memberitahu kita apa artinya menjadi umat Kristiani : “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34). Inilah harta pusaka yang diwariskan Kristus kepada kita, kriteria utama untuk membedakan apakah kita benar-benar murid-Nya atau tidak. Perintah kasih. Marilah kita berhenti untuk menelaah dua unsur hakiki perintah ini : kasih Yesus bagi kita – “sama seperti Aku telah mengasihi kamu” – dan kasih yang Ia minta untuk kita tunjukkan kepada sesama – “demikian pula kamu harus saling mengasihi”.

 

Pertama, kata-kata “sama seperti Aku telah mengasihi kamu”. Bagaimana Yesus mengasihi kita? Hingga kesudahan, hingga pemberian diri seutuhnya. Sangatlah mengejutkan memikirkan bahwa Ia mengucapkan kata-kata ini pada malam kegelapan itu, ketika di Ruang Atas bersuasana emosi dan kecemasan yang mendalam : emosi yang mendalam, karena Sang Guru hendak mengucapkan selamat tinggal kepada murid-murid-Nya; kecemasan karena Ia telah berucap bahwa salah seorang dari mereka akan mengkhianati-Nya. Kita dapat membayangkan kesedihan yang memenuhi hati Yesus, awan gelap yang sedang berkumpul di hati para rasul, dan kepahitan mereka melihat Yudas yang, setelah menerima sepotong roti yang dicelupkan untuknya oleh Sang Guru, meninggalkan ruangan untuk masuk ke dalam malam pengkhianatan. Tetapi pada saat pengkhianatan terhadap-Nya, Yesus menegaskan kembali kasih-Nya untuk para murid-Nya. Karena di tengah kegelapan dan prahara kehidupan, itulah hal yang terpenting : Allah mengasihi kita.

 

Saudara-saudari, semoga pesan ini menjadi inti iman kita dan seluruh cara kita mengungkapkannya : “...: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” (1 Yoh 4:10). Jangan pernah kita melupakan hal ini. Kemampuan dan pamrih kita bukanlah hal yang utama, melainkan kasih Allah yang tanpa syarat, bebas dan tanpa pamrih. Hidup Kristiani kita tidak dimulai dengan ajaran dan perbuatan baik, tetapi dengan keheranan yang lahir dari kesadaran bahwa kita dikasihi, sebelum ada tanggapan dari pihak kita. Sementara dunia sering berusaha meyakinkan kita bahwa kita dihargai hanya berkat apa yang dapat kita hasilkan, Injil mengingatkan kita akan kebenaran hidup yang sebenarnya : kita dikasihi. Seorang penulis rohani masa kini mengatakannya sebagai berikut : “Jauh sebelum manusia manapun melihat kita, kita telah dilihat oleh mata kasih Allah. Jauh sebelum ada yang mendengar kita menangis atau tertawa, kita sudah didengar oleh Allah kita, yang menjadi telinga kita semua. Jauh sebelum ada orang yang berbicara kepada kita di dunia ini, kita sudah diajak bicara oleh suara kasih abadi” (H. Nouwen, Kehidupan Pribadi Yang Dikasihi). Ia mengasihi kita terlebih dulu; Ia menanti kita; Ia tetap mengasihi kita. Inilah jatidiri kita: kita adalah orang-orang yang dikasihi Allah. Inilah kekuatan kita : kita dikasihi Allah.

 

Mengakui kebenaran ini membutuhkan pertobatan dalam cara yang sering kita pikirkan tentang kekudusan. Kadang-kadang, dengan terlalu menekankan upaya kita untuk melakukan pekerjaan baik, kita telah menciptakan cita-cita kekudusan secara berlebihan berdasarkan pada diri kita sendiri, kepahlawanan pribadi kita, kemampuan kita untuk meninggalkan keduniawian, kesiapan kita untuk mengorbankan diri guna mencapai pamrih. Hal ini kadang-kadang tampak sebagai cara memandang kehidupan dan kekudusan yang terlalu “pelagian”. Kita telah mengubah kekudusan menjadi tujuan yang tidak dapat dicapai. Kita telah memisahkannya dari kehidupan sehari-hari, alih-alih mengusahakan dan merangkulnya dalam rutinitas kita sehari-hari, di dalam debu jalanan, dalam pencobaan kehidupan nyata dan, dalam kata-kata Teresa dari Avila kepada para biarawatinya, “di antara panci dan wajan". Menjadi murid Yesus dan berkembang di jalan kekudusan berarti pertama-tama dan terutama memperkenankan diri kita diubah rupa oleh kuasa kasih Allah. Janganlah kita pernah melupakan keutamaan Allah atas diri, keutamaan Roh atas daging, rahmat atas perbuatan. Karena terkadang kita lebih mementingkan diri sendiri, daging dan perbuatan. Tidak, keutamaan Allah di atas diri, Roh di atas daging, rahmat di atas perbuatan.

 

Kasih yang kita terima dari Tuhan adalah kekuatan yang mengubah rupa hidup kita. Kasih itu membuka hati kita dan memungkinkan kita untuk mengasihi. Karena alasan ini, Yesus berkata – inilah unsur kedua – “sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Kata “sama seperti” tersebut bukan sekadar ajakan untuk meneladan kasih Yesus; kata tersebut memberitahu kita bahwa kita dapat mengasihi hanya karena Ia telah mengasihi kita, karena Ia mencurahkan ke dalam hati kita Roh-Nya, Roh kekudusan, kasih yang menyembuhkan dan mengubah rupa. Hasilnya, kita dapat membuat keputusan dan menunjukkan karya kasih dalam setiap situasi dan kepada setiap saudara dan saudari yang kita temui, karena kita dikasihi dan memiliki kekuatan untuk mengasihi. Sama seperti aku dikasihi, demikian pula aku hendaknya mengasihi sesama. Kasih yang kuberikan dipersatukan dengan kasih Yesus untukku. “Sama seperti” Ia mengasihiku, demikian pula aku hendaknya mengasihi sesama. Hidup Kristiani sesederhana itu. Jangan menjadikannya semakin rumit dengan begitu banyak hal. Sesederhana itu.

 

Dalam pelaksanaannya, apa artinya menghayati kasih ini? Sebelum memberikan perintah ini kepada kita, Yesus telah membasuh kaki para murid; kemudian, setelah memberikannya, ia menyerahkan diri-Nya pada kayu salib. Mengasihi berarti hal ini : melayani dan memberikan hidup kita. Melayani, yaitu, tidak mengutamakan kepentingan kita : membersihkan sistem kita dari racun keserakahan dan persaingan; menentang kanker ketidakpedulian dan cacing acuan diri; berbagi karisma dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. Secara khusus, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, “Apa yang kuperbuat untuk sesama?” Itulah apa artinya mengasihi, menjalani kehidupan kita sehari-hari dalam semangat pelayanan, dengan kasih yang sederhana dan tanpa mencari pamrih apa pun.

 

Kemudian, memberikan hidup kita. Ini lebih dari sekadar menawarkan sesuatu dari milik kita kepada sesama; ini tentang memberi mereka diri kita sendiri. Saya suka bertanya kepada orang-orang yang meminta nasihat saya apakah mereka memberi sedekah. Dan jika mereka melakukannya, apakah mereka menyentuh tangan penerima atau hanya, secara suci hama, melempar sedekah. Orang-orang itu biasanya tersipu dan mengatakan tidak. Dan saya bertanya apakah, dalam memberi sedekah, mereka menatap mata orang tersebut, atau memandang ke arah lain. Mereka mengatakan tidak. Menyentuh dan melihat, menyentuh dan memandang daging Kristus yang menderita di dalam saudara-saudari kita. Ini sangat penting; berkenaan dengan apa artinya memberikan kehidupan kita.

 

Kekudusan tidak berupa beberapa perilaku heroik, tetapi berupa banyak perbuatan kecil kasih sehari-hari. “Apakah kamu seorang anggota hidup bakti? Kamu begitu banyak di sini hari ini! Jadilah kudus dengan menghayati persembahan dirimu dengan sukacita. Apakah kamu menikah? Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istrimu, sebagaimana Kristus lakukan kepada Gereja-Nya. Apakah kamu seorang pekerja? Jadilah
kudus dengan melakukan pekerjaanmu dengan kejujuran dan kemampuan untuk melayani sesama. Apakah kamu orangtua atau kakek-nenek? Jadilah kudus dengan mengajarkan dengan sabar anak atau cucu untuk mengikuti Yesus. Katakan kepadaku, apakah kamu sedang memiliki kekuasaan? Begitu banyak orang yang sedang memiliki kekuasaan di sini hari ini! Jadilah kudus dengan berjuang demi kesejahteraan bersama dan melepaskan kepentingan pribadi” (Gaudete et Exsultate, 14). Inilah jalan kekudusan, dan sangat sederhana! Melihat Yesus senantiasa dalam diri sesama.

 

Melayani Injil dan saudara-saudari kita, menawarkan hidup kita tanpa mengharapkan pamrih apa pun, kemuliaan duniawi apa pun : inilah rahasianya dan merupakan panggilan kita. Begitulah cara rekan-rekan peziarah kita yang dikanonisasi hari ini menghayati kekudusan mereka. Dengan antusias menyambut panggilan mereka – sebagai imam, sebagai biarawati, sebagai awam – mereka mengabdikan hidup mereka untuk Injil. Mereka menemukan sukacita yang tak tertandingi dan mereka menjadi cermin cemerlang dari Sang Empunya sejarah. Untuk itulah para kudus : cermin bercahaya dari Sang Empunya sejarah. Semoga kita berusaha untuk melakukan hal yang sama. Jalan kekudusan tidak terhalang; jalan kekudusan bersifat universal dan dimulai dengan Pembaptisan. Marilah kita berusaha keras untuk mengikutinya, karena kita masing-masing dipanggil menuju kekudusan, menuju bentuk kekudusan kita semua. Kekudusan selalu “asli”, seperti yang biasa dikatakan Beato Carlo Cutis : kekudusan bukan fotokopi, tetapi “asli”, kekudusanku, kekudusanmu, kekudusan kita semua. Kekudusan kita unik. Sungguh, Tuhan memiliki rencana kasih bagi setiap orang. Ia memiliki impian untuk hidupmu, untuk hidupku, untuk hidup kita masing-masing. Apa lagi yang bisa saya katakan? Kejarlah impian itu dengan sukacita.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Mei 2022)